Siapa Suruh Datang Jakarta


Siapa Suruh Datang Jakarta?

Duh, tadinya bingung mau ngasi judul apa. Tadinya tidak mau pakai judul ini. Nanti menggambarkan usia saya. Haha. Padahal generasi saya semestinya enggak tahu lagu tersebut, lho. Memang kebetulan saya tahu saja bagian reff-nya. Lirik lengkap ada di sini. .

Sapa suru datang Jakarta
Sapa suru datang Jakarta
Sandiri suka, sandiri rasa
Eh doe sayang

(waktu saya pramuka siaga-penggalang dulu, ada remake lagu ini sering kita menyanyikan bareng-bareng. Lumayan juga candunya, bikin kita betah pramuka-an sampai kelas 3 SMP

Siapa suruh jadi Pramuka
Siapa suruh jadi Pramuka
Sendiri saja,sendiri saja
Aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang

Siang dan malam tidur di tenda
Siang dan malam tidur di tenda
Pakaian basah kering di badan
Aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang).

Kali ini mau berbagi pendapat tentang Jakarta, ya. Kan sebelumnya Surabaya sudah. Balikpapan juga sudah. Bandung, kota yang saya diami bertahun-tahun (2005-2012) juga belum saya gores-pena-kan sih. Tapi itu bisa menyusul di postingan berikutnya ya. Hehe.

Jenuh dengan masa sekolah di Balikpapan dulu, saya inginnya ke luar kota saja. Pokoknya lanjut pendidikan di luar daerah. Bosan sama Balikpapan yang waktu itu belum semaju sekarang, dan punya teman-teman yang segitu-segitu aja. Iyalah, di sekolah dengan di rumah, teman-teman saya tidak jauh berbeda. Kalau bukan sama banget, saya malah gak punya teman yang tetangga sama sekali. Soalnya enggak ada teman-teman sekolah yang tinggal di lingkungan kami di Klandasan dan Pasar Baru itu.

Bahkan semasa saya sekolah, keluarga kami berpindah-pindah alamat rumah sampai tiga kali, lho. Padahal semuanya masih sama di Balikpapan. Jadilah pergaulan saya sempit banget. Hanya berteman dengan anak-anak di sekolah.

Singkat cerita, saya jadinya lanjut sekolah di Magelang. Pokoknya keluar dulu dari hutan belantara Kalimantan. Hehehe. Sekolah asrama gitu, deh. Mulai bertemu dengan anak-anak Jakarta yang gahul-gahul gitu. Hampir gak ada yang pendiam. Sekalipun gak banyak bicara, at least mereka asyik diajak ngobrol juga.

Mulai belajar memahami bedanya lelucon yang bikin ngakak dengan yang gak ada lucunya sama sekali.  Hahaha. Saya ini gak cerdas secara lisan, tanpa sengaja lebih banyak mengawali dengan melihat dulu. Cek ombak, kalo kata temen-temen saya sekarang. Baru menirukan. Ternyata masih susah juga.

Di Bandung, segelintir anak-anak Bandung pengen “dianggap” juga. Nah, budak-budak ieu, tidak bicara “abdi” sebagai pengganti saya/aku. Enggak juga pakai “(nama lawan bicara)” sebagai pengganti “kamu”. Jadi bahasanya “Gw”, “Elo” gitu deh. Ada temen kuliah dari Klaten dan Ngawi yang berusaha pakai dua kata pengganti tersebut. Jadinya terasa awkward, deh. Haha.

Yang jadi bahasa gaul sekarang ini adalah “aing” dan “maneh”. Ini kata ganti yang kasar dalam bahasa sunda. Sama lha dengan “gw” dan “elo”.

Sudah lama saya mencari padanan kata awkward dalam bahasa Indonesia. Baru beberapa hari lalu ketemu di serial “Kevin Can Wait”, bahwa awkward diterjemahkan sebagai “canggung”.

Mending balik lagi aja ke bahasa masing-masing yang paling nyaman. Dan gak perlu minder lho kalo enggak gw-elu. Saya dulu pakai “saya”, “kamu”. Tapi lama-lama latah juga mengikuti gaya anak-anak Jabodetabek. Ber-gw elu, gw elu. Kecuali di depan para orang tua, ya. Terutama orang tua teman dan mantan. Hehe.

Pertama kali ke Bandung itu sebenarnya pas kelas 6 SD. Saya kira kota besar seperti Bandung itu punya gedung-gedung bertingkat seperti Jakarta. Setahun sebelumnya keluarga kami memang pergi ke Jakarta. Subhanallah buanyak banget gedung pencakar langitnya. Dari situlah saya baru mengerti. Ternyata Bandung tidak/belum se-metropolis Jakarta, at that time.

Tujuh tahun kuliah di Bandung, (buset, lama amat yak, hehe) membuat mata saya terbuka bahwa kalau memang mengejar karir, ya harus ke Jakarta. Karir itu maksudnya meliputi posisi/jabatan terpandang di kantor perusahaan/institusi yang juga ternama, atau gaji yang besar, dan seterusnya ya. Kalau sekedar bekerja menyambung hidup diri sendiri-pasangan-(dan) anak bisa kok di kota-kota besar lain di Indonesia. Apalagi sekedar mencari pendapatan, tidak perlulah ke Jakarta. Lebih baik berdagang apalah gitu atau berjualan online dari desa. Yang jelas, kalau memang mencari kedudukan pekerjaan, katakanlah direktur di sebuah BUMN, ya harus ke Jakarta.

Pusat Pemerintahan Nasional.

Bagus juga sih kalau negara kita tidak lagi “meletakkan” ibukota pemerintahan di kota yang jelas banget ke-metropolis-annya seperti Jakarta. Katakanlah pindah ke Palangkaraya, seperti pernah dicita-citakan oleh Presiden RI pertama.

Belajar dari hubungan baik Samarinda dan Balikpapan, ce’ilah ya, tidak harus semuanya di Ibukota, kok. Kota dengan pusat pemerintahan, akan ramai dan padat penduduk dengan sendirinya. Kota seperti ini dengan sendirinya akan menjadi pasar yang besar. Baik untuk sekolah/kampus, rumah sakit, perumahan tempat tinggal, dan seterusnya.

Jadi di kota pusat pemerintahan, tidak harus ada Bandar udara, atau pelabuhan. Karena keduanya, saat ini adalah magnet juga bagi terjadinya urbanisasi. Enam puluh persen (60%) penduduk dunia merupakan penduduk perkotaan. Orang-orang dan barang akan datang dengan sendirinya. Jangan abaikan juga institusi pertahanan dan keamanan negara seperti Komando Daerah Militer (KODAM). Institusi militer ini menarik banyak tenaga kerja (tentara dan non tentara) serta membangun beberapa infrastruktur terkait (sekolah dasar dan menengah Kartika, rumah sakit tentara, dsb) yang lagi-lagi menjadi magnet urbanisasi.

Alhamdulillah Samarinda dan Balikpapan berbagi peran dengan baik, dalam kedua hal ini. Samarinda sebagai ibukota provinsi. Balikpapan sebagai gerbang Kalimantan timur dengan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, dan Pelabuhan Semayang. Kodam VI Tanjungpura juga adanya di Balikpapan. Bersama dengan oil and gas company, serta ratusan service company, seluruhnya menjadi magnet urbanisasi bagi Balikpapan.

Bayangkan apabila pusat pemerintahan, dengan tujuan/gerbang transportasi seperti bandara dan pelabuhan menjadi satu. Jadinya ya seperti Jabodetabek saat ini. Semuanya tumpah ruah, padat penduduk, ramai infrastruktur, kemacetan di mana-mana, dan seterus-terusnya.

Itulah sekelumit cerita dan pandangan saya tentang Jakarta. Mudah-mudahan jadi pertimbangan kamu untuk memilih tempat tinggal, tempat bekerja, tempat berkeluarga, tempat sekolah anak, dan seterusnya. Haha.

Cek juga postingan saya ini, mengenai perbandingan beberapa kota di Indonesia yang pernah saya diami.

Apa Yang Diulas Pada Aspek Pemasaran


Masalah-masalah pemasaran tidak ada habisnya. Demikian terjadi karena pasar dan perilaku pelanggan bergerak dinamis. Para pemain usaha di berbagai sektor industri berusaha secara kreatif dan inovatif dalam mengatasi masalah-masalah pemasaran yang terus muncul tersebut.

Contoh-contoh permasalahan pemasaran:

  1. brand produk/jasa tidak punya keunggulan yang sangat berbeda
  2. brand tidak memiliki identitas yang jelas
  3. tidak jelasnya profil pelanggan yang ditargetkan
  4. brand tidak berkomunikasi dengan target pelanggan
  5. tidak bertempur di ceruk pasar yang sepi kompetitor
  6. channel yang tidak sesuai dengan profil dan perilaku pelanggan

Yang paling sering dilupakan, padahal merupakan yang paling penting dari pemasaran, adalah aspek-aspek penjualan. Misalnya:

  1. portfolio produk tidak lengkap
  2. produk yang diinginkan tidak tersedia
  3. kecepatan delivery produk sampai ke tangan pelanggan
  4. komitmen tim penjualan untuk mencapai target-target yang telah disepakati
  5. realisasi penagihan masih jauh dari harapan
  6. gagal menambah pembeli baru
  7. tidak membuat pelanggan lama berbelanja lagi
  8. tidak membuka area-area penjualan yang baru
  9. pemberian diskon penjualan yang belum tepat sasaran

Pastinya masih lebih banyak lagi. Namun sebagai permisalan, di masing-masing masalah-masalah pemasaran dan penjualan, saya hanya tampilkan 6 dan 9 contoh saja ya.

Kotaku Dulu Tak Begini


Sembari menikmati libur mudik, saya mencoba mengenang masa-masa silam. Bagaimana dahulu kota saya ini. Sebab sekarang ini rasanya beda banget. Kotaku ini sudah termasuk kota besar di Indonesia. Padat penduduk dengan beragam jenis mata pencaharian (di luar pertanian dan perkebunan). Tentu saja kota juga merupakan berkumpulnya ilmu pengetahuan dan orang-orang pintar.

Kotaku dulu tak begini.

15 tahun lalu kotaku ini cupu (culun punya) banget. Bahkan guru saya diledek oleh temannya di Jakarta. Beliau memang berasal dari ibukota. Kata temannya, guru bahasa Indonesia saya ini mandinya di sumur. Dalam bayangan si peledek, kotaku ini masih hutan semua. Masih kampung yang belum ada kamar mandi. Jadi mandi di sumur.

Soal hutannya memang benar, tapi tidak semua. Benar juga kalo disebut hutan, tapi tidak semua. Kotaku adalah hutan yang sebagiannya dibabat utk menjadi kota. Tapi bukan kota yg ditanami hutan artificial. Asli; benar-benar asli masih hutan.

Sebagaimana ditulis pak Hilman fajrian dalam blognya.

Oil, Gas, & Coal

Dulu, Balikpapan makmur jaya sekali dengan Oil & Gas-nya. Tidak ketinggalan service company yang melayani kedua jenis pemilik konsesi minyak dan gas tersebut. Sampai akhirnya harga minyak dunia & batubara dunia terjun bebas.

Mungkin agak sulit ya berharap harga minyak dunia akan naik kembali. Karena di Eropa, negara-negaranya mulai menginduksi pasar untuk mulai beralih ke kendaraan-kendaraan berbasis motor listrik (EV, electric vehicles). Salah satu induksinya berupa subsidi pembelian kendaraan. Meski faktor-faktor lain seperti ketersediaan stasiun pengisian listrik dan suplai bahan baku baterai masih menjadi hambatan utama saat ini.

Ekonomi di sini sudah beberapa tahun terakhir megap-megap. Harga komoditas minyak bumi n batubara jatuh.

Lagipula, produksi semakin menipis. Para pemilik konsesi mau cabut dan mengembalikan hak pengelolaan kepada Pertamina. Total hengkang di 2017 ini. Chevron, konon mulai 2018 besok. Dan banyak sekali perusahaan vendor (service company) kedua industri tersebut yang merumahkan karyawannya.

Keadaan ini buruk sih. Orang-orang mulai meninggalkan Balikpapan lalu kembali ke kota asalnya. Rumah yang mereka miliki mulai dijual (atau minimal tidak ditempati); pergi mencari pekerjaan di industri lain di kota lain. Dengan kata lain, ekonomi tidak sebagus dulu dan akan lebih lambat pertumbuhannya — karena berkurangnya jumlah penduduk kota Balikpapan.

Instead of mengutuki harga komoditas, yuk mencari solusi kreatif dalam rangka memperoleh sumber-sumber pendapatan yang baru.

Kalau kita berpikir kreatif dan solutif, maka ini berarti Balikpapan memerlukan engine of growth dari industri yang lain. Paling tidak untuk tetap dapat bertahan hidup.

Industri Ritel Mulai Menggeliat

Sebelum aktivitas ritel setinggi sekarang, sesungguhnya warung/kios/ruko kelontong pun mulai sadar dengan konsep swalayan. Swa-layan. Alias pembeli melayani dirinya sendiri: ambil barang sendiri, lalu dibawa ke kasir, dan dibayar di sana. Tipe ritel seperti ini menyiratkan dua hal: (1) penjual tidak khawatir dengan keamanan barang-barangnya di rak-rak penjualan (2) pembeli sudah merasa nyaman dengan cara belanja demikian dan never look back.

Sedikit demi sedikit, para peritel nasional mulai berekspansi ke kota ini. Alfamidi dan Indomaret adalah dua peritel nasional yang mulai menumbuhkan jejaringnya di sini.

Ini adalah tantangan bagi peritel lokal seperti Maxi Swalayan dan Yova Mart. Yang terakhir disebut, mengusung pengelolaan dan perlakuan yang berbeda di masing-masing cabang.

  • Harga terjangkau.
  • Produk yang lengkap
  • Hadiah langsung
  • Undian berhadiah, dsb.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, ritel memiliki kontribusi 15,24% terhadap total PDB dan menyerap tenaga kerja sebesar 22,4 juta atau 31,81% dari tenaga kerja non pertanian.

“Situasi Ritel di Indonesia saat ini telah dan akan terus bertransformasi sejak dikeluarkannya UU Perdagangan No.7/2014 tentang Perdagangan Ritel Modern (Toko Swalayan) yang terdiri dari Minimarket, Supermarket, Hypermarket, Wholeseller, Department Store / Speciality Store, serta Ritel Tradisional (Pasar Rakyat),”

Meski demikian, kebijakan dan kearifan lokal harus tetap diindahkan. Jarak terdekat antar minimarket terdekat adalah 2 km. Sedangkan jarak terdekat dengan pasar tradisional adalah 500 meter. Beberapa pelanggaran terhadap kebijakan dan kearifan lokal tersebut dapat dilihat pada berita ini.

Peran e-commerce belum sampai 2%.

Pariwisata

Menyerap tenaga kerja yang tinggi.

Modal Bandara SAMS (Sultan Aji Muhammad Sulaiman).

Komitmen Walikota Balikpapan. Sebagaimana dinyatakan oleh Menpar sendiri, “Komitmen Gubernur, Bupati, dan Walikota itu menentukan 50% kesuksesan daerah dalam membangun sektor pariwisata.”

Go-Jek dan Grab membantu peningkatan mobilitas. Tidak hanya bagi warga lokal Balikpapan, tetapi juga demi para backpackers yang berkunjung kesana kemari. Pendapat saya, angkutan kota (angkot, tetapi lebih sering disebut Taksi) sulit kehilangan penumpang. Karena harga di antara keduanya masih kompetitif.

Ada beberapa tujuan pariwisata yang bisa saya ceritakan berikut ini. Dengan jumlah review-nya saya ambil dari situs tripadvisor.co.id

Dandito. 415 review. Sebuah restoran kepiting. Bisa dine in atau take away. Waktu itu saya belikan untuk teman di Jakarta (saya terbang ke Jakarta). Bahkan saya sampai harus melakukan order di pagi hari, baru sorenya saya jemput orderan.

Konon, chef Dandito ini hasil bajak-membajak (hijack). Dia tadinya kerja di restoran sejenis yang tidak jauh dari situ. 

Pantai Kemala (Kemala Beach). 79 ulasan. Hampir semua orang tahu Pantai Manggar, tapi Kemala Beach ini belum seterkenal pantai yang tidak terlalu bersih itu — tidak tahu ya tingkat kebersihan sekarang seperti apa. Yang jelas, karena brand awareness yang rendah itu, pantai ini tidak terlalu ramai orang dan masih cukup bersih untuk dikunjungi. Cukup membayar parkir kendaraan saja.

Sebagai kota pantai, sudah seharusnya Balikpapan memasarkan dan menjual wisata pantainya. Ibarat kata penduduk lokal: ITU SUDAH! (Untuk tahu bagaimana mengucapkan frase ini, teman-teman blogger harus datang dan mendengar langsung dari orang Balikpapan 😀 )

Wisata Alam Bukit Bangkirai. 109 ulasan. Ini yang paling banyak review-nya. Mungkin karena ini yang paling “hutan kalimantan” banget, ya? Jaraknya 12 km dari pinggir jalan Balikpapan-Samarinda. Namun belum semuanya hot mix. Dinamakan Bukit Bangkirai, karena hutan ini adalah hutan dengan pohon-pohon khas Kalimantan. Salah satunya adalah Pohon (kayu) Bangkirai. Sejak ini paling unik dan khas Kalimantan, sudah waktunya dijadikan sebagai salah satu center of message dari komunikasi pemasarannya Balikpapan.

Penangkaran Buaya Teritip. 73 ulasan. Saya belum pernah ke sini. Tapi ini hampir tidak pernah ada di kota lain, lho. Ibarat Pulau Komodo yang mungkin hanya satu-satunya di Indonesia. Diferensiasi yang unik dari Penangkaran Buaya ini bisa dikomunikasikan lebih intensif oleh Dinas Pariwisata Kota Balikpapan.

informasi yang mukjizat


Informasi yg mukjizat

al quran

Dalam sejarah perjalanan dunia, tingkat literasi belum pernah secanggih sekarang. Kita semua tahu, bahwa faktor enabler-nya adalah internet. Memang sih, masih ada buta huruf di mana-mana. Namun bagaimanapun juga, melek huruf saat ini bisa jadi adalah yang tertinggi sepanjang masa. Dan dengan melek huruf yang demikian tinggi, semua menjadi prosumer, produsen sekaligus consumer dari konten yang dibuat.

Om Alvin Toffler dalam Future Shock, membagi fase perjalanan masyarakat dunia menjadi tiga tahap. Pertama, masyarakat agraris. Kedua, masyarakat industri. Ketiga, masyarakat pasca industri. Yang terakhir ini, dijabarkan lebih jelas dalam The Third Wave. Intinya adalah masyarakat kini telah beralih menjadi masyarakat informasi. Semua bisa memproduksi dan mengkonsumsi informasi.

Salah satu wujud produksi dan konsumsi informasi tersebut, ke dalam berbagai bentuk media sosial yang ada saat ini. Facebook, WhatsApp, Instagram, dll. Dan kita semua sudah tahu, media hanyalah alat. Yang utama adalah konten. Ibarat pisau, media (termasuk media sosial) bisa berguna untuk hal positif maupun negatif. Contoh:

  • Konten inspiratif bisa dibuat. Gerakan sosial seperti www.kitabisa.com mungkin dilakukan hanya bermodal byte-byte digital.
  • Konten yang memecah-belah persatuan juga bisa dibuat. Semisal hoax, yang semakin hari semakin mudah dan cepat dibuat. Karakteristik media digital saat ini adalah informasinya mengalir demikian cepat hingga tidak mungkin dibendung dan diisolasi. Yang terbaik bisa dilakukan hanyalah membuat counter campaign guna mengimbangi hoax tadi. Studi kasusnya yang dilakukan oleh Masjid Salman beberapa waktu lalu.

Bebas Hoax?

Sedikit atau banyak penambahan atau pengurangan, terutama apabila melencengkan maknanya dari makna asli yang dimaksud, bisa kita katakan termasuk hoax.

Hoax menjadi sedemikian sulitnya untuk difilter. Informasi dan percakapan digital mengalir secara cepat. Karakter cepat ini cenderung meminimalkan produsen dan konsumen informasi digital dalam menganalisis kebenaran dari informasi tersebut.

Dalam keadaan tersebut, apa masih ada konten yang bebas hoax? Apakah masih ada orang-orang yang berusaha memfiliter informasi yang beredar, mengecek kebenaran data dan fakta pendukung informasi tersebut? Di era digital ini bahkan, media massa konvensional yang turut terbit versi websitenya, bahkan terjebak dalam pusaran click bait. Yakni view sebanyak-banyaknya kian menjadi target kerja yang semakin umum saja.

Dalam pada itu, mari sedikit mengulas tentang Al Quran. Telah dinyatakan dan diketahui bersama, bahwasanya kita suci Umat Islam ini merupakan mukjizat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam. Mengapa beliau diberikan mukjizat berupa kitab? Which is, tulisan dan buku adalah medium-medium yang (biasanya) tidak lepas dari perubahan dan penyuntingan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab?

Sangat berbeda dengan mukjizat nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Musa dengan tongkatnya yang membelah Laut Merah. Atau Nabi Nuh dengan bahtera-nya.

Surah Al Hijr, ayat 9. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, demikian juga para ahli tafsir lainnya, mutaqaddimin dan mutaakhkhirin, menyatakan bahwa ayat Surah Al Hijr ayat 9 ini merupakan jaminan dari Allah ta’ala bahwa Dia akan menjaga Al-Qur’an Al-Karim dari perubahan dan penggantian, dari penambahan maupun pengurangan, hingga hari kiamat.

Which is, hal ini terjadi pada kitab-kita samawi selain Alquran. Kita pun sudah tahu bahwa kitab-kitab tersebut telah mengalami banyak sekali penggantian dan pemalsuan. Keistimewaan Alquran ini adalah Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya, tidak sedikit pun mengalami penambahan atau pengurangan. Apabila terjadi penyimpangan terhadap Al-Qur’an, maka akan selalu muncul di setiap generasi, manusia-manusia yang meluruskan kesalahan dan kekeliruan tersebut. Tidak heran, Al-Qur’an di generasi sahabat-sahabat Rasulullah adalah sama dengan yang ada di generasi kita saat ini. Dan Al-Qur’an akan selalu relevan. Karena Al-Qur’an adalah one part of dienul Islam.

Multi Platform

Konten yang selalu standard tersebut, alias di mana-mana tidak ada perbedaan yang berarti, menjadikan konten ini bisa berada dalam format atau wujud apapun. Cetak, digital, dan lainnya. Diakses via web, via aplikasi mobile, dst.

Mengaji Al-Qur’an dengan versi cetak di kantor, maupun versi cetak di rumah, tidak akan ada bedanya. Ayat penutup yang terakhir dibaca di kantor, sangat bisa disambung dengan ayat pertama yang akan dibaca di rumah. Sudah tiada hambatan, dan tanpa perlu penyesuaian kembali.

Mengaji di masjid pasca shalat wajib di masjid, dilanjutkan dengan mengaji dengan Al Quran milik sendiri di rumah, tidak akan ada hambatan berarti. Ibarat menyambung dua besi, sambungannya sudah seamless. Alias mulus seakan-akan tadinya tidak berasal dari dua besi yang berbeda.

Kitab ; Bukan Sembarang Buku

Bagi saya, ada bacaan-bacaan yang sekali baca langsung selesai. Sekali tuntas, maka tamatlah riwayatnya sebagai sebuah tulisan. Contohnya novel, komik maupun karya fiksi lainnya. Jadi malas beli novel. Mending pinjam aja. Karena sekali sudah selesai dibaca, jarang ditengok kembali.

Ada juga buku lain yang sering kali saya tengok kembali, terutama untuk menengok teori atau hipotesis yang diusulkan sang penulis. Katakanlah buku-buku tentang branding yang ditulis oleh David Aaker.

Namun demikian, ada satu kategori lagi, di mana saya mendedikasikan waktu atau hidup saya untuk mempelajarinya. Sebutlah kategori tersebut sebagai kitab. Ini adalah tipe tulisan/bacaan/buku yang terus-menerus saya tengok. Dia adalah referensi dari segala referensi. Yaitu Al Qur’an. Misal sedang membaca sebuah ayat yang bikin kepo. Lalu cari dan baca referensi secondary yang terkait dengan ayat Al-Qur’an tersebut. Al-Qur’an ini menjadi kitab, alias referensi pertama dan utama, tatkala sedang mempelajari suatu ilmu atau permasalahan.

Bahkan menurut pengalaman, rasanya tidak pernah puas. Awalnya mengaji biasa. Lama-lama membaca terjemahan juga. Kemudian, merasa butuh membaca terjemahan per kata. Saat ini, keinginan yang belum dilakukan, adalah ikut kelas mengaji yang diajarkan oleh ahli di bidang tahsin dan tajwid.

Semanis Teh Manis Salman


Teh Manis Salman (TMS), ya. Bukan Teh Manis “Masjid Salman”. Bukan, sama sekali bukan. Salman itu nama masjid di seberang Institut Teknologi Bandung, iya. Tapi dia lebih dari sekedar masjid. Karena dia “tidak sekedar” maka banyak yang belum bisa move on darinya. Tiap ke Bandung, harus ke Salman. Belakangan, ada banyak yang tanya ke saya tentang TMS ini. Saya rangkum dalam FAQ berikut.

FAQ Teh Manis Salman

Q: Dari kapan ada teh manis salman?

A: Lupa persisnya, tapi saya sudah gak di sekolah seberangnya. Jadi kira-kira setelah saya “dikeluarkan”.

Q: Di mana letaknya?

A: Selasar hijau. Isshhh, kalau orang gak paham, tanya aja di mana penitipan sepatu.

Q: Enak mana sama teh manisnya kantin?

A: Teh manis kantin lebih manis dan lebih pekat. Sebaiknya dikasi es batu sedikit ya. Tapi manisnya bukan sambil ngelihatin teteh-teteh yang manis di meja kasir ya. Alhamdulillah bukan Aa’-Aa’ yang jaga. Bisa kecut teh-nya kalo dijaga batangan. Jadi, ya lebih enak teh manis selasar hijau, sih. Lagian memang gak disediakan es batu di situ. Gratis, pula.

Q: Berapa kalori yang dikandungnya?

A: Wah, mana saya tahu. Mungkin perlu dicek kandungan gizinya sama kakak-kakak Dipati Ukur.

Jadi #TehManisSalman itu adalah “feature” baru dari Masjid Salman.

Namun sesungguhnya, #TehManisSalman adalah counter campaign yang sedang ramai di linimasa.

Counter Campaign

Diawali pernyataan PBNU Said Aqil Siradj, yang menyatakan bahwa Masjid Salman adalah Masjid Radikal.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/05/25/oqibs1328-kiai-said-mengaku-pernah-dihujat-kafir-di-masjid-salman

Terkait pernyataan Ketua Umum PBNU tersebut, Pengurus Masjid Salman kemudian menemui sang Kyai Haji dalam rangka bersilaturahmi sekaligus tabayyun, yaitu konfirmasi mengenai maksud dari pernyataan beliau tersebut.

Tentang tabayyun ini harus diberi apresiasi lebih. Di era internet ini, user malas menunggu barang sehari atau beberapa hari guna melihat perkembangan isu. Kalau ada yang tabayyun, sudah oke banget sebenarnya. Selain malas menunggu, user juga malas melakukan riset lebih mendalam. Setidaknya, semua dilakukan via online saja. Bertemu langsung guna silaturahim sekaligus tabayyun ini yang harus kita garisbawahi bersama. Selain silaturahim yang memperpanjang usia, tabayyun-nya sendiri untuk mengkonfirmasi maksud yang sebenarnya.

Berikut info terkait tabayyun yang dilakukan oleh para pengurus Masjid Salman tersebut.

#tehmanissalman #saidaqilsiroj #bukansayayangpunyacerita #aktivissalmanitb

A post shared by Dzikry Dzikrulloh (@dzikrydzikrulloh12) on

Pernyataan KH Said Aqil Siradj sempat viral di dunia sebelah (baca: online). Mereka yang sering shalat di Salman, atau menjadi aktivis Salman, atau bahkan tinggal –dan bertugas– di Asrama Salman, sangat tidak setuju dengan konten yang viral tersebut.

Kampanye yang dicoba-viralkan adalah #mysalmanstory dan #tehmanissalman. Jadi ini adalah kampanye untuk meng-counter viralitas pernyataan sang KH. Dengan sendirinya, asosiasi radikal yang viral tertempel pada “Salman” perlahan-lahan mulai luntur.

Kedua hastag tersebut adalah experience yang digali dari pengalaman para “pelanggan”. Alias mereka yang sudah berkali-kali “belanja”. Jadi bukan yang belum pernah “beli”, atau baru 1-2 kali belanja, tapi yang sudah jadi langganan. Pelanggan biasanya (dan seharusnya) sudah trust (percaya) kepada sang “penjual”. Komponen dari trust adalah expectation. Bukan sembarang expectation. Melainkan standardized expectation.

Jadi, brand Salman sudah sangat familiar –makanya bisa kita sebut standardized–, bahkan hingga ke hati para jamaahnya. Bahwa brand Salman ya memang begitu. Sebagaimana dirasakan oleh panca indera: pilihan bentuk, warna, dan tekstur material arsiteknya, suasananya, jenis-jenis orang di dalamnya, dan lain sebagainya seperti yang dideskripsikan dalam status facebook para pecintanya.

Dalam proses dan aktivitas managing the brand, experience sharing ini termasuk fase merawat brand dan mempertahankan customer (alias jamaah). Dari existing customer, bisa pula menjadi jalan untuk mendapatkan jamaah baru. Alias yang belum pernah hadir sama sekali di Salman. Sebab, sesama pengguna masjid, pastinya merekomendasikan masjid yang bagus pengelolaannya; kepada keluarga dan kolega mereka.

Masjid Modern

Salman itu termasuk masjid yang dikelola secara modern. Prinsipnya sederhana, dengan membaiknya program dan fasilitas, maka crowd jamaah akan tercipta. Jamaah yang semakin bertambah menjadi pancingan bagi pengelola/pengurus untuk menambah fasilitas. Baik unit usaha maupun unit-unit pelayanan. Tidak perlu semuanya dikelola sendiri. Bisa saja di-outsource kepada pihak ketiga. Sediakan tempat saja, dan akan ada pihak swasta yang mengelola dan memberikan fasilitas tersebut. Kantin, bank, minimarket, print+fotokopi, pulsa, biro haji dan umrah, dll. 

Semakin all-in-one sebuah masjid, maka akan semakin menjamur pula jamaah yang berkunjung.

Crowd jamaah kemudian bisa diresegmentasi lagi dan dirumuskan program-program ekslusif untuk segmen tersebut. Pengajian untuk anak muda, ada. Untuk yang sudah senior juga ada. Pendidikan untuk anak balita ada. Dan seterusnya. Sampai Sekolah Pra Nikah juga ada.

Agak taktikal, tapi sedang menjadi tren yang diadopsi oleh banyak masjid-masjid besar. Yaitu AC (air conditioning) sebagai penyejuk udara di dalam ruang utama Masjid. Dan kedua adalah, jadwal shalat digital sebagai penunjuk masuknya waktu shalat.

Sebab, di tingkatan strategik ada arsitektur Masjid itu sendiri. Baik secara fungsi maupun estetika. Fungsi penerangan, sirkulasi udara, tata suara, dan sebagainya. Estetika meliputi bentuk, warna, tekstur, hingga story/experience yang akan dialami sendiri oleh para jamaah.

Berikut adalah ilustrasi arsitektur yang sangat menarik mengenai betapa “radikal”-nya desain arsitektural masjid salman ITB.

RADIKALISME MASJID SALMAN ITB
Oleh Dr. Eng. Bambang Setia Budi

Kalau ada yang bilang Masjid Salman itu RADIKAL. Lho, memang begitu kok, udah betul itu. Baguskan?

Dari bentuk dan ekspresi arsitektur masjidnya memang sangat RADIKAL, bukan hanya di Indonesia saja tetapi di Asia Tenggara. Yang paling RADIKAL perhatikan saja atapnya. Sejak dulu arsitektur masjid di Nusantara ini selama lebih dari 5 abad hampir selalu menggunakan atap tumpang/tiered roof (dua, tiga, lima, dst).

Atau di akhir abad ke-19 hingga tengah abad ke-20 sebagian mulai menggunakan atap kubah (dome), tetapi Arsitektur Masjid Salman malah tiba-tiba seperti petir di siang bolong menggunakan atap datar yang meruncing pada bagian sudutnya seperti membentuk sebuah mangkuk terbuka. Mana pernah ada preseden (contoh) bentuk atap masjid sebelumnya di seluruh Nusantara/Asia Tenggara itu seperti itu. Arsiteknya (Ir. Achmad Noe’man) dan arsitektur masjidnya memang RADIKAL.

Ruang utama tempat sholatnya juga RADIKAL. Coba saja masuk ke dalamnya, dari sejak pertama kali masjid di Nusantara ini ada, sampai sebelum tahun 1967 selalu ada kolom di tengah ruang sholat utama untuk menyangga atap. Ruang utama Masjid Salman, malah dihilangkan dengan alasan arsiteknya supaya tidak mengganggu/memutus shaf shalat, jadi biar tidak ditempati Syetan katanya. Jadi pilihannya bentang lebar dengan bentangan 25 meter bebas kolom (tiang).

Bayangkan untuk konstruksi atap beton bentangan 25 meter pada waktu itu di tahun 1967 itu bagaimana? Kalau pakai beton biasa bakal memerlukan ketinggian balok beton hingga 2 meteran kan (1/12 bentang). Coba periksa, untuk menahan bentangan itu hanya dengan ketinggian balok beton 80 cm lho!. Itu pakai beton pratekan (prestressed) pak Kyai! Mana ada masjid di Nusantara ini sudah ada yang menerapkan pemakaian struktur/konstruksi beton pratekan seperti itu di tahun 1967. Itu karya dari insinyur sipil dosen ITB (Prof. Sahari Besari) yang waktu itu baru pulang dari sekolah di Amrik. Jadi struktur/konstruksi beton dan insinyur sipilnya juga RADIKAL.

Satu lagi dari detil dan sisi seni grafisnya. Perhatikan semua detil-detilnya, baik sambungan antara kayu, bentuk dan tata letak lampu, pertemuan/pemisahan dinding-dinding beton dengan kolom-kolomnya, dan lain sebagainya. Belum lagi yang tanpa ornamennya, biasanya masjid sering dipenuhi dengan hiasan-hiasan seperti kaligrafi, geometric pattern, floral/sulur-sulur, arabesque, atau apapun yang abstrak. Tetapi masjid ini tanpa ornamen, tanpa kaligrafi, tanpa itu semuanya kecuali hanya garis-garis dan lukisan abstrak di dinding sebelah timur yang dulunya berwarna komposisi coklat pastel karya seniman kontemporer dan guru besar ITB Prof Achmad Sadali.

Beliau adalah pendobrak dan pemimpin gerakan penyadaran para khattat/kaligrafer dan seniman tahun 1970an yang mempopulerkan kaligrafi lukis atau lukisan kaligrafi yang membedakannya dengan “kaligrafi tradisional” yang telah dikenal sebelum ini. Nah jadi dari ketiga sisi ini saja (Arsitektur, Struktur, Seni), memang benar kok kalau masjid ini memang semuanya paling RADIKAL. So what? 😊😊😊

Salman ITB, 27.5.2017⁠⁠⁠⁠

Chelsea : Brand and Revenue


Pada tulisan sebelumnya, saya merangkum beberapa strategi klub sepak bola dalam membangun brand-nya (brand building).

Dan baru hari kemarin, Chelsea dipastikan menjadi juara English Premier League (EPL) 2016/2017. Sebagaimana saya katakan sebelumnya, predikat juara ini tentu akan mengangkat brand Chelsea menjadi lebih baik lagi.

Pastinya, hal ini akan mengundang sebuah pertanyaan yang selalu krusial bagi para pembesut brand. Pertanyaannya adalah, memangnya dengan brand dengan nilai demikian besar, lantas berapa banyak omzet yang berhasil didatangkan?

Brand komersil yang tidak mendatangkan omzet, berarti upaya branding-nya sia-sia saja.

Ada beberapa sebab saya simpulkan pernyataan barusan.

Sponsorship, sebagai salah satu komponen utama dalam omzet klub sepak bola, nature-nya adalah business-to-business (B2B). Ciri khasnya adalah “pembeli”-nya tidak banyak — tidak sebanyak B2C. Pembeli yang sedikit ini kemudian diperebutkan oleh para “penjual” yang tidak sedikit: Manchester United, Real Madrid, Barcelona, dst. Negosiasi dan keterampilan menjual menjadi skill paling utama untuk mendapatkan omzet besar.

Tidak hanya skill, tetapi modal juga menjadi faktor utama. Apa modalnya? Besaran eksposur brand terhadap penggila sepak bola di seluruh dunia. EPL adalah liga paling laris ditonton di seluruh penjuru dunia pada hari ini. Sponsor yang terletak di jersey pemain, akan menjadi merek yang paling diketahui dan diingat oleh sebanyak-banyaknya orang.

Chelsea 2015/16 dan 2016/17

Penampilan yang mengecewakan pada musim 2015/16 mendatangkan kerugian sebesar 70 juta poundsterling (sebelum pajak). Secara umum, klub sepak bola kehabisan uang kas adalah hal biasa. Back up-nya dari penjualan aset klub kepada investor baru, atau utang. Begitu pula dengan Chelsea. Roman Abramovich adalah pemilik yang tidak segan “meminjamkan” uangnya kepada klubnya bahkan tanpa termin waktu pengembalian yang jelas dan nilai bunga yang transparan pula. Sejak diakuisisi pada Juni 2003, secara total Chelsea telah rugi sebesar 753 juta poundsterling. Atau sekitar 58 juta poundsterling per musim. Pemecatan Jose Mourinho (berikut tim pelatihnya) di penghujung 2016 menyebabkan klub harus membayar kompensasi sebesar 8 juta poundsterling.

Dalam artikel Sisi Lain Roman Abramovich saya menuliskan model bisnis terbaru Chelsea: memelihara puluhan pemain muda, menggaji mereka, tetapi meminjamkan mereka ke klub lain yang bersedia menjadikan mereka sebagai starting eleven.

Contoh terbaru adalah Patrick Bamford, yang transfer fee-nya senilai 6 juta poundsterling pada Januari 2017 ke Middlesbrough. Padahal dulu Chelsea hanya membayar 1,5 juta poundsterling di tahun 2012. Alias meningkat paling sedikit 4x lipat dalam rentang waktu 5 tahun.

Berikut histori akumulasi omzet penjualan pemain muda seperti Patrick Bamford: 51 juta poundsterling pada 2014, turun menjadi 16 juta poundsterling pada 2015, serta 35 juta poundsterling di 2016.

Pendapatan dari broadcasting 143 juta poundsterling (43%). Showbiz dari penampilan Chelsea mendatangkan pendapatan sebesar 43% dari total pendapatan klub. Pendapatan komersil 117 juta poundsterling (35%) dan pendapatan dari penjualan tiket di Stamford Bridge sebesar 70 juta poundsterling (21%). Hanya satu cara menumbuhkan pendapatan yang terakhir: perluasan stadion dan penambahan kursi penonton.

 

Brand Klub Sepak Bola


Sepeninggal Alex Ferguson, Manchester United belum pernah mencapai sukses seperti di era si kakek. Meski Louis Van Gaal (LVG) berhasil menjuarai FA Cup musim 2015/2016. Selain itu, rasanya sudah lama sekali MU tidak bermain di UEFA Champions League (UCL).

Namun demikian, bulan Januari 2017 lalu, mereka malah berhasil melampaui omzet tahunan Real Madrid. Persisnya di angka 515,3 juta poundsterling. Sekitar penjualan Big Mac-nya McDonald sebanyak 225 juta pcs dalam setahun. Omzet, sebagaimana nilai nominal sebuah brand, adalah tolok ukur pencapaian upaya-upaya marketing. Informasi ini dilansir oleh Deloitte, sebuah kantor konsultan manajemen, yang salah satu topik “permainan” mereka ada di industri olahraga. Dan sebagaimana kita tahu, industri sepak bola di Eropa, merupakan salah satu industri olahraga dengan nilai pasar yang besar di tingkat dunia.

Industri sepak bola yang komersil dan dikelola secara profesional telah menjelma menjadi industri pertunjukan. Tidak ada bedanya dengan industri perfilman Hollywood, Bollywood, bisnis sirkus keliling, film-film thriller, pertunjukan bioskop, dan sebagainya. Intinya semua itu ialah show business (bisnis pertunjukan). Saat ini, biasanya ada 3 sumber pemasukan, bagi sebuah perusahaan klub sepak bola.

  1. Penjualan tiket (including merchandise).
  2. Penjualan hak siar.
  3. Komersil.

Penjualan tiket.

Baik tiket terusan maupun tiket per pertandingan. Penonton domestik (penduduk kota) memang captive market bagi klub. Demand nya relatif stabil. Sering kalah atau selalu menang, mereka akan selalu membeli tiket dan datang ke stadion. Tidak heran kan kota-kota besar dunia (ibukota pemerintahan, kota bisnis, dst) memiliki klub lebih dari satu. Madrid, Roma, London, Manchester, hanya sedikit contoh. Kota seperti London memberikan kebebasan bagi klub-klub Premier League di sana (Arsenal, Chelsea, West Ham, Tottenham Hotspurs) untuk memiliki stadion sendiri.

Penjualan hak siar.

Termasuk pertandingan domestik, maupun pertandingan antar negara seperti Europe League + Champions League. Di pertandingan El Classico-nya La Liga Spanyol, Real Madrid vs Barcelona, reaksi-reaksi emosional dari penonton di benua Asia bahkan turut ditayangkan di saluran televisi kabel di mana kita menonton.

Komersil.

Di indonesia, pemain-pemain Manchester City menjadi model iklan Extra Joss. Sedangkan para punggawa Manchester United membintangi iklan You C1000. Chelsea pernah bekerja sama dengan BNI.

Jersey yang disponsori oleh perusahaan apparel seperti nike, adidas, kappa (dari italia), umbro, under armour tidak hanya berupa seragam gratis saja. Tetapi juga berupa uang tunai.

Tidak hanya sponsorship, tetapi juga stadium tour (tur di dalam stadion), merchandising, dan aktivitas lainnya yang bernilai komersil. Sebagai contoh saja untuk merchandise, penjualan jersey Real Madrid bernama punggung Cristiano Ronaldo sudah menutupi nilai yang dibayarkan oleh Real Madrid kala merekrut dari Manchester United. Yaitu sebesar 80 juta poundsterling. Pengeluaran Los Merengues ditambah lebih dari 106 juta poundsterling untuk menggaji CR7 selama 6 tahun sejak 2009.

Building the brand of football club

Brand building klub sepak bola adalah dengan membuat klub selalu berada di hati mereka para pendukung.

Strategi Pertama: Buat Kehebohan Melalui Rekrutmen Anyar

MU memang tidak pernah main-main soal brand building ini. Salah satu buktinya manakala tetangga mereka yang berisik (noisy neighbor) menghadirkan Guardiola sebagai pelatih, United tidak mau kalah langkah. Jose Mourinho diperkenalkan sebagai head coach.

Keduanya pernah “berseteru” selama di La Liga Spanyol. Dan demi mendapatkan untung lebih banyak, manajemen MU bersedia meramaikan hingar-bingar Premier League melalui rekrutmen pelatih kepala yang baru. Secara tidak langsung, para pemilik/pengelola klub memang “bertanggung jawab” untuk membuat penonton Premier League menjadi berlipat dibandingkan sebelumnya.

Analogi yang sama justru lebih banyak berlaku dalam rekrutmen pemain. Real Madrid seringkali berusaha memecahkan rekor transfer fee mereka sendiri dengan tujuan brand building.

Strategi Kedua: Membangun Basis Fans yang Baru

Park Ji Sung (Korea Selatan) di Manchester United.

James Rodriguez (Kolombia) di Real Madrid.

Dengan merekrut keduanya, kedua klub tersebut berhasil mencuri perhatian dan menarik engagement dari para pecinta sepak bola di negeri asal sang pemain. Hal ini, paling tidak bisa diukur dari berapa banyak jersey atas nama dan nomor pemain tersebut, di negara asalnya.

Strategi Ketiga: Merangkul Media

Media adalah komponen yang tidak kalah penting dalam industri sepak bola modern. Media yang tidak dimiliki saja dapat turut berkecimpung, mengeruk pundi-pundi uang, apalagi media massa yang dimiliki sendiri. Kepemilikan media akan menunjang panasnya pemberitaan soal klub tersebut.

La gazzetta dello sport memang memiliki hubungan khusus dengan juventus. media lokal yang selalu membahas sepak bola setiap hari.

Strategi Keempat: Kontrak Pemain Berkualitas

Chelsea membangun tim juara tersebut tidak murah. Tetapi pemain-pemain mahal dapat mendatangkan kesuksesan dengan instant. Saya bisa simpulkan bahwa pembelian pemain mahal (yang biasanya berbanding lurus dengan kemampuannya) adalah strategi yang tepat dalam membangun brand klub. Nilai brand klub ini semakin baik mengingat prestasi-prestasinya belakangan ini. Misalnya 4x juara EPL. Fa cup. Europa league (2013) Champions League (2012).

Terbukti, brand Chelsea FC semakin baik dalam 10 tahun terakhir.

https://www.theguardian.com/football/2017/jan/19/manchester-united-record-revenue-deloitte-football-money-league-rich-list-real-madrid

 

Mari Bicara Sastra Kontemporer


Raditya Dika

Novel Kambing Jantan. Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh. Sesuai tagline-nya, sebenarnya ini hanyalah kehidupan anak sekolah biasa. Yang luar biasa adalah, bagaimana penceritaan oleh penulis sehinggal lucu, konyol, dan kocak.

Awalnya Kambing Jantan adalah sebuah blog yang kemudian dibukukan menjadi novel. Tahun 2009, novelnya diadaptasi menjadi film.

Sama pula dengan Manusia Setengah Salmon. Dari novel kemudian menjadi film berjudul sama yang dirilis pada tahun 2013. Dan tidak berhenti sampai di sana, masih ada:

  • Marmut Merah Jambu
  • Cinta Brontosaurus
  • Koala Kumal

Dari judul-judul tersebut, terlihat kan selling point Raditya Dika? Dia selalu menggunakan jenis-jenis binatang (kambing, marmut, brontosaurus, koala) yang kemudian diasosiakan dengan sifat-sifat manusia (kumal, perasaan cinta, warna merah jambu). Pengibaratan karakter yang diceritakan dalam novel dan filmnya, diasosiakan dengan binatang yang punya sifat tersebut.

Proses marketing dan selling sebuah film agak unik, memang. Ibarat menjual sesuatu yang hanya ada sekali itu saja. Risikonya tinggi. Kalau gagal, bisa rugi banyak. Kalau untung, juga bisa banyak. Ciri khas marketing and sales dari film sebagai sebuah produk:

  • Hanya sekali. Ini kaitannya dengan kelangkaan (scarcity). Makin langka, makin diburu. Tidak langka, kan bisa dicari di lain waktu dan kesempatan. Ibarat nasi, tidak makan hari ini gak apa-apa. Besok masih banyak warung nasi yang buka. Jadilah nasi (secara umum) sebagai komoditi yang tidak bisa diberikan bandrol price yang cukup tinggi.

Berawal dari blog, kemudian ke novel, video (youtube), kemudian ke layar lebar. Seiring dengan transformasi konten tersebut, Raditya Dika turut bertransformasi dari penulis, pemeran, penulis skenario, bahkan hingga menjadi sutradara.

Blog –> Novel –> Video –> Film

Serial Malam Minggu Miko termasuk film mockumentary. Adalah singkatan dari mock (pura-pura) dan documentary (dokumenter), jadi film mockumentary adalah film fiksi yang mirip dengan dokumenter. Menggunakan kamera atau handycam sebagai medianya, jadi seakan-akan penontonlah yang menjadi cameramannya. Karena proses recording-nya demikian, tidak heran Raditya Dika dan rekan-rekan mengawali promosinya di YouTube.

Stand Up Comedy

Sesuai judul, akhirnya memang jadi komedi. Karena kontennya komedi, Raditya Dika turut terjun dalam medium/format yang berbeda. Yaitu story telling secara tunggal (perorangan) yang tujuannya adalah memancing tawa penonton. Berikut adalah beberapa istilah terkait:

  • set up : pengkondisian penonton, sebelum diberi punchline
  • punchline : ‘kalimat pemukul’ yang memancing tawa penonton
  • callback : mengingatkan penonton terhadap set up yang sudah dibuat sebelumnya
  • riffing : mendapatkan perhatian penonton. biasanya terpaksa dibuat karena penonton gak fokus ke si comic.

Bakat dan kompetensi Raditya Dika dalam menulis dan membawakan materi-materi komedi, jadi kunci kesuksesannya di dunia Stand Up Comedy.

Komedi

Tentu tidak semuanya jujur. Meskipun banyak sekali mengangkat kisah-kisah dari keluarga Raditya Dika sendiri. Yang benar nyatanya adalah bahwa semuanya dilakukan demi memancing tawa penikmat komedi.

Kehidupan percintaan yang mengenaskan menjadi materi komedi yang dieksploitasi oleh Raditya Dika.

komedi jadi barang dagangan. Paling lucu, paling mahal harga jualnya.

Tantangan perkomedian memang di orisinalitasnya.

Raditya Dika vs Adhitya Mulya

Tidak terlalu tepat untuk dibandingkan kesastraan di antara keduanya. Sebab, masing-masing ada segmennya. Bagi Raditya Dika, komedi adalah barang dagangannya yang paling utama. Dia fokus di materi/konten ini.

Berbeda dengan Adhitya Mulya, yang karya sastranya berkembang seiring dengan pengalaman hidupnya.

Dimulai dari novel Jomblo, yang kemudian sama-sama difilmkan dengan judul yang sama, sesungguhnya merupakan awal dari topik yang belakangan menjadi laris ditulis-dikomentari-dibicarakan-berkembang sendiri di mana-mana.

Saya sendiri membahas fenomena jomblo ini dalam sudut pandang ekonomi bisnis dalam singlenomics. Selain jomblo, topik-topik satir ini antara lain adalah “mantan”. Kenapa ya “mantan” itu menyakitkan sekali?

Sabtu Bersama Bapak. Yang tidak lama lagi akan difilmkan. Biasanya kalau sudah difilmkan, akan ikut mendongkrak kembali penjualan novelnya. Jadi novel mengalami dua kali periode laris.

Nah, kesastraan dari abang Adhitya Mulya ini memang sesuai perjalanan hidupnya. Pasti dia pernah jomblo (alias single), ‘kan? Novel Jomblo adalah potret hidupnya. Semua pernah jomblo siy, tapi tidak semua jomblo melukiskan ke-jomblo-annya dengan baik dan menghasilkan karya komersil, ya.

Sabtu Bersama Bapak itu mendeskripsikan potretnya selaku Ayah dan Anak. Sebagai yang menjalani kedua peran tersebut, tentu saya juga belajar banyak dari perspektif bang Adhit ini. Pada dasarnya, peran sebagai Ayah justru mengingatkan kembali bahwa sebagian besar di antara kita semua, sesungguhnya masih anak dari ayah kita sendiri. Dan tanggung jawab kita belum selesai pasca kita menikah. Ringan di omongan, tapi berat di pelaksanaan.

eka kurniawan

seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas

Dewi ‘Dee’ Lestari

Materinya sangat bervariasi.

science fiction.

Filosofi Kopi (filkop). Saya paling suka yang ini. Ada story-nya, ada film-nya, ada kafe-nya, dan seterusnya. Kafe-nya Filkop benar-benar ada.

Rectoverso. Tentang lima kisah cinta. Diberi nama rectoverso lebih karena dua format yang seiring sejalan antara lagu dan cerita. Masing-masing lirik lagu, ada ceritanya. Rectoverso adalah “hibrida” antara buku (cerita) dan musik (lagu). Setengah buku, setengah musik.

Handoko Hendroyono

Penulis brand gardener. Basic-nya beliau adalah advertising. Beliau ini melayani klien untuk mengkomunikasikan brand mereka kepada target audience. Which is tantangan saat ini adalah medium komunikasi semakin beragam. tidak melulu TVC. Apalagi untuk di medium 24/7 seperti social media (yang juga menantang karena formatnya yang beranekaragam: teks, foto, gambar, video).

Beliau juga menekankan pentingnya story telling. Nah, feeling saya kok kita harus kembali ke sastra, ya. Maka dari itu, story yang kuat (tokoh yang berkarakter, alur yang mengusik pikiran, dsb) banyak terdapat pada novel-novel. Tidak heran, ‘kan novel-novel tersebut menjadi film? Di mana, film sebagai sebuah karya adalah sebuah model bisnis. Juga, film sebagai sebuah medium merupakan model bisnis. Karena kemampuannya dalam menyedot para pengiklan.

http://pride.co.id/2015/09/belajar-strategi-bisnis-dari-sosok-handoko-hendroyono/

gotham and story telling

AADC

Seribu Kata Tentang Surabaya


Mari bicara tentang Surabaya dalam beberapa segmen: (1) lalu lintas, (2) menu makanan, (3) pergaulan, dan (4) masjid.

Lalu Lintas

Rasa-rasanya masih sayang mobil-mobil di sini lebih “galak” daripada di Jabodetabek atau Bandung. Paling “galak” adalah mereka yang tinggal di sidoarjo kota (pusat) tapi beraktivitas rutin di pusat Surabaya. Mereka sadar perjalanan mereka jauh dan menuntut waktu yang lama. Sebab itu tidak ingin Tua di Jalan.

Panduan yang jelas di lampu merah.

Yang paling membingungkan di kota-kota Indonesia biasanya adalah, apakah boleh belok kiri langsung atau tidak? Nah, kalau di Surabaya, ada papan petunjuk apakah di lampu merah tersebut boleh langsung atau tidak. Keterangannya jelas sekali “belok kiri langsung” atau “belok kiri mengikuti lampu”.

Dulu saya berasumsi bahwa belok kiri langsung itu mutlak akan mengurangi kemacetan. Tapi sepertinya asumsinya tidak hanya demikian. Bisa saja demi memberi ruang di jalan raya depan bagi orang untuk menyeberang. Apakah pembaca yang budiman di sini ada yang tahu?

Menu Makanan

Nasi goreng merah.

Pertama kali saya temukan di Balikpapan. Enak, sih. Yang menariknya adalah, saya tidak terlalu mencarinya sejak merantau ke Pulau Jawa. Dan akhirnya semakin terbiasa setiap kali membeli nasi goreng rombong, yang saya terima adalah nasi goreng hitam. Alias nasi goreng kecap.

Nah, di Jawa Timur inilah saya baru menemukan kembali nasi goreng yang selama ini telah hilang (halah). Yaitu, nasi goreng berwarna merah karena dominasi sausnya.

Pecel.

Yang ini mestinya pecel beneran. Bukan pecel lele, pecel ayam ala-ala Jawa Barat yang sebenarnya adalah “penyetan” disebutnya di tanah Jawa Timur. Bermodal kol, timun, kemangi, pedagang Jabar malah menyebutnya “Pecel”. Sedangkan pecel Jatim utamanya adalah sayuran, dengan bumbu saus kacang. Bisa pakai telor mata sapi, lele goreng, atau lauk yang lainnya. Yang paling utama dan membedakan terletak di bumbu kacangnya itu. Actually, pecel itu jagoannya Madiun, tampaknya. Pecel Madiun, tho?

Rawon dan Soto

Rawon itu enak. Tapi kehadirannya tidak semasif soto. Sama-sama lebih banyak kuah daripada nasi dan dagingnya. Ini memang usaha berbahan dasar air. Hehehehe.

Sudah tahu belum, sejarah per-soto-an nusantara? Kalau belum tahu, ceritanya begini. Di masa sulit kala perang masih berkecamuk di nusantara, bahan pangan adalah sangat terbatas sekali kalau tidak bisa dikatakan amat sangat terbatas sekali banget. 😀 Lantas, apa yang dilakukan para keluarga? Seekor ayam sesungguhnya hanya cukup untuk sekali makan bagi sebuah keluarga dengan ayah+ibu+2 anak. Namun, dengan kreativitas dan inovasi terciptalah resep soto ayam yang luar biasa menyelesaikan banyak permasalahan tersebut. Sebab, satu ekor ayam, daripada hanya habis dalam sekali waktu makan saja, malah bisa habis dalam 3 kali waktu makan. Caranya bagaimana? Ya buatlah Soto Ayam.

Apakah ada sejarah soto yang lain? Coba share di comment ya.

Pergaulan

Location.

Asalnya dari mana? Bukan pertanyaan yang biasa ditanyakan di Tanah Sunda. Asal-muasalnya adalah logat saya yang tentu saja bukan logat tanah Jawa. Sebab itu mereka bertanya demikian. Awalnya terasa kurang ajar. Pikiran-pikiran semisal, “belum dekat kok udah tanya”, atau “Saya kan cuma beli nasi goreng gerobak pinggir jalan; ada apa pakai ditanya ini segala”. Tentu saya tidak blak-blakan seperti itu. Sekedar lintasan pikiran saya sahaja.

Kemudian saya menjadi ingat akan perkenalan dalam bahasa Inggris yang diajarkan kepada kita kala masa SD dahulu. Where do you come from? Ditanyakan setelah bertanya what is your name?. Demikian pula tatkala memperkenalkan diri. Setelah nama, perkenalkan dari mana dirimu berasal. Hehehe. Ini yang agak sulit buat saya pada awalnya. Bahwasanya meladeni pertanyaan darimana asal merupakan sebuah upaya yang entah apa gunanya bagi sang penanya. Karena apa yang ingin mereka tahu? Suku saya kah? Tempat lahir saya kah? Atau, di manakah saya tinggal belasan tahun terakhir ini? Dan seterusnya.

Cangkrukan

Mungkin benarnya ditulis cangkru’an kali ya? Apapun itu cara menulisnya, tetapi budaya hang out ini ya memang ada di mana-mana di negeriku tercinta Indonesia. Risetnya MTV (Music Television) dulu hebat banget berarti, ya. Mereka menemukan bahwasanya orang-orang Indonesia itu suka nongkrong. Sebab itu mereka memberikan panggilan/julukan “Anak Nongkrong” kepada para pemirsa MTV-nya.

Oiya, di sini cangkru’an-nya lebih merakyat daripada Bandung. Warung kopi-nya ada WiFi, terus banyak banget yang buka 24 jam. Apalagi di daerah mahasiswa seperti di sekitar UNAIR, atau UPN.

Masjid

Di kota ini, pemegahan masjid-masjid sangat terasa sekali. Gayung donasi pembangunan masjid yang disuarakan oleh DKM Masjid memang bersambut oleh wakaf dari para jamaah. Apalagi ini menjelang Bulan Ramadhan. Masjid-masjid seakan berlomba bermegah-megahan antara satu dengan yang lainnya. Tambah dinding kaca lha, tambah AC, lha. Dan demikian tiada henti-hentinya.

Bahkan masjid yang biasa saya shalat jumat tidak tanggung-tanggung dalam menghendaki donasi. Pasca imam shalat jumat mengucapkan salam yang kedua kali, seorang pengurus DKM langsung menempati mimbar. Pasca pembukaan pengumuman barang 1-2 kalimat, langsung beliau ceritakan perkembangan pembangunan masjid tersebut. Bahwasanya ini sudah selesai, itu menjadi agenda pekerjaan renovasi berikutnya, saldo keuangan saat ini tinggal sekian, sementara agenda renovasi berikutnya memerlukan dana sekian, maka masih ada kekurangan sekian yang beliau harapkan dapat ditutup oleh donasi para jamaah.

Saya tidak antipati terhadap renovasi masjid menjadi megah, bagus, dan seterusnya. Namun saya kira, donasi harus berimbang pula peruntukannya. Tidak semata untuk infrastruktur, melainkan juga pengembangan mental dan ilmu para jamaah itu sendiri. Kalau fisik kan terlihat ya, dan terukur (baca: tersampaikan informasinya kepada para jamaah) pula kebutuhan dananya. Agak berbeda dengan yang sifatnya intangibles tersebut.

Simpulan 

Oke. Waktunya kesimpulan. Pertama, mari kembali ke judul. Apa kaitan judul tersebut dengan tulisan ini sendiri? Kaitannya adalah …. TIDAK ADA! :d Kedua, apa maksud judul tersebut? Tadinya ingin mengungkap Soerabaja dalam seriboe kata. Apa daya hanya sanggup 833 kata saja.

Ya begitulah ungkapan dari saya mengenai Kota Sura dan Buaya. Mudah-mudahan di lain waktu masih ada kesempatan untuk mengungkap isi hati ini kepadanya mengenai Surabaya.

Respek Terhadap Partner Bisnis


Respek berarti menaruh hormat. Dalam dunia usaha, respek sangat diperlukan. Sebab jika hanya berorientasi pada keuntungan uang semata, usaha tidak akan berjalan panjang. Jangan ambil uangnya doang, hormati juga orangnya. Ada beberapa pihak yang sangat perlu mendapat respek dari pelaku usaha. Yaitu pelanggan/pembeli, prinsipal/distributor (dalam perkara mendistribusikan), maupun supplier (penyedia bahan baku pabrik).

Respek Terhadap Pelanggan

Saya tempatkan sebagai yang pertama. Tidak melulu mengenai untung dan rugi. Melainkan tentang hubungan jangka panjang. Percuma hari ini untung, apabila hubungan jual beli kemudian terputus. Hubungan baik dengan pelanggan adalah bagian dari layanan (service) kepada pelanggan. Layanan semacam ini menjadi penyelamat apabila ada brand lain yang lebih kompetitif daripada brand yang kita kelola dari segi manfaat fungsional (functional benefit) maupun harga (price).

Respek terhadap pelanggan salah satunya berupa kepedulian maksimal kita terhadap produk yang kita buat. Ada banyak tools yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas produk. Misalnya TQM (Total Quality Management). Namun tidak ada yang lebih rumit dari para manusia itu sendiri. Sehingga kualitas harus diangkat menjadi sebuah budaya perusahaan. Mengenai hal ini, Bapak Azhari Sastranegara memiliki argumennya sendiri:

Filosofinya, 1 produk cacat dalam sejuta produk dari sisi produsen adalah tingkat kegagalan 1 ppm, tapi dari sisi sang pemakai yang hanya membeli satu produk tingkat cacatnya adalah 100 persen.

Poin terakhir itulah yang membuat betapa pentingnya kualitas produk. Bahwa produk yang kualitasnya buruk, dapat berdampak fatal bagi pengguna. Dalam kasus manufaktur mobil, dampak fatal tersebut berupa kematian pengguna.

TOYOTA WAY adalah budaya perusahaan manufaktur tingkat dunia. Banyak yang bisa kita pelajari dan tiru dari budaya ini. Prinsip pertamanya berbunyi, pondasikan keputusan manajemen pada pertimbangan filosofis jangka panjang, bila perlu mengorbankan kepentingan finansial jangka pendek. Maksudnya adalah hubungan jangka panjang lebih utama daripada laba sesaat.

Baru-baru ini ada kasus recall mobil-mobil Honda. Manufaktur mobil tingkat dunia tidak ingin mengorbankan corporate brand-nya yang mungkin rusak karena air bag yang kualitasnya kurang baik. Sebab keamanan perjalanan adalah nomor satu. Untuk apa segala tetek-bengek kecepatan, kenyamanan, dan lain sebagainya bila keamanan menjadi prioritas nomor sekian?

Terkait hail ini, tiba-tiba teringat quote dari Pak Ignasius Jonan.

Lebih baik tidak pergi (berkendara), daripada tidak pernah kembali.

Kembali mengingatkan kita, bahwa keamanan adalah segalanya.

Dari ketiga kata yang dimilikinya, manajemen kualitas secara menyeluruh, definisi TQM adalah: “sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali (right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous improvement) dan memotivasi karyawan “ (Kid Sadgrove, 1995)

Service and Complaint Handling

Respek kedua terhadap pelanggan, yaitu berupa complaint handling.

Jadi menurut pengalaman penulis, kekecewaan pelanggan selain datang karena barang yang kualitasnya tidak sesuai dengan harapan, tetapi juga pelayanan buruk dari perusahaan itu sendiri. Itulah mengapa yang kita letakkan sebagai hal pertama yang harus mendapat respek adalah kualitas produk.

Berikut 6 langkah ideal dalam menangani komplain dari pelanggan.

  1. mendengarkan
  2. klarifikasi
  3. menjelaskan
  4. meminta maaf
  5. persetujuan
  6. tindakan

Respek Terhadap Partner Distributor/Partner Prinsipal

Kerja sama dalam mengelola wilayah guna mendapatkan angka penjualan. Baik dalam peran sebagai distributor, atau peran sebagai principal. Sering kita mendengar bahwa keterbatasan wilayah yang dikelola oleh distributor, serta keunikan produk yang dimiliki oleh principal, menjadi awal dari sebab-musabab principal “menginjak-injak” distributor.

Padahal distributor, melalui hubungannya dengan para pembeli, ada kalanya mampu menemukan insight-insight menarik dari para konsumen yang tentu saja akan berdampak positif bagi principal apabila aspirasi tersebut disampaikan secara tepat.

Peran inilah yang seharusnya dijalankan dengan baik oleh TSS maupun ASM. Yakni menjadi lidah penyambung teman-teman distributor kepada brand management di kantor pusat. Ini adalah peran yang sedikit berat. Meningat posisi TSM dan ASM merupakan ‘teman’ sekaligus ‘atasan’ bagi teman-teman dari perusahaan distributor. Di satu sisi harus mampu menekan distributor, namun di sisi lain berperan sebagai rekan kerja dalam mengelola wilayah penjualan.

Respek Terhadap Supplier

Tentu supaya supplier selalu mengusahakan yang terbaik untuk kebutuhan kita.

Bisa pula kita lakukan competitor intelligence melalui pihak ketiga, yaitu supplier. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengorek informasi dari supplier tentang bahan baku (raw material) apa saja yang dibeli oleh para kompetitor.

Saya kira, hal demikian tidak berarti tidak respek terhadap supplier.

Mari bahas beberapa etika-etika dalam berbisnis yang berlaku universal, namun tetap relevan dalam bersikap hormat/respek terhadap para partner kita.

Etika Bisnis

Jujur ketika berkomunikasi atau bersikap.

Kejujuran merupakan salah satu poin penting untuk menyukseskan usaha sekaligus membangun kepercayaan klien. Kita wajib bersikap jujur dalam segala hal, mulai dari sekadar memberikan informasi hingga ketika menganalisa kekurang perusahaan yang dipimpin. Tidak jujur bisa diartikan sebagai melakukan manipulasi terhadap informasi.

Saya kira, kita perlu sangat berhati-hati namun tetap mengambil celah dalam berkomunikasi. Sebagai penjual, tentu kita akan memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin, namun tetap tidak mengada-ada. Andaikan ada kekurangan sekalipun (pasti ada, sih) harus pula kita sampaikan secara baik sehingga tidak tercitra negatif.

Integritas

Integritas sendiri diartikan sebagai konsistensi dan sinkronisasi antara pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Bisa juga kita lihat dari sisi pemenuhan janji serta komitmen yang dibuat. Janji tidak boleh sembarang dibuat, namun pasca pengucapannya harus diikuti oleh komitmen untuk dapat memenuhi janji tersebut sebaik-baiknya.

Loyal kepada Pelanggan

Saat brand yang kita besut mulai dipercaya oleh pelanggan, sejak itulah brand kita wajib menjawab kepercayaan tersebut dengan respek yang tiada henti melalui standardisasi. Kualitas produk, layanan dan sebagainya harus punya standard dan tidak boleh turun sama sekali.

Kepedulian/Empati

Baik berangkat dari kebutuhan (needs), kegelisahan (anxiety), atau tidak dari keduanya, brand harus menunjukkan kepedulian dan perasaan simpatik, terlebih lagi empati.

Penghargaan

Brand juga harus bersikap profesional dengan tidak membedakan perlakuan kepada pelanggan berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, maupun kewarganegaraan.