Harga Kecakapan dan Popularitas Pemain Sepakbola


Baru beberapa hari yang lalu, Klub Sepakbola Chelsea “deal” dengan AS Monaco untuk pembelian pemain Tiemoue Bakayoko.¬†Sebenarnya Chelsea sudah memiliki pemain untuk posisi yang sama, yang menurut banyak orang memiliki kemampuan yang relatif sama. Namanya Nathanel Chalobah.¬†Usianya sama-sama 22 tahun saat ini. Posisi yang dimainkan sama-sama di gelandang tengah (bukan di sayap kanan atau kiri).

Chelsea sudah bersama Nathanael sejak 10 tahun yang lalu sejak menjadi binaan di akademi. Chelsea semestinya sudah mengenal baik dan mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan dengan “karyawan”-nya ini. Lagipula, Bang Nael (sapaan akrabnya ala-ala saya :D) sering main lho untuk Tim Nasional Sepakbola Inggris. Akumulasinya 97 caps untuk berbagai jenjang usia.

Namun, yang terjadi kemudian adalah, Chelsea merekrut karyawan baru dan melupakan (baca: menjual) karyawan lamanya ke Watford. Yang lebih aneh adalah, Chelsea mengeluarkan duit sebesar 39.7 juta poundsterling. Dan hanya menerima 5 juta poundsterling. Total Jenderal, Chelsea malah rugi 34.7 juta pounds. Sekitar Rp685 miliar. Klub seakan tidak sayang “membuang” duit sebanyak itu. Kalau di Indonesia, duit sebanyak itu kira-kira bisa dipakai untuk apa ya?

Yang paling penting, mengapa hal ini bisa terjadi? Secara keekonomian, mengapa institusi bisnis seperti Chelsea FC melakukan hal tersebut?

Harga Sebuah Kecakapan

Berapa sih harga seorang manusia? Apakah pantas seorang manusia dihargai sedemikian tingginya, kala berpindah hak pakainya dari sebuah klub ke klub lain? Di industri sepakbola, hal demikian dinamakan “biaya transfer”. Silakan simak infografis berikut ini. Di mana, 13 dari 14 transfer termahal tersebut terjadi hanya dalam 7 tahun terakhir.

Sesungguhnya manusia tidak mengenal “harga”. Yang dihargai adalah kecakapannya, alias kemampuannya, atau bisa disebut juga kompetensinya.

Namun demikian, apakah angka-angka tersebut masih masuk akal? Tidakkah nilai-nilai tersebut mengusik rasa kemanusiaan kita? Bukankah di sekitar kita masih terjadi ketimpangan ekonomi dan sosial yang lebih layak kita tuntaskan?

Ada beberapa sebab mengapa hal demikian bisa terjadi

Industrialisasi Sepakbola Terus Berlangsung

Pendapatan klub sepak bola tidak lagi hanya dari penjualan tiket. Tapi juga hak siar, dan berbagai bentuk komersialisasi lainnya. Namanya juga stadion tempat menyaksikan pertandingan bola, pastinya terbatas secara kapasitas, dong. Automatis, pendapatan dari penjualan tiket akan terbatas. Pendapatan apa dong yang saat ini bisa digenjot hingga bertumbuh terus? Pendapatan sponsorship dan pendapatan hak siar.

Dua pendapatan terakhir disebut ini, bisa terus digenjot karena klub melakukan ekspansi pendukung/fans. Dari sekedar di dalam negeri, hingga ke luar negeri, bahkan lintas benua. Sebutlah ini sebagai upaya internasionalisasi oleh klub.

Sekedar potret saja. Manchester United memiliki jumlah fans terbanyak di dunia. Fans Chelsea kurang lebih ada 300 juta orang di seluruh dunia. Jumlah fans secara tidak langsung dapat menjadi ukuran nilai sebuah brand. Berkat modal brand dan jumlah fans tersebut, tidak heran MU menjadi klub dengan pendapatan terbesar di seluruh dunia (Firma Konsultan Deloitte, 2017).

Saya belum tahu bisnis apa di dunia ini yang tanpa investasi tambahan, tetapi bisa digenjot terus omzetnya. Demikian pula dengan industrialisasi sepakbola. Semakin tinggi omzet yang dikejar, maka semakin banyak pula investasi yang harus dibenamkan. Untuk urusan begini, biasanya pengusaha lokal ada batasnya. Gurihnya industrialisasi sepakbola di Inggris, menghadirkan investor dan pemilik dari berbagai belahan dunia.

Nama-nama seperti Keluarga Glazer (dar Amerika Serikat), Abramovich (Rusia), Srivaddhanaprabha (Thailand), dan Sheikh Mansour (Uni Emirat Arab) adalah sederet nama pengusaha sekaligus investor yang membeli dan memiliki klub-klub di Liga Premier. Perusahan investasi Sheikh Mansour juga memiliki klub sepakbola yang lain, yaitu New York City.

Personal Brand Pemain Semakin Penting

Jersey Real Madrid dengan nama dan nomor punggung C. Ronaldo yang terjual sepanjang musim pertamanya, sudah lebih tinggi dari dibandingkan nilai yang harus dibayar oleh Real Madrid kepada Manchester United (79.90 juta pounds). Hal ini membuktikan bahwa pemain memiliki brand yang dapat dioptimalkan komersialisasinya. Sehingga Klub pun tidak ragu-ragu untuk berinvestasi pada pemain yang memiliki personal brand yang sangat baik.

Tiemoue Bakayaoko sudah bermain sampai di semifinal Liga Champions musim lalu. Dia sukses membawa klub sebelumnya sebagai Juara Liga di Prancis. Meski sama-sama berusia 22 tahun, tapi saat ini, dia jauh lebih dikenal dan populer daripada pemain yang digantikannya, yaitu Nathanael Chalobah.

Klub seperti Chelsea saat ini tidak hanya membutuhkan pemain yang cakap di posisinya, serta mampu bertahan dan menyerang sekaligus. Tetapi juga pemain yang memiliki popularitas dan engagement yang baik.

Lagipula, sebagai sebuah brand dan entitas bisnis, dengan sendirinya para fans Chelsea memiliki ekspektasi dan harapan tertentu terhadap Chelsea. Nah, Chelsea harus mengelola keduanya dengan baik dong. Salah satu caranya adalah dengan memberikan “promise” (janji) melalui pembelian pemain yang sudah populer dan (tentu saja) memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh klub.

Jadi, sekali lagi, kita tidak perlu heran mengapa klub berinvestasi atas popularitas seorang pemain.

Community Management ala Klub Sepakbola

Klub turut berinvestasi membangun basis penggemar. Mereka adalah komunitas, yang artinya bukanlah sekedar penonton biasa. Mereka adalah die hard fans yang akan tetap menonton menang dan kalahnya sebuah klub. Serta juara atau tidak juaranya sebuah klub.

Tidak heran setiap jeda musim, mereka mengadakan pertandingan tur ke Asia dan Amerika. Indonesia –dengan basis penduduk yang besar– tidak luput pula menjadi negara yang ditargetkan. Dan meski berada jauh secara geografis dari pusat industri sepakbola, tur benua bukan satu-satunya senjata. Sekarang sudah ada twitter mau (facebook) fan page yang bisa jadi diusahakan oleh official club, atau diupayakan oleh penggemar fanatik.

Para fans juga mengajak dan mempromosikan klub andalannya. Dari sisi perilaku penggemar, memang ada fans klub yang mengajak putra/putrinya turut menyaksikan permainan sang idola di lapangan hijau. Ada pula yang dengan rajin membelikan dan memberikan jersey terbaru dari klub favorit. Intinya mengajak kerabat atau keluarga terdekat untuk turut menjadi bagian dari komunitas penggemar.

Efek Samping Transfer Pemain Populer

Pemain-pemain akademi jadi terpinggirkan dan sangat mungkin disingkirkan kapan saja (baca: dipinjamkan atau dijual). Kita semua tahu, pemain-pemain akademi sangat jauh lebih murah. Bahkan ada klub seperti Ajax Amsterdam, atau Southampton yang menjadikan jual-beli pemain akademi sebagai sumber laba perusahaan.

Model bisnis tersebut tidak lagi dipakai oleh banyak klub. Minimal oleh klub Premier League. Sebab semua klub tersebut kini memprioritaskan model bisnisnya berdasar prioritas terhadap hak siar. Degradasi sekalipun, masih mendapat 100 juta poundsterling. Karena itulah, (player) popularity is the key.

Pemain-pemain dengan kemampuan terbaik (dan popularitas tinggi) dicari di seluruh benua. Klub-klub bermodal besar ngotot membayar mahal pemain yang populer. Minimal, dengan talentanya dia bisa membantu klub untuk menjadi lebih populer lagi. Sehingga ditonton oleh penikmat sepakbola di berbagai belahan dunia.

Akhirnya, pemain-pemain jebolan akademi hanya menjadi penyeimbang finansial klub saja. Keberadaannya sekedar ada saja. Belum tentu dimainkan secara reguler di starting eleven. Tatkala dia jarang bermain, maka popularitasnya itu-itu saja. Tidak ada panggilan sebagai model iklan. Klub yang mengontrak jasanya pun tidak memiliki tambahan pendapatan.

Semua ini terjadi manakala pebisnis klub sepakbola, instead of mengutamakan kemampuan sebagai satu-satunya indikator, ternyata juga menggunakan ukuran popularitas pemain dan revenue from broadcasting rights sebagai indikator utama dalam menjalankan bisnis klub sepakbola.