Peranan ITB dalam Pengembangan Kewirausahaan


Sedikit buah pikiran tentang pengembangan entrepreneurship di kampus ITB. Ditulis oleh Ikhwan Alim, Menteri Koordinator Pengembangan Kemahasiswaan Kabinet KM ITB 2009-2010.

DEFINISI

Pertama-tama, kita mulai dulu dengan apa itu entrepreneurship ya.

Menurut Pak Dwi Larso, salah seorang staf pengajar SBM ITB, entrepreneurship adalah kreatif/inovatif melihat/mencipta peluang dan merealisasikannya menjadi sesuatu yang bernilai tambah (ekonomi,sosial,dll). Dan semua entrepreneurship ini memiliki istilah yang lebih khas lagi, bergantung pada bidang yang mengalami entrepreneurship tersebut.

Entrpreneurship di bidang sosial disebut sosiopreneurship, di bidang edukasi disebut edupreneurship, di internal perusahaan disebut interpreneurship, untuk bisnis teknologi disebut teknopreneurship, dan lain-lain.

Menurut Donald F. Kuratko dan Richard M. Hodgetts,  entrepreneur adalah para pengambil risiko dalam penciptaan lembaga / perusahaan baru, biasanya berkarakter optimis, pemberi nilai tambah (tapi tidak selalu diukur dengan rupiah), dan berkomitmen tinggi.

Tentang kosakata “entrepreneurship” ini, jangan melulu terpersepsikan dengan kewirausahaan atau hal-hal yang kaitannya dengan menjadi pengusaha. “menjadi pengusaha” memang termasuk entrepreneurship, tapi bukan itu intinya, sesungguhnya. “pengusaha” memang sedikit banyak memiliki karakter entrepreneurship, tetapi entrepreneurship tidak selalu pengusaha. Benar ‘kan? Kira-kira begini gambarnya.

POTENSI & RISIKO

Potensi/peluang berarti melihat sesuatu yang sudah ada sebagai sesuatu yang (masih) bisa dikembangkan lebih lanjut lagi. Sebagai contoh : melihat gelas yang hanya berisi air sebanyak setengah volumenya, para entrepreneur melihatnya sebagai “setengah penuh” bukan melihatnya sebagai “setengah kosong”. Jadi entrepreneur akan melihatnya sebagai gelas setengah penuh “yang tinggal” diisi setengahnya lagi. Persepsi positif terhadap sesuatu hal ini, sedikit banyak membedakan para entrepreneur dengan non-entrepreneur.

Para entrepreneur juga banyak mengalami kegagalan. Tapi itu tadi, karena kekuatan persepsi positif yang dimiliki, entrepreneur menganggap kegagalan sebagai suatu kesempatan pembelajaran. Mereka adalah manusia-manusia yang menerapkan prinsip “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”. Pun mereka menyikapi kegagalan sebagai sesuatu yang harus direnungi sesaat saja dan diambil manfaatnya. Bukan berlama-lama bersedih hati dan menceritakan semua kesedihannya di blog, lewat status Facebook, (apalagi) mencurahkan ke sahabat-sahabat dekatnya. Dan bukan lantas mengambil sikap untuk tidak (akan) mencoba lagi.

Para entrepreneur pun tidak ketakutan melihat risiko. Mereka bukan para penghindar risiko, melainkan mereka adalah orang-orang yang selalu mempersepsikan risiko sebagai sesuatu yang dapat disiasati. Dalam bahasa inggrisnya, calculated risk taking & risk seeking. Artinya adalah, melihat dan mengambil risiko yang terkalkulasi (terukur baik). Sebelum mensiasati risiko, tentunya para risk taker ini telah mengukur baik-baik kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

PENGUSAHA DI DALAM MASYARAKAT

Pengusaha berperan sebagai pemilik modal dalam sistem sosial masyarakat. Nah, dalam sistem perusahaan, pengusaha adalah pemilik modal pertama (selaku pemilik perusahaan) yang kemudian akan memberi uang (dalam proses perputaran uang) kepada para pekerja, dan kemudian terjadi proses transaksi dari dalam sistem perusahaan ke luar perusahaan (berupa transaksi jual beli produk / jasa), yaitu masyarakat konsumen. Jadi, sebagai pemilik modal, pengusaha akan menghidupi para pekerja yang telah bekerja pada pengusaha tersebut.

Penciptaan iklim ketenagakerjaan yang sehat dan kondusif sangat penting sebagai salah satu sarana untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk Indonesia. Karena bekerja adalah jembatan bagi terciptanya kehidupan yang layak. Banyaknya angkatan kerja yang tidak terserap pada lapangan kerja formal membuat mereka terpaksa memilih masuk dan berpartisipasi pada lapangan kerja informal. Padahal tingkat produktivitas dan penghasilan pada lapangan kerja informal jauh lebih rendah dibanding lapangan kerja formal.

Berikut ini merupakan data kondisi ketenagakerjaan tahun 2004-agustus 2007

Interval waktu Angkatan kerja(juta orang) Pekerja(juta orang) Tingkat Pengangguran Terbuka (persentase)
2004 103,97 99,72 9,86
Feb-05 105,80 94,95 10,26
Nov-05 105,86 93,96 11,24
Feb-06 106,28 95,18 10,45
Agt-06 106,39 95,46 10,27
Feb-07 108,13 97,58 9,75
Agt-07 109,94 99,93 9,11

Sumber: Sakernas

Lapangan kerja berdasarkan status pekerjaan(ribu orang)

Lapangan Kerja Nov-05 Agt-06 Agt-07 Penambahan 2005-2007
Formal 28.877,0 29.672,3 30.926,2 2049,2
Informal 65.081,4 65.784,6 69.004,0 3922,6
Jumlah 93.958,4 95.456,9 99.930,2 5971,8

Sumber: Sakernas

Dari data diatas bisa kita lihat bahwa terdapat penurunan persentase pengangguran yang cukup besar hingga 9,11 persen jika dibandingkan pernah ada suatu kondisi dimana pengangguran terbuka mencapai angka 11,24 persen. Tetapi apakah prestasi tersebut cukup ‘menggembirakan’? Mengingat, bahwa dari tiap-tiap 1 juta penduduk Indonesia  masih ada 9 orang yang menganggur. Dan bisa kita ambil kesimpulan juga bahwa lapangan kerja informal dua kali lebih banyak menyedot  tenaga kerja dibandingkan dengan lapangan pekerjaan formal di Indonesia. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, dengan menjadi seorang pengusaha, sesungguhnya kita telah mengurangi 1 (satu) orang pencari kerja dan telah memberikan pekerjaan kepada beberapa orang di antara yang lainnya.

PENGUSAHA & TEKNOLOGI

Pengusaha juga berarti orang-orang yang memiliki entrepreneurial mindset. Kebanyakan siklus dalam hidup (termasuk siklus ilmu pengetahuan, siklus produk, siklus teknologi dan lain-lain) terdiri dari fase pengenalan (dalam bahasa inggris disebut introduction), fase pertumbuhan (growth), fase dewasa/jenuh (mature) dan fase penurunan/mati (decline). Nah, peran para entrepreneur ini adalah pembentukan siklus baru –yakni dari fase penurunan/mati ke fase pengenalan.

Bisnis teknologi adalah salah satu jenis bisnis yang bisa dilahirkan dari kampus teknologi seperti ITB. Hanya saja, untuk kelahiran bisnis semacam ini, diperlukan energi besar untuk mewujudkannya. Hal ini  disebabkan oleh produk atau jasa yang baru dihasilkan dari kampus teknologi belum mendapat kepercayaan pembelian dari masyarakat. Pun dalam konteks tingkatan teknologi yang digunakan, merupakan teknologi tinggi yang baru ditemukan dan belum tersebarluaskan. Kepercayaan pembelian yang belum mantap ini, sedikit-banyak disebabkan oleh teknologi tinggi yang belum tersebarluaskan.

Intensitas riset yang dilakukan di kampus merupakan langkah awal pembangunan bisnis teknologi, dimana hasil riset dapat diperjualbelikan ke industri. Disebabkan masih berada pada fasa pengenalan dalam siklus hidup teknologi, bisnis teknologi ini perlu mendapat perhatian ekstra untuk pertumbuhannya di masyarakat. Terutama hingga teknologi yang baru ditemukan ini, mencapai fase dewasa/jenuh dalam siklus hidup teknologi –yang artinya telah umum digunakan dalam perwujudan strategi bisnis. Nah, bagaimana korelasi antara tingkat teknologi dengan strategi bisnis, akan dibahas berikut ini.

Strategi pemanfaatan teknologi memiliki korelasi yang dekat dengan strategi bisnis. Semakin tinggi tingkat teknologi yang digunakan oleh perusahaan, maka semakin tinggi pula nilai(value) yang diberikan kepada target pasar. Berikut adalah tabelnya.

(Nawaz Sharif, Ph.D. dari Myriad Solutions, Inc.)

Tabel di atas menjelaskan hubungan antara strategi teknologi dan strategi bisnis. Strategi perpanjangan teknologi (technology extender strategy) dengan strategi kepemimpinan harga (price leadership strategy) diperuntukan pada pasar dengan nilai/value yang rendah. Strategi perpanjangan teknologi ini menempati tingkat terendah pada kompleksitas teknologi yang digunakan. Dalam siklus hidup teknologi, strategi ini berada pada fasa penurunan (decline).

Strategi eksploitasi teknologi (technology exploiter strategy) dengan strategi kepemimpinan kualitas (quality leadership strategy) diperuntukkan pada pasar dengan nilai/value sedang/menengah. Strategi eksploitas teknologi ini menempati tingkat menengah pada kompleksitas teknologi yang digunakan. Dalam siklus hidup teknologi, strategi ini berada pada fasa dewasa/jenuh (maturity). Strategi ini merupakan penggunaan teknologi yang terstandardisasi di pasar dengan nilai kualitas menengah.

Strategi pengikut teknologi (technology follower strategy) dengan strategi kepemimpinan ceruk (niche leadership strategy) diperuntukkan pada pasar dengan nilai/value tinggi. Strategi pengikut teknologi ini menempati tingkat atas pada kompleksitas teknologi yang digunakan –yakni dalam fasa pertumbuhan pada siklus hidup teknologi. Strategi ini merupakan adapatasi dari teknologi maju pada ceruk pasar dengan nilai/value yang tinggi.

Strategi pemimpin teknologi (technology leader strategy) dengan strategi kepemimpinan kesan (image leadership strategy) diperuntukkan pada pasar dengan nilai/value puncak/tertinggi. Strategi pemimpin teknologi berada di tingkat tertinggi kompleksitas teknologi yang digunakan –yakni fase pengenalan pada siklus hidup teknologi.

Komisaris Krakatau Steel, Bapak Amir Sambodo, mengampu mata kuliah Bisnis Teknologi di SBM ITB. Pada semester I tahun ajaran 2009/2010, mengajarkan mata kuliah tersebut di hari Rabu pukul 11.00 di Ruang 3B gedung SBM ITB. Sedangkan Bapak Leo Aldianto, staf pengajar Management of Innovation and Technology di SBM ITB, mengampu mata kuliah Manajemen Teknologi, hari Selasa pukul 11.00 di ruang Ph.D gedung SBM ITB di semester I tahun ajaran 2009/2010.

Program entrepreneurship-track (e-track) Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB mewadahi mahasiswa untuk dapat menjadi seorang entrepreneur setelah lulus dari kampus ITB. Program ini mewadahi mahasiswa SBM dan non-SBM.

Inkubator Ide dan Bisnis (I2B) serta PT. Techno Ventura Business Synergy milik Ikatan Alumni (IA) ITB dapat membantu memudahkan perwujudan bisnis teknologi yang diinisiasi oleh teman-teman mahasiswa.

PENGUSAHA & BISNIS KREATIF

Bisnis kreatif adalah jenis bisnis lain yang bisa dikembangkan di kampus seni seperti ITB. Pun ITB beruntung berada di kota bandung yang memiliki jiwa seni dan kreativitas yang tinggi (di kota ini, jenis usaha berbasis kuliner dan fashion laku keras). Sehingga, aura seni dan kreativitas dapat bertemu dengan aliran uang di kota ini. Di Fakultas Seni Rupa dan Desain, terdapat berbagai program studi desain, seni dan kriya yang dapat menghasilkan karya-karya bernilai tinggi dan tentu saja dapat diperjualbelikan.

Bandung menjelma menjadi kota industri kreatif. Di kota ini, industri kreatif seperti kuliner (pujasera, gelap nyawang dago, racun ciumbeuleuit) dan fesyen (jalan dago, jalan riau) berkembang pesat. Di sini muncul potensi dimana (seharusnya) karya-karya dari FSRD ITB menemukan pasarnya.

Bisnis kreatif adalah bisnis yang berbasiskan output industri kreatif. Industri kreatif terdiri dari penyediaan produk kreatif langsung kepada pelanggan dan pendukung penciptaan nilai kreatif pada sektor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggan.

Produk kreatif mempunyai ciri2 : siklus hidup yg singkat, risiko tinggi, margin keuntungan yang tinggi, keanekaragaman yang tinggi, persaingan tinggi dan mudah ditiru.

Sedangkan kategori industri kreatif adalah sebagai berikut : jasa periklanan, arsitektur, seni rupa, kerajinan, desain, fashion, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan, riset dan pengembangan, software, TV dan radio, mainan, video game.

Industri kreatif merupakan pilar utama dalam membangun ekonomi kreatif yang memberikan dampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Industri kreatif Indonesia menyumbangkan sekitar 4,75% dari PDB Indonesia pada tahun 2006 –sudah berada di atas sektor listrik, gas dan air bersih. Laju pertumbuhan industri kreatif Indonesia tahun 2006 sebesar 7,3% per tahun. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 5,6%.

INOVASI DAN KREATIVITAS

Inovasi dan kreativitas adalah karakter penting yang harus dimiliki oleh para entrepreneur. Karakter ini saya katakan penting, karena adalah keharusan bagi para entrepreneur untuk menciptakan diferensiasi –yakni perbedaan. Perbedaan ini mencakup individual antar entrepreneur, karakteristik bisnis yang dilakukan, serta institusi bisnis yang dijalankan.

Para entrepreneur akan menjadi kontributor penting dalam pertumbuhan ekonomi melalui kapasitas kepemimpinan, manajemen, inovasi, aktivitas riset dan pengembangan, penciptaan lapangan pekerjaan serta pembentukan dan produktivitas dari suatu industri baru.

Semua yang telah, sedang dan akan kamu dengar tentang entrepreneurship, seperti kata Peter Drucker seorang pemikir manajemen Amerika Serikat, entrepreneurship bukan sihir, bukan misteri dan ini tidak ada hubungannya dengan genetic. Entrepreneurship adalah suatu disiplin, dan seperti disiplin ilmu lainnya, ini bisa dipelajari.

PERAN UNIVERSITAS

Universitas dapat menjalankan perannya dalam usaha pembangunan karakter entrepreneurship. Yakni dengan menyediakan ruang-ruang berkreasi bagai mahasiswa untuk menumbuhkan karakter-karakter entrepreneur. Selain itu, dapat dilakukan dengan pendirian organisasi-oraganisasi kemahasiswaan yang terkait entrepreneurship.

Bagaimana sih caranya menjadi mahasiswa yang entrepreneur? Ada 3 (tiga) hal menurut saya :

  • Bergaul dengan sesama entrepreneur,
  • membiasakan diri untuk berani mengambil risiko,
  • melihat sesuatu tidak sebagai sesuatu yang biasa melainkan sebagai suatu luar biasa –dari sini kemampuan melihat peluang itu datang!

KSSEP

Kementerian Ekonomi Kabinet KM ITB

Kementerian ini menyediakan ruang-ruang diskusi terkait motivasi berwirausaha dan bagaimana cara untuk mengembangkan bisnis bagi staf, deputi dan menteri itu sendiri.

Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa

Adalah satu-satunya unit kegiatan mahasiswa yang memiliki berbagai jenis bidang usaha. Di antaranya terdapat laundry, minimarket, fotokopi, kantin, dan lain sebagainya. Bidang-bidang usaha ini dapat memberikan pelajaran bermakna bagi teman-teman mahasiswa yang ingin memulai bisnis di bidang tersebut di atas.

Unit dan Himpunan

Di kedua macam organisasi kemahasiswaan ini, biasanya melaksanakan pencarian dana dan usaha sendiri. Perdagangan yang paling sering dilakukan biasanya berupa kaos atau minuman dingin.

REFERENSI

BAPPENAS. 2008. Evaluasi RPJMN Indonesia.

F. Kuratko, Donald and M. Hodgetts, Richard. 2007. Entrepreneurship: Theory, Process, Practise. USA : Thomson Higher Education

Larso, Dwi. Seminar UKM di ITB – Bandung. 15 April 2009

Simatupang, Togar. 2007. Industri Kreatif Jawa Barat. Bandung : SBM ITB.

Sharif, Nawaz. Technological Innovation Management for Wealth Creation.

Special thanks to :

Agtriana Leandini, and

Ilham Arif Nasution

for discussion with you all!!!

One thought on “Peranan ITB dalam Pengembangan Kewirausahaan

  1. Mencipta seorang pencari kerja menjadi pengusaha guna menghasilkan 1 orang lainnya bekerja adalah bagus, namun akan lebih hebat jika yang dihasilkan oleh seorang pengusaha tersebut adalah N orang. (N adalah tahun).

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s