Membersamai Anak-Anak


Lewat tulisan ini saya ingin berargumen bahwa anak-anak itu jangan diproteksi. Intinya, ada batas dalam memproteksi anak-anak. Daripada diproteksi habis-habisan, mungkin lebih baik kita membersamai anak-anak.

WhatsApp Image 2018-02-18 at 21.05.42

Kendali atas TV dan Smartphone

Kita mulai dengan yang punya pengaruh kuat di rumah-rumah: Televisi. Sebenarnya, kita punya kekuatan kok untuk mengendalikan TV. Namun yang sering saya lihat, banyak keluarga yang menyerah dengan TV. Merasa harus punya TV seperti tetangga. Tidak bisa tidak menyaksikan tayangan TV. Bahkan meskipun ada kesibukan di rumah dan tidak bisa menonton, TV tetap dinyalakan.

TV itu menyajikan beragam konten. Berita, sinetron, film, acara anak-anak, music, dan lain sebagainya. Engagement yang kuat dari TV itu menjaga anak-anak kita tetap duduk manis di hadapannya. Harus diakui, kami sebagai orang tua ini kalah dari TV yang mampu menyajikan beragam konten itu. Mungkin itu yang bikin saya ragu mempunyai TV ya. Tapi, saya tanyakan ke istri juga, sebenarnya pendapatnya dia tidak jauh berbeda dengan saya.

Kalau dibandingkannya dengan internet, TV jelas kalah. Internet justru membuka ruang yang lebih besar. Baik untuk entertainment (hiburan), maupun pendidikan, serta lain sebagainya. Internet juga punya sisi buruk seperti pornografi, game online, dan sebagainya. Internet bahkan lebih kuat daripada TV.

Namun bagi saya, internet jelas lebih bisa dikendalikan. Sudah ada aplikasi-aplikasi di tier-nya komputer atau browser yang bisa bantu kita menyaring (filtering) konten-konten tidak bermanfaat. Belum lagi aksesibilitas anak-anak yang bisa dibatasi sama kita selaku orang tua. Anak-anak menonton via smartphone, maka smartphone itu yang kita batasi. So far, via YouTube Anak Dua di rumah hanya menonton serial RoboCar Poli dan Cloud Bread.

Semua security itu tentu saja dapat di hack oleh anak-anak. Sooner or later. Because children will grow then they will find it. Karena itu semua hanya alat bantu. Karena manusia yang menciptakannya, maka yang manusia pula bisa mengatasinya. Segala security –dalam bentuk apapun– sifatnya hanya sementara.

(Baru berapa hari yang lalu, ada rekan yang cerita bahwa di kuliah tentang security, salah satu tugasnya adalah menemukan nomor handphone salah satu orang selebriti tertentu. PR ini bisa mudah bisa susah. Tergantung caranya. Nah, ternyata keahlian-keahlian di bidang security didasari dari kemampuan mengulik suatu celah keamanan tertentu.)

Bicara proteksi sekaligus mendidik anak-anak, saya kira kita bisa belajar dari sekolah berasrama.

Sekolah Berasrama

Sekolah-sekolah berasrama adalah produk-produk pendidikan yang mulai tren sejak tahun 1990-an. SMA saya sendiri bahkan didirikan persis di tahun 1990 tersebut. Saya dan orang tua, masing-masing punya alasan untuk bersekolah di sana. Saya, baru masuk 12 tahun sejak pendiriannya, memang melihat nama besar (pada tahun itu) sekolah tersebut. Sedangkan orang tua saya memandang sekolah berasrama –yang anti rokok, narkoba, dan minuman keras—sebagai institusi yang edukatif sekaligus protektif terhadap anak-anak; Dan menurut beliau itulah yang seharusnya diterima oleh saya.

Misalkan kita memproteksi anak-anak dengan menyekolahkan mereka di sekolah asrama. Di asrama, biasanya ada “proteksi” berupa media-media yang diperkenankan masuk di sekolah. Penayangan TV ada jamnya. Ada koran dinding dari surat kabar tertentu. Memang sih, tidak dilarang menerima informasi dari luar sama sekali; tetapi ya tidak bisa juga mendapat informasi sebebas-bebasnya.

Sekarang era internet, mosok gak ada akses ke internet? Tidak bisa dihalangi sama sekali, memang. Tapi kenyataannya proteksi itu tetap ada. Misalnya lewat pembatasan penggunaan handphone dan laptop.

Kita tambahkan syarat dan ketentuannya. Misalnya itu adalah sekolah berasrama berbasis agama dengan intensitas pengajaran seputar ibadah, fikih, muamalah, dan sebagainya hingga 10 jam seminggu. Di sini kita bisa menyebut bahwa kita memberikan lingkungan yang edukatif terhadap anak-anak. Sekaligus protektif sebagaimana berbagai fitur sekolah berasrama yang “mencegah dan mengatasi kenakalan remaja”.

Pasca kelulusannya, bisa jadi si anak akan “gagap” untuk sementara waktu. Gagap, alias kaget melihat lingkungan sekitarnya ternyata belum se-ideal di sekolah dahulu. Penerapan pengetahuan agama semisal hijab sebagai pakaian, atau hubungan antara lelaki dan perempuan yang bisa jadi tidak berjarak, dan lain sebagainya. Buruk-buruknya, si anak bisa terjerumus ke “kebebasan” tersebut. Saya sendiri menyaksikan langsung beberapa teman yang “berubah” tersebut. Contoh ini sekedar cuplikan kasus ekstrim ya. Statistiknya tentu tidak demikian.

Intinya begini, bagaimanapun kita memproteksi anak-anak, cepat atau lambat mereka akan terkena eksposurnya juga. Jadi daripada memproteksi berlebihan, lebih baik mereka terekspos dengan sepengetahuan kita. Sehingga kita bisa mengarahkan, minimal berdiskusi tentang interpretasi maupun perspektif mereka terhadap hal tersebut. 

That’s why I thought we should not just protect them, but we should accompany them to explain how the world outside you (children) is. The world may be bad, hard, competitive, egoistic, self-minded, etc. Those may be perceived by your children from their sight, school or from mainstream media. Or from the world that exposes to them. But, there are always many good things outside there. You just only need provide time and patience in showing that goodness to them. For example in praying.

Teaching children to be focus and patience with his praying really takes a lot of time. Mines are three years old now. They show more positive attitude towards “in the mosque” behaviours rather than a year ago. But still, they are not focused yet to start and finish their praying. Why? Since many disturbances for them. Wide area of mosque to be explored by running around, other children that persuade them to play together, etc. Un-exposing these to children is not good, I guess. But, what we should do is just accompany them and explain the circumstances itself together with the goodness and badness. That’s why I always do briefing to children before entering the mosque. 

We think positive that however, this is a good progress, compared to other older kids that still going around the praying area. They looks to disturb the “jamaah” while praying.

So far, I guess we as parents could influence our children when they already trust us. How to get their trust?

Being father means being trusted by children.

Bagaimana caranya supaya bisa trusted? Ada formula lama dari David Meister yang bisa diaplikasikan ke berbagai bidang. Termasuk parenting. Komponennya ada 4. Credibility, reliability, intimacy, dan self-orientation.

Kredibel artinya punya kemampuan di bidangnya. Tentu tidak semua bidang dikuasai oleh father. Tapi sebagai pembesar anak-anak, sudah sepatutnya kita turut “menguasai” lingkungan di sekitar kehidupan mereka. Lingkungan dalam rumah dan tetangga, mengenal teman dan guru di sekolah, hingga orang tua dari teman-teman mereka.

Sedangkan reliable berarti having children as our “primary customer”. Ibarat di perusahaan, tentu ada kategori customer yang sangat kita junjung tinggi kan. Logika yang sama kita gunakan dalam “melayani” anak-anak. Kita harus menjadi father yang bisa diandalkan (reliable) oleh anak-anak. Because children will realise out weakness/limit, sooner or later. Indeed, we’re not perfect at all.

Intimacy. Menjadi ayah bukan berarti menjadi orang galak. Tegas berlebihan bisa jadi galak. Tapi bukan di situ yang harus dicapai dalam fathering. Anak-anak butuh ketegasan, bukan butuh orang galak.

Kita perlu menghindari peran orang galak di rumah. Yang dibutuhkan anak-anak adalah orang tua yang bersikap dekat, hangat, dan akrab dengan mereka. Oke, mereka butuh ketegasan, butuh diajarkan menjadi tegas, tapi itu not all the time, sih.

Jangan sampai kepulangan kita ke rumah dari kantor, hanya memunculkan pikiran “satpam” atau polisi” dalam benak mereka.

Konsep terakhir, self-orientation, dalam model yang dikembangkan oleh David Meister, adalah sebuah pembagi. Sehingga, trust semakin besar kala self-orientation bisa ditekan sekecil-kecilnya. Anak-anak perlu dan harus menyadari bahwasanya dalam kehidupan kita bersama dengan mereka, kita tidak sepenuhnya hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi kita memang sangat memprioritaskan mereka.

Mungkin saja terjadi, kita berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, karena mereka memang prioritas kita, namun mereka tidak menyadarinya. Nah, menjadi tugas kita mengkomunikasikan ke mereka, atau membuat mereka paham dan meyakini, bahwasanya kita memang berusaha memberikan yang terbaik kepada mereka. Konsep yang sama, sebenarnya berlaku di hubungan kita dengan pelanggan, ‘kan?

So? Accompanies, not protection.

Saya gak selalu bisa memberikan quality time kepada keluarga kecil saya. Namun saya yakin, seiring saya bisa menyediakan quantity time, maka quality time akan hadir dengan sendirinya. Sama seperti pelanggan kita ‘kan, susah bagi mereka untuk terus belanja lagi, lagi, dan lagi ke kita, kalau kita saja tidak menyediakan waktu yang banyak untuk bertemu dan berinteraksi dengan mereka.

Sama seperti menonton TV, kan ada tuh keterangan BO (Bimbingan Orang Tua). Maka anak-anak harus ditemani. Diberikan interpretasi tambahan dari kita. Dijawab pertanyaanya. Sebenarnya, menyelami pertanyaan anak-anak juga penting. Because we know they will grow into somebody. They will be somebody that we don’t know now. Could we direct their grow in goodness? Jadi mendalami pertanyaan anak-anak adalah bagian dari metode pengukuran oleh kita atas tumbuh kembangnya mereka.

Sama seperti kita menyelami pelanggan, ‘kan? Dengan mengenal lebih jauh dan lebih mendalam, maka kita akan mampu mengiringi mereka meningkatkan transaksinya bersama kita.

Tulisan ini diinspirasi kala pertama kali ke toko buku bersama anak-anak, excited banget si mereka. Karena ada banyak hal baru yang mereka lihat dan temukan. Namun, mereka masih kesulitan dalam menginterpretasikan segala yang mereka lihat. Mereka punya pertanyaan yang butuh dijawab, butuh ditemani di tempat yang sama sekali asing bagi mereka. Melihat hal yang berbeda dari yang ada di rumah dan di sekolah, dan lain sebagainya.

Saya selalu tertarik dengan buku. Tapi kali ini saya harus menekan ego saya. Instead of tenggelam dalam pilihan berbelanja di sana, saya memilih untuk menemani anak-anak, menyelami keingintahuan mereka, menjawab pertanyaannya untuk kemudian memberikan arahan-arahan kepada mereka. Saya harus berperan sebagai ayah yang benar dulu di sini.

Being father means being somebody that always be missed. We may do not have all the time to raise our family. We should work outside then bring resources to home. At that time, the children grow. But we should not lose our focus on them. When they aware that they always be loved, they will listen and grow as our expectation.

Bandung, 29 mei 2018.

Antara Selera, Latihan dan Uang


Ada suatu masa dalam hidup saya di mana saya berada dalam persimpangan pilihan, yaitu mau hidup dengan cara apa? Cara yang membahagiakan karena uang banyak, atau happy karena apa yang dikerjakan?

Pilihan pertama

Yang pertama itu cari uang sebanyak-banyaknya lalu membelanjakan uangnya supaya kita happy. Bahkan bisa saja uangnya tidak didapat dengan cara yang tidak menyenangkan, kemudian uangnya bisa dibelikan apa saja yang menyenangkan.

Misalnya, kita tahu bahwa bekerja di bank, atau di industri minyak dan gas (migas) itu duitnya banyak. Jadilah kita memilih bekerja di sana. Meskipun kita tidak suka, tapi duit yang banyak itu bisa dibelikan beberapa mobil, beberapa rumah, pergi jalan-jalan ke dalam dan luar negeri, atau hal-hal lain yang bikin happy.

Pilihan kedua

Kalau cara kedua adalah mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness) via passion. Istilah passion ini mulai hype as the way to pursuit happiness, saya kira dalam satu dekade terakhir. Cara kedua ini juga terbagi dua lagi. Pertama, passion dulu baru berkarya; alias memang memiliki kesukaan tertentu, lalu memilih produktif menghasilkan karya yang fenomenal luar biasa. Atau rutin merilis hasil-hasil berkarya.

Aliran kedua bagian b –yang memang fokus tulisan ini–, adalah alirannya mereka yang tidak percaya bahwa passion itu memang ada. Cara mereka adalah mencoba dan mengeksplorasi berbagai bidang, kemudian memilih satu di mana mereka benar-benar jago/kompeten. Percobaan dan eksplorasi tidak berhenti di permukaan saja ya. Betul-betul didalami, tekuni dan dilatih terus-menerus.

Aliran 2b ini, salah satu kitabnya adalah buku “So Good, They Can’t Ignore You” dari Carl Newport. Sesuai judulnya, pesannya adalah “jadilah seniman terbaik dari karya kita, hingga orang tidak bisa mengabaikan keberadaan kita”. Quote barusan dari saya, belum tentu ada di bukunya. Tapi kamu sudah paham maksudnya, ‘kan? 🙂

Bahkan di era serba digitalisasi sekarang ini, di mana keterlibatan manusia semakin digantikan oleh robot (pekerjaan Customer Service pun mulai digantikan oleh ChatBot), ternyata pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya human touch malah semakin diperlukan. When human touch is needed, there is we should be so good. Pekerjaan seperti penulis, desainer, programmer, dsb malah semakin relevan karena seleranya.

Bahwasanya pekerjaan-pekerjaan tersebut menuntut suatu standard, selera, idealisme, –atau apapun istilahnya– dalam berkarya. Contohnya begini. Misalnya saya yang membaca lalu menganalisis karya tulisan orang lain.

  • Jika ada bagusnya, apa yang bisa ditiru lalu dari yang bagus tersebut?
  • Jika ada kelemahan, bagaimana saya akan memperbaiki kelemahan tersebut?
  • Saya membayangkan bagaimana bila saya menulis ide yang sudah ditulis tersebut. Bagaimana supaya lebih bagus?

Jadi, selera ini seharusnya menjadi keunggulan. Pembeda yang bisa ditawarkan kepada orang/pihak/institusi lain.

Kemudian soal latihan. Ambil contoh pesepakbola profesional. Mereka terus berlatih bahkan dalam hal-hal yang sangat sederhana seperti berlari dan menendang bola.

Saya bilang sih, pesepakbola itu dibayar untuk berlatih. Bukan untuk bermain. Dalam satu tim profesional berisi 33 orang, hanya 11 orang yang beruntung. Apalagi kalau menjadi pemain reguler, tentu dia karena memiliki keterampilan (skill) yang sangat baik dan dia juga beruntung.

Tadi malam, Real Madrid menjuarai UEFA Liga Champions ketiga kalinya berturut-turut setelah mengalahkan Liverpool 3-1. Sudah tiga kali dan berturut-turut, lho. Artinya ‘kan mereka tim Real Madrid sudah jago banget. Apa lantas mereka tidak perlu berlatih lagi?

Mereka jelas lebih jago daripada kita untuk urusan berlari dan menendang bola. Tapi mereka tetap berlatih hal-hal mendasar tersebut, ‘kan?

Contoh kedua dari link Core Skills for Technical Writers Often Overlooked ini, penulis yang merupakan seorang technical writer, mengeluhkan betapa generasi muda technical communicator melupakan hal-hal yang mendasari profesionalisme di bidang technical communication: good resume dan professional email(ing). Jadi, back to basic skill, lha.

Kedua contoh tersebut menekankan pentingnya terus-menerus berlatih. Baik diajari langsung oleh pengajar profesional, maupun via self-training.

Di sisi saya, saya harus konsisten menulis as part of my self training. Saya harus terus mempertajam selera dan standard, rutin mempelajari selera pasar, dan lain sebagainya. Misalnya, saya melihat keunggulan saya di feature journalism. Sebab saya ingin menyajikan data dan fakta dalam sebuah cerita yang memang menarik. Setiap artikel memiliki konteks masing-masing, namun saya menghendaki sebuah cerita yang abadi; cerita yang kapanpun dibaca masih selalu terasa maknanya.

Kesimpulan sementaranya adalah, selera harus dipertahankan bahkan harus terus ditingkatkan. Latihan ya harus terus-menerus dilakukan. Minimal berupa self-training. Bagi saya, itu adalah setiap setelah sholat subuh. Tentu tidak semua dirilis di blog ini. Atasan saya di kantor lama pun demikian; punya ritme khusus dalam menulis: setiap pagi setelah bangun tidur.

Akhirnya, saya berlatih untuk jujur terhadap apa yang saya rasakan. Kata Pandji, kejujuran macam ini akan berdampak terhadap karya-karya kita. Kejujuran dan orisinalitas kita pasti berimpak pada eksistensi, diferensiasi dan positioning kita di “pasar”.

Pilihan ketiga.

Dari sini muncul pilihan ketiga: menghabiskan waktu (bekerja) sesuai passion, tetapi mencari uang yang banyak dengan cara lain. Belakangan, akhirnya saya cenderung ke nomor tiga, instead of pilihan kedua.

Katanya sih, kalau sudah passion maka duit akan mengikuti. Iya sih, masuk akal. Kalau kita passion –> mestinya kita lebih produktif –> terus-menerus meningkatkan selera dalam berkarya –> personal brand terbentuk –> orang/institusi lain mulai memberi order/proyek ke kita –> duit mendanai passion kita. Dan siklus pun berulang.

Namun, ada mekanisme pasar yang berperan. Bagaimana pun passion dan kualitas karya nya, tentu ada faktor supply-demand yang ikut mempengaruhi tingkat harga di pasar. Duit bisa jadi datang terus, tapi bisa jadi harga semakin turun. Ini yang harus kita antisipasi.

Kalau kita sudah happy, tapi duit masih kurang banyak, kita harus kreatif mencari duit dengan cara lain juga. Misalnya berdagang (online), menyewakan alat atau aset, cari side job, dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan ada lain waktu untuk membahas hal tersebut.

 

Memosisikan Anak sebagai Orang Dewasa


komuniksdi-dengan-anak-520x265

Semalam, Muzakki bertanya ke saya. Kami masih di masjid “biru”. Bertiga dengan adiknya. Muzakki bertanya, “kok Pak Alim berdoanya, Waqinaa adzaa ban-naar?”

Alhamdulillah, ibunya rutin mengajak dan membiasakan berdoa sebelum makan. Mungkin Zakki heran dan bertanya, kok di masjid doanya sama dengan doa sebelum makan.

Cek dan ricek ke si mbah, ternyata “Waqinaa adzaa ban-naar” artinya kira-kira “Dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Thanks to “Anak Dua“. Kami jadi belajar dari kalian yang lebih muda. Sudah seharusnya, sih. Belajar itu ke siapa saja. Kepada usia berapa saja. Alhamdulillah masih diberi legowo dan kerendahan hati untuk belajar dari siapa saja.

Itu pengantar deh. Berhubung ceritanya baru dapat tadi malam. Overall, tulisan kali ini sekedar catatan bagi kami saja. Kalau memang ada yang mendapat inspirasi dari sini, ya alhamdulillah. Mudah-mudahan bermanfaat, deh.

Berhubung di rangkaian acara pernikahan adik kami, ada yang nyeletuk, “Ngobrol ma anak dua itu kayak ngobrol sama orang dewasa”. Alhamdulillah, ini feedback positif bagi kami. At least, kami jadi tahu kami memberikan action yang tepat, sehingga Anak Dua turut membalas dengan reaction yang tepat pula.

Kalau kami bertanya ke diri kami sendiri, mengapa bisa begitu? Jawaban kami adalah, pada prinsipnya kami memandang dan menganggap anak-anak sebagai manusia dewasa. Terutama adalah, mereka berhak memutuskan sendiri dari pilihan-pilihan yang ada.

Pilihan-pilihannya bisa jadi berasal dari mereka kumpulkan sendiri. Atau mungkin juga dari yang kita sediakan. Bisa juga sih kita membatasi pilihan-pilihan buruk dari mereka dari apa yang mereka lihat atau dengar.

Di era informasi seperti sekarang ini, kontrol terhadap informasi itu berat banget. Kalau di era televisi, kita pemirsa akan terima-terima aja segala yang disodorkan. Namun sekarang, filtering-nya setengah mati. Butuh tiga hari untuk tahu apakah sebuah berita adalah hoax atau bukan. Bagi kami, YouTube masih mending. Anak-anak memang belum paham fitur search-nya. Namun, ke depannya history bisa kita awasi terus kan. Another problem kalau mereka sudah bisa menghapus history. Saat ini, at least saat ini kami sudah mulai dengan menghindari sinetron serta berita yang belum tentu terkait dengan keluar kecilkamu. Mungkin kapan-kapan saya bisa sharing perspektif saya tentang hal ini ya.

Jadi kita orang tua harus menganggap anak sebagai manusia dewasa yang punya pilihan. Jadi tanyakan misalnya, maunya apa? Menurut kamu lebih baik mana?

Orang dewasa ingin didengar. Apa pendapat mereka. Pun begitu pula dengan anak-anak yang kita anggap sebagai pribadi dewasa. Kalau kita “mengkerdilkan” anak-anak, termasuk dengan anggapan “namanya juga anak-anak”, maka sesungguhnya kita turut berkontribusi terhadap “perlambatan kedewasaan” mereka.

As we know, dalam islamic parenting tidak ada namanya remaja. Yaitu, usia biologis (yaitu fisik dewasa) yang lebih tua daripada usia psikologis (yaitu pemikiran anak-anak). Yang ada hanyalah aqil baligh. Dewasa secara fisik dan pemikiran.

Kami belajar dari anak itu seperti kami belajar dari orang dewasa. Kami positive thinking bahwa semua orang berusaha menjadi lebih baik; meski belum dan tidak akan sempurna. Anak-anak pun seperti itu. Mereka akan bertumbuh berkembang, memiliki kebisaan dan kemampuan tersendiri nantinya. Seiring sejalan dengan hal tersebut, kami berusaha mengenal mereka lebih mendalam.

Si W, ternyata pribadi yang tidak mau kalah, sulit mengalah, dan ingin menjadi nomor satu. Pribadinya memang introvert, sih. Dia menggali dari dalam dirinya sendiri kala ingin belajar/menjadi lebih baik. Dia ini kelihatannya excited soal menggambar/melukis. Inginnya sih, dia ada kesempatan ikut sanggar lukis yang gak terlalu jauh dari rumah.

Beda dengan Z, si kakaknya yang extrovert, senang dengan keramaian, selalu ingin diperhatikan orang lain, namun suka bertanya dan mengeluh kepada orang lain bila ada yang dia tidak bisa pelajari/kerjakan.

Tidak selamanya berguna yang namanya bersikap steril terhadap anak-anak. Semua serba dilarang juga tidak baik. Yang harus ada adalah pengawasan. Pun kala anak-anak memberikan feedback, kami harus menanggapi dengan masuk akal pula. Seiring tumbuh-kembangnya fisik dan pemikiran mereka, kami orang tua juga harus memberikan reasoning yang tepat pula.

Jadi orang tua itu berat. Tanggung jawabnya sedemikian besar. Tetapi pengajarannya relatif belum memadai. Alhamdulillah makin ramai topik tentang parenting dibahas, diajarkan, dan dilatih di mana-mana. Even di Gramedia, ada rak penjualan buku khusus untuk tema-tema parenting.

Kami yakin tidak ada manusia yang sempurna. Bagaimana orang tua kami menjalankan parenting juga tidak sempurna. Ada beberapa “kesalahan” yang mereka lakukan. Namun kembali ke diri kami apakah mau mengulangi kesalahan tersebut atau justru melakukan yang benar dan seharusnya.

PS: Anak-anak yang dititipkan oleh Allah kepada kami masih kecil-kecil. Kami bukan pelaku parenting yang sukses. Parenting yang sukses menurut kami baru bisa diukur pasca anak-anak tersebut sudah menikah dan menjadi orang tua pula. Catatan ini sekedar catatan pribadi saja. Bukan berbagi kebenaran. Mudah-mudahan memberikan manfaat bila memang cocok atau inspiratif bagi kamu yang membaca.

Connect The Dots Looking Backwards


Kalau saya kilas balik, ke profesi saya sekarang, copywriter, saya merasa ini seperti connecting the dots.

Kata almarhum steve jobs, kita itu tidak bisa selalu berhasil dalam merencanakan dan mengeksekusi rencana. Tapi kita bisa menarik kembali garis hubungan hubungan antara apa yang pernah terjadi, apa yang pernah kita lakukan, prestasi apa yang kita hasilkan di masa lalu dengan apa-apa yang ada saat ini.

bfa2a8debf5d21f88b75330cae57c7aa

Mengambil pola tersebut, saya menyimpulkan bahwa posisi copywriter sekarang ini, adalah “nyambung” dari apa yang saya lakukan dan hasilkan sejak beberapa tahun lalu.

Saya kuliah di kampus Teknik. Segala hal selalu kami pandang secara ilmiah. Basis fakta, logis (masuk akal), dan sistematis. Ketika berperan sebagai penulis, saya jadi demikian adanya lewat tulisan-tulisan saya: berusaha menyajikan fakta, menginterpretasikannya dengan masuk akal, dan sistematis dalam menampilkan hasil tulisan saya. Sistematis artinya ada hubungan antara tiap konten/informasi di dalamnya.

Pasca lulus, saya bekerja di kantor konsultan. Di sana, logika sama pentingnya dengan kreativitas. Di sini, kompetensi kreativitas saya yang lebih banyak dikembangkan. Saya belajar menyentuh sisi emosional dari audiens; khususnya sisi kegelisahan (anxiety) mereka. Wajar, memang klien yang stuck dengan daily operation membutuhkan rekomendasi yang menyegarkan tapi berangkat dari pendekatan yang ilmiah.

Di samping itu, kemampuan jurnalistik saya sendiri. Jurnalistik artinya, menangkap potensi sebuah berita, lalu mengkreasikannya sedemikian rupa sehingga benar-benar menjadi sebuah berita yang bisa dirilis sesuai mediumnya. Again: saya tidak kuliah jurnalistik.

Yang jurnalistik ini semi otodidak sih. Di era social media seperti sekarang, mereka yang sukses memanfaatkan social media berarti sudah otodidak belajar dan mengeksekusi aktivitas-aktivitas jurnalistik. Sukses artinya, memperbanyak 3F (friends, fans, followers) dan meningkatkan engagement dengan mereka. Beberapa kali saya memang menghandle social media, di samping social media saya pribadi.

Di kantor konsultan dulu, karena kantornya kecil, kami dibagi berdasar klien. Jadi untuk setiap klien, handling kami itu end-to-end. Mulai dari membuat proposal, mengerjakan materi seperti riset dan presentasi, sampai dengan membuat laporan akhir. Karena saya biasa membuat proposal, di kantor sekarang ini saya menjadi editor untuk setiap proposal tender yang kami buat.

Ada hal lain lagi. Terkait industri yang sedang berkembang dan saya ingin menjadi bagian di dalamnya. Jadi di Indonesia ini yang growing adalah industri IT. Saya ingin menunggangi gelombang (riding the wave) tersebut. Saya belum lama menemukan bahwa industri ini juga padat dengan dokumentasi. Mulai dari requirement specification, sampai user guide. Nah technical writing adalah aspek yang penting di industri ini.

Hal lain yang menarik adalah technical writing zaman now tidak lagi sama dengan technical writing yang tradisional. Penggeraknya adalah internet dan social media. Mesin pencari membantu kita menemukan informasi yang kita inginkan. Which is, kita sebagai penjual produk/jasa/proyek juga ingin ditemukan oleh calon pembeli. Kita harus berpikir keras, bagaimana findability kita meningkat di mata konsumen.

Di sisi lain, social media membantu kita mencari, menemukan, dan mempertahankan mereka yang kita sebut sebagai pelanggan/audiens. Kita tinggal eksplorasi saja, jenis konten seperti apa dari kita, yang membantu kita membangun hubungan dengan audiens. Tidak mudah memang, tapi harus dicoba dan diiterasi terus.

Jadi, apa aja yang saya kerjakan di kantor yang sekarang?

  1. Sebagai editor untuk proposal tender
  2. Sebagai editor untuk dokumen-dokumen lain
  3. Mengelola social media kantor
  4. Membantu tim HR dalam mengelola komunikasi dengan internal perusahaan (terutama karyawan)

Kalau disimpulkan, pekerjaan saya itu separuh copywriter ala advertising agency, dan separuh lagi adalah technical writer.

Berhubung perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan asal singapore, jadi official language-nya adalah English. Jadi semua dokumen tender dan non tender itu dalam Bahasa Inggris. Demikian pula ketika berkomunikasi resmi dengan para karyawan. Lucunya, saya dianggap sebagai yang paling jago grammar. Wkwkwk. Padahal saya tidaque jago sama sekali. Tidak apa. Yang penting saya harus belajar terus.

Berhubung pekerjaan sekarang ini sangat erat dengan crafting, antusiasme jadi penting banget. Karena antusiasme akan “menyetir” proses dan ikut menentukan kualitas hasil pekerjaan. Semangat untuk menemukan hal-hal baru dan melihatnya sebagai sesuatu yang menarik untuk dipelajari, itulah yang saya sebut dengan antusiasme.

Dan ini makin relevan di era digital seperti sekarang. Iya sih, beberapa aktivitas bisa diotomasi secara digital. Hingga beberapa pekerjaan “hilang” ditelan disrupsi digital. Seperti Customer Service (CS) yang mulai digantikan oleh chatbot. Namun, pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan sentuhan manusia (human touch) justru semakin relevan. Di sinilah pentingnya terus-menerus membangun dan mempertahankan antusiasme.

Panjang juga ya bicara tentang antusiasme. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk menuangkan gagasan tentangnya. Sementara sekian dahulu.

Padi Reborn, Piyu dan Jualan Musik Jaman Now


Tepat pada 10 November 2017 lalu, Band Padi dilahirkan kembali dengan nama Padi Reborn.

maxresdefault

Padi ini band masa kecil saya. Sekitar kelas 6 SD saya sering dengar lagu Sobat di radio. Waktu itu kami masih dengar musik dari kaset. Tapi Padi yang waktu itu belum ada kasetnya. Lalu Album Lain Dunia keluar. Saya suka dengan lagu-lagu selain Sobat juga.

Di album berikutnya, ternyata ada lagu berjudul “Lain Dunia”. Kayaknya judul album lama adalah salah satu lagu di album berikutnya. Padi ini pintar mengelola loyalitas fans-nya. Dan benar adanya di album kedua: Sesuatu yang tertunda. Intinya, hampir semua lagu-lagunya Padi saya suka.

Bagi saya, Padi Reborn tidak mengembalikan Padi yang dulu. Setidaknya belum. Saya memahami maksud mereka untuk menandai kembalinya mereka di industri musik tanah air. Instead of sekedar menggunakan nama awal atau nama asli, Piyu dkk menggunakan nama Padi Reborn.

Padi Reborn tampil pertama kali di sebuah konser yang disiarkan langsung oleh RCTI pada 10 November lalu. Selanjutnya mereka akan menjalankan tur konser mini mulai dari Palembang (11 November), Bandung (18 November), Yogyakarta (25 November), dan Makassar (9 Desember). Ada juga konser Padi Reborn di GTV. Saya lupa persisnya tanggal berapa.

Tidak mungkin Padi Reborn kembali hanya untuk bermusik tanpa memperhatikan aspek-aspek bisnisnya. Dapur harus terus mengepul, bukan?

  • Konser di GTV ada sponsor khususnya. Saya lupa brand apa saja. Yang jelas ada dua brand. Selain logo ditampilkan di panggung, TVC nya juga berulang kali ditayangkan ketika rehat iklan.
  • Tur konser mini, biasanya selain didanai oleh sponsor, juga ada dana masuk dari penjualan tiket. Sebagai band legendaris, tentu tiket konser Padi Reborn bisa dijual mahal.
  • Selanjutnya harus rajin bikin single/album baru. Sembari memikirkan strategi dan taktik bisnisnya lagi.

Kenapa Padi dulu vakum? Bahkan sampai 7 tahun. Seakan tidak akan pernah bangkit lagi. Saya tidak tahu persis jawabannya. Mungkin keduanya, atau satu, atau tidak sama sekali dari dua poin berikut ini ada yang benar.

  • Pastinya selera musik sudah bergeser. Secara konten mungkin musik-musik legendaris seperti Padi, Dewa, dll sudah mengecil pasarnya. Bukan di core fans-nya yang mengecil. Namun menambah prospective clients yang semakin sulit. Karena itu tadi, tren selera musik sudah bergeser.
  • Dari sisi bisnis, pembajakan tetap saja sulit diatasi. Sementara konten musik beralih ke digital. Berimbas pada dari mana datangnya duit, serta ke channel mana konten harus disalurkan. Mungkin Piyu khawatir dengan pembajakan? Jelas. Sebagaimana disampaikannya dalam Piyu: from Inside Out.

Sebagaimana kita tahu, KFC kini adalah salah satu saluran penjualan musik digital. KFC butuh added value bahwa restorannya bukan sekedar fastfood dengan ayam goreng tepung sebagai menu utama. KFC ingin lebih relevan dengan anak muda yang jelas-jelas target pasar mereka.

Dan bagi record label, distribusi CD via KFC lebih baik daripada ke toko CD. Bahkan CD-nya bisa bundling dengan paket makanan. Artinya, KFC sudah beli duluan ke record label-nya. Gerai KFC ada banyak sekali. Jualan CD dapat banyak duit dong. Bagi record label, iya. Belum tentu bagi musisinya.

Musikimia

FYI, Fadly, Rindra, Yoyo, bersama gitaris Stephan Santoso membentuk sebuah band bernama Musikimia. Kita sudah tahu tiga nama pertama ini pentolan Padi. Stephan Santoso ini tadinya orang label. Bekerjanya di belakang layar. Baru bersama Musikimia tampil sebagai pemain. Bisa dibilang Musikimia ini orang-orang experienced semua. Jual single dan albumnya jadi lebih mudah. Bukan beberapa anak muda yang sedang coba-coba. Apalagi gitaris Padi sendiri, Ari yang jadi manajernya. Saya suka dengan lagu Kolam Susu. Aransemennya oke punya.

Fadly sendiri pernah bikin dan menyanyikan dua lagu untuk anak-anak. Baca Bukumu dan Kakakku Sayang. Lagunya bagus, kok. Mata saya sampai berkaca-kaca mendengar lagu yang kedua. Untungnya air mataku tidak tumpah.

Brand Padi

Band Padi ini kuat karena punya karakter. berbeda terutama dalam hal alunan gitar yang begitu dominan, vokal si vokalis Fadly yang tidak ada samanya dengan vokalis manapun, serta drummer Yoyo yang punya karakter kuat dalam menabuh drum.

Satu lagi adalah lirik lagu yang dalam maknanya. Konon, Padi menciptakan liriknya dulu, baru menulis komposisi musik yang tepat untuk lirik-lirik tersebut. Dalam hal penulisan lirik, Piyu memang mendominasi. Terlepas cerita tersebut benar seluruhnya atau tidak, sepenggal konten tersebut memang jadi story yang berkali-kali diceritakan oleh Padi.

Piyu

Album Best Cuts of Piyu, menurut saya pribadi tidak lebih baik daripada lagu-lagu yang sama dan dinyanyikan oleh Padi. Album ini pernah dimainkan di NET TV dalam program Musik Everywhere. CMIIW.

Saya sendiri hanya suka lagu Firasat yang dibawakan bersama dengan Inna Kamarie. Dan satu lagu yang dinyanyikannya sendiri dengan piano: Sakit Hati.

Konten lagu yang dibuat Piyu memang berevolusi vokal dan aransemennya. Namun, menurut saya, tidak bisa menggantikan Padi. Karena memang, kebanyakan sudah dinyanyikan oleh Padi. Penyanyi-penyanyi tersebut tidak bisa menyajikannya berbeda tapi lebih baik daripada Padi. Bagaimana Fadly menyanyikannya, bagaimana Yoyok menabuh drumnya, bagaimana aransemen gitar dan bass dari Ari dan Rindra tidak terlupakan dan tidak tergantikan.

*berbeda dengan Sempurna-nya Gita Gutawa yang banyak orang bilang lebih baik daripada Sempurna-nya Andra and The Backbone

Lagu-lagu yang Piyu ciptakan untuk Padi penuh dengan semangat hidup dan optimisme. Setiap lagu yang bertema cinta dalam album-album Padi memberikan makna hidup baru dalam memahami cinta. Dari Piyu, kita tahu bahwa cinta bukan hanya sekadar kata dan cinta tak hanya diam — dari lirik lagu Tak Hanya Diam.

Lagu-lagu yang ia ciptakan untuk Padi punya spirit berbeda dari lagu-lagu yang ia ciptakan untuk para penyanyi lain. Lagu-lagu yang ia ciptakan sekarang penuh dengan lirik melankolis seolah-olah hidup itu selalu dibayang-bayangi depresi dan sakit hati.

Lagu-lagu Piyu yang ia ciptakan untuk Padi selalu hadir dengan konsep matang. Hal itu wajar bila kita melihat rentang waktu dari album pertama sampai kelima. Padi terkenal begitu lambat dalam mengeluarkan album, tapi dua tahun adalah waktu yang pas untuk merenungkan apa yang akan menjadi tema utama dalam setiap album.

Padi sendiri tidak bubar, tapi Piyu sebagai rohnya sedang asyik dengan jalur yang ia tempuh dalam dunianya sendiri. Ia sibuk berbisnis dan menciptakan lagu-lagu untuk para penyanyi lain. Menurut Piyu, karya seni 20%, aspek bisnisnya 80%.

Apa yang dilakukan Piyu, menurut saya lumrah sekali. Realitanya adalah keluarganya butuh penghidupan. Anak istri butuh makan. Dan anak-anak harus bersekolah.

Mengingat kelahiran Padi, memang Piyu adalah single fighter yang berhasil menjual proyek single dan album baru, baru menemukan personil-personil Padi lainnya untuk menggarap proyek tersebut. Single-nya Sobat dengan album-nya Lain Dunia.

Mengingat kelahiran Padi, memang Piyu adalah single fighter yang berhasil menjual proyek single dan album baru, baru menemukan personil-personil Padi lainnya untuk menggarap proyek tersebut. Single-nya Sobat dengan album-nya Lain Dunia.

Piyu berhasil bertransformasi. Tidak mungkin selamanya menjadi pemain. Harus naik kelas, atau minimal berotasi karir. Entah jadi produser, manajemen artis, atau lainnya. Ari, gitaris Padi sendiri berotasi peran menjadi manajernya Musikimia. Bersama para penyanyi yang berbeda, Piyu seperti sedang kejar setoran dalam berkarya.

Kini kita sudah tahu, Piyu sebagai roh-nya Padi sudah kembali. Sekarang Padi Reborn sudah reborn, lantas mau hidup berapa lama lagi?

Referensi:

Software Developer Ibarat Tim Sepakbola


Bagi yang awam, atau baru memperhatikan, sekilas pekerjaan software developer memang sangat menarik. Bekerja di kantor, tidak di lapangan. Berhadapan dengan personal computer (PC), bukan dengan manusia. Duduk tenang dan kalem di ruangan yang sejuk -atau bahkan ber-AC. Harus diakui bahwa pendapat awam tersebut hampir sepenuhnya benar.

Namun sebagaimana bisnis pada umumnya, pasti ada risikonya. Tinggal kembali ke pelakunya saja apakah tahu dan bisa mengatasi risiko-risiko tersebut. Sepaket lha antara memilih jenis usaha, tipe omzet dan labanya, berikut dengan risiko-risikonya.

Nah, risiko yang perlu dikelola oleh owner dari perusahaan software developer –tipe perusahaan ini biasa juga disebut software house— adalah para manusia itu sendiri. Nah berikut ini adalah beberapa observasi dan renungan saya mengenai HR Management di software house.

software-developer-team

War of Digital Talent

Tentu orang yang sangat berbakat pasti dibutuhkan. Sudah pintar atau terampil, dan masih bisa di-upgrade lagi. Macam Neymar, Messi, Cristiano di dunia sepakbola, mereka ini hampir pasti mengangkat performa tim. Di samping, mereka juga turut mengajar yang para newbie(s) serta memperbaiki atmosfer per-coding-an di kantor.

Masalahnya, supply orang berbakat lebih sedikit daripada demand-nya. Buktinya, ada sebuah jurusan terkait komputer di Bandung, konon lulusan atau calon lulusannya bahkan sudah “habis” direkrut sebelum career fair berlangsung. Entah direkrut oleh tempat magangnya, atau dengan cara-cara lainnya. Lihat sendiri betapa meroketnya demand akan digital talent sekarang: start-up, software house, cloud computing, sampai untuk memenuhi kebutuhan in-house perusahaan non-IT sendiri.

Di sini, challenge-nya adalah bagaimana si software house dapat melakukan corporate branding, bahwasanya bekerja bersama mereka adalah yang terbaik. Dibandingkan bila bergabung dengan kompetitor yang lain. Mulai dari lokasi kerja yang strategis, interior kantor yang menyenangkan dan bikin betah, sampai dengan hal-hal detail –yang bahkan sudah menjadi kewajiban– seperti ketersediaan makan siang atau (minimal) snack.

Hunting to College

Digital talent tidak harus lulusan dari ilmu komputer atau teknik informatika ya. Pokoknya otaknya aja udah digital banget. Saya lihat, minimalnya dua kriteria atas hal ini:

  • Selalu membayangkan dan mengupayakan solusi-solusi digital (dan bisa diautomasi) terhadap masalah-masalah manusia,
  • Curious terhadap desain dan user experience (suka mereka-reka, “Ini kenapa begini, sih? Kenapa gak begitu aja. Kurasa kalau begitu akan lebih bagus. dst”).

Nah, “berburu” langsung ke kampus bisa lewat sharing session, kompetisi coding, selain tentunya jalur yang paling utama, yaitu Career/Job Fair. Sharing session itu menjual “perusahaan” sekaligus technical expertise (atau teknologi) yang dikuasai di perusahaan tersebut.

Prioritising Team Work

Namun demikian software development adalah sebuah pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama. Harus riset bareng dan dikerjakan bersama.

Messi, Neymar, atau Cristiano pun harus latihan bersama setiap hari, belajar skema dan taktik permainan dari head coach, sampai dengan sparring dengan tim lain ‘kan. Jadi mencari dan mendapatkan best talent bukan segalanya. Tapi the developer team yang baik, bisa diawali dari sana. Selanjutnya adalah membangun komunikasi dan kerja sama yang baik sesama anggota tim.

Tim sudah terbentuk, budaya coding bareng sudah tercipta. Namun challenges tidak kunjung berhenti. Untuk alasan yang mungkin itu-itu saja, atau mungkin alasan-alasan lain yang bisa diterima, tim mengalami dinamisasinya sendiri-sendiri. Ada programmer yang cabut, ada pula newbie yang baru bergabung, bertambah programmer baru tapi experienced, dan seterusnya.

Dalam sebuah versi teori software engineering, effort untuk coding hanya 10%. Pendapat ini memang ekstrim sekali, tetapi menggambarkan bahwa sesungguhnya coding itu bukan yang paling utama. Terutama untuk software korporasi. Paling besar ada di requirement, analysis, design, dan project management. Dari rangkaian proses ini, dapat dibayangkan betapa pentingnya unsur komunikasi dan kerja tim, kan? 🙂

Knowledge Management

Biasakan membuat dokumentasi. Supaya bisa dipelajari oleh diri sendiri dan orang lain –terutama oleh anak baru di perusahaan.

Dokumentasi ini banyak banget lho barangnya. End-to-end mulai dari proposal sampai dengan Technical Document atau User Guide. Hampir percuma deh kalau coding saja tapi tidak menulis dokumen-dokumen teknis yang terkait atau yang mendampingi.

Terkait KM ini, saya ada pengalaman buruk dalam peran sebagai reseller sebuah produk Internet of Things (IoT). Produk ini sifatnya B2B. Tidak bisa sama persis antara satu customer dengan customer yang lain. Harus mengalami kustomisasi dahulu sebelum delivery ke pelanggan. Ada beberapa persoalan. Pertama, User Guide yang ternyata masih membingungkan pengguna. Sehingga mereka harus berkali-kali bertanya kepada Service Desk. Kedua, tidak ada dokumen yang bisa diakses oleh reseller. Yang bersangkutan harus mencari dan mempelajari sendiri. Sehingga, product knowledge si reseller ini berbeda dengan yang seharusnya atau yang dikehendaki oleh Product Manager.

Sama banget dengan klub sepak bola ‘kan. Misal, Cristiano meninggalkan Real Madrid, atau Messi hengkang dari Barcelona –dan ini pasti akan terjadi suatu hari nanti. Tentunya klub sudah siap dengan keadaan ini. Antisipasi sudah dilakukan sejak lama. Mereka mempertahankan budaya dan kebiasaan yang sudah terbentuk –tanpa perlu penjelasan berulang-ulang mengapa kebiasaan tersebut dilakukan rutin–, melatih dan menulis ulang modul-modul training, dan lain sebagainya.

Belajar dari Sepuluh Cucu


Selama puluhan tahun hidup di dunia, saya pernah berkesimpulan dan berkeyakinan bahwa belajar itu harus dari expert-nya. Percuma, sama-sama belajar dari yang bahkan belum tahu sedikit pun. Alhamdulillah, belasan tahun sekolah bisa belajar di sekolah-sekolah yang fasilitasnya oke. Tahu sendiri, ‘kan, sekolah berfasilitas oke menunjang kita untuk bisa masuk ke sekolah yang sejenis. Minimal sekolah negeri dengan brand yang sudah oke punya.

Ibarat kata, anak Bandung mau masuk ITB itu harus melalui jalur sutera dulu. Ini secara umum saja ya. SD-nya SD yang itu, SMP-nya boleh pilih satu di antara dua SMP negeri tersebut, dan nanti SMA-nya yang satu itu. Supaya bisa ramai-ramai pindah dari SMA ke ITB. 

Tapi ternyata itu semua tidak cukup. Learn from the expert is one thing. Do (or execute) it seamlessly is another thing. Belajar dan menjadi pintar tidak akan pernah cukup, dong. Makanya kita belajar dan menjadi expert juga dalam eksekusi, ‘kan. Kenyataannya, eksekusi tidak semudah teori-nya. Materi-materi pelatihan tentang sales and distribution itu ya itu-itu aja. Almost nothing new. But the important one is how good you are in those execution. Unilever Indonesia beken banget tuh dengan execution-nya. Bahkan sampai seorang dirut Bank Mandiri pun menyadari pentingnya lalu menulis buku tersendiri mengenai execution. 

Saya belajar langsung dari anak-anak (sendiri maupun beberapa ponakan–cucunya orang tua sudah ada 10 orang saat ini) bahwasanya teori-teori sederhana yang kita ajarkan kepada mereka; tidak semudah itu dilaksanakan. Dalam hal ini, orang dewasa sama dengan anak-anak. Bahwa apa yang diketahui, alias teori, belum tentu dikerjakan dengan baik. Anak-anak diberi tahu bahwa menonton TV tidak boleh dekat-dekat. Tapi tetap saja mereka melakukannya. Sembari diiringi dengan gumaman khas anak-anak, yaitu merapal ulang teori yang pernah diajarkan berulang-ulang. Rasanya orang dewasa juga demikian ya.

Many times, they should be remind (again, again, and again) about it –and they keep doing it. Bukan masalah mengingatkannya. Tapi ternyata, mungkin begitu adanya ya, manusia itu perlu diingatkan, dan diingatkan terus. Manusia itu tempatnya lupa. Eh salah. Lupa itu mungkin memang tempatnya ya di manusia.

Dan tidak hanya itu, di samping terus-menerus direfleksikan ke teori-teorinya, expertise adalah sesuatu yang diraih karena rutinitas pelaksanaanya. Peribahasa manusia jadulnya, –ketahuan angkatannya–Alah bisa karena biasa. Bahasa kerennya persistent/perseverance/resilience.

Dua, manusia itu butuh dan ingin berkomunikasi.

Orang dewasa, jelas. Punya gagasan yang ingin disampaikan dan ingin mendengar pula opini dari orang lain. Bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak butuh mendengar dari kita. Karena dari situlah kita dapat menegaskan hal-hal baik dan mencegah hal-hal buruk (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar).

Anak-anak juga perlu belajar menyampaikan pendapat, ide, dan perasaannya. Karena di situlah terletak penghormatan dan penghargaan terhadap mereka. Dalam hal ini, tidak ada bedanya dengan saya dan semua teman-teman di SMA yang menjalani latihan pidato selama dua jam setiap jumat setelah makan siang.

Lagi-lagi, anak-anak sama dengan orang dewasa. Anak-anak pada umumnya memiliki pengetahuan yang lebih terbatas. Tapi itu bukan alasan untuk mengabaikan apa yang mereka sampaikan, maupun menutup-nutupi dari apa-apa yang ingin mereka dengar.

Key(s) Takeaway

Tulisan hari ini semata-mata pengingat bagi saya, untuk memperlakukan orang lain, baik anak-anak maupun dewasa, yaitu sebagaimana seharusnya. Bahwasanya, manusia itu ingin mendengar what we would like to say, di samping ingin didengar juga pendapatnya. Above all, manusia juga ingin dihormati (tidak disepelekan) dan dihargai (ikut dijunjung) atas apapun yang ada pada diri mereka. Sesedikit apapun itu.

Saya dulu abai terhadap pendapat orang lain. Dalam arti, you should prove it by yourself first, then I would like to consider your opinion. Banyak atau sedikit, ini adalah tempaan dari lingkungan semasa saya kecil dulu. 

Kedua, that’s what education should do. Treat the children and adults by the same principles. Penghormatan dan penghargaan pada tempatnya. Salah satunya, supaya anak-anak dapat menjadi pribadi yang dewasa. Sebagaimana quote senior saya, kurang lebih begini,

“Itulah sejatinya pendidikan karakter.. mematangkan dan menghilangkan ketergantungan prefrontal cortex terhadap immediate rewards (Dopamine dan Serotonin) oleh kesenangan sesaat.”

Jadi begini, maksud quote tersebut, orang dewasa yang kekanak-kanakan, salah satu cirinya adalah menghendaki apresiasi yang secepat mungkin. Yang di dalam otak kita, lebih tepatnya di bagian prefrontal cortex, itu distimulus oleh senyawa kimi yang diberi nama Dopamine, sama satu lagi Serotonin. Mengapa bisa demikian?

Kata saya sih, sebabnya adalah kita kurang membiasakan atau kurang menyamakan dari generasi ke generasi tentang yang saya sebut penghormatan dan penghargaan kepada anak-anak. Saya merasa banget lho, tidak mendapat hal yang saya maksud.

Akhirnya saya jadi sok-sok hanya melihat dan menghargai seseorang hanya dari ekspertise-nya saja atau hanya dari loe-itu-sejago-apa-sih. Belum termasuk kerendah-dirian yang saya bawa sejak kecil. Memang sih, kampus mengajarkan, meyakinkan, dan membentuk saya merasa lebih confidence. Namun ternyata itu hanyalah overconfidence yang tidak pada tempatnya. Bahkan cenderung merupakan sebuah kesombongan semata.

Konon, oleh Ki Suratman, Taman Siswa bernama “Taman” karena di sanalah, dengan proses pendidikan seperti itulah, seharusnya education itu dilakukan. Sebagai sebuah taman (unsur tanah, sinar matahari, dsb) tempat bertumbuh-kembang, tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab semua orang–terutama orang tua si anak sendiri.

membangun-komunikasi-dengan-anak

ini bukan keluarga kecil saya, ya. jumlahnya sih sama. tapi itu bukan kami. hehehehe. dari parentinganak.com 

 

Kopi Itu Digunting, Bukan Digiling*


Gaya hidup urban itu manifestasinya macam-macam kan ya. Dua di antara yang banyak itu adalah kafe dan kopi. Dua “k” ini belum bisa dipisahkan. Kafe ya umumnya jualan kopi, dan kopi premium yang lagi ngetrend itu umumnya dijual di kafe. Buat yang buka kafe di bandung saja, mencari positioning yang berbeda dan tepat itu susah setengah mati. Karena hampir semua kafe brewing-nya ya pakai mesin kopi yang harganya mulai dari puluhan juta itu.

lihat juga: lima kesalahan pebisnis kafe

“Waktu dulu masih belajar minum kopi, saya pikir espresso itu keren ya. Mau order yang itu aja ah, karena dari namanya aja sudah cool banget. Giliran pesanan datang, rasa tercekat menghampiri tenggorokan. Volumenya minim banget, dengan rasa yang luar biasa asam/pahit (tergantung jenis biji kopinya), dan tanpa rasa manis sama sekali.”

Ada yang bilang, ampas-ampas kopi dari mesin kopi itu masih bisa dipakai sebenarnya. Masih bisa menghasilkan ekstrak kopi (espresso). Kualitasnya jelas berbeda dibanding yang tetesan pertama (meminjam tagline kecap manis ABC), tentu saja. Tapi ya semestinya masih bisa dipakai. Katanya sih gitu. Sudah lama saya mendengarnya. Saya sampai lupa kata siapa 😀

Saya masih belum bisa menjalani gaya hidup urban yang satu itu. Waktu dulu masih di Jakarta, kan tidak terhindarkan ya. Namanya juga konsultan, lebih sering meeting di kafe atau di restoran. Baik yang stand alone, maupun yang ada di dalam mall. Bahkan pas eksekusi proyek dengan klien pun, yang disuguhi juga luar biasa lho. Menu-menu yang belum tentu sudah dirasakan oleh para karyawan di institusi klien itu sendiri.

Lihat juga: storytelling ala filosofi kopi

Namun, saya malah hampir tidak bisa lepas dari kopi-kopi yang instant. Ada dua kategori ya, ada yang sachetan, ada juga yang siap minum. Istilah kerennya RTD (ready to drink).

Kopi Instant RTD

Yang kedua ini, pangsa pasarnya dikuasai oleh Nescafe. Ada yang kemasan kotak, ada juga format kaleng bundar. Saya biasanya pilih yang Nescafe Coffee Cream daripada varian-varian yang lain. Dan lebih pilih yang kotak daripada yang kaleng. Sepertinya yang kaleng itu lebih keren saja daripada yang kotak. Saya suka varian yang cofee cream ini karena kombinasinya mantap. Kopinya enggak dominan, manisnya juga enggak kemanisan. Apalagi kalau diminum dingin. Makin mantap rasanya.

Sesekali, saya juga minum Kopiko 78 degrees. Brand extension dari permen Kopiko ini, rasanya oke juga lho. Kopinya lebih terasa. Secara umum, harganya lebih tinggi daripada Nescafe Coffee Cream. Wajar, yang satu volume 250mL, satunya 200 mL. Value dari si Kopiko 78 degrees ini tidak selalu lebih rendah daripada kompetitornya yang dari Nescafe. Karena kembali lagi ke tokonya menjual kedua barang tersebut di harga berapa. Bisa jadi lho, si Kopiko malah “more value” daripada si Nescafe.

Kopi Instant Sachet

Ini masih menyangkut gaya hidup urban juga sih. Tuntutan otak yang fresh dan kreatif dalam menghadapi pekerjaan meminta asupan minuman kopi yang bisa dibikin sendiri di dapur. Baik dapur rumah atau dapur kantor.

Saya pernah setia sama merek Torabika Cappucino. Yang tagline-nya Cappucino ala Café. Merek ini kemasannya lebih mengkilat lho daripada kemasan yang sebelumnya. Mudah-mudahan berefek ke penjualan ya. Apalagi ditopang sama TVC yang dibintangi oleh Vincent dan Desta. Merek yang ini sih tidak akan saya benar-benar tinggalkan (halah, kayak mantan aja ditinggal). Hanya saja, granul-granulnya ada yang terlalu kecil sehingga seperti terbang kala dituang ke gelas. Dan, seperti terlalu foamy (berbusa) bagi saya.

Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar memuaskan sih ya. Loyalitas saya terhadap suatu merek tidak gila-gilaan. Okelah sempat setia beberapa kali pembelian terhadap sebuah merek. Ujung-ujungnya muncul rasa bosan. Kemungkinan karena kapasitas merek tersebut dalam memberikan experience ya memang hanya bisa sampai segitu saja. Namanya juga produk FMCG (fast moving consumer goods) ya. Apalagi selalu muncul merek-merek baru yang menagih untuk dicoba.

Terakhir ini, saya sedang mencoba Tora Café. Sebelumnya lagi suka beli Chocolatos dari Garuda Food. Kalau minuman coklat, saya bakal kembali ke merek ini, instead of Milo atau Ovaltine. Sebelum Chocolatos, seringnya Good Day yang Chococcino. Yang terakhir ini, saya jadi tidak loyal karena begitu dituang air panas/dingin sampai lebih encer sedikit, rasa dan manisnya hampir hilang sama sekali.

Creating New Experience

Saya tadi berpendapat bahwa karena kapasitasnya memberikan experience memang hanya mampu segitu saja. Jadinya kita mencari sendiri experience tersebut. Terutama, kalau saya, dengan cara membuat menu-menu minuman yang baru. Misal mau yang dingin nih, pakai air biasa, atau air panas, terus pakai es batu, bagaimana hasil akhirnya. Atau kalau diaduk langsung dengan es batu, akan bagaimana sensasi dinginnya. Atau kalau mau diblender, bagaimana. Atau kalau mau ditambahkan susu cair, bagaimana. Dan seterusnya. Intinya mendapat experience dari proses pencarian menu itu sendiri. Proses ini dirasa lebih penting daripad hasil akhir “Rasa” nya itu sendiri. Tapi bagaimana rasanya tidak bisa diabaikan begitu saja donk. Tetap harus enak.

*) Judul prokatif di atas adalah sindiran untuk saya sendiri. Quote tersebut aslinya berbunyi, “kopi itu digiling, bukan digunting”. Sebagai sindiran untuk kaum yang meminum kopi sachet. Karena bagi mereka, sejatinya minum kopi berawal dari biji kopi yang digiling, dipanggang (roasted), dan diekstraksi.

Bagaimana cara menghadapi kebiasaan menyebalkan pasangan?


Tidak semuanya yang menyebalkan itu buruk. Hanya saja kita membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan kebiasaan tersebut. 

Kebiasaan nonton hiburan seperti Drakor (drama Korea) bukan kebiasaan buruk kok. Tapi ya menyebalkan aja seakan gak ada yang lebih produktif untuk dilakukan. Semisal bikin Kebab yang #anytime #anywhere, misalnya :p

IMG_3568 - jkd

JKebab Delivery, yang selalu menantang kita untuk mencoba dan ketagihan #beranicoba #beraniketagihan

Lalu sudah tertebak jadinya gimana. Biasanya besok ngantuk dan tidur siangnya jadi panjang akibat semalam nonton drakor berepisode-episode hingga dini hari.

Saya juga candu sama bola sih. Mudah-mudahan pihak “sebelah sana” gak menganggap candu ini menyebalkan. Cek-cek skor terbaru, baca berita bola di koran langganan yang tidak saya bayar, sampai nonton ulang pertandingan di Bein (Grup Al Jazeera khusus sport) yang sebenarnya sudah berlangsung 5-6 hari yang lalu 😛

Alhamdulillah salah satu syarat hidup minimalis, yaitu tidak memiliki TV, sangat membantu saya supaya gak candu-candu amat sama sepakbola. Berita transfer Bakayoko kan bisa menyita perhatian banget. Lebay. Padahal enggak.

Jadi bagaimana cara supaya bisa beradaptasi dengan kebiasaan buruk milik partner hidup? Jawabannya adalah There is no special recipe, meminjam kata-kata bijak dari film Kungfu Panda.

Bangun pagi lihat dia, tidur malam lihat dia lagi, (#aih!) itulah yang membuat saya semakin bisa berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan yang saya sebut menyebalkan itu.

Selain itu, kuncinya adalah sabar. Alhamdulillah saya cukup bisa bersabar sehingga tidak berbuah tampar. Haha. Bagaimana caranya bisa sabar begitu? Kejar terus jawabannya, yak. Hampir gak ada tips dari saya untuk bisa bersabar. Malah tips yang ada, adalah bagaimana mengalihkan perhatian diri dari hal-hal menyebalkan dari pasangan.

Sebagai lelaki, saya cukup biasa menyendiri. Ini membuat saya lebih tenang, kalau “masuk gua” dulu. Di mana menyendiri? Gak harus pergi jauh dari rumah naik sepeda motor keliling-keliling kota tidak jelas arah dan tujuan hanya untuk menyendiri. Dengan “get in the cave“, saya memberi jarak pada masalah saya, sehingga saya bisa secara objektif memberikan tanggapan/perlakuan terhadap masalah tersebut.

Sebalnya kita sama pasangan itu wajar. Sebal kan emosi juga ya. Tapi kalau emosi, terus melahirkan tindakan-tindakan –dari seorang suami– yang tidak kita pikir panjang, bisa menyesal di kemudian hari.

Jika ingin marah, maka marahlah. Tetapi marahlah pada sesuatu yang tepat. Tidak semua kebiasaan menyebalkan harus berakhir dengan kemarahan. Namun tetap harus diingatkan dengan emosi yang terkendali.

Inilah gunanya hidup minimalis. Problem potensial dari penuhnya rumah oleh barang-barangnya yang belum tentu berguna seumur hidup telah menjauh sekian ratus kilometer. Sehingga masalah-masalah kita enggak banyak-banyak amat.

Konflik dengan Pasangan

Yang menyebalkan belum tentu jadi konflik. Tapi konflik tidak bisa ditangani seperti menangani hal-hal menyebalkan. 

Keadaan mulai gak enak itu kalau kami sekeluarga enggak keluar rumah. Susahnya hidup di kota, seakan pilihan terdekat, termudah, dan tanpa perencanaan hanyalah pergi ke mall. Padahal mall kan gitu-gitu aja ya di mana-mana. Banyak miripnya, dengan tenant-tenant yang mostly itu-itu aja. Itu pendapat saya.

Jadi ingat beberapa waktu lalu, ngajak anak-anak makan di Gokana. Ternyata yang beda hanya suasananya dan es kopi blender-nya. Sebab anak-anak tetap hanya makan nasi telur + kuah kari. Hehehe. 

Tapi dari yang saya baca dan saya observasi langsung ke istri, ya mereka (kaum hawa) memang membutuhkan jalan-jalan ke luar rumah tersebut. Bagi perempuan, “pekerjaan utama” adalah mengurus dan membersihkan rumah. Sama dengan bekerja di kantor, rutinitasnya bisa membuat gila. Lelaki kebanyakan berpikir bahwa orang yang di rumah itu santai-santai aja. Padahal enggak sama sekali. Bahkan kesibukanya bisa 24×7.

Saya akui, kalau saya yang harus 24×7 di rumah, saya enggak akan bisa. Saya ini tipenya kudu keluar rumah tiap hari, melihat jalan raya setiap hari, ketemu orang baru setiap hari, dst. Kita harus mengapresiasi kaum wanita yang berperan mengelola rumah tangga.

Misalnya dengan membelikan lipstik seharga Rp500.000,- #eh

However, itu semua (termasuk pergi ke mall) gak akan cukup. Bibit-bibit konflik itu mulai bersemi kalau kita sudah lama tidak berduaan. Kudu ada waktu dan ruang di mana hanya ada kami berdua di sana. Sebagai suami, aku tuh gak bisa diginiin terus :p (hanya dibiarkan mengurus diri sendiri, maksudnya). Seakan hanya anak-anak yang diurus oleh istri. Dia pun, saya yakin dia tidak hanya ingin bertiga saja dengan anak-anak. Tentu dia membutuhkan ruang dan waktu di mana hanya ada dia dan suaminya. Ceilah, iya gitu? 😀 Saat ini, anak-anak masih membutuhkan perhatian yang teramat banyak dari kami. Keduanya masih berusia 2 tahun 4 bulan, saat ini.

Pokoknya, urusan-urusan terkait anak-anak kudu kelar, tapi juga jangan sampai menciptakan jarak (apalagi konflik) antar kedua orang tuanya. Teorinya sih begitu. Tapi pelaksanaannya memang masih jauh panggang dari api. Pernikahan kami seumur jagung pun belum ada. Kami masih terus belajar. Doakan kami ya supaya survive 🙂

Hidup Minimal Dapat Maksimal


Di artikel yang mengulas tentang disiplin, saya menyinggung beberapa hal tentang hidup minimalis yang menjadikan hidup jadi maksimal. Somehow, apa yang saya pikirkan dan rasakan, ternyata dikompilasi dan diteorikan oleh beberapa blogger di luar sana. Misalnya ada Joshua and Ryan , becomingminimalist.com , dan Courtney Carver

all you need is less

Tiga referensi ini jadi masukan bagi saya tentang konsep hidup minimalis itu sendiri. Tak lupa, saya subscribe dulu via email. Begitu mereka rilis konten baru, langsung masuk ke inbox saya.

Yang kebetulan terjadi hari ini dan agak lucu adalah, seorang teman SMA yang tinggal di Jogja dan dia bertanya, “Berapa mobil yang kamu punya?” Sontak saya heran dengan pertanyaan ini. Mungkin dia mau jalan-jalan ke Surabaya ya, hingga bertanya demikian. Saya jawab, “Untuk apa? Enggak ada. Kami kalau jalan-jalan pakai Go-Car. Dulu pakai Grab Car (sampai aplikasinya error dan tidak kami pakai lagi). Sebelumnya pakai Uber. Tapi error-nya bikin kami uninstall.”

Back to topic. So far, bagi saya, hidup minimalis itu mencakup lima hal, setidaknya sampai saat ini:

  • Bertempat tinggal
  • Berkendara,
  • Bercengkrama dengan anak-anak
  • Berpakaian,
  • Bersosial media, dan
  • Membeli buku

1. Living in tiny house

Cita-cita saya, punya kamar tidak terlalu luas. Isi kamar tidur hanya tempat tidur saja. Sisanya, saya kira bisa di luar kamar. Lemari pakaian, toilet bercermin, meja belajar/kerja. Supaya anak-anak juga tidak unsocialized di kamarnya masing-masing.

Kata saya sih, kebutuhan kita sama rumah itu gak besar-besar amat. Kita aja yang sering kehabisan space untuk menaruh barang-barang. Lagipula, rumah yang terlalu besar itu bisa bikin anak-anak “hilang”.

Misalkan dapur saja ya. Menurut saya, dapur itu adalah tempat di mana kompor, wastafel, rak piring, dan kulkas berkumpul menjadi satu kesatuan. Jadi sebenarnya ruangan ukuran 2×2 meter saja cukup untuk dapur. Dan letaknya harus dekat dengan ruang terbuka, untuk memudahkan keluarnya aroma dan panas.

Pastinya, rumah jangan lupa sama cahaya dan perputaran udara. Rumah kan bukan bangunan yang full 100% memproteksi kita. Namun rumah, adalah bangunan yang merekayasa alam (terutama cuaca) demi kenyamanan penghuninya tanpa melupakan faktor-faktor cuaca tersebut.

Contohnya begini:

  • Rumah untuk menghindarkan kita dari kehujanan, tapi bukan berarti tanah di mana rumah berdiri malah tidak bisa menghisap air hujan tersebut, ‘kan? Resapan air gagal terbentuk ketika semua bagian tanah dibeton.
  • Rumah melindungi dari teriknya sinar matahari, bukan berarti kita tidak mengeringkan pakaian dengan bantuan sinar matahari, ‘kan? Ruang terbuka sangat penting. Baik di samping, di belakang, atau di lantai dua.

Lumayan juga ya gagasan-gagasan saya tentang rumah. Another time maybe I should write about home and house. 

2. Use car sharing services

Penyakit kota besar adalah kemacetan. Saat ini, macet manusia masih bisa kita akomodasi. Padahal nantinya 60% penduduk dunia akan bertempat tinggal di daerah urban. Alias perkotaan. Macet kendaraan yang agak susah kita hindari. Sebab itu bila jalan-jalan dengan anak-anak, saya dan istri lebih suka memakai grab car, atau go-car. Aplikasi Uber yang dulu error, sudah kami cabut instalasinya dari tablet. Lagipula, Uber tidak ada kepastian harga. Bisa sangat mahal ketika sampai di tujuan.

3. Get any time with kids

Ini lebih pada tujuan daripada upaya. Saya diajarkan bahwasanya, anak-anak butuh kuantitas waktu (quantity time) kita, sayang sekali kita baru bisa menyediakan sedikit waktu yang kita upayakan berkualitas (quality time).

Kami coba hindarkan mereka dari “magnet-magnet” yang lain. Semisal TV. Sehingga mereka tidak distracted dari kami maupun dunia luar. Hanya karena fokus pada TV. Kami juga tidak ingin punya gadget berlebihan. Mudah-mudahan hanya bertambah satu device saja lagi setelah sudah ada satu smartphone, satu tablet, dan satu laptop.

4. Dress with less

Punya lemari pakaian, cukup satu saja. Recycle isinya. Tiap beli baju baru, sumbangkan satu yang lama. Sebagai pria dewasa yang tugasnya mencari nafkah, saya malah mengurangi t-shirt. Minimal tidak bertambah. Karena t-shirt hanya bisa berfungsi di rumah dan sekitarnya. Keluar rumah, terasa sopan hanya bila mengenakan yang berkerah. Baik kaos ataupun kemeja. Pergi ke masjid, saya mengusahakan untuk tidak memakai t-shirt. Minimal kaos berkerah.

Daripada membuang uang untuk motif maupun warna yang sekedar berbeda dari yang sudah saya punya, saya pikir lebih baik untuk sesuatu pakaian yang benar-benar memberi manfaat. Alhamdulillah, tiga potong di antaranya adalah kaos yang tidak menyerap keringat dan bisa saya gunakan untuk berolahraga. Kaos ini bisa juga dipakai sehari-hari di rumah.

Ada tiga warna yang saya suka: putih, coklat, hitam, atau abu-abu. Berarti ada 4. Kata saya ya, keempat warna tersebut bisa ditabrakkan dengan warna apa saja. Baik itu warna yang terang maupun yang gelap. Ini menghemat jenis atau warna pakaian yang hanya cocok dengan warna-warna tertentu saja.

5. Don’t need to have opinion on everything.

Sejak Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 lalu, di lingkaran saya seakan orang-orang terbelah jadi dua. Pro atau kontra terhadap Presiden Jokowi, pro atau kontra terhadap Calon Gubernur Ahok, dst. Seakan, setiap warga media sosial diminta untuk menyatakan keberpihakannya. Terutama via status facebook. Hukuman sosialnya adalah, loe gak gaul/perhatian/gak tahu apa-apa, kalau loe gak bikin status atau berkomentar di status orang lain terkait isu yang sedang hangat tersebut.

Ini semua membuat kita jadi pusing dan tidak produktif. Alih-alih fokus pada kerja dan karya, kita malah meributkan hal-hal yang tidak terlalu penting. Social media membuat kita maju satu langkah. Namun penggunaan yang tidak positif malah membuat kita mundur dua langkah. Beberapa rekan bahkan berantem, atau unfollow, bahkan un-friend hanya karena perdebatan sengit di media sosial. Padahal mereka ya sudah lama enggak ngopi-ngopi bareng.

Lalu, harus bagaimana? Cukup sudah. Saran saya, kita hanya tidak harus punya opini terhadap segala hal, terutama yang sedang diributkan.

6. Buying “built to last” book

Novel terasa mahal. Sekali sudah dibaca dan tahu ceritanya, enggak mau baca lagi. Daripada mengulang baca, saya pikir lebih baik saya baca novel lain yang lebih baru. Dan saya tidak mau beli. Lebih baik pinjam. Lalu, anggaran untuk beli buku pada lari ke mana? Ke koleksi serius macam buku-buku bisnis dan manajemen.

Namun lama-lama, saya juga tidak membeli buku lagi. Bahkan hampir gak pernah lagi membaca buku. Karena bacaan saya sudah berpindah. Dari buku ke artikel. Banyak artikel yang saya “bintang”-i di internet, dengan gelar adalah “must read article“. Meskipun tidak semuanya sanggup saya tuntaskan.

Benar adanya, ya. Less is More. Semakin sedikit yang kita punya, maka semakin berarti apa yang kita miliki.

Apa saja yang berarti itu? Konsep less is more, alias hidup minimalis, membuat saya lebih sedikit merasa stress, lebih merasakan kualitas dan manfaat kala membeli sesuatu, serta semakin meminimalisir utang-utang konsumtif saya.