Risk Management di Industri Sepak Bola


Setiap bisnis pasti ada risikonya. Tinggal kita berselera aja enggak dengan risiko tersebut: Risk appetite. Berikut adalah beberapa risiko yang saya observasi benar adanya di klub sepak bola. Nomor 1-3 sangat mempengaruhi kestabilan pendapatan perusahaan.

egg-quote

Risiko pertama, terlalu mengandalkan seorang pemain untuk mengangkat permainan tim

Sepak bola bukan permainan individu. Satu orang pemain tidak akan menjadi sebuah tim. Tetapi seorang pemain (yang hebat) dapat membuat tim menjadi berbeda. Misalnya Lionel Messi, Cristiano Ronaldo. Sesungguhnya ini adalah risiko.

Manajemen Risiko pertama: Jangan bergantung pada satu bintang. Lebih tepatnya, milikilah beberapa pemain berkualitas meski kualitasnya tidak sehebat yang sudah disebut di atas.

Bangun mental dan kekompakan tim. Tim yang kompak dengan mental kokoh bisa mengalahkan tim manapun.

Contoh: Manchester City merekrut pemain yang bisa bermain hingga 4-5 tahun mendatang. Di tahun 2017 ini, Leroy Sane, Gabriel Jesus, dan Raheem Sterling masih berusia di awal 20-an. Mereka masih bisa dikontrak sekali lagi, bahkan dengan durasi kontrak yang sama.

Saran: Jangan berekspektasi bahwa pemain rekrutan anyar akan langsung bersinar di tahun pertama. Pun dia langsung bersinar, berarti dia bisa lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.

Intinya sih, ya jangan bergantung sama seorang yang hebat saja.

Risiko kedua, pola permainan diantisipasi oleh tim lawan.

Di akhir tahun 90-an, hampir semua tim di Lega Calcio menggunakan skema 3-4-1-2. Sangat mengandalkan the creative number 10. Selain formasi tersebut, sisanya memakai 4-4-2. Sementara beberapa tahun terakhir di English Premier League (EPL) para manajer selalu mengubah taktik dari musim ke musim. Kasus terakhir terjadi di Chelsea. Mereka sukses dengan 3-4-3. Terbukti juara di musim lalu. Bahkan sempat menang 13 kali berturut-turut. Ini adalah rekor tersendiri.

Akibatnya semua manajer di EPL mencoba mencari tahu dan bereksperimen menemukan antithesis dari 3-4-3.

Manajemen Risiko kedua:

  • Versatility. Keserba-bisaan menjadi tuntutan sepak bola jaman now. Lionel Messi bisa menjadi the false nine. Dalam beberapa musim sebelum musim sekarang, dia sering pula diposisikan di kanan depan. Posisi right winger. Kalau di timnas Argentina, dia biasanya kebagian jadi “penghubung” dari tengah ke striker seperti (Sergio) Aguero. Klub perlu menabung pemain-pemain yang punya kemampuan mengisi beberapa posisi sekaligus.
  • Cristiano Ronaldo mengawali karir sebagai pemain sayap. Lama-lama menjadi winger yang bisa menusuk dan menembak. Di Real Madrid, mengisi posisi penyerang kiri. Di Portugal sebagai striker kiri pada formasi 4-4-2.
  • Pelatih Kepala (head coach) juga tidak boleh kaku dengan formasi dan taktik yang dia usung. Dia harus fleksibel. Terutama menyesuaikan dengan profil permainan lawan. Titik lemah lawan harus dieksploitasi, kekuatan terbaik lawan harus diatasi.

Risiko ketiga: Kinerja yang tidak konsisten

Manajemen risiko ketiga:

  • Kinerja pemain dipengaruhi kondisi psikisnya. Ada klub yang mulai mempekerjakan psikolog. Menjaga mental para pemain tetap stabil. Banyak dokter tim juga menjadi tempat ‘curahan hati’ pertama bagi para pemain. Dokter tim bersentuhan langsung dengan berbagai keluhan dan cedera pemain.
  • Pencegahan cedera pemain. Istirahat yang cukup. Aktivitas di klub itu melelahkan otot. Belum termasuk perjalanan panjang semisal naik bus atau pesawat selama berjam-jam.
  • Pemain juga harus sadar dan bersikap disiplin. Ini bagian dari profesionalisme pemain. Pengawasan dari klub tetap ada. Klub harus bertindak tegas apabila ada pemain yang melanggar peraturan klub.
  • Rotasi pemain. Dalam realitanya, mengelola pesepakbola mirip dengan manajemen artis. Semua ingin tampil di “panggung”. Tinggal bagaimana membagi-bagi panggung yang ada. Apabila semakin jarang menjadi starter, bisa membuat pemain bintang berpindah klub.

Risiko keempat: terkait pemain. biaya rekrut yang tinggi dan harga jual yang menurun.

Manajemen risiko keempat:

  • Kembangkan pemain di akademi sendiri. Michael Emenalo (sekarang di Monaco) di Chelsea punya “mata” yang brilian dan bisa menilai potensi pemain untuk dikembangkan sesuai kebutuhan tim. Bagusnya, Chelsea bisa mendapat keuntungan berlipat tatkala pemain tersebut “terpaksa” dijual ke klub lain.
  • Bangun jejaring scout ke seluruh dunia. Kembangkan akses menuju “aset baku” yang lebih banyak dan beragam. Seperti di dunia korporasi, di sepakbola juga terjadi War of Talent. Manchester City lebih mengerikan. Hampir memiliki setidaknya sebuah klub di setiap benua: New York City, Melbourne City, Yokohama Marinos, Girona, dan Atletico Torque. Sehingga jejaring scout-nya bisa lebih dioptimalkan.
  • Beli pemain yang bisa meningkatkan popularitas klub. Pribadi yang sudah terkenal akan turut mengungkit brand-nya klub.
  • Pemain adalah aset. Nilainya bisa naik. Dan aset itu bisa dijual ke klub lain. Tidak apa beli mahal, selama bisa dijual lebih mahal lagi.
  • Jangan salah beli. Mengontrak pemain yang sulit dilepas lebih mahal akan membebani keuangan klub.

Risiko kelima: Tim yang terlalu tua.

Rata-rata usia pemain dalam sebuah tim sekarang menjadi indikator yang selalu diperhatikan.

Manajemen risiko keelima:

  • Urus juga pemain yang perlu “dikeluarkan”. Chelsea membatasi perpanjangan kontrak hanya selama setahun untuk pemain berusia lebih dari 30 tahun.
  • Jual pemain yang “menua” dan performanya sudah menurun.
  • Alihkan ban kapten dari sang kapten yang sudah “berumur”.

 

Menebak Perasaan Pemain Sepak Bola


Entah bagaimana, saya selalu senang membahas tentang industri sepakbola. Sebagai sebuah entitas bisnis, klub bola banyak berbeda dengan bisnis kebanyakan. Katakanlah dengan industri berbasis manufaktur. Industri ini berbasis aset berupa mesin-mesin manufaktur. Dengan aset intangible seperti brand dari produk dan hak cipta atas suatu produk, maka jadilah manusia-manusia di dalamnya ibarat hanya operator semata. Ganti orang tidak berimpak negatif pada perusahaan karena standard rekrutmen dan quality control-nya sudah sedemikian jelas.

Berbeda dengan klub sepakbola. Semuanya berbasis Human Resources (HR). Mulai dari pelatih kepala, tim pelatih, para pemain (inti, cadangan, dan hierarki di bawah keduanya), sampai dengan perilaku pemilik klub akan berimbas pada kinerja klub. Baik penampilan tim di lapangan maupun kinerja finansialnya. Sebagai people in organization, pastinya kinerja pemain dan tim di lapangan tentu dipengaruhi oleh mental dan perasaan mereka sebagai “karyawan”.

emotional-clipart-teacher-1

Pesepakbola juga “orang kantoran”, kok.

Tapi kantornya di tempat latihan. Pastinya, tidak hanya latihan-latihan dasar saja yang mereka lakukan. Berlari, menendang bola, dan seterusnya. Tetapi juga latih tanding antar tim. Tidak melulu melatih otot-ototnya saja ya. Melainkan juga pemahaman terhadap skema bermain klub dan pelatih. Yang terakhir ini juga harus dilatih di lapangan bersama dengan teman-teman pesepakbola profesional lainnya. Bukan hanya fisiknya yang lelah, tetapi otaknya juga capek.

Sebagaimana pekerjaan “kantor” lainnya, pasti ada bosannya. Ada jadwal masuk yang harus ditaati. Ada menu-menu latihan rutin yang harus diikuti. Juga menu-menu diet yang tidak boleh dilanggar. Belum termasuk aktivitas bareng yang harus dilalui: kumpul bareng sebelum berangkat ke kota tujuan -naik pesawat maupun perjalanan darat dengan bus. Tinggal bareng di hotel tempat menginap–gak boleh menginap di rumah saudara 😀

Intermeso sedikit, ada makna tentang profesional yang saya pernah terima. Makna ini agak nyeleneh tapi masuk akal banget. Bahwasanya seorang profesional itu adalah seorang yang sangat mahir dalam hal-hal paling sederhana di bidangnya. Dan masih terus berlatih hal-hal sederhana tersebut. Kalau dia pemain bola, maka dia jago banget dengan berlari dan menendang bola. Meski demikian, tetap saja dia punya pelatih dan tetap latihan lari lalu latihan menyepak bola.

Misalnya, saya seorang penulis, maka hal-hal dasar seperti EYD dan penggunaan tanda baca sudah seharusnya saya mahir. Di samping itu, sudah sewajarnya pula bisa saya memiliki seorang pelatih yang membantu saya membuat tulisan yang lebih baik.

Apalagi hari begini, off the ball movement itu yang paling penting. Ketika bola berada di tim lawan, apa yang harus dilakukan oleh seorang pemain (dan rekan-rekan setim) lakukan. Pressing seperti apa, bagaimana supaya formasi yang dibangun tidak berantakan, dst. Begitu pula tatkala bola berada di seorang rekan kita. Ke mana saya harus bergerak, ke mana rekan lain harus membuka ruang, dll.

Seperti kata Paul Pogba dalam suatu wawancara kala dia mengikuti tur dan jumpa fans ke Cina yang diselenggarakan oleh Nike, “Sepakbola Inggris itu melelahkan banget karena intensitas menerima, mengoper bola, lalu lari bergerak tanpa bola itu tinggi sekali.”

Rasanya Pindah Klub.

Tidak ada bedanya dengan pindah perusahaan. Ada teman-teman baru di pusat pelatihan. Ada rahasia-rahasia perusahaan lama yang tidak boleh terlalu diungkap dan diumbar-umbar. Ada target-target perusahaan (baca: klub) yang harus dicapai. Harus fokus dengan kemenangan tim di setiap pertandingan dan kejuaraan yang diikuti. Saya yakin para profesional lapangan hijau tersebut, meskipun punya kehidupan yang kelihatan asyik: mobil mahal, rumah bagus, pekerjaan sesuai passion, gaji per pekan ribuan poundsterling. Tetap akan stress kalau target klub tidak tercapai: klub degradasi, gagal menang beruntung, tidak jadi juara kompetisi di akhir musim atau gagal menjadi juara turnamen.

Namanya perusahaan tempat sekarang bekerja, itulah yang paling harus dibela ya. Misalnya waktu beberapa pekan lalu Nemanja Matic (Manchester United) kemarin kembali ke Stamford Bridge, dia tidak lebay soal basa-basi dan haha-hihi dengan pemain Chelsea. Berusaha fokus dan konsentrasi penuh terhadap pertandingan yang sudah di depan mata. Kemenangan klub saat inilah yang harus diwujudkan. Bukan memprioritaskan reuni bersama teman-teman lama. Dan aksi-reaksi seperti ini yang kerap terjadi kala seorang mantan pemain kembali ke stadion lamanya.

More demand than supply at certain qualities

Seorang Jose Mourinho, di tahun pertamanya di Manchester, tinggal di hotel yang disediakan klub. Pastinya bukan hotel bintang tiga lha, ya. Sewaktu David Moyes pindah ke MU, dia juga membawa beberapa partner kerjanya dari Everton. Pelatih (dan pemain-pemain tertentu) punya kualitas luar biasa dan diidam-idamkan pula oleh banyak klub. Jelas, jumlah mereka sedikit.

Karena hanya sedikit, jangan heran kalau klub-klub berlomba-lomba merekrut dan mempertahankan mereka. Gaji ribuan poundsterling per pekan, mobil mahal, rumah mewah, dan berbagai fasilitas lainnya diberikan untuk mempertahankan mereka tetap senang, think positive, bermain maksimal, dan membawa klub menjadi juara.

Dalam negosiasi di setiap kontrak baru, pelatih dan pemain dengan kualitas tingkat tinggi ini seringkali mendapat keuntungan maksimal. Mereka seringkali sudah “menang banyak” bahkan sebelum negosiasi dilakukan dan kontrak ditandatangani. Chelsea tentu boleh memecat Mourinho, dan benar-benar mereka lakukan pada akhir tahun 2015 lalu, namun ada klausul yang menyatakan bahwa sampai dengan Mourinho mendapat pekerjaan baru, Chelsea harus tetap menggaji dia –dengan mahal.

Pesepakbola dan Media Sosial.

Pebola masa kini tidak ada bedanya dengan artis. Mereka menjadi pusat perhatian, apa yang mereka lakukan mungkin diikuti, apa yang mereka pakai bisa saja dibeli, dan seterusnya. Di media sosial, ada posting mereka tentang perayaan kemenangan, positive thinking setelah kalah di pertandingan, kerja keras di lapangan dan gym di markas latihan klub, dan lain sebagainya.

Pemain-pemain yang benar-benar punya nama seperti Cristiano Ronaldo dan Paul Pogba menjadikan socmed-nya sebagai channel untuk berpromosi, misalnya tentang sepatu atau jersey baru mereka.

Dejan Lovren mengalami ancaman pembunuhan keluarganya yang menurutnya, “menjijikkan”. Meskipun tampil buruk dan diganti di menit ke-31, ketika Liverpool kalah 4–1 dari Tottenham, dia merasa itu sudah berlebihan. Ok, dicaci ketika bermain buruk itu biasa. Tapi kalau sudah menyangkut keluarganya, apalagi sampai ada ancaman pembunuhan, itu sudah menjijikkan, menurutnya.

Bagaimanapun, pesepakbola itu manusia. Yang kinerjanya seringkali dipengaruhi emosinya. Kalau positif, maka dia akan bermain maksimal. Sebaliknya ketika pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negatif, apalagi dari orang-orang atau follower di social media yang tidak dia kenal. Maka ikut buruk pula permainannya di lapangan.

Apalagi bila dia adalah seorang kapten. Atau motor permainan. Seorang yang punya pengaruh, didengarkan dan diperhatikan oleh rekan-rekan setimnya. Bila mentalnya sedang buruk, bisa buruk pula permainan timnya.

Pesepakbola tidak lagi bisa sekedar berlatih dan bermain. Pesepakbola saat ini juga berperan sebagai public figure, offline atau online, mereka akan dijadikan panutan. Meskipun sebagian di antara follower akan mencibir, memaki, bahkan mengancam pembunuhan atas mereka.

Reference:

https://www.theguardian.com/football/2017/nov/12/why-do-so-many-footballers-opt-to-sit-in-the-virtual-stocks-on-social-media

Harga Kecakapan dan Popularitas Pemain Sepakbola


Baru beberapa hari yang lalu, Klub Sepakbola Chelsea “deal” dengan AS Monaco untuk pembelian pemain Tiemoue Bakayoko. Sebenarnya Chelsea sudah memiliki pemain untuk posisi yang sama, yang menurut banyak orang memiliki kemampuan yang relatif sama. Namanya Nathanel Chalobah. Usianya sama-sama 22 tahun saat ini. Posisi yang dimainkan sama-sama di gelandang tengah (bukan di sayap kanan atau kiri).

Chelsea sudah bersama Nathanael sejak 10 tahun yang lalu sejak menjadi binaan di akademi. Chelsea semestinya sudah mengenal baik dan mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan dengan “karyawan”-nya ini. Lagipula, Bang Nael (sapaan akrabnya ala-ala saya :D) sering main lho untuk Tim Nasional Sepakbola Inggris. Akumulasinya 97 caps untuk berbagai jenjang usia.

Namun, yang terjadi kemudian adalah, Chelsea merekrut karyawan baru dan melupakan (baca: menjual) karyawan lamanya ke Watford. Yang lebih aneh adalah, Chelsea mengeluarkan duit sebesar 39.7 juta poundsterling. Dan hanya menerima 5 juta poundsterling. Total Jenderal, Chelsea malah rugi 34.7 juta pounds. Sekitar Rp685 miliar. Klub seakan tidak sayang “membuang” duit sebanyak itu. Kalau di Indonesia, duit sebanyak itu kira-kira bisa dipakai untuk apa ya?

Yang paling penting, mengapa hal ini bisa terjadi? Secara keekonomian, mengapa institusi bisnis seperti Chelsea FC melakukan hal tersebut?

Harga Sebuah Kecakapan

Berapa sih harga seorang manusia? Apakah pantas seorang manusia dihargai sedemikian tingginya, kala berpindah hak pakainya dari sebuah klub ke klub lain? Di industri sepakbola, hal demikian dinamakan “biaya transfer”. Silakan simak infografis berikut ini. Di mana, 13 dari 14 transfer termahal tersebut terjadi hanya dalam 7 tahun terakhir.

Sesungguhnya manusia tidak mengenal “harga”. Yang dihargai adalah kecakapannya, alias kemampuannya, atau bisa disebut juga kompetensinya.

Namun demikian, apakah angka-angka tersebut masih masuk akal? Tidakkah nilai-nilai tersebut mengusik rasa kemanusiaan kita? Bukankah di sekitar kita masih terjadi ketimpangan ekonomi dan sosial yang lebih layak kita tuntaskan?

Ada beberapa sebab mengapa hal demikian bisa terjadi

Industrialisasi Sepakbola Terus Berlangsung

Pendapatan klub sepak bola tidak lagi hanya dari penjualan tiket. Tapi juga hak siar, dan berbagai bentuk komersialisasi lainnya. Namanya juga stadion tempat menyaksikan pertandingan bola, pastinya terbatas secara kapasitas, dong. Automatis, pendapatan dari penjualan tiket akan terbatas. Pendapatan apa dong yang saat ini bisa digenjot hingga bertumbuh terus? Pendapatan sponsorship dan pendapatan hak siar.

Dua pendapatan terakhir disebut ini, bisa terus digenjot karena klub melakukan ekspansi pendukung/fans. Dari sekedar di dalam negeri, hingga ke luar negeri, bahkan lintas benua. Sebutlah ini sebagai upaya internasionalisasi oleh klub.

Sekedar potret saja. Manchester United memiliki jumlah fans terbanyak di dunia. Fans Chelsea kurang lebih ada 300 juta orang di seluruh dunia. Jumlah fans secara tidak langsung dapat menjadi ukuran nilai sebuah brand. Berkat modal brand dan jumlah fans tersebut, tidak heran MU menjadi klub dengan pendapatan terbesar di seluruh dunia (Firma Konsultan Deloitte, 2017).

Saya belum tahu bisnis apa di dunia ini yang tanpa investasi tambahan, tetapi bisa digenjot terus omzetnya. Demikian pula dengan industrialisasi sepakbola. Semakin tinggi omzet yang dikejar, maka semakin banyak pula investasi yang harus dibenamkan. Untuk urusan begini, biasanya pengusaha lokal ada batasnya. Gurihnya industrialisasi sepakbola di Inggris, menghadirkan investor dan pemilik dari berbagai belahan dunia.

Nama-nama seperti Keluarga Glazer (dar Amerika Serikat), Abramovich (Rusia), Srivaddhanaprabha (Thailand), dan Sheikh Mansour (Uni Emirat Arab) adalah sederet nama pengusaha sekaligus investor yang membeli dan memiliki klub-klub di Liga Premier. Perusahan investasi Sheikh Mansour juga memiliki klub sepakbola yang lain, yaitu New York City.

Personal Brand Pemain Semakin Penting

Jersey Real Madrid dengan nama dan nomor punggung C. Ronaldo yang terjual sepanjang musim pertamanya, sudah lebih tinggi dari dibandingkan nilai yang harus dibayar oleh Real Madrid kepada Manchester United (79.90 juta pounds). Hal ini membuktikan bahwa pemain memiliki brand yang dapat dioptimalkan komersialisasinya. Sehingga Klub pun tidak ragu-ragu untuk berinvestasi pada pemain yang memiliki personal brand yang sangat baik.

Tiemoue Bakayaoko sudah bermain sampai di semifinal Liga Champions musim lalu. Dia sukses membawa klub sebelumnya sebagai Juara Liga di Prancis. Meski sama-sama berusia 22 tahun, tapi saat ini, dia jauh lebih dikenal dan populer daripada pemain yang digantikannya, yaitu Nathanael Chalobah.

Klub seperti Chelsea saat ini tidak hanya membutuhkan pemain yang cakap di posisinya, serta mampu bertahan dan menyerang sekaligus. Tetapi juga pemain yang memiliki popularitas dan engagement yang baik.

Lagipula, sebagai sebuah brand dan entitas bisnis, dengan sendirinya para fans Chelsea memiliki ekspektasi dan harapan tertentu terhadap Chelsea. Nah, Chelsea harus mengelola keduanya dengan baik dong. Salah satu caranya adalah dengan memberikan “promise” (janji) melalui pembelian pemain yang sudah populer dan (tentu saja) memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh klub.

Jadi, sekali lagi, kita tidak perlu heran mengapa klub berinvestasi atas popularitas seorang pemain.

Community Management ala Klub Sepakbola

Klub turut berinvestasi membangun basis penggemar. Mereka adalah komunitas, yang artinya bukanlah sekedar penonton biasa. Mereka adalah die hard fans yang akan tetap menonton menang dan kalahnya sebuah klub. Serta juara atau tidak juaranya sebuah klub.

Tidak heran setiap jeda musim, mereka mengadakan pertandingan tur ke Asia dan Amerika. Indonesia –dengan basis penduduk yang besar– tidak luput pula menjadi negara yang ditargetkan. Dan meski berada jauh secara geografis dari pusat industri sepakbola, tur benua bukan satu-satunya senjata. Sekarang sudah ada twitter mau (facebook) fan page yang bisa jadi diusahakan oleh official club, atau diupayakan oleh penggemar fanatik.

Para fans juga mengajak dan mempromosikan klub andalannya. Dari sisi perilaku penggemar, memang ada fans klub yang mengajak putra/putrinya turut menyaksikan permainan sang idola di lapangan hijau. Ada pula yang dengan rajin membelikan dan memberikan jersey terbaru dari klub favorit. Intinya mengajak kerabat atau keluarga terdekat untuk turut menjadi bagian dari komunitas penggemar.

Efek Samping Transfer Pemain Populer

Pemain-pemain akademi jadi terpinggirkan dan sangat mungkin disingkirkan kapan saja (baca: dipinjamkan atau dijual). Kita semua tahu, pemain-pemain akademi sangat jauh lebih murah. Bahkan ada klub seperti Ajax Amsterdam, atau Southampton yang menjadikan jual-beli pemain akademi sebagai sumber laba perusahaan.

Model bisnis tersebut tidak lagi dipakai oleh banyak klub. Minimal oleh klub Premier League. Sebab semua klub tersebut kini memprioritaskan model bisnisnya berdasar prioritas terhadap hak siar. Degradasi sekalipun, masih mendapat 100 juta poundsterling. Karena itulah, (player) popularity is the key.

Pemain-pemain dengan kemampuan terbaik (dan popularitas tinggi) dicari di seluruh benua. Klub-klub bermodal besar ngotot membayar mahal pemain yang populer. Minimal, dengan talentanya dia bisa membantu klub untuk menjadi lebih populer lagi. Sehingga ditonton oleh penikmat sepakbola di berbagai belahan dunia.

Akhirnya, pemain-pemain jebolan akademi hanya menjadi penyeimbang finansial klub saja. Keberadaannya sekedar ada saja. Belum tentu dimainkan secara reguler di starting eleven. Tatkala dia jarang bermain, maka popularitasnya itu-itu saja. Tidak ada panggilan sebagai model iklan. Klub yang mengontrak jasanya pun tidak memiliki tambahan pendapatan.

Semua ini terjadi manakala pebisnis klub sepakbola, instead of mengutamakan kemampuan sebagai satu-satunya indikator, ternyata juga menggunakan ukuran popularitas pemain dan revenue from broadcasting rights sebagai indikator utama dalam menjalankan bisnis klub sepakbola.

Sisi Lain Roman Abramovich


Saya yakin, entrepreneur macam Roman Abramovich ini engga sekedar pengen punya klub sepakbola. Owner of Gazprom di Rusia memandang berbagai aspek sebelum melakukan pembelian. Bagaimanapun, pembelian Chelsea (140 juta poundsterling tahun 2003) ini harus berimpak positif secara finansial. Dan mengembalikan semua investasi yang sudah dikeluarkan (terutama untuk belanja pemain) adalah semua yang kini dia berusaha lakukan.

FYI, berbagai manajemen klub sepakbola di dunia memilih satu di antara tiga model bisnis yang lazim dipakai oleh klub sepakbola:

1) Model “Talent Development“. Pengembangan pemain muda, yang kemudian dapat dijual lebih mahal ke klub lain. Marjin besar ini kemudian diputar kembali ke dalam sistem yang mereka miliki. Klub seperti ini biasanya punya sekolah sepakbola dengan brand yang dikenal di seluruh dunia. Model ini diadopsi oleh: Southampton, Ajax Amsterdam, Feyenoord, Boca Juniors, Sao Paolo, dan lainnya. Sumber daya keuangan yang sangat terbatas adalah latar belakang dari semua inisiatif di atas.

2) Dengan contoh Real Madrid-nya Florentino Perez (2000-2006, dan 2009-sekarang), model “Superstar Acquisition” ini menghabiskan banyak uang untuk mengontrak pemain yang sedang dalam performa maksimal (Cristiano Ronaldo 2009, Gareth Bale 2013) yang bisa memberikan jaminan juara. Tidak heran Madrid dijuluki los galacticos: tim dengan pemain dari galaksi lain. Model ini sesuai dengan thesis “blockbuster strategy“-nya Anita Elberse (profesor HBS). Yaitu investasi besar-besaran ke sedikit pemain yang sudah engage di hati penggila bola di seluruh dunia. Makanya mereka rekrut James Rodriguez yang main keren di World Cup 2014 lalu. Pembelian pemain ini diyakini akan meningkatkan penjualan jersey atas nama tersebut di negara asal: Kolombia. Sekaligus me-leverage brand Real Madrid di sana.

Terbukti, model operasional ini berhasil mempertahankan Real Madrid sebagai klub yang selalu nomor satu (sejak musim 2003/04) untuk urusan omzet. Dengan tolok ukur paling utama digunakan dalam mengukur finansial sebuah klub sepakbola adalah rasio gaji (pemain) terhadap omzet. FYI, di bisnis klub sepakbola, pengeluaran terbesar ada pada biaya transfer (ke klub lama si pemain) dan gaji. Paradoks yang bisa kita petik dari kasus Real Madrid adalah pengeluaran jor-joran untuk pemain beken ternyata justru memberikan marjin yang paling besar dibandingkan dengan dua model finansial yang lain.

Berikut data-datanya. Real Madrid konsisten berada di kisaran 43-48 persen. Pada musim 2013/14, Real Madrid di angka 45%. Sebagai perbandingan pada musim yang sama, Barcelona sebesar 51%, Manchester United 50%, Manchester City 59%. Maksimum rasio yang direkomendasikan oleh European Club Association adalah 70%. Sudah banyak kasus klub yang bangkrut karena pengeluaran gaji pemain yang terlalu besar tapi tidak diimbangi pemasukan: Deportivo La Coruna, Leeds United, dan Anzi Makhachkala.

3) Model “Portfolio” yang merupakan kombinasi keduanya, kini mulai diterapkan oleh Barcelona, Manchester City, dan Chelsea di klub masing-masing. Model ini sebenarnya dikembangkan dan diimplementasikan di Manchester United (MU) oleh Sir Alex Ferguson. Pria Skotlandia mengkombinasikan talent-talent binaan akademi (best practice-nya adalah Class of 92) dengan pemain-pemain mahal MU: Ruud Van Nistelrooy, Robin van Persie, Rio Ferdinand.

Masing-masing model finansial ini menentukan bagaimana sebuah klub akan merekrut, mengembangkan, dan mengelola talenta-talenta (pemain) yang mereka miliki.

Nah, kembali ke klub milik Roman Abramovich. Chelsea mengadaptasi model ketiga, yaitu “Portfolio“. Chelsea berbeda dalam hal (1) jejaring global pencari bakat dan (2) kebijakan peminjaman pemain ke klub lain. Pemain-pemain asal Belgia berikut ini menjadi contoh bagus bagaimana jejaring pencari bakat dan kebijakan pinjaman memberikan keuntungan signifikan bagi Chelsea.

(1) Thibaut Courtois (dipinjamkan ke Atletico Madrid; kini jadi kiper utama menggeser Petr Cech). Semua transaksi tersebut dalam kurun waktu tiga tahun hanya me-“rugi”-kan Chelsea kurang dari 3 juta poundsterling.
(2) Kevin de Bruyne (dipinjamkan Werder Bremen lalu dijual ke Wolfsburg), menguntungkan Chelsea sebesar 9.7 juta poundsterling dalam 2 tahun kepemilikan.
(3) Romelu Lukaku (dipinjamkan ke West Brom dan Everton; dijual ke Everton), Chelsea untung 12 juta poundsterling pasca 3 tahun kepemilikan.
(4) Thorgan Hazard (adiknya Eden; dipinjamkan ke Borussia Monchengalbach; dijual ke klub yang sama dengan laba 5 juta poundsterling setelah 2,5 tahun kepemilikan).

Laba total dari keempat pemain di atas adalah 23.7 juta poundsterling. Dan dengan akumulasi laba hasil dari pola pembelian dan penjualan yang sama, tentunya Chelsea akan dapat mengimbangi pembelian pemain “siap-pakai” semacam Cesc Fabregas (33 juta pounds), Diego Costa (32 juta pounds), Filipe Luis (15.8 juta pounds), dan lain-lainnya. FYI, omzet sebuah klub sepakbola dalam setahun berasal dari beragam sumber: hak siar, sponsorship, penjualan pemain, penjualan tiket penonton, dan lain sebagainya. Tidak heran klub selalu mengejar gelar juara (dan memecat pelatih yang gagal mengantongi gelar). Sebab hak siar, sponsorship, penjualan tiket, akan semakin membesar apabila klub yang bersangkutan sering juara. Sering juara juga akan berimpak pada meningkatnya nilai intrinsik dari brand klub itu sendiri. Tentang brand value kita coba bahas kali lain ya.

Padatnya pemain berkualitas di Chelsea tidak memberi kesempatan pemain muda potensial mendapat waktu dan pengalaman bermain. Peminjaman pemain ke klub lain oleh Chelsea adalah sarana meningkatkan kualitas dan pengalaman pemain yang bersangkutan. Keempat pemain di atas hanya bermain selama 295 menit (rerata per pemain 75.75 menit) untuk Chelsea. Tidak hanya kualitas dan pengalamannya yang meningkat, tetapi juga nilai jual di pasar transfer pemain yang juga semakin meninggi.

Pola pencarian omzet seperti ini yang menjadi sisi lain dari Roman Abramovich. Ini merupakan lanjutan dari berbagai inisiatif-inisiatif yang sudah dilakukan sebelumnya: belanja pemain-pemain mahal, lalu merekrut (sekaligus memecat) pelatih yang diharapkan membawa pulang gelar juara ke Stamford Bridge. Even Roberto Di Matteo dan Rafael Benitez tidak dipertahankan pasca menjuarai Liga Champions dan Liga Eropa.

Related Posts:
Strategi Bisnis Klub Sepakbola 

Master Mind Klub


FC Barcelona pada minggu malam membalikkan ketertinggalan dari 2-0 menjadi 2-5. Tiga di antaranya dicetak oleh Pedro Rodrigues. Pedro mencetak hattrick (trigol dalam satu pertandingan). Dua lagi oleh Cesc Fabregas. Messi dan Neymar tidak terlihat di lapangan. Dan Barcelona ternyata memang bisa menang tanpa dua maestronya tersebut. Tidak hanya sekedar menang, pelatih anyar Gerardo Martino membawa Barcelona bermain dengan cara yang berbeda dibanding 5 tahun terakhir.

Khawatir dijebak oleh tim lawan karena pola tiki-taka yang monoton beberapa tahun ke belakang, Barcelona mencoba inovasi baru. Kreasi-kreasi baru dikembangkan demi menghindari keajegan. Di musim ini, gol dari luar kotak penalti beberapa kali menjadi andalan Barcelona. Operan-operan jarak jauh lebih sering dilakukan. Tim terlihat lebih fleksibel dengan beberapa pola permainan berbeda antar pertandingan.

Masih di musim yang sama, Real Madrid kini mengandalkan duo pemain depan yang serba bisa. Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale. Bertipe pelari, tapi jitu menembak dari luar kotak 16 besar. Bisa menusuk ke dalam kotak pertahanan lawan, tapi juga jago memberi umpan silang. Kreator gol dari sepakan bebas, pun ahli mencetak gol dari open play. Real Madrid dan Barcelona seakan begitu mudah beradaptasi dengan taktik dan skema baru yang mereka ciptakan di atas kertas dan mereka implementasikan di lapangan.

Yang menentukan berapa skor akhir pertandingan sepakbola memang para pemain di lapangan. Mereka ibarat biduk catur di papan hitam-putih. Penentu di lapangan, tapi tetap ada master mind di balik layar. Yaitu para pemikir skema dan taktik yang sebenarnya lebih berkuasa ketimbang pemain. Orang-orang ini punya sejarah kuat dan pengalaman mumpuni akan taktik dan skema permainan yang memberikan hasil bagus dalam semusim kompetisi.

Klub-klub besar eksis karena mereka berhasil menahan orang-orang seperti ini untuk tetap bersama mereka. Keberadaan mereka biasanya tidak lebih terkenal daripada para pemain. Mereka adalah master mind klub. Tidak perlu dikenal, karena memang bukan itu yang dibutuhkan klub dari mereka. Yang diperlukan dari mereka adalah strategi dan taktik permainan yang tetap relevan dari kompetisi ke kompetisi. Relevan karena terinternalisasi melalui latihan-latihan di klub, tetapi belum bisa diatasi oleh klub lawan. Itu sebabnya strategi dan taktik terus berevolusi. Dan evolusi tersebut biasanya selalu dipimpin oleh klub-klub besar seperti Real Madrid dan Barcelona.

Cara Menghadapi Barcelona


Josep Guardiola yang menangani FC Barcelona selama 2008-2012 sudah meninggalkan legacy yang luar biasa, yaitu filosofi taktik Tiki-Taka. Filosofinya mirip dengan yang dimiliki oleh Belanda di tahun 70-an, yakni berusaha menguasai setiap jengkal lapangan dengan rotasi peran antar pemain. Seorang pemain bertahan bisa tiba-tiba berubah peran menjadi pemain depan, dan sebaliknya juga berlaku. Filosofi taktif Belanda ini diberi nama Total Football. Kuncinya ada pada kekuatan fisik dan kemampuan teknis olah bola tiap pemain. Tiki-taka menekankan pada operan pendek, pergerakan tanpa bola serta

Filosofi tiki-taka membutuhkan visi permainan, kemampuan olah bola yang komplit, dan lincah–yaitu ketika titik berat pemain semakin rendah maka pemain tersebut semakin lincah. Berkebalikan dengan Total Football yang menghendaki penguasaan lapangan, Tiki-Taka justru meyakini bahwa ukuran ‘lapangan permainan’ sesungguhnya fleksibel untuk bisa diubah sedemikian rupa. Guardiola sendiri meyakini bahwa, “lebih baik merebut bola ketika masih berjarak 30 meter, bukan setelah 80 meter dari gawang lawan”. Dengan tiki-taka, Spanyol dan Barcelona sukses mengendalikan bola sekaligus lawan. Silakan cari sendiri ya berapa trofi yang diperoleh kedua tim tersebut.

Tapi Barcelona bukan tanpa kekalahan. Ada cara mengalahkan Barcelona dan beberapa tim berhasil menahan seri bahkan mengalahkan mereka. Tercatat Milan 2-0 Barcelona, Celtic 2-1 Barcelona, Barcelona 2-2 Chelsea, Chelsea 1-0 Barcelona, dan Inter Milan 3-1 Barcelona. Mereka sukses mengatasi tiki-taka sekaligus mencuri kemenangan atas Barcelona. Tiki-taka memang simbol strategi sukses Barcelona, tapi masalahnya adalah itu satu-satunya strategi sukses mereka. Begitu tiki-taka buntu dan berhasil dimatikan, di saat itulah Barcelona bisa dikalahkan.

Bermain di sepertiga lapangan permainan anda

Barcelona ingin tim anda bermain dengan ukuran lapangan yang mereka tentukan: yaitu dengan ukuran setengah lapangan bola. Maka layani saja mereka di sepertiga lapangan anda. Bukan memarkir bus, tetapi justru untuk mempersempit lapangan permainan mereka. Gunakan empat pemain belakang dan tiga gelandang untuk bertahan. Bukan untuk membuat operan-operan pendek mereka buntu, tapi untuk mengintersep berbagai operan dan umpan terobosan mereka. Tiga gelandang juga membuat Messi  bermain lebih  ke samping atau mundur ke belakang meminta operan bola.

Awasi Messi, Xavi dan Iniesta

Yang dilakukan oleh Milan adalah menugaskan Muntari untuk membayang-bayangi Xavi dari memberikan umpan terobosan. Inter menggunakan dua pemain untuk  mengawasi Messi. Mastermind tiki-taka adalah pemain yang punya visi permainan. Dalam hal visi permainan, peran Xaviesta (Xavi-Iniesta) adalah sangat banyak. Kepada keduanya, pengawasan bertujuan mencegah yang bersangkutan mengirimkan umpan terobosan. Sedangkan untuk Messi, yang perlu dilakukan bukan man-to-man marking, tapi zonal-marking agar Messi tidak menerima bola dari rekan-rekannya.  Mencegah  Messi menerima bola secara tidak langsung berarti ‘menyingkirkan’ dia dari lapangan permainan.

Isi ruang kosong yang ditinggalkan pemain Barcelona

Pergerakan pemain adalah kunci filosofi tiki-taka. Setiap ada ruang baru terisi, maka akan ada ruang lama yang kosong. Fernando Torres mengatakan, berkonsentrasilah pada ruang bukan pada bola. Misalnya dengan menugaskan Ramires+Salomon Kalou di kanan, serta Torres dan Ashley Cole di sisi kiri Chelsea. Gol Muntari di Milan membuktikan teori ‘ruang kosong’ tersebut. Dani Alves yang berhadapan dengan El Sharaawy tidak ngotot merebut bola, bahkan ruang kosong yang dia ‘sediakan’ justru benar-benar dimanfaatkan Muntari untuk sebuah gol first time. Proses gol ini sebenarnya mirip dengan gol Gonzalo Castro ketika Sociedad mengalahkan Barcelona januari lalu.

References:

http://www.zonalmarking.net/2013/02/22/milan-2-0-barcelona-barca-completely-nullified/

http://outsideoftheboot.com/2013/02/21/ac-milan-2-0-barcelona-tactical-analysis/

Strategi Bisnis Klub Sepakbola


malam minggu begini, mumpung lagi ramai tayangan sepakbola di televisi, mari bahas sedikit tentang strategi klub sepakbola, yuk!

bisnis sepakbola pada dasarnya adalah bisnis berbasis penduduk kota juga. makin banyak jumlah penduduknya, makin  baik tingkat pendapatannya, maka pendapatan klub sepakbola bisa makin tinggi. tapi sumber pendapatan engga cuma dari jumlah tiket yang laku terjual, melainkan juga dari sponsorship, hasil penjualan jersey, dan lainnya. ini yang menjelaskan kenapa liga Italia sedang turun pamornya saat ini. karena pendapatan dari tiket terusan terus berkurang, karena ekonomi negara Italia sedang berada dalam titik nadir.

berbeda dengan bisnis sepakbola di Inggris. pemain mahal didatangkan, karena investornya berdatangan. teranyar, manchester united (MU) baru saja melepas saham perdananya di suatu pasar saham di New York, Amerika Serikat (AS). ini adalah refleksi hasil  kinerja keuangan yang luar biasa, yang bisa “dijual” dalam bentuk saham kepada calon investor. makin bagus klubnya, logikanya adalah harga sahamnya akan naik terus. sebelumnya, manchester city baru saja dibeli oleh invetor dari tanah Qatar. kebanyakan uang hasil penjualan minyak, investasi dialihkan ke klub sepakbola di kota manchester.

manchester ini adalah kota dengan pendapatan salah satu yang tertinggi di Inggris. tadinya kota industri, tapi kini telah berkembang lebih pesat daripada itu. faktor-faktor seperti ini tentu sudah dipertimbangkan oleh Sheikh Mansour sebelum membeli manchester  city. investasinya tidak hanya untuk membeli klub dan pemain-pemain berkualitas untuk musim pertama, tetapi juga untuk belanja hingga musim ketiga. machester city musim lalu juara liga Inggris. musim sebelumnya juara piala FA (football association, PSSI-nya Inggris). semuanya menghasilkan uang, lho. terlebih lagi bila bermain di  Liga Champions Eropa.

Inggris ini memang negara industri sepakbola. Maksudnya sepakbola sudah dikomersialkan sedemikian rupa sehingga memberi untung bagi banyak pihak. Di Indonesia saja, musim lalu kita masih bisa menyaksikan tayangan liga Inggris hingga 3 pertandingan berturut-turut. Semuanya siaran langsung, lho.  Ini adalah indikator bahwa jadwal pertandingan sudah diatur sedemikian rupa sehingga penonton tidak hanya terbatas bagi mereka yang datang langsung ke stadion, atau beberapa gelintir  pasang mata di rumah. Komersialisasinya dilakukan sedemikian rupa sehingga dengan jumlah pertandingan yang sama justru meraih jumlah penonton yang berlipat-lipat.

Karena itu Arsenal nyaris tidak peduli lagi dengan gelar juara liga domestik. Dengan pemain-pemain muda yang berkualitas, serta permainan cantik dan sering menang, Arsenal tidak terlalu minat lagi dengan gelar juara liga. Terbukti, dalam 7 musim terakhir belum pernah juara liga lagi. Yang jelas, bermain di Liga Champions itu keharusan. Karena bermain seri saja sudah mendapat hadiah uang, apalagi bila berhasil menang. Di setiap babak sistem gugurnya, ada hadiah uang menanti, bila lolos ya. Karena itu, bagi Arsenal engga masalah tidak juara liga, asal terus bermain di Liga Champions. sesekali  ditekel Barcelona, ya engga apa-apa 😀

Barcelona ini pelanggan tetapnya Arsenal. beberapa tahun lalu, yang membeli Thierry Henry adalah Barcelona. Awal musim lalu, kapten sekaligus pengatur serangan Arsenal, Cesc Fabregas pindah ke Barcelona, klubnya semasa remaja. awal musim ini, Alex Song yang pindah ke Barcelona. tentu, dengan kualitas seperti mereka, harga yang diterima oleh Arsenal juga pantas. Dan ini bisnis yang menguntungkan: membeli pemain muda dengan harga murah lalu memolesnya beberapa tahun kemudian menjualnya dengan harga mahal. Ini yang jadi alasan mengapa meskipun 7 tahun tanpa gelar, Arsene wenger dipertahankan. alasan yang sama dengan Sir Alex Ferguson di Manchester United (MU).

Fergie menjadikan MU sangat menguntungkan. karena, gelar juara liga dan berbagai gelar domestik lainnya, beberapa kali mencapai final dan juara liga champions sebanyak dua kali. Klub ini pernah di ambang kebangkrutan tapi berkat tangan dingin Glazer, keluaga ini berhasil menghapus utang-utang MU serta menjadikan klub ini sangat menguntungkan. Resepnya sederhana: menyerahkan sepenuhnya perekrutan pemain dan permainan tim kepada Fergie. Yang jelas, tidak boleh ada pemain yang sangat individual. Bila pemain tersebut bentrok dengan pelatih, maka pemain tersebut yang harus pindah karena sepakbola adalah permainan tim. Hal ini yang disinyalir terjadi manakala Ruud Van Nistelrooy dan David Beckham meninggalkan Theather of Dreams.

Karena hanya permainan tim yang akan memberikan kemenangan. Striker yang hebat akan mencetak gol, tapi kerjasama lini pertahanan yang akan mempertahankan keunggulan. Dan sebaliknya.  Tim yang punya pertahanan kuat tidak akan bisa menang bila tidak bisa mencetak gol. Dan satu lagi, yang menyebabkan banyaknya penggemar MU di seluruh dunia adalah, MU salah satu tim yang seringkali bangkit dari ketertinggalan. tak jarang justru menang dalam menit-menit akhir. Ingat final liga champions tahun 1999? dalam 3 menit terakhir, MU mencetak 2 gol setelah tertinggal 1 gol hampir sepanjang 90 menit.

Klub sepakbola kita di Indonesia terlalu malas untuk menjadikan pemain sebagai aset klub. Padahal pemain juga karyawan yang bisa mendatangkan produktifitas tinggi bagi perusahaan. Baik kemampuan bermainnya, maupun popularitasnya. Masih ingat beberapa tahun yang lalu, Arema Indonesia berhasil juara liga tapi gagal mempertahankan pemainnya. Akhirnya gagal pula mempertahankan gelarnya. Bahkan, kini justru nyaris gagal membayar gaji para pemainnya. Pemain memang aset terbesar klub. di eropa, kewajiban keseimbangan keuangan klub bahkan bisa digambarkan seperti ini: begitu besarnya harga yang harus dibayar untuk merekrut pemain bintang terbaru, maka untuk menyeimbangkan neraca keuangan, klub harus menjual pemain yang lainnya. Artinya, pengeluaran yang besar harus diseimbangkan dengan pemasukan yang besar pula.

La Strada Del Super Soccer


The song has no title as it was made from scratch by Indonesian musician Aksan Sjuman, and sang by Indonesian singer Anda.

Berikut liriknya:

Pensi di conoscere il calcio? Kau pikir kau tahu sepakbola?

Sei solo un figlio di mamma Kamu cuma anak mama

Sei un una vergogna Kamu memalukan

un imbarazzo Memalukan

Ti faccio vedere io come si fa Aku akan menunjukkan cara

Ti faccio vedere io la strada Aku akan menunjukkan cara untuk melakukannya

La strada del Super Soccer Cara menuju Soccer super

taktik sepak bola indonesia


ada ayahnya teman saya yang bilang, “nonton sepak bola indonesia itu bikin capek mata aja”. maksud beliau, bola bergulir dari kiri ke kanan layar televisi atau sebaliknya, tapi tidak ada hasil yang signifikan (gol, maksudnya). saya kira engga ada niat buruk dari pelatih dan para pemain, tentu mereka ingin menyerang, mencetak gol lalu menang.

tapi begini, serangannya itu lho yang sering mentah begitu saja. juru taktik di sepak bola indonesia perlu belajar banyak dari negara macem italia maupun negara eropa lainnya. italia memang terkenal dengan strategi bertahan ala grendel, tapi mereka engga cuma “parkir bus” di depan kotak penalti sendiri, mereka juga berusaha menurunkan tingkat penguasaan bola dari tim lawan. masuk akal sih, makin berkurang penguasaan bola lawan, maka kesempatan mencetak gol juga makin rendah.

tim belanda menganut prinsip strategi sepak bola yang sebenarnya relatif sama, tingkatkan penguasaan bola, untuk menghindarkan lawan mencetak gol. tapi bagaimana mereka mengejawantahkannya di lapangan jadi sedikit berbeda. mereka justru banyak menyerang dengan slogannya adalah “pertahanan yang terbaik adalah menyerang”. taktik tiki-taka yang diterapkan sepak bola Spanyol juga adalah melakukan penguasaan bola sebanyak-banyaknya. sedikit perbedaannya dengan Belanda adalah Spanyol melakukannya dengan ruang yang lebih sempit.

ini yang tidak dilakukan oleh sepak bola indonesia, setidaknya menurut saya. sepak bola indonesia tidak mengajarkan pemainnya untuk menguasai bola di lapangan. asal dapat bola, asal menyerang, lalu mencetak gol. kalau diserang ya, bertahan lalu rebut kembali. sesederhana itu. sebabnya adalah, main bola ga bisa pake otot  doang. tapi pakai otak juga, en bukan otak satu orang, alias kerja sama tim. di sini, konsentrasi semua pemain memegang peranan penting.

sebabnya berikutnya adalah, sepak bola tidak dimainkan dalam 30 menit, tapi 90 menit. ada faktor kelelahan yang mungkin mengurangi konsentrasi para pemain di lapangan, padahal pemain harus konsentrasi dalam menyerang maupun bertahan –kecuali mau fokus bertahan seperti chelsea kala melawan barcelona di liga champions 2011/2012 atau fokus menyerang seperti barcelona era Pep Guardiola.

karena tidak bisa mempertahankan bola dengan baik, jadinya tim sepak bola kita sering “kaget”. setelah berhasil merebut bola, belum benar-benar dikuasai secara tim, sudah langsung menyerang tim lawan. padahal, yang benar-benar siap baru para pemain yang sedang memegang bola saat itu. akibatnya, transisi bertahan ke menyerang jadi gagal dilakukan. pemain belakang/tengah terburu-buru memberikan bola kepada pemain depan yang belum siap menerima bola. akhirnya, serangan jadi gagal.

akibat yang lain: karena tim tidak menguasai bola dengan baik, maka peralihan menyerang ke bertahan jadi kacau juga. maksudnya begini, penguasaan bola yang baik akan menguatkan struktur formasi tim. tiap pemain akan tahu persis dimana harus berada, baik memegang bola atau tidak. jadi ketika tiba-tiba kehilangan bola, setiap pemain (sehingga tim juga) sudah siap untuk bertahan dan merebut kembali.

manchester united era Alex Ferguson sangat paham konsep ini. bahkan mereka “sengaja” memberikan ruang dulu bagi lawan untuk menyerang, tapi tetap dengan struktur formasi yang rigid dan sulit untuk ditembus. mereka siap untuk tidak memegang bola, maupun memegang bola.  akhirnya setelah bola direbut dari lawan, mereka siap untuk menyerang balik (secara cepat) dan mencetak gol. karena penguasaan permainan, tim ini dikenal dengan serangan baliknya yang cepat.

Sepakbola dan Masyarakat Indonesia


sesaat lagi, Euro 2012 akan dimulai dengan pertandingan perdananya: Polandia vs Yunani. sejak tadi, si stasiun official heboh menanyangkan persiapannya. mulai dari acara sulap-sulapan, komentar sebelum pertandingan, iklan-iklan promosi, pembukaan hingga pertandingannya. intinya, masyarakat Indonesia akan dimanjakan untuk sebulan ke depan 🙂

beberapa jam yang lalu, berita dari televisi yang saya lihat juga ikut menggambarkan betapa masyarakat kita sangat tergila-gila pada sepakbola. diberitakan, sekelompok anggota masyarakat melakukan pawai keliling. ada yang bermobil bak terbuka dan sepeda motor. peserta pawai ikut mengibarkan bendera-bendera peserta Euro 2012. menarik memang masyarakat kita, yang main sepakbola di benua mana, eh disini ikut merayakan dengan gegap gempita 🙂

masyarakat kita memang cinta dengan sepakbola. kalau timnas main di gelora bung karno, maka tim lawan akan takut. karena suporter akan menjadi pemain ke-12. itu baru supporter di stadion, belum pendukung  yang heboh di lokasi nonton bareng. dan orang-orang indonesia jadi bahagia karenanya. kebahagiaan yang datang dari sepakbola. seperti sekarang, karena sepakbola di negara lain.

hampir tiap akhir pekan, masyarakat kita disuguhi tontonan gratis sepakbola antar klub di eropa. dan tiap tengah tahun, tiap dua tahun sekali, ada piala dunia dan piala eropa bergantian menyuguhkan kejuaraan antar tim nasional di eropa dan dunia. enak lho, enak sekali. karena tinggal menonton saja. tidak usaha membayar televisi berlangganan. asal melihat iklan, sudah cukup bagi stasiun televisi dan para sponsor.

anyway, sembari menyaksikan pembukaan Euro 2012, saya menuliskan artikel ini. pembukaan yang gegap gempita sudah selesai, para pemain dari kedua kesebelasan bersiap memasuki lapangan. sebentar lagi pertandingan perdana dimulai dan ini pengantar saya sebelum Piala Eropa 2012 dimulai. akhir kata, selamat menyaksikan kejuaraan antar tim nasional sepakbola di eropa, selamat mendukung, dan tetap sportif 🙂