Batik Fractal


Keindahan seni visual seperti batik memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Berulangkali saya berusaha ternyata saya juga tidak mampu melakukannya. Sebab batik merupakan rekaman interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Tapi, desain Batik Fractal yang kami lihat memang benar adanya. Indah. Setiap komposisi bentuk, warna, dan repetisinya menyajikan makna dan rasa yang kita bisa sebut juga sebagai cantik.

Itulah alasan saya menemui Muhammad Lukman, biasa dipanggil Mas Lucky. Orangnya berperawakan tinggi, agak kurus, dan berkacamata. Beliau termasuk di antara (kira-kira) 90% lulusan program studi arsitektur yang tidak lagi mendesain arsitektur. Instead of mendesain arsitektur, beliau lebih suka mendesain batik.

Mas Lucky ini mendirikan Pixel Project (CV Pixel Indonesia) bersama-sama dengan Mas Yun Hariadi dan Mbak Nancy Margried. Beliau kenal dengan Mas Yun –yang menyelesaikan program sarjananya di Matematika– karena sama-sama tertarik dan berkutat dalam bidang matematika di ITB, khususnya fractal . Fractal  adalah konsep matematika yang berfokus pada pengulangan, dimensi, literasi, dan pecahan. Kombinasi batik dengan matematika fractal membantu penciptaan desain batik fractal.

Mas Lucky ini kenal dengan Mbak Nancy pada saat beliau mengadakan pameran arsitektur dengan rekan-rekannya. Mbak Nancy ini berkarir di bidang Public Relation (PR). Memang bukan lulusan ITB, tetapi Unpad (Univ. Padjadjaran). Tak disangka-sangka oleh Mas Lucky dan Mas Yun, Mbak Nancy menemukan hal berbeda. Yaitu bahwa ternyata matematika, sains dan teknologi dapat disinergikan menjadi sebuah karya batik yang bervariasi.

Tentang batik+matematika, apa yang bisa dilakukan? Alias, seni digabung dengan sains, seperti apa hasilnya? Ada tiga pendekatan yang biasa dilakukan mereka.

  1. Fractal sebagai Batik. Fractal hasil simulasi komputer didesain ulang sebagai inspirasi atas konstruksi desain batik
  2. Hibrida Fractal Batk. Menggabungkan pola komputasional dengan tradisi budaya membatik yang dikenal luas
  3. Batik Inovasi Fractal. Motif batik tradisional didesain ulang dengan menggunakan teknologi komputasi fractal.

Tidak hanya karya, tetapi juga bisnis. Jadi, Pixel Project ini adalah bisnis. Produknya ada dua. Batik Fractal yaitu brand fesyen batik yang digenerasikan dari fractal. Produk kedua adalah JBatik, sebuah software desain batik.

Teknologi Meningkatkan Produktivitas Seniman

Di era modern saat ini, teknologi digital bukan mematikan para pekerja seni. Justru mendorong produktivitas dan meningkatkan kualitas karyanya. Perangkat lunak (software) JBatik malah membantu desainer memproduksi puluhan bahkan ratusan desain hasil coba-coba (eksplorasi) dalam waktu yang relatif singkat. Tidak hanya membantu proses desain, perangkat lunak ini juga membantu menyimpan dan mendokumentasikan hasil desain. Sehingga pengembangan desain dapat terus dilakukan waktu demi waktu.

Jadi software JBatik ini memampukan para desainer batik untuk mengeksplorasi desainnya lebih lanjut. Keragaman desain ini dapat dilihat dari grafis, warna, ukuran, sudut, dan perulangannya. Lebih banyak desain bisa dihasilkan dan lebih banyak karya indah yang bisa dioptimalkan. Lebih efisien pula dalam penggunaan waktu dan sumber daya coba-coba.

Dengan menggunakan software JBatik, maka para pengrajin batik terhindar dari software desain berharga mahal. Di samping itu lisensi JBatik sudah termasuk dengan paket pelatihan dan jaringan komunitas sesama pengrajin yang menggunakan JBatik.

Ketika desain selesai dibuat, desain di-print di kertas setelah itu hasil printing batik ini dijiplak ke dalam kain dan tinggal dicanting jika pengrajin ingin menjadikannya sebagai batik tulis. Namun jika pengerajin ingin membuat batik cap, hasil printing ini tinggal dibuatkan capnya sementara jika pengrajin hanya ingin membuat batik print, desain batik tadi bisa langsung dicetak ke dalam kain seperti halnya mencetak desain ke dalam kertas.

Once software takes over repetitive chores, humans will have more time and resources to work creatively.

Walaupun sama-sama dalam desain, piranti lunak JBatik memiliki filosofi generative design, yaitu menggambar dengan menggunakan seperangkat perintah sederhana. Keuntungan menggunakan generative design software adalah desainer mampu membuat beragam bentukan desain dari 1 motif saja dengan hanya mengubah parameternya. Hal ini berbeda dengan piranti lunak desain lain yang mengharuskan penggunanya menggambar kembali untuk membuat desain baru.

Research

Pada tahun 2007 Mas Lucky dan Mas Yun melakukan riset mengenai batik sebagai warisan budaya Indonesia. Inilah yang mengawali Pixel Project. Salah satu temuan yang menarik saat itu adalah bahwa:

  • Menurut daerah asalnya, batik Yogya dan batik Solo memiliki dimensi fractal  yang sama dengan batik Madura dan batik Garut, tetapi batik Madura dan batik Garut sendiri memiliki dimensi fractal  yang berbeda.
  • Kehadiran fractal  dalam batik mengindikasi keberadaan kompleksitas dalam kesenian tradisional batik ini. Kompleksitas ini lahir karena adanya usaha untuk mengikuti pakem tradisional (pemaknaan simbol, keharmonisan, ke-simetris-an) serta keterbatasan media (lilin dan canting) itu sendiri. Manusia memahami alam lingkungan dan menerjemahkannya dengan melukis pada kain dengan teknik batik.
  • Bisa disimpulkan bahwasanya setiap motif batik itu membawa ceritanya masing-masing yang dapat mengawali dan mengisi pembicaraan pengguna motif batik tersebut.

Batik memang begitu. Dari dulu sudah dikenal sebagai warisan budaya Indonesia yang memiliki memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi tekstil modern baik dengan menggunakan teknik produksi tradisional maupun masuk ke produksi massal. Menuju produksi massal, bisa lewat desain batik via perangkat lunak. Modernisasi desain batik akan menarik minat generasi muda untuk turut menggunakannya.

Batik Fractal Community

Di Batik Fractal Community, Pixel Project mempergunakan pewarna alam seperti dedaunan, kulit kayu dan bahan-bahan dari tanaman. Karena Batik Fractal Community berada di tengah-tengah Kampung Dago Pojok, maka menggunakan bahan-bahan alami adalah hal yang paling natural agar limbah kami tidak mencemari lingkungan padat penduduk di sekitar kami. Selain itu pewarna alam selalu memberikan sentuhan eksotik untuk batik unik yang kami produksi.

Sebagaimana dilansir dalam laman resminya di https://pikselindonesia.com , bahwa Piksel Indonesia turut serta dalam melestarikan batik dengan memadukannya sesuai perkembangan teknologi.

Coba datang, deh. Kamu akan terkejut dengan apa saja yang ada di Jalan Gudang Selatan Nomor 22, Kota Bandung. Memang si Batik Fractal  berlokasi di sana. Tetapi ada banyak kejutan lainnya di bangunan Gudang tentara tersebut.

Garis Waktu Batik Fractal

2007 Riset: Batik Fractal, From Traditional Art to Modern Complexity, Generative Art Polimi, 2007

2008 Indonesian ICT Award 2008 kategori E-Tourism and E-culture

2008 Unesco 2008 Award of excellence.

2008 Turut mendirikan BCCF (Bandung Creative City Forum)

2008, Piksel Indonesia bekerja sama dengan Kementrian Negara Ristek dan Teknologi menyebarkan teknologi di tengah masyarakat pengrajin Indonesia melalui berbagai pelatihan software jBatik.

2008 “Tourism and Hospitality Category – Winner” Ministry of Communications and Information, November 15th 2008. Asia Pacific ICT Awards. 

2008-2009 Berpartisipasi di Helar Festival

2009 Unesco meresmikan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

2009 Riset: Batik Garut dalam Tinjauan Geometri Fractal, Japan Foundation, 2009

2009 Riset: JBatik : Menelusuri Perkembangan Motif Kawung Melalui Kuantifikasi dan Algoritma, Adiwastra, 2009

2010 Riset: Batik Fractal : A Case Study in Creative Collaboration from Various Disciplines in Bandung, ArtePolis3, 2010

2010 International Young Creative Entrepreneur. Interactive Category winner. British Council Oct 24th.

2011 Riset: Sculpture Make Over, ICCI, 2011

2011 menjadi anggota Mekar sejak 2011 dan mendapat dana investasi melalui program Mekar Network.

2011-2012 Bekerja sama dengan Intel dalam program global Intel Visual Life

2012 Riset: Batik Fractal : Marriage of Art and Science, Dies Emas ITB, 2012

2013 Berpartisipasi dalam Fashionary BDG

2013 Menempatkan workshop Koperasi Batik Fractal di Kampung Kreatif Dago Pojok

2013 Penyedia konten, trainer, serta konsultan dalam program kampus terapan yang diiinisiasi oleh BPIPI (Badan Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia)

2013 Menyebarluaskan penggunaan software berbasis JBatik pada bidang perancangan bangunan dalam program penelitian RAPID di program studi Teknik Arsitektur ITB.

2013 Membuat motif batik untuk interior IDX (Indonesia Stock Exchange)

2014 Riset: Batik Fractal Community : Creative Engangement through Technology, Artepolis5, 2014

2014 Riset: Parametric Architecture jArsi, Artepolis5, 2014

2017 Mendesain cutting sticker untuk diaplikasikan pada peluncuran Daihatsu Ayla

Referensi:

Pekerjaan Freelance Marketing, Cocok Untuk yang Baru Lulus Sekolah, Atau Baru Saja Di-PHK


Is she/he a freelance marketing? 

Tanyakan saja dia terikat kontrak/pekerjaan dengan pemberi produk/jasa yang harus dia jual. Kalau dia terikat, berarti dia bukan freelance. Biasa disebut juga sebagai pegawai organik.

Keuntungan paling utama di perusahaan dalam mempekerjakan para freelancer marketing adalah punya karyawan sales saat dibutuhkan dan tidak punya saat tidak dibutuhkan.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Ada masa di mana produk sedang melimpah dan (tentu saja) harus dibuat laku sesegera mungkin. Misalnya, perumahan tapak atau rumah susun yang baru saja selesai dibangun. Produknya sudah tersedia, semestinya bisa laku dengan cepat. Untuk mengantisipasi demand atau kedatangan calon buyer yang membludak, maka diberdayakanlah para freelance marketing tadi.

Dalam contoh ini, tiada gaji tetap pun tak apa. Karena calon pembeli sudah banyak yang datang ‘kan? Tinggal di-closing-kan saja, maka pendapatan untuk freelance marketing akan berupa komisi penjualan.

Pilih Niche

Tidak semua produk bisa dijajakan oleh freelance marketing. Bukan karena freelance marketing-nya tidak jago, melainkan tiap produk dan jasa memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga kala meng-hire freelance marketing, harus diketahui pula pengalamannya dalam menjajakan barang tersebut.

Apakah barang fast moving?
Bayar di tempat atau transfer?
Cash atau credit? Dst.

Konsekuensinya adalah freelance marketing harus memilih dia akan fokus di industri/produk apa. Freelance marketing di industri properti, harus kompeten menjajakan rumah tapak, apartemen, kontrakan, dsb. Karena sifatnya seringkali kredit, dia harus membantu pula perusahaan dalam melakukan pengecekan terhadap kemampuan mencicil si pembeli. Jangan sampai sudah akad, ternyata yang bersangkutan malah gagal bayar/melunasi properti yang dia beli.

Apalagi nilai pembeliannya besar. Calon pembeli harus terus di-follow up. Sebab banyak hal yang harus dia diskusikan. Dengan pasangan suami/istrinya, dengan orang tua dan mertua, jarak dengan lokasi pekerjaan atau sekolah anak-anak, dst. Untuk buyer yang belum nyata yes/no pembeliannya, hukumnya wajib ditindaklanjuti. Minimal ditanyakan, kapan ada waktu untuk melihat purwarupa/contoh dari produk properti yang ditawarkan.

Freelance / Agency?

Freelance itu bagus untuk mengawali karir. Terutama pasca lulus atau resign dari tempat kerja lama. Tapi apa mau selamanya freelance? Mestinya tidak.

Kita semua pasti mau tumbuh dong. Tumbuh omzetnya, pekerjanya juga bertumbuh alias bertambah, dan tumbuh pada hal-hal lainnya juga. Tidak mungkin rasanya semua stuck dengan status freelance. Selain capek dan bosan mengerjakan end-to-end seluruh pekerjaan (dari cari klien, sampai dengan mengeksekusi pekerjaan tersebut sendirian), kita tentunya ingin fokus pada aspek tertentu pada pekerjaan kita sehingga kita bisa fokus pada dimensi-dimensi lain dalam kehidupan kita (baca: rumah tangga, parenting, kegiatan sosial, dan sebagainya).

Mungkin awalnya jadi outsource untuk mengerjakan online marketing. Mulai dari membuat desain diskon promosi, membuat copywriting iklan, sampai dengan menanggapi engagement (comment, message, etc). Tetapi lama-lama bisa menerima dan mengerjakan lebih banyak proyek dari banyak klien. Dari awalnya bekerja sendirian, kini sudah bisa bercerita ke calon-calon klien yang lain bahwa sudah mempunyai tim dan memiliki agensi sendiri.

(digital/online agency ini, sekedar contoh saja ya).

Value = Benefit/Cost

Kalau sudah mulai grow, tentu harus bisa mengkomunikasikan secara jelas value yang didapat oleh buyer kita. Value = Benefit/Cost. Artinya adalah benefit (manfaat) apa yang dia dapatkan atas kebutuhan/keinginan dia. Dibandingkan dengan cost (biaya) yang harus dia keluarkan untuk mendapat benefit tersebut. Tidak hanya berupa uang ya, melainkan juga waktu, tenaga, dan sebagainya yang harus dia korbankan.

Inilah yang namanya standard produk/layanan. Sebagai contoh. Bayar sekian, dapatnya ini, ini, dan ini. Mungkin bayar ke kita lebih tinggi dibanding yang dia bayar ke toko/lapak/kompetitor sebelah, tetapi dengan manfaat yang lebih besar tentunya. Contohnya seperti itu. Selanjutnya silakan dikembalikan kepada anda, ingin memposisikan produk/layanan anda seperti apa.

Ada yang namanya SLA (Service Level Agreement). Service adalah layanan-layanan yang melengkapi produk yang dihantarkan kepada klien. Jadi klien tidak hanya mendapat benefit produk saja, melainkan juga layanan yang meliputi dan melingkupi produk tersebut. Namanya saja agreement, jadi semacam standardisasi yang harus diberikan karena sudah disepakati dengan si pembeli.

Bagaimana jika sudah berjanji macam-macam, terus minta harga jual yang tinggi, ternyata gagal menghantarkan benefit-nya? Ini namanya over promise under deliver.

Bahas yang lain lagi, yuk.

Freelance Social Media Manager

Pengelolaan sosial media tidak hanya taktik semata. Tetapi juga stratejik. Artinya, kalau mau jadi freelance sosial media manager yang sukses, harus bisa menguasai keduanya.

Taktik, artinya dengan skill yang kamu miliki, kamu sukses mengeksekusi pekerjaan terkait social media. Kita buat list-nya dulu:

Pekerjaan:

  • Mengelola keberadaan brand produk atau institusi di social media
  • Mengukur dan menganalisis perubahan persepsi produk/institusi ini menggunakan alat-alat pengukuran yang tersedia
  • Berinteraksi dengan pelanggan sesuai dengan standard institusi/brand
  • Membuat materi promosi dan iklan yang mewujudkan target jangka pendek dari institusi/brand
  • Mengukur perubahan persepsi publik mengenai brand produk/institusi
  • Mendistribusikan materi promosi dan iklan ke berbagai saluran social media

Skill:

  • Menulis: manajer social media harus tahu dan bisa membuat materi iklan yang efektif. Lebih baik bila menguasai Search Engine Optimization (SEO)
  • Riset: update dengan tren di internet dan social media
  • Problem solving: mempu menjadi representasi brand/institusi yang mampu menangani permasalahan, mengkomunikasikan secara baik kepada stakeholder internal dan external, terutama kepada audiens social media
  • Organizational: berkomunikasi efektif dengan pelanggan dan pihak yang bertanggung jawab terhadap brand (biasanya product manager/brand manager) atau institusi (divisi hubungan masyarakat)

Karena terkait dengan saluran yang tidak mengenal waktu, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tentu saja freelance social media manager harus selalu bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Sehingga bisa sekedar menghimpun informasi terkait masalah yang terjadi, maupun menanggapi masalah tersebut dengan cepat.

Meski social media bukan tempat di mana transaksi biasa terjadi, namun social media harus mampu mengarahkan audiens atau pelanggan agar bertransaksi. Di sinilah kepiawaian manajer social media dituntut, bahwa tugasnya tidak melulu menghabiskan dana untuk membangun brand. Melainkan juga menjadikan aktivitas social media tersebut turut berimpak pada pendapatan institusi/brand.

Dan sebagai bagian dari fungsi pemasaran, hendaknya manajer social media juga mampu mewujudkan fungsi-fungsi Segmenting and Targeting secara tepat. Jadi bukan menghambur-hamburkan anggaran secara percuma, melainkan perlahan-lahan mampu mengefektifkan penggunaan budget. Melalui pemahaman yang semakin mendalam terhadap segmen-segmen yang ada di pasar berikut tren dan dinamikanya (segmenting) serta penetapan target yang semakin tajam seperti laser (targeting).

(22/07/2018) Semakin ke sini, saya semakin meyakini bahwa pengelolaan social media sebaiknya dilakukan oleh tim di internal alias karyawan tetap atau pegawai organik. Mengapa demikian? Karena dinamika di dalam internal organisasi (konteks: employer branding) atau dinamika di brand management merupakan bahan baku paling berharga dalam menstrategikan konten-konten yang salah satu saluran komunikasinya adalah social media.

Seluk Beluk Freelance Marketing

Institusi bisnis mempekerjakan freelance marketing tentu ada latar belakang dan tujuannya. Baik itu yang berfungsi untuk menjual (yaitu, sales) maupun membangun brand (marketing).

Tentu saja, pengisi posisi freelance marketing tersebut harus menjawab tujuan dan tantangan pemberi kerjanya. Dia harus berkompeten/jago dalam menjalankan fungsi penjualan atau pemasaran.

Sedikit saja gambaran mengenai contoh-contoh freelance marketing:

  • Property freelance. Kategori produk yang tidak diproduksi dan dipasarkan terus-menerus, salah satunya adalah properti. Terutama properti perumahan. Pengembang tidak mungkin mempekerjakan secara tetap tenaga penjualan, kecuali mereka memiliki land bank (tanah tanpa bangunan yang menjadi tabungan pengembang untuk proyek properti berikutnya) yang banyak. Posisi ini bekerja di kantor pemasaran kompleks perumahan yang masih baru, atau ikut pameran perumahan yang biasanya berlokasi di mall-mall. Strategi marketing perusahaan properti utamanya dua itu, on site melalui kantor pemasaran, atau ikut pameran yang crowd-nya sudah jelas ada. Sebagian kecil beriklan di media seperti koran.
  • Social media freelancer. Contoh jenis usaha yang memerlukan freelancer dalam mengelola akun-akun media sosial: restoran, atau makanan (kebab, pie, dll) yang bisa di-delivery. Ini adalah salah satu bisnis freelance yang bisa dikerjakan dari rumah serta relatif mudah untuk para pemula. Tahun 2017, siapa coba yang tidak mengelola akun social media? Paling tidak, dia mengelola akun pribadinya ‘kan 🙂
  • Sales freelance kredit elektronik

Kalau Sales Promotion Girl (SPG), saya kira tidak termasuk freelance ya. Sebab pekerjaannya dihitung dalam paket per sekian hari dengan gaji sekian. Untuk SPG+Supervisor kategori produk rokok, di samping ada nilai gaji yang tetap, ada juga bonus kinerja bila mencapai target penjualan tertentu. Menjual produk yang baru diluncurkan, dan tentu saja belum dikenal, itu tidak mudah lho.

SPG yang membantu eksekusi program promosi di lapangan. Biasanya para SPG + supervisor, paling sering membantu pengenalan sebuah consumer brand yang baru diluncurkan.

Berapa gaji (fee) untuk seorang marketing freelance? Atau Bagaimana Perhitungannya?

  • Property freelancer, tidak ada gaji tetap. Yang ada adalah komisi. Kalau berhasil menjual produk berharga tinggi seperti rumah, tentu komisinya tidak sedikit ‘kan. Apalagi menjual rumah sangat memerlukan keterampilan membujuk calon pembeli. Karena pada dasarnya database calon pembeli relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kategori-kategori produk lain.
  • Untuk SPG, tentu sudah ada standard tetap dari agensi penyedia SPG. Harganya sudah terbentuk mengingat ada banyak para buyer (yaitu perusahaan yang memerlukan SPG untuk memperkenalkan brand baru mereka) dan ada banyak agensi yang menyediakan jasa tersebut. Agensi-agensi sudah memperhitungkan fee yang tepat untuk mereka yang butuh/ingin menjadi SPG: butuh uang di tengah ketatnya kompetisi tenaga kerja, serta para mahasiswi yang ingin mengisi waktu luang di sela-sela kuliah.
  • Freelance akun media sosial. Terserah anggaran dari yang mau memberikan pekerjaan. Banyak sekali kemudahan dalam menjalankan profesi ini, sehingga dibayar tidak tinggi pun tidak apa-apa. Bisa dikerjakan dari rumah, merilis konten juga tidak sulit dilakukan. Yang penting akunnya aktif, ‘kan.

Sebagai freelance social media account, Sekedar aktif menerbitkan konten memang mudah. Namun menjalankannya sebagai sebuah fungsi bisnis yang signifikan itulah yang tidak mudah.

Fungsi bisnis yang dimaksud:

  1. Menghimpun 3F (friends, fans, followers)  baru yang potensial menjadi calon pembeli. Kenaikan jumlah 3F adalah target paling utama.
  2. Membangun engagement dengan 3F –> melakukan riset, menganalisis hasil, membuat konten yang disukai (like), dibagikan (share), atau ditanggapi (comment). Jumlah 3F yang tinggi tidak akan berarti apa-apa bila engagement level-nya ternyata rendah.
  3. Menjadi saluran penjualan. Tidak semua produk bisa bertransaksi via social media. Tetapi menjadi salah satu saluran penjualan, adalah salah satu objektif paling menarik dalam mengelola akun-akun tersebut.
  4. Terlibat dalam proses-proses bisnis secara keseluruhan. Pengembangan produk, pemberian diskon promosi, dan lain sebagainya.

Dalam industri consumer goods, ada rule of thumb (yaitu 5% dari omzet) yang bisa kita jadikan benchmark terkait anggaran komunikasi. Termasuk anggaran untuk social media yang di dalamnya meliputi fee marketing media sosial. Bisa digunakan dalam dua cara:

  • Misal, target Rp1 miliar, maka owner harus bersedia “membuang uang” sebesar Rp50 juta. Atau,
  • Target penjualan yang terealisasi tahun lalu adalah 2 miliar, maka untuk tahun ini boleh dianggarkan sebesar 100 juta.

Patut dicatat bahwa terkait pengelolaan akun social media, anggaran tidak hanya untuk fee freelance saja, melainkan juga untuk riset pembuatan konten (mungkin harus terjun observasi langsung ke lapangan), membayar freelance visual designer/video maker, budget diskon promosi, dan seterusnya.

Misal target penjualan sebuah restoran adalah 100 juta, maka total anggarannya adalah 5 juta. Nilai tersebut misalnya adalah 3 juta untuk fee, dengan 2 juta sisanya untuk keperluan pengembangn konten. Tentu saja harus dievaluasi. Misal target omzet belum tercapai, maka anggaran dikecilkan. Atau sebaliknya, ketika realisasi melebih target, maka anggaran ditambah.

Strategi Perekrutan Marketing Freelance

Ada kalanya perusahaan bukannya bertujuan memasarkan atau menjual, melainkan sekedar menekan biaya gaji dari anggota tim marketing dan sales. Bisa saja dilakukan. Dengan contoh mempekerjakan mahasiswa magang. Untuk desain komunikasi visual, atau pengembangan konten website. Atau menerima freelance dari mereka yang baru saja lulus dari perguruan tinggi sembari dalam proses penerimaan kerja tetap di perusahaan lain.

Dengan strategi demikian, maka anggaran bisa ditekan. Tanpa perlu mengkhawatirkan “cabut”-nya salah seorang anggota tim. Sebab perusahaan akan dapat dengan mudah menemukan tenaga magang atau tenaga freelance yang lain.

Ini adalah pandangan pemberi pekerjaan freelance. Bagaimana pendapat para freelancer?

Tidak ada yang mau menjadi tenaga freelancer selamanya. Cepat atau lambat, pekerjaan freelance akan berakhir. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  • Pekerjaan freelance sebagai tambahan atau sampingan semata. Terutama oleh ibu rumah tangga yang punya suami dengan pekerjaan tetap.
  • Freelance hanya sementara sampai dengan mendapat pekerjaan yang lebih permanen. Semisal menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau pekerjaan lain di kantor swasta yang terjamin hingga masa pensiun tiba.
  • Begitu banyaknya order freelance, sehingga sang freelance sendiri bisa menaikkan status sosial dan ekonominya. Dari sekedar freelance, menjadi business owner. Sehingga dia mulai membangun tim, serta membagi-bagi tanggung jawab menurut proses bisnisnya.

===

Related Post:

Resensi Dua Novel


Dua novel berikut ini untuk menambah referensi maupun perspektif baru anda. Kalau (terpaksa) dianalogikan dengan coding di industri digital, ini adalah upaya untuk menambah library kamu. Di samping juga untuk memperkaya cara berekspresi via tulisan.

Instead of setia terhadap karya-karya penulis seperti Tere Liye, Dewi Lestari, Adhitya Mulya, alangkah baiknya untuk menambah perspektif baru dari penulis dari dua buku yang saya bahas berikut ini.

cinta-tak-pernah-tepat-waktu-back

Yang pertama adalah Cinta Tidak Pernah Tepat Waktu dari Puthut EA. Siapa yang menulis, menjadi pertimbangan bagi saya dalam memilih novel. Puthut EA ini editor senior, termasuk pendiri dan pemilik kira-kira untuk media digital kekinian dengan brand Mojok (www.mojok.co).

kambing-dan-hujan-new

Yang kedua adalah Kambing dan Hujan yang dikarang oleh Makhfud Ikhwan. Dasar ceritanya adalah perbedaan-perbedaan dalam praktik beragama antara Nadhlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah. Makhfud mengilustrasikannya dengan baik sekali via keberadaan dua masjid di sebuah kampung; satu Masjid Utara, satunya adalah Masjid Selatan. Penulis mengekspresikan plot cerita lewat sejarah pemikiran-pemikiran, maupun upaya-upaya dari tokoh-tokoh –bisa disebut persaingan antar masjid-di antara kedua masjid tersebut. Cerita ini menarik sekali karena disentuh dengan pendekatan seorang pemuda dan seorang pemudi yang baru saja wisuda dan ingin menikah. Si pemuda biasa berjamaah di masjid utara, sedangkan si perempuan biasa berinteraksi dengan masjid selatan.

Sebagaimana disampaikan di kaver belakang, karya Puthut EA berkisah tentang pergolakan pemikiran, goncangan batin, pencarian cinta, dan upaya untuk menyembuhkan diri dari penyakit yang diderita sang tokoh utama.

Sebagai lelaki, saya gemes melihat si tokoh utama ini. Galau terus, susah move on, gak mencari solusi atas ke-jomblo-annya. Saya dulu mengalami hal yang sama #eeaaaa tapi bagaimanapun juga life must go on hidup harus berjalan terus dengan atau tanpa dia. Namun ke-gemes-an itu justru mendorong untuk menyelesaikan novel ini. Apakah sang tokoh utama kiranya akan mencapai plot yang dikehendaki oleh semua pembaca? Yaitu, sukses mengatasi semua problematika hati dan pikiran tersebut sehingga berhasil merangkai cinta dan mengakhirinya di pelaminan bersama seorang wanita?

Di ujung akhirnya agak gantung. Karena penulis tidak menceritakannya sampai ke sana. Tapi, teknis kepenulisannya secara tersirat berhasil menyatakan kepada pembaca bahwa si tokoh utama berhasil move on setelah gagal untuk kesekian kalinya—telat menyatakan cinta hanya beberapa minggu kepada kasir sebuah kafe—yang kebetulan duduk bersebelahan dalam sebuah kereta dan ternyata wanita yang bersangkutan baru saja menikah.

Info menarique tentang kategori pekerjaan “Pembunuh Bayaran”:

  • Buku A = Buku yang dianggap penting oleh tiap pembunuh bayaran. Tanpa dibayar. Sebagai pernyataan sikap politik maupun ideologinya.
  • Buku B = Buku proyek pribadi si pembunuh bayaran, semisal novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dll.
  • Buku C = Buku yang dianggap cukup penting, dengan imbalan yang memadai.
  • Buku D = Proyek senang-senang: menovelkan film, membantu menuliskan pengalaman para teman, yang biasanya berawal dari rasa senang dan ingin mencoba hal-hal yang baru.
  • Buku E: Buku yang dibuat oleh seseorang untuk tujuan-tujuan tertentu. Biasanya yang membuat adalah para pejabat, konglomerat, atau artis.

Bagaimana dengan karya Makhfud Ikhwan? Saya mengagumi karya ini karena direkayasa sedemikian rupa. Dalam istilah saya, fiksi ini ditulis dengan pendekatan non-fiksi. Tentu ini sok tahu-nya saya. Tapi maksud saya begini: pengumpulan fakta dan data dulu—kisah cinta tertolak antara insan NU dengan insan Muhammadiyah pastinya sangat menarik. Diikuti dengan penyusunan plot demi plot cerita. Penetapan nama dan pembentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Analog dengan pengembangan aplikasi digital, setiap perpindahan server dan environment yang baru, penulis selalu melakukan penyesuaian ulang, apakah setiap kata, kalimat, dan paragraph koheren menyusun cerita yang menarik.

Kambing dan Hujan itu, pemberian judul yang menarik. Tapi analoginya kurang masuk bagi saya. Kambing memang menghindari hujan, namun hujan tidak menghindari kambing, ‘kan? Padahal kedua ayah yang diceritakan memang saling menghindari satu sama lain.

Omong-omong, karya Makhfud Ikhwan ini menjuarai sayembara novel dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di tahun 2014.

Haruskah pekerjaan freelance diteruskan?


Sekarang ini, di waktu reguler saya bekerja di kantor. You know, lha. Pagi sampai sore. Senin sampai Jumat. So, I can do the father-ing activities pretty much.

HARUSKAH PEKERJAAN FREELANCE DITERUSKAN_

Sebelum di kantor sini, saya sempat bekerja freelance. Cukup lama, kalau saya bandingkan dengan teman-teman yang lain di kantor sini. Ada yang beberapa bulan. Paling lama setahun. Karena saya bekerja freelance sampai 25 bulan.

Sebenarnya, sampai sekarang juga saya masih mengerjakan beberapa pekerjaan freelance. Kalau teman-teman yang tadi saya ceritakan, mostly mereka web developer. Sementara saya seorang penulis konten. Ada juga buku yang saya tulis.

FYI, beberapa orang menjadikan profesi “freelance” sebagai alibi. Beneran jadi alibi? Maybe yes, maybe no. Mungkin mereka sedang mencari kerja kantoran, tapi belum dapat. Jadinya yes, alibi. Soalnya belum dapat kerjaan freelance yang baru, jadi iseng-iseng buka toko online lha, buka layanan desain grafis, social media administrator, content writer, dst.

Kecuali memang, freelance adalah makanan mereka sehari-hari. Berarti freelance-ing bukan alasan. The very big NO. Studi kasusnya memang ada nih. Teman saya sendiri. Setelah sekitar 10 tahun freelance sebagai web developer, akhirnya direkrut bekerja sebagai karyawan tetap. Tapi perusahaanya di eropa timur sana. Dia kerja remote dari Bandung. Mulai kerja jam 11 pagi mengikuti waktu bekerja employer-nya di sana.

Freelance is BAU

Kenyataan yang cukup sering dilupakan orang adalah, freelance-ing is really business as usual (BAU). When you think and talk about BAU, it is not necessary as sales and operation only. But also marketing (branding and promotion), finance management, network development, product/service research and development, etc.

For example: 

  • Branding: establish personal blog/social media, search new audience, and put content frequently 
  • Promotion: do some discount, cashback, etc to attract a new buyer or retain customer 
  • Product/service research: searching/creating “the next big things”
  • Network development: routinely attend the communities meeting, actively participate in creating communities event, etc 

So, the BAU’s problem of freelance-ing (if you really want to be serious in it) is it really takes so much of your personal resource.

Kita ambil contoh freelance writer deh, ya:

  • Branding: bikin dan mengisi profesional blog. Tulisan yang sama bisa juga dirilis di facebook fan page. Bikin Instagram, tiap link konten baru diposting di sana. Menulis buku sendiri supaya dipajang di toko buku, dll
  • Promotion: bikin penawaran harga diskon untuk calon pemberi kerja yang baru, kalau perlu kasih contoh gratis, dll
  • Product research: cari topik baru yang lagi tren: misalnya, parenting, islam, komedi satir para jomblo, kuliner, wisata, dll
  • Network development: cari referensi brand yang suka bikin product review, ikutan komunitas blogger, dst

So, If you just wanna operate with limit resource, then it may not getting any bigger.

Mau besar? Harus bangun tim, menetapkan business process, berbagi fungsi, harus sedia uang kontan dulu di depan (dari pinjaman atau investor), bikin dan mengejar target, dst.

Tentang Harga

Perspektif lain adalah soal harga.

Harga mulai bisa menyenangkan, kalau kinerja kamu sudah bagus. Syarat performance dan service yang setidaknya good, bisa dilihat dari portfolio dan jam terbang. Itulah persoalan dengan situs-situs semacam freelancer, upwork, dll. Pasar freelance seperti itu terlalu banyak dimasuki oleh para pemain baru.

You know, pemain baru selalu masuk dengan harga rendah supaya bisa dapat pekerjaan. Sementara, kualitas pekerjaannya sendiri masih di tahap belajar. Jadinya, pemberi kerja juga belum mau membayar tinggi. Mengapa demikian? Pemberi kerja juga berpikir, daripada saya bayar lebih mahal, lebih baik saya kerjakan sendiri saja. Kalau cost-nya masih terjangkau, tidak apa saya outsource. Klop sudah, penyedia jasanya ya begitu, jadinya yang meminta jasa juga begitu.

Itulah yang menjadi dasar lahirnya pertanyaan sekaligus judul di atas. Dalam perspektif freelancer, untuk apa saya ngoyo mengerjakan proyek kalau angkanya cuma segitu (karena mengikuti harga pasar yang banyak diterjuni oleh pemain baru berharga murah)? Pun saya memberikan lebih baik, belum tentu pemberi kerja mau menaikkan tawarannya.

Ini adalah pikiran dari pekarya (meminjam istilah Pandji) yang percaya diri dengan kualitas karyanya.

Beberapa teman di komunitas blogger, yang mostly perempuan itu, cukup sering menyebutkan diri mereka sebagai freelance. Saya menduga-duga, freelance-ing satu ini adalah aktivitas lain mereka selain peran utama sebagai Ibu Rumah Tangga. Saya tidak sedang mendiskreditkan IRT ya. I mean, mungkin belum mengambil waktu se-massive pekerjaan kantor yang 40 jam seminggu. Actually, pekerjaan rumah tangga itu lebih menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Cukup stressful, pula.

Sebagai istri dan Ibu Rumah Tangga, saya rasa mereka masih ada Suami yang menjadi tulang punggung ekonomi dan keluarga. Jadi aktivitas mencari dana adalah aktivitas sekunder yang bervariasinya pendapatan (antara banyak dan banyak sekali, hehe) belum mendatangkan masalah. Sebab, ada suami yang memiliki pekerjaan (dan gaji) tetap.

Beda banget kalau suami dan/atau istri, sama-sama hidup dari menyediakan jasa yang sifatnya freelance. Pastinya bukan hal yang mudah hidup dengan ketidakpastian pekerjaan (dan penghasilan). Bagaimana dengan saya sendiri?

Saya lebih memilih punya pekerjaan tetap dan menolak proyek kalau harganya tidak memuaskan bagi saya. Saya punya metodologi dalam bekerja, serta standard tertentu yang harus saya capai. Atas keduanya, saya tidak ingin memberi sembarang price tag.

Dari teman-teman pembaca, mungkin ada pendapat? Ditunggu komentarnya di bawah ya 🙂

Sales Supervisor


Kriteria penting untuk menjadi area sales manajer adalah mampu mengelola tim. Mampu berhubungan baik dengan anggota tim dan mampu memotivasi kinerja mereka. Sesekali harus menyediakan waktu untuk melakukan visit kepada customer. Di samping untuk mendengar langsung masukan dari pelanggan, serta untuk mengevaluasi kinerja anggota tim yang melayani pelanggan tersebut. Anggota tim belum tentu semuanya adalah sales yang turun ke lapangan. Salah satu anggota tim adalah Sales Administrator atau Sales Admin.

supervisor

Sales administrator. Day-to-day bekerja di kantor mengelola berbagai dokumen penjualan. Mengkoordinasikan sales manager, sales supervisor, dan tim sales lainnya dalam perihal laporan-laporan yang dibutuhkan. Alias menagih tim sales untuk membuat laporan. Bahkan mungkin membuat laporan penjualan untuk area yang dipimpin oleh sang Sales Manager. Di samping itu adalah menghimpun dan merangkum database pelanggan. Selain itu, bisa jadi menerima order/pesanan dari pelanggan via telepon.

Orang yg menghandle area di perusahaan adalah area sales manager. Jadi wilayah penjualan yang dipertanggung-jawabkan olehnya, dibagi-bagi lagi menjadi territory yang lebih kecil. Wilayah penjualan ‘kan tidak hanya soal menjual sebanyak-banyaknya. Tetapi juga bagaimana menjaga dan mempertahankan pelanggan. Masing-masing territory dipegang oleh Territory Sales Supervisor (TSS).

Kalau sedang melamar kerja, lalu ditawari posisi Sales Supervisor, coba dianalisis terlebih dahulu jabatan Sales Supervisor yang ditawarkan. Apakah di perusahaan pemilik produk (brand owner)? Atau dari perusahaan distributor?

Job desk sales supervisor

Bila bekerja di perusahaan brand owner.

  • Sebagai bagian dari perusahaan yang berhadapan langsung dengan distributor pelaksana
  • Sales supervisor melaksanakan sistem penjualan yang sudah dikembangkan oleh perusahaan
  • Sales supervisor sebagai perwakilan perusahaan, sehingga wajib menjaga citra perusahaan
  • Boleh berteman baik dengan orang dari distributor, tetapi tidak perlu curhat yang dapat menurunkan kredibilitas diri atau citra pribadi

Tugas Sales Supervisor

Apabila distribusi dilakukan oleh tim sendiri. Bukan oleh distributor yang ditunjuk.

  • Pemimpin tim kerja (tim nya ada driver, salesman taking order, merchandiser, sales admin, dll) sehingga harus membentuk tim kerja yang solid
  • Memotivasi, melatih, mengembangkan salesman serta mengevaluasi kinerja salesman
  • Memecahkan masalah tim
  • Mengontrol perubahan

Keterampilan TSS

  • keterampilan administratif
    • keterampilan mengelola dokumen
    • keterampilan mengkoordinasi laporan-laporan yang dibutuhkan
    • keterampilan mengelola berbagai hal yang berhubungan dengan administrasi penjualan
  • keterampilan human relation
    • komunikasi
    • konseling
    • pendelegasian
    • kepemimpinan
    • penyelesaian konflik
  • keterampilan teknis
    • pengetahuan produk sendiri, produk kompetitor, serta produk substitusi
    • keterampilan menjual dan negosiasi
    • pengetahuan pelanggan dan wilayah
    • pengetahuan pasar/industri

Tugas Penting Salesman

Menurut salah seorang pakar pemasaran, Kotler, seorang salesman juga memiliki beberapa tugas-tugas penting yang meliputi:

1. Prospecting (Mencari prospek).
2. Targeting (Menentukan alokasi waktu mereka diantara prospek dan para pelanggan).
3. Communicating (Menyampaikan berbagai informasi seputar produk yang telah dihasilkan oleh perusahaan).
4. Selling (Melakukan pendekatan, presentasi, menjawab pertanyaan/keberatan , dan menutup penjualannya).
5. Servicing (Memberikan layanan bagi pelanggan, mengatasi keluhan, memberikan bantuan teknis, mengatur keuangan, dan untuk mempercepat pengirimannya).
6. Information gathering (Melakukan riset terhadap pasar (meliputi pelanggan dan kompetitor) dan menentukan tindakan seperti apa yang paling tepat untuk permasalahan tersebut).
7. Allocating (Memutuskan pelanggan mana yang nantinya akan mendapatkan produk yang langka selama masa kehabisan barang).

Melakukan riset terhadap pelanggan dan melakukan competitor benchmarking. Mengetahui taktik-taktik yang dilakukan oleh kompetitor.

Maka dari sinilah peran sales yang sangat penting bagi perusahaan agar perusahaan mampu menghasilkan pendapatan yang kemudian akan dikelola lagi agar bisa menghasilkan produk.

Namun dengan perkembangan bisnis yang sudah semakin pesat dan semakin membludaknya produk-produk baru di pasaran, maka persaingan yang semakin ketatpun menjadi tidak mungkin bisa terhindarkan. Seorang salesman akan semakin dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan harus memiliki inovasi agar bisa menjadi the smart salesman, dalam menghadapi kuatnya persaingan tersebut.

Smart Salesman 

Berikut ini merupakan beberapa tips dalam membuat strategi penjualan yang harus Anda coba agar dapat menjadi seorang the smart salesman:

  1. Melatih diri untuk menggali ide-ide baru.

Ide-ide baru seputar mendapatkan pembeli baru, mempertahankan pelanggan lama, menagih pelanggan, mengeluarkan lebih banyak barang dari gudang, dan lain sebagainya.

Ide-ide baru bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja. Dari sharing dengan sesama teman-teman salesman, atau pengamatan langsung pada saat berada di lapangan.

 

2. Menganalisis untuk mengeksekusi ide-ide tersebut.

Setelah mendapatkan ide baru, maka buatlah analisis untuk langkah-langkah seperti apa yang harus dilakukan untuk menjalankan ide-ide tersebut. Membuat analisis akan sangat membantu Anda untuk mereview kembali tentang apa saja kelebihan dan kekurangan dari ide-ide tersebut serta untuk menentukan bagaimana jalan keluar terbaiknya.

Dasar analisis ini adalah insight yang diperoleh dari pelanggan/pasar. Serta taktik penjualan yang dilakukan oleh kompetitor.

Anda bisa mengajukan pertanyaan tentang “ bagaimana Anda dalam melihat cara tersebut agar menjadi lebih efekti?, bagaimana orang lain yang dapat melihat jika cara tersebut bisa menjadi lebih efektif? Bagaimana para konsumen agar dapat dengan mudah untuk mengetahui strategi seperti apa yang ingin dijalankan? Bagaimana para kompetitor mampu menghadapi cara tersebut?”,  yang dapat membantu Anda untuk lebih mempermudah dalam memetakan langkah-langkah seperti apa yang harus bisa diambil.  Jangan pernah merasa ragu untuk membuat perubahan.

3. Memiliki mental yang cukup kuat.

Melakukan sebuah perubahan dan menjalankan hal-hal yang baru memang bukan sebuah perkara yang mudah untuk dilakukan. Dibutuhkan adanya mental dan komitmen yang cukup kuat dalam menjalankan hal-hal yang baru dapat memberikan tantangan tersendiri.

Seorang salesman harus tahan banting karena pasti sering ditolak oleh pelanggan.

Termasuk ketika memiliki ide baru. Belum tentu diterima oleh lingkungan. Sehingga dibutuhkan mental dan komitmen yang kuat dalam mengeksekusi ide baru tersebut.

4. Menjadi seorang pembelajar yang baik.

Belajar dari semua orang. Dari pelanggan, dari teman salesman, dari Sales Manager, dan seterusnya.

Kalau berhasil belajar dari teman-teman kantor –selain salesman–, mungkin bisa mendirikan usaha sendiri.

Untuk bisa menjadi seorang salesman yang lebih kreatif, maka Anda harus mulai untuk banyak belajar, baik secara langsung dari lapangan atau dari berbagai sumber terpercaya. Tetap terus untuk mengembangkan pengetahuan dan dari wawasan untuk meningkatkan kualitas Anda.

Dengan adanya kreatifitas dan inovasi dalam membuat strategi terbaru maka akan semakin membuat Anda dapat tampil semakin lebih berbeda, dimana ‘perbedaan’ seperti inilah yang nantinya akan mampu menarik para konsumen, sehingga semakin lebih memudahkan bagi Anda untuk mencapai target penjualan.

Jangan takut gagal mencapai target. Bisa jadi memang perusahaan mematok pertumbuhan yang berlebihan.

Referensi:

Membersamai Anak-Anak


Lewat tulisan ini saya ingin berargumen bahwa anak-anak itu jangan diproteksi. Intinya, ada batas dalam memproteksi anak-anak. Daripada diproteksi habis-habisan, mungkin lebih baik kita membersamai anak-anak.

WhatsApp Image 2018-02-18 at 21.05.42

Kendali atas TV dan Smartphone

Kita mulai dengan yang punya pengaruh kuat di rumah-rumah: Televisi. Sebenarnya, kita punya kekuatan kok untuk mengendalikan TV. Namun yang sering saya lihat, banyak keluarga yang menyerah dengan TV. Merasa harus punya TV seperti tetangga. Tidak bisa tidak menyaksikan tayangan TV. Bahkan meskipun ada kesibukan di rumah dan tidak bisa menonton, TV tetap dinyalakan.

TV itu menyajikan beragam konten. Berita, sinetron, film, acara anak-anak, music, dan lain sebagainya. Engagement yang kuat dari TV itu menjaga anak-anak kita tetap duduk manis di hadapannya. Harus diakui, kami sebagai orang tua ini kalah dari TV yang mampu menyajikan beragam konten itu. Mungkin itu yang bikin saya ragu mempunyai TV ya. Tapi, saya tanyakan ke istri juga, sebenarnya pendapatnya dia tidak jauh berbeda dengan saya.

Kalau dibandingkannya dengan internet, TV jelas kalah. Internet justru membuka ruang yang lebih besar. Baik untuk entertainment (hiburan), maupun pendidikan, serta lain sebagainya. Internet juga punya sisi buruk seperti pornografi, game online, dan sebagainya. Internet bahkan lebih kuat daripada TV.

Namun bagi saya, internet jelas lebih bisa dikendalikan. Sudah ada aplikasi-aplikasi di tier-nya komputer atau browser yang bisa bantu kita menyaring (filtering) konten-konten tidak bermanfaat. Belum lagi aksesibilitas anak-anak yang bisa dibatasi sama kita selaku orang tua. Anak-anak menonton via smartphone, maka smartphone itu yang kita batasi. So far, via YouTube Anak Dua di rumah hanya menonton serial RoboCar Poli dan Cloud Bread.

Semua security itu tentu saja dapat di hack oleh anak-anak. Sooner or later. Because children will grow then they will find it. Karena itu semua hanya alat bantu. Karena manusia yang menciptakannya, maka yang manusia pula bisa mengatasinya. Segala security –dalam bentuk apapun– sifatnya hanya sementara.

(Baru berapa hari yang lalu, ada rekan yang cerita bahwa di kuliah tentang security, salah satu tugasnya adalah menemukan nomor handphone salah satu orang selebriti tertentu. PR ini bisa mudah bisa susah. Tergantung caranya. Nah, ternyata keahlian-keahlian di bidang security didasari dari kemampuan mengulik suatu celah keamanan tertentu.)

Bicara proteksi sekaligus mendidik anak-anak, saya kira kita bisa belajar dari sekolah berasrama.

Sekolah Berasrama

Sekolah-sekolah berasrama adalah produk-produk pendidikan yang mulai tren sejak tahun 1990-an. SMA saya sendiri bahkan didirikan persis di tahun 1990 tersebut. Saya dan orang tua, masing-masing punya alasan untuk bersekolah di sana. Saya, baru masuk 12 tahun sejak pendiriannya, memang melihat nama besar (pada tahun itu) sekolah tersebut. Sedangkan orang tua saya memandang sekolah berasrama –yang anti rokok, narkoba, dan minuman keras—sebagai institusi yang edukatif sekaligus protektif terhadap anak-anak; Dan menurut beliau itulah yang seharusnya diterima oleh saya.

Misalkan kita memproteksi anak-anak dengan menyekolahkan mereka di sekolah asrama. Di asrama, biasanya ada “proteksi” berupa media-media yang diperkenankan masuk di sekolah. Penayangan TV ada jamnya. Ada koran dinding dari surat kabar tertentu. Memang sih, tidak dilarang menerima informasi dari luar sama sekali; tetapi ya tidak bisa juga mendapat informasi sebebas-bebasnya.

Sekarang era internet, mosok gak ada akses ke internet? Tidak bisa dihalangi sama sekali, memang. Tapi kenyataannya proteksi itu tetap ada. Misalnya lewat pembatasan penggunaan handphone dan laptop.

Kita tambahkan syarat dan ketentuannya. Misalnya itu adalah sekolah berasrama berbasis agama dengan intensitas pengajaran seputar ibadah, fikih, muamalah, dan sebagainya hingga 10 jam seminggu. Di sini kita bisa menyebut bahwa kita memberikan lingkungan yang edukatif terhadap anak-anak. Sekaligus protektif sebagaimana berbagai fitur sekolah berasrama yang “mencegah dan mengatasi kenakalan remaja”.

Pasca kelulusannya, bisa jadi si anak akan “gagap” untuk sementara waktu. Gagap, alias kaget melihat lingkungan sekitarnya ternyata belum se-ideal di sekolah dahulu. Penerapan pengetahuan agama semisal hijab sebagai pakaian, atau hubungan antara lelaki dan perempuan yang bisa jadi tidak berjarak, dan lain sebagainya. Buruk-buruknya, si anak bisa terjerumus ke “kebebasan” tersebut. Saya sendiri menyaksikan langsung beberapa teman yang “berubah” tersebut. Contoh ini sekedar cuplikan kasus ekstrim ya. Statistiknya tentu tidak demikian.

Intinya begini, bagaimanapun kita memproteksi anak-anak, cepat atau lambat mereka akan terkena eksposurnya juga. Jadi daripada memproteksi berlebihan, lebih baik mereka terekspos dengan sepengetahuan kita. Sehingga kita bisa mengarahkan, minimal berdiskusi tentang interpretasi maupun perspektif mereka terhadap hal tersebut. 

That’s why I thought we should not just protect them, but we should accompany them to explain how the world outside you (children) is. The world may be bad, hard, competitive, egoistic, self-minded, etc. Those may be perceived by your children from their sight, school or from mainstream media. Or from the world that exposes to them. But, there are always many good things outside there. You just only need provide time and patience in showing that goodness to them. For example in praying.

Teaching children to be focus and patience with his praying really takes a lot of time. Mines are three years old now. They show more positive attitude towards “in the mosque” behaviours rather than a year ago. But still, they are not focused yet to start and finish their praying. Why? Since many disturbances for them. Wide area of mosque to be explored by running around, other children that persuade them to play together, etc. Un-exposing these to children is not good, I guess. But, what we should do is just accompany them and explain the circumstances itself together with the goodness and badness. That’s why I always do briefing to children before entering the mosque. 

We think positive that however, this is a good progress, compared to other older kids that still going around the praying area. They looks to disturb the “jamaah” while praying.

So far, I guess we as parents could influence our children when they already trust us. How to get their trust?

Being father means being trusted by children.

Bagaimana caranya supaya bisa trusted? Ada formula lama dari David Meister yang bisa diaplikasikan ke berbagai bidang. Termasuk parenting. Komponennya ada 4. Credibility, reliability, intimacy, dan self-orientation.

Kredibel artinya punya kemampuan di bidangnya. Tentu tidak semua bidang dikuasai oleh father. Tapi sebagai pembesar anak-anak, sudah sepatutnya kita turut “menguasai” lingkungan di sekitar kehidupan mereka. Lingkungan dalam rumah dan tetangga, mengenal teman dan guru di sekolah, hingga orang tua dari teman-teman mereka.

Sedangkan reliable berarti having children as our “primary customer”. Ibarat di perusahaan, tentu ada kategori customer yang sangat kita junjung tinggi kan. Logika yang sama kita gunakan dalam “melayani” anak-anak. Kita harus menjadi father yang bisa diandalkan (reliable) oleh anak-anak. Because children will realise out weakness/limit, sooner or later. Indeed, we’re not perfect at all.

Intimacy. Menjadi ayah bukan berarti menjadi orang galak. Tegas berlebihan bisa jadi galak. Tapi bukan di situ yang harus dicapai dalam fathering. Anak-anak butuh ketegasan, bukan butuh orang galak.

Kita perlu menghindari peran orang galak di rumah. Yang dibutuhkan anak-anak adalah orang tua yang bersikap dekat, hangat, dan akrab dengan mereka. Oke, mereka butuh ketegasan, butuh diajarkan menjadi tegas, tapi itu not all the time, sih.

Jangan sampai kepulangan kita ke rumah dari kantor, hanya memunculkan pikiran “satpam” atau polisi” dalam benak mereka.

Konsep terakhir, self-orientation, dalam model yang dikembangkan oleh David Meister, adalah sebuah pembagi. Sehingga, trust semakin besar kala self-orientation bisa ditekan sekecil-kecilnya. Anak-anak perlu dan harus menyadari bahwasanya dalam kehidupan kita bersama dengan mereka, kita tidak sepenuhnya hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi kita memang sangat memprioritaskan mereka.

Mungkin saja terjadi, kita berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, karena mereka memang prioritas kita, namun mereka tidak menyadarinya. Nah, menjadi tugas kita mengkomunikasikan ke mereka, atau membuat mereka paham dan meyakini, bahwasanya kita memang berusaha memberikan yang terbaik kepada mereka. Konsep yang sama, sebenarnya berlaku di hubungan kita dengan pelanggan, ‘kan?

So? Accompanies, not protection.

Saya gak selalu bisa memberikan quality time kepada keluarga kecil saya. Namun saya yakin, seiring saya bisa menyediakan quantity time, maka quality time akan hadir dengan sendirinya. Sama seperti pelanggan kita ‘kan, susah bagi mereka untuk terus belanja lagi, lagi, dan lagi ke kita, kalau kita saja tidak menyediakan waktu yang banyak untuk bertemu dan berinteraksi dengan mereka.

Sama seperti menonton TV, kan ada tuh keterangan BO (Bimbingan Orang Tua). Maka anak-anak harus ditemani. Diberikan interpretasi tambahan dari kita. Dijawab pertanyaanya. Sebenarnya, menyelami pertanyaan anak-anak juga penting. Because we know they will grow into somebody. They will be somebody that we don’t know now. Could we direct their grow in goodness? Jadi mendalami pertanyaan anak-anak adalah bagian dari metode pengukuran oleh kita atas tumbuh kembangnya mereka.

Sama seperti kita menyelami pelanggan, ‘kan? Dengan mengenal lebih jauh dan lebih mendalam, maka kita akan mampu mengiringi mereka meningkatkan transaksinya bersama kita.

Tulisan ini diinspirasi kala pertama kali ke toko buku bersama anak-anak, excited banget si mereka. Karena ada banyak hal baru yang mereka lihat dan temukan. Namun, mereka masih kesulitan dalam menginterpretasikan segala yang mereka lihat. Mereka punya pertanyaan yang butuh dijawab, butuh ditemani di tempat yang sama sekali asing bagi mereka. Melihat hal yang berbeda dari yang ada di rumah dan di sekolah, dan lain sebagainya.

Saya selalu tertarik dengan buku. Tapi kali ini saya harus menekan ego saya. Instead of tenggelam dalam pilihan berbelanja di sana, saya memilih untuk menemani anak-anak, menyelami keingintahuan mereka, menjawab pertanyaannya untuk kemudian memberikan arahan-arahan kepada mereka. Saya harus berperan sebagai ayah yang benar dulu di sini.

Being father means being somebody that always be missed. We may do not have all the time to raise our family. We should work outside then bring resources to home. At that time, the children grow. But we should not lose our focus on them. When they aware that they always be loved, they will listen and grow as our expectation.

Bandung, 29 mei 2018.

Perbedaan Marketing Perbankan dengan FMCG


Dalam 7 hari terakhir ternyata ada yang mampir ke blog ini karena mencari tahu tentang “perbedaan marketing perbankan dan FMCG”. Fast Moving Consumer Goods. Kita coba ulas sedikit ya 🙂

62bstrategi2bmarketing2busaha

Marketing Perbankan

Di perbankan, pelanggan (nasabah) dibagi menjadi nasabah perorangan/ritel dan nasabah bisnis (UMKM, Commercial, dan Corporate). Nasabah ritel sendiri ada yang masuk kategori biasa, ada juga yang masuk kelompok “Luar Biasa”. Yang luar biasa tabungannya ini, punya sebutan macam-macam tergantung bank itu sendiri. Ada yang kasih nama Affluent, ada juga High-End Worth, atau lainnya. Intinya yang minimal saldo tabungannya di kisaran ratusan juta atau miliar. Jangan heran juga kalau bank bikin kategori nasabah dengan kekayaan di atas angka tersebut.

Nah, untuk nasabah perorangan kategori biasa, dilayani dengan berbagai produk di kantor cabang. Which is, hampir setiap produk tersebut ada product owner / product manager-nya di kantor pusat. Kalau di kantor cabang utama (KCU) / kantor cabang pembantu (KCP) / kantor wilayah (kanwil) biasanya hanya sebagai penyaluran/penjualan produk tabungan (tabungan biasa, kartu debit, tabungan anak, dll), pinjaman (kredit tanpa agunan, KPR, KKB), atau lainnya (internet banking, dll).

Untuk nasabah UMKM, Commercial, dan Corporate, tentu saja ada produk-produk lain yang ditawarkan. Tugas product owner/manager nya adalah:

  • melakukan riset needs and wants-nya si nasabah,
  • mengembangkan fitur-fitur sesuai kebutuhan/keinginan nasabah,
  • membuat dan melaksanakan program untuk menambah nasabah baru, atau menambah penggunaan oleh nasabah lama.

Tupoksinya relatif sama dengan product owner di nasabah ritel. Pengelompokan produknya juga sama: simpanan, pinjaman, atau lainnya yang tidak termasuk keduanya (ada yang menyebut dengan istilah FBI, Fee-Based Income). Dalam pendekatan penjualannya, hanya satu perbedaanya dengan nasabah ritel (terutama kepada nasabah korporat), yaitu bisa dilakukan kustomisasi khusus. Misalnya bunga yang lebih rendah, rentang pinjaman lebih panjang, kartu debit khusus karyawan korporat tersebut, dlsb.

Di mana produk-produk UMKM, Commercial, dan Corporate tersebut dijual? Tentu saja di kantor cabang – kantor cabang. Which is, kita tahu sendiri di Indonesia, pusat bisnis adalah di Jakarta. Sehingga produk korporat mostly “berkantor” di kantor pusat. Dengan salesman-nya harus mendatangi calon nasabah satu demi satu. Kalau commercial atau UMKM bisa “nebeng” di kantor cabang. Misalnya, produk pinjaman perbankan untuk industri shipping maka dijualnya di kantor cabang yang beroperasi di kota-kota pelabuhan: Makassar, Surabaya, Balikpapan, dlsb.

Kalau UMKM kan jelas ada di setiap kota kan ya. PR-nya bank adalah mendesain sistem distribusi produk tersebut yang paling efisien:

  • apakah harus ada kantor cabang khusus UMKM, atau
  • bisa “nebeng” buka kantor juga di KCU, atau
  • cukup menempatkan salesman khusus produk tersebut di KCU, atau
  • ternyata produk tersebut harus dititip ke general salesman yang jualannya palugada, dst.

Marketing FMCG

Tupoksi Product manager / product owner / brand manager di FMCG relatif sama dengan di perbankan. Mungkin tambahannya adalah harus pintar-pintar melakukan kerja sama. Tujuan kerja samanya ada dua. Secara umum adalah menurunkan biaya promosi atau supaya konsumen akhir (end consumer) tidak bosan. Misalnya lewat product bundling, atau co-branding product, atau co-promotion product.

Selain itu adalah bekerja sama dengan agensi periklanan (TVC, Radio, koran, online, event organiser, dlsb) dan perusahaan riset komunikasi (paling besar di Indonesia itu AC Nielsen).

Jadi di kantor pusat FMCG, selain yang sudah disebut di bagian perbankan di atas, adalah juga mengurusi komunikasi, promosi, dan branding merek-merek yang dikelola. Tentu saja berurusan dengan uang: membuat rencana kerja berikut anggarannya, dan mengevaluasi pelaksanaan di lapangan. Dinamika kompetitor dan consumer behavior (terdiri dari media behavior dan buying habit) turut mempengaruhi dan menentukan bagaimana seharusnya anggaran dihabiskan. Omzet ideal yang ditarget adalah 20 kali lipat dari biaya komunikasi yang dikeluarkan. Insight lain yang saya dapat di tahun 2015 adalah bahwa tingkat keberhasilan produk baru untuk bertahan di pasar hanya 16%.

Lalu, siapa yang menjual? Ada bagian penjualan tersendiri di FMCG. Untuk diketahui, target market di FMCG bukanlah konsumen akhir. Melainkan toko-toko di mana end consumer tersebut berbelanja. Berikut distributornya. Oleh sebab itu, perusahaan harus berkomunikasi langsung dengan end consumer. Baik lewat ATL, BTL, Online, bahkan via packaging!. Sehingga ada demand dari consumer untuk berbelanja produk/merek tersebut di channel langganan: minimarket, toko kelontong, supermarket, hypermarket, dlsb.

Jadi bagian penjualan ini menjual kepada perusahaan distributor. Tidak boleh menjadi distributor langsung. Minimal dengan badan hukum PT yang berbeda (meskipun mungkin dari grup usaha yang sama). Brand owner biasa memberi diskon kepada distributor. Distributor pun ada diskon tersendiri kepada channel.

Penjualan di minimarket franchise seperti si biru atau si merah, mungkin saja dilakukan langsung oleh si PT FMCG ini. Usaha ritel si merah dan biru punya warehouse (semacam gudang raksasa) sendiri. Jadi tinggal deal dan kirim barang ke gudang mereka.

Sementara demikian dulu. Mudah-mudahan bermanfaat, ya. Pertanyan bisa ke ihwanul.alim@gmail.com

Surabaya, 2 Juni 2018.

Antara Selera, Latihan dan Uang


Ada suatu masa dalam hidup saya di mana saya berada dalam persimpangan pilihan, yaitu mau hidup dengan cara apa? Cara yang membahagiakan karena uang banyak, atau happy karena apa yang dikerjakan?

Pilihan pertama

Yang pertama itu cari uang sebanyak-banyaknya lalu membelanjakan uangnya supaya kita happy. Bahkan bisa saja uangnya tidak didapat dengan cara yang tidak menyenangkan, kemudian uangnya bisa dibelikan apa saja yang menyenangkan.

Misalnya, kita tahu bahwa bekerja di bank, atau di industri minyak dan gas (migas) itu duitnya banyak. Jadilah kita memilih bekerja di sana. Meskipun kita tidak suka, tapi duit yang banyak itu bisa dibelikan beberapa mobil, beberapa rumah, pergi jalan-jalan ke dalam dan luar negeri, atau hal-hal lain yang bikin happy.

Pilihan kedua

Kalau cara kedua adalah mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness) via passion. Istilah passion ini mulai hype as the way to pursuit happiness, saya kira dalam satu dekade terakhir. Cara kedua ini juga terbagi dua lagi. Pertama, passion dulu baru berkarya; alias memang memiliki kesukaan tertentu, lalu memilih produktif menghasilkan karya yang fenomenal luar biasa. Atau rutin merilis hasil-hasil berkarya.

Aliran kedua bagian b –yang memang fokus tulisan ini–, adalah alirannya mereka yang tidak percaya bahwa passion itu memang ada. Cara mereka adalah mencoba dan mengeksplorasi berbagai bidang, kemudian memilih satu di mana mereka benar-benar jago/kompeten. Percobaan dan eksplorasi tidak berhenti di permukaan saja ya. Betul-betul didalami, tekuni dan dilatih terus-menerus.

Aliran 2b ini, salah satu kitabnya adalah buku “So Good, They Can’t Ignore You” dari Carl Newport. Sesuai judulnya, pesannya adalah “jadilah seniman terbaik dari karya kita, hingga orang tidak bisa mengabaikan keberadaan kita”. Quote barusan dari saya, belum tentu ada di bukunya. Tapi kamu sudah paham maksudnya, ‘kan? 🙂

Bahkan di era serba digitalisasi sekarang ini, di mana keterlibatan manusia semakin digantikan oleh robot (pekerjaan Customer Service pun mulai digantikan oleh ChatBot), ternyata pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya human touch malah semakin diperlukan. When human touch is needed, there is we should be so good. Pekerjaan seperti penulis, desainer, programmer, dsb malah semakin relevan karena seleranya.

Bahwasanya pekerjaan-pekerjaan tersebut menuntut suatu standard, selera, idealisme, –atau apapun istilahnya– dalam berkarya. Contohnya begini. Misalnya saya yang membaca lalu menganalisis karya tulisan orang lain.

  • Jika ada bagusnya, apa yang bisa ditiru lalu dari yang bagus tersebut?
  • Jika ada kelemahan, bagaimana saya akan memperbaiki kelemahan tersebut?
  • Saya membayangkan bagaimana bila saya menulis ide yang sudah ditulis tersebut. Bagaimana supaya lebih bagus?

Jadi, selera ini seharusnya menjadi keunggulan. Pembeda yang bisa ditawarkan kepada orang/pihak/institusi lain.

Kemudian soal latihan. Ambil contoh pesepakbola profesional. Mereka terus berlatih bahkan dalam hal-hal yang sangat sederhana seperti berlari dan menendang bola.

Saya bilang sih, pesepakbola itu dibayar untuk berlatih. Bukan untuk bermain. Dalam satu tim profesional berisi 33 orang, hanya 11 orang yang beruntung. Apalagi kalau menjadi pemain reguler, tentu dia karena memiliki keterampilan (skill) yang sangat baik dan dia juga beruntung.

Tadi malam, Real Madrid menjuarai UEFA Liga Champions ketiga kalinya berturut-turut setelah mengalahkan Liverpool 3-1. Sudah tiga kali dan berturut-turut, lho. Artinya ‘kan mereka tim Real Madrid sudah jago banget. Apa lantas mereka tidak perlu berlatih lagi?

Mereka jelas lebih jago daripada kita untuk urusan berlari dan menendang bola. Tapi mereka tetap berlatih hal-hal mendasar tersebut, ‘kan?

Contoh kedua dari link Core Skills for Technical Writers Often Overlooked ini, penulis yang merupakan seorang technical writer, mengeluhkan betapa generasi muda technical communicator melupakan hal-hal yang mendasari profesionalisme di bidang technical communication: good resume dan professional email(ing). Jadi, back to basic skill, lha.

Kedua contoh tersebut menekankan pentingnya terus-menerus berlatih. Baik diajari langsung oleh pengajar profesional, maupun via self-training.

Di sisi saya, saya harus konsisten menulis as part of my self training. Saya harus terus mempertajam selera dan standard, rutin mempelajari selera pasar, dan lain sebagainya. Misalnya, saya melihat keunggulan saya di feature journalism. Sebab saya ingin menyajikan data dan fakta dalam sebuah cerita yang memang menarik. Setiap artikel memiliki konteks masing-masing, namun saya menghendaki sebuah cerita yang abadi; cerita yang kapanpun dibaca masih selalu terasa maknanya.

Kesimpulan sementaranya adalah, selera harus dipertahankan bahkan harus terus ditingkatkan. Latihan ya harus terus-menerus dilakukan. Minimal berupa self-training. Bagi saya, itu adalah setiap setelah sholat subuh. Tentu tidak semua dirilis di blog ini. Atasan saya di kantor lama pun demikian; punya ritme khusus dalam menulis: setiap pagi setelah bangun tidur.

Akhirnya, saya berlatih untuk jujur terhadap apa yang saya rasakan. Kata Pandji, kejujuran macam ini akan berdampak terhadap karya-karya kita. Kejujuran dan orisinalitas kita pasti berimpak pada eksistensi, diferensiasi dan positioning kita di “pasar”.

Pilihan ketiga.

Dari sini muncul pilihan ketiga: menghabiskan waktu (bekerja) sesuai passion, tetapi mencari uang yang banyak dengan cara lain. Belakangan, akhirnya saya cenderung ke nomor tiga, instead of pilihan kedua.

Katanya sih, kalau sudah passion maka duit akan mengikuti. Iya sih, masuk akal. Kalau kita passion –> mestinya kita lebih produktif –> terus-menerus meningkatkan selera dalam berkarya –> personal brand terbentuk –> orang/institusi lain mulai memberi order/proyek ke kita –> duit mendanai passion kita. Dan siklus pun berulang.

Namun, ada mekanisme pasar yang berperan. Bagaimana pun passion dan kualitas karya nya, tentu ada faktor supply-demand yang ikut mempengaruhi tingkat harga di pasar. Duit bisa jadi datang terus, tapi bisa jadi harga semakin turun. Ini yang harus kita antisipasi.

Kalau kita sudah happy, tapi duit masih kurang banyak, kita harus kreatif mencari duit dengan cara lain juga. Misalnya berdagang (online), menyewakan alat atau aset, cari side job, dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan ada lain waktu untuk membahas hal tersebut.

 

Bisnis di Atas Bisnis Sepak Bola


Parma kembali ke Serie A, setelah promotion berturut-turut dalam tiga musim. Serie D -> Serie C, lalu ke Serie B, lalu ke Serie A. Klub ini pernah dipaksa degradasi ke Serie D karena dinyatakan bangkrut oleh pengadilan. Artinya, tidak punya uang yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya.

parma

AC Parma Golden Generation

Di tahun saya mulai menonton sepak bola, golden generation-nya klub ini menang besar 2-4 di kandang tim kuda zebra yang terkenal angker. Striker andalan mereka, yang masih menjadi pencetak gol terbanyak hingga kini, Hernan Crespo, membuat hattrick saat itu.

Main dengan pola 3-4-1-2, ada Juan Sebastian Veron sebagai playmaker di belakang dua striker. Saat itu, pengatur permainan (playmaker) mostly bermain di posisi itu. Ada juga Enrico Chiesa, pemain yang biasa menembak keras dari jarak jauh sebagai second striker. Ada kiper Gianluigi Buffon, yang di tahun ini gantung sepatu dari tim kuda zebra yang sudah disebut di atas. Ada Fabio Cannavaro yang tidak terlalu tinggi, tapi kokoh berhadapan dengan striker lawan dan selalu menempatkan diri lebih baik guna meng- intercept umpan pemain lawan sebelum sampai di kaki atau kepala striker yang dia jaga.

Parmalat dan City Group

Di era generasi emas tersebut, Parma disponsori penuh oleh Parmalat. Perusahaan berbasis peternakan sapi perah yang punya produk susu kemasan, keju, lalu belakangan masuk ke biskuit. Parmalat sangat dikenal karena produk susu UHT yang menjamin masa simpan lebih lama di dalam kulkas. Distributor dan toko tentu lebih senang menyimpan inventory yang awet seperti ini.

Founder dan Owner Parmalat, Carlisto Tanzi berinvestasi di persepsi orang lain terhadap dirinya: personal branding. Sama seperti para pemilik lain yang sebenarnya hanya bermain-main dengan klub sepak bolanya. Sebagaimana Silvio Berlusconi, pebisnis media sekaligus politisi yang pernah memiliki klub AC Milan. Kalau pada akhirnya “mainan” tersebut menyedot terlalu banyak duit daripada menghasilkannya, ya akhirnya dijual juga.

Singkat cerita, Carlisto Tanzi adalah “dewa” yang mengangkat harkat martabat Parma ke jenjang yang lebih tinggi: Serie A dan kompetisi antarklub di Eropa.

Dengan logo Parmalat terpampang di jersey Parma yang melanglang  buana ke berbagai kota di Eropa (via Winner, cup, UEFA cup atau Champions League), dan tentu saja lewat siaran sepakbola sampai ke Asia dan Amerika latin, model bisnis Parmalat mensponsori Parma sudah benar. Ekspansi ke eropa timur juga diikuti dengan rekrutan Hristo Stoichov yang mulai menua dan memudar di Barcelona. Ini sebenarnya mirip dengan yang dilakukan Manchester City dalam satu dekade terakhir.

Rute penerbangan Etihad Airways ke New York dan Melbourne diikuti dengan ekspansi City Group ke dua kota tersebut: akuisisi klub sepak bola New York City dan Melbourne City. Ekstensi brand “City” sebenarnya baru dilakukan pasca kedua klub tersebut sudah dimiliki. Jadi uang berlimpah yang digelontorkan via Josep Guardiola sebenarnya juga tidak ada salahnya. Toh, City mengekspansi semua channel yang mereka miliki kan.

Berkat channel yang mereka miliki, akhirnya ada pemain Liga Australia yang “merumput” di English Premier League. Yang bersangkutan dilepas oleh klub sepak bola Melbourne City.

Rentannya Keuangan Klub Sepak Bola

Parmalat di tahun kebangkrutannya sedang mempekerjakan 36.000 karyawan, merupakan perusahaan terbesar ke-8 di Italia, dan merepresentasikan hampir 1% dari GDP-nya Italia. Tapi punya utang sebesar 20 miliar USD yang tidak sanggup mereka bayar. Muncul pertanyaan, perusahaan sebesar itu, kenapa sampai tidak sanggup menyelesaikan utangnya? Simply karena utang-utang yang mereka ambil tidak berubah menjadi aset perusahaan. Melainkan diambil dan dimakan sendiri oleh keluarga Tanzi dan para pemimpin Parmalat saat itu.

Kebangkrutan Parmalat ini kemudian menjangkiti AC Parma yang . Tidak mampu merekrut dan mempertahankan pemain berkualitas diikuti dengan menurunnya performa klub di klasemen Serie A Liga Italia yang ujung-ujungnya adalah klub terdegradasi. Meskipun degradasi ke Serie B sendiri baru terjadi di akhir musim 2008/09.

Skandal Parmalat adalah ibarat skandal Enron, tapi terjadi di Eropa. Skandal Enron baru terjadi 2-3 tahun sebelum skandal Parmalat. Polanya sama: mengaku-aku punya pendapatan, tapi uangnya tidak pernah ada. Karena punya “pendapatan”, maka mengambil utang dalam jumlah besar. Pada akhirnya, utang inilah yang dilarikan ke aset-aset pribadi.

Keuangan klub sepak bola itu rentan (vulnerable) sekali. Sementara gaji pemain yang besarnya 50%-70% omzet perusahaan itu harus dibayar terus. Padahal, pendapatan klub bisa naik dan turun. Tergantung tahun depan bisa ikut Champions League atau tidak, atau bisa “mengamankan” berbagai sponsor (Nike/Adidas, atau sponsor lainnya), atau sumber-sumber merchandise lainnya.

Di bayangan saya, orang finance-nya klub sepak bola benar harus jago di atas kertas. Karena yang dia lakukan adalah melakukan valuasi aset, terutama terhadap pemain. Di atas meja perundingan, dia juga harus jago negosiasi banget.

Tadi malam Chelsea menang atas Manchester United (MU) di Final FA Cup. Kalau saya jadi manajemen MU, saya sudah tenang sebelum Final FA Cup tadi malam. Dapat piala FA Cup ya syukur alhamdulillah, enggak dapat ya tidak apa-apa. Masih ada tahun depan. Mengapa demikian? Sebab klub sudah aman; punya jaminan pemasukan dari Champions League musim depan. Berbeda dengan Chelsea yang anggaran belanja musim depan pasti melorot karena “hanya” bermain di Europe League.

 

Bandung, 20 Mei 2018

referensi:

https://www.theguardian.com/football/blog/2015/jun/23/parma-the-football-club-milked-for-all-their-worth

Memosisikan Anak sebagai Orang Dewasa


komuniksdi-dengan-anak-520x265

Semalam, Muzakki bertanya ke saya. Kami masih di masjid “biru”. Bertiga dengan adiknya. Muzakki bertanya, “kok Pak Alim berdoanya, Waqinaa adzaa ban-naar?”

Alhamdulillah, ibunya rutin mengajak dan membiasakan berdoa sebelum makan. Mungkin Zakki heran dan bertanya, kok di masjid doanya sama dengan doa sebelum makan.

Cek dan ricek ke si mbah, ternyata “Waqinaa adzaa ban-naar” artinya kira-kira “Dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Thanks to “Anak Dua“. Kami jadi belajar dari kalian yang lebih muda. Sudah seharusnya, sih. Belajar itu ke siapa saja. Kepada usia berapa saja. Alhamdulillah masih diberi legowo dan kerendahan hati untuk belajar dari siapa saja.

Itu pengantar deh. Berhubung ceritanya baru dapat tadi malam. Overall, tulisan kali ini sekedar catatan bagi kami saja. Kalau memang ada yang mendapat inspirasi dari sini, ya alhamdulillah. Mudah-mudahan bermanfaat, deh.

Berhubung di rangkaian acara pernikahan adik kami, ada yang nyeletuk, “Ngobrol ma anak dua itu kayak ngobrol sama orang dewasa”. Alhamdulillah, ini feedback positif bagi kami. At least, kami jadi tahu kami memberikan action yang tepat, sehingga Anak Dua turut membalas dengan reaction yang tepat pula.

Kalau kami bertanya ke diri kami sendiri, mengapa bisa begitu? Jawaban kami adalah, pada prinsipnya kami memandang dan menganggap anak-anak sebagai manusia dewasa. Terutama adalah, mereka berhak memutuskan sendiri dari pilihan-pilihan yang ada.

Pilihan-pilihannya bisa jadi berasal dari mereka kumpulkan sendiri. Atau mungkin juga dari yang kita sediakan. Bisa juga sih kita membatasi pilihan-pilihan buruk dari mereka dari apa yang mereka lihat atau dengar.

Di era informasi seperti sekarang ini, kontrol terhadap informasi itu berat banget. Kalau di era televisi, kita pemirsa akan terima-terima aja segala yang disodorkan. Namun sekarang, filtering-nya setengah mati. Butuh tiga hari untuk tahu apakah sebuah berita adalah hoax atau bukan. Bagi kami, YouTube masih mending. Anak-anak memang belum paham fitur search-nya. Namun, ke depannya history bisa kita awasi terus kan. Another problem kalau mereka sudah bisa menghapus history. Saat ini, at least saat ini kami sudah mulai dengan menghindari sinetron serta berita yang belum tentu terkait dengan keluar kecilkamu. Mungkin kapan-kapan saya bisa sharing perspektif saya tentang hal ini ya.

Jadi kita orang tua harus menganggap anak sebagai manusia dewasa yang punya pilihan. Jadi tanyakan misalnya, maunya apa? Menurut kamu lebih baik mana?

Orang dewasa ingin didengar. Apa pendapat mereka. Pun begitu pula dengan anak-anak yang kita anggap sebagai pribadi dewasa. Kalau kita “mengkerdilkan” anak-anak, termasuk dengan anggapan “namanya juga anak-anak”, maka sesungguhnya kita turut berkontribusi terhadap “perlambatan kedewasaan” mereka.

As we know, dalam islamic parenting tidak ada namanya remaja. Yaitu, usia biologis (yaitu fisik dewasa) yang lebih tua daripada usia psikologis (yaitu pemikiran anak-anak). Yang ada hanyalah aqil baligh. Dewasa secara fisik dan pemikiran.

Kami belajar dari anak itu seperti kami belajar dari orang dewasa. Kami positive thinking bahwa semua orang berusaha menjadi lebih baik; meski belum dan tidak akan sempurna. Anak-anak pun seperti itu. Mereka akan bertumbuh berkembang, memiliki kebisaan dan kemampuan tersendiri nantinya. Seiring sejalan dengan hal tersebut, kami berusaha mengenal mereka lebih mendalam.

Si W, ternyata pribadi yang tidak mau kalah, sulit mengalah, dan ingin menjadi nomor satu. Pribadinya memang introvert, sih. Dia menggali dari dalam dirinya sendiri kala ingin belajar/menjadi lebih baik. Dia ini kelihatannya excited soal menggambar/melukis. Inginnya sih, dia ada kesempatan ikut sanggar lukis yang gak terlalu jauh dari rumah.

Beda dengan Z, si kakaknya yang extrovert, senang dengan keramaian, selalu ingin diperhatikan orang lain, namun suka bertanya dan mengeluh kepada orang lain bila ada yang dia tidak bisa pelajari/kerjakan.

Tidak selamanya berguna yang namanya bersikap steril terhadap anak-anak. Semua serba dilarang juga tidak baik. Yang harus ada adalah pengawasan. Pun kala anak-anak memberikan feedback, kami harus menanggapi dengan masuk akal pula. Seiring tumbuh-kembangnya fisik dan pemikiran mereka, kami orang tua juga harus memberikan reasoning yang tepat pula.

Jadi orang tua itu berat. Tanggung jawabnya sedemikian besar. Tetapi pengajarannya relatif belum memadai. Alhamdulillah makin ramai topik tentang parenting dibahas, diajarkan, dan dilatih di mana-mana. Even di Gramedia, ada rak penjualan buku khusus untuk tema-tema parenting.

Kami yakin tidak ada manusia yang sempurna. Bagaimana orang tua kami menjalankan parenting juga tidak sempurna. Ada beberapa “kesalahan” yang mereka lakukan. Namun kembali ke diri kami apakah mau mengulangi kesalahan tersebut atau justru melakukan yang benar dan seharusnya.

PS: Anak-anak yang dititipkan oleh Allah kepada kami masih kecil-kecil. Kami bukan pelaku parenting yang sukses. Parenting yang sukses menurut kami baru bisa diukur pasca anak-anak tersebut sudah menikah dan menjadi orang tua pula. Catatan ini sekedar catatan pribadi saja. Bukan berbagi kebenaran. Mudah-mudahan memberikan manfaat bila memang cocok atau inspiratif bagi kamu yang membaca.