taktik sepak bola indonesia


ada ayahnya teman saya yang bilang, “nonton sepak bola indonesia itu bikin capek mata aja”. maksud beliau, bola bergulir dari kiri ke kanan layar televisi atau sebaliknya, tapi tidak ada hasil yang signifikan (gol, maksudnya). saya kira engga ada niat buruk dari pelatih dan para pemain, tentu mereka ingin menyerang, mencetak gol lalu menang.

tapi begini, serangannya itu lho yang sering mentah begitu saja. juru taktik di sepak bola indonesia perlu belajar banyak dari negara macem italia maupun negara eropa lainnya. italia memang terkenal dengan strategi bertahan ala grendel, tapi mereka engga cuma “parkir bus” di depan kotak penalti sendiri, mereka juga berusaha menurunkan tingkat penguasaan bola dari tim lawan. masuk akal sih, makin berkurang penguasaan bola lawan, maka kesempatan mencetak gol juga makin rendah.

tim belanda menganut prinsip strategi sepak bola yang sebenarnya relatif sama, tingkatkan penguasaan bola, untuk menghindarkan lawan mencetak gol. tapi bagaimana mereka mengejawantahkannya di lapangan jadi sedikit berbeda. mereka justru banyak menyerang dengan slogannya adalah “pertahanan yang terbaik adalah menyerang”. taktik tiki-taka yang diterapkan sepak bola Spanyol juga adalah melakukan penguasaan bola sebanyak-banyaknya. sedikit perbedaannya dengan Belanda adalah Spanyol melakukannya dengan ruang yang lebih sempit.

ini yang tidak dilakukan oleh sepak bola indonesia, setidaknya menurut saya. sepak bola indonesia tidak mengajarkan pemainnya untuk menguasai bola di lapangan. asal dapat bola, asal menyerang, lalu mencetak gol. kalau diserang ya, bertahan lalu rebut kembali. sesederhana itu. sebabnya adalah, main bola ga bisa pake otot  doang. tapi pakai otak juga, en bukan otak satu orang, alias kerja sama tim. di sini, konsentrasi semua pemain memegang peranan penting.

sebabnya berikutnya adalah, sepak bola tidak dimainkan dalam 30 menit, tapi 90 menit. ada faktor kelelahan yang mungkin mengurangi konsentrasi para pemain di lapangan, padahal pemain harus konsentrasi dalam menyerang maupun bertahan –kecuali mau fokus bertahan seperti chelsea kala melawan barcelona di liga champions 2011/2012 atau fokus menyerang seperti barcelona era Pep Guardiola.

karena tidak bisa mempertahankan bola dengan baik, jadinya tim sepak bola kita sering “kaget”. setelah berhasil merebut bola, belum benar-benar dikuasai secara tim, sudah langsung menyerang tim lawan. padahal, yang benar-benar siap baru para pemain yang sedang memegang bola saat itu. akibatnya, transisi bertahan ke menyerang jadi gagal dilakukan. pemain belakang/tengah terburu-buru memberikan bola kepada pemain depan yang belum siap menerima bola. akhirnya, serangan jadi gagal.

akibat yang lain: karena tim tidak menguasai bola dengan baik, maka peralihan menyerang ke bertahan jadi kacau juga. maksudnya begini, penguasaan bola yang baik akan menguatkan struktur formasi tim. tiap pemain akan tahu persis dimana harus berada, baik memegang bola atau tidak. jadi ketika tiba-tiba kehilangan bola, setiap pemain (sehingga tim juga) sudah siap untuk bertahan dan merebut kembali.

manchester united era Alex Ferguson sangat paham konsep ini. bahkan mereka “sengaja” memberikan ruang dulu bagi lawan untuk menyerang, tapi tetap dengan struktur formasi yang rigid dan sulit untuk ditembus. mereka siap untuk tidak memegang bola, maupun memegang bola.  akhirnya setelah bola direbut dari lawan, mereka siap untuk menyerang balik (secara cepat) dan mencetak gol. karena penguasaan permainan, tim ini dikenal dengan serangan baliknya yang cepat.

Sepakbola dan Masyarakat Indonesia


sesaat lagi, Euro 2012 akan dimulai dengan pertandingan perdananya: Polandia vs Yunani. sejak tadi, si stasiun official heboh menanyangkan persiapannya. mulai dari acara sulap-sulapan, komentar sebelum pertandingan, iklan-iklan promosi, pembukaan hingga pertandingannya. intinya, masyarakat Indonesia akan dimanjakan untuk sebulan ke depan 🙂

beberapa jam yang lalu, berita dari televisi yang saya lihat juga ikut menggambarkan betapa masyarakat kita sangat tergila-gila pada sepakbola. diberitakan, sekelompok anggota masyarakat melakukan pawai keliling. ada yang bermobil bak terbuka dan sepeda motor. peserta pawai ikut mengibarkan bendera-bendera peserta Euro 2012. menarik memang masyarakat kita, yang main sepakbola di benua mana, eh disini ikut merayakan dengan gegap gempita 🙂

masyarakat kita memang cinta dengan sepakbola. kalau timnas main di gelora bung karno, maka tim lawan akan takut. karena suporter akan menjadi pemain ke-12. itu baru supporter di stadion, belum pendukung  yang heboh di lokasi nonton bareng. dan orang-orang indonesia jadi bahagia karenanya. kebahagiaan yang datang dari sepakbola. seperti sekarang, karena sepakbola di negara lain.

hampir tiap akhir pekan, masyarakat kita disuguhi tontonan gratis sepakbola antar klub di eropa. dan tiap tengah tahun, tiap dua tahun sekali, ada piala dunia dan piala eropa bergantian menyuguhkan kejuaraan antar tim nasional di eropa dan dunia. enak lho, enak sekali. karena tinggal menonton saja. tidak usaha membayar televisi berlangganan. asal melihat iklan, sudah cukup bagi stasiun televisi dan para sponsor.

anyway, sembari menyaksikan pembukaan Euro 2012, saya menuliskan artikel ini. pembukaan yang gegap gempita sudah selesai, para pemain dari kedua kesebelasan bersiap memasuki lapangan. sebentar lagi pertandingan perdana dimulai dan ini pengantar saya sebelum Piala Eropa 2012 dimulai. akhir kata, selamat menyaksikan kejuaraan antar tim nasional sepakbola di eropa, selamat mendukung, dan tetap sportif 🙂

basis fans sepakbola


pagi ini, juventus FC baru saja ditasbihkan menjadi scudetto serie A italia, dengan tim favorit saya, AC Milan menjadi runner-up. Juventus hingga saat ini, belum pernah kalah, dengan seri sebanyak 15 kali dan 22 kali menang.

prestasi Juve ini melahirkan tentunya melahirkan fans-fans baru, yang tercengang dengan prestasi musim ini: masuk ke final Coppa Italia dan Scudetto Serie A. jadi memang bagaimana fans sepakbola lahir, itu biasanya mengiringi kesuksesan klub sepakbola. tidak hanya sekedar juara saja, tapi bisa juga juara beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, atau pemain dari klub tersebut juga ikut menorehkan prestasi.

ambil contoh barcelona. sejak 2009, Pep Guardiola (yang akan pensiun di akhir musim 2011/2012 ini), menorehkan banyak gelar untuk klub FC Barcelona. mulai dari La Liga, Copa Del Rey, Juara Liga Champions Eropa, hingga juara di kejuaraan antar klub dunia. prestasi klub ini juga diikuti dengan Lionel Messi, yang semakin menjadi-jadi sebagai penyerang andal. bertubuh mungil, tetapi luar biasa dalam melakukan liukan-liukan maut. padahal, dia baru berusia 24 tahun.

tahun 2009 lalu, Cristiano Ronaldo memecahkan rekor pemain termahal dunia. harga yang harus dibayarkan saat itu oleh Real Madrid kepada Manchester United adalah 80 juta euro. banyak yang bilang, harga ini tidak masuk akal. baik dalam konteks, berapa seorang manusia seharusnya dibayar, dan bahwa masih banyak kasus-kasus kemiskinan di dunia ini. tapi, Madrid sebenarnya melihatnya dari sisi jumlah suporternya dan persebarannya di seluruh dunia. dan terbukti, investasi 80 juta euro tidak terlalu mahal. cukup setahun, dan penjualan jersey asli real madrid bernama punggung “ronaldo” mencapai angka 100 juta euro. mahal, tapi balik modal dan untung 🙂

fans sepakbola biasanya dididik sejak kecil untuk cinta kepada klub. beberapa klub membangun komunitas berbasis pemuda-pemudi kecil ini. pun, keluarga (ayah/ibu) juga mendidik anak-anak ini untuk cinta pada klub yang mereka dukung juga. selama prestasi tidak buruk-buruk amat, katakanlah klub mengalami degradasi ke divisi yang lebih rendah, klub pasti bisa mempertahankan bisnis modelnya berbasis fans yang sudah ada.

gattuso tundukkan juve


“gattuso tundukkan juve”

itu judul artikel tadi

sesaat sebelum adzan selesai

kini, pagi sudah datang

dan juga ada yang datang

namanya kantuk

semalam tidak tidur

kecuali dalam gerbong

di waktu 20.55-23.46

lalu bekerja

saya sebut itu bekerja

karena itu pekerjaan

meski tak berduit

lalu pindah ke depan kotak hitam

menyaksikan milyuner bercelana pendek

berlari kesana kemari

hingga

“ganttuso tundukkan juve”,,

kin benar-benar pagi

dan saya jadi mengantuk..

untungnya, “gattuso tundukkan juve”

Secuplik Kisah Sepakbola dari Indonesia


Sudah sejak beberapa tahun terakhir, penikmat sepak bola Indonesia berteriak “Nurdin turun! Nurdin turun!”. Dan di perhelatan akbar sepakbola Asia Tenggara 2010, hal senada kembali terjadi. Timnas sepakbola Indonesia, yang berstatus sebagai tuan rumah, sukses menggasak lawan-lawan mereka di grup A. Apakah para suporter puas? Tidak, karena teriakan yang sama masih terdengar. Di stadion, maupun di luar stadion. Teriakan ditujukan kepada bos dari pelatih timnas, sang ketua asosiasi sepak bola Indonesia (PSSI) sendiri : Nurdin Halid.

Penonton yang semakin cerdas, kesal melihat prestasi sepakbola negeri yang tidak maju-maju. Meski timnas menang tiga kali di babak penyisihan, spanduk-spanduk semakin bertebaran di Gelora Bung Karno, stadion kebanggan negara. Para penonton pembawa spanduk bertuliskan “Nurdin turun”, yang dalam tiga pertandingan pertama selalu dihadang oleh preman pencuri spanduk. Kabarnya, para pembawa spanduk bertuliskan dua kata tersebut, dipukuli oleh beberapa orang preman yang menyamar menjadi penonton. Kini para penonton, sekaligus pembawa spanduk kini bersatu, melawan para preman. Baik preman di stadion, maupun pimpinan preman itu sendiri. Tapi, tahukah anda siapa sang pimpinan preman?

***

Sepakbola adalah olahraga universal. Dahulu, bangsa romawi menendang bola kesana kemari. Bola sebagai alat dalam permainan sepakbola pun pernah didapat sebagai bukti, bahwa sepakbola sudah dimainkan di masa dinasti Han di negeri Cina. Kemudian, Ingggris sebagai negara kemudian membuat berbagai aturan tentang sepakbola. Mulai dari panjang-lebar lapangan, lama permainan, dan seterusnya dan seterusnya. Sepakbola di negeri Indonesia sendiri  diperkenalkan oleh penjajah Belanda. Brazil dikenal sebagai negara dimana semua orang bermain sepakbola, di pantai, di jalanan, di manapun! Pendeknya, semua orang saat ini bermain sepakbola. Lapangan besar tidak ada? Kini muncul olahraga futsal, tempat bermain sepakbola di lapangan yang lebih kecil.

Asosiasi sepakbola dunia, FIFA, tidak menghendaki politik mencampuri urusan sepakbola. Mereka, percaya pada organisasi yang tidak terikat urusan politik, untuk mengurus sepakbola di negeri itu. Mulai dari kompetisi, keikutsertaan di turnamen regional, benua maupun dunia, dan lain sebagainya. Hanya satu organisasi. Dan di negeri ini, urusan itu dipegang oleh PSSI. Pemilihan pimpinan organisasi pun dilakukan sendiri, dengan mekanisme sendiri, yang tidak bisa dicampuri oleh pemerintah manapun. Percayalah, termasuk seorang presiden.

***

Kini, masih di negeri yang sama, ketua PSSI menghadapi masalah. Seorang pengusaha bernama Arifin Panigoro membentuk konsorsium, untuk mengorganisasi liga. Kabarnya, kompetisi yang sudah ada tidak profesional. Klub sering dirugikan, profesionalisme organisasi tidak jalan. Kepemimpinan wasit berat sebelah, padahal klub belum mampu berdiri sendiri. Masih ditopang dana APBD. Konsorsium yang ada, bisa jadi mampu memberi dana lebih. Menghidupkan klub, untuk bersaing di kompetisi. Sejumlah 20-30 milyar rupiah, bisa didapat oleh tiap klub untuk berlaga di kompetisi terbaru : Liga Premier Indonesia.

FIFA, sebagai organisasi dunia non-politik untuk urusan sepakbola bisa jadi tidak menyetujui kompetisi baru semacam LPI. Wajar, kompetisi ini diadakan bukan oleh badan resmi yang diakui dan dipercaya oleh FIFA untuk mengelola sepakbola di negeranya. Tapi, kompetisi ini menjanjikan, ternyata. Bukan sekedar kualitas profesionalisme penyelenggaraan, tapi kemungkinan juga sampai kualitas permainan, hingga kemungkinan tumbuhnya perekonomian akibat adanya klub dan kompetisi. Wajar, suporter yang fanatik bisa mendatangkan pemasukan bagi klub. Keramaian penonton di stadion juga mendatangkan rezeki bagi penjual kaos, bendera klub, dan lain sebagainya. Penjual makanan minuma juga kecipratan anugerah dari kegiatan ini.

***

Ketua PSSI –secara tidak langsung– melarang seorang pemain naturalisasi berdarah Belanda, Irfan Bachdim untuk kembali merumput membela negara bersama timnas. Katanya, pemain dan klub yang berlaga di kompetisi yang tidak diakui oleh PSSI, akan mendapat sanksi. Salah satunya adalah tidak bisa membela timnas. Dan Irfan sendiri bermain di Persema Malang, satu di antara tiga klub yang tadinya bermain di Indonesia Super League, yang kemudian pindah ke kompetisi baru.

Timo Scheunemann, adalah seorang pelatih. Dia kini melatih di Persema Malang. Dia adalah satu alasan yang membuat seorang Irfan lebih memilih sepakbola sebagai hobi dan kesenangan ketimbang sekedar uang dan prestasi. Kata Irfan, semua yang ada di Persema adalah keluarganya. Dia senang dengan semua pemain dan suporter Persema. Termasuk dengan kepercayaannya terhadap sang pelatih, yang dia yakini, mampu memaksimalkan potensi pesepakbola yang dimilikinya. Entah sebagai seorang penyerang, sayap ataupun gelandang. Orang-orang yang senang bermain bola, seperti Irfan Bachdim, hanya senang bermain bola. Tidak peduli dengan urusan politik ataupun duit yang bisa diperoleh seorang preman dalam sepakbola. Dia, hanya ingin bermain sepakbola.

***

Akhirnya di laga perdana liga baru yang tidak disetujui FIFA, seorang Irfan bermain. Posisi aslinya adalah penyerang, tapi dia tidak menunggu bola. Dia berlari kesana-kemari, membuka ruang bagi teman-temannya dan bagi dirinya sendiri. Dia menjemput bola di lini tengah, menggiring ke arah gawang lawan, melewati beberapa pemain, dari sisi kiri maupun kanan pertahanan lawan. Dan akhirnya, dia mencetak dua gol di menit 27 dan 41. Satu karena lolos jebakan offside dan satu lagi lewat sundulan. Dia gembira dan merayakannya bersama rekan-rekan setim. Gembira layaknya seorang pesepakbola yang tidak peduli soal urusan politik.

Menang, Meski Tak Juara


Skor berakhir 2-1 tadi malam. GARUDA menang, meski tidak juara. Sudah kalah terlampau jauh di kandang HARIMAU MALAYA soalnya. Karena tim lawan menang 3-0 di Malaysia. Status facebook seorang teman : Indonesia menang terhormat, Malayasia menang dengan curang. Tadi malam, ada yang mengikuti cara penonton di Stadion Bukit Jalil : menyoroti laser kepada kiper tim tamu. Penonton sepakbola semakin dewasa, untuk bersikap suportif : mencemooh pelaku penyinaran laser kepada kiper Malaysia.

Akhirnya timnas sepakbola Malaysia mengangkat trofi di akhir laga. Salut untuk mereka, timnas yang dibantai 5-1 oleh tuan rumah grup di pertandingan perdana, akhirnya menjadi Juara di AFF Suzuki Cup 2010. Mental bertanding mereka semakin membaik dari awal hingga akhir turnamen. Plus menorehkan salah seorang strikernya Moch Safee sebagai pencetak gol terbanyak dengan 5 gol.

GARUDA menang kembali, di laga kandang, sudah keenam kalinya di turnamen sepakbola antar negara asia tenggara di penghujung 2010. Meski belum mampu mengejar ketertinggalan aggregat gol dari pertandingan pertama, GARUDA tetap dibanggakan oleh seluruh rakyat Indonesia : suporter yang sudah lebih menghargai fair play. Hanya, desakan mundur tetap datang dari penikmat sepakbola Indonesia. Tapi, ketua asosiasi sepakbola nasional di Indonesia, menolak untuk mundur dari jabatannya. Itu berita yang saya dengar sendiri tadi pagi di stasiun televisi khusus berita nomor satu di negeri ini

Apapun hasil pertandingan tadi malam, bagaimanapun hasil final tersebut, pada akhirnya kita harus mensyukuri bahwa inilah hasil terbaik yang dapat diperoleh timnas sepakbola Indonesia. Bravo sepakbola Indonesia!

Sang bintang yang 1,5 tahun tidak mencetak gol


Namanya Cristiano Ronaldo. Saya pertama kali melihat dia di Piala Eropa 2004. Dia tidak main sebagai starter di pertandingan pertama melawan yunani. Tapi dia bermain cantik, bersama Deco Souza dan Luis Figo. Portugal kalah, tapi Ronaldo mencetak 1 gol.

http://static.guim.co.uk/sys-images/Football/Pix/pictures/2010/6/21/1277146682881/Cristiano-Ronaldo-of-Port-006.jpg

*********************************************************************

Tahun 2007/2008, Ronaldo mengukir rekor fantastis di eropa. Dia mencetak rekor 42 gol di seluruh kompetisi di eropa. Serta menjadi juara : Liga Champions dan Liga Inggris. Keduanya bersama Manchester United. Di akhir tahun 2008, dia menjadi pemain terbaik eropa (ballon d’or) dan dunia (FIFA World Player of The Year).

Kini, di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, dia menjadi kapten timnas dan negaranya berharap, dia memberikan teladan prestasi bagi rekan-rekan timnas dan tentunya, memimpin portugal meraih hasil baik di Piala Dunia.

*********************************************************************

Ronaldo tidak mencetak gol di pertandingan pertama melawan Pantai Gading. Timnya diserang terus-menerus dan sesekali dia mendapat kesempatan, selalu gagal melewati pemain bertahan pantai gading.

Pun demikian di pertandingan babak pertama partai berikutnya : melawan korea utara. Ditempatkan di sayap kiri, Ronaldo tidak berkembang. Portugal memang unggul 1-0 di babak pertama, tapi itu hasil kerja sama Tiago dan Raul Meireles. Bukan Ronaldo.

Tapi, di babak kedua, ronaldo diberi peran lebih ke tengah. Dan dia tampak lebih bijak: menguasai bola seperlunya, tidak egois dan banyak memberikan umpan. Teringat, satu assist kepada Coentrao tidak menjadi gol, assist kepada Tiago menjadi gol (di pertandingan ini tiago mencetak 2), satu assist hampir menjadi gol oleh Raul Meireles. Jelang akhir pertandingan, Liedson merebut bola dan memberi umpan kepada Sang Bintang. Puasa gol 1,5 tahun berakhir sudah. Skor : Portugal 7-0 Korea Utara.

Klub favorit saya


Di akhir tahun 90-an, saya memfavoritkan klub SS Lazio buat jadi juara liga italia seri-a : scudetto. Tapi,kebetulan kecolongan di beberapa pekan terakhir, hingga yang juara itu AC Milan. Dengan berbagai gol mereka yang kebetulan, skor kemenangan yang banyak 1-0 nya. Belum lagi keberuntungan yang lain-lain. Itu di tahun 1998-1999 kalo tidak salah.

Setahun berikutnya baru Lazio bisa juara. Tapi Christian vieri sudah ga di klub itu dia pindah. Lazio di sekitar tahun itu juga menjuarai piala winner, yang terakhir kali. Kemudian memenangkan Piala Super Eropa setelah mengalahkan Manchester United (MU) dengan skor 1-0.

*********************************************************************

Lama sejak itu, karena sekolah di asrama yang akses televisinya susah, saya jadi jarang mengikuti sepak bola lagi. Tapi, suatu ketika menyaksikan liga champions di televisi, saya terpukau dengan Ricardo Kaka. Dia mencetak 2 gol di babak pertama pada tahun 2007 melawan MU. Milan tampil luar biasa, malam itu. Meskipun akhirnya kalah (karena 2 gol wayne rooney di babak kedua), tapi mereka sangat memikat dengan formasi cemaranya : 4-3-2-1. Dan dua pekan kemudian, mereka lolos ke final setelah memenangkan pertandingan melawan tim yang sama dengan skor 3-0. Aktor protagonisnya masih, sama: Ricardo Kaka.

*********************************************************************

Dulu, saya tidak begitu memperhatikan mengapa saya senang dengan SS Lazio. Yang jelas, mereka bermain menyerang dari segala arah, sering memenangkan pertandingan, (dan) tentunya calon juara di tahun itu. Tapi ternyata ada hal yang leb ih besar daripada sekedar permainan di lapangan. Yaitu, manajemen yang lebih baik, akan membuat klub lebih baik, konsisten dari tahun ke tahun, dan prestasi-prestasi yang leb ih mentereng, seharusnya.

Inilah yang saya lihat di AC Milan. Mereka mengkombinasikan pemain tua dan muda. Pemain tua yang berpengalaman, adakalanya dibentuk dari klub sendiri, Paolo Maldini, misalnya. Tapi ada juga pemain berpengalaman yang direkrut dari klub lain, misalnya Clarence Seedorf dan (sekarang) Ronaldinho. Pemain muda berkualitas (pada masanya) ada Andriy Shevchenko dan Andrea Pirlo yang direkrut dari klub lamanya pada usia muda. Yang satu dari Dinamo Kiev dan satunya dari Reggina. Dan kombinasi inilah yang membuat AC Milan bisa menjadi salah satu dari tiga klub besar di Liga Calcio (sepakbola) Italia 🙂

Andi Bachtiar Yusuf dan Sepak Bola


Sepakbola itu menggambarkan karakter bangsa itu sendiri..

Kalimat ini dilontarkan oleh Andi Bachtiar Yusuf, seorang pembuat film dokumenter. Dia sangat tertarik dengan sepak bola. Dan saya meng-amin-i kata-kata beliau tersebut. Memang benar, menurut saya.

Misalnya, lanjut beliau, permainan sepak bola Jerman itu seperti mesin. Dan memang benar adanya kan? Jerman terkenal dengan mechanical engineering-nya, alias teknik mesin. Pun Habibie (yang pernah 1 semester di ITB) juga ahlinya di bidang tersebut. Ga heran, permainan sepak bola Jerman juga seperti itu.

Kemudian, negara yang baru bangkit setelah Perang Dunia II, Jepang. Yang kini maju dalam teknologi dan ekonomi. Inovasinya terkenal di seluruh dunia. Negara yang sudah cukup bergaul di dunia sekaligus bersama seni dan budaya nya, sekarang ingin bergaul juga di bidang sepak bola. Tadinya bukan siapa-siapa di sepakbola, tapi kini –seperti kemampuan mereka untuk belajar– mereka kini bahkan disegani di sepakbola Asia. Piala Dunia 2010 sekarang tidak ada Arab Saudi (padahal beberapa edisi sebelumnya negara ini biasa ikut), tapi ada Jepang.

Nah,negara kita bagaimana? Kata bung ucup (panggilan beliau,,ikh) manajemen sepakbola kita mengikuti tingkah pola kita sehari-hari yang seringkali menggunakan jalan pintas. Tidak bermaksud merendahkan, memang. Tapi objektif, menurut saya (no heart feeling ya 😀 ). Kata beliau, paling cepat mengikuti Piala Dunia itu 2034, yang tentu saja pemain-pemainnya belum lahir,sekarang 🙂 Dan tentu saja, tidak dengan cara yang kirim pemain untuk berlatih di luar ngeri, seperti selama ini. Oiya, satu lagi , beliau berpendapat kalau beliau menjadi pimpinan PSSI, beliau akan mengganti semua SDM yang ada saat ini di PSSI.

andi bachtiar yusuf, sutradara The Jak (2007) dan The Conductor (2008)

andi bachtiar yusuf, sutradara The Jak (2007) dan The Conductor (2008)

(Mudah-mudahan tidak ada yang salah dari ingatan saya, setelah mengikuti suatu program di TV swasta nasional yang meliput beliau dalam program tersebut.)

Salam,,