Perbedaan Marketing Perbankan dengan FMCG


Dalam 7 hari terakhir ternyata ada yang mampir ke blog ini karena mencari tahu tentang “perbedaan marketing perbankan dan FMCG”. Fast Moving Consumer Goods. Kita coba ulas sedikit ya ūüôā

62bstrategi2bmarketing2busaha

Marketing Perbankan

Di perbankan, pelanggan (nasabah) dibagi menjadi nasabah perorangan/ritel dan nasabah bisnis (UMKM, Commercial, dan Corporate). Nasabah ritel sendiri ada yang masuk kategori biasa, ada juga yang masuk kelompok “Luar Biasa”. Yang luar biasa tabungannya ini, punya sebutan macam-macam tergantung bank itu sendiri. Ada yang kasih nama Affluent, ada juga High-End Worth, atau lainnya. Intinya yang minimal saldo tabungannya di kisaran ratusan juta atau miliar. Jangan heran juga kalau bank bikin kategori nasabah dengan kekayaan di atas angka tersebut.

Nah, untuk nasabah perorangan kategori biasa, dilayani dengan berbagai produk di kantor cabang. Which is, hampir setiap produk tersebut ada product owner / product manager-nya di kantor pusat. Kalau di kantor cabang utama (KCU) / kantor cabang pembantu (KCP) / kantor wilayah (kanwil) biasanya hanya sebagai penyaluran/penjualan produk tabungan (tabungan biasa, kartu debit, tabungan anak, dll), pinjaman (kredit tanpa agunan, KPR, KKB), atau lainnya (internet banking, dll).

Untuk nasabah UMKM, Commercial, dan Corporate, tentu saja ada produk-produk lain yang ditawarkan. Tugas product owner/manager nya adalah:

  • melakukan riset needs and wants-nya si nasabah,
  • mengembangkan fitur-fitur sesuai kebutuhan/keinginan nasabah,
  • membuat dan melaksanakan program untuk menambah nasabah baru, atau menambah penggunaan oleh nasabah lama.

Tupoksinya relatif sama dengan product owner di nasabah ritel. Pengelompokan produknya juga sama: simpanan, pinjaman, atau lainnya yang tidak termasuk keduanya (ada yang menyebut dengan istilah FBI, Fee-Based Income). Dalam pendekatan penjualannya, hanya satu perbedaanya dengan nasabah ritel (terutama kepada nasabah korporat), yaitu bisa dilakukan kustomisasi khusus. Misalnya bunga yang lebih rendah, rentang pinjaman lebih panjang, kartu debit khusus karyawan korporat tersebut, dlsb.

Di mana produk-produk UMKM, Commercial, dan Corporate tersebut dijual? Tentu saja di kantor cabang – kantor cabang. Which is, kita tahu sendiri di Indonesia, pusat bisnis adalah di Jakarta. Sehingga produk korporat mostly “berkantor” di kantor pusat. Dengan salesman-nya harus mendatangi calon nasabah satu demi satu. Kalau commercial atau UMKM bisa “nebeng” di kantor cabang. Misalnya, produk pinjaman perbankan untuk industri shipping maka dijualnya di kantor cabang yang beroperasi di kota-kota pelabuhan: Makassar, Surabaya, Balikpapan, dlsb.

Kalau UMKM kan jelas ada di setiap kota kan ya. PR-nya bank adalah mendesain sistem distribusi produk tersebut yang paling efisien:

  • apakah harus ada kantor cabang khusus UMKM, atau
  • bisa “nebeng” buka kantor juga di KCU, atau
  • cukup menempatkan salesman khusus produk tersebut di KCU, atau
  • ternyata produk tersebut harus dititip ke general salesman yang jualannya palugada, dst.

Marketing FMCG

Tupoksi Product manager / product owner / brand manager di FMCG relatif sama dengan di perbankan. Mungkin tambahannya adalah harus pintar-pintar melakukan kerja sama. Tujuan kerja samanya ada dua. Secara umum adalah menurunkan biaya promosi atau supaya konsumen akhir (end consumer) tidak bosan. Misalnya lewat product bundling, atau co-branding product, atau co-promotion product.

Selain itu adalah bekerja sama dengan agensi periklanan (TVC, Radio, koran, online, event organiser, dlsb) dan perusahaan riset komunikasi (paling besar di Indonesia itu AC Nielsen).

Jadi di kantor pusat FMCG, selain yang sudah disebut di bagian perbankan di atas, adalah juga mengurusi komunikasi, promosi, dan branding merek-merek yang dikelola. Tentu saja berurusan dengan uang: membuat rencana kerja berikut anggarannya, dan mengevaluasi pelaksanaan di lapangan. Dinamika kompetitor dan consumer behavior (terdiri dari media behavior dan buying habit) turut mempengaruhi dan menentukan bagaimana seharusnya anggaran dihabiskan. Omzet ideal yang ditarget adalah 20 kali lipat dari biaya komunikasi yang dikeluarkan. Insight lain yang saya dapat di tahun 2015 adalah bahwa tingkat keberhasilan produk baru untuk bertahan di pasar hanya 16%.

Lalu, siapa yang menjual? Ada bagian penjualan tersendiri di FMCG. Untuk diketahui, target market di FMCG bukanlah konsumen akhir. Melainkan toko-toko di mana end consumer tersebut berbelanja. Berikut distributornya. Oleh sebab itu, perusahaan harus berkomunikasi langsung dengan end consumer. Baik lewat ATL, BTL, Online, bahkan via packaging!. Sehingga ada demand dari consumer untuk berbelanja produk/merek tersebut di channel langganan: minimarket, toko kelontong, supermarket, hypermarket, dlsb.

Jadi bagian penjualan ini menjual kepada perusahaan distributor. Tidak boleh menjadi distributor langsung. Minimal dengan badan hukum PT yang berbeda (meskipun mungkin dari grup usaha yang sama). Brand owner biasa memberi diskon kepada distributor. Distributor pun ada diskon tersendiri kepada channel.

Penjualan di minimarket franchise seperti si biru atau si merah, mungkin saja dilakukan langsung oleh si PT FMCG ini. Usaha ritel si merah dan biru punya warehouse (semacam gudang raksasa) sendiri. Jadi tinggal deal dan kirim barang ke gudang mereka.

Sementara demikian dulu. Mudah-mudahan bermanfaat, ya. Pertanyan bisa ke ihwanul.alim@gmail.com

Surabaya, 2 Juni 2018.

Antara Selera, Latihan dan Uang


Ada suatu masa dalam hidup saya di mana saya berada dalam persimpangan pilihan, yaitu mau hidup dengan cara apa? Cara yang membahagiakan karena uang banyak, atau happy karena apa yang dikerjakan?

Pilihan pertama

Yang pertama itu cari uang sebanyak-banyaknya lalu membelanjakan uangnya supaya kita happy. Bahkan bisa saja uangnya tidak didapat dengan cara yang tidak menyenangkan, kemudian uangnya bisa dibelikan apa saja yang menyenangkan.

Misalnya, kita tahu bahwa bekerja di bank, atau di industri minyak dan gas (migas) itu duitnya banyak. Jadilah kita memilih bekerja di sana. Meskipun kita tidak suka, tapi duit yang banyak itu bisa dibelikan beberapa mobil, beberapa rumah, pergi jalan-jalan ke dalam dan luar negeri, atau hal-hal lain yang bikin happy.

Pilihan kedua

Kalau cara kedua adalah mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness) via passion. Istilah passion ini mulai hype as the way to pursuit happiness, saya kira dalam satu dekade terakhir. Cara kedua ini juga terbagi dua lagi. Pertama, passion dulu baru berkarya; alias memang memiliki kesukaan tertentu, lalu memilih produktif menghasilkan karya yang fenomenal luar biasa. Atau rutin merilis hasil-hasil berkarya.

Aliran kedua bagian b –yang memang fokus tulisan ini–, adalah alirannya mereka yang tidak percaya bahwa passion itu memang ada. Cara mereka adalah mencoba dan mengeksplorasi berbagai bidang, kemudian memilih satu di mana mereka benar-benar jago/kompeten. Percobaan dan eksplorasi tidak berhenti di permukaan saja ya. Betul-betul didalami, tekuni dan dilatih terus-menerus.

Aliran 2b ini, salah satu kitabnya adalah buku “So Good, They Can’t Ignore You” dari Carl Newport. Sesuai judulnya, pesannya adalah “jadilah seniman terbaik dari karya kita, hingga orang tidak bisa mengabaikan keberadaan kita”. Quote barusan dari saya, belum tentu ada di bukunya. Tapi kamu sudah paham maksudnya, ‘kan? ūüôā

Bahkan di era serba digitalisasi sekarang ini, di mana keterlibatan manusia semakin digantikan oleh robot (pekerjaan Customer Service pun mulai digantikan oleh ChatBot), ternyata pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya human touch malah semakin diperlukan. When human touch is needed, there is we should be so good. Pekerjaan seperti penulis, desainer, programmer, dsb malah semakin relevan karena seleranya.

Bahwasanya pekerjaan-pekerjaan tersebut menuntut suatu standard, selera, idealisme, –atau apapun istilahnya– dalam berkarya. Contohnya begini. Misalnya saya yang membaca lalu menganalisis karya tulisan orang lain.

  • Jika ada bagusnya, apa yang bisa ditiru lalu dari yang bagus tersebut?
  • Jika ada kelemahan, bagaimana saya akan memperbaiki kelemahan tersebut?
  • Saya membayangkan bagaimana bila saya menulis ide yang sudah ditulis tersebut. Bagaimana supaya lebih bagus?

Jadi, selera ini seharusnya menjadi keunggulan. Pembeda yang bisa ditawarkan kepada orang/pihak/institusi lain.

Kemudian soal latihan. Ambil contoh pesepakbola profesional. Mereka terus berlatih bahkan dalam hal-hal yang sangat sederhana seperti berlari dan menendang bola.

Saya bilang sih, pesepakbola itu dibayar untuk berlatih. Bukan untuk bermain. Dalam satu tim profesional berisi 33 orang, hanya 11 orang yang beruntung. Apalagi kalau menjadi pemain reguler, tentu dia karena memiliki keterampilan (skill) yang sangat baik dan dia juga beruntung.

Tadi malam, Real Madrid menjuarai UEFA Liga Champions ketiga kalinya berturut-turut setelah mengalahkan Liverpool 3-1. Sudah tiga kali dan berturut-turut, lho. Artinya ‘kan mereka tim Real Madrid sudah jago banget. Apa lantas mereka tidak perlu berlatih lagi?

Mereka jelas lebih jago daripada kita untuk urusan berlari dan menendang bola. Tapi mereka tetap berlatih hal-hal mendasar tersebut, ‘kan?

Contoh kedua dari link Core Skills for Technical Writers Often Overlooked ini, penulis yang merupakan seorang technical writer, mengeluhkan betapa generasi muda technical communicator melupakan hal-hal yang mendasari profesionalisme di bidang technical communication: good resume dan professional email(ing). Jadi, back to basic skill, lha.

Kedua contoh tersebut menekankan pentingnya terus-menerus berlatih. Baik diajari langsung oleh pengajar profesional, maupun via self-training.

Di sisi saya, saya harus konsisten menulis as part of my self training. Saya harus terus mempertajam selera dan standard, rutin mempelajari selera pasar, dan lain sebagainya. Misalnya, saya melihat keunggulan saya di feature journalism. Sebab saya ingin menyajikan data dan fakta dalam sebuah cerita yang memang menarik. Setiap artikel memiliki konteks masing-masing, namun saya menghendaki sebuah cerita yang abadi; cerita yang kapanpun dibaca masih selalu terasa maknanya.

Kesimpulan sementaranya adalah, selera harus dipertahankan bahkan harus terus ditingkatkan. Latihan ya harus terus-menerus dilakukan. Minimal berupa self-training. Bagi saya, itu adalah setiap setelah sholat subuh. Tentu tidak semua dirilis di blog ini. Atasan saya di kantor lama pun demikian; punya ritme khusus dalam menulis: setiap pagi setelah bangun tidur.

Akhirnya, saya berlatih untuk jujur terhadap apa yang saya rasakan. Kata Pandji, kejujuran macam ini akan berdampak terhadap karya-karya kita. Kejujuran dan orisinalitas kita pasti berimpak pada eksistensi, diferensiasi dan positioning kita di “pasar”.

Pilihan ketiga.

Dari sini muncul pilihan ketiga: menghabiskan waktu (bekerja) sesuai passion, tetapi mencari uang yang banyak dengan cara lain. Belakangan, akhirnya saya cenderung ke nomor tiga, instead of pilihan kedua.

Katanya sih, kalau sudah passion maka duit akan mengikuti. Iya sih, masuk akal. Kalau kita passion –> mestinya kita lebih produktif –> terus-menerus meningkatkan selera dalam berkarya –> personal brand terbentuk –> orang/institusi lain mulai memberi order/proyek ke kita –> duit mendanai passion kita. Dan siklus pun berulang.

Namun, ada mekanisme pasar yang berperan. Bagaimana pun passion dan kualitas karya nya, tentu ada faktor supply-demand yang ikut mempengaruhi tingkat harga di pasar. Duit bisa jadi datang terus, tapi bisa jadi harga semakin turun. Ini yang harus kita antisipasi.

Kalau kita sudah happy, tapi duit masih kurang banyak, kita harus kreatif mencari duit dengan cara lain juga. Misalnya berdagang (online), menyewakan alat atau aset, cari side job, dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan ada lain waktu untuk membahas hal tersebut.

 

Bisnis di Atas Bisnis Sepak Bola


Parma kembali ke Serie A, setelah promotion berturut-turut dalam tiga musim. Serie D -> Serie C, lalu ke Serie B, lalu ke Serie A. Klub ini pernah dipaksa degradasi ke Serie D karena dinyatakan bangkrut oleh pengadilan. Artinya, tidak punya uang yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya.

parma

AC Parma Golden Generation

Di tahun saya mulai menonton sepak bola, golden generation-nya klub ini menang besar 2-4 di kandang tim kuda zebra yang terkenal angker. Striker andalan mereka, yang masih menjadi pencetak gol terbanyak hingga kini, Hernan Crespo, membuat hattrick saat itu.

Main dengan pola 3-4-1-2, ada Juan Sebastian Veron sebagai playmaker di belakang dua striker. Saat itu, pengatur permainan (playmaker) mostly bermain di posisi itu. Ada juga Enrico Chiesa, pemain yang biasa menembak keras dari jarak jauh sebagai second striker. Ada kiper Gianluigi Buffon, yang di tahun ini gantung sepatu dari tim kuda zebra yang sudah disebut di atas. Ada Fabio Cannavaro yang tidak terlalu tinggi, tapi kokoh berhadapan dengan striker lawan dan selalu menempatkan diri lebih baik guna meng- intercept umpan pemain lawan sebelum sampai di kaki atau kepala striker yang dia jaga.

Parmalat dan City Group

Di era generasi emas tersebut, Parma disponsori penuh oleh Parmalat. Perusahaan berbasis peternakan sapi perah yang punya produk susu kemasan, keju, lalu belakangan masuk ke biskuit. Parmalat sangat dikenal karena produk susu UHT yang menjamin masa simpan lebih lama di dalam kulkas. Distributor dan toko tentu lebih senang menyimpan inventory yang awet seperti ini.

Founder dan Owner Parmalat, Carlisto Tanzi berinvestasi di persepsi orang lain terhadap dirinya: personal branding. Sama seperti para pemilik lain yang sebenarnya hanya bermain-main dengan klub sepak bolanya. Sebagaimana Silvio Berlusconi, pebisnis media sekaligus politisi yang pernah memiliki klub AC Milan. Kalau pada akhirnya “mainan” tersebut menyedot terlalu banyak duit daripada menghasilkannya, ya akhirnya dijual juga.

Singkat cerita, Carlisto Tanzi adalah¬†“dewa” yang mengangkat harkat martabat Parma ke jenjang yang lebih tinggi: Serie A dan kompetisi antarklub di Eropa.

Dengan logo Parmalat terpampang di jersey Parma yang melanglang  buana ke berbagai kota di Eropa (via Winner, cup, UEFA cup atau Champions League), dan tentu saja lewat siaran sepakbola sampai ke Asia dan Amerika latin, model bisnis Parmalat mensponsori Parma sudah benar. Ekspansi ke eropa timur juga diikuti dengan rekrutan Hristo Stoichov yang mulai menua dan memudar di Barcelona. Ini sebenarnya mirip dengan yang dilakukan Manchester City dalam satu dekade terakhir.

Rute penerbangan Etihad Airways ke New York dan Melbourne diikuti dengan ekspansi City Group ke dua kota tersebut: akuisisi klub sepak bola New York City dan Melbourne City. Ekstensi brand “City” sebenarnya baru dilakukan pasca kedua klub tersebut sudah dimiliki. Jadi uang berlimpah yang digelontorkan via Josep Guardiola sebenarnya juga tidak ada salahnya. Toh, City mengekspansi semua channel yang mereka miliki kan.

Berkat channel yang mereka miliki, akhirnya ada pemain Liga Australia yang “merumput” di English Premier League. Yang bersangkutan dilepas oleh klub sepak bola Melbourne City.

Rentannya Keuangan Klub Sepak Bola

Parmalat di tahun kebangkrutannya sedang mempekerjakan 36.000 karyawan, merupakan perusahaan terbesar ke-8 di Italia, dan merepresentasikan hampir 1% dari GDP-nya Italia. Tapi punya utang sebesar 20 miliar USD yang tidak sanggup mereka bayar. Muncul pertanyaan, perusahaan sebesar itu, kenapa sampai tidak sanggup menyelesaikan utangnya? Simply karena utang-utang yang mereka ambil tidak berubah menjadi aset perusahaan. Melainkan diambil dan dimakan sendiri oleh keluarga Tanzi dan para pemimpin Parmalat saat itu.

Kebangkrutan Parmalat ini kemudian menjangkiti AC Parma yang . Tidak mampu merekrut dan mempertahankan pemain berkualitas diikuti dengan menurunnya performa klub di klasemen Serie A Liga Italia yang ujung-ujungnya adalah klub terdegradasi. Meskipun degradasi ke Serie B sendiri baru terjadi di akhir musim 2008/09.

Skandal Parmalat adalah ibarat skandal Enron, tapi terjadi di Eropa. Skandal Enron baru terjadi 2-3 tahun sebelum skandal Parmalat. Polanya sama: mengaku-aku punya pendapatan, tapi uangnya tidak pernah ada. Karena punya “pendapatan”, maka mengambil utang dalam jumlah besar. Pada akhirnya, utang inilah yang dilarikan ke aset-aset pribadi.

Keuangan klub sepak bola itu rentan (vulnerable) sekali. Sementara gaji pemain yang besarnya 50%-70% omzet perusahaan itu harus dibayar terus. Padahal, pendapatan klub bisa naik dan turun. Tergantung tahun depan bisa ikut Champions League atau tidak, atau bisa “mengamankan” berbagai sponsor (Nike/Adidas, atau sponsor lainnya), atau sumber-sumber merchandise lainnya.

Di bayangan saya, orang finance-nya klub sepak bola benar harus jago di atas kertas. Karena yang dia lakukan adalah melakukan valuasi aset, terutama terhadap pemain. Di atas meja perundingan, dia juga harus jago negosiasi banget.

Tadi malam Chelsea menang atas Manchester United (MU) di Final FA Cup. Kalau saya jadi manajemen MU, saya sudah tenang sebelum Final FA Cup tadi malam. Dapat piala FA Cup ya syukur alhamdulillah, enggak dapat ya tidak apa-apa. Masih ada tahun depan. Mengapa demikian? Sebab klub sudah aman; punya jaminan pemasukan dari Champions League musim depan. Berbeda dengan Chelsea yang anggaran belanja musim depan pasti melorot karena “hanya” bermain di Europe League.

 

Bandung, 20 Mei 2018

referensi:

https://www.theguardian.com/football/blog/2015/jun/23/parma-the-football-club-milked-for-all-their-worth

Memosisikan Anak sebagai Orang Dewasa


komuniksdi-dengan-anak-520x265

Semalam, Muzakki bertanya ke saya. Kami masih di masjid “biru”. Bertiga dengan adiknya. Muzakki bertanya, “kok Pak Alim berdoanya, Waqinaa adzaa ban-naar?”

Alhamdulillah, ibunya rutin mengajak dan membiasakan berdoa sebelum makan. Mungkin Zakki heran dan bertanya, kok di masjid doanya sama dengan doa sebelum makan.

Cek dan ricek ke si mbah, ternyata “Waqinaa adzaa ban-naar” artinya kira-kira “Dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Thanks to “Anak Dua“. Kami jadi belajar dari kalian yang lebih muda. Sudah seharusnya, sih. Belajar itu ke siapa saja. Kepada usia berapa saja. Alhamdulillah masih diberi legowo dan kerendahan hati untuk belajar dari siapa saja.

Itu pengantar deh. Berhubung ceritanya baru dapat tadi malam. Overall, tulisan kali ini sekedar catatan bagi kami saja. Kalau memang ada yang mendapat inspirasi dari sini, ya alhamdulillah. Mudah-mudahan bermanfaat, deh.

Berhubung di rangkaian acara pernikahan adik kami, ada yang nyeletuk, “Ngobrol ma anak dua itu kayak ngobrol sama orang dewasa”. Alhamdulillah, ini feedback positif bagi kami. At least, kami jadi tahu kami memberikan action yang tepat, sehingga Anak Dua turut membalas dengan reaction yang tepat pula.

Kalau kami bertanya ke diri kami sendiri, mengapa bisa begitu? Jawaban kami adalah, pada prinsipnya kami memandang dan menganggap anak-anak sebagai manusia dewasa. Terutama adalah, mereka berhak memutuskan sendiri dari pilihan-pilihan yang ada.

Pilihan-pilihannya bisa jadi berasal dari mereka kumpulkan sendiri. Atau mungkin juga dari yang kita sediakan. Bisa juga sih kita membatasi pilihan-pilihan buruk dari mereka dari apa yang mereka lihat atau dengar.

Di era informasi seperti sekarang ini, kontrol terhadap informasi itu berat banget. Kalau di era televisi, kita pemirsa akan terima-terima aja segala yang disodorkan. Namun sekarang, filtering-nya setengah mati. Butuh tiga hari untuk tahu apakah sebuah berita adalah hoax atau bukan. Bagi kami, YouTube masih mending. Anak-anak memang belum paham fitur search-nya. Namun, ke depannya history bisa kita awasi terus kan. Another problem kalau mereka sudah bisa menghapus history. Saat ini, at least saat ini kami sudah mulai dengan menghindari sinetron serta berita yang belum tentu terkait dengan keluar kecilkamu. Mungkin kapan-kapan saya bisa sharing perspektif saya tentang hal ini ya.

Jadi kita orang tua harus menganggap anak sebagai manusia dewasa yang punya pilihan. Jadi tanyakan misalnya, maunya apa? Menurut kamu lebih baik mana?

Orang dewasa ingin didengar. Apa pendapat mereka. Pun begitu pula dengan anak-anak yang kita anggap sebagai pribadi dewasa. Kalau kita “mengkerdilkan” anak-anak, termasuk dengan anggapan “namanya juga anak-anak”, maka sesungguhnya kita turut berkontribusi terhadap “perlambatan kedewasaan” mereka.

As we know, dalam islamic parenting tidak ada namanya remaja. Yaitu, usia biologis (yaitu fisik dewasa) yang lebih tua daripada usia psikologis (yaitu pemikiran anak-anak). Yang ada hanyalah aqil baligh. Dewasa secara fisik dan pemikiran.

Kami belajar dari anak itu seperti kami belajar dari orang dewasa. Kami positive thinking bahwa semua orang berusaha menjadi lebih baik; meski belum dan tidak akan sempurna. Anak-anak pun seperti itu. Mereka akan bertumbuh berkembang, memiliki kebisaan dan kemampuan tersendiri nantinya. Seiring sejalan dengan hal tersebut, kami berusaha mengenal mereka lebih mendalam.

Si W, ternyata pribadi yang tidak mau kalah, sulit mengalah, dan ingin menjadi nomor satu. Pribadinya memang introvert, sih. Dia menggali dari dalam dirinya sendiri kala ingin belajar/menjadi lebih baik. Dia ini kelihatannya excited soal menggambar/melukis. Inginnya sih, dia ada kesempatan ikut sanggar lukis yang gak terlalu jauh dari rumah.

Beda dengan Z, si kakaknya yang extrovert, senang dengan keramaian, selalu ingin diperhatikan orang lain, namun suka bertanya dan mengeluh kepada orang lain bila ada yang dia tidak bisa pelajari/kerjakan.

Tidak selamanya berguna yang namanya bersikap steril terhadap anak-anak. Semua serba dilarang juga tidak baik. Yang harus ada adalah pengawasan. Pun kala anak-anak memberikan feedback, kami harus menanggapi dengan masuk akal pula. Seiring tumbuh-kembangnya fisik dan pemikiran mereka, kami orang tua juga harus memberikan reasoning yang tepat pula.

Jadi orang tua itu berat. Tanggung jawabnya sedemikian besar. Tetapi pengajarannya relatif belum memadai. Alhamdulillah makin ramai topik tentang parenting dibahas, diajarkan, dan dilatih di mana-mana. Even di Gramedia, ada rak penjualan buku khusus untuk tema-tema parenting.

Kami yakin tidak ada manusia yang sempurna. Bagaimana orang tua kami menjalankan parenting juga tidak sempurna. Ada beberapa “kesalahan” yang mereka lakukan. Namun kembali ke diri kami apakah mau mengulangi kesalahan tersebut atau justru melakukan yang benar dan seharusnya.

PS: Anak-anak yang dititipkan oleh Allah kepada kami masih kecil-kecil. Kami bukan pelaku parenting yang sukses. Parenting yang sukses menurut kami baru bisa diukur pasca anak-anak tersebut sudah menikah dan menjadi orang tua pula. Catatan ini sekedar catatan pribadi saja. Bukan berbagi kebenaran. Mudah-mudahan memberikan manfaat bila memang cocok atau inspiratif bagi kamu yang membaca.

Connect The Dots Looking Backwards


Kalau saya kilas balik, ke profesi saya sekarang, copywriter, saya merasa ini seperti connecting the dots.

Kata almarhum steve jobs, kita itu tidak bisa selalu berhasil dalam merencanakan dan mengeksekusi rencana. Tapi kita bisa menarik kembali garis hubungan hubungan antara apa yang pernah terjadi, apa yang pernah kita lakukan, prestasi apa yang kita hasilkan di masa lalu dengan apa-apa yang ada saat ini.

bfa2a8debf5d21f88b75330cae57c7aa

Mengambil pola tersebut, saya menyimpulkan bahwa posisi copywriter sekarang ini, adalah ‚Äúnyambung‚ÄĚ dari apa yang saya lakukan dan hasilkan sejak beberapa tahun lalu.

Saya kuliah di kampus Teknik. Segala hal selalu kami pandang secara ilmiah. Basis fakta, logis (masuk akal), dan sistematis. Ketika berperan sebagai penulis, saya jadi demikian adanya lewat tulisan-tulisan saya: berusaha menyajikan fakta, menginterpretasikannya dengan masuk akal, dan sistematis dalam menampilkan hasil tulisan saya. Sistematis artinya ada hubungan antara tiap konten/informasi di dalamnya.

Pasca lulus, saya bekerja di kantor konsultan. Di sana, logika sama pentingnya dengan kreativitas. Di sini, kompetensi kreativitas saya yang lebih banyak dikembangkan. Saya belajar menyentuh sisi emosional dari audiens; khususnya sisi kegelisahan (anxiety) mereka. Wajar, memang klien yang stuck dengan daily operation membutuhkan rekomendasi yang menyegarkan tapi berangkat dari pendekatan yang ilmiah.

Di samping itu, kemampuan jurnalistik saya sendiri. Jurnalistik artinya, menangkap potensi sebuah berita, lalu mengkreasikannya sedemikian rupa sehingga benar-benar menjadi sebuah berita yang bisa dirilis sesuai mediumnya. Again: saya tidak kuliah jurnalistik.

Yang jurnalistik ini semi otodidak sih. Di era social media seperti sekarang, mereka yang sukses memanfaatkan social media berarti sudah otodidak belajar dan mengeksekusi aktivitas-aktivitas jurnalistik. Sukses artinya, memperbanyak 3F (friends, fans, followers) dan meningkatkan engagement dengan mereka. Beberapa kali saya memang menghandle social media, di samping social media saya pribadi.

Di kantor konsultan dulu, karena kantornya kecil, kami dibagi berdasar klien. Jadi untuk setiap klien, handling kami itu end-to-end. Mulai dari membuat proposal, mengerjakan materi seperti riset dan presentasi, sampai dengan membuat laporan akhir. Karena saya biasa membuat proposal, di kantor sekarang ini saya menjadi editor untuk setiap proposal tender yang kami buat.

Ada hal lain lagi. Terkait industri yang sedang berkembang dan saya ingin menjadi bagian di dalamnya. Jadi di Indonesia ini yang growing adalah industri IT. Saya ingin menunggangi gelombang (riding the wave) tersebut. Saya belum lama menemukan bahwa industri ini juga padat dengan dokumentasi. Mulai dari requirement specification, sampai user guide. Nah technical writing adalah aspek yang penting di industri ini.

Hal lain yang menarik adalah technical writing zaman now tidak lagi sama dengan technical writing yang tradisional. Penggeraknya adalah internet dan social media. Mesin pencari membantu kita menemukan informasi yang kita inginkan. Which is, kita sebagai penjual produk/jasa/proyek juga ingin ditemukan oleh calon pembeli. Kita harus berpikir keras, bagaimana findability kita meningkat di mata konsumen.

Di sisi lain, social media membantu kita mencari, menemukan, dan mempertahankan mereka yang kita sebut sebagai pelanggan/audiens. Kita tinggal eksplorasi saja, jenis konten seperti apa dari kita, yang membantu kita membangun hubungan dengan audiens. Tidak mudah memang, tapi harus dicoba dan diiterasi terus.

Jadi, apa aja yang saya kerjakan di kantor yang sekarang?

  1. Sebagai editor untuk proposal tender
  2. Sebagai editor untuk dokumen-dokumen lain
  3. Mengelola social media kantor
  4. Membantu tim HR dalam mengelola komunikasi dengan internal perusahaan (terutama karyawan)

Kalau disimpulkan, pekerjaan saya itu separuh copywriter ala advertising agency, dan separuh lagi adalah technical writer.

Berhubung perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan asal singapore, jadi official language-nya adalah English. Jadi semua dokumen tender dan non tender itu dalam Bahasa Inggris. Demikian pula ketika berkomunikasi resmi dengan para karyawan. Lucunya, saya dianggap sebagai yang paling jago grammar. Wkwkwk. Padahal saya tidaque jago sama sekali. Tidak apa. Yang penting saya harus belajar terus.

Berhubung pekerjaan sekarang ini sangat erat dengan crafting, antusiasme jadi penting banget. Karena antusiasme akan ‚Äúmenyetir‚ÄĚ proses dan ikut menentukan kualitas hasil pekerjaan. Semangat untuk menemukan hal-hal baru dan melihatnya sebagai sesuatu yang menarik untuk dipelajari, itulah yang saya sebut dengan antusiasme.

Dan ini makin relevan di era digital seperti sekarang. Iya sih, beberapa aktivitas bisa diotomasi secara digital. Hingga beberapa pekerjaan ‚Äúhilang‚ÄĚ ditelan disrupsi digital. Seperti Customer Service (CS) yang mulai digantikan oleh chatbot. Namun, pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan sentuhan manusia (human touch) justru semakin relevan. Di sinilah pentingnya terus-menerus membangun dan mempertahankan antusiasme.

Panjang juga ya bicara tentang antusiasme. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk menuangkan gagasan tentangnya. Sementara sekian dahulu.

Posisi Kerja di Dealer Mobil


Ada beberapa hasil pencarian di google yang mengarahkan ke blog saya ini, namun belum terpuaskan jawabannya.

Keywords nya adalah:

  • bagian kerja di dealer
  • jabatan kerja di dealer
  • bagian-bagian kerja di dealer mobil
  • bagian-bagian kerja di dealer
  • posisi pekerjaan yang ada di dealer mobil
  • fungsi marketing support di dealer
  • posisi kerja di dealer motor

Saya coba mencari tahu jawabannya dan menuliskan secara rapi kepada teman-teman pembaca, ya ūüôā

Image result for car dealer

Salesman

Pastinya adalah Salesman. Tentu fokus utama salesman adalah menutup penjualan (closing). Pasti ada target yang terukur. Misalnya, kurang lebih tahun 2008 saya mendengar bahwa salesman sepeda motor di Dealer Honda Jalan Merdeka Kota Bandung, setidaknya harus menjual satu unit sepeda motor per pekan. Itu adalah target minimal mereka.

Ada yang pernah menjadi salesman mobil BMW, kehilangan pekerjaannya kurang lebih setelah 6 bulan bekerja. Setahu saya, beliau setidaknya tiga bulan berturut-turut gagal mencapai target.

Sebuah dealer mobil di Jalan Pasteur Kota Bandung, boleh menjual hingga ke seluruh wilayah Jawa Barat demi memenuhi target penjualannya.

Posisi-posisi salesman ini ada gaji tetapnya. Tetapi tidak terlalu besar. Take home pay (THP)-nya lebih didominasi oleh bonus penjualan. Bonus bisa per tiga bulan; bisa juga per tahun. Tunjangan juga ada. Pastinya Tunjangan Hari Raya, THR.

Ada kalanya dealer membuat atau mengikuti pameran mobil. Sulit untuk mengejar penjualan di event seperti ini. Target paling realistis adalah mengumpulkan database calon pembeli sebanyak-banyaknya.

Saya pribadi, ketika menjaga toko milik keluarga, juga pernah dihampiri oleh salesman. Targetnya beliau sama: mendapat nama dan nomor telepon saya selaku calon pembeli mobil.

Nah, database calon pembeli ini adalah “asset” yang bisa dihubungi kembali manakalan salesman yang bersangkutan sedang kehabisan calon prospek.

Marketing Support

Karyawan yang termasuk di kedua bidang itu antara lain melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan sales ritel, telemarketing, analisis pasar, product marketing, digital marketing, serta customer relationship management (CRM).

Pelayanan seperti apa yang dimaksud? pelayanan ini berupa bantuan pada persiapan produk, proposal, presentasi, demo produk, riset produk, riset tender dan masih banyak lagi.

Dari banyaknya tugas mereka, yang paling umum dilakukan marketing support adalah membantu pada bagian advertising dan Customer Service. Ini karena bagian pengiklanan dan CS memerlukan banyak tenaga dengan skill mumpuni.
Analisis Pasar, meliputi:
  • Pembeli potensial. Baik perorangan, komunitas, maupun pembeli korporat
  • Aktivitas kompetitor: aktivitas pameran, produk yang sedang fokus dijual, dsb.
  • Produk yang sedang tren, berikut nilai penjualan
  • Produk yang akan tren, nantinya

Konsumen mobil dan sepeda motor itu cenderung memilih dan membeli model atau fitur baru. Terutama yang sesuai dengan isi kantongnya. Toyota Avanza menjadi mobil sejuta umat karena fiturnya (terutama kapasitas penumpang) dan harganya yang memang sesuai dengan isi kantong pembeli.

Sepeda motor Yamaha Nmax adalah trend baru yang menyajikan kenyamanan berkendara jarak jauh karena fitur desain ergonomi yang menghindari pengendara dari cepat lelah.

Finance

Tugasnya mencatat pemasukan dan pengeluaran dealer. Pemasukan berupa uang DP, cicilan pembayaran, dll. Pengeluaran berupa operasional harian dan bulanan dari dealer, gaji para pegawai, dan sebagainya.

Pembayaran atas keikutsertaan dealer dalam pameran mobil yang berlangsung di mall-mall tentu juga menjadi tanggung jawabnya.

Branch Manager

Sebutan lainnya kepala cabang. Target utamanya memimpin tim dealer meraih penjualan; khususnya memimpin para salesman dalam mencapai target penjualan.

Yang dilaporkan kepada kantor pusat: posisi pangsa pasar saat ini, ketercapaian target penjualan, database pelanggan, dan sebagainya.

Database pelanggan juga menjadi salah satu Key Performance Indicator (KPI) posisi kepala cabang. Macam-macam pelanggan:

  • Pelanggan tetap
  • Baru membeli sekali
  • Calon pembeli (salah satunya didapat dari pameran otomotif)
  • dll

Wilayah Penjualan

Dealer mobil itu, sepengamatan saya jarang yang lebih dari satu unit per kota. Sebab, wilayah penjualan yang dikelola biasanya memang seukuran kota tersebut. Bahkan, luasnya bisa sampai satu provinsi sendiri.

Kecuali kota-kota Jabodetabek ya. Kebutuhan dan daya beli mobilnya sudah tinggi sekali. Bisa ada 2-3 unit dealer per kota.

Namun, dealer berbeda dengan gudang ya. Tidak semua yang dikehendaki oleh konsumen sudah tersedia di dealer. Seringkali masih disimpan di gudang — tentu saja berbeda lokasi dengan dealer yang biasanya berada di pusat kota atau di jalur-jalur utama/protokol.

Bahkan beberapa produk tertentu harus indent (pesan) terlebih dahulu. Ini semua karena pabrik, gudang, dan dealer menghindari over supply yang mungkin menyebabkan menumpuknya stok kendaraan.

Salah satu tugas marketing support juga mengelola catatan penjualan dengan rapi:

  • Stok yang akan datang dari pabrik dan tanggal berapa akan datang
  • Stok yang berada di gudang
  • Stok yang ada di dealer
  • Daftar produk yang di-indent oleh pelanggan–terutama yang sudah dibayarkan down payment (DP)-nya.
  • dst.
Referensi:

Gen Y and Employer Branding


Dari dulu, nama yang dipakai itu Human Resources (HR). Belakangan ini ada yang menamakannya Human Capital. Yang terakhir ini lebih ke mindset. Artinya, manusia di dalam organisasi bisnis adalah aset. Yang dimaksud aset adalah manusia-manusia tersebut dapat ditingkatkan produktivitasnya. Dia bisa diajarkan, dilatih, dan dikembangkan lebih lanjut. Sehingga bisa mencapai target yang lebih besar daripada sebelumnya. Contoh. Kalau dia adalah seorang salesman, maka nilai penjualan yang ditargetkan di periode berikutnya bisa lebih tinggi.

Image result for employer branding

Tapi secara finansial perusahaan, tetap saja employment and people development dihitung sebagai cost. Gaji dan biaya training adalah biaya. Bukan sebagai asset.

MSDM (Manajemen Sumber Daya Manusia) itu menggunakan model-model psikologi guna mengoptimalkan produktivitas karyawan. Jadi kalau kamu mahasiswa jurusan manajemen yang mengambil mata kuliah pilihan, atau konsentrasi, atau skripsi terkait MSDM, maka kamu akan banyak mempelajari model-model tersebut. Misalnya konsep reward and punishment. Atau DISC model. Introvert-extrovert. Dan pemodelan-pemodelan lainnya.

Tidak hanya mempelajari model, tetapi juga mempraktikkan metodologi pengukuran psikologi. Yang akan diterapkan pada objek riset kamu. Untuk pendidikan sarjana, rasanya belum akan sampai pada pengembangan metode baru guna pengukuran psikologi. Lebih ke latihan melakukan riset.

Basis dari optimasi kinerja manusia dalam organisasi adalah kompetensi. Makanya biasa dilakukan competency mapping. Secara ideal, untuk menentukan knowledge, skill, and attitude (KSA) yang ideal. Sedangkan secara aktual untuk mengetahui status terkini dari KSA-nya manusia yang dimaksud. Di antara ideal dan aktual, ada competency gap yang harus dikecilkan melalui training and people development.

Gen-Y

Tentang Gen-Y sendiri, risetnya sudah banyak sekali. Bahkan sampai membanding-bandingkan dengan generasi sebelumnya. Wajar saja, di tahun-tahun sekarang ini masih banyak banget industri dan perusahaan yang mempekerjakan dua generasi berbeda karakter tersebut. Dan hanya beberapa tahun lagi, Gen-Y akan mendominasi dunia kerja. Isu paling kencang yang dibicarakan adalah, “Bagaimana mengoptimalkan Gen-Y di dunia kerja?” akan semakin terus intensif dibicarakan sekarang dan ke depannya.

Infografis di bawah ini membandingkan Gen-X dan Gen-Y di dunia kerja.

Image result for gen y

Employment pattern: remote work, freelance, atau duration-based work. Yang terakhir maksudnya 8 jam kerja berada di kantor (belum termasuk waktu istirahat). Bebas masuk jam 8, 9, atau 10 pagi. Tidak semua pekerjaan bisa seperti itu, memang. Namun pola-pola employment tersebut mulai banyak diterapkan di industri digital (startup, web developer, digital agency). Industri-industri yang lain mulai turut meniru industri digital tersebut.

Tidak hanya back-end developer, tapi juga designer, writer, videographer. Kerjaan seperti social media administrator bahkan tidak mengenal waktu kerja. Sehingga dibebaskan untuk urusan tempat bekerja. Bahkan pola employment-nya bisa kontrak berbasis waktu. Pekerja kontrak begini memang merugikan dirinya sendiri dari sisi jaminan hari tua (JHT). Namun begitulah adanya Gen-Y.

Makanya, kalau mau bekerja di perusahaan, bagi Gen-Y penting banget brand-nya si Employer. Iya, employer juga harus membangun brand, donk.

Employer Branding

Potential employee, especially Gen-Y, may not work for companies with bad reputations. Jadi para kandidat melakukan riset lebih dahulu di social media, mengenai company tersebut. Risetnya bisa di facebook, instagram, linkedin. Ini belum termasuk situs lapangan kerja semisal glassdoor.com, qerja.com, jobplanet.com, dan sebaganya. Generasi dulu agak sulit melakukannya karena metodenya terbatas. Seperti bertanya langsung kepada karyawan terkait. Social media membuat segalanya lebih mudah.

So, Employer Branding is more important today than ever before. Itu tadi karena Gen-Y juga mempertimbangkan brand si employer. Apa aja yang mereka perhatikan kala memilih tempat bekerja?

Yang dipertimbangkan oleh gen-y adalah engagement bersama karyawan lain dari ekstrakurikuler kantor –ada riset yang menyatakan dua besar hobi Gen-Y adalah terkait sport and music. Selain itu adalah¬†personal improvement dari kantor.

Jadi, sekarang ini perusahaan-perusahaan berkompetisi dalam membangun asosiasi bahwa tempat kerja mereka adalah yang terbaik. Bahwa dengan bergabung bersama mereka, maka si karyawan akan berkembang dan bisa naik karirnya.

Bahkan perusahaan seperti Alfamart dan Indomaret juga “merekayasa” tagar-tagar yang mereka kembangkan di Instagram. Sebagai cara menunjukkan bahwa they’are the best place to work. Misalnya via tagar #indomaretcantik #indomarethits #indomaretkekinian #indomaretkeren.

Fenomena Gen-Y dan employer branding ini terjadi di semua lapisan ekonomi, lho. Teman saya yang membuka konveksi saja mengakui. Bahwa penjahit mungkin saja memilih tempat bekerja yang ada seragamnya. Instead of yang tanpa seragam. Padahal, gajinya sama, lho.

Istilahnya, generasi sekarang mencari tempat kerja yang, “Enak menjawabnya kalau ditanya orang bekerja di mana”. Bahkan menjawab kerja di tenant mall lebih bergengsi daripada bekerja sebagai ART.

Balik lagi ke topik utama tulisan ini. Lebih baik mana: SDM, finance atau marketing? Tidak ada yang lebih baik. Semuanya adalah baik.

Segala pertimbangan kembali ke kamu sebagai mahasiswa. Jangan menghindari yang sulit saja. Atau memilih skripsi yang mudah saja. Tapi pilih yang kamu suka. Itu aja.

Bagaimana kalau sudah pilih, dan ternyata salah? Gapapa. Masih banyak waktu untuk memperbaiki. Terjun bekerja aja di bidang yang kamu suka tersebut.

Artikel terkait mengenai pemilihan MSDM, keuangan, atau marketing:

alasan memilih manajemen keuangan

mengapa memilih keuangan

mengapa memilih marketing

alasan memilih prodi manajemen

Source of images: 

http://www.hrinasia.com/employer-branding/10-best-practices-of-employer-branding/

https://blogs.qut.edu.au/business-insights/my-advice-on-bridging-the-gen-x-on-gen-y-gap-wear-sunscreen/

 

Review Indiepreneur (part 2)


Tulisan berwarna hitam memang dari buku beliau. Yang berwarna merah adalah tanggapan dari saya.

20150531195447-1

GR8 Promotion

  • Pandji tidak ingin menyebutnya core fans. Dia lebih suka istilah “komunitas penikmat karya”. The returning satisfied customer. Lebih murah menjaga pelanggan setia daripada menjaring pelanggan baru. Ini memang marketing banget. Menjaga pelanggan instead of menjaring pelanggan baru.¬†¬†
  • Promosi dan distribusi bisa dilakukan tanpa mengurangi keintiman kita sebagai pembuat karya dengan para penikmatnya. Era digital memang memotong rantai distribusi.
  • Karya yang tanggal rilisnya tidak pasti, tidak pernah mendapatkan hasil yang fenomenal dibandingkan karya-karya yang punya tanggal rilis pasti. Informasi tentang karya kita pelan-pelan dibuka, jangan langsung telanjang.¬†“Kalau yang nggak dirahasiakan aja gokil-gokil, gimana yang rahasia?”¬†Yang rilisnya sudah pasti memang bikin penasaran. Terbuka tapi tidak telanjang.¬†
  • Orang zaman sekarang¬†menggunakan internet bukan untuk browsing, melainkan untuk mengunjungi stream-nya sendiri. Adalah aliran informasi yang dia dapatkan melalui saluran-salurannya sendiri. Saya mengakui sendiri. Instead of memindahkan pertemanan di dunia nyata ke internet, orang lebih memilih untuk mem-follow interest dia di social media.
    • Relevance. Kecocokan konteks dengan orang lain.
    • Affinity. Kesukaan terhadap seseorang.
    • Goodwill. Iktikad baik yang terlihat dari tindakannya.
    • Trust.
  • From orality culture to literacy to visuality. Menariknya (atau lucunya?) bangsa Indonesia seperti melompat dari orality culture to visuality culture (Instagram, dll).¬†

GR8 Community

  • Pandji tidak mau punya fans. Kalau fans kecewa, bisa sangat menakutkan.¬†Iya juga, sih. Setuju banget. Main aman aja. Tanpa melupakan bangun fans/komunitas.¬†
  • Fase kenalan¬†(bertemu) – teman (berkomunikasi) – temain main (kopi darat) – sahabat (saling menghormati).¬†Ini ilmu yang bagus. Sometimes tidak paham kenapa kurang nyambung dengan seseorang. Tapi memang bisa jadi begitulah adanya.¬†

GR8 Experience

  • Semua bisnis jaman sekarang adalah bisnis jasa. it’s not about what they sell. It’s about what we feel. it’s intangible now. Orang kaya seperti pengacara artis bisa saja punya selera kampungan. Setuju banget. Harus berempati dan menjaga perasaan pelanggan.¬†
  • Kenyamanan layanan, tempat, toilet, internet dan lokasinya membuat orang-orang pergi ke StarBucks. Di analisis terbarunya, Pak Yuswohady menyatakan connection adalah bentuk baru yang lebih advanced daripada sekedar experience.¬†Menurut beliau, Filosofi Kopi itu provide more connection than Starbucks’s experience.¬†
  • You may not remember what someone said to you, but you’ll remember how they made you feel.¬†Jadi bukan hanya tentang 4Ps, tapi juga mengenai service. Tegakkan SLA (service level agreement). Bikin SOP.¬†

GR8 Pricing

Kevin Kelly: Ownership akan bergeser pada access. Orang tidak akan lagi membayar “copy” suatu karya, melainkan membayar pada “access”-nya. Buat apa beli kalau bisa mendapat akses terhadap karya-karya ini kapan pun dan di mana pun.

  • Immediacy
  • Personalisation
  • Authentication
  • Findability
  • Embodiment
  • Interpretation
  • Attention

Detilnya ada di buku. Thanks to Pandji for make it clear. 

Teknik menetapkan harga produk di bidang musik. Berikut adalah faktor-faktor yang harus dihitung:

  • Ongkos produksi
  • Ongkos pelaku seni
  • Ongkos promosi, pemasaran, penjualan
  • Biaya pajak, distribusi, asuransi, dan lain-lain

Jacky Mussry

  • Value-based pricing memasang harga 40% lebih tinggi daripada cost-based pricing.
  • 70% konsumen mengaku agak paham, paham, dan sangat paham akan harga yang adil.
  • 87% konsumen mendiskusikan harga dengan rekannya terhadap produk yang akan dia beli.

Angka 40% itu yang oke untuk dijadikan patokan sama kita semua. Sebagai pekarya.

GR8 Distribution

  • Toko di Twitter. Atau di media sosial lainnya. Sekarang juga kita sudah bisa buka toko sendiri di Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak.
  • Setiap kali mendengar “sold out” yang terjadi sebenarnya adalah “loss sale” alias kehilangan penjualan. Sebab tidak ready stock, maka tidak terjadi penjualan. Seninya sales and distribution adalah menjaga buffer stock.
  • Ketidak percayaan pihak toko atau distributor terhadap karya yang dijual. Tidak percaya terhadap personal brand-nya. Belum tahu mengenai karyanya, dst.¬†Sudah lama paham tentang ini. Ilmu dasar di sales and distribution. Makanya kantor pusat harus bangun branding untuk produknya bertahan di pasar ritel.¬†
  • Pandangan bahwa seniman hanyalah potensi penghasilan mulai usang, meski belum sepenuhnya. Ke depan, jasa-jasa yang membantu penulis menerbitkan buku akan semakin bermunculan. Jasa semacam ini tetap dibutuhkan meskipun penulis dapat menulis, menyunting, dan mencetak bukunya sendiri.¬†Ini insight. Barangkali ada yang mau bergabung dengan saya membuat bisnis jasa seperti ini?¬†
  • Kunci penjualan ritel yang baik ada dua, kerapihan transaksi dan layanan personal. Rapih itu keharusan, karena marjin per unit kecil banget tapi kita berharap dari volume penjualan yang besar. Layanan personal tapi tetap standardised.¬†
  • Interaksi sosial antara penjual dengan pembeli, serta interaksi antara pembeli dengan pembeli.
  • Toko ritel butuh program untuk menjaga antusiasme konsumen.

Shopping is a social experience. 

  • Berbelanja bersama orang lain. Perasaan tidak sendirian di dalam toko akan meningkatkan kenyamanan.
  • Testimoni konsumen lain yang pernah membeli.

GR8 Collaboration

Contoh kolaborasi antara musisi dengan brand:

  • Jazy-Z mendapatkan appeal yang lebih luas, sedangkan Microsoft Bing mendapatkan imej muda dan keren.
  • Mayoritas rapper terasosiasi dengan champagne –> Jay-Z menjadi bintang iklan bir Budweiser-Select.

Teori personal branding paling sederhana: kalau orang di luar pangsa pasar sudah mengenal anda, berarti personal branding anda sudah kuat. Dengan demikian, awareness anda sudah kuat.

Ketika pengiklan mau bekerja sama dengan anda, tujuannya hanya dua: mendongkrak popularitas atau penjualan.

Saya tidak pernah melihat penggemar MUFC dari indonesia protes melihat logo perusahaan asuransi asal amerika serikat yang menempel di seragam idolanya. Seorang direktur di MUFC menyatakan, brand MU bahkan sudah lebih kuat daripada agama.

Kerja sama dengan brand membantu karya pandji jadi lebih megah, lebih luas jangkauannya, lebih ringan pembiayaanya, dan lebih menguntungkan saya serta tentunya pihak pengiklan.

Karakter diri yang jelas, sesuai dengan karakter brand, dan memiliki komunitas penikmat karya yang terukur karakteristik dan loyalitasnya.

Bentuk-bentuk kolaborasi dengan brand:

  • Sponsorship,
  • Branded content deals,
  • Live shows,
  • Up selling,
  • Broadcast,
  • Online live streaming,
  • Pemasangan logo (bentuk paling sederhana)

Tidak perlu dijelaskan lagi ya. Betapa pentingnya kolaborasi. Collaboration will make us focus, more productive and work faster. Yeah, I just re-desribe it. 

Solid Digital Marketing Team


Kehadiran internet dalam ranah komunikasi menambah jumlah media komunikasi yang perlu dikelola. Apalagi dikelolanya tidak hanya selama jam kerja 8-17 saja. Melainkan sepanjang waktu 24×7 dan 365 hari per tahun.

the-importance-of-having-a-solid-marketing-team

Sehingga pengelolaannya tidak bisa hanya dari desktop di meja kantor saja. Tetapi juga lewat device masing-masing setelah berada di rumah. Iya, intensitas aktivitas marketing memang tingginya ketika hari masih terang. Namun, bisa jadi di gelapnya malam ada komentar ada colekan (mention) dari pelanggan yang harus segera dibalas.

Sekarang sudah ada social media, ada pula mesin pencari. Belum termasuk website. Semuanya memang aplikasi digital yang tetap mengindahkan aspek manusiawinya. Sebab, kepada manusia jua kita melakukan pemasaran dan penjualan. Tujuan pengelolaan brand adalah keharusan. Target peningkatan penjualan harus diraih pula.

Seorang pengelola brand tidak boleh merasa hidup di dunia hampa saja. Hanya membuat konten semaunya tanpa memperhatikan perbincangan yang sedang tren. Apalagi tidak mengobservasi respon dari audiens yang ditargetkan.

Ada beberapa channel yang akan/mungkin dikelola oleh tim yang harus solid ini: Website, email, social media (Twitter, Facebook, Linkedin, Youtube), dan social chatting (Telegram/WhatsApp).

Berikut adalah beberapa posisi yang diperlukan dalam menjalankan komunikasi pemasaran (dan penjualan) melalui saluran digital marketing.

Marketing Strategist (as Team Leader)

Bukan hanya mengarahkan strategi komunikasi pemasaran saja, namun juga berkoordinasi rutin dengan bagian penjualan. Bisa jadi berperan double sebagai kepala penjualan, lho. Dalam pekerjaannya sehari-hari memimpin tim dalam meraih target-target branding dan selling.

Mengelola anggaran marketing dan menghabiskannya secara optimal. Punya wewenang memberikan diskon/promosi kepada pelanggan. Jelang tahun fiskal yang baru, membuat dokumen Marketing Plan. Terkait konten, membuat perencanaan strategis konten yang dikemas dalam Content Plan.

Peran ini harus memahami marketing funnel. Secara bertahap, target market itu melalui tahap-tahap seperti awareness, consideration, lalu purchase.

Bila tim marketingnya belum lengkap, maka pekerjaan harian sang leader meliputi SEO Specialist dan Data Analyst.

Content Creator

Setelah Marketing Strategist, ini adalah posisi pertama yang harus ada orangnya.

Job description-nya sudah jelas. Produksi konten. Bisa berupa gambar, atau status untuk social media (Twitter/Linkedin/Facebook), atau artikel untuk forum/blog/website, atau memproduksi video. Saya bedakan status dengan artikel. Status relatif pendek. Sedangkan artikel mulai dari 500 kata. Bisa saja termasuk membuat naskah/skenario video.

Video production berarti mampu mengoperasikan perlengkapan merekam, punya selera membuat video yang baik dan berkualitas, serta bisa melakukan video editing melalui software tertentu.

Sekarang sudah ada free online tools untuk membuat grafis di social media, salah satunya adalah Canva.

Harus bisa bikin storytelling yang baik. Ingat kata Seth Godin, penulis The Purple Cow,

‚ÄúPeople do not buy goods & services. They buy relations, stories & magic,‚ÄĚ

Social Media Manager/Administrator

Memposting konten dan menanggapi/menjawab pertanyaan atau tanggapan dari audiens di social media. Bisa juga diberikan peran menghandle WhatsApp/Telegram alias peran Customer Service (CS).

Posisi ini bisa sangat sibuk dengan pekerjaannya, ketika konten dipasangkan dengan paid traffic dari Facebook Ads, atau Google AdWords. Karena harus fast response terhadap banjir pertanyaan atau order dari pelanggan.

Harus berkoordinasi dengan Team Leader, mengenai berapa banyak anggaran iklan yang harus dihabiskan di tiap periodenya. Salah satu basis perhitungan anggaran iklan di Facebook dan Google adalah Pay Per Click (PPC).

SEO Specialist

Mengumpulkan keyword penting. Keyword kemudian digunakan sebagai bahan penyusunan artikel. SEO Specialist ini bisa juga ditugaskan sebagai penulis artikel itu sendiri. Harus tahu penempatan keyword yang tepat sehingga dapat mendatangkan target audience yang diinginkan.

Posisi inilah yang kemudian menentukan harus mengiklankan keyword apa saja di AdWords.

Data Analyst

Sesuai namanya, melakukan analisis data: data penjualan banyak berasal dari mana, pengunjung digital datang dari mana, konten apa yang menarik, barang apa yang paling laku, dan berbagai jenis data-data lainnya.

Aplikasi yang sering dipakai untuk menganalisis kunjungan di website adalah Google Analytics. Penguasaan atas instalasi dan pembacaan analisis di aplikasi ini adalah mutlak adanya.

Tentu saja harus mampu menyusun presentasi atau laporan yang insightful, sekaligus mudah dipahami oleh anggota tim yang lain, manajemen, dan/atau direksi. Misalnya, memberikan saran terbaik mengenai di channel yang mana anggaran harus dihabiskan.

Posisi ini adalah posisi yang terakhir diperlukan. Perbandingannya bisa satu orang berbanding puluhan orang di posisi-posisi lain.

Kesimpulan.

  1. Skill dasar yang harus dimiliki adalah menulis. Di digital marketing, skill menulis harus ditunjang oleh keterampilan mengorganisasikan informasi. Istilah kerennya information architecture.
  2. Harus mampu mengoperasikan digital tools yang terkait dengan pekerjaannya: Facebook Ads, Google AdWords, Grammarly, Thesaurus, Google Analytics, Adobe Photoshop, Canva, dsb.

Related Post:

 

 

alasan kenapa memilih manajemen informatika


Dalam suatu postingan, saya pernah menjelaskan beberapa posisi pekerjaan di perusahaan software house.

Bisa disimpulkan bahwa tidak semuanya merupakan programming. Kaitannya dengan layanan kepada pelanggan, ada pula yang terkait dengan fungsi bisnis. Yang terakhir ini, requirement-nya dibuat oleh seorang business analyst atau system analyst.

Ada pula posisi seperti solution architect.

Kembali ke judul. Dari posisi-posisi pekerjaan yang tersedia, kira-kira ada jurusan apa saja yang bisa diambil? Mengingat ada banyak sekali jurusan terkait komputer maupun informatika di Indonesia, dengan ragam nama-nama jurusan yang berbeda-beda. Padahal, bisa jadi maksudnya sama.

Manajemen Informatika

Jadi yang dikelola (to be managed) adalah informatika-nya. Prinsipnya adalah informatika sebagai pendukung alias supporting system untuk sistem yang lebih besar. Baik itu sistem bisnis/usaha, sistem pemerintahan, sistem organisasi sosial, dan lain sebagainya.

Sistem-sistem tersebut tidak boleh bergantung kepada perangkat keras maupun lunaknya. Yang harus terjadi adalah software dan hardware menyesuaikan diri terhadap sistem dan aturan main yang sudah berlaku atau sedang dalam perencanaan. Sehingga eksekusinya bisa lebih cepat, lebih efisien, mengelola lebih banyak data, lebih otomatis, mengurangi pemberdayaan SDM, dan seterusnya.

Sistem dan Teknologi Informasi.

Judul jurusannya sedikit berbeda. Tetapi maksudnya sama. Yaitu mengelola informasi melalui pembentukan sistem dan pemberdayaan teknologi. Dengan sistematisasi informasi, maka informasi akan bisa dikelola dengan lebih baik. Dengan penggunaan teknologi yang tepat, namun tidak harus terbaru atau termahal, maka penggunaan informasi dapat dimaksimalkan.

Tujuannya sama: lebih cepat, lebih efisien, lebih otomatis, dll.

Jadi, kedua jurusan tersebut sama persis. Yang tidak boleh dilupakan adalah tetap ada pembuatan kode alias coding-nya. Dan mata kuliahnya tidak sedikit.

Setelah lulus, bisa jadi apa? Bisa jadi (business/system) analyst. Bisa juga kembali menjadi programmer/web developer.

Teknik informatika, pada dasarnya disiapkan sebagai programmer. Namun juga masih bisa berperan sebagai business/system analyst.

Komputer Akuntansi

Menurut sejarahnya, fungsi keuangan adalah salah satu fungsi yang lebih dahulu mengalami digitalisasi. Sejarah auditor keuangan yang bertransformasi menjadi auditor IT juga kurang lebih demikian. Jangan heran munculnya jurusan komputer akuntansi.

Karena belajar pemrograman iya, belajar akuntansi juga iya. Akuntansi kan termasuk laporan neraca, laporan laba-rugi, laporan pajak, dan laporan-laporan keuangan lainnya.

Di pasar aplikasi, sudah banyak aplikasi keuangan yang tinggal pakai. Ada yang gratis dan simpel. Ada juga yang mahal tapi komplit.

Tentang pekerjaan, lagi-lagi karena belajar pemrograman, bisa saja melamar dan diterima bekerja sebagai programmer, maupun system/business analyst.

Kalau 25% dari keseluruhan mata kuliah adalah terkait akuntansi, mestinya bisa juga bekerja di fungsi-fungsi keuangan di perusahaan.

Teknik Informatika

Sudah jelas banget. Fokus ke rekayasa perangkat lunak (software engineering).

Teknik Komputer Jaringan

Mostly terkait jaringan dan penggunaan komputer dalam sistem perusahaan. Jangan keliru dengan Teknik Komputer yang merupakan percabangan dari Teknik Elektro.

Jurusan untuk Solution Architect dan Project Manager (PM)?

Bisa dibilang tidak ada. Kursus dan sertifikasi untuk PM sering saya dengar. Tapi habis wisuda langsung diberi posisi berjudul SA atau PM? Tidak ada.

Kalau Solution Architect, biasanya punya pengalaman beberapa waktu sebagai developer. Tidak hanya menguasai teknis pemrograman, namun juga jenis-jenis teknolog yang digunakan, serta menyesuaikan dengan kemampuan para calon pengguna (user).

Mantan Business Analyst (BA), atau System Analyst bisa naik kelas menjadi Solution Architect.

Solution Architect fokus menghadapi output alias keluaran dari proyek. Sementara Project Manager (PM) fokus agar proyek selesai tepat waktu, sesuai dengan output yang dikehendaki, dengan biaya seminimal mungkin. Paling tidak, hanya sedikit meleset dari anggaran keuangan yang telah dibuat.

Istilahnya, Solution Architect merencanakan (to plan) , memastikan (to assure), dan mengawasi (to control) segala teknis proyek. Sementara PM melakukan ketiga aktivitas tersebut tetapi pada aspek non teknisnya. Bisa dibilang, keduanya bekerja sama sejak awal hingga akhir proyek IT development atau IT maintenance.

Project Manager biasanya merupakan single contact point yang bisa dihubungi oleh klien. Jadi klien tidak boleh menghubungi orang lain, kecuali si PM itu sendiri. Di samping itu, PM juga berperan sebagai leader dalam pengerjaan proyek. Dan sekali lagi, untuk urusan teknisnya didampingi oleh Solution Architect sejak awal hingga akhir.

Simpulan

Pada dasarnya, lulusan S1 segala jurusan masih bisa kemana-mana. Meskipun beberapa jenis pekerjaan mengharuskan fresh graduate dari jurusan-jurusan tertentu.  Selain itu, ada juga posisi-posisi yang mengharuskan karyawan berpengalaman.

Dengan kata lain, secara umum, menjalani profesi apa saja bisa berasal dari jurusan apapun. Semua kembali ke kita yang akan dan sedang berkuliah. Bahkan bila sudah lulus sekalipun, bisa saja kita mengejar suatu profesi tertentu dengan alasan kita memang suka banget dengan pekerjaan tersebut (passionated).

Referensi: