Cara Menghadapi Barcelona


Josep Guardiola yang menangani FC Barcelona selama 2008-2012 sudah meninggalkan legacy yang luar biasa, yaitu filosofi taktik Tiki-Taka. Filosofinya mirip dengan yang dimiliki oleh Belanda di tahun 70-an, yakni berusaha menguasai setiap jengkal lapangan dengan rotasi peran antar pemain. Seorang pemain bertahan bisa tiba-tiba berubah peran menjadi pemain depan, dan sebaliknya juga berlaku. Filosofi taktif Belanda ini diberi nama Total Football. Kuncinya ada pada kekuatan fisik dan kemampuan teknis olah bola tiap pemain. Tiki-taka menekankan pada operan pendek, pergerakan tanpa bola serta

Filosofi tiki-taka membutuhkan visi permainan, kemampuan olah bola yang komplit, dan lincah–yaitu ketika titik berat pemain semakin rendah maka pemain tersebut semakin lincah. Berkebalikan dengan Total Football yang menghendaki penguasaan lapangan, Tiki-Taka justru meyakini bahwa ukuran ‘lapangan permainan’ sesungguhnya fleksibel untuk bisa diubah sedemikian rupa. Guardiola sendiri meyakini bahwa, “lebih baik merebut bola ketika masih berjarak 30 meter, bukan setelah 80 meter dari gawang lawan”. Dengan tiki-taka, Spanyol dan Barcelona sukses mengendalikan bola sekaligus lawan. Silakan cari sendiri ya berapa trofi yang diperoleh kedua tim tersebut.

Tapi Barcelona bukan tanpa kekalahan. Ada cara mengalahkan Barcelona dan beberapa tim berhasil menahan seri bahkan mengalahkan mereka. Tercatat Milan 2-0 Barcelona, Celtic 2-1 Barcelona, Barcelona 2-2 Chelsea, Chelsea 1-0 Barcelona, dan Inter Milan 3-1 Barcelona. Mereka sukses mengatasi tiki-taka sekaligus mencuri kemenangan atas Barcelona. Tiki-taka memang simbol strategi sukses Barcelona, tapi masalahnya adalah itu satu-satunya strategi sukses mereka. Begitu tiki-taka buntu dan berhasil dimatikan, di saat itulah Barcelona bisa dikalahkan.

Bermain di sepertiga lapangan permainan anda

Barcelona ingin tim anda bermain dengan ukuran lapangan yang mereka tentukan: yaitu dengan ukuran setengah lapangan bola. Maka layani saja mereka di sepertiga lapangan anda. Bukan memarkir bus, tetapi justru untuk mempersempit lapangan permainan mereka. Gunakan empat pemain belakang dan tiga gelandang untuk bertahan. Bukan untuk membuat operan-operan pendek mereka buntu, tapi untuk mengintersep berbagai operan dan umpan terobosan mereka. Tiga gelandang juga membuat Messi  bermain lebih  ke samping atau mundur ke belakang meminta operan bola.

Awasi Messi, Xavi dan Iniesta

Yang dilakukan oleh Milan adalah menugaskan Muntari untuk membayang-bayangi Xavi dari memberikan umpan terobosan. Inter menggunakan dua pemain untuk  mengawasi Messi. Mastermind tiki-taka adalah pemain yang punya visi permainan. Dalam hal visi permainan, peran Xaviesta (Xavi-Iniesta) adalah sangat banyak. Kepada keduanya, pengawasan bertujuan mencegah yang bersangkutan mengirimkan umpan terobosan. Sedangkan untuk Messi, yang perlu dilakukan bukan man-to-man marking, tapi zonal-marking agar Messi tidak menerima bola dari rekan-rekannya.  Mencegah  Messi menerima bola secara tidak langsung berarti ‘menyingkirkan’ dia dari lapangan permainan.

Isi ruang kosong yang ditinggalkan pemain Barcelona

Pergerakan pemain adalah kunci filosofi tiki-taka. Setiap ada ruang baru terisi, maka akan ada ruang lama yang kosong. Fernando Torres mengatakan, berkonsentrasilah pada ruang bukan pada bola. Misalnya dengan menugaskan Ramires+Salomon Kalou di kanan, serta Torres dan Ashley Cole di sisi kiri Chelsea. Gol Muntari di Milan membuktikan teori ‘ruang kosong’ tersebut. Dani Alves yang berhadapan dengan El Sharaawy tidak ngotot merebut bola, bahkan ruang kosong yang dia ‘sediakan’ justru benar-benar dimanfaatkan Muntari untuk sebuah gol first time. Proses gol ini sebenarnya mirip dengan gol Gonzalo Castro ketika Sociedad mengalahkan Barcelona januari lalu.

References:

http://www.zonalmarking.net/2013/02/22/milan-2-0-barcelona-barca-completely-nullified/

http://outsideoftheboot.com/2013/02/21/ac-milan-2-0-barcelona-tactical-analysis/

Klub favorit saya


Di akhir tahun 90-an, saya memfavoritkan klub SS Lazio buat jadi juara liga italia seri-a : scudetto. Tapi,kebetulan kecolongan di beberapa pekan terakhir, hingga yang juara itu AC Milan. Dengan berbagai gol mereka yang kebetulan, skor kemenangan yang banyak 1-0 nya. Belum lagi keberuntungan yang lain-lain. Itu di tahun 1998-1999 kalo tidak salah.

Setahun berikutnya baru Lazio bisa juara. Tapi Christian vieri sudah ga di klub itu dia pindah. Lazio di sekitar tahun itu juga menjuarai piala winner, yang terakhir kali. Kemudian memenangkan Piala Super Eropa setelah mengalahkan Manchester United (MU) dengan skor 1-0.

*********************************************************************

Lama sejak itu, karena sekolah di asrama yang akses televisinya susah, saya jadi jarang mengikuti sepak bola lagi. Tapi, suatu ketika menyaksikan liga champions di televisi, saya terpukau dengan Ricardo Kaka. Dia mencetak 2 gol di babak pertama pada tahun 2007 melawan MU. Milan tampil luar biasa, malam itu. Meskipun akhirnya kalah (karena 2 gol wayne rooney di babak kedua), tapi mereka sangat memikat dengan formasi cemaranya : 4-3-2-1. Dan dua pekan kemudian, mereka lolos ke final setelah memenangkan pertandingan melawan tim yang sama dengan skor 3-0. Aktor protagonisnya masih, sama: Ricardo Kaka.

*********************************************************************

Dulu, saya tidak begitu memperhatikan mengapa saya senang dengan SS Lazio. Yang jelas, mereka bermain menyerang dari segala arah, sering memenangkan pertandingan, (dan) tentunya calon juara di tahun itu. Tapi ternyata ada hal yang leb ih besar daripada sekedar permainan di lapangan. Yaitu, manajemen yang lebih baik, akan membuat klub lebih baik, konsisten dari tahun ke tahun, dan prestasi-prestasi yang leb ih mentereng, seharusnya.

Inilah yang saya lihat di AC Milan. Mereka mengkombinasikan pemain tua dan muda. Pemain tua yang berpengalaman, adakalanya dibentuk dari klub sendiri, Paolo Maldini, misalnya. Tapi ada juga pemain berpengalaman yang direkrut dari klub lain, misalnya Clarence Seedorf dan (sekarang) Ronaldinho. Pemain muda berkualitas (pada masanya) ada Andriy Shevchenko dan Andrea Pirlo yang direkrut dari klub lamanya pada usia muda. Yang satu dari Dinamo Kiev dan satunya dari Reggina. Dan kombinasi inilah yang membuat AC Milan bisa menjadi salah satu dari tiga klub besar di Liga Calcio (sepakbola) Italia 🙂