Gen Y and Employer Branding


Dari dulu, nama yang dipakai itu Human Resources (HR). Belakangan ini ada yang menamakannya Human Capital. Yang terakhir ini lebih ke mindset. Artinya, manusia di dalam organisasi bisnis adalah aset. Yang dimaksud aset adalah manusia-manusia tersebut dapat ditingkatkan produktivitasnya. Dia bisa diajarkan, dilatih, dan dikembangkan lebih lanjut. Sehingga bisa mencapai target yang lebih besar daripada sebelumnya. Contoh. Kalau dia adalah seorang salesman, maka nilai penjualan yang ditargetkan di periode berikutnya bisa lebih tinggi.

Image result for employer branding

Tapi secara finansial perusahaan, tetap saja employment and people development dihitung sebagai cost. Gaji dan biaya training adalah biaya. Bukan sebagai asset.

MSDM (Manajemen Sumber Daya Manusia) itu menggunakan model-model psikologi guna mengoptimalkan produktivitas karyawan. Jadi kalau kamu mahasiswa jurusan manajemen yang mengambil mata kuliah pilihan, atau konsentrasi, atau skripsi terkait MSDM, maka kamu akan banyak mempelajari model-model tersebut. Misalnya konsep reward and punishment. Atau DISC model. Introvert-extrovert. Dan pemodelan-pemodelan lainnya.

Tidak hanya mempelajari model, tetapi juga mempraktikkan metodologi pengukuran psikologi. Yang akan diterapkan pada objek riset kamu. Untuk pendidikan sarjana, rasanya belum akan sampai pada pengembangan metode baru guna pengukuran psikologi. Lebih ke latihan melakukan riset.

Basis dari optimasi kinerja manusia dalam organisasi adalah kompetensi. Makanya biasa dilakukan competency mapping. Secara ideal, untuk menentukan knowledge, skill, and attitude (KSA) yang ideal. Sedangkan secara aktual untuk mengetahui status terkini dari KSA-nya manusia yang dimaksud. Di antara ideal dan aktual, ada competency gap yang harus dikecilkan melalui training and people development.

Gen-Y

Tentang Gen-Y sendiri, risetnya sudah banyak sekali. Bahkan sampai membanding-bandingkan dengan generasi sebelumnya. Wajar saja, di tahun-tahun sekarang ini masih banyak banget industri dan perusahaan yang mempekerjakan dua generasi berbeda karakter tersebut. Dan hanya beberapa tahun lagi, Gen-Y akan mendominasi dunia kerja. Isu paling kencang yang dibicarakan adalah, “Bagaimana mengoptimalkan Gen-Y di dunia kerja?” akan semakin terus intensif dibicarakan sekarang dan ke depannya.

Infografis di bawah ini membandingkan Gen-X dan Gen-Y di dunia kerja.

Image result for gen y

Employment pattern: remote work, freelance, atau duration-based work. Yang terakhir maksudnya 8 jam kerja berada di kantor (belum termasuk waktu istirahat). Bebas masuk jam 8, 9, atau 10 pagi. Tidak semua pekerjaan bisa seperti itu, memang. Namun pola-pola employment tersebut mulai banyak diterapkan di industri digital (startup, web developer, digital agency). Industri-industri yang lain mulai turut meniru industri digital tersebut.

Tidak hanya back-end developer, tapi juga designer, writer, videographer. Kerjaan seperti social media administrator bahkan tidak mengenal waktu kerja. Sehingga dibebaskan untuk urusan tempat bekerja. Bahkan pola employment-nya bisa kontrak berbasis waktu. Pekerja kontrak begini memang merugikan dirinya sendiri dari sisi jaminan hari tua (JHT). Namun begitulah adanya Gen-Y.

Makanya, kalau mau bekerja di perusahaan, bagi Gen-Y penting banget brand-nya si Employer. Iya, employer juga harus membangun brand, donk.

Employer Branding

Potential employee, especially Gen-Y, may not work for companies with bad reputations. Jadi para kandidat melakukan riset lebih dahulu di social media, mengenai company tersebut. Risetnya bisa di facebook, instagram, linkedin. Ini belum termasuk situs lapangan kerja semisal glassdoor.com, qerja.com, jobplanet.com, dan sebaganya. Generasi dulu agak sulit melakukannya karena metodenya terbatas. Seperti bertanya langsung kepada karyawan terkait. Social media membuat segalanya lebih mudah.

So, Employer Branding is more important today than ever before. Itu tadi karena Gen-Y juga mempertimbangkan brand si employer. Apa aja yang mereka perhatikan kala memilih tempat bekerja?

Yang dipertimbangkan oleh gen-y adalah engagement bersama karyawan lain dari ekstrakurikuler kantor –ada riset yang menyatakan dua besar hobi Gen-Y adalah terkait sport and music. Selain itu adalah personal improvement dari kantor.

Jadi, sekarang ini perusahaan-perusahaan berkompetisi dalam membangun asosiasi bahwa tempat kerja mereka adalah yang terbaik. Bahwa dengan bergabung bersama mereka, maka si karyawan akan berkembang dan bisa naik karirnya.

Bahkan perusahaan seperti Alfamart dan Indomaret juga “merekayasa” tagar-tagar yang mereka kembangkan di Instagram. Sebagai cara menunjukkan bahwa they’are the best place to work. Misalnya via tagar #indomaretcantik #indomarethits #indomaretkekinian #indomaretkeren.

Fenomena Gen-Y dan employer branding ini terjadi di semua lapisan ekonomi, lho. Teman saya yang membuka konveksi saja mengakui. Bahwa penjahit mungkin saja memilih tempat bekerja yang ada seragamnya. Instead of yang tanpa seragam. Padahal, gajinya sama, lho.

Istilahnya, generasi sekarang mencari tempat kerja yang, “Enak menjawabnya kalau ditanya orang bekerja di mana”. Bahkan menjawab kerja di tenant mall lebih bergengsi daripada bekerja sebagai ART.

Balik lagi ke topik utama tulisan ini. Lebih baik mana: SDM, finance atau marketing? Tidak ada yang lebih baik. Semuanya adalah baik.

Segala pertimbangan kembali ke kamu sebagai mahasiswa. Jangan menghindari yang sulit saja. Atau memilih skripsi yang mudah saja. Tapi pilih yang kamu suka. Itu aja.

Bagaimana kalau sudah pilih, dan ternyata salah? Gapapa. Masih banyak waktu untuk memperbaiki. Terjun bekerja aja di bidang yang kamu suka tersebut.

Artikel terkait mengenai pemilihan MSDM, keuangan, atau marketing:

alasan memilih manajemen keuangan

mengapa memilih keuangan

mengapa memilih marketing

alasan memilih prodi manajemen

Source of images: 

http://www.hrinasia.com/employer-branding/10-best-practices-of-employer-branding/

https://blogs.qut.edu.au/business-insights/my-advice-on-bridging-the-gen-x-on-gen-y-gap-wear-sunscreen/

 

Review Indiepreneur (part 2)


Tulisan berwarna hitam memang dari buku beliau. Yang berwarna merah adalah tanggapan dari saya.

20150531195447-1

GR8 Promotion

  • Pandji tidak ingin menyebutnya core fans. Dia lebih suka istilah “komunitas penikmat karya”. The returning satisfied customer. Lebih murah menjaga pelanggan setia daripada menjaring pelanggan baru. Ini memang marketing banget. Menjaga pelanggan instead of menjaring pelanggan baru.  
  • Promosi dan distribusi bisa dilakukan tanpa mengurangi keintiman kita sebagai pembuat karya dengan para penikmatnya. Era digital memang memotong rantai distribusi.
  • Karya yang tanggal rilisnya tidak pasti, tidak pernah mendapatkan hasil yang fenomenal dibandingkan karya-karya yang punya tanggal rilis pasti. Informasi tentang karya kita pelan-pelan dibuka, jangan langsung telanjang. “Kalau yang nggak dirahasiakan aja gokil-gokil, gimana yang rahasia?” Yang rilisnya sudah pasti memang bikin penasaran. Terbuka tapi tidak telanjang. 
  • Orang zaman sekarang menggunakan internet bukan untuk browsing, melainkan untuk mengunjungi stream-nya sendiri. Adalah aliran informasi yang dia dapatkan melalui saluran-salurannya sendiri. Saya mengakui sendiri. Instead of memindahkan pertemanan di dunia nyata ke internet, orang lebih memilih untuk mem-follow interest dia di social media.
    • Relevance. Kecocokan konteks dengan orang lain.
    • Affinity. Kesukaan terhadap seseorang.
    • Goodwill. Iktikad baik yang terlihat dari tindakannya.
    • Trust.
  • From orality culture to literacy to visuality. Menariknya (atau lucunya?) bangsa Indonesia seperti melompat dari orality culture to visuality culture (Instagram, dll). 

GR8 Community

  • Pandji tidak mau punya fans. Kalau fans kecewa, bisa sangat menakutkan. Iya juga, sih. Setuju banget. Main aman aja. Tanpa melupakan bangun fans/komunitas. 
  • Fase kenalan (bertemu) – teman (berkomunikasi) – temain main (kopi darat) – sahabat (saling menghormati). Ini ilmu yang bagus. Sometimes tidak paham kenapa kurang nyambung dengan seseorang. Tapi memang bisa jadi begitulah adanya. 

GR8 Experience

  • Semua bisnis jaman sekarang adalah bisnis jasa. it’s not about what they sell. It’s about what we feel. it’s intangible now. Orang kaya seperti pengacara artis bisa saja punya selera kampungan. Setuju banget. Harus berempati dan menjaga perasaan pelanggan. 
  • Kenyamanan layanan, tempat, toilet, internet dan lokasinya membuat orang-orang pergi ke StarBucks. Di analisis terbarunya, Pak Yuswohady menyatakan connection adalah bentuk baru yang lebih advanced daripada sekedar experience. Menurut beliau, Filosofi Kopi itu provide more connection than Starbucks’s experience. 
  • You may not remember what someone said to you, but you’ll remember how they made you feel. Jadi bukan hanya tentang 4Ps, tapi juga mengenai service. Tegakkan SLA (service level agreement). Bikin SOP. 

GR8 Pricing

Kevin Kelly: Ownership akan bergeser pada access. Orang tidak akan lagi membayar “copy” suatu karya, melainkan membayar pada “access”-nya. Buat apa beli kalau bisa mendapat akses terhadap karya-karya ini kapan pun dan di mana pun.

  • Immediacy
  • Personalisation
  • Authentication
  • Findability
  • Embodiment
  • Interpretation
  • Attention

Detilnya ada di buku. Thanks to Pandji for make it clear. 

Teknik menetapkan harga produk di bidang musik. Berikut adalah faktor-faktor yang harus dihitung:

  • Ongkos produksi
  • Ongkos pelaku seni
  • Ongkos promosi, pemasaran, penjualan
  • Biaya pajak, distribusi, asuransi, dan lain-lain

Jacky Mussry

  • Value-based pricing memasang harga 40% lebih tinggi daripada cost-based pricing.
  • 70% konsumen mengaku agak paham, paham, dan sangat paham akan harga yang adil.
  • 87% konsumen mendiskusikan harga dengan rekannya terhadap produk yang akan dia beli.

Angka 40% itu yang oke untuk dijadikan patokan sama kita semua. Sebagai pekarya.

GR8 Distribution

  • Toko di Twitter. Atau di media sosial lainnya. Sekarang juga kita sudah bisa buka toko sendiri di Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak.
  • Setiap kali mendengar “sold out” yang terjadi sebenarnya adalah “loss sale” alias kehilangan penjualan. Sebab tidak ready stock, maka tidak terjadi penjualan. Seninya sales and distribution adalah menjaga buffer stock.
  • Ketidak percayaan pihak toko atau distributor terhadap karya yang dijual. Tidak percaya terhadap personal brand-nya. Belum tahu mengenai karyanya, dst. Sudah lama paham tentang ini. Ilmu dasar di sales and distribution. Makanya kantor pusat harus bangun branding untuk produknya bertahan di pasar ritel. 
  • Pandangan bahwa seniman hanyalah potensi penghasilan mulai usang, meski belum sepenuhnya. Ke depan, jasa-jasa yang membantu penulis menerbitkan buku akan semakin bermunculan. Jasa semacam ini tetap dibutuhkan meskipun penulis dapat menulis, menyunting, dan mencetak bukunya sendiri. Ini insight. Barangkali ada yang mau bergabung dengan saya membuat bisnis jasa seperti ini? 
  • Kunci penjualan ritel yang baik ada dua, kerapihan transaksi dan layanan personal. Rapih itu keharusan, karena marjin per unit kecil banget tapi kita berharap dari volume penjualan yang besar. Layanan personal tapi tetap standardised
  • Interaksi sosial antara penjual dengan pembeli, serta interaksi antara pembeli dengan pembeli.
  • Toko ritel butuh program untuk menjaga antusiasme konsumen.

Shopping is a social experience. 

  • Berbelanja bersama orang lain. Perasaan tidak sendirian di dalam toko akan meningkatkan kenyamanan.
  • Testimoni konsumen lain yang pernah membeli.

GR8 Collaboration

Contoh kolaborasi antara musisi dengan brand:

  • Jazy-Z mendapatkan appeal yang lebih luas, sedangkan Microsoft Bing mendapatkan imej muda dan keren.
  • Mayoritas rapper terasosiasi dengan champagne –> Jay-Z menjadi bintang iklan bir Budweiser-Select.

Teori personal branding paling sederhana: kalau orang di luar pangsa pasar sudah mengenal anda, berarti personal branding anda sudah kuat. Dengan demikian, awareness anda sudah kuat.

Ketika pengiklan mau bekerja sama dengan anda, tujuannya hanya dua: mendongkrak popularitas atau penjualan.

Saya tidak pernah melihat penggemar MUFC dari indonesia protes melihat logo perusahaan asuransi asal amerika serikat yang menempel di seragam idolanya. Seorang direktur di MUFC menyatakan, brand MU bahkan sudah lebih kuat daripada agama.

Kerja sama dengan brand membantu karya pandji jadi lebih megah, lebih luas jangkauannya, lebih ringan pembiayaanya, dan lebih menguntungkan saya serta tentunya pihak pengiklan.

Karakter diri yang jelas, sesuai dengan karakter brand, dan memiliki komunitas penikmat karya yang terukur karakteristik dan loyalitasnya.

Bentuk-bentuk kolaborasi dengan brand:

  • Sponsorship,
  • Branded content deals,
  • Live shows,
  • Up selling,
  • Broadcast,
  • Online live streaming,
  • Pemasangan logo (bentuk paling sederhana)

Tidak perlu dijelaskan lagi ya. Betapa pentingnya kolaborasi. Collaboration will make us focus, more productive and work faster. Yeah, I just re-desribe it. 

Solid Digital Marketing Team


Kehadiran internet dalam ranah komunikasi menambah jumlah media komunikasi yang perlu dikelola. Apalagi dikelolanya tidak hanya selama jam kerja 8-17 saja. Melainkan sepanjang waktu 24×7 dan 365 hari per tahun.

the-importance-of-having-a-solid-marketing-team

Sehingga pengelolaannya tidak bisa hanya dari desktop di meja kantor saja. Tetapi juga lewat device masing-masing setelah berada di rumah. Iya, intensitas aktivitas marketing memang tingginya ketika hari masih terang. Namun, bisa jadi di gelapnya malam ada komentar ada colekan (mention) dari pelanggan yang harus segera dibalas.

Sekarang sudah ada social media, ada pula mesin pencari. Belum termasuk website. Semuanya memang aplikasi digital yang tetap mengindahkan aspek manusiawinya. Sebab, kepada manusia jua kita melakukan pemasaran dan penjualan. Tujuan pengelolaan brand adalah keharusan. Target peningkatan penjualan harus diraih pula.

Seorang pengelola brand tidak boleh merasa hidup di dunia hampa saja. Hanya membuat konten semaunya tanpa memperhatikan perbincangan yang sedang tren. Apalagi tidak mengobservasi respon dari audiens yang ditargetkan.

Ada beberapa channel yang akan/mungkin dikelola oleh tim yang harus solid ini: Website, email, social media (Twitter, Facebook, Linkedin, Youtube), dan social chatting (Telegram/WhatsApp).

Berikut adalah beberapa posisi yang diperlukan dalam menjalankan komunikasi pemasaran (dan penjualan) melalui saluran digital marketing.

Marketing Strategist (as Team Leader)

Bukan hanya mengarahkan strategi komunikasi pemasaran saja, namun juga berkoordinasi rutin dengan bagian penjualan. Bisa jadi berperan double sebagai kepala penjualan, lho. Dalam pekerjaannya sehari-hari memimpin tim dalam meraih target-target branding dan selling.

Mengelola anggaran marketing dan menghabiskannya secara optimal. Punya wewenang memberikan diskon/promosi kepada pelanggan. Jelang tahun fiskal yang baru, membuat dokumen Marketing Plan. Terkait konten, membuat perencanaan strategis konten yang dikemas dalam Content Plan.

Peran ini harus memahami marketing funnel. Secara bertahap, target market itu melalui tahap-tahap seperti awareness, consideration, lalu purchase.

Bila tim marketingnya belum lengkap, maka pekerjaan harian sang leader meliputi SEO Specialist dan Data Analyst.

Content Creator

Setelah Marketing Strategist, ini adalah posisi pertama yang harus ada orangnya.

Job description-nya sudah jelas. Produksi konten. Bisa berupa gambar, atau status untuk social media (Twitter/Linkedin/Facebook), atau artikel untuk forum/blog/website, atau memproduksi video. Saya bedakan status dengan artikel. Status relatif pendek. Sedangkan artikel mulai dari 500 kata. Bisa saja termasuk membuat naskah/skenario video.

Video production berarti mampu mengoperasikan perlengkapan merekam, punya selera membuat video yang baik dan berkualitas, serta bisa melakukan video editing melalui software tertentu.

Sekarang sudah ada free online tools untuk membuat grafis di social media, salah satunya adalah Canva.

Harus bisa bikin storytelling yang baik. Ingat kata Seth Godin, penulis The Purple Cow,

“People do not buy goods & services. They buy relations, stories & magic,”

Social Media Manager/Administrator

Memposting konten dan menanggapi/menjawab pertanyaan atau tanggapan dari audiens di social media. Bisa juga diberikan peran menghandle WhatsApp/Telegram alias peran Customer Service (CS).

Posisi ini bisa sangat sibuk dengan pekerjaannya, ketika konten dipasangkan dengan paid traffic dari Facebook Ads, atau Google AdWords. Karena harus fast response terhadap banjir pertanyaan atau order dari pelanggan.

Harus berkoordinasi dengan Team Leader, mengenai berapa banyak anggaran iklan yang harus dihabiskan di tiap periodenya. Salah satu basis perhitungan anggaran iklan di Facebook dan Google adalah Pay Per Click (PPC).

SEO Specialist

Mengumpulkan keyword penting. Keyword kemudian digunakan sebagai bahan penyusunan artikel. SEO Specialist ini bisa juga ditugaskan sebagai penulis artikel itu sendiri. Harus tahu penempatan keyword yang tepat sehingga dapat mendatangkan target audience yang diinginkan.

Posisi inilah yang kemudian menentukan harus mengiklankan keyword apa saja di AdWords.

Data Analyst

Sesuai namanya, melakukan analisis data: data penjualan banyak berasal dari mana, pengunjung digital datang dari mana, konten apa yang menarik, barang apa yang paling laku, dan berbagai jenis data-data lainnya.

Aplikasi yang sering dipakai untuk menganalisis kunjungan di website adalah Google Analytics. Penguasaan atas instalasi dan pembacaan analisis di aplikasi ini adalah mutlak adanya.

Tentu saja harus mampu menyusun presentasi atau laporan yang insightful, sekaligus mudah dipahami oleh anggota tim yang lain, manajemen, dan/atau direksi. Misalnya, memberikan saran terbaik mengenai di channel yang mana anggaran harus dihabiskan.

Posisi ini adalah posisi yang terakhir diperlukan. Perbandingannya bisa satu orang berbanding puluhan orang di posisi-posisi lain.

Kesimpulan.

  1. Skill dasar yang harus dimiliki adalah menulis. Di digital marketing, skill menulis harus ditunjang oleh keterampilan mengorganisasikan informasi. Istilah kerennya information architecture.
  2. Harus mampu mengoperasikan digital tools yang terkait dengan pekerjaannya: Facebook Ads, Google AdWords, Grammarly, Thesaurus, Google Analytics, Adobe Photoshop, Canva, dsb.

Related Post:

 

 

alasan kenapa memilih manajemen informatika


Dalam suatu postingan, saya pernah menjelaskan beberapa posisi pekerjaan di perusahaan software house.

Bisa disimpulkan bahwa tidak semuanya merupakan programming. Kaitannya dengan layanan kepada pelanggan, ada pula yang terkait dengan fungsi bisnis. Yang terakhir ini, requirement-nya dibuat oleh seorang business analyst atau system analyst.

Ada pula posisi seperti solution architect.

Kembali ke judul. Dari posisi-posisi pekerjaan yang tersedia, kira-kira ada jurusan apa saja yang bisa diambil? Mengingat ada banyak sekali jurusan terkait komputer maupun informatika di Indonesia, dengan ragam nama-nama jurusan yang berbeda-beda. Padahal, bisa jadi maksudnya sama.

Manajemen Informatika

Jadi yang dikelola (to be managed) adalah informatika-nya. Prinsipnya adalah informatika sebagai pendukung alias supporting system untuk sistem yang lebih besar. Baik itu sistem bisnis/usaha, sistem pemerintahan, sistem organisasi sosial, dan lain sebagainya.

Sistem-sistem tersebut tidak boleh bergantung kepada perangkat keras maupun lunaknya. Yang harus terjadi adalah software dan hardware menyesuaikan diri terhadap sistem dan aturan main yang sudah berlaku atau sedang dalam perencanaan. Sehingga eksekusinya bisa lebih cepat, lebih efisien, mengelola lebih banyak data, lebih otomatis, mengurangi pemberdayaan SDM, dan seterusnya.

Sistem dan Teknologi Informasi.

Judul jurusannya sedikit berbeda. Tetapi maksudnya sama. Yaitu mengelola informasi melalui pembentukan sistem dan pemberdayaan teknologi. Dengan sistematisasi informasi, maka informasi akan bisa dikelola dengan lebih baik. Dengan penggunaan teknologi yang tepat, namun tidak harus terbaru atau termahal, maka penggunaan informasi dapat dimaksimalkan.

Tujuannya sama: lebih cepat, lebih efisien, lebih otomatis, dll.

Jadi, kedua jurusan tersebut sama persis. Yang tidak boleh dilupakan adalah tetap ada pembuatan kode alias coding-nya. Dan mata kuliahnya tidak sedikit.

Setelah lulus, bisa jadi apa? Bisa jadi (business/system) analyst. Bisa juga kembali menjadi programmer/web developer.

Teknik informatika, pada dasarnya disiapkan sebagai programmer. Namun juga masih bisa berperan sebagai business/system analyst.

Komputer Akuntansi

Menurut sejarahnya, fungsi keuangan adalah salah satu fungsi yang lebih dahulu mengalami digitalisasi. Sejarah auditor keuangan yang bertransformasi menjadi auditor IT juga kurang lebih demikian. Jangan heran munculnya jurusan komputer akuntansi.

Karena belajar pemrograman iya, belajar akuntansi juga iya. Akuntansi kan termasuk laporan neraca, laporan laba-rugi, laporan pajak, dan laporan-laporan keuangan lainnya.

Di pasar aplikasi, sudah banyak aplikasi keuangan yang tinggal pakai. Ada yang gratis dan simpel. Ada juga yang mahal tapi komplit.

Tentang pekerjaan, lagi-lagi karena belajar pemrograman, bisa saja melamar dan diterima bekerja sebagai programmer, maupun system/business analyst.

Kalau 25% dari keseluruhan mata kuliah adalah terkait akuntansi, mestinya bisa juga bekerja di fungsi-fungsi keuangan di perusahaan.

Teknik Informatika

Sudah jelas banget. Fokus ke rekayasa perangkat lunak (software engineering).

Teknik Komputer Jaringan

Mostly terkait jaringan dan penggunaan komputer dalam sistem perusahaan. Jangan keliru dengan Teknik Komputer yang merupakan percabangan dari Teknik Elektro.

Jurusan untuk Solution Architect dan Project Manager (PM)?

Bisa dibilang tidak ada. Kursus dan sertifikasi untuk PM sering saya dengar. Tapi habis wisuda langsung diberi posisi berjudul SA atau PM? Tidak ada.

Kalau Solution Architect, biasanya punya pengalaman beberapa waktu sebagai developer. Tidak hanya menguasai teknis pemrograman, namun juga jenis-jenis teknolog yang digunakan, serta menyesuaikan dengan kemampuan para calon pengguna (user).

Mantan Business Analyst (BA), atau System Analyst bisa naik kelas menjadi Solution Architect.

Solution Architect fokus menghadapi output alias keluaran dari proyek. Sementara Project Manager (PM) fokus agar proyek selesai tepat waktu, sesuai dengan output yang dikehendaki, dengan biaya seminimal mungkin. Paling tidak, hanya sedikit meleset dari anggaran keuangan yang telah dibuat.

Istilahnya, Solution Architect merencanakan (to plan) , memastikan (to assure), dan mengawasi (to control) segala teknis proyek. Sementara PM melakukan ketiga aktivitas tersebut tetapi pada aspek non teknisnya. Bisa dibilang, keduanya bekerja sama sejak awal hingga akhir proyek IT development atau IT maintenance.

Project Manager biasanya merupakan single contact point yang bisa dihubungi oleh klien. Jadi klien tidak boleh menghubungi orang lain, kecuali si PM itu sendiri. Di samping itu, PM juga berperan sebagai leader dalam pengerjaan proyek. Dan sekali lagi, untuk urusan teknisnya didampingi oleh Solution Architect sejak awal hingga akhir.

Simpulan

Pada dasarnya, lulusan S1 segala jurusan masih bisa kemana-mana. Meskipun beberapa jenis pekerjaan mengharuskan fresh graduate dari jurusan-jurusan tertentu.  Selain itu, ada juga posisi-posisi yang mengharuskan karyawan berpengalaman.

Dengan kata lain, secara umum, menjalani profesi apa saja bisa berasal dari jurusan apapun. Semua kembali ke kita yang akan dan sedang berkuliah. Bahkan bila sudah lulus sekalipun, bisa saja kita mengejar suatu profesi tertentu dengan alasan kita memang suka banget dengan pekerjaan tersebut (passionated).

Referensi: 

Murahnya Harga Seorang Ross Barkley


Usianya baru 24 tahun. Kontrak barunya lima setengah tahun. Jadi, kontraknya bakal habis di usia hampir 30 tahun. Kebijakan The Blues: mulai usia 30 tahun, perpanjangan kontrak hanya sepanjang setahun ke depan.

ross-barkley-to-chelsea

Jadi, kalau lancar si Barkley bisa dikontrak paling sedikit dua kali. Yang sekarang, dan setahun pasca kontraknya habis. Dan bisa terus diperpanjang per tahunnya. Meskipun yang terakhir ini jarang terjadi.

 

Kalau dia main bagus, lalu ada yang mau beli hak mainnya, maka Chelsea bisa untung. Chelsea beli murah, soalnya. Lima belas juta poundsterling di Januari 208 yang dibayarkan Chelsea ke Everton. Untuk seorang pemain yang sudah tampil 150 kali di English Premier League (EPL) dengan 21 gol dan 18 assist. Itu termasuk murah.

Chelsea sudah ngebet sejak musim panas kemarin. Sudah siap 35 juta poundsterling.

Chelsea sudah ada Fabregas, Kante, Bakayoko, Drinkwater. Kenapa mau tambah Ross Barkley?

Chelsea musim ini mostly main dengan 3-5-2. Kante pelapis di depan tiga bek. Fabregas mengendalikan serangan dari belakang. Tugasnya Bakayoko menambah attacker kalau lagi menyerang, dan penambah stabil struktur formasi kalau lagi diserang. Seringnya, Bakayoko kalau lagi di depan, gagal memberikan assist atau mencetak gol sendiri.

Selain itu, serangan Chelsea musim ini tergantung banget ke Hazard, dan Fabregas. Yang terakhir disebut, bisa bangun serangan dari belakang, sementara Hazard harus jemput bola. Jadi tidak ada yang bisa ikut terlibat menyerang dari depan garis pertahanan.

Di sinilah beruntungnya Chelsea, karena Barkley bisa: (1) forward runs, either memberikan assist, atau mencetak gol sendiri (2) bangun serangan dari garis yang sama dengan Fabregas. Melakukan link-up play dengan rekan untuk bisa mencapai kotak penalti lawan.

Chelsea, menurut saya, cukup sering melakukan deal jual beli pemain dengan harga yang bagus. Ilustrasi tentang Ross Barkley di atas, hanyalah salah satunya. Masih ada penjualan Oscar senilai 60 juta ke Shanghai SIPG. Nathan Ake, dijual ke club peminjam, Bournemouth senilai 20 juta. Lumayan mahal lho untuk pemain 22 tahun — lebih mahal daripada beli Barkley yang berusia 24 tahun. Tahun 2014, Chelsea jual Romelu Lukaku + David Luiz, untuk membeli Cesc Fabregas + Diego Costa.

Negosiator utama di Chelsea ini si mbak Marina Granovskaia. Dia yang banyak turun ke meja perundingan untuk beli dan jual pemain. Lebih banyak yang sukses daripada yang sedikit gagal. Menurut saya, contoh yang kurang berhasil adalah penjualan Nemanja Matic. Terbukti, Manchester United (MU) butuh sosok seperti Matic. Penjualan di angka 40 juta kurang mahal, rasanya. Apalagi yang beli punya kantong yang dalam seperti MU. Harusnya bisa lebih tinggi lagi harganya.

Meski ditonton milyaran orang, tapi di industri sepak bola, bisnisnya lebih banyak B2B. Balik lagi ke pelaku-pelakunya. Salah satu sumber keuntungan adalah jual beli hak pakai pemain. Resepnya klasik, beli murah jual mahal. Setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi harga jual seorang pemain.

Posisi, Usia, dan Siapa Pembelinya

Pertama adalah kebutuhan klub akan seorang pemain di posisi tertentu, serta kemampuan teknisnya. Kedua adalah usianya. Ketiga adalah siapa yang membeli.

Striker secara umum lebih mahal daripada gelandang atau pemain bertahan. Striker yang bisa mencetak lebih dari 20 gol dalam semusim di EPL, harganya pasti melangit. Pemain yang kreatif dalam membangun serangan, biasanya lebih mahal daripada yang berposisi bertahan. Simpulannya, harga tergantung posisi.

Kedua, soal usia.

Ross Barkley ini baru 24 tahun. Bagi Chelsea, dia masih bisa bermain reguler sampai dengan 30 tahun. Sebab itu The Blues menawarkan kontrak 5,5 tahun. Selanjutnya bisa dikontrak per tahun saja.

Sekedar perbandingan: Gabriel Jesus, Leroy Sane, dan Raheem Sterling masih berusia 20 tahun, 21 tahun, dan 23 tahun. Mereka masih mungkin lama bermain di City. Bahkan bisa saja sekali lagi menambah kontrak berdurasi 4-5 tahun. Musim 2017/18 ini, mereka bertiga main baik sekali. Kalau permainan bagus berlanjut, bisa sangat menguntungkan bila dijual dalam 2-3 tahun ke depan.

Berbeda dengan transfer fee Luis Figo ketika berpindah dari Barcelona ke Madrid. Ada yang menyebut nilai 37 juta (di tahun 2000), adalah terlalu mahal untuk seorang pemain berusia 28 tahun. Mungkin dia akan maksimal dalam 2 tahun pertama. Selanjutnya bergantian menghuni bangku cadangan. Yang jelas, 4-5 tahun kemudian, yang bersangkutan tidak bisa dijual oleh Real Madrid dengan harga yang menguntungkan. Itulah yang dimaksud terlampau mahal.

Ketiga. Siapa pembelinya?

Harga seorang pemain bisa berbeda-beda di mata klub yang membutuhkan. Karena ini kembali ke portfolio pemain yang diperlukan klub. Secara stratejik, klub punya skema umum dalam bermain. Apakah dengan 3 atau 4 bek, apakah menyerang dengan wing back, full-back, atau winger, dsb.

Southampton hanya mau menjual kepada Liverpool. Karena hanya Liverpool yang mau membayar paling mahal. Bukti teranyar, 75 juta untuk Virgil Van Dijk. Sadio Mane 34 juta, tahun lalu. Adam Lallana, 25 juta, tahun 2014. Dejan Lovren, 20 juta, juga tahun 2014. Kalau bukan Liverpool yang membeli, Southampton tidak akan menjual semahal itu.

Sedikit ilustrasi, Manchester City mau membayar hingga 50 juta untuk Kyle Walker dan 52 juta untuk Benjamin Mendy. Mengapa? Karena Joseph Guardiola sangat mengandalkan wing back dalam pola permainannya. Untuk sekarang maupun beberapa tahun ke depan. As simple as that. Kalau bukan dibeli oleh Manchester City, Tottenham dan AS Monaco tidak akan melepas Kyle Walker dan Benjamin Mendy sedemikian tingginya.

Pembeli lebih membutuhkan “barang” yang dibeli, daripada si penjual membutuhkan uangnya. Sebab itu, penjual hanya akan melepas kepada pembeli tertentu. Which is, dalam hal ini, hanya pembeli tertentu yang bersedia melepaskan uangnya di angka tertentu pula.

Ada beberapa kasus lain yang bisa kita jadikan contoh bahwa transaksi di industri sepak bola lebih dipengaruhi oleh pihak yang membeli daripada pihak yang menjual. Semisal transaksi sponsorship, transaksi merchandising, termasuk transaksi penjualan hak siar. Tapi kita bahas kali lain ya.

Padi Reborn, Piyu dan Jualan Musik Jaman Now


Tepat pada 10 November 2017 lalu, Band Padi dilahirkan kembali dengan nama Padi Reborn.

maxresdefault

Padi ini band masa kecil saya. Sekitar kelas 6 SD saya sering dengar lagu Sobat di radio. Waktu itu kami masih dengar musik dari kaset. Tapi Padi yang waktu itu belum ada kasetnya. Lalu Album Lain Dunia keluar. Saya suka dengan lagu-lagu selain Sobat juga.

Di album berikutnya, ternyata ada lagu berjudul “Lain Dunia”. Kayaknya judul album lama adalah salah satu lagu di album berikutnya. Padi ini pintar mengelola loyalitas fans-nya. Dan benar adanya di album kedua: Sesuatu yang tertunda. Intinya, hampir semua lagu-lagunya Padi saya suka.

Bagi saya, Padi Reborn tidak mengembalikan Padi yang dulu. Setidaknya belum. Saya memahami maksud mereka untuk menandai kembalinya mereka di industri musik tanah air. Instead of sekedar menggunakan nama awal atau nama asli, Piyu dkk menggunakan nama Padi Reborn.

Padi Reborn tampil pertama kali di sebuah konser yang disiarkan langsung oleh RCTI pada 10 November lalu. Selanjutnya mereka akan menjalankan tur konser mini mulai dari Palembang (11 November), Bandung (18 November), Yogyakarta (25 November), dan Makassar (9 Desember). Ada juga konser Padi Reborn di GTV. Saya lupa persisnya tanggal berapa.

Tidak mungkin Padi Reborn kembali hanya untuk bermusik tanpa memperhatikan aspek-aspek bisnisnya. Dapur harus terus mengepul, bukan?

  • Konser di GTV ada sponsor khususnya. Saya lupa brand apa saja. Yang jelas ada dua brand. Selain logo ditampilkan di panggung, TVC nya juga berulang kali ditayangkan ketika rehat iklan.
  • Tur konser mini, biasanya selain didanai oleh sponsor, juga ada dana masuk dari penjualan tiket. Sebagai band legendaris, tentu tiket konser Padi Reborn bisa dijual mahal.
  • Selanjutnya harus rajin bikin single/album baru. Sembari memikirkan strategi dan taktik bisnisnya lagi.

Kenapa Padi dulu vakum? Bahkan sampai 7 tahun. Seakan tidak akan pernah bangkit lagi. Saya tidak tahu persis jawabannya. Mungkin keduanya, atau satu, atau tidak sama sekali dari dua poin berikut ini ada yang benar.

  • Pastinya selera musik sudah bergeser. Secara konten mungkin musik-musik legendaris seperti Padi, Dewa, dll sudah mengecil pasarnya. Bukan di core fans-nya yang mengecil. Namun menambah prospective clients yang semakin sulit. Karena itu tadi, tren selera musik sudah bergeser.
  • Dari sisi bisnis, pembajakan tetap saja sulit diatasi. Sementara konten musik beralih ke digital. Berimbas pada dari mana datangnya duit, serta ke channel mana konten harus disalurkan. Mungkin Piyu khawatir dengan pembajakan? Jelas. Sebagaimana disampaikannya dalam Piyu: from Inside Out.

Sebagaimana kita tahu, KFC kini adalah salah satu saluran penjualan musik digital. KFC butuh added value bahwa restorannya bukan sekedar fastfood dengan ayam goreng tepung sebagai menu utama. KFC ingin lebih relevan dengan anak muda yang jelas-jelas target pasar mereka.

Dan bagi record label, distribusi CD via KFC lebih baik daripada ke toko CD. Bahkan CD-nya bisa bundling dengan paket makanan. Artinya, KFC sudah beli duluan ke record label-nya. Gerai KFC ada banyak sekali. Jualan CD dapat banyak duit dong. Bagi record label, iya. Belum tentu bagi musisinya.

Musikimia

FYI, Fadly, Rindra, Yoyo, bersama gitaris Stephan Santoso membentuk sebuah band bernama Musikimia. Kita sudah tahu tiga nama pertama ini pentolan Padi. Stephan Santoso ini tadinya orang label. Bekerjanya di belakang layar. Baru bersama Musikimia tampil sebagai pemain. Bisa dibilang Musikimia ini orang-orang experienced semua. Jual single dan albumnya jadi lebih mudah. Bukan beberapa anak muda yang sedang coba-coba. Apalagi gitaris Padi sendiri, Ari yang jadi manajernya. Saya suka dengan lagu Kolam Susu. Aransemennya oke punya.

Fadly sendiri pernah bikin dan menyanyikan dua lagu untuk anak-anak. Baca Bukumu dan Kakakku Sayang. Lagunya bagus, kok. Mata saya sampai berkaca-kaca mendengar lagu yang kedua. Untungnya air mataku tidak tumpah.

Brand Padi

Band Padi ini kuat karena punya karakter. berbeda terutama dalam hal alunan gitar yang begitu dominan, vokal si vokalis Fadly yang tidak ada samanya dengan vokalis manapun, serta drummer Yoyo yang punya karakter kuat dalam menabuh drum.

Satu lagi adalah lirik lagu yang dalam maknanya. Konon, Padi menciptakan liriknya dulu, baru menulis komposisi musik yang tepat untuk lirik-lirik tersebut. Dalam hal penulisan lirik, Piyu memang mendominasi. Terlepas cerita tersebut benar seluruhnya atau tidak, sepenggal konten tersebut memang jadi story yang berkali-kali diceritakan oleh Padi.

Piyu

Album Best Cuts of Piyu, menurut saya pribadi tidak lebih baik daripada lagu-lagu yang sama dan dinyanyikan oleh Padi. Album ini pernah dimainkan di NET TV dalam program Musik Everywhere. CMIIW.

Saya sendiri hanya suka lagu Firasat yang dibawakan bersama dengan Inna Kamarie. Dan satu lagu yang dinyanyikannya sendiri dengan piano: Sakit Hati.

Konten lagu yang dibuat Piyu memang berevolusi vokal dan aransemennya. Namun, menurut saya, tidak bisa menggantikan Padi. Karena memang, kebanyakan sudah dinyanyikan oleh Padi. Penyanyi-penyanyi tersebut tidak bisa menyajikannya berbeda tapi lebih baik daripada Padi. Bagaimana Fadly menyanyikannya, bagaimana Yoyok menabuh drumnya, bagaimana aransemen gitar dan bass dari Ari dan Rindra tidak terlupakan dan tidak tergantikan.

*berbeda dengan Sempurna-nya Gita Gutawa yang banyak orang bilang lebih baik daripada Sempurna-nya Andra and The Backbone

Lagu-lagu yang Piyu ciptakan untuk Padi penuh dengan semangat hidup dan optimisme. Setiap lagu yang bertema cinta dalam album-album Padi memberikan makna hidup baru dalam memahami cinta. Dari Piyu, kita tahu bahwa cinta bukan hanya sekadar kata dan cinta tak hanya diam — dari lirik lagu Tak Hanya Diam.

Lagu-lagu yang ia ciptakan untuk Padi punya spirit berbeda dari lagu-lagu yang ia ciptakan untuk para penyanyi lain. Lagu-lagu yang ia ciptakan sekarang penuh dengan lirik melankolis seolah-olah hidup itu selalu dibayang-bayangi depresi dan sakit hati.

Lagu-lagu Piyu yang ia ciptakan untuk Padi selalu hadir dengan konsep matang. Hal itu wajar bila kita melihat rentang waktu dari album pertama sampai kelima. Padi terkenal begitu lambat dalam mengeluarkan album, tapi dua tahun adalah waktu yang pas untuk merenungkan apa yang akan menjadi tema utama dalam setiap album.

Padi sendiri tidak bubar, tapi Piyu sebagai rohnya sedang asyik dengan jalur yang ia tempuh dalam dunianya sendiri. Ia sibuk berbisnis dan menciptakan lagu-lagu untuk para penyanyi lain. Menurut Piyu, karya seni 20%, aspek bisnisnya 80%.

Apa yang dilakukan Piyu, menurut saya lumrah sekali. Realitanya adalah keluarganya butuh penghidupan. Anak istri butuh makan. Dan anak-anak harus bersekolah.

Mengingat kelahiran Padi, memang Piyu adalah single fighter yang berhasil menjual proyek single dan album baru, baru menemukan personil-personil Padi lainnya untuk menggarap proyek tersebut. Single-nya Sobat dengan album-nya Lain Dunia.

Mengingat kelahiran Padi, memang Piyu adalah single fighter yang berhasil menjual proyek single dan album baru, baru menemukan personil-personil Padi lainnya untuk menggarap proyek tersebut. Single-nya Sobat dengan album-nya Lain Dunia.

Piyu berhasil bertransformasi. Tidak mungkin selamanya menjadi pemain. Harus naik kelas, atau minimal berotasi karir. Entah jadi produser, manajemen artis, atau lainnya. Ari, gitaris Padi sendiri berotasi peran menjadi manajernya Musikimia. Bersama para penyanyi yang berbeda, Piyu seperti sedang kejar setoran dalam berkarya.

Kini kita sudah tahu, Piyu sebagai roh-nya Padi sudah kembali. Sekarang Padi Reborn sudah reborn, lantas mau hidup berapa lama lagi?

Referensi:

Beberapa Posisi Pekerjaan di Software House


Kemudahan berbagi informasi seputar job vacancy di kampus saya, semakin terasa sejak kami para alumni membuat group Facebook khusus mengenai job vacancy. Kalau dapat informasi job vacancy dari mana pun sumbernya, saya posting di group tersebut. Seiring dengan berkembangnya industri software house maupun start up, serta kebutuhan akan in-house developer/designer, bertumbuh pula posisi-posisi terkait di dunia IT.

Back-End (BE) developer dan Front-End (FE) developer

Saya kurang memahami batasannya secara jelas. Berdasar kasat mata atau tidak, front-end jelas lebih kasat mata. Alias “luaran”. Back-end semacam “dalaman”. Tapi, bisa saja yang dilakukan oleh back-end mempengaruhi tampilan “luaran”-nya. Tugas paling utama dari BE adalah menulis kode-kode untuk sebuah aplikasi berbasis web.

Karena berkaitan dengan web, maka web developer perlu mengetahui HTML, CSS, javascript, database SQL, dan mengerti cara kerja HTTP. beberapa bahasa pemrogramman juga punya sertifikasinya. Ada kalanya, BE perlu mengetahui beberapa CMSes seperti WordPress, Sitefinity, Sitecore, dan lain sebagainya.

Meskipun tugasnya bukan programming “dalaman”, front-end developer wajib mengerti hal-hal dasar seperti HTML, CSS, layout, dll.

Quality Assurance

Atau tester. Bagian ini bertugas untk memastikan bahwa product/software yang dibuat adalah sesuai spec. jika orang QA bilang productnya belum layak untuk di release, ya berarti belum direlease. Di software house, orang QA biasanya dulunya adalah programmer juga. Jadi ngerti tentang bug suatu product. Karena membutuhkan pengalaman programming, fresh graduate kurang diprioritaskan memasuki QA.

Technical Writer

Tugasnya menulis dokumentasi dari software/product yang dibuat. Bisa juga menulis dokumen proposal, laporan kepada buyer/customer, laporan hasil testing, software requirement specificiation, technical design specification, dan lain sebagainya. Posisinya khusus ada bila project-nya sudah besar banget. Kalau lingkupnya masih terbatas, programmer sendiri yang menulis dokumentasinya. Posisi ini tentu saja harus mahir menggunakan word processor. Paham heading dan emphasising. Mengerti teknis-teknis pekerjaan di dunia IT.

Copy Writer.

Sudah dijelaskan di sini.

System Analyst (SA)/ Business Analyst (BA).

Menulis proposal berdasar requirement tender. BA menterjemahkan requirement dari klien menjadi dokumen yang lebih mudah dimengerti oleh para desainer/programmer. BA membuat sendiri dokumen requirement sekaligus proposalnya. Bila perlu BA akan mewawancarai user/client atau mengadakan suatu FGD (Focus Group Discussion).

Dokumen requirement-nya bisa berupa DFD (Data Flow Diagram) atau ERD (Entity Relationship Diagram). Dokumen-dokumen inilah yang menjadi pegangan programmer kala membuat program.

Biasanya bukan posisi entry level. Biasanya berasal dari programmer. mempunyai communication/presentation skill yang baik, mempunyai skill teknis yang baik, berpengalaman cukup, dan punya kemampuan analisis yang baik.

BA di sini, berbeda dengan BA di firma konsultan yang biasanya merupakan entry level.

Technical Sales

Ketika menjual sebuah produk teknologi, bagian sales perlu mempunyai orang yang mengerti produk yang dijual secara teknis dan mendalam. Untuk itulah diperlukan seorang technical sales. Jadi tugas utama dia adalah presentasi dan meyakinkan klien untuk menggunakan produk teknologi tersebut.

Bukanlah bagian technical sales dalam menemukan dan membuat janji dengan calon klien yang baru sama sekali. Untuk keperluan ini, perusahaan perlu meng-hire khusus untuk menjalankan fungsi menemukan calon klien baru. Bila perlu, mengikuti suatu event pameran guna mengumpulkan database prospective client.

Biasanya bukan entry level. Technical sales biasanya orang yang mengerti product yang dijual perusahaannya dengan baik, mengerti limitnya, mengerti error-errornya.

System Engineer (SE).

Dari tadi bicara tentang software terus. Bagaimana dengan penyediaan hardware yang tepat untuk klien? Nah itulah tugas SE. Mungkin pula ditambahkan dengan kewajiban pengelolaan infrastruktur di kantor software house sendiri.

Software Engineer

Sebenarnya nama ini terlalu umum. Sesuai namanya, orang ini bertugas untuk melakukan pemrogramman untuk mendevelop software, bug-fix, dan kadang ngetest juga. Jadi seorang software engineer bisa jadi adalah seorang back-end developer, iOS/Android engineer, atau desktop apps engineer.

Tergantung bahasa pemrogramman yang dipakai (C, C++, .net, PHP, java, dll) programmer perlu menguasai bahasa pemrogramman tempat dia bekerja. terkadang di sebuah project besar, programmer juga perlu tahu OS (operating system) karena OS tersebut adalah platform yang dipakai oleh softwarenya. Contoh mobile app OS adalah iOS, Android.

UI/UX Designer

Bertugas untuk memilih font, mengatur layout, mengatur warna, dll. Lebih ke artistik dari sebuah website. Serta menguji design yang sudah jadi kepada calon pemakai. Tentu saja testing (pengujian) harus direncanakan apa-apa saja yang akan diuji, lalu dilaporkan hasilnya secara tertulis.

Project Manager

Tugas utama project manager adalah mendeliver project agar tidak telattidak overbudget, dan memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan sesuai spec. Posisi ini adalah bukan entry level. Biasanya memerlukan pengalaman yang cukup karena project manager adalah kombinasi technical & managerial. Skill komunikasinya harus bagus, kemampuan berbahasa inggris adalah keharusan di multinational company.

Scrum Master

Setahu saya ini bukanlah suatu posisi. Melainkan peran. Tren SDLC (software development life cycle) saat ini menuntut pengelolaan proyek dalam siklus yang lebih cepat dan lebih efisien dari sebelumnya. Metodologi umumnya disebut agile development. Namun yang belakangan sedang tren dan banyak diadopsi adalah Scrum methodology. Siklus yang digunakan biasanya 2 pekan sekali. Ini disebut sprint.

Kalau perusahaannya sudah well established, posisi-posisi di atas bisa jadi ada semua. Bisa juga tidak. Tergantung fokus perusahaan ada di bidang apa.

  • Ada perusahaan yang fokus di mobile apps. Tren jangka panjangnya bergerak ke mobile apps semua kan. Segala hal nanti akan ada mobile apps-nya. Makanya kategori perusahaan ini fokus di sini. Engineer yang mereka miliki, kebanyakan adalah iOS Developer atau Android Developer. Salah satunya adalah GITS di Bandung.
  • Ada juga perusahaan yang fokus di produk. Bisa jadi bentuknya adalah desktop apps, desktop web (yang otomatis responsive dengan mobile web-nya), berikut dengan mobile apps-nya. Yang ada di kategori ini biasanya adalah start up. Mereka membutuhkan investasi yang sangat besar untuk pengembangan perusahaan. Misalnya Traveloka, Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan lain sebagainya.
  • Kalau start up, omzetnya bisa jadi belum jelas. Yang omzetnya jelas-jelas ada semisal tender software ke institusi pemerintah atau perusahaan-perusahaan swasta. Yang model begini, tidak harus ada Business Analyst (BA). Karena requirement-nya sudah jelas dalam tender. Posisi System Analyst (SA) sudah cukup untuk membuat proposal teknisnya. Proposal harga dibuat bersama dengan para Developer.
  • Atau penunjukan langsung dari kedua institusi tersebut. Yang begini ini, memerlukan posisi BA karena harus mengadakan interview atau FGD, lalu menulis dokumen requirement-nya berikut dengan proposalnya.

Pekerjaan Copy Writer di Software House


Proyek yang saya kerjakan selama tiga bulan ini di sebuah software house adalah copy writing. Jadi saya bisa disebut pula sebagai copy writer. FYI, software house ini most of revenue datang dari pekerjaan yang sifatnya project-based. Dan banyak didapat dari tender-tender dengan institusi pemerintah.

what-is-a-copywriter-english-copywriter-in-paris

1. Proofreading

Semua orang di kantor ini menyangka saya adalah yang paling jago grammar. Tentu saja tidak benar. Saya tidak datang dengan kemampuan tersebut. Tuntutan pekerjaan memaksa saya untuk terus belajar mengenai grammar. Nah, salah satu yang paling sering saya lakukan hampir setiap hari adalah proofreading berbagai dokumen yang ada di sini. Mulai dari proposal tender yang akan kami ikuti, rencana manajemen proyek (kalau sudah menang tender) , sampai dengan laporan akhir kepada user.

Menulis dan mengisi halaman-halaman kosong menjadi sebuah dokumen yang bernilai adalah satu hal. Tapi proofreading adalah hal yang lain. Sebaiknya memang keduanya dilakukan oleh orang yang berbeda. Untuk diketahui, sebuah proses proofreading akhirnya akan diikuti dengan proses rewriting dan editing.

2. Rewriting

Kami selalu berangkat dari observasi kecil tentang siapa yang akan membaca dokumen tersebut. Apakah dia user, atau seorang penilai proposal tender, atau posisi lainnya. Siapa yang akan membaca, sangat menentukan bagaimana sebuah dokumen harus ditulis. Sebab itulah, perlu proses rewriting sebagai penyesuaian ulang terhadap siapa dan apa tujuan dia membaca dokumen ini. Terutama terhadap angle penulisan dokumen tersebut.

Kita ketahui bersama bahwa perilaku reader saat ini, juga dipengaruhi oleh berbagai jenis konten di internet. Satu yang penting digarisbawahi adalah bahwa readibility jaman now dipengaruhi oleh keberadaan white space, penggunaan heading, dan penekanan kata kunci (keyword emphasising).

Atas permintaan-permintaan proofreading tersebut, jadilah saya menjalankan peran semacam Service Desk.

3. Service Desk

Atau mirip-mirip juga dengan peran Customer Service. Ada saja yang datang meminta layanan proofreading, atau yang belakangan makin sering: mohon dibuatkan ads copy. Sebenarnya tidak tugas ada yang memakan waktu banyak. Paling banyak adalah proofreading proposal, itu pun maksimal dua hari. Kalau sekedar membuat ads copy untuk di-broadcast, beberapa menit juga cukup.

Tentang istilah copywriter, biasanya adanya di agensi-agensi pembuat iklan. Kalau ada video maker atau graphic designer, nah khusus untuk kata demi kata, biasanya ada copywriter yang memenuhi kebutuhan tersebut.

4. Social Media

Tuntutan kemudian berlanjut. Kapasitas menyusun kata demi kata menjadi kalimat. Lalu kalimat demi kalimat menjadi paragraf, memunculkan permintaan untuk turut mengelola social media milik perusahaan. Padahal masing-masing social media tidak bisa diperlakukan secara sama. Masing-masing menuntut jenis konten yang berbeda. Karena pada dasarnya berbeda social media maka berbeda pula audience-nya.

FYI, untuk “mengeluarkan” kata demi kata, tentu saja saya harus membaca dan membaca lebih banyak. Dan dalam “pengembaraan” tersebut, saya menemukan bahwasanya konten-konten tersebut (termasuk yang ada di social media) sudah seharusnya bisa di-strategi-kan lebih lanjut.

5. Content Strategist

Sebagai contoh, salah dua target audience di software house, selain para user atau customer, adalah para karyawan tetap dan para calon karyawan. Tiap-tiap audience ini dikelola secara berbeda. Itu salah satu contoh memandang target audience secara stratejik.

Contoh lain, bahwasanya konten-konten yang tersebar di berbagai bagian perusahaan menuntut penyelarasan satu sama lain menjadi satu tone, style and voice.

Satu permisalan lagi. Di Singapore, industri/kategori nya lebih dikenal sebagai Digital Agency. Baik membuat website –sekarang sudah eranya website yang responsif terhadap ukuran device-nya: desktop, tablet, atau smartphone. Sementara di Indonesia, perusahaan-perusahaan sejenis ini lebih dikenal sebagai Software House –bahkan frase ini lebih familiar digunakan daripada frase software company. Frase-frase semacam ini harus diketahui karena di era internet ini, salah satu perilaku (behaviour) yang perlu diantisipasi adalah terkait search engine. Jadi SEO juga harus dikuasai.

Karena sifatnya strategis, maka fokusnya pada konten saja. Dalam delivery-nya konten-konten tersebut harus disesuaikan lagi dengan konteks masing-masing. Di antaranya: target audience, jenis medium yang digunakan, dan lain sebagainya.

Nah, dalam penetapan strategi ini, yang tidak boleh ketinggalan dilakukan adalah penetapan indikator dan target dari setiap aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan.

Content Strategist dituntut untuk bisa bekerja sama dengan berbagai jenis tim di dalam perusahaan. Dan dalam banyak hal harus berani mengambil inisiatif sendiri. Bahkan bekerja seorang diri. Passion terhadap company sangat diperlukan. Sebab harus menggali sendiri akan memulai dari mana, perlu mencari tahu “celah” konten yang bisa diisi nantinya, dan seterusnya. Di sinilah karakter perhatian terhadap detil (attention to detail) sangat diperlukan.

6. Brand Auditor

Semua effort yang dilakukan harus bisa diukur keberhasilannya. Tidak hanya sekedar diukur, tetapi juga dianalisis lebih lanjut.

Misalnya analisis terhadap pola konten dan medium distribusi yang terbukti berhasil. Atau analisis terhadap kondisi eksternal semisal jenis konten yang sedang tren di mata audience saat ini.

Karena konten adalah alat pemasaran yang ampuh. Yang ujung-ujungnya akan mempengaruhi brand company. Di sinilah peran sebagai brand auditor diperlukan. Melakukan audit, riset, analisis, hingga membuat laporan yang kembali menjadi masukan dalam siklus pemasaran.

Menjawab Pertanyaan dari Email


Ada pertanyaan yang datang via email:

Jakarta 13 Desember 2017

Dear Pak Ikhwan Alim ,

Salam kenal Pak Ikhwan Alim , saya ****, pria kelahiran maret 19**.
Saya lulusan S1 Teknik. S2 saya Management Marketing.

Saya tahu Pak Ikhwan Alim dari blog / website Pak Ikhwan Alim , tentang Marketing.

Riwayat pekerjaan saya: 
Dua tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ****** Indonesia (Susu, dll) , karyawan principle nya.
Tiga tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ******** Indonesia (Sabun, dll), karyawan principle nya.

Saya punya permasalahan “pribadi”. Sebetulnya saya minat sekali mencari posisi “Brand Manager” , atau setidaknya diawali dari Brand Executive , ataupun Assistant Brand Manager..
Namun Sejak 2012 sampai 2017 , saya coba lamar di beberapa perusahaan untuk posisi tersebut hasilnya saya gagal..
Gagal di interview user. Alasannya :  belum punya pengalaman mengembangkan brand.

Padahal saya “merasa” sudah paham tentang bagaimana mengembangkan brand khususnya consumer goods.
Mulai dari Segmentasi, strategi pricing , ATL-BTL , Brand funnel , Brand equity , consumer centricity, budgeting, dsb.

Pertanyaan saya :

  1. Apa yang harus saya lakukan ???
  2. Bagaimana dengan CV dan lamaran saya ? apa yg harus saya sampaikan saat interview user ?

Jawaban/Pendapat saya:

  1. Melihat experience dan lama kerja Bapak, tentunya Bapak (mohon maaf) dianggap belum berpengalaman untuk mengisi posisi-posisi semisal Assistant Brand Manager, apalagi Brand Manager itu sendiri. Bukan tidak mungkin memang bergabung dengan tim brand, namun harus memulai dari brand executive. Which is, secara remunerasi (gaji+bonus+dll) hampir tidak mungkin untuk memulai dari nol.
  2. Tim brand management jumlahnya sangat kecil dibanding tim sales. Sehingga kompetisi untuk bergabung ke tim brand management itu berat.
  3. Saya kira, managing the brand is about optimising the branding and distribution medium. Di mana kita sudah tahu, bahwa hampir di setiap medium selalu ada merek lain dari kompetitor. Mudah-mudahan link ini bisa membantu: https://ikhwanalim.wordpress.com/2016/06/24/kreatif-mengoptimalkan-medium-pemasaran/
  4. Kalau tim sales and distribution itu eksekusinya di distribution channel, maka tim brand management itu eksekusinya di medium-medium pemasaran (meskipun bukan tidak mungkin menggunakan perangkat-perangkat merchandise juga).
  5. Ukuran optimal/maksimal dalam mengukur kinerja brand adalah: apakah brand tersebut sudah berada di hatinya konsumen. Di sinilah tim brand management harus kreatif dengan program-program komunikasi pemasarannya serta bekerja sama dengan tim sales guna mencapai target tersebut. Tentu saja harus diukur dengan riset yang proper. Biasanya menggunakan jasa riset semacam AC Nielsen.
  6. Karena yg perlu diketahui adalah: berapa banyak konsumen yang aware? Berapa banyak konsumen yang sedang membandingkan dan mengevaluasi merek kita terhadap merek-merek kompetitor? Berapa banyak lagi konsumen yang membeli? Berapa banyak yang berlangganan?
Tugas brand management (BM), adalah meningkatkan porsi dan persentase dari masing-masing jenis konsumen tersebut. Berikut ini gambar yang bagus untuk mendeskripsikan tugas BM.
Gambar sisip 1
Intinya, eksekusi di medium pemasaran, sangat melibatkan konten dan konteks. ada konten untuk awareness, konten utk evaluation, dan konten utk purchase. tiap-tiap konten, kadang-kadang perlu mediumnya masing-masing.
Gambar di atas berasal dari link berikut. http://panduanim.com/konten-untuk-meningkatkan-penjualan/
2) Cobalah menjual “visi brand” Anda terhadap brand tempat anda bergabung. Nyatakan bahwa Anda sudah melakukan analisis pendahuluan terhadap brand tersebut dan industri yang dinaunginya. Nyatakan pendapat anda tentang kompetior-kompetitor dari brand tersebut. Tunjukkan “celah” atau “lubang” yang anda lihat belum dilakukan oleh brand tersebut. Tawarkan rencana aktivitas-aktivitas (branding plan) yang kira-kira akan Anda programkan sehubungan dengan menutup celah atau lubang yang ada.
Tujuannya adalah Anda menawarkan visi brand yang outstanding, yaitu visi yang menghantarkan merek memiliki positioning yang tiada duanya di benak dan hati para pelanggan.
Hanya dua itu saja yang bisa saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.
Salam,

 

Risk Management di Industri Sepak Bola


Setiap bisnis pasti ada risikonya. Tinggal kita berselera aja enggak dengan risiko tersebut: Risk appetite. Berikut adalah beberapa risiko yang saya observasi benar adanya di klub sepak bola. Nomor 1-3 sangat mempengaruhi kestabilan pendapatan perusahaan.

egg-quote

Risiko pertama, terlalu mengandalkan seorang pemain untuk mengangkat permainan tim

Sepak bola bukan permainan individu. Satu orang pemain tidak akan menjadi sebuah tim. Tetapi seorang pemain (yang hebat) dapat membuat tim menjadi berbeda. Misalnya Lionel Messi, Cristiano Ronaldo. Sesungguhnya ini adalah risiko.

Manajemen Risiko pertama: Jangan bergantung pada satu bintang. Lebih tepatnya, milikilah beberapa pemain berkualitas meski kualitasnya tidak sehebat yang sudah disebut di atas.

Bangun mental dan kekompakan tim. Tim yang kompak dengan mental kokoh bisa mengalahkan tim manapun.

Contoh: Manchester City merekrut pemain yang bisa bermain hingga 4-5 tahun mendatang. Di tahun 2017 ini, Leroy Sane, Gabriel Jesus, dan Raheem Sterling masih berusia di awal 20-an. Mereka masih bisa dikontrak sekali lagi, bahkan dengan durasi kontrak yang sama.

Saran: Jangan berekspektasi bahwa pemain rekrutan anyar akan langsung bersinar di tahun pertama. Pun dia langsung bersinar, berarti dia bisa lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.

Intinya sih, ya jangan bergantung sama seorang yang hebat saja.

Risiko kedua, pola permainan diantisipasi oleh tim lawan.

Di akhir tahun 90-an, hampir semua tim di Lega Calcio menggunakan skema 3-4-1-2. Sangat mengandalkan the creative number 10. Selain formasi tersebut, sisanya memakai 4-4-2. Sementara beberapa tahun terakhir di English Premier League (EPL) para manajer selalu mengubah taktik dari musim ke musim. Kasus terakhir terjadi di Chelsea. Mereka sukses dengan 3-4-3. Terbukti juara di musim lalu. Bahkan sempat menang 13 kali berturut-turut. Ini adalah rekor tersendiri.

Akibatnya semua manajer di EPL mencoba mencari tahu dan bereksperimen menemukan antithesis dari 3-4-3.

Manajemen Risiko kedua:

  • Versatility. Keserba-bisaan menjadi tuntutan sepak bola jaman now. Lionel Messi bisa menjadi the false nine. Dalam beberapa musim sebelum musim sekarang, dia sering pula diposisikan di kanan depan. Posisi right winger. Kalau di timnas Argentina, dia biasanya kebagian jadi “penghubung” dari tengah ke striker seperti (Sergio) Aguero. Klub perlu menabung pemain-pemain yang punya kemampuan mengisi beberapa posisi sekaligus.
  • Cristiano Ronaldo mengawali karir sebagai pemain sayap. Lama-lama menjadi winger yang bisa menusuk dan menembak. Di Real Madrid, mengisi posisi penyerang kiri. Di Portugal sebagai striker kiri pada formasi 4-4-2.
  • Pelatih Kepala (head coach) juga tidak boleh kaku dengan formasi dan taktik yang dia usung. Dia harus fleksibel. Terutama menyesuaikan dengan profil permainan lawan. Titik lemah lawan harus dieksploitasi, kekuatan terbaik lawan harus diatasi.

Risiko ketiga: Kinerja yang tidak konsisten

Manajemen risiko ketiga:

  • Kinerja pemain dipengaruhi kondisi psikisnya. Ada klub yang mulai mempekerjakan psikolog. Menjaga mental para pemain tetap stabil. Banyak dokter tim juga menjadi tempat ‘curahan hati’ pertama bagi para pemain. Dokter tim bersentuhan langsung dengan berbagai keluhan dan cedera pemain.
  • Pencegahan cedera pemain. Istirahat yang cukup. Aktivitas di klub itu melelahkan otot. Belum termasuk perjalanan panjang semisal naik bus atau pesawat selama berjam-jam.
  • Pemain juga harus sadar dan bersikap disiplin. Ini bagian dari profesionalisme pemain. Pengawasan dari klub tetap ada. Klub harus bertindak tegas apabila ada pemain yang melanggar peraturan klub.
  • Rotasi pemain. Dalam realitanya, mengelola pesepakbola mirip dengan manajemen artis. Semua ingin tampil di “panggung”. Tinggal bagaimana membagi-bagi panggung yang ada. Apabila semakin jarang menjadi starter, bisa membuat pemain bintang berpindah klub.

Risiko keempat: terkait pemain. biaya rekrut yang tinggi dan harga jual yang menurun.

Manajemen risiko keempat:

  • Kembangkan pemain di akademi sendiri. Michael Emenalo (sekarang di Monaco) di Chelsea punya “mata” yang brilian dan bisa menilai potensi pemain untuk dikembangkan sesuai kebutuhan tim. Bagusnya, Chelsea bisa mendapat keuntungan berlipat tatkala pemain tersebut “terpaksa” dijual ke klub lain.
  • Bangun jejaring scout ke seluruh dunia. Kembangkan akses menuju “aset baku” yang lebih banyak dan beragam. Seperti di dunia korporasi, di sepakbola juga terjadi War of Talent. Manchester City lebih mengerikan. Hampir memiliki setidaknya sebuah klub di setiap benua: New York City, Melbourne City, Yokohama Marinos, Girona, dan Atletico Torque. Sehingga jejaring scout-nya bisa lebih dioptimalkan.
  • Beli pemain yang bisa meningkatkan popularitas klub. Pribadi yang sudah terkenal akan turut mengungkit brand-nya klub.
  • Pemain adalah aset. Nilainya bisa naik. Dan aset itu bisa dijual ke klub lain. Tidak apa beli mahal, selama bisa dijual lebih mahal lagi.
  • Jangan salah beli. Mengontrak pemain yang sulit dilepas lebih mahal akan membebani keuangan klub.

Risiko kelima: Tim yang terlalu tua.

Rata-rata usia pemain dalam sebuah tim sekarang menjadi indikator yang selalu diperhatikan.

Manajemen risiko keelima:

  • Urus juga pemain yang perlu “dikeluarkan”. Chelsea membatasi perpanjangan kontrak hanya selama setahun untuk pemain berusia lebih dari 30 tahun.
  • Jual pemain yang “menua” dan performanya sudah menurun.
  • Alihkan ban kapten dari sang kapten yang sudah “berumur”.