ITB dan Sebagian Diri yang Terakui


WhatsApp Image 2018-10-30 at 16.45.43

Kapan hari baru ketemu tiga orang ini. Semuanya dari kampus yang sama. Tapi kita lagi di “Timur”. Kita bahas soal si kampus di “Barat” ini bagaimana kalo di “Timur” tersebut.

Salah satu artikel lawas dari tempat lain yang turut membahas apa yang kami bicarakan: Persaingan ITB vs ITS.

Agak sedikit nyambung, seseorang yang pernah kuliah di “Barat” bernama Nur Novilina Afrianingsih, pernah menulis di facebook notes-nya, tertanggal 26 Januari 2016, dengan judul “ITB dan Sebagian Diri yang Terakui” sebagaimana jadi judul postingan ini.

Silakan menikmati.

============================================================================

Beberapa hari yang lalu temen baik gue, sahabat gue, si Dinul nge-chat gue “Eh boy gue kangen deh sama tulisan-tulisan cangak lu, jadi kemarin gue baca-baca lagi, parah kocak banget. Nulis lagi dong lu buruan” That’s words really heal me from every stress that I got in my life. Sekalipun kadang gue merasa dengan banyaknya permintaan menulis hal konyol gue punya side job jadi sulap badut. Sebenernya gue udah lama pengen nulis hal-hal konyol lagi tapi gue takut ga puas sama hasilnya jadi ketunda mulu sampai kemarin gue baca kata-kata bagus banget dari redaktur eksekutif majalah Tempo, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dituliskan” so, let try to show your imperfection!

Tulisan kali ini gue mau cerita tentang kehidupan baru gue sebagai mahasiswi magister salah satu institut teknologi terbaik di Indonesia yang berlokasi di Bandung sebut saja ITB (jenis kalimat tidak efektif). Gue kemarin-kemarin cukup syok dengan perbedaan kultur yang gue alami di sini, setelah lama mendekam di Kota Semarang dan belajar di UNDIP tercinta, banyak banget hal-hal yang bikin gue geleng-geleng kepala sendiri, menyadari bahwa banyak hal yang gue baru tahu dan gak habis pikir.

Sekedar preface aja, ITB adalah impian terbesar gue waktu gue SMA, gue bahkan beberapa kali masuk rumah sakit gara-gara belajar buat masuk ITB, ITB adalah ikrar bersama gue dan Dinul, sahabat gue. Dulu kita punya mimpi masuk ITB bareng terus S2 di Eropa bareng, gue Belanda, dia Jerman. Tapi Tuhan berkata lain, Ia punya rencana lain, kita berdua ga ada yang di ITB, gue S1 Teknik Lingkungan di UNDIP dan Dinul S1 Ilmu Gizi di UGM. Sepanjang perjalanan mencari ilmu itu, gue dan Dinul terus keep in touch. Kita sama-sama prepare buat S2 di Eropa. Dan lagi-lagi Allah menunjukkan jalan lain, justru disaat gue lupa tentang ITB, Allah mengirimkan gue untuk S2 di sana, dan Dinul saat ini menjadi relawan di Papua (disaat gue selalu pengen jadi Sekjen PBB, Presiden, Menteri, Rektor atau apapun yang berlimpah pengaruh dan kekuasaan, si Dinul selalu fokus mengambil sisi dunia yang terlupakan).

Anyway, tulisan ini bukan bermaksud membandingkan antara satu almamater dan almamater lain, tapi memang ada hal-hal yang nyata perbedaannya dan gue udah mencoba riset kecil-kecilan tentang hal ini, jadi ini serius samber duit bukan perasaan gue belaka, kalo kata @tahilalat ini FAK TAHI DUP! Setidaknya ada 3 hal yang gue rasa ITB punya perbedaan yang mencolok dengan UNDIP atau bahkan Perguruan Tinggi lain di Indonesia.

1. Iklim belajar yang gak manusiawi dan dosen berwatak predator penguasa rimba

Awal masuk dosen sudah mengingatkan “Di sini bukan tempat main-main, ITB bukan tempat kalian bisa masuk, terdaftar, titip absen, nongkrong haha hihi dan dapat ijazah”. Gue pikir ini sejenis gertakan sambalado tapi ternyata… JANGANKAN NONGKRONG SOB! NAPAS JUGA SUSAH! SERIUS INI!!

Kalo dulu jaman gue S1 ada tugas masih bisa SKS alias Sistem Kebut Semalam, bahkan yang disebut Tugas Besar bisa diselesaikan H-2 dengan bantuan teman-teman yang setia kawannya macem udah terikat janji tumpah darah. Di sini boro-boro H-2, tugas kecil, tugas upil, tugas mikroba atau apalah ya namanya, kalau mau agak dihargai kudu dikerjain seminggu sebelumnya.

Dosen biasanya dari 10-15 orang paling yang ganas 2-4 orang bener gak? Kalo di ITB dari 20 dosen, yang berhati lembut dan murah hati paling banyak 2, yang lain rata-rata titisan macan dan siluman uler putih. Tapi gue pikir mereka dedikasinya luar biasa banget. Segala cara dilakukan buat bikin anak-anaknya pinter.

Ada satu ibu dosen yang ngajar Statistik, gila lah ibu ini, luar biasa terkenal kegalakannya. Doi ngasih tugas yang bikin gue sampai ngehubungin temen gue anak statistika IPB buat minta bahan, bahkan temen sekelas gue ada yang NYEWA KONSULTAN STATISTIK PROFESIONAL SOB! Dan kalian tau apa kata-kata ibu dosen ini waktu tugas kita kumpulin??

“Tugas kalian ini jelek sekali, saya dari jaman SMP juga bisa bikin lebih baik!!!!”

Pulangkan sajaaa aku pada ibuku ataauuu ayahku huwwooo huwooo (Hati yang Terluka- Betharia Sonata)

Di ITB ada penyamarataan kurikulum gitu, jadi buat yang S1 nya dulu ga di ITB harus ikut beberapa mata kuliah S1, awalnya gue tersinggung tapi yah gue coba nikmati dan pada akhirnya gue emang gak layak tersinggung karena disitu banyak hal baru yang gue dapat. Mata kuliah persamaan itu pre-requisite namanya, gue harus ambil 5 MATA KULIAH LO BAYANGIN dan itu 0 SKS alias ga masuk transkrip lo, tapi gue ga ngerti kenapa semua orang memperlakukan itu seperti 100 SKS.

“Lin jangan lupa ya besok kita simulasi presentasi buat tugas presentasi pre-requisite mikrobiologi”

Gue mencoba mengorek kuping, sumpah tadi gue denger mau simulasi buat tugas mata kuliah NOL SKS????

Bahkan dulu besoknya seminar skripsi juga banyak yang ga pake simulasi-simulasian… gue berakhir ngupil di kelas sampai mimisan dan tergolek pingsan bercucuran darah.

Perihal kuis juga disini diperlakukan layaknya hidup mati. Ada satu mata kuliah yang dosennya selalu ngasih kuis di awal masuk dan kalian tau apa yang dilakukan anak-anak ITB buat menghadapi kuis ini?

Belajar kelompok di kampus sampai tengah malam!!!

Fix banget padahal dulu, jangankan kuis, UAS juga masih bisa bobo nyenyak di kosan

Dan kalian tau soal yang dikeluarkan ibunya di kuis itu letaknya kecil nyempil nyaris sejenis foot note. Disertai seringai, dosen ini memberikan wejangan

“Kuis ini bertujuan untuk membuat kalian sadar bahwa kalian tidak tau apa-apa, jadi jangan harapkan soalnya adalah sebutkan judul bab ini, sebutkan pengertian ini… itu mah anak TK juga bisa. Sana cari tempat lain kalau mau kuliah santai-santai”

Ibuuuukuuu sayaaaang…. Masih teruuus berjalaan (Ibu-Iwan Fals)

Itu masih belum ada apa-apanya. Pernah suatu hari gue kedapetan presentasi tentang Teknologi Membran yang gue suka pake banget, gue udah baca-baca materinya bahkan 3 minggu sebelumnya. Dan pas sesi tanya jawab dosennya nanya

“Kalau saya punya limbah dan mau pakai membran, jenis membran apa yang harus saya pakai”

Gue jawab “tergantung dari jenis limbahnya bu, dan outputnya akan dibuang atau di reuse”

Dia langsung murka “Anda ini tidak mengerti pertanyaan saya! kalau cuma asal ngomong silahkan di luar! Ini forum akademik”

Gue dilanda kepeningan yang bahkan se-ton paramex pun tak akan mampu mengobati. Gue pikir padahal gue gak jawab “La…Laa Laa aku sayang sekali Doraeemooon”

Pedih

Kampus buka 24 jam, Lab buka 24 jam, parkiran motor selalu penuh bahkan pukul 2 dini hari. Dan seisi semesta ITB adalah pemuda-pemudi yang berdiskusi ilmiah atau membaca setumpuk buku atau jurnal-jurnal.

Awal-awal di sini, karena diserang kepanikan tingkat akut, gue suka nangis kalau ketiduran. Gimana gak panik temen kos gue pulang kuliah misal jam 5 selalu langsung mengurung diri dan belajaaaar sampai jam 4 pagi!!! Terus tidur dan minta gue bangunin jam 6 pagi habis itu dia solat subuh dan ngampus lagi jam 7! Begitu terus tiap hari, ada pula yang jam 3 dini hari baru tidur dan minta gue bangunin jam 5. Semua tau kalau gue bangun pagi karena disini gue doang yang kayaknya tidur malem hari. Mungkin gue ada di sarang kelelawar… gue juga heran… DAN MEREKA TIDUR 2-3 JAM SEHARI LHO!!! Sedangkan gue T,T bahkan tidur di toilet dan angkot belum diitung aja udah menghabiskan waktu 6 jam!!

Iklim belajar yang ga manusiawi ini memang cukup memakan korban, ada Komite tersendiri yang menangani anak-anak depresi di ITB sini, dosen gue salah satu pengurusnya, dia cerita seringkali menangani mahasiswa-mahasiswa yang ketawa-ketawa sendiri kemudian nangis histeris dan menerawang dengan tatapan kosong. Dia pernah bilang “Hebat ya ITB ini, mencetak banyak orang pinter tapi juga banyak orang depresi”

Gue juga pernah ketemu, ada seorang laki-laki agak kemayu gitu dan seorang perempuan yang lagi mengerjakan Gamtek (Gambar Teknik) di kertas A3 di taman, tiba-tiba si laki setengah ewang ini nangis “Gueee gak kuaat cin, gue pasti gagal, gue udah berusaha tapi selalu kayak ginii hasilnya… gimana nilai gueee cin…” kaget dong tentunya gue. Berasa pengen gue peluk sambil bilang “SAMAAAA CIIIIINNNNN”

Dan Si cewek ini dengan dinginnya menjawab “ya udah ih jangan nangis malu-maluin, ayo buru diselesaiin dulu tugasnya. Mana lo yang ga bisa? udah mau deadline, lo mau kita dapet D lagi”

FAK, gue lanjutin baca buku Termodinamika, dan seketika gue merasa bimbang akan penciptaan manusia.

2. Kebebasan Berekspresi di Junjung Tinggi

Masuk kelas harus rapi, minimal pakai kaos berkerah, rambut untuk laki-laki gak boleh gondrong, bahkan di beberapa momen harus hitam putih, harus rok, bla-bla-bla. Di ITB semua itu gak berlaku. Lo bebas sebebas-bebasnya mau pake apa aja ke kampus. Gue lahir dari keluarga yang demokratis, urusan style bebaaaas banget, ibu gue menghargai selera berpakaian semua orang, bagi beliau yang terpenting bukan fisik seseorang tapi isi hati dan kepalanya. Makanya jaman S1 dulu gue terkenal sebagai anak yang nyentrik. Baju merah, celana hijau, kaos kaki ungu. Tapi di ITB ini gue pikir gue satu-satunya orang normal. Bayangin sob ada yang ke kampus pake KUTANG!!!! Gue syok banget! Agak malu-malu gue tanya ke anak S1

“Dek, itu baju yang itu yang putih transparan yang dipake anak cowok itu kutang kan?”

Dengan tatapan heran dia menjawab “Iya, emang kenapa sih ka?”

DIA HERAN GUE NANYA, GUE HERAN DIA GAK HERAN! Gue berakhir nelen cilok tanpa ngunyah beserta tusukannya

Bukan cuma kutang, kadang lo lihat ada yang pake celana training dipadu padankan kemeja, kadang lo liat ada yang pake celana tidur atasnya rompi, daaaan lo bisa temuin mbak-mbak rambutnya di cat HIJAU STABILO pake SEPATU BOOTS SEDENGKUL TAPI BAWAANNYA BUKU FUNDAMENTAL OF CHEMISTRY SEGEDE KARUNG! Kelar idup lo.

3. Tipikal Obrolan dan Humor yang Sulit Dipahami Manusia Pada Umumnya

Kalo lo lagi kumpul sama temen-temen lo apa aja sih yang diobrolin? Pasti gak jauh-jauh dari kegiatan sosial sehari-hari, macem cewek/cowok lu yang ngeselin, ortu lu yang punya rencana umroh atau Nikita Mirzani yang habis ketangkep polisi gara-gara prostitusi artis kan? Kalo disini itu semua gak akan kalian dengar.

Gue: “Kenalin aku Lina”

Si A: “A”

Gue: “Lo aslinya mana?”

Si A: “Bogor”

Gue “waaah sama doooong aku juga”

Si A: “OK”

FIX! Apa cuma gue di dunia ini yang kalo nemu orang bahkan sesama penggemar Teletubbies aja pasti seneng banget dan langsung bisa ngobrol ngalor ngidul dari A sampai Z.

Tapi akan berbeda ketika lo ngomongin ilmu pengetahuan

Si T: “Lin lo tau prinsip kerja konverter?”

Gue: “Hmmm pernah denger tapi lupa gue”

Si T: “Sumpah lo ga tau? Itu kan Teknik Lingkungan banget, gue lagi mau buat tugas tentang converter AC-DC itu, ada beberapa konversi energi yang menggunakan prinsip…….dengan rumus… seharusnya….”

Gue terpaksa sulam alis dan operasi plastik biar kerutan penahan emosi tidak nampak. As you know itu adalah perbincangan yang menemani makan siang. Dan itu bukan satu-satunya perbincangan absurd yang harus gue hadapi!

Disini gossip seputar Nikita Mirzani dan prostitusi artis (lagi-lagi) atau kabar burung operasi plastiknya Aurel Hermansyah kalah dibanding berita Stephen Hawking ilmuwan fisika ternama dunia yang menyatakan dirinya atheis atau peraih nobel baru dari Jepang. Dan seakan-akan mereka kesal diiringi harapan tahun-tahun berikutnya mereka yang dapat nobel tersebut (bahkan gue T.T terlalu pahit untuk dikatakan)

Dari segi perbincangan sudah absurd dari segi humor lebih parah lagi…

Tentunya dulu waktu gue S1 gue punya banyak temen-temen yang kosakata ancurnya itu melebihi tebelnya kamus oxford.

“Heh Silit Pitik (dubur anak ayam red., maafkan Hernawa teman saya) sini koe!”

“Opo sih Gondes (Gondrong Ndeso red.)?”

“Oalah dasar Pinggiran Keramik, raimu koyo ndas coro buntung!” (Dasar pinggiran keramik, mukamu seperti kepala kecoa buntung red., lagi-lagi maafkan Hernawa sebagai pakar kata-kata sampah)

Dan kita selalu berakhir menertawai kekonyolan-kekonyolan yang paling tidak bisa diterima akal sehat manusia. Tapi disini….

Segerombolan anak ketawa ketawa, gue coba mendekat mendengar keseruan apa yang mereka alami

A: “Iya sumpah Di, masa gue pakenya hukum Newton 2, gue pikir kan gradient gitu kan? Anjiiir salah banget gue, Gila aja lo 45 derajat!!” (shitmen1)

B: “Bahahhahahaha paraaah lo, gile ah, eh Wi, sini lu ngapain sih nyari-nyari yang panas mulu, emang lo taneman apa butuh sinar matahari buat fotosintesis” (shitmen2)

C: “bahahaha lu kata gue Autotrof!!!” (shitmen3)

Dan segerombolan anak itu tergelak-gelak, khusyuk bahagia sekali meninggalkan gue yang udah step stadium akhir di belakang mereka, kejang-kejang disertai panas 500 derajat celcius karena sedikit pun gue ga bisa menangkap titik humor Hukum Newton dan fotosintesis ini!!!

Pernah sekali temen gue pas S1 namanya Dian, ke Bandung dan dia sempat mendengar perbincangan anak-anak ITB, dia pulang sambil menitipkan pesan “Please Lin!! Lo harus tetep jadi manusia pliiiis”

Gue ga ngerti lagi

Kalaaaau beginii akupun jadi sibuuuk, berusahaaa mengejar-ngejar diaaa, matahari menyinaari semua perasaan cintaa tapi mengaaapaa hanya aku yang dimaraahiiii (OST Sinchan)

Gue pikir gue hampir nyerah, beruntung banyak orang yang selalu mensupport gue. Ibu bapak gue selalu menghibur gue setiap gue telpon buat cerita sambil nangis-nangis karena depresi berkepanjangan

“Alaaah selooo aja temen-temen sama dosenmu itu kebanyakan belajar karena ga pada encer otaknya, kalo anak mama zzeeeet baca sekilas langsung nangkep” (minta diledakin warga ITB)

Atau bapak gue “Papa juga raport dari 9 pelajaran yang item cuma 3 bisa kok Alhamdulillah beli rumah sama mobil” (minta dimutilasi rektor ITB)

Dan juga Allah mengirimkan sohib gue dari jaman maba, si Ul yang dari dulu sekontrakan sama gue, doi sekarang keterima kerja di Bandung dan berakhirlah kita satu kosan lagi (Satu kamar bahkan). Beruntunglah setidaknya dari jutaan manusia di sini ada satu anak yang ngerti apa yang gue anggap lucu dan apa yang tidak

Bagaimana pun juga ITB pernah menjadi tempat yang sangat gue impikan, dan Allah memberikannya sekarang, mungkin waktunya tidak persis seperti doa 5 tahun yang lalu, tapi gue yakin Dia lebih tau mana yang terbaik bagi hambaNya. Seringkali gue membawa hadir diri gue yang 5 tahun lalu sengaja melancong sendiri ke ITB untuk merasakan euforia anak muda yang haus akan ilmu, kadang kalo udah mellow gitu, gue suka sendirian nontonin latihan marching band maba-maba S1 atau jalan-jalan keliling ITB di sore hari. Dan gue sering senyum-senyum sambil menitikan air mata sendiri (semoga gue gak ditangkep Komite Penanggulangan Depresi ITB)

Dalam adat Jawa yang kental gue adalah anak dengan tempramen tinggi, bengis, ambisius, kompetitif, arogan, tidak sabaran, tidak lemah lembut, dan lain-lain yang membuat gue ‘merubah diri’ agar gue bisa diterima dalam hubungan sosial yang penuh kearifan lokal, yang serba pakewoh (serba ga enakan), halus, sensitif, lembut, tenang, nerimo, dll. Tapi di sini, ada sisi-sisi dalam diri gue yang seringkali berkonotasi negatif itu berjalan searah seperti menemukan tempatnya, membangun sebuah kekuatan besar yang mungkin terlihat angkuh namun ia adalah harapan bagi yang lemah.

Apa yang menjadikannya sebagai yang terbaik di Indonesia?

Apa yang menjadikannya masuk dalam jajaran terdepan di Asia Tenggara?

Apa yang menjadikannya bermanfaat besar untuk manusia dan kehidupan?

Itu semua tidak diisi dengan kemudahan, ada banyak air mata penderitaan di dalamnya. Ada banyak kedisiplinan dan hati yang tersakiti di dalamnya, tapi yang bertahan, ia yang mampu mengubah masa depan.

Semester 1 telah usai, gue menatap nanar list target gue LULUS IPK 3,9 di dinding. Melihat perjalanan 6 bulan kebelakang, gue rasa tembus di angka 3 juga udah mukjizat Ilahi. Namun ternyata lagi-lagi Allah penentu segalanya.

3,82 angka yang tertera di dalam sistem online akademik atas nama Nur Novilina Arifianingsih. Gue terperanjat tak percaya, Ibu gue yang intens menemani masa-masa sulit gue pun tak percaya.

“Lin coba dicek dulu sana, jangan-jangan ketuker sama temenmu” à ini antara gue mau ketawa atau mau nangis, antara saran atau penghinaan, tapi setelah itu ibu gue bilang gini “Dulu kamu nangis-nangis kejer ga lolos ITB karena ga mau kalah sama mama yang bisa masuk UGM dan UI, asal kamu tau aja, dulu S2 di UI IPK mama 2 koma, kamuuu ini 3,82 di ITB lho Lin, mama sudah kalah jauh dari kamu, sekarang fokus mama adalah ngeluarin nama kamu dari Top 3 list game Zuma supaya setidaknya ada satu bidang mama lebih baik dari kamu”

Ibu gue bukan tipe orang yang senang memuji, dan kalimat sejenis itu adalah penghargaan tertinggi dari dia selama gue hidup. Allah always bless me

Mungkin beberapa orang akan mencibir “Ya elah pamer nilai bgt sih” atau “Apalah arti IPK kalau ga bisa bermanfaat” semoga Allah membersihkan hati gue dari kesombongan terhadapNya. Tulisan ini lebih kepada mengingatkan gue bahwa bagaimanapun keadaannya, tetap percaya pada mimpi-mimpi kita, percaya pada kemampuan diri kita diiringi permohonan kepada Yang Maha Segalanya adalah yang paling penting. Kedepan pasti tantangannya akan lebih berat lagi, tapi gue ingin dengan mengingat pencapaian kecil ini semangat dan antusiasme gue tak akan pernah padam.

It’s always seems impossible until it’s done- Nelson Mandela

 

Perbedaan Kuliah di Indonesia dan di Belanda


oleh:  Monika Pury Oktora

cover-groningen-moms-journal

Kalau ditanya apa bedanya kuliah di Belanda dan Indonesia tentu akan BEDA. Akan banyak pula poin yang terurai dari tulisan saya ini mengenai perbedaan tersebut, tentunya itu subjektvitas saya pribadi. Perspektifnya akan sempit karena saya hanya mengambil merasakan kuliah di salah satu jurusan dan di salah satu univ di Belanda. Padahal banyaaak sekali jurusan/fakultas yang tersebar di kota-kota Belanda. Beda pengalaman, beda pribadi, beda komunitas, dan beda-beda lainnya akan menghasilkan respon yang berbeda.

Oleh karena itu, saya melemparkan pertanyaan singkat pada teman-teman saya di Belanda yang sedang/pernah menjalani perkuliahan di Belanda. Kemudian semuanya saya rangkum di sini.

  1. Tantangan Berbahasa

Pengalaman dan tantangan yang didapat tentunya lebih banyak ketika menjalani perkuliahan di Belanda, salah satunya dari segi bahasa. Untungnya di Belanda banyak kelas internasionalnya. Jadi kita gak perlu menguasai Bahasa Belanda dulu untuk bisa kuliah di sini, Bahasa Inggris pun sudah cukup. Tapi.. tetap saja kita harus punya effort lebih besar untuk ini. Misalnya untuk menyerap materi kuliah/mendengarkan dosen ketika di kelas atau membaca paper dan textbook. Kuliah di Indonesia ya tentu kita nyaman bias baca buku kuliah, slide dosen, modul-modul dengan Bahasa Indonesia (Walaupun ada juga sih textbook Bahasa Inggris, tapi kan tidak untuk semua mata kuliah). Di Belanda sini, ya harus siap menghadapi tantangan Bahasa internasional. Tidak semua orang juga diberikan kelebihan untuk jago berbahasa. Bisa nembus IELTS/TOEFL yang disyaratkan oleh univ juga perjuangannya udah lumayan, pas sampai di lapangannya lebih lagi perjuangannya. Terutama dalam menulis report/paper dalam Bahasa Inggris.. beuuh.. tidak segampang menulis puisi buat kecengan. Nulis dalam Bahasa Indonesia aja masih salah-salah apalagi dalam Bahasa Inggris? Oiya ditambah jika ada tugas presentasi. Pasti kerasa deg-degan, takut belepotan pas ngomong, bisa-bisa yang keluar dari mulut beda sama yang dipikirin di kepala.

  1. Etos kerja

Perbedaan budaya dan etos kerja. Di Belanda, orang-orangnya suka berdiskusi open mind. Etos kerja orang Belanda itu efisien dan efektif, ga suka bertele-tele, to the point dan padat berisi dalam menyampaikan sesuatu. Kalau suka mereka bilang suka kalo engga ya juga bilang dengan jelas, ga ada “ga enak-an” seperti orang Indonesia. Kita jangan tersinggung kalau mereka jujur apa adanya. Mereka juga fair kok, misalkan di satu bidang kita ada baru gontok-gontokan diskusi, pas jam istirahat biasa lagi kayak ga kejadian apa-apa. Etos kerja yang suka berdiskusi ini jadi membuat mahasiswa lebih bisa eksploratif dan lebih banyak membaca ketika studi.

  1. Budaya

Kita bertemu dan bekerja dengan berbagai macam mahasiswa dari negara yang beda-beda. Biasa ngomong lu-lu gue-gue, ketika di Belanda jadi harus lebih bisa membaurkan diri ke dalam pergaulan tersebut. Gimana kita bisa diterima dengan baik, tanpa ikut terseret oleh kultur dan kebiasaan tidak lazim yang berbeda dengan kita. Tapi tentunya kita juga jadi belajar lebih tepo seliro sama yang beda budaya. Sama sih di Indonesia juga sebenarnya ketika masuk ke univ tertentu ada yang dari Jawa, dari Sumatera, dari Kalimantan. Cuma karena masih sama-sama anak Ibu Pertiwi ya.. masih berasa di “rumah”lah. Tapi kalo dah ketemu orang dari kebangsaan beda-beda, bahasa beda, lifestyle beda.. Takutnya jadi gegar budaya, culture shock bahasa kerennya. Ga sedikit lho mahasiswa Indonesia yang culture shock, baik yang jadi ga betah karena homesick atau sebaliknya malah jadi overgaul melampaui tatakrama/etika/agama yang dulu sangat kental dipegang saat masih di Indonesia.

  1. Pemahaman konsep

Perbedaan lain yang mendasar. Kuliah di sini lebih mementingkan pemahaman konsep. Kuliah tidak hanya dibebankan sama ujian doang. Kalau di indonesia pernah pengalaman suatu kuliah, hasil akhirnya terlalu dititikberatkan sama ujian, padahal pemahaman konsepnya kurang. Jadilah ujian seperti sesuatu momok yang menakutkan. Gak penting lagi paham atau tidak konsepnya yang penting ujian bagus. Ujian di Belanda juga tetep momok sih.. tapi setidaknya outcome dari kuliah ga cuma dari ujian. Ada presentasi, ada assignment, dan tentunya si assignment itu dibuat untuk kita agar lebih paham konsepnya.

  1. Cara mengajar dosen

Masih nyambung dari poin nomor 4. Lebih kerasa di sini kalau tujuan si dosen ngajar lebih ditekankan agar mahasiswanya mengerti. Mereka gak pernah merendahkan studentnya walaupun studentnya nanya pertanyaan-pertanyaan dasar gitu. Prinsipnya kan: “There is no stupid question.” Bahkan kalo kita masih ga paham, dosen bersedia ngajarin di luar jam ngajarnya, tentunya dengan appointment terlebih dahulu.

  1. Fasilitas

Mungkin poin ini yang akan jadi jurang perbedaan yang cukup siginifkan antara kuliah di Indonesia dan di Belanda. Selama kuliah di Belanda, terasa lebih fokus dalam menjalani perkuliahan. Bahan bacaan lebih kaya, jurnal internasional dengan mudah bisa diakses, textbook banyak tersedia di perpus, atau bisa juga beli second atau baru secara online, dengan harga terjangkau. Ini baru soal bahan bacaan.. Kalau soal fasilitas berupa mesin, alat elektronik, perangkat lab, yaaa.. bersyukur banget bisa nemuin rupa-rupa kelengkapan seperti itu. Tentunya salut pas kuliah di Indonesia, dengan fasilitas yang mungkin seadanya, tapi tetep bisa mengerjakan penelitian atau tugas dengan hasil yang bagus.

  1. Egaliter

Ini yang mungkin kerasa berbeda ya dengan Indonesia. Di sini dosen dan mahasiswa ga berasa ada jarak. Manggil professor dengan nama depannya ya biasa, ga pake sir atau mister. Sering kan denger kalo di Indo tu orang ngorol sama professor senior: “Iya prof..” “Oke, prof..” dan prof-prof lain di belakang kalimat. Rasanya geli juga kadang. Di sini ga ada titel-titel gitu disangkutin dipercakapan atau di email. Semuanya sama. Tapi bukan berarti kita jadi kurang ajar juga. Mengacu pada etos kerja yang suka berdiskusi tadi, mahasiswa maupun dosen bebas berekspresi mengeluarkan pendapatnya di forum-forum diskusi. Gak ada tatapan merendahkan dari mereka kalau student mau bertanya, mendebat, atau mengekspresikan ketidaksetujuan.

  1. Mandiri

Jadi mahasiswa di Belanda harus proaktif dan mandiri. Ga ada tuh yang namanya diingetin sama dosen tentang kapan ujian, harus ngumpulin tugas, atau dikejar-kejar untuk nyelesain thesis. Semua informasi tentang perkuliahan biasanya sudah terintegrasi lewat portal kampus dan email. Jadi harus sering-sering cek email dan portal kampus untuk lihat apakah ada jadwal yang berubah, kapan tugas harus dikumpulkan, kapan meeting dengan departemen dll. Waktu kuliah di Indonesia, walaupun punya dosen cuek, tapi setidaknya masih punya temen yang care ngingetin kita kalau kita bolos kuliah, kalau kita lupa bikin tugas. Di Belanda? Ya lu-lu gue-gue dong, masa sudah besar masih harus diingetin. Oiya untuk pengerjaan tugas juga, dosen akan membebaskan kita mengeksplorasi bahan.. Dosen gak akan nuntun satu-satu dan ngontrol detail semua hasil kerja kita. Mereka percaya kita bisa ngerjainnya dan kita juga jadi lebih bertanggungjawab akan kerjaan kita.

  1. “You did a good job!”

Ini yang patut ditiru. Selama kuliah di Belanda, selalu ketemu dosen-dosen yang sangat menghargai hasil kerja studentnya. Ketika kita telah selesai mengerjakan tugas, melaksanakan presentasi, atau merampungkan paper, komen mereka pertama kali adalah “You did a good job!” yang terdengar tulus. Kemudian mereka baru memaparkan apa positif dan negatifnya dari pekerjaan yang sudah kita buat. Tapi intinya mereka sangat menghargai hasil jerih payah kita. Mereka ga minim akan pujian kok. Yang seperti ini bikin mahasiswa jadi termotivasi dan merasa dihargai.

  1. Resource bagi universitas

Khusus untuk mahasiswa S3 atau PhD, perbedaan yg paling terasa adalah di Belanda ini, PhD student itu dianggap sebagai sebagai resource kampus. Artinya mereka bukanlah sekedar “murid biasa”, tetapi statusnya dianggap sebagai pegawai, yang menghasilkan sesuatu untuk kampus, yang keberadaannya dibutuhkan oleh universitas dan profesor. Bahkan mahasiswa S2 juga sering dilibatkan sebagai resource kampus.. Seperti ikut menjadi bagian dalam research mahasiswa S3.

Nb: ketika saya menuliskan Belanda bukan berarti seluruh univ di Belanda seperti tersebut. Ini hanyalah rangkuman dari pengalaman teman-teman yang saya tanya ditambah pengalaman pribadi, dan cerita kanan-kiri.

Terima kasih kepada: Navilah Syamlan, Yosi Ayu, Resti Marlina, Doti Parameswari, Murwendah, Rully Cahyono, Yora Faramitha, Bustanul Ury, Niken Widyakusuma, Pretty Falena.

alasan kenapa memilih manajemen informatika


Dalam suatu postingan, saya pernah menjelaskan beberapa posisi pekerjaan di perusahaan software house.

Bisa disimpulkan bahwa tidak semuanya merupakan programming. Kaitannya dengan layanan kepada pelanggan, ada pula yang terkait dengan fungsi bisnis. Yang terakhir ini, requirement-nya dibuat oleh seorang business analyst atau system analyst.

Ada pula posisi seperti solution architect.

Kembali ke judul. Dari posisi-posisi pekerjaan yang tersedia, kira-kira ada jurusan apa saja yang bisa diambil? Mengingat ada banyak sekali jurusan terkait komputer maupun informatika di Indonesia, dengan ragam nama-nama jurusan yang berbeda-beda. Padahal, bisa jadi maksudnya sama.

Manajemen Informatika

Jadi yang dikelola (to be managed) adalah informatika-nya. Prinsipnya adalah informatika sebagai pendukung alias supporting system untuk sistem yang lebih besar. Baik itu sistem bisnis/usaha, sistem pemerintahan, sistem organisasi sosial, dan lain sebagainya.

Sistem-sistem tersebut tidak boleh bergantung kepada perangkat keras maupun lunaknya. Yang harus terjadi adalah software dan hardware menyesuaikan diri terhadap sistem dan aturan main yang sudah berlaku atau sedang dalam perencanaan. Sehingga eksekusinya bisa lebih cepat, lebih efisien, mengelola lebih banyak data, lebih otomatis, mengurangi pemberdayaan SDM, dan seterusnya.

Sistem dan Teknologi Informasi.

Judul jurusannya sedikit berbeda. Tetapi maksudnya sama. Yaitu mengelola informasi melalui pembentukan sistem dan pemberdayaan teknologi. Dengan sistematisasi informasi, maka informasi akan bisa dikelola dengan lebih baik. Dengan penggunaan teknologi yang tepat, namun tidak harus terbaru atau termahal, maka penggunaan informasi dapat dimaksimalkan.

Tujuannya sama: lebih cepat, lebih efisien, lebih otomatis, dll.

Jadi, kedua jurusan tersebut sama persis. Yang tidak boleh dilupakan adalah tetap ada pembuatan kode alias coding-nya. Dan mata kuliahnya tidak sedikit.

Setelah lulus, bisa jadi apa? Bisa jadi (business/system) analyst. Bisa juga kembali menjadi programmer/web developer.

Teknik informatika, pada dasarnya disiapkan sebagai programmer. Namun juga masih bisa berperan sebagai business/system analyst.

Komputer Akuntansi

Menurut sejarahnya, fungsi keuangan adalah salah satu fungsi yang lebih dahulu mengalami digitalisasi. Sejarah auditor keuangan yang bertransformasi menjadi auditor IT juga kurang lebih demikian. Jangan heran munculnya jurusan komputer akuntansi.

Karena belajar pemrograman iya, belajar akuntansi juga iya. Akuntansi kan termasuk laporan neraca, laporan laba-rugi, laporan pajak, dan laporan-laporan keuangan lainnya.

Di pasar aplikasi, sudah banyak aplikasi keuangan yang tinggal pakai. Ada yang gratis dan simpel. Ada juga yang mahal tapi komplit.

Tentang pekerjaan, lagi-lagi karena belajar pemrograman, bisa saja melamar dan diterima bekerja sebagai programmer, maupun system/business analyst.

Kalau 25% dari keseluruhan mata kuliah adalah terkait akuntansi, mestinya bisa juga bekerja di fungsi-fungsi keuangan di perusahaan.

Teknik Informatika

Sudah jelas banget. Fokus ke rekayasa perangkat lunak (software engineering).

Teknik Komputer Jaringan

Mostly terkait jaringan dan penggunaan komputer dalam sistem perusahaan. Jangan keliru dengan Teknik Komputer yang merupakan percabangan dari Teknik Elektro.

Jurusan untuk Solution Architect dan Project Manager (PM)?

Bisa dibilang tidak ada. Kursus dan sertifikasi untuk PM sering saya dengar. Tapi habis wisuda langsung diberi posisi berjudul SA atau PM? Tidak ada.

Kalau Solution Architect, biasanya punya pengalaman beberapa waktu sebagai developer. Tidak hanya menguasai teknis pemrograman, namun juga jenis-jenis teknolog yang digunakan, serta menyesuaikan dengan kemampuan para calon pengguna (user).

Mantan Business Analyst (BA), atau System Analyst bisa naik kelas menjadi Solution Architect.

Solution Architect fokus menghadapi output alias keluaran dari proyek. Sementara Project Manager (PM) fokus agar proyek selesai tepat waktu, sesuai dengan output yang dikehendaki, dengan biaya seminimal mungkin. Paling tidak, hanya sedikit meleset dari anggaran keuangan yang telah dibuat.

Istilahnya, Solution Architect merencanakan (to plan) , memastikan (to assure), dan mengawasi (to control) segala teknis proyek. Sementara PM melakukan ketiga aktivitas tersebut tetapi pada aspek non teknisnya. Bisa dibilang, keduanya bekerja sama sejak awal hingga akhir proyek IT development atau IT maintenance.

Project Manager biasanya merupakan single contact point yang bisa dihubungi oleh klien. Jadi klien tidak boleh menghubungi orang lain, kecuali si PM itu sendiri. Di samping itu, PM juga berperan sebagai leader dalam pengerjaan proyek. Dan sekali lagi, untuk urusan teknisnya didampingi oleh Solution Architect sejak awal hingga akhir.

Simpulan

Pada dasarnya, lulusan S1 segala jurusan masih bisa kemana-mana. Meskipun beberapa jenis pekerjaan mengharuskan fresh graduate dari jurusan-jurusan tertentu.  Selain itu, ada juga posisi-posisi yang mengharuskan karyawan berpengalaman.

Dengan kata lain, secara umum, menjalani profesi apa saja bisa berasal dari jurusan apapun. Semua kembali ke kita yang akan dan sedang berkuliah. Bahkan bila sudah lulus sekalipun, bisa saja kita mengejar suatu profesi tertentu dengan alasan kita memang suka banget dengan pekerjaan tersebut (passionated).

Referensi: 

Alasan Memilih Manajemen Keuangan


Saya pernah bimbang ketika harus memilih salah satu di antara dua: manajemen keuangan atau manajemen pemasaran. Pada akhirnya saya memilih manajemen pemasaran, tapi sebelumnya saya galau dengan manajemen keuangan. Saya saat itu berpikir bahwa penting sekali mempelajari manajemen keuangan, dan tidak semua orang mampu mengajarkan manajemen keuangan dengan baik.

Ibarat mengendarai mobil atau motor, maka manajemen keuangan adalah kemampuan kamu untuk membaca panel yang berisi speedometer, jumlah bensin yang tersisa, tingkat perputara mesin, dan lain sebagainya. Hanya mampu menjalankan bisnis (memproduksi, lalu mempromosikan, kemudian menjual) saja tidak cukup tanpa pemahaman “apa yang sebenarnya terjadi dengan keuangan perusahaan/bisnis kita”. Ini mirip dengan bisa berkendara tapi tidak tahu kapan bensin akan habis dan harus masuk stasiun pom bensin. Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Apakah untung dari bisnis kita benar-benar ada? Atau sekedar uang yang masuk > uang keluar?
  • Apakah likuiditas kita cukup untuk menjalankan perusahaan paling tidak selama 3 bulan ke depan? Jangan-jangan uang kontan kita habis untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya mendesak (misal: gaji karyawan di bulan ini).
  • Berapa rupiah inventory yang kita miliki? Apa risikonya bila inventory tersebut tidak segera terjual? Dan berapa cepat kita bisa menjualnya?
  • Dst.

Sekarang, saya coba ingat-ingat kembali mengapa saya pernah tertarik dengan manajemen keuangan. Dan kalau kamu memiliki poin-poin yang sama seperti yang saya uraikan di bawah ini, mungkin akan membantu kamu dalam memprioritaskan manajemen keuangan dibandingkan dengan konsentrasi-konsentrasi yang lain di jurusan manajemen:

Tertarik dengan hal-hal berbau investasi dan pasar modal. Saya biasa menggolongkan investasi menjadi 2 kelompok, yaitu investasi konservatif dan investasi di instrumen finansial. Yang pertama, identik dengan emas (salah satunya yang berbentuk perhiasan) dan tanah (atau properti). Masih masuk dalam kelompok pertama, tapi konservatif dan perlu kerja keras, adalah investasi pada sektor riil. Termasuk beralih menjadi full-time entrepreneur. Yang kedua, adalah surat utang (termasuk sukuk), dan saham (dari pasar saham). Kombinasi surat utang dan saham, yang biasa kita kenal dengan sebutan “reksa dana” juga termasuk kategori kedua.

Feel challenging banget kalau merasa belum paham dan ingin bisa “menguasai” hal-hal berbau duit. Kalau minat kamu di keuangan yang seperti ini dan kamu ingin memiliki kemampuan untuk menguasainya, maka kamu cocok di manajemen keuangan. Ketika kamu seringkali tertantang untuk menguasai suatu permasalahan keuangan. ini berarti kamu sudah passion di financial management.

Suka ngutak-ngatik angka, tapi bukan seperti matematika yang terlalu science. Manajemen keuangan tidak sama dengan menurunkan suatu rumus diferensial dan integral pada kalkulus ketika kita mengambil kelas IPA di SMA dulu. Tidak serumit itu. Justru sederhana, tetapi ada (terlalu?) banyak yang sederhana. Intinya adalah kamu suka mengolah practical numbers. Yaitu rumus-rumus yang sederhana. Indikator-indikator sederhana yang bisa sangat mereleksikan kinerja suatu bisnis, dan hal-hal semacam itu.

Contoh indikator sederhana misalnya pada industri ritel adalah inventory turnover. Artinya adalah seberapa cepat inventory tersebut berubah menjadi rupiah. Saya kira bukti bahwa kamu suka ngutak-ngatik practical numbers ini adalah ketika kamu suka membaca neraca (balance sheet), laporan laba-rugi (income statement) dan laporan dari manajemen.

Manajemen risiko. Bisnis itu kental dengan risiko yang terukur. Kalau kita tidak bisa mengukur risikonya, lebih baik jangan terjun di bisnis itu. Dan justru di situlah seninya berbisnis: bagaimana kita mengukur dan melakukan treatment terhadap risiko tersebut dengan lebih baik daripada kompetitor kita melakukannya. Bagaimana cara mengukur risiko? Semua dasar-dasarnya di ajarkan di konsentrasi manajemen keuangan.

Jadi sudah saya paparkan beberapa alasan memilih manajemen keuangan. Tentu saja itu belum semua. Mungkin kamu punya alasan berbeda yang mendorong kamu memilih manajemen keuangan instead of konsentrasi-konsentrasi yang lain. Semoga sedikit uraian tersebut dapat membantu kamu memilih konsentrasi yang tepat untuk kamu saat ini dan karir kamu ke depan.

Related Post:
Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran
Alasan Memilih Prodi Manajemen

Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran


Dalam artikel terdahulu, saya menyampaikan alasan-alasan mengapa memilih program studi manajemen. Lalu, setelah sudah di dalam, kamu mau fokus ke konsentrasi yang mana? Pertimbangannya bisa karena (1) apa yang kamu sukai, atau (2) bidang pekerjaan yang ingin kamu tekuni nanti.

Ada beragam pilihan, tergantung bagaimana kampus kamu memetakan konsentrasi-konsentrasi tersebut. Yang paling sering saya temui adalah pengelompokan konsentrasi berdasar: (a) marketing, (b) finance, (c) human resources, dan (d) operation. Bagi saya, human resources dan operation itu agak rumit. Jadi kita bahas yang konsentrasi marketing dan finance aja ya 😀

Kalau marketing, enak dipelajari. Apalagi studi-studi kasusnya itu, lho. Baik yang berhasil (bisa kita tiru dan modifikasi), atau yang gagal (supaya kita bisa hindari). Bidang pekerjaannya tentu saja di direktorat marketing dan sales. Dulu di kampus saya mata kuliah yang sering dibuka adalah brand management, service marketing, dan customer behavior.

Kalau finance, sebenarnya sama rumitnya. Tetapi saya kira ini penting untuk saya pahami (secara pribadi). Mata kuliah yang dibuka biasanya investment project analysis, risk management, dan capital market. Kalau tertarik berkarir di bidang keuangan, bisa berkarya di perbankan, asuransi, atau perusahaan investasi. Bisa juga bekerja di fungsi-fungsi tersebut, terutama treasurer (bendahara).

Lalu, bagaimana dengan saya? Saya menilai untuk marketing bisa saya pelajari sendiri. Sebab sejak bertahun-tahun sebelumnya saya sudah membaca tentang marketing, khususnya buku-buku populer mengenai marketing. Akhirnya saya mengambil 3 mata kuliah pilihan di konsentrasi finance dengan tugas akhir (tetap) di konsentrasi marketing.

Saat ini, saya sendiri sekarang aktif bekerja di sebuah konsultan pemasaran. Mudah-mudahan artikel pendek ini bermanfaat untuk kamu yang bimbang menentukan pilih manajemen keuangan atau manajemen pemasaran.

Related Post:
Alasan Memilih Prodi Manajemen
Biaya Kuliah MBA ITB

Profesi Idaman di Masa Depan


Saya punya sedikit prediksi dan analisis asal-asalan yang saya susun secara sembarangan tanpa didahului oleh riset yang sok-sok detil dan mendalam tanpa mempertimbangkan masukan dari para ahli di bidangnya *cuma mau bilang risetnya engga serius aja susah amat :p Prediksi ini cuma punya satu landasan yang menurut saya agak-agak punya pertimbangan filosofis nan fundamental, khususnya mengenai beberapa profesi masa depan yang sangat bergengsi untuk ditekuni dan (mungkin) dengan pendapatan yang tidak sedikit. Berikut adalah uraian-uraian profesi tersebut secara tidak terstruktur, tidak masif, dan tidak sistematis 😀 *masih dalam suasana pemilu-pemiluan :p

Mungkin terawangan ngasal ini bisa kamu manfaatkan untuk shifting quadrant from your current job right now. Kami tidak mempertanggungjawabkan pada risiko apapun yang mungkin anda akan alami setelah menjadikan artikel ini sebagai dasar pengambilan keputusan shifting quadrant anda. Atau untuk kamu yang sebentar lagi lulus SMA dan masih mempertimbangkan akan memilih jurusan apa, nah artikel ini  bisa membantu sedikit dan sedikit membantu. *sebenarnya saya sih cuma sedikit berusaha supaya opening artikel saya jadi sedikit menghibur gapapa ya. Tapi habis dari sini udah tergarap agak serius koq *serius as usual 😀

Desain
Ke depan, market di Indonesia akan didominasi oleh mereka yang ingin tampil beda dan mengekspresikan diri mereka. Not to impress, but only express their appetite on things. So, they will hire you, the designers untuk bantu mereka mengekspresikan selera-selera mereka terhadap berbagai hal. Sedikit di antaranya adalah arsitek dan desain interior. Belum lagi industrial designer, dan lain sebagainya. Intinya, profesi terkait desain akan menjadi profesi primadona di masa datang.

Teknik.
Indonesia sebagai negara berkembang tentu masih punya potensi untuk lebih maju lagi. Tengok saja hasil riset McKinsey bahwa perekonomian Indonesia akan menempati urutan ke-7 pada tahun 2030 nanti. Dalam proses perjalanan menuju negara maju tersebut, tentu akan ada banyak industri-industri dengan nilai tambah (added value) yang lebih tinggi. Dalam pada itu, kebutuhan akan pekerja teknik (engineer) tentu juga akan bertambah banyak dan meluas jenis pekerjaannya.

ICT (Information & Communication Technology)
Digitalisasi berbagai lapangan kehidupan menuntut penguasaan ICT yang mumpuni. Tidak hanya dari perusahaan maupun industrinya saja yang membutuhkan digitalisasi berbagai perangkat, namun juga dari permintaan pasar (terutama mass customer) pun demikian. Misalnya saja keberadaan generasi muda yang menuntut serba digital (dan tentu saja harus online!. Sehingga kebutuhan akan tenaga kerja yang mampu menterjemahkan menjadi bahasa digital, perangkat digital, maupun sistem digital menjadi sangat dibutuhkan ke depan.

Bahasa dan Komunikasi 
Di dunia yang sudah sangat terkoneksi ini (tidak hanya informasi saja, tetapi juga arus uang dan modal) maka penguasaan atas bahasa dan komunikasi sudah akan memberi anda tempat yang strategis. Jangan salah ya. Bahasa inggris tak lagi layak masuk kelompok bahasa asing. Karena film, musik, dan berbagai info di website sudah dalam bahasa inggris. Mestinya ini bahasa yang simpel dan mudah untuk kita. Kalau bahasa dan komunikasi sudah oke, tinggal perkuat di kemampuan teknis dan kompetensi bisnis saja.

Planologi
Dalam kurun waktu beberapa puluh tahun ke depan, kota akan semakin meluas. Ini bukan fenomena dunia saja sebenarnya, Indonesia ke depan pun akan seperti ini. Kota juga akan semakin padat karena urbanisasi yang berlangsung — dan di saat yang sama daerah rural (baca: desa) pun akan semakin jarang penduduknya (yes, because of modern urbanization). Terlebih lagi penguasaan aset-aset tanah daerah oleh orang-orang dari kota.  Dalam pada itu, perencanaan tata kota akan memegang peranan penting sehingga manusia (sebagai individu maupun keluarga) dapat tinggal, bekerja dan hidup dengan nyaman.

Kesehatan dan Pendidikan
Ada dua kategori industri yang tidak terkait dengan sumber daya alam, sifatnya ritel, tetapi pasti ada (dan menjadi bisnis besar) di daerah padat penduduk (baca: kota). Itu adalah bisnis terkait penyediaan jasa kesehatan dan jasa pendidikan. Profesi dalam dua industri tersebut tidak akan kurang permintaan bahkan cenderung bertambah dari waktu ke waktu seiring dengan pertumbuhan  penduduk (khususnya di negara-negar dengan penduduk usia muda masih mendominasi).

Bisnis
Ada demand, ada supply. Ada pasar, pasti ada bisnis yang bisa digarap di sana. Apalagi melihat potensi pasar konsumen Indonesia yang luar biasa besar. Begitu besarnya demand, sehingga pasti ada celah-celah demand yang mungkin belum tergarap oleh para pemain yang ada di sana. Di sisi lain, Indonesia sendiri memang tidak bisa hanya mengandalkan lapangan pekerjaan yang dibuka oleh pemerintah saja. Ini yang membuat masyarakat Indonesia itu demikian entrepreneurial.

Berbagai bisnis UMKM dapat terlahir di negeri ini, meski hanya dengan rerata statistik sebanyak 1-2 orang tenaga kerja. Bila jumlah pengusaha yang ribuan diikuti dengan pembukaan lapangan pekerjaan yang sama atau bahkan lebih banyak, maka posisi ekonomi negara kita tidak akan terlalu terganggu, bahkan secara riil berarti ekonomi mikro yang mampu survive di atas kaki sendiri.

Punya idaman itu tidak pernah salah. Yang mungkin salah adalah, apabila kita memutuskan untuk tidak mengejar impian kita. Toh, tidak ada salahnya dikejar. Dikejar pun belum tentu dapat, apalagi kalao tidak dikejar sama sekali. Hehehe. Maka itu, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat ya 😀

[UPDATED] Kuliah S2 Sambil Kerja, Mengapa Tidak?


Tips ini untuk mereka yang sembari bekerja, akan mengambil s2. Bukan untuk mereka yang sedang “disekolahkan” oleh kantornya dan tetap menerima gaji seperti biasa (sehingga tidak bekerja rutin 8 am – 5 pm). Jadi harus bagi waktu dan bagi konsentrasi untuk bekerja+kuliah sehingga kuliahnya engga berantakan, apalagi lulus lebih dari waktu yang disediakan. Berbahaya kalau sampai terjadi, hehehe. Itu baru satu poin yg akan saya bahas di sini, masih ada poin yg lain.

Yang statusnya mahasiswa, dari dulu memang selalu mengalami godaan, siy. Mulai dari godaan turut berorganisasi (aktif di himpunan pagi-siang-sore-malam) sambil kuliah. Sampai ada becandaan, “kuliahnya di himpunan, UKM-nya di jurusan” 😀 Atau godaan memulai bisnis kecil-kecilan (nawarin MLM ke teman masih jaman engga, ya?) sambil kuliah, sampai godaan main game terus-terusan (DOTA masih jaman engga, ya?). Status sebagai mahasiswa memang selalu banyak godaan yg datang menghadang menerjang. Makanya dari dulu sampai sekarang masih ada tuh alumni S1 yang menyesal kebanyakan engga fokus ke kuliahnya sendiri (terus lama pula lulusnya) :p

Dan kasus yang sama juga akan terulang ketika kuliah S2 sambil kerja. Karena ada yang menunggu dan menanti hasil pekerjaan serta keberadaan si bos sendiri, maka kerja selalu nomor satu. Yang nomor dua adalah kuliah S2-nya. Kuliahnya bisa jadi tidak fokus ketika tidak pernah menyempatkan belajar, tidak mengerjakan tugas atau yang paling parah: badannya di kampus tetapi pikiran masih memikirkan pekerjaan di kantor. Kacau sekali kan misal peristiwa-peristiwa tersebut terjadi sepanjang 4 semester?

Nah, let’s go back to the topic 

Pintar membagi waktu/konsentrasi.
Ini sih teknik paling klasik ya, hehe. Yang masih disarankan hingga sekarang. Memang banyak yang belum melakukannya dengan baik. Yang paling disarankan adalah fokus ke pelajaran ketika sedang di kelas. Karena waktu untuk belajar sangat sedikit. Senin – Jumat, pagi sampai sore kan pasti fokus untuk pekerjaan. Nah karena kuliahnya malam atau akhir pekan sabtu-minggu (jelas banget waktu sangat terbatas kan) maka fokuskan konsentrasimu ke kuliah ketika sedang berurusan dengan materi dan tugas kuliah.

Siap alokasi dana 
Kampus yang bagus memang tidak murah, hehe. Tapi pendidikan bukan “murah”-nya yang kita lihat. Melainkan seberapa bagus “investasi” tersebut untuk masa depan kita. Khususnya terkait karir dan pendapatan ke depan. Saat ini, beberapa perusahaan mulai mensyaratkan lulusan S2 untuk posisi tertentu. Jadi sebelum yang bersangkutan –termasuk kamu– masuk ke dalam bursa calon pengisi posisi itu, pastikan kamu sudah lulus S2. Dan sekali lagi, untuk ber-“investasi”, dana yang cukup harus disiapkan. Produk bank seperti tabungan rencana bisa kamu pakai untuk mencicil biaya pendidikan S2. Gengsi deh klo minta ortu padahal sudah bekerja :p

Karena kuliah itu mahal, apalagi yg bayar kamu sendiri. Maka prinsip “lebih cepat lulus, lebih baik” karena investasi kuliah kamu akan lebih cost-effective.

Cari teman belajar yang pas 
Namanya sambil kerja, kan bahan-bahan kuliah engga bisa ditengok terus-menerus ya. Jadi pas sekali waktu ada kesempatan, belajar lah bareng teman-teman kuliah yang nyetel. Ya nyetel di waktunya, nyetel di gaulnya, kalo perlu mpe nyetel tempat nongkrongnya. Hehehe. Tujuannya cuma satu: biar belajar itu ada temennya. Minimal ada yang ngingetin deh jadi biar bangkit lagi semangatnya pas kamu lagi loyo. Syukur alhamdulillah klo ternyata kantor kalian berdekatan, jadi belajar bareng bisa gampang.

Biasakan mencicil materi kuliah 
Kuliah itu staminanya jangka panjang. Minimal per semester lha. Materi ada sepanjang semester, sementara ujian mungkin hanya 1-2 kali. Di tengah dan akhir (semester). Belum lagi berbagai tugas panjang nan menyita waktu. Jadi mencicil dikit-dikit lama-lama menjadi bukit deh. Ini perlu kamu lakukan juga supaya engga kaget karena ada materi yg belum pernah tersentuh pas mau belajar untuk ujian, lalu malah menggumam, “koq bahannya banyak banget ya?” 😀

Mudah-mudahan semua uraian ini memberikan “pencerahan” ya. Khususnya bagi kamu-kamu yang saat ini sedang bekerja dan mempertimbangkan ambil S2. Ingat, S2 itu investasi. Pendidikan baru setaraf S1 sudah terlalu umum, sekarang ini. Kompetisi kerja serta persaingan di kantor semakin ketat. Kalau mau lebih kompetitif, salah satunya bisa melalui gelar S2.

Untuk yang masih mahasiswa, paling tidak pertimbangkan dulu baik-baik apa yang mau dikerjakan setelah lulus s1? Atau kapan sebaiknya kuliah S2? Lengkapnya bisa dibaca di sini. Saya sendiri bukan termasuk mereka yang “kuliah s2 sambil kerja”. Saya adalah produk “ambil s2 setelah lulus s1, habis itu baru kerja”. Tapi animo tentang “kuliah S2 sambil kerja” tidak sedikit. Sebab itu saya uraikan di atas. Harus direncanakan memang, supaya engga asal-asalan. Minimal dipertimbangkan masak-masak, hehehe. kasihan kamunya kalau sekedar kerja karena sudah lulus S1, atau kuliah s2 karena bingung mau ngapain setelah lulus S1. Karena mengerjakan dua hal sekaligus seperti “kuliah S2 sambil kerja” memberi hidup kita beban yang lebih. Dan supaya tetap “survive” and “success” dalam dua hal tersebut, bukan perkara yg mudah.

Semoga kesuksesan jadi milik kamu, setelah membaca artikel ini 🙂

Related Post: 
Kapan Sebaiknya Kuliah S2?
Memilih Program Studi S2

Alasan memilih prodi manajemen


Saya menuliskan judul di atas berdasar susunan kata dalam search engine yang akhirnya mampir di blog saya. Susunan kata tersebut adalah “alasan memilih prodi manajemen”. Rupanya ada juga pembaca blog yang ingin mengetahui jawabannya.

Pada 01/09/2016, saya menambahkan link artikel dengan topik yang sama –yaitu alasan memilih program manajemen bagi kamu yang bingung akan kuliah apa — pada artikel ini.

Hal ini disebabkan bahwa prodi manajemen adalah ilmu yang menggunakan pendekatan secara sosial dan saintifik. Secara umum prodi manajemen dikelompokkan ke dalam kelompok IPS, tetapi pendekatan yang digunakan banyak yang bersifat saintifik. Nah, bauran keduanya inilah yang akhirnya membuat orang bertanya-tanya.

Ilmu manajemen bukan ilmu yang sulit untuk dipelajari sebenarnya. Artinya, sedikit waktu yang diperlukan dan referensinya relatif banyak (baik yang ditulis dengan pendekatan ilmiah maupun populer). Sehingga bisa kita pelajari di kala senggang dan dari buku-buku dengan predikat “terlaris” di toko-toko buku.

Hal ini disebabkan ilmu manajemen bukan ilmu yang tidak kita terapkan dalam hidup. Ilmu manajeman adalah ilmu pengelolaan. Manajemen pemasaran berarti bagaimana mengelola customer beserta dengan saluran-saluran distribusinya. Manajemen keuangan berarti bagaimana mengelola keuangan sehingga berhasil meraih tujuan-tujuan keuangan yang telah ditetapkan, dan masih banyak contoh manajemen yang lainnya.

Dua contoh di atas, adalah contoh yang “berat” tentang manajemen. Padahal ada banyak hal sederhana yang bisa kita kelola dan maksimalkan dengan logika-logika manajemen. Misal, semua orang diberi waktu yang sama sebanyak 24 jam sehari. Tetapi mengapa ada yang berhasil dan gagal? Berarti ada kelemahan dalam pengelolaan (baca: manajemen) waktu tersebut. Padahal waktu adalah sumber daya (resources) yang bisa kita dayagunakan untuk meraih tujuan-tujuan hidup.

Jadi, ada banyak latihan “langsung” yang bisa memperkuat kemampuan manajemen kita. Khususnya secara taktis tanpa harus kuliah di prodi manajemen.

Tapi manajemen adalah ilmu terapan yang (sebenarnya) membutuhkan kemampuan saintifik yang tinggi. Karena ada banyak analisis atau perhitungan yang secara mendasar diperlukan dalam perumusan bagaimana suatu manajemen harus dilakukan. Oleh karena itu alangkah baiknya bila didahului oleh basic IPA yang kuat–bukan berarti basic IPS pasti gagal. Tentang hal ini, pernah ada penelitian yang membandingkan pengaruh basis IPA atau IPS terhadap tingkat karir yang diraih.

Selanjutnya, adalah tambahan tulisan dari saya pada 01/09/2016.

Terkait pendidikan magister manajemen, mengapa ada yang bergelar MBA, MM, dan MSc? Apa yang membedakan satu sama lain?

  • Program MBA biasanya lebih case study, jadi lebih ke how do you think about this problem — or is it really problem to be solved? What is your analysis? What will you do, and how do you speak to related stakeholders in solving this problem?
  • Program MM? Ya sama aja dengan MBA. Hanya faktor gengsi, ada kampus yang memberikan gelar MM, ada juga yang MBA/MAB (Master Administrasi Bisnis).
  • Sedangkan, MSc? Ya berarti, Master di bidang sains (manajemen). Sejak kuliah, mahasiswanya sudah harus membaca banyak buku-buku tebal untuk kemudian menuangkannya ke dalam gagasan deskriptif tapi ilmiah, yang biasa disebut paper.
  • Semua penelitian tugas akhirnya sama-sama disebut sebagai thesis. Tentu bobot dan kualitas pengerjaannya lebih keren thesisnya MSc. Meski sama-sama memakai metodologi, namun basis data MSc lebih panjang range waktunya, dengan referensi buku dan jurnal yang lebih lengkap.

Topik lain. Kamu tahu kenapa ada kata Administrasi di dalam frase Master Administrasi Bisnis?

Pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan pertanyaan balik, “apakah lulus dari MBA bisa me-running sebuah usaha dan pasti berhasil? Kan sudah belajar dan paham tentang empat kelompok ilmu di manajemen:  keuangan, operasional, marketing, dan SDM?”

Kenyataannya tidak. Memulai dan menjalankan usaha butuh mental enterpreneur. Mental “yang penting jalan dulu”, atau “yang penting ada omzetnya dulu”. Atau karakter “problem ini harus diselesaikan secepatnya”, dst.

Sebagai penunjang, ada baiknya kamu tahu bahwa bekerja setelah lulus, belum tentu jadi bekal kamu untuk menjadi entrepreneur.

Namun demikian, perusahaan/unit usaha yang mulai menunjukkan grafik pertumbuhan, tidak bisa tumbuh secara boros. Maksudnya tidak dengan menghambur-hamburkan dana, merekrut sembarang (lalu memecat dengan paksa), dan seterusnya. Alias harus tumbuh seiring dengan melakukan berbagai program/kebijakan/inisiatif yang sifatnya menciptakan penghematan.

Kalau mau ambil kampus magister manajemen terbaik, kampus mana yang disarankan?

Mungkin kamu bisa baca link ini saja ya.

Tapi, balik lagi deh ke why-nya. Apa betul kita perlu kuliah MM?

Bisa iya, bisa enggak. Tulisan ini akan membantu kamu mengarahkan, apakah akan iya atau akan tidak.

Note: Tulisan ini adalah prequel dari tulisan ini.

Kapan sebaiknya kuliah S2 ?


(artikel ini saya sharing berdasar cerita kawan-kawan saya ketika mengambil program s2)

Lulus S1, bekerja, kuliah S2 reguler. Bosan dengan pekerjaan, jadi salah satu alasan para early jobber mengambil program s2. Alasan lain adalah kangen kembali ke kampus dan pergi belajar. Dan beberapa alasan lainnya. Yang intinya adalah, saat bekerja malah ingin belajar. Padahal ketika belajar malah ingin bekerja alias cari duit. Yang harus diperhatikan adalah syarat umur ketika lulus S2 dan ingin berkarir kembali. Beberapa perusahaan, terutama untuk program Management Trainee (MT) mensyaratkan maksimal usia adalah 28 tahun. Sudah sedikit sekali yang mensyaratkan 30 tahun.

Lulus S1, langsung S2. Untuk mereka yang belum bosan belajar, boleh mengambil cara ini. Keunggulannya adalah hemat waktu. Istilahnya, serba sekalian. Sekalian jadi Master, sekalian memperdalam bidang ilmu yang dulu ditekuni, sekalian meneruskan kost-kostan. Cara ini  kurang cocok untuk mereka yang langsung dianggap mandiri oleh ‘investor kuliah’ atau mungkin orang tua. Hehehe 😀 Alias kurang cocok untuk mereka yang harus bekerja dulu beberapa waktu menikmati gaji serta harus menabung sendiri untuk biaya S2.

Sambil bekerja, mengambil S2 di akhir pekan. Menurut pengamatan, cara ini melelahkan. Kuliah tapi kok ya engga fokus belajar. Kerja tapi koq engga bisa menikmati liburan di akhir pekan. Mereka yang kuliah di akhir pekan ternyata jarang menyentuh buku di malam-malam weekdays. Alasannya sederhana: CAPEK!! Giliran harus kerja kelompok, baru bisa di hari jumat atau sabtu. Jelas tidak optimal. Baik membaca maupun mengerjakan tugasnya. Dan cenderung minta dosen mempercepat pulang ketika kuliah di weekend. Hehehe 😀

Nikah dulu baru S2, apa S2 dulu baru nikah? Hehehe 😀 Sebenarnya sama-sama engga masalah, selama duitnya ada. Tah, eta tah! Justru di sini ternyata masalahnya. Bingung dengan duit yang belum banyak, mau mendahulukan yang mana 😀 Saran saya siy, kalau sudah ada calon dan sudah ada dana ya dahulukan saja menikah. Toh, menikah adalah ibadah. Ya kan? Kalau pun keburu ada tanggungan anak, tinggal mencari beasiswa saja. In shaa Allah, Maha Pemberi Rezeki akan mencukupkan kebutuhan hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa memohon rezeki yang melimpah (Aamiin!!). Mau mengundur kuliah padahal satu semester sudah berjalan? Ya tidak apa, tho S2 bisa dilakukan kapan saja kan. Bagaimana dengan kasus sebaliknya? Jelas, dahulukan S2 dong daripada mau  menikah tapi belum ada calon #ehh. Disclaimer: kalimat terakhir tidak bermaksud menyindir oknum-oknum tertentu.

Pesan paling penting: jangan kuliah, karena mengejar gelar. jangan pula kuliah untuk menaikkan karir. Meski gelar pendidikan adalah syarat naik jabatan. Tapi bagaimanapun, berkuliahlah untuk belajar. Karena belajar adalah cara kita untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu

memilih program studi di perguruan tinggi


SNMPTN baru saja diumumkan hari jumat lalu. ada yang lulus dan berhasil masuk ke perguruan tinggi. untuk yang ini, saya pribadi mengucapkan selamat. semoga berhasil menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

ada juga yang belum berhasil. tidak apa-apa. kegagalan dalam hidup bukan ditentukan dari kamu berhasil SNMPTN atau tidak, koq. dan masih ada dua kesempatan lagi untuk mencoba, tahun depan dan tahun berikutnya.

untuk diketahui, bagi mereka yang sudah berhasil masuk dan bahkan berhasil keluar (baca: lulus), tidak lantas masa depan menjadi milik mereka saja. sebagai contoh, ada yang kemudian mendapat pekerjaan di tempat yang sesuai dengan bidang studinya.  tapi, beberapa di antaranya menjalani secara terpaksa hidupnya ini. mereka tidak enjoy, tidak passion dengan pekerjaannya. dan mereka masih bekerja di sana, semata karena mereka belum bisa hidup tanpa gaji dari pekerjaan tersebut.

di sisi lain, ada yang berhasil lulus juga, tapi dengan keterpaksaan. artinya, lulus tidak sulit bagi mereka ini. kuliah bisa dijalani dengan relatif mudah: tinggal belajar dan mengerjakan ujian. di akhir masa kuliah, tinggal mengerjakan tugas akhir (baca: skripsi). tapi bukan di sana masalah mereka. ada di antaranya yang sadar dirinya tidak enjoy dengan bidang tersebut, dan memilih meninggalkan bidangnya untuk terjun di bidang lain. tetapi, dari awal. tanpa basic knowledge.

yang ingin saya katakan adalah, pilihlah program studi yang akan kamu senangi untuk mempelajarinya. tidak masalah bila sudah lulus SNMPTN tetapi menolak mengambil jurusan tersebut, bila sadar suatu saat nanti akan tidak suka. lebih baik kuliah di kampus lain, di jurusan lain yang memang sesuai dengan passion kamu. daripada harus menjalani perkuliahan yang tidak disenangi selama 4 tahun, minimal. kalau lancar lho ya, kalau tidak lancar maka bisa sampai 6 tahun. dan alangkah sia-sianya hidup bila menjalankan sesuatu yang tidak disenangi dalam waktu lama.

intinya, sebagaimana prinsip menjalani step by step hidup yang lain adalah: pilih yang sesuai dengan passion kamu dan jalani sepenuh hati 🙂

atau, ingin lanjut ke S2? silakan baca artikel “memilih program studi s2” ini.