How To Increase Productivity


now presenting!

Tema produktivitas belakangan lagi naik daun. Apalagi sejak orang-orang (terutama para milennial, ya) suka ‘mendua’ ke sana dan ke sini. Punya kerjaan lepas-an (freelance), lha. Punya usaha akhir pekan macam Wedding Organiser (WO), lha. Jadi driver+guide untuk wisata, lha. Yang terakhir ini biasanya dapat kliennya pas lagi narik Grab Car atau Go-Car. Ada bisnis kuliner, lha. Mulai dari kopi susu dingin, makanan beku untuk ibu rumah tangga atau mahasiswa perantauan, sampai cafe kecil-kecilan yang menarik, keren, tetapi sulit berhasil.

Kita seringkali bias soal produktivitas ini. Ada yang merasa produktif, padahal capaiannya tidak banyak. Ada yang merasa produktif, padahal dia melakukannya kelewat lama. Melewati deadline. Soal produktivitas ini, saya kira ada dua hal yang harus kita perhatikan:

  • Deliverables. Spesifikkan apa yang harus kita berikan. Bahasa kerennya deliverables. Segala produk/layanan yang berwujud atau tidak berwujud yang harus kita berikan dan diterima oleh (not only) klien kita.
  • Deadline. Waktu yang jelas untuk pekerjaan tersebut. Di sini pentingnya deadline.

Yuk masuk ke inti artikel ini. Ada berapa kategori cara untuk bisa lebih produktif? Saya kira ada tiga:

  • Fokus
  • Rileks (relax)
  • Lain-lain yang tidak termasuk dua tersebut.

Fokus

Fokus. Pada apa yang dikerjakan saja. Di antaranya:

  • Stop multitasking. Maksudnya, one work at one time ya. Tidak dilarang menjadi aktivis, berteman dengan banyak orang, punya banyak pekerjaan/kegiatan (multi task). Tapi prinsipnya adalah hanya satu kegiatan dalam satu waktu.
  • Katakan tidak pada meeting/rapat yang tidak perlu. Meeting yang penting itu apa? Misalnya workshop. Something important must be discussed within workshop. Meeting keputusan. Something important must be decided within meeting. Kalau tidak termasuk keduanya, maka meeting tersebut tidak penting-penting amat. Bisa jadi boleh diputuskan sendiri sama si atasan. Atau bisa jadi ada mekanisme lain yang bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan waktu untuk meeting: kolaborasi via tools digital macam google docs, google sheet, dll. Meeting untuk memaksa komitmen dari peserta meeting, menurut saya itu sangat tidak penting.
  • Jangan buka dan balas email di sembarang waktu. Kalau saya, baru buka email setelah 2 jam pertama bekerja. Kalau masuk kantor jam 9, sebutlah buka email baru di jam 11.
  • Mendengarkan musik. Ini help banget increase mood supaya lebih produktif. Going to alpha phase. Pada titik tertentu, ini bisa menjadi gangguan yang menurunkan produktifitas. Mengikuti ketukan musik, atau worse: ikut bernyanyi.
  • Optimalkan jam paling produktif. Ada yang produktif pagi hari setelah sholat subuh, ada yang baru bisa aktif di atas jam 10 malam.
  • Menulis dan berpatokan pada to-do-list. Which is, hanya yang dalam to-do-list saja yang dikerjakan. Masih banyak yang ter-distracted sama yang enggak ada di to-do-list.
  • Skala prioritas. Utamakan dari yang penting dan mendesak. Itu kategori satu. Lalu ke kategori penting tapi tidak mendesak (kategori dua). Mendesak tapi kurang penting itu nomor tiga. Hindari yang tidak mendesak tapi juga enggak penting.
  • Outsource sebanyak mungkin. Ada situs-situs freelancer seperti freelance.co.id, sribulancer.com (satu grup dengan sribu.com kalau tidak salah).

Rileks

Rileks (relax) sejenak. Supaya tidak jenuh. Dan bisa berkonsentrasi lagi kemudian.

  • Istirahat cukup. Ada yang menggunakan teknik Pomodoro. Sekarang ada aplikasi digitalnya seperti Forest App. Saya memakai ini di browser saya. Ada juga yang bilang weekend jangan kerja. Exhausted duluan sebelum 3-4 tahun di sebuah perusahaan.
  • Berolahraga. Bisa setiap hari kalau kuat. Saran saya, berolahraga lha at least 2x dalam seminggu. Kata saya, olahraga itu paling efektif menurunkan stress negatif dari pekerjaan.
  • Apresiasi diri sendiri. Ada teman yang hobi minum es kopi susu yang lagi hits itu, demi menghargai dirinya yang sudah mencapai deliverables yang ditargetkan pada hari tersebut.
  • Dlsb.

Lain-lain (belum ada nama kategorinya):

  • Challenging Target. Menetapkan tujuan yang menarik/menantang (challenging) untuk diraih
  • Task Separation/Integration. Mengelompokkan/memisahkan task ke/dari sebuah grup task
  • Productive Place. Bekerja dari rumah; instead of menghabiskan waktu dan konsentrasi di jalan. Not necessary from home, actually. Tapi tempat-tempat yang bisa membuat kita paling produktif. Pada konteks tertentu, kafe masuk dalam kategori ini. Coworking space juga bisa dimasukkan dalam kategori tersebut. Overall, most productive place for several years ahead, adalah kantor.
  • Join Community. Selain tempat silaturahim ketemu dengan orang baru, komunitas juga tempat berbagi dan menemukan ilmu baru. Engagement dengan orang seprofesi, tidak usah dibahas lagi. Memang di situ tempatnya.
  • Etc

Semua yang sudah ditulis di atas itu semua bisa dilakukan secara analog (non digital). Di era mobile application seperti sekarang ini, alat bantu digital untuk meningkatkan produktivitas juga banyak banget tersedia di App Store-nya Apple, atau Google Play-nya Android.

Yang saya pakai ada dua: Trello sama Forest App.

Basically, saya menggunakan Trello untuk mengelompokkan status-status pekerjaan. kelemahan tools to-do-list itu hanyalah untuk kita seorang. Kalau untuk mengontrol status pekerjaan yang dikerjakan oleh orang lain, to-do-list kurang tepat. Kalau untuk pekerjaan yang deliverables-nya butuh waktu beberapa lama, to-do-list juga kurang tepat. Lebih pas dikasi “Doing/Ongoing” status. Nah, balik ke Trello, di sini kita bisa setting sendiri status “To Do”, “Doing” dan “Done”. Status-status pekerjaan (task) ini masih bisa ditambah lagi.

Karena dikembalikan lagi ke lingkup pekerjaan masing-masing. Misalnya di industri IT, “Done” after deployment is not necessarily done. Tapi masih ada aktivitas lanjutan yang terus dilakukan. Monitoring bugs, misalnya.

Trello ini bisa dipakai kerja bareng, alias kolaborasi. Kita bisa invite rekan kerja ke aplikasi tersebut. Jadi dia bisa lapor progress juga dan memperbaharui status pekerjaan. Trello gratis tidak bayar. Alias oke untuk dipakai para pekerja lepas (freelancer). Di browser, saya update pekerjaan ke https://trello.com yang saya sinkronisasi ke mobile app Trello di HP saya.

Forest App meningkatkan konsentrasi dan produktivitas kerja saya via waktu hitung mundur yang disediakan. Saya biasanya pakai yang 25 menit. Standar metode Podomoro. Habis itu istirahat 5-10 menit. Nah, lanjut lagi 25 menit. Begitu terus sampai beberapa seri. Dan dalam 25 menit itu, tidak boleh membuka-buka task atau halaman browser yang lain (semisal halaman Facebook/YouTube/Spotify).

Jadi tool ini bekerja dengan prinsip membatasi waktu kita pada suatu task. Kalau waktunya masih kurang, bisa ditambah per 25 menit.

Forest App saya pakai yang versi ekstensi Google Chrome. Sebab hampir seluruh pekerjaan memang dikerjakan di browser.

Saya juga pakai blog wordpress.com untuk drafting pekerjaan. Lagi-lagi saya memang bekerja di browser. Hasil riset bisa saya taruh di title, description dan comment card-nya trello.

Mudah-mudahan sharing kali ini bermanfaat, ya.

Referensi:

Tentang Penerjemah dan Editor Lepas


Tidak seperti yang disangka oleh kebanyakan orang, dunia penerjemahan sebenarnya sangat luas. Industri penerjemahan tidak hanya ada dalam industri penerbitan buku, melainkan juga di bidang lain seperti televisi, film layar lebar, dokumen hukum dan perusahaan, sebagai juru bahasa (interpreter), dan banyak lagi. Pekerjaan-pekerjaan semacam itu tentu tidak harus dilakukan sebagai karyawan tetap perusahaan. Banyak juga yang berstatus pekerja lepas (freelancer) di masing-masing bidang penerjemahan tadi.

www.ikhwanalim.wordpress.com

Profesi penerjemah di Indonesia sebenarnya juga sudah ada organisasinya sendiri. Namanya HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Didirikan pada 1974, organisasi ini sempat “mati suri” cukup lama sebelum kemudian pada tahun 2000 kembali dihidupkan. Siapa pun yang ingin berkecimpung penuh di dunia penerjemahan di Indonesia ada baiknya bergabung menjadi anggota HPI. Keuntungan bergabung dengan wadah para penerjemah ini adalah para anggota bisa memiliki jejaring berisi orang-orang profesional di bidangnya masing-masing, mendapatkan informasi tentang peluang kerja atau tarif standar terjemahan, kesempatan mengikuti acara-acara pelatihan yang terstruktur, dan banyak lagi.

Berhubung saya hanya berkutat di industri penerbitan buku, khususnya sebagai penerjemah dan editor lepas (freelance translator and editor), saya tidak akan membicarakan bidang lain di industri penerjemahan di dalam tulisan ini karena memang bukan kapasitas saya dan karena akan membuat tulisan ini terlalu panjang.

Pertama-tama, harus diketahui bahwa penerbit buku (baik besar maupun kecil) tidak bisa lepas dari para pekerja lepas dalam aktivitas kesehariannya. Mereka yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan keredaksian hingga siap naik cetak—misalnya editor, penerjemah, pemeriksa aksara (proofreader), penata letak (layouter)—sebagian besar justru berstatus pekerja lepas (freelancer).

Tentu saja penerbit punya karyawan sendiri. Di bagian redaksi, editor penerbit biasanya disebut editor in-house. Lalu kenapa penerbit masih membutuhkan tenaga lepas? Sebab tidak mungkin editor in-house menangani semua naskah sendiri. Berapa pun jumlah editor di penerbit, mereka akan selalu membutuhkan tenaga lepas. Lebih efisien begitu, memang.

Sebuah naskah membutuhkan waktu dan konsentrasi tersendiri dalam proses penggarapannya. Sementara itu, dalam sebulan, penerbit sudah pasti menerbitkan banyak sekali naskah. Seandainya hanya para editor in-house yang menggarap naskah-naskah itu, tidak mungkin target terbit terkejar. Di sinilah para pekerja lepas yang saya sebutkan di atas tadi berperan. Dari sini kita akan membicarakan dua jenis pekerjaan penting dalam lingkup keredaksian itu.

Sebelum menjalani karier sebagai penerjemah dan editor lepas, saya pernah bekerja di sebuah penerbit umum selama tujuh tahun lebih sebagai editor in-house. Dalam kurun waktu tersebut, sesekali saya juga menerjemahkan naskah buku untuk penerbit saya sendiri maupun penerbit lain. Perlu diketahui juga bahwa seorang editor juga idealnya mempunyai keterampilan menerjemahkan dan menulis, di samping keterampilan standar seperti bahasa Indonesia dan bahasa asing, wawasan tentang dunia buku, dan pengetahuan umum lain atau bidang tertentu lain secara luas dan mendalam.

Untuk menjadi penerjemah bagi penerbit, jalan yang ditempuh sama sekali tidak bisa dibilang gampang. Jalur standarnya adalah mengirim lamaran biasa disertai contoh hasil terjemahan. Contoh hasil terjemahan ini bisa diambil dari buku yang pernah kita terjemahkan, atau kalau kita belum punya karya terjemahan, bisa mengambil sumber teks dari artikel majalah atau buku-buku yang sudah berstatus public domain. Jika mengambil jalur terakhir ini, sering kali memang panggilan dari penerbit bisa sangat lama datangnya, atau malah tidak ada panggilan sama sekali, yang artinya penerbit menganggap kualitas kita belum mumpuni untuk standar mereka atau mungkin mereka sedang tidak membutuhkan tenaga penerjemah tambahan karena sudah cukup.

Tidak perlu berputus asa jika memang hal itu yang terjadi. Ada banyak yang bisa dilakukan untuk “menjual diri” atau “cari muka” di hadapan penerbit. Harap diketahui, para editor in-house adalah orang-orang yang “kepo”. Mereka gemar sekali browsing atau main di media sosial dan mengunjungi blog-blog pribadi. Maka ada baiknya orang yang ingin menjadi penerjemah atau editor lepas juga rajin menulis (agak) panjang, entah di blog atau di medsos. Editor in-house menilai kemampuan menulis dan wawasan kita dari situ juga.

Lagi pula, jumlah penerbit ada cukup banyak. Kalau mau, kita juga bisa mulai melamar ke penerbit kecil dulu. Sebab, penerbit besar punya kecenderungan untuk memakai jasa para penerjemah (atau editor) lepas yang sudah mereka kenal baik atau mereka anggap konsisten kualitasnya. Tidak jarang para penerjemah atau editor lepas itu dulunya adalah mantan editor in-house mereka sendiri.

Editor in-house dan editor lepas tidak bisa dibilang mempunyai tugas yang sama persis, walaupun sama-sama editor. Editor in-house punya tugas yang lebih banyak dan lebih kompleks daripada sekadar mengoreksi naskah. Editor in-house membuat konsep kover dan kemasan buku serta membuat cover checklist berisi blurb (atau sering disalahpahami sebagai sinopsis), judul, subjudul, endorsement, berburu naskah atau penulis, mendampingi penulis dalam acara-acara peluncuran buku, mengunjungi pameran buku di dalam dan luar negeri, dan banyak lagi.

Sementara itu, editor lepas hanya fokus pada satu tugas: mengoreksi naskah. Kecuali kalau dia diminta oleh penerbit untuk melakukan beberapa detail lain walaupun tidak sejauh desc-job editor in-house. Yang dimaksud dengan mengoreksi naskah di sini tidak semata mengoreksi salah ketik (typo), melainkan juga memastikan apakah ejaan sudah baku atau sesuai dengan gaya naskah dan apakah kalimat sudah mengalir mulus dan lancar. Jika yang dikoreksi adalah naskah terjemahan, editor harus memastikan hasil terjemahan sudah tepat dan “pas”. Singkatnya, tugas editor lepas itu lebih fokus.

Kebanyakan penerbit buku menawarkan tarif per karakter tanpa spasi untuk pekerjaan penyuntingan (editing) dan penerjemahan. Tarif penerjemahan jelas lebih tinggi daripada penyuntingan. Pasangan bahasa sumber dan target juga menentukan. Tarif terjemahan bahasa Indonesia-Inggris bisa jauh lebih tinggi dibandingkan terjemahan Inggris-Indonesia. Jika penyuntingan atau penerjemahan bahasa Inggris-Indonesia saja berkisar pada angka belasan rupiah per karakter, penerjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing bisa mencapai angka puluhan rupiah per karakter. Ini masih bisa bergantung pada negosiasi juga. Oya, bahasa asing selain Inggris punya tarif lebih tinggi disebabkan jumlah penerjemahnya lebih sedikit.

Angka tarifnya sendiri bisa didapatkan misalnya dari HPI atau hasil berdiskusi dengan rekan-rekan seprofesi. Jangan pernah ragu bernegosiasi dengan penerbit dalam hal menentukan tarif. Syaratnya cuma satu: kita yakin bahwa kualitas terjemahan kita memang baik dan konsisten pula hasilnya. Semakin bagus hasilnya, semakin ringan tugas editor in-house dan dia akan terus memberikan order terjemahan kepada kita secara rutin. Sebab, biasanya penerbit juga punya daftar penerjemah yang menjadi langganan mereka. Itulah sebabnya sangat sulit bagi pemain baru untuk menembus deretan penerjemah langganan penerbit. Tapi, hal itu juga tidak mustahil. Lagi pula, dunia penerjemahan masih sangat luas, seperti yang jelas di paragraf-paragraf awal tadi.

– Indradya S.P.

Penerjemah & editor lepas. Tinggal di Bandung.

Mengenal Freelance Marketing dan Seluk-Beluknya


freelance marketing 1

Meta deskripsi: Istilah freelance marketing bukan hal asing di dunia digital. Tapi tidak banyak yang benar-benar tahu, apa freelance marketing sebenarnya.

Beberapa dekade silam, istilah freelance marketing mungkin tidak terlalu bergaung di Indonesia. Tetapi sejak tingkat pengetahuan soal teknologi dan internet meningkat di masyarakat, istilah tersebut mulai muncul dan menjadi salah satu pilihan karir yang populer. Meskipun begitu, masih banyak yang belum benar-benar mengerti dan mengenal profesi freelance marketing.

Freelance sendiri merupakan istilah dari Bahasa Inggris untuk menyebut seorang pekerja lepas. Pekerja lepas merupakan seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan atau instansi tetapi tidak terikat. Artinya mereka memiliki kewajiban untuk menyelesaikan tugas yang diambil, tetapi memiliki hak penuh untuk memilih mengerjakan suatu pekerjaan atau tidak.

Istilah freelance pertama kali diperkenalkan oleh Sir Walter Scott melalui buku fiksinya yang berjudul “Ivanhoe.” Istilah tersebut digunakan untuk menyebut tentara bayaran pada abad pertengahan. Kata freelance sendiri berasal dari “free” (bebas) dan “lance” (tombak). Artinya pekerja lepas merupakan metaforan dari sebuah tombak yang bisa bekerja bebas tanpa majikan tertentu dan tidak bisa didapatkan secara gratis.

Meskipun dilihat dari sejarahnya penggunaan istilah ini merupakan paduan bahasa dan sejarah yang rumit, tetapi banyak yang sepakat menggunakan istilah freelance untuk menyebut pekerja lepas. Secara teknis, pekerja lepas bisa bekerja di bidang apapun yang mereka sukai. Tapi hanya ada beberapa bidang yang sering menggunakan pekerja lepas sebagai tenaga.

Yaitu, jurnalisme, penerbitan buku, segala pekerjaan yang berhubungan dengan tulisan, editor, programer komputer, desain grafis, konsultan, hingga penerjemah.Di era digital seperti saat ini, jangkauan pekerja lepas tentu saja semakin luas. Cukup dengan akses internet, mereka mampu mendapatkan berbagai macam pekerjaan freelance yang sesuai dengan keahlian tanpa harus meninggalkan rumah.

Dari sinilah fenomena freelance marketing muncul dan berkembang. Lalu, apakah freelance marketing itu?

Freelance marketing merupakan istilah untuk menyebut kegiatan para tenaga lepas dalam mencari klien atau perusahaan yang membutuhkan kemampuan mereka. Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dilakukan oleh para freelance marketer agar dapat mempromosikan sebuah merek atau perusahaan, yaitu:

  1. Membuat suatu promosi yang semenarik mungkin
  2. Menciptakan sebuah website atau bisnis yang dapat meningkatkan potensi klien
  3. Dan meyakinkan sebuah perusahaan untuk membeli produk yang dijual

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebuah badan usaha memerlukan strategi pemasaran dalam bentuk baru dan semenarik mungkin. Mengingat hal tersebut tidak seluruhnya bisa dilakukan oleh pemilik perusahaan, dari sinilah peluang untuk para freelance marketer bermula.

Jadi jika Anda seseorang yang kreatif dan sedang mencari peluang untuk memaksimalkan potensi tersebut dan mendapatkan penghasilan, menjadi pekerja lepas merupakan pilihan yang tepat. Secara umum, ada beberapa bidang yang bisa menjadi peluang bagi para pekerja lepas untuk menunjukkan potensi mereka. Yaitu melalui media sosial, bisnis properti, dan segala usaha yang berbasis digital.

Freelance Marketing di Media Sosial

freelance marketing 2

Beberapa dekade belakangan, media sosial telah berkembang menjadi salah satu platform untuk mempromosikan suatu merek atau perusahaan. Penggunaan media sosial dianggap efektif mengingat jumlah pengguna internet yang juga memiliki medsos semakin lama semakin meningkat.

Selain itu media sosial juga tidak memiliki batasan usia, selama memiliki akses internet, setiap orang bisa melihat media sosial dan segala konten di dalamnya dengan bebas. Potensi inilah yang membuat berpromosi melalui medsos dianggap efektif dan efisien. Biaya produksinya pun bisa dipangkas serendah mungkin untuk meningkatkan keuntungan.

Tidak heran jika saat ini, banyak sekali klien dan perusahaan yang memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan barang atau produk mereka. Meskipun kelihatannya efektif, tetapi membuat sebuah promosi di media sosial ternyata tidak bisa dilakukan secara asal-asalan.

Sama seperti ikan konvensional di televisi, dibutuhkan konsep yang mampu meningkatkan awareness terhadap produk yang dijual. Di sinilah peran freelance marketing social media dibutuhkan. Selain kreativitas, pekerja lepas di bidang ini dituntut agar dapat membuat iklan yang seunik mungkin sehingga bisa menarik perhatian para pengguna media sosial.

Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dikuasai oleh para pekerja lepas di media sosial, yaitu:

  1. Mampu mengelola berbagai akun media sosial
  2. Memahami setiap platform media sosial yang dikelola secara menyeluruh
  3. Membuat konten iklan semenarik mungkin sesuai konsep media sosial yang digunakan
  4. Mengikuti perkembangan zaman dan tren (hal-hal yang sedang viral di media sosial)

Menarik bukan? Mengingat betapa besarnya pengaruh media sosial di kehidupan masyarakat zaman now, tidak heran jika selain freelance marketing social media, ada berbagai profesi baru yang muncul dan populer seperti influencer, selebgram, dan selebtwitt. Orang-orang yang menyandang titel tersebut dianggap mampu meningkatkan awareness terhadap sebuah produk melalui akun media sosial mereka masing-masing.

Tapi jika ingin konten yang berkualitas dan berpotensi untuk viral, tidak ada salahnya untuk memanfaatkan kemampuan para freelance marketing social media. Agar potensi sebuah konten bisa maksimal, kombinasikan kreativitas para pekerja lepas ini dengan popularitas para selebritis media sosial.

Freelance Marketing Properti

freelance marketing 3 property

Salah satu bisnis yang sering memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk mereka adalah properti. Jika dulu iklan jual beli atau sewa rumah hanya bisa ditemukan di koran, saat ini promosi properti juga bisa kita temukan di berbagai platform media sosial.

Seperti yang kita tahu, perkembangan bisnis di bidang ini cukup pesat dan cepat. Apalagi nilai jual properti berbeda dengan barang mewah lainnya seperti mobil atau emas. Nilai jual tanah dan bangunan cenderung meningkat setiap tahun, seberapa buruk pun kondisi ekonomi suatu negara.

Tidak heran jika investasi di bidang ini dianggap sangat menguntungkan. Melihat potensi bisnis properti tersebut, bukan hal yang aneh jika banyak sekali orang yang tertarik untuk terjun di bidang ini. Banyak developer yang berlomba-lomba untuk membuat kawasan hunian dengan fasilitas lengkap, lokasi strategis, dan harga semenarik mungkin.

Sayangnya, meski memiliki kemampuan membuat hunian yang apik, tidak semua developer mampu memasarkan produknya dengan baik. Mereka membutuhkan bantuan para marketing properti untuk memasarkan hunian agar bisnisnya semakin berkembang.

Karena saat ini penggunaan media sosial untuk mempromosikan sebuah produk dianggap efektif, peluang untuk menjadi freelance marketing di bidang ini pun cukup besar. Jika tertarik terjun di bidang ini, setidaknya ada beberapa kualitas yang harus dimiliki. Di antaranya:

  1. Memiliki pengetahuan mumpuni tentang properti

Tidak hanya menguasai media sosial, seorang freelance marketing property juga dituntut untuk memahami berbagai sistem dalam bisnis properti seperti: status dan kondisi tanah, dokumen-dokumen terkait properti, proses kredit bank, nilai investasi, hingga potensi produk yang dijual.

  1. Mampu membuat website dan mengelola akun media sosial

Selain pengetahuan di bidang properti, seorang freelance marketing juga dituntut untuk dapat membuat sebuah website yang bisa memaksimalkan promosi produk properti. Pembuatannya pun tidak bisa dilakukan secara asal-asalan, karena website merupakan nilai jual yang dapat menarik kepercayaan konsumen.

Selain website, para freelance marketer juga dituntut dapat mengelola akun dan menggunakan berbagai platform media sosial. Sehingga pemasaran properti tidak hanya dilakukan melalui website tetapi juga media sosial agar cakupan konsumennya lebih luas dan beragam.

  1. Menguasai teknik negoisasi

Seperti halnya penjual kebanyakan, seorang freelance marketing property juga diharapkan mampu menguasai teknik negoisasi yang baik. Teknik tersebut termasuk penggunaan bahasa yang tepat, kemampuan untuk memikat calon konsumen, hingga pemberian penawaran yang tidak merugikan kedua belah pihak. Meskipun kelihatannya sulit, kemampuan tersebut biasanya akan kita miliki seiring bertambahnya pengalaman dalam bidang properti.

  1. Telaten dan tekun

Meskipun secara teknis tugas seorang freelance marketer property sama dengan agen penjualan lain. Tetapi profesi ini membutuhkan tingkat ketelatenan dan ketekunan yang lumayan tinggi. Karena selain menggunakan cara klasik, pemasaran yang dilakukan juga memanfaatkan teknologi masa kini. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan.

Membuat konten seunik mungkin sehingga dapat menarik konsumen di media sosial dan website bukanlah hal mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih agar penjualan yang dilakukan bisa mendapatkan hasil maksimal. Jadi, tertarik untuk terjun di bidang ini?

Honor Freelance Marketing

freelance marketing 4 honor

Sebagaimana yang telah Anda baca pada artikel lain di situs Freelancer ini, perhitungan honor atau fee freelance marketing ditentukan berdasarkan 3 hal, yaitu:

  1. Lama pekerjaan
  2. Target pekerjaan dan,
  3. Kombinasi keduanya

Berbeda dengan karyawan konvensional, pekerja lepas tidak terikat tanggung jawab terhadap suatu perusahaan dan tidak berhak menuntut fasilitas yang biasanya diberikan pada karyawan tetap, seperti asuransi, tunjangan, insentif, atau bahkan pesangon. Meskipun begitu, bukan berarti menjadi seorang freelance marketer tidak menguntungkan.

Ada banyak aspek lain yang membuat bekerja di bidang ini terasa lebih seru dan menjanjikan dibanding menjadi karyawan biasa. Mulai dari fleksibilitas waktu kerja, minimnya tuntutan dari atasan, hingga kreativitas yang tidak terbatas. Menarik bukan? Bahkan jika kita memiliki kualitas di atas rata-rata, bukan tidak mungkin, banyak klien yang bersedia menggunakan jasa freelance marketer meskipun fee-nya sedikit di atas rata-rata.

Inilah mengapa sebelum memutuskan untuk terjun di bidang ini, pastikan kita memiliki beberapa kualitas yang dapat menaikkan harga jual jasa di hadapan konsumen. Karena meskipun tidak mengikat atau terikat perusahaan manapun, menjadi freelancer bukanlah hal mudah.

Lingkup yang terbatas justru membuat profesi ini memiliki nilai kompetisi dan persaingan yang cukup tinggi. Jika tidak didukung oleh kemampuan dan kualitas yang mumpuni, para freelance marketing tidak akan bisa bertahan dan mendapatkan penghasilan yang menjanjikan dari profesi ini.

Selain kualitas, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan harga jual seorang pekerja lepas di hadapan klien. Di antaranya:

  1. Memiliki spesialisasi di bidang tertentu (Niche)

Sah-sah saja menjadi seorang pekerja lepas yang ahli dalam berbagai bidang. Tetapi untuk menjaga kualitas dan mendapatkan keuntungan lebih, kita membutuhkan keahlian khusus dalam satu atau dua bidang. Misalnya, kita tertarik pada segala hal yang berbau properti. Jika ingin ketertarikan tersebut mendatangkan keuntungan, fokuslah pada bidang properti.

Pelajari segala hal tentang sistem jual beli tanah dan bangunan, bagaimana membuat akta dan dokumen terkait, mengetahui proses kredit KPR di bank, hingga memiliki pengetahuan luas tentang status dan potensi suatu properti. Selain itu, kita juga harus memiliki kemampuan penjualan dan negoisasi yang baik.

Sehingga klien tidak segan untuk menaikkan fee atau komisi, karena hasil yang diberikan cukup maksimal. Hal ini juga berlaku jika Anda tertarik untuk terjun di bidang freelance marketing lainnya. Pilihlah bidang yang membuat Anda nyaman dan tertarik agar hasil yang didapatkan pun tidak kalah menarik.

  1. Mampu bersaing

Meskipun lingkupnya tidak seluas pekerjaan konvensional, bukan berarti menjadi freelance marketing tidak memiliki saingan. Untuk meningkatkan fee dan mendapatkan penghasilan lebih, seorang pekerja lepas juga harus memiliki kemampuan bersaing yang baik.

Tawarkan kualitas yang mampu membuat klien tertarik dan bersedia membayar dengan harga mahal. Seperti kemampuan mengelola media sosial, mengoperasikan aplikasi atau software tertentu, dan soft skill khusus yang tidak banyak dimiliki orang (misal: menulis, menggambar, atau mendesain).

  1. Fleksibel dalam menentukan harga

Dalam menentukan tarif, seorang freelance marketing harus memiliki kemampuan untuk mengukur keahlian mereka. Jangan sampai harga yang kita tawarkan atau ditentukan oleh klien di bawah standar dan tidak sesuai dengan kualitas yang diberikan. Jangan sampai pula, harga yang ditetapkan tergolong tinggi sehingga membuat konsumen ragu bahkan enggan untuk menggunakan jasa kita.

Fleksibilitas merupakan kunci untuk bertahan di industri freelance marketing. Sebagai panduan penentuan tarif, ada beberapa poin yang harus dipertimbangkan. Di antaranya:

  • Waktu pengerjaan (per jam, per hari, per minggu, atau per bulan)
  • Kuantitas proyek (per-slide, per kata, per karakter, atau per menit)
  • Tingkat kesulitan proyek, dan
  • Kualitas klien (perusahaan besar atau perorangan)

Untuk mendukung kualitas hasil pekerjaan dan stabilitas penghasilan, sebagai freelancer hendaknya kita lebih bijaksana dalam memilih proyek dan bidang yang akan dikerjakan. Jangan sampai hanya gara-gara tergiur dengan fee freelance marketing yang menggiurkan, kualitas pekerjaan kita menurun sehingga kehilangan klien potensial.

Freelance Digital Marketing

freelance marketing 5 digital

Pada dasarnya apapun bidang yang kita pilih saat terjun di dunia freelance marketing, selama hal tersebut berhubungan dengan teknologi dan internet, maka kita bisa disebut pelaku freelance digital marketing. Jika tertarik untuk berkutat di bidang ini, setidaknya ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Di antaranya:

  1. Membangun jaringan

Tidak seperti karyawan konvensional, seorang pekerja lepas harus membangun jaringannya sendiri agar mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang diinginkan. Mulailah dari menghubungi teman-teman atau kerabat lama untuk membangun jaringan, dan terbuka dengan berbagai kesempatan untuk terhubung dengan jaringan baru. Karena semakin luas jaringan yang dimiliki, kesempatan untuk menawarkan jasa sebagai freelance marketing pun semakin berkembang.

  1. Kumpulkan portofolio

Saat pertama kali terjun di bidang freelance marketing, kita harus sedikit “rakus.” Lakukan setiap pekerjaan yang ditawarkan tanpa pandang bulu untuk menambah pengalaman dan mengumpulkan portofolio. Karena di masa yang akan datang, pengalaman dan portofolio tersebut bisa menjadi poin penting yang akan menaikkan nilai jual di hadapan klien.

  1. Aktif di media sosial

Karena berhubungan dengan dunia digital, menjadi aktif atau bahkan menguasai berbagai media sosial merupakan sebuah keharusan. Selain dapat digunakan sebagai platform promosi, kemampuan mengelola media sosial juga bisa menjadi poin yang membuat klien tertarik untuk menggunakan jasa kita.

  1. Rajin menghadiri acara dan seminar terkait

Dari acara tersebut, biasanya kita bisa belajar banyak hal tentang dunia digital marketing, tips, bahkan trik untuk menggaet klien. Selain itu, kita juga dapat bertemu banyak orang baru yang disadari atau tidak, dapat membantu memperluas jaringan. Menarik bukan?

Jadi, tertarik untuk terjun di dunia freelance marketing? Semoga informasi di atas bermanfaat, dan jangan lupa untuk membaca artikel lain di situs Freelance ini.

Pekerjaan Freelance Marketing, Cocok Untuk yang Baru Lulus Sekolah, Atau Baru Saja Di-PHK


Is she/he a freelance marketing? 

Tanyakan saja dia terikat kontrak/pekerjaan dengan pemberi produk/jasa yang harus dia jual. Kalau dia terikat, berarti dia bukan freelance. Biasa disebut juga sebagai pegawai organik.

Keuntungan paling utama di perusahaan dalam mempekerjakan para freelancer marketing adalah punya karyawan sales saat dibutuhkan dan tidak punya saat tidak dibutuhkan.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Ada masa di mana produk sedang melimpah dan (tentu saja) harus dibuat laku sesegera mungkin. Misalnya, perumahan tapak atau rumah susun yang baru saja selesai dibangun. Produknya sudah tersedia, semestinya bisa laku dengan cepat. Untuk mengantisipasi demand atau kedatangan calon buyer yang membludak, maka diberdayakanlah para freelance marketing tadi.

Dalam contoh ini, tiada gaji tetap pun tak apa. Karena calon pembeli sudah banyak yang datang ‘kan? Tinggal di-closing-kan saja, maka pendapatan untuk freelance marketing akan berupa komisi penjualan.

Pilih Niche

Tidak semua produk bisa dijajakan oleh freelance marketing. Bukan karena freelance marketing-nya tidak jago, melainkan tiap produk dan jasa memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga kala meng-hire freelance marketing, harus diketahui pula pengalamannya dalam menjajakan barang tersebut.

Apakah barang fast moving?
Bayar di tempat atau transfer?
Cash atau credit? Dst.

Konsekuensinya adalah freelance marketing harus memilih dia akan fokus di industri/produk apa. Freelance marketing di industri properti, harus kompeten menjajakan rumah tapak, apartemen, kontrakan, dsb. Karena sifatnya seringkali kredit, dia harus membantu pula perusahaan dalam melakukan pengecekan terhadap kemampuan mencicil si pembeli. Jangan sampai sudah akad, ternyata yang bersangkutan malah gagal bayar/melunasi properti yang dia beli.

Apalagi nilai pembeliannya besar. Calon pembeli harus terus di-follow up. Sebab banyak hal yang harus dia diskusikan. Dengan pasangan suami/istrinya, dengan orang tua dan mertua, jarak dengan lokasi pekerjaan atau sekolah anak-anak, dst. Untuk buyer yang belum nyata yes/no pembeliannya, hukumnya wajib ditindaklanjuti. Minimal ditanyakan, kapan ada waktu untuk melihat purwarupa/contoh dari produk properti yang ditawarkan.

Freelance / Agency?

Freelance itu bagus untuk mengawali karir. Terutama pasca lulus atau resign dari tempat kerja lama. Tapi apa mau selamanya freelance? Mestinya tidak.

Kita semua pasti mau tumbuh dong. Tumbuh omzetnya, pekerjanya juga bertumbuh alias bertambah, dan tumbuh pada hal-hal lainnya juga. Tidak mungkin rasanya semua stuck dengan status freelance. Selain capek dan bosan mengerjakan end-to-end seluruh pekerjaan (dari cari klien, sampai dengan mengeksekusi pekerjaan tersebut sendirian), kita tentunya ingin fokus pada aspek tertentu pada pekerjaan kita sehingga kita bisa fokus pada dimensi-dimensi lain dalam kehidupan kita (baca: rumah tangga, parenting, kegiatan sosial, dan sebagainya).

Mungkin awalnya jadi outsource untuk mengerjakan online marketing. Mulai dari membuat desain diskon promosi, membuat copywriting iklan, sampai dengan menanggapi engagement (comment, message, etc). Tetapi lama-lama bisa menerima dan mengerjakan lebih banyak proyek dari banyak klien. Dari awalnya bekerja sendirian, kini sudah bisa bercerita ke calon-calon klien yang lain bahwa sudah mempunyai tim dan memiliki agensi sendiri.

(digital/online agency ini, sekedar contoh saja ya).

Value = Benefit/Cost

Kalau sudah mulai grow, tentu harus bisa mengkomunikasikan secara jelas value yang didapat oleh buyer kita. Value = Benefit/Cost. Artinya adalah benefit (manfaat) apa yang dia dapatkan atas kebutuhan/keinginan dia. Dibandingkan dengan cost (biaya) yang harus dia keluarkan untuk mendapat benefit tersebut. Tidak hanya berupa uang ya, melainkan juga waktu, tenaga, dan sebagainya yang harus dia korbankan.

Inilah yang namanya standard produk/layanan. Sebagai contoh. Bayar sekian, dapatnya ini, ini, dan ini. Mungkin bayar ke kita lebih tinggi dibanding yang dia bayar ke toko/lapak/kompetitor sebelah, tetapi dengan manfaat yang lebih besar tentunya. Contohnya seperti itu. Selanjutnya silakan dikembalikan kepada anda, ingin memposisikan produk/layanan anda seperti apa.

Ada yang namanya SLA (Service Level Agreement). Service adalah layanan-layanan yang melengkapi produk yang dihantarkan kepada klien. Jadi klien tidak hanya mendapat benefit produk saja, melainkan juga layanan yang meliputi dan melingkupi produk tersebut. Namanya saja agreement, jadi semacam standardisasi yang harus diberikan karena sudah disepakati dengan si pembeli.

Bagaimana jika sudah berjanji macam-macam, terus minta harga jual yang tinggi, ternyata gagal menghantarkan benefit-nya? Ini namanya over promise under deliver.

Bahas yang lain lagi, yuk.

Freelance Social Media Manager

Pengelolaan sosial media tidak hanya taktik semata. Tetapi juga stratejik. Artinya, kalau mau jadi freelance sosial media manager yang sukses, harus bisa menguasai keduanya.

Taktik, artinya dengan skill yang kamu miliki, kamu sukses mengeksekusi pekerjaan terkait social media. Kita buat list-nya dulu:

Pekerjaan:

  • Mengelola keberadaan brand produk atau institusi di social media
  • Mengukur dan menganalisis perubahan persepsi produk/institusi ini menggunakan alat-alat pengukuran yang tersedia
  • Berinteraksi dengan pelanggan sesuai dengan standard institusi/brand
  • Membuat materi promosi dan iklan yang mewujudkan target jangka pendek dari institusi/brand
  • Mengukur perubahan persepsi publik mengenai brand produk/institusi
  • Mendistribusikan materi promosi dan iklan ke berbagai saluran social media

Skill:

  • Menulis: manajer social media harus tahu dan bisa membuat materi iklan yang efektif. Lebih baik bila menguasai Search Engine Optimization (SEO)
  • Riset: update dengan tren di internet dan social media
  • Problem solving: mempu menjadi representasi brand/institusi yang mampu menangani permasalahan, mengkomunikasikan secara baik kepada stakeholder internal dan external, terutama kepada audiens social media
  • Organizational: berkomunikasi efektif dengan pelanggan dan pihak yang bertanggung jawab terhadap brand (biasanya product manager/brand manager) atau institusi (divisi hubungan masyarakat)

Karena terkait dengan saluran yang tidak mengenal waktu, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tentu saja freelance social media manager harus selalu bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Sehingga bisa sekedar menghimpun informasi terkait masalah yang terjadi, maupun menanggapi masalah tersebut dengan cepat.

Meski social media bukan tempat di mana transaksi biasa terjadi, namun social media harus mampu mengarahkan audiens atau pelanggan agar bertransaksi. Di sinilah kepiawaian manajer social media dituntut, bahwa tugasnya tidak melulu menghabiskan dana untuk membangun brand. Melainkan juga menjadikan aktivitas social media tersebut turut berimpak pada pendapatan institusi/brand.

Dan sebagai bagian dari fungsi pemasaran, hendaknya manajer social media juga mampu mewujudkan fungsi-fungsi Segmenting and Targeting secara tepat. Jadi bukan menghambur-hamburkan anggaran secara percuma, melainkan perlahan-lahan mampu mengefektifkan penggunaan budget. Melalui pemahaman yang semakin mendalam terhadap segmen-segmen yang ada di pasar berikut tren dan dinamikanya (segmenting) serta penetapan target yang semakin tajam seperti laser (targeting).

(22/07/2018) Semakin ke sini, saya semakin meyakini bahwa pengelolaan social media sebaiknya dilakukan oleh tim di internal alias karyawan tetap atau pegawai organik. Mengapa demikian? Karena dinamika di dalam internal organisasi (konteks: employer branding) atau dinamika di brand management merupakan bahan baku paling berharga dalam menstrategikan konten-konten yang salah satu saluran komunikasinya adalah social media.

Seluk Beluk Freelance Marketing

Institusi bisnis mempekerjakan freelance marketing tentu ada latar belakang dan tujuannya. Baik itu yang berfungsi untuk menjual (yaitu, sales) maupun membangun brand (marketing).

Tentu saja, pengisi posisi freelance marketing tersebut harus menjawab tujuan dan tantangan pemberi kerjanya. Dia harus berkompeten/jago dalam menjalankan fungsi penjualan atau pemasaran.

Sedikit saja gambaran mengenai contoh-contoh freelance marketing:

  • Property freelance. Kategori produk yang tidak diproduksi dan dipasarkan terus-menerus, salah satunya adalah properti. Terutama properti perumahan. Pengembang tidak mungkin mempekerjakan secara tetap tenaga penjualan, kecuali mereka memiliki land bank (tanah tanpa bangunan yang menjadi tabungan pengembang untuk proyek properti berikutnya) yang banyak. Posisi ini bekerja di kantor pemasaran kompleks perumahan yang masih baru, atau ikut pameran perumahan yang biasanya berlokasi di mall-mall. Strategi marketing perusahaan properti utamanya dua itu, on site melalui kantor pemasaran, atau ikut pameran yang crowd-nya sudah jelas ada. Sebagian kecil beriklan di media seperti koran.
  • Social media freelancer. Contoh jenis usaha yang memerlukan freelancer dalam mengelola akun-akun media sosial: restoran, atau makanan (kebab, pie, dll) yang bisa di-delivery. Ini adalah salah satu bisnis freelance yang bisa dikerjakan dari rumah serta relatif mudah untuk para pemula. Tahun 2017, siapa coba yang tidak mengelola akun social media? Paling tidak, dia mengelola akun pribadinya ‘kan 🙂
  • Sales freelance kredit elektronik

Kalau Sales Promotion Girl (SPG), saya kira tidak termasuk freelance ya. Sebab pekerjaannya dihitung dalam paket per sekian hari dengan gaji sekian. Untuk SPG+Supervisor kategori produk rokok, di samping ada nilai gaji yang tetap, ada juga bonus kinerja bila mencapai target penjualan tertentu. Menjual produk yang baru diluncurkan, dan tentu saja belum dikenal, itu tidak mudah lho.

SPG yang membantu eksekusi program promosi di lapangan. Biasanya para SPG + supervisor, paling sering membantu pengenalan sebuah consumer brand yang baru diluncurkan.

Berapa gaji (fee) untuk seorang marketing freelance? Atau Bagaimana Perhitungannya?

  • Property freelancer, tidak ada gaji tetap. Yang ada adalah komisi. Kalau berhasil menjual produk berharga tinggi seperti rumah, tentu komisinya tidak sedikit ‘kan. Apalagi menjual rumah sangat memerlukan keterampilan membujuk calon pembeli. Karena pada dasarnya database calon pembeli relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kategori-kategori produk lain.
  • Untuk SPG, tentu sudah ada standard tetap dari agensi penyedia SPG. Harganya sudah terbentuk mengingat ada banyak para buyer (yaitu perusahaan yang memerlukan SPG untuk memperkenalkan brand baru mereka) dan ada banyak agensi yang menyediakan jasa tersebut. Agensi-agensi sudah memperhitungkan fee yang tepat untuk mereka yang butuh/ingin menjadi SPG: butuh uang di tengah ketatnya kompetisi tenaga kerja, serta para mahasiswi yang ingin mengisi waktu luang di sela-sela kuliah.
  • Freelance akun media sosial. Terserah anggaran dari yang mau memberikan pekerjaan. Banyak sekali kemudahan dalam menjalankan profesi ini, sehingga dibayar tidak tinggi pun tidak apa-apa. Bisa dikerjakan dari rumah, merilis konten juga tidak sulit dilakukan. Yang penting akunnya aktif, ‘kan.

Sebagai freelance social media account, Sekedar aktif menerbitkan konten memang mudah. Namun menjalankannya sebagai sebuah fungsi bisnis yang signifikan itulah yang tidak mudah.

Fungsi bisnis yang dimaksud:

  1. Menghimpun 3F (friends, fans, followers)  baru yang potensial menjadi calon pembeli. Kenaikan jumlah 3F adalah target paling utama.
  2. Membangun engagement dengan 3F –> melakukan riset, menganalisis hasil, membuat konten yang disukai (like), dibagikan (share), atau ditanggapi (comment). Jumlah 3F yang tinggi tidak akan berarti apa-apa bila engagement level-nya ternyata rendah.
  3. Menjadi saluran penjualan. Tidak semua produk bisa bertransaksi via social media. Tetapi menjadi salah satu saluran penjualan, adalah salah satu objektif paling menarik dalam mengelola akun-akun tersebut.
  4. Terlibat dalam proses-proses bisnis secara keseluruhan. Pengembangan produk, pemberian diskon promosi, dan lain sebagainya.

Dalam industri consumer goods, ada rule of thumb (yaitu 5% dari omzet) yang bisa kita jadikan benchmark terkait anggaran komunikasi. Termasuk anggaran untuk social media yang di dalamnya meliputi fee marketing media sosial. Bisa digunakan dalam dua cara:

  • Misal, target Rp1 miliar, maka owner harus bersedia “membuang uang” sebesar Rp50 juta. Atau,
  • Target penjualan yang terealisasi tahun lalu adalah 2 miliar, maka untuk tahun ini boleh dianggarkan sebesar 100 juta.

Patut dicatat bahwa terkait pengelolaan akun social media, anggaran tidak hanya untuk fee freelance saja, melainkan juga untuk riset pembuatan konten (mungkin harus terjun observasi langsung ke lapangan), membayar freelance visual designer/video maker, budget diskon promosi, dan seterusnya.

Misal target penjualan sebuah restoran adalah 100 juta, maka total anggarannya adalah 5 juta. Nilai tersebut misalnya adalah 3 juta untuk fee, dengan 2 juta sisanya untuk keperluan pengembangn konten. Tentu saja harus dievaluasi. Misal target omzet belum tercapai, maka anggaran dikecilkan. Atau sebaliknya, ketika realisasi melebih target, maka anggaran ditambah.

Strategi Perekrutan Marketing Freelance

Ada kalanya perusahaan bukannya bertujuan memasarkan atau menjual, melainkan sekedar menekan biaya gaji dari anggota tim marketing dan sales. Bisa saja dilakukan. Dengan contoh mempekerjakan mahasiswa magang. Untuk desain komunikasi visual, atau pengembangan konten website. Atau menerima freelance dari mereka yang baru saja lulus dari perguruan tinggi sembari dalam proses penerimaan kerja tetap di perusahaan lain.

Dengan strategi demikian, maka anggaran bisa ditekan. Tanpa perlu mengkhawatirkan “cabut”-nya salah seorang anggota tim. Sebab perusahaan akan dapat dengan mudah menemukan tenaga magang atau tenaga freelance yang lain.

Ini adalah pandangan pemberi pekerjaan freelance. Bagaimana pendapat para freelancer?

Tidak ada yang mau menjadi tenaga freelancer selamanya. Cepat atau lambat, pekerjaan freelance akan berakhir. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  • Pekerjaan freelance sebagai tambahan atau sampingan semata. Terutama oleh ibu rumah tangga yang punya suami dengan pekerjaan tetap.
  • Freelance hanya sementara sampai dengan mendapat pekerjaan yang lebih permanen. Semisal menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau pekerjaan lain di kantor swasta yang terjamin hingga masa pensiun tiba.
  • Begitu banyaknya order freelance, sehingga sang freelance sendiri bisa menaikkan status sosial dan ekonominya. Dari sekedar freelance, menjadi business owner. Sehingga dia mulai membangun tim, serta membagi-bagi tanggung jawab menurut proses bisnisnya.

===

Related Post:

Haruskah pekerjaan freelance diteruskan?


Sekarang ini, di waktu reguler saya bekerja di kantor. You know, lha. Pagi sampai sore. Senin sampai Jumat. So, I can do the father-ing activities pretty much.

HARUSKAH PEKERJAAN FREELANCE DITERUSKAN_

Sebelum di kantor sini, saya sempat bekerja freelance. Cukup lama, kalau saya bandingkan dengan teman-teman yang lain di kantor sini. Ada yang beberapa bulan. Paling lama setahun. Karena saya bekerja freelance sampai 25 bulan.

Sebenarnya, sampai sekarang juga saya masih mengerjakan beberapa pekerjaan freelance. Kalau teman-teman yang tadi saya ceritakan, mostly mereka web developer. Sementara saya seorang penulis konten. Ada juga buku yang saya tulis.

FYI, beberapa orang menjadikan profesi “freelance” sebagai alibi. Beneran jadi alibi? Maybe yes, maybe no. Mungkin mereka sedang mencari kerja kantoran, tapi belum dapat. Jadinya yes, alibi. Soalnya belum dapat kerjaan freelance yang baru, jadi iseng-iseng buka toko online lha, buka layanan desain grafis, social media administrator, content writer, dst.

Kecuali memang, freelance adalah makanan mereka sehari-hari. Berarti freelance-ing bukan alasan. The very big NO. Studi kasusnya memang ada nih. Teman saya sendiri. Setelah sekitar 10 tahun freelance sebagai web developer, akhirnya direkrut bekerja sebagai karyawan tetap. Tapi perusahaanya di eropa timur sana. Dia kerja remote dari Bandung. Mulai kerja jam 11 pagi mengikuti waktu bekerja employer-nya di sana.

Freelance is BAU

Kenyataan yang cukup sering dilupakan orang adalah, freelance-ing is really business as usual (BAU). When you think and talk about BAU, it is not necessary as sales and operation only. But also marketing (branding and promotion), finance management, network development, product/service research and development, etc.

For example: 

  • Branding: establish personal blog/social media, search new audience, and put content frequently 
  • Promotion: do some discount, cashback, etc to attract a new buyer or retain customer 
  • Product/service research: searching/creating “the next big things”
  • Network development: routinely attend the communities meeting, actively participate in creating communities event, etc 

So, the BAU’s problem of freelance-ing (if you really want to be serious in it) is it really takes so much of your personal resource.

Kita ambil contoh freelance writer deh, ya:

  • Branding: bikin dan mengisi profesional blog. Tulisan yang sama bisa juga dirilis di facebook fan page. Bikin Instagram, tiap link konten baru diposting di sana. Menulis buku sendiri supaya dipajang di toko buku, dll
  • Promotion: bikin penawaran harga diskon untuk calon pemberi kerja yang baru, kalau perlu kasih contoh gratis, dll
  • Product research: cari topik baru yang lagi tren: misalnya, parenting, islam, komedi satir para jomblo, kuliner, wisata, dll
  • Network development: cari referensi brand yang suka bikin product review, ikutan komunitas blogger, dst

So, If you just wanna operate with limit resource, then it may not getting any bigger.

Mau besar? Harus bangun tim, menetapkan business process, berbagi fungsi, harus sedia uang kontan dulu di depan (dari pinjaman atau investor), bikin dan mengejar target, dst.

Tentang Harga

Perspektif lain adalah soal harga.

Harga mulai bisa menyenangkan, kalau kinerja kamu sudah bagus. Syarat performance dan service yang setidaknya good, bisa dilihat dari portfolio dan jam terbang. Itulah persoalan dengan situs-situs semacam freelancer, upwork, dll. Pasar freelance seperti itu terlalu banyak dimasuki oleh para pemain baru.

You know, pemain baru selalu masuk dengan harga rendah supaya bisa dapat pekerjaan. Sementara, kualitas pekerjaannya sendiri masih di tahap belajar. Jadinya, pemberi kerja juga belum mau membayar tinggi. Mengapa demikian? Pemberi kerja juga berpikir, daripada saya bayar lebih mahal, lebih baik saya kerjakan sendiri saja. Kalau cost-nya masih terjangkau, tidak apa saya outsource. Klop sudah, penyedia jasanya ya begitu, jadinya yang meminta jasa juga begitu.

Itulah yang menjadi dasar lahirnya pertanyaan sekaligus judul di atas. Dalam perspektif freelancer, untuk apa saya ngoyo mengerjakan proyek kalau angkanya cuma segitu (karena mengikuti harga pasar yang banyak diterjuni oleh pemain baru berharga murah)? Pun saya memberikan lebih baik, belum tentu pemberi kerja mau menaikkan tawarannya.

Ini adalah pikiran dari pekarya (meminjam istilah Pandji) yang percaya diri dengan kualitas karyanya.

Beberapa teman di komunitas blogger, yang mostly perempuan itu, cukup sering menyebutkan diri mereka sebagai freelance. Saya menduga-duga, freelance-ing satu ini adalah aktivitas lain mereka selain peran utama sebagai Ibu Rumah Tangga. Saya tidak sedang mendiskreditkan IRT ya. I mean, mungkin belum mengambil waktu se-massive pekerjaan kantor yang 40 jam seminggu. Actually, pekerjaan rumah tangga itu lebih menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Cukup stressful, pula.

Sebagai istri dan Ibu Rumah Tangga, saya rasa mereka masih ada Suami yang menjadi tulang punggung ekonomi dan keluarga. Jadi aktivitas mencari dana adalah aktivitas sekunder yang bervariasinya pendapatan (antara banyak dan banyak sekali, hehe) belum mendatangkan masalah. Sebab, ada suami yang memiliki pekerjaan (dan gaji) tetap.

Beda banget kalau suami dan/atau istri, sama-sama hidup dari menyediakan jasa yang sifatnya freelance. Pastinya bukan hal yang mudah hidup dengan ketidakpastian pekerjaan (dan penghasilan). Bagaimana dengan saya sendiri?

Saya lebih memilih punya pekerjaan tetap dan menolak proyek kalau harganya tidak memuaskan bagi saya. Saya punya metodologi dalam bekerja, serta standard tertentu yang harus saya capai. Atas keduanya, saya tidak ingin memberi sembarang price tag.

Dari teman-teman pembaca, mungkin ada pendapat? Ditunggu komentarnya di bawah ya 🙂

Skema Kompensasi Marketing Freelance


Tugas marketing freelance. Tentu saja tugasnya adalah menjual. Yang baru sanggup saya bahas ada dua, freelance marketing property dan freelancer yang umum kita ketahui bersama itu (copywriter, desainer, web programmer, penulis, fotografer, dst).

Freelance marketing property pemula. Berat bagi perusahaan untuk memberi gaji pokok pada penjaja (salesman). Sebab jualan properti itu karakteristiknya: (1) produk yang dijual harganya tinggi/mahal. (2) Sangat tergantung kondisi perekonomian secara umum, yaitu bunga bank, daya beli, dan lain sebagainya. Simpulannya adalah jualan properti itu tidak mudah. Meski tidak mungkin ya. Buktinya ada teman SMP saya yang bisa makmur dari menjual rumah di Yogyakarta sebagai freelance marketing.

Skema kompensasi marketing freelance property biasanya hanya berupa komisi penjualan. Berhubung produk yang dijual harganya mahal, maka komisinya tidak sedikit. Teman saya di Yogya tersebut, bisa dapat hingga Rp5juta per unit rumah terjual. Tentu tidak hanya sampai pembeli membayar DP saja, melainkan hingga semua proses administrasi antara pembeli dengan developer berhasil.

Beda komisi dengan insentif. Komisi adalah keuntungan yang diterima langsung jika telah menjual produk perusahaan. Sedangkan insentif adalah tambahan penghasilan yang diperoleh atas penjualan orang lain yang sudah dibinanya. Insentif ini terutama diterapkan di direct selling.

Cek gaji freelancer. (NB: Perhatikan tahun berapa artikel tersebut dirilis.)

Target adalah tolok ukur perusahaan untuk mendapatkan laba dan menghitung minimal break event. Nah, freelancer harus punya target juga, donk. Minimal harus bisa menabung. Tidak sekedar membuat ‘dapur mengepul’.

Cara mencapai target penjualan:

  • Menjual jasa freelance dengan harga tinggi kepada yang sanggup membayar.
  • Menjual sebanyak-banyaknya jasa freelance yang murah. Di sini, ukurannya adalah kecepatan ‘menggulung’ pekerjaan. Coba cek situs Fiverr. Kita bisa menjual jasa freelance di sana seharga $5 saja.

Mengapa Mengelola Pelanggan Lebih Penting Daripada Sebelumnya

Freelancer harus bisa mengelola pelanggan. Pelanggan yang tidak menguntungkan, seperti yang membeli tetapi membayar dengan cara mencicil, pelanggan yang wanprestasi, serta pelanggan yang suka berpindah adalah pelanggan yang perlu ditinggalkan meskipun mereka termasuk pelanggan lama.

Mempertahankan pelanggan lama yang sudah terbukti daya beli dan daya bayarnya, adalah kewajiban para freelancer agar ia terus mendapatkan penghasilan yang lebih.

Freelancer harus ‘sok akrab’. Familiaritas merupakan keunggulan. Kuncinya membangun hubungan dengan pelanggan seakan pelanggan adalah keluarga sendiri. Sebab masyarakat Indonesia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Namun sebagai ‘keluarga’, yang paling diharapkan oleh freelancer adalah ‘anggota keluarga’ yang tidak banyak menawar harga yang kita tawarkan.

Mengelola Keuangan Freelancer

Freelancer harus mengenal konsep berinvestasi. Baik investasi leher ke atas, maupun jenis investasi yang lainnya. Investasi leher ke atas, berarti kita turut mengembangkan akal pikiran kita, khususnya dalam bidang yang kita geluti. Jenis-jenis investasi lainnya bisa diartikan sebagai suatu tindakan menambah nilai kekayaan yang kita miliki. Tujuannya adalah menggelembungkan harta. Bisa juga untuk mendayagunakan penghasilan yang diperoleh. Alih-alih difungsikan sebagai barang konsumsi.

Freelancer harus mencatat pengeluaran. Aktivitas ini banyak dikhawatirkan menghambat keleluasaan freelance (dan keluarganya) dalam berbelanja. Lebih-lebih bila konsumsi tersebut menyangkut gengsi. Padahal, keberadaan daftar/rencana pengeluaran sangat berguna bagi seorang freelancer dalam mengendalikan pengeluarannya.

Seni Menjual

(1) Kenali target pasar. Ini contoh, bagaimana teman saya tersebut, membangun ‘persona’ atas pasar yang dia targetkan. Rumah tinggal secara umum, ditargetkan kepada suami istri. Terbukti pada akad kredit, keduanya bertanda-tangan dengan pihak bank. Di kota pelajar/mahasiswa seperti Yogyakarta, ada kalanya yang membayar pembelian rumah adalah orang tua dari mahasiswa. Dalam hal ini, kita bisa mendekati para orang tua (usia sekitar 40-an) atau kontak pertama dengan si mahasiswa.

(2) Personal branding. Freelancer perlu membangun personal branding terutama di bidang apa dia berkompeten. Repot kalau palugada (apa lu mau gua ada) terus. Kita akan dicurigai sebagai broker semata. Hanya cari pembeli, lalu menghubungkan ke teman-teman yang bisa mengerjakan. Tetapi tidak memiliki kompetensi sama sekali.

Boleh lha menjadi broker. Tapi pastikan memiliki kompetensi tertentu yang dikenal oleh pasar atau minimal teman-teman kita secara umum. Satu saja cukup. Supaya tidak cluttered di benak orang lain. Pilih satu, apakah fotografer, atau web designer, atau penulis, atau lain-lain.

Personal branding ini kemudian dibangun melalui media sosial, seperti blog pribadi (cocok untuk penulis), atau facebook (all type of social media), atau instagram (image-typed social media), atau behance.net, atau deviantart. Posting dan ceritakan tentang karya yang baru dirilis, atau progress terhadap karya yang sedang dikerjakan.

STP (Segmenting, Targeting, Positioning) adalah satu-satunya langkah stratejik dalam membangun branding yang tepat. Satu kali dalam periode tertentu, misalnya sekali setahun, silakan di-review lagi STP yang sudah dibuat. Apakah masih relevan ataukah sudah waktunya direvisi.

Beberapa review STP yang bisa dilakukan:

  • Apakah teman-teman saya / calon customer saya mengenali saya sebagai seorang freelancer di bidang tersebut?
  • Spesifik di category/niche apakah kompetensi saya, atau karya-karya yang saya buat?
  • Seberapa berdarah-darahkah category/niche yang saya geluti?
  • Apakah saya sudah waktunya berpindah ke kelompok target customer yang baru/berbeda?

Demikian. Semoga tulisan ini bermanfaat 🙂

Seluk-Beluk Freelance Marketing


Institusi bisnis mempekerjakan freelance marketing tentu ada latar belakang dan tujuannya. Baik itu yang berfungsi untuk menjual (yaitu, sales) maupun membangun brand (marketing).

Tentu saja, pengisi posisi freelance marketing tersebut harus menjawab tujuan dan tantangan pemberi kerjanya. Dia harus berkompeten/jago dalam menjalankan fungsi penjualan atau pemasaran.

Sedikit saja gambaran mengenai contoh-contoh freelance marketing:

  • Property freelance. Kategori produk yang tidak diproduksi dan dipasarkan terus-menerus, salah satunya adalah properti. Terutama properti perumahan. Pengembang tidak mungkin mempekerjakan secara tetap tenaga penjualan, kecuali mereka memiliki land bank (tanah tanpa bangunan yang menjadi tabungan pengembang untuk proyek properti berikutnya) yang banyak. Posisi ini bekerja di kantor pemasaran kompleks perumahan yang masih baru, atau ikut pameran perumahan yang biasanya berlokasi di mall-mall. Strategi marketing perusahaan properti utamanya dua itu, on site melalui kantor pemasaran, atau ikut pameran yang crowd-nya sudah jelas ada. Sebagian kecil beriklan di media seperti koran.
  • Social media freelancer. Contoh jenis usaha yang memerlukan freelancer dalam mengelola akun-akun media sosial: restoran, atau makanan (kebab, pie, dll) yang bisa di-delivery. Ini adalah salah satu bisnis freelance yang bisa dikerjakan dari rumah serta relatif mudah untuk para pemula. Tahun 2017, siapa coba yang tidak mengelola akun social media? Paling tidak, dia mengelola akun pribadinya ‘kan 🙂
  • Sales freelance kredit elektronik

Kalau Sales Promotion Girl (SPG), saya kira tidak termasuk freelance ya. Sebab pekerjaannya dihitung dalam paket per sekian hari dengan gaji sekian. Untuk SPG+Supervisor kategori produk rokok, di samping ada nilai gaji yang tetap, ada juga bonus kinerja bila mencapai target penjualan tertentu. Menjual produk yang baru diluncurkan, dan tentu saja belum dikenal, itu tidak mudah lho.

SPG yang membantu eksekusi program promosi di lapangan. Biasanya para SPG + supervisor, paling sering membantu pengenalan sebuah consumer brand yang baru diluncurkan.

Berapa gaji (fee) untuk seorang marketing freelance? Atau Bagaimana Perhitungannya?

  • Property freelancer, tidak ada gaji tetap. Yang ada adalah komisi. Kalau berhasil menjual produk berharga tinggi seperti rumah, tentu komisinya tidak sedikit ‘kan. Apalagi menjual rumah sangat memerlukan keterampilan membujuk calon pembeli. Karena pada dasarnya database calon pembeli relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kategori-kategori produk lain.
  • Untuk SPG, tentu sudah ada standard tetap dari agensi penyedia SPG. Harganya sudah terbentuk mengingat ada banyak para buyer (yaitu perusahaan yang memerlukan SPG untuk memperkenalkan brand baru mereka) dan ada banyak agensi yang menyediakan jasa tersebut. Agensi-agensi sudah memperhitungkan fee yang tepat untuk mereka yang butuh/ingin menjadi SPG: butuh uang di tengah ketatnya kompetisi tenaga kerja, serta para mahasiswi yang ingin mengisi waktu luang di sela-sela kuliah.
  • Freelance akun media sosial. Terserah anggaran dari yang mau memberikan pekerjaan. Banyak sekali kemudahan dalam menjalankan profesi ini, sehingga dibayar tidak tinggi pun tidak apa-apa. Bisa dikerjakan dari rumah, merilis konten juga tidak sulit dilakukan. Yang penting akunnya aktif, ‘kan.

Sebagai freelance social media account, Sekedar aktif menerbitkan konten memang mudah. Namun menjalankannya sebagai sebuah fungsi bisnis yang signifikan itulah yang tidak mudah.

Fungsi bisnis yang dimaksud:

  1. Menghimpun 3F (friends, fans, followers)  baru yang potensial menjadi calon pembeli. Kenaikan jumlah 3F adalah target paling utama.
  2. Membangun engagement dengan 3F –> melakukan riset, menganalisis hasil, membuat konten yang disukai (like), dibagikan (share), atau ditanggapi (comment). Jumlah 3F yang tinggi tidak akan berarti apa-apa bila engagement level-nya ternyata rendah.
  3. Menjadi saluran penjualan. Tidak semua produk bisa bertransaksi via social media. Tetapi menjadi salah satu saluran penjualan, adalah salah satu objektif paling menarik dalam mengelola akun-akun tersebut.
  4. Terlibat dalam proses-proses bisnis secara keseluruhan. Pengembangan produk, pemberian diskon promosi, dan lain sebagainya.

Dalam industri consumer goods, ada rule of thumb (yaitu 5% dari omzet) yang bisa kita jadikan benchmark terkait anggaran komunikasi. Termasuk anggaran untuk social media yang di dalamnya meliputi fee marketing media sosial. Bisa digunakan dalam dua cara:

  • Misal, target Rp1 miliar, maka owner harus bersedia “membuang uang” sebesar Rp50 juta. Atau,
  • Target penjualan yang terealisasi tahun lalu adalah 2 miliar, maka untuk tahun ini boleh dianggarkan sebesar 100 juta.

Patut dicatat bahwa terkait pengelolaan akun social media, anggaran tidak hanya untuk fee freelance saja, melainkan juga untuk riset pembuatan konten (mungkin harus terjun observasi langsung ke lapangan), membayar freelance visual designer/video maker, budget diskon promosi, dan seterusnya.

Misal target penjualan sebuah restoran adalah 100 juta, maka total anggarannya adalah 5 juta. Nilai tersebut misalnya adalah 3 juta untuk fee, dengan 2 juta sisanya untuk keperluan pengembangn konten. Tentu saja harus dievaluasi. Misal target omzet belum tercapai, maka anggaran dikecilkan. Atau sebaliknya, ketika realisasi melebih target, maka anggaran ditambah.

Strategi Perekrutan Marketing Freelance

Ada kalanya perusahaan bukannya bertujuan memasarkan atau menjual, melainkan sekedar menekan biaya gaji dari anggota tim marketing dan sales. Bisa saja dilakukan. Dengan contoh mempekerjakan mahasiswa magang. Untuk desain komunikasi visual, atau pengembangan konten website. Atau menerima freelance dari mereka yang baru saja lulus dari perguruan tinggi sembari dalam proses penerimaan kerja tetap di perusahaan lain.

Dengan strategi demikian, maka anggaran bisa ditekan. Tanpa perlu mengkhawatirkan “cabut”-nya salah seorang anggota tim. Sebab perusahaan akan dapat dengan mudah menemukan tenaga magang atau tenaga freelance yang lain.

Ini adalah pandangan pemberi pekerjaan freelance. Bagaimana pendapat para freelancer?

Tidak ada yang mau menjadi tenaga freelancer selamanya. Cepat atau lambat, pekerjaan freelance akan berakhir. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  • Pekerjaan freelance sebagai tambahan atau sampingan semata. Terutama oleh ibu rumah tangga yang punya suami dengan pekerjaan tetap.
  • Freelance hanya sementara sampai dengan mendapat pekerjaan yang lebih permanen. Semisal menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau pekerjaan lain di kantor swasta yang terjamin hingga masa pensiun tiba.
  • Begitu banyaknya order freelance, sehingga sang freelance sendiri bisa menaikkan status sosial dan ekonominya. Dari sekedar freelance, menjadi business owner. Sehingga dia mulai membangun tim, serta membagi-bagi tanggung jawab menurut proses bisnisnya.

===

Related Post:

 

Freelance Marketing


Is she/he a freelance marketing? 

Tanyakan saja dia terikat kontrak/pekerjaan dengan pemberi produk/jasa yang harus dia jual. Kalau dia terikat, berarti dia bukan freelance. Biasa disebut juga sebagai pegawai organik.

Keuntungan paling utama di perusahaan dalam mempekerjakan para freelancer marketing adalah punya karyawan sales saat dibutuhkan dan tidak punya saat tidak dibutuhkan.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Ada masa di mana produk sedang melimpah dan (tentu saja) harus dibuat laku sesegera mungkin. Misalnya, perumahan tapak atau rumah susun yang baru saja selesai dibangun. Produknya sudah tersedia, semestinya bisa laku dengan cepat. Untuk mengantisipasi demand atau kedatangan calon buyer yang membludak, maka diberdayakanlah para freelance marketing tadi.

Dalam contoh ini, tiada gaji tetap pun tak apa. Karena calon pembeli sudah banyak yang datang ‘kan? Tinggal di-closing-kan saja, maka pendapatan untuk freelance marketing akan berupa komisi penjualan.

Pilih Niche

Tidak semua produk bisa dijajakan oleh freelance marketing. Bukan karena freelance marketing-nya tidak jago, melainkan tiap produk dan jasa memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga kala meng-hire freelance marketing, harus diketahui pula pengalamannya dalam menjajakan barang tersebut.

Apakah barang fast moving?
Bayar di tempat atau transfer?
Cash atau credit? Dst.

Konsekuensinya adalah freelance marketing harus memilih dia akan fokus di industri/produk apa. Freelance marketing di industri properti, harus kompeten menjajakan rumah tapak, apartemen, kontrakan, dsb. Karena sifatnya seringkali kredit, dia harus membantu pula perusahaan dalam melakukan pengecekan terhadap kemampuan mencicil si pembeli. Jangan sampai sudah akad, ternyata yang bersangkutan malah gagal bayar/melunasi properti yang dia beli.

Apalagi nilai pembeliannya besar. Calon pembeli harus terus di-follow up. Sebab banyak hal yang harus dia diskusikan. Dengan pasangan suami/istrinya, dengan orang tua dan mertua, jarak dengan lokasi pekerjaan atau sekolah anak-anak, dst. Untuk buyer yang belum nyata yes/no pembeliannya, hukumnya wajib ditindaklanjuti. Minimal ditanyakan, kapan ada waktu untuk melihat purwarupa/contoh dari produk properti yang ditawarkan.

Freelance / Agency?

Freelance itu bagus untuk mengawali karir. Terutama pasca lulus atau resign dari tempat kerja lama. Tapi apa mau selamanya freelance? Mestinya tidak.

Kita semua pasti mau tumbuh dong. Tumbuh omzetnya, pekerjanya juga bertumbuh alias bertambah, dan tumbuh pada hal-hal lainnya juga. Tidak mungkin rasanya semua stuck dengan status freelance. Selain capek dan bosan mengerjakan end-to-end seluruh pekerjaan (dari cari klien, sampai dengan mengeksekusi pekerjaan tersebut sendirian), kita tentunya ingin fokus pada aspek tertentu pada pekerjaan kita sehingga kita bisa fokus pada dimensi-dimensi lain dalam kehidupan kita (baca: rumah tangga, parenting, kegiatan sosial, dan sebagainya).

Mungkin awalnya jadi outsource untuk mengerjakan online marketing. Mulai dari membuat desain diskon promosi, membuat copywriting iklan, sampai dengan menanggapi engagement (comment, message, etc). Tetapi lama-lama bisa menerima dan mengerjakan lebih banyak proyek dari banyak klien. Dari awalnya bekerja sendirian, kini sudah bisa bercerita ke calon-calon klien yang lain bahwa sudah mempunyai tim dan memiliki agensi sendiri.

(digital/online agency ini, sekedar contoh saja ya).

Value = Benefit/Cost

Kalau sudah mulai grow, tentu harus bisa mengkomunikasikan secara jelas value yang didapat oleh buyer kita. Value = Benefit/Cost. Artinya adalah benefit (manfaat) apa yang dia dapatkan atas kebutuhan/keinginan dia. Dibandingkan dengan cost (biaya) yang harus dia keluarkan untuk mendapat benefit tersebut. Tidak hanya berupa uang ya, melainkan juga waktu, tenaga, dan sebagainya yang harus dia korbankan.

Inilah yang namanya standard produk/layanan. Sebagai contoh. Bayar sekian, dapatnya ini, ini, dan ini. Mungkin bayar ke kita lebih tinggi dibanding yang dia bayar ke toko/lapak/kompetitor sebelah, tetapi dengan manfaat yang lebih besar tentunya. Contohnya seperti itu. Selanjutnya silakan dikembalikan kepada anda, ingin memposisikan produk/layanan anda seperti apa.

Ada yang namanya SLA (Service Level Agreement). Service adalah layanan-layanan yang melengkapi produk yang dihantarkan kepada klien. Jadi klien tidak hanya mendapat benefit produk saja, melainkan juga layanan yang meliputi dan melingkupi produk tersebut. Namanya saja agreement, jadi semacam standardisasi yang harus diberikan karena sudah disepakati dengan si pembeli.

Bagaimana jika sudah berjanji macam-macam, terus minta harga jual yang tinggi, ternyata gagal menghantarkan benefit-nya? Ini namanya over promise under deliver.

Bahas yang lain lagi, yuk.

Freelance Social Media Manager

Pengelolaan sosial media tidak hanya taktik semata. Tetapi juga stratejik. Artinya, kalau mau jadi freelance sosial media manager yang sukses, harus bisa menguasai keduanya.

Taktik, artinya dengan skill yang kamu miliki, kamu sukses mengeksekusi pekerjaan terkait social media. Kita buat list-nya dulu:

Pekerjaan:

  • Mengelola keberadaan brand produk atau institusi di social media
  • Mengukur dan menganalisis perubahan persepsi produk/institusi ini menggunakan alat-alat pengukuran yang tersedia
  • Berinteraksi dengan pelanggan sesuai dengan standard institusi/brand
  • Membuat materi promosi dan iklan yang mewujudkan target jangka pendek dari institusi/brand
  • Mengukur perubahan persepsi publik mengenai brand produk/institusi
  • Mendistribusikan materi promosi dan iklan ke berbagai saluran social media

Skill:

  • Menulis: manajer social media harus tahu dan bisa membuat materi iklan yang efektif. Lebih baik bila menguasai Search Engine Optimization (SEO)
  • Riset: update dengan tren di internet dan social media
  • Problem solving: mempu menjadi representasi brand/institusi yang mampu menangani permasalahan, mengkomunikasikan secara baik kepada stakeholder internal dan external, terutama kepada audiens social media
  • Organizational: berkomunikasi efektif dengan pelanggan dan pihak yang bertanggung jawab terhadap brand (biasanya product manager/brand manager) atau institusi (divisi hubungan masyarakat)

Karena terkait dengan saluran yang tidak mengenal waktu, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tentu saja freelance social media manager harus selalu bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Sehingga bisa sekedar menghimpun informasi terkait masalah yang terjadi, maupun menanggapi masalah tersebut dengan cepat.

Meski social media bukan tempat di mana transaksi biasa terjadi, namun social media harus mampu mengarahkan audiens atau pelanggan agar bertransaksi. Di sinilah kepiawaian manajer social media dituntut, bahwa tugasnya tidak melulu menghabiskan dana untuk membangun brand. Melainkan juga menjadikan aktivitas social media tersebut turut berimpak pada pendapatan institusi/brand.

Dan sebagai bagian dari fungsi pemasaran, hendaknya manajer social media juga mampu mewujudkan fungsi-fungsi Segmenting and Targeting secara tepat. Jadi bukan menghambur-hamburkan anggaran secara percuma, melainkan perlahan-lahan mampu mengefektifkan penggunaan budget. Melalui pemahaman yang semakin mendalam terhadap segmen-segmen yang ada di pasar berikut tren dan dinamikanya (segmenting) serta penetapan target yang semakin tajam seperti laser (targeting).

(22/07/2018) Semakin ke sini, saya semakin meyakini bahwa pengelolaan social media sebaiknya dilakukan oleh tim di internal alias karyawan tetap atau pegawai organik. Mengapa demikian? Karena dinamika di dalam internal organisasi (konteks: employer branding) atau dinamika di brand management merupakan bahan baku paling berharga dalam menstrategikan konten-konten yang salah satu saluran komunikasinya adalah social media.

Related Post:

5 Saran yang Tidak Bisa Diabaikan Freelancer Pemula


Di postingan sebelumnya saya sempat menyampaikan sedikit cerita tentang saya. Hehe. Sedikit narsis boleh dong ya 😀

Sekarang saya ceritakan terkait babak baru yang saya jalani. Terkait ini, artikel pendahuluannya adalah menghitung fee untuk freelance.

Bagi kamu para mahasiswa yang sudah membuka usaha jasa freelance bersama teman, ada baiknya untuk tidak melanjutkan usaha tersebut pasca lulus. Maksudnya adalah, tidak ada salahnya untuk ikut bekerja permanen lebih dulu di salah satu usaha yang sudah mapan.

Karena pengalaman kerja permanen itulah yang membentuk dan memperkaya diri kita. Sambil kita bisa membayangkan dan menyimpulkan, seberapa mampu kita bekerja/berbisnis secara mandiri.

Mari belajar dari mereka yang baru bekerja 3-5 tahun lalu sudah merasa bisa bekerja mandiri (freelance) & mengelola klien sendiri. Kenyataannya adalah hanya bisa bertahan sebentar, lalu terpaksa melamar kerja, kemudian bekerja kembali.

Akibatnya jadi lebih sulit karena usia sudah bertambah, harus menyesuaikan diri kembali, dan seterusnya.

Freelance memang tidak mudah. Sebab itu sebelum memulai freelance, pastikan kamu tahu tekanan mental dan finansial yang akan dihadapi. Freelance sudah pasti tidak sama dengan bekerja sebagai karyawan di perusahaan yang sudah mapan dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.

Untuk bertahan dari tekanan finansial, kamu harus punya cadangan dana. Ingat lho, belum tentu langsung mendapat dan punya proyek ketika memulai freelance. Di samping itu, belum tentu di setiap bulan-bulan awal akan penuh dengan proyek.

Skenario yang mungkin terjadi adalah: ada bulan-bulan yang ramai proyek, dengan bulan-bulan lain yang sepi proyek. Dalam jangka pendek, cadangan dana akan menolong kamu untuk bertahan. Dalam jangka panjang, perencanaan dan eksekusi pekerjaan/proyek, serta manajemen pelanggan adalah kunci untuk bertahan hidup.

Risk Management 

Belajar sesuatu yang baru adalah salah satu cara mengelola risiko yang mungkin terjadi berkait pekerjaan freelance. Di luar sana sudah banyak freelancer–thanks to digital technology and internet–yang belajar menguasai keterampilan kamu saat ini.

Cepat atau lambat, kamu pasti telah, sedang, dan akan berkompetisi dengan mereka. Pelajaran keterampilan yang baru akan membantu kamu memperoleh proyek yang berbeda.

Misalnya, web programming, software desain, dan sebagainya. Semuanya bisa kamu pelajari di mana saja, melalui laptop dengan spesifikasi yang relatif sama.

Standard hasil pekerjaan para freelancer juga beragam. Ada yang luar biasa –sudah berpengalaman, berkompeten, dan tahu persis deliverables-nya yang diberikan–, ada juga yang baru belajar—merasa bisa dan percaya diri setelah baru mampu mengoperasikan software pendukung pekerjaan.

Jadi sebagai freelance jangan merasa sudah jago. Merasa sudah bisa mengerjakan operasional pekerjaan sendiri, serta merasa sudah mampu sendirian menangani klien. Freelance harus terus belajar.

Tidak hanya belajar kemampuan yang baru dan berbeda. Tetapi juga belajar berani berkolaborasi dengan orang lain, dan mau mempelajari sesuatu yang baru.

Terkait belajar materi baru, bisa dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Yaitu belajar yang disuka saja. Artinya karena suka –dan belum tentu ada kliennya—maka materi tersebut dipelajari. Freelancer tipe ini suka menumpuk materi pembelajaran di computer kesayangannya. Hati-hati, jangan-jangan kamu termasuk freelancer tipe ini. Hehe 😀

Perilaku tersebut agak berisiko. Karena tidak siap dengan kebutuhan klien yang serba mendadak –dan cenderung baru—sehinggal gagal meraih kesempatan portfolio maupun laba yang baru.

Kategori kedua adalah freelancer yang belajar materi baru karena tuntutan pasar yang sedang booming –alias klien potensial yang mungkin datang—atau existing client yang menantang kamu dengan pekerjaan jenis baru yang belum pernah kamu kerjakan sebelumnya.

Tantangannya sudah jelas: belajar sesuatu yang belum kita sukai, alias tidak passion, dan mungkin berakibat pada menurunnya kualitas pekerjaan –karena tidak sesuai kata hati. Bagaimanapun juga, tantangan-tantangan ini harus diatasi sesegera mungkin.

Ingat yang dialami oleh Michaelangelo: dapat uang dari melukis, tetapi punya passion memahat patung. Beruntunglah mereka yang memiliki passion dan dapat memperoleh pendapatan darinya.

Belajar Operasional Bisnis

Karena ada dua aspek besar dalam pekerjaan freelance. Pertama, aspek operasional yang biasanya menuntut kreativitas tinggi supaya cipta karya-nya luar biasa. Kedua, aspek bisnis yang harus berjalan rapih dan sistematis.

Aspek pertama tidak perlu dijelaskan. Mungkin kamu lebih jago daripada saya. Hehe. Aspek kedua ini yang menuntut ketelitian terhadap detail. Mulai dari pembuatan proposal, presentasi rencana pekerjaan, closing penjualan, dan seterusnya.

Pokoknya segala yang terkait dengan cara-cara membuat pelanggan membayar kamu.

Juga ada administrasi semisal Surat Perintah Kerja (SPK) yang menjadi dokumen bahwa klien setuju mempekerjakan kamu. Bentuk lain dari SPK adalah dokumen Purchase Order (PO).

Ada pula dokumen penagihan (invoice) yang kamu kirimkan kepada klien setelah pekerjaan selesai. Klien biasanya tidak mengeluarkan sembarang uang begitu saja. Pengeluaran uang harus mengikuti invoice dari penerima pekerjaan.

Atau kwitansi setelah klien sudah membayar kamu. Kwitansi adalah dokumen bukti pembayaran klien kepada kamu.

Waktu dan Ruang Kerja

Pesan saya yang pertama, jangan bekerja di rumah. Minimal bekerja di dekat rumah. Kamu perlu keluar rumah, melihat jalan raya dan orang-orang setiap hari, serta kembali ke rumah untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga.

Penyatuan ruang kerja dan ruang berumah tangga/berkeluarga akan membuat kamu tidak fokus. Pekerjaan jadi tidak fokus, keluarga jadi berkurang perhatian. Remember the father-ing. Rumah dan keluarga adalah tempat kita “charge” psikis dan mental supaya bisa produktif bekerja.

Tentu waktu bekerja freelance pasti fleksibel. Kadang-kadang agak sepi pekerjaan, kadang-kadang harus mengejar deadline hingga malam hari atau bahkan pagi hari.

Yang jelas, harus alokasikan waktu untuk keluarga. Jangan sampai pekerjaan freelance malah mengabaikan keluarga. Padahal ‘kan kita ini bekerja demi keluarga.

Ada waktu untuk keluarga, ada juga waktu untuk bekerja. Jenis waktu kedua inilah yang namanya billable hours. Alias, waktu yang jelas-jelas kita pakai untuk bekerja –termasuk melaksanakan proses riset—dan bisa kita tagih man hour fee-nya kepada klien.

Sebab itu ketika menyusun proposal, anda harus mencantumkan (1) proses bekerja apa saja yang anda lakukan, (2) berapa waktu yang diperlukan, serta (3) berapa rupiah yang anda tawarkan atas setiap proses dan waktu tersebut.

Bagi freelance desain grafis atau arsitek –bahkan mungkin juga freelance yang lain–, proses ini yang seringkali tidak disadari oleh klien yang buta proses desain. Mereka pikir yang mereka bayar adalah hasil kerjanya.

Padahal tidak demikian adanya. Yang dibayar oleh klien adalah proses bekerjanya. Sebab itu pengalaman kerja atau portfolio klien atau portfolio produk yang menentukan seberapa besar fee seorang freelance—bukan produk akhirnya.

Yang ditentukan berupa man hour fee, atau man days fee.

Berlebihan dalam Idealisme 

Punya idealism terhadap pekerjaan dan standard hasil kerja itu penting. Tetapi harus tetap halus ketika dikomunikasikan dengan klien. Jangan terlihat merasa pintar di hadapan klien.

Meskipun sudah punya portfolio segudang, tetap harus respek dan hormat kepada klien—sebab mereka yang membayar kita.

Mudah tersinggung juga tidak baik. Perasaan harus digunakan, tetapi tidak di setiap waktu. Jangan kemana-mana malah baper (bawa perasaan). Baru ditolak klien sudah tersinggung. Harus tetap bersemangat. Cemunguuddhh kaka.. 😀

Perasaan seperti mudah tersinggung ini yang kurang baik bagi pekerja freelance. Akibatnya mungkin dan bisa fatal: klien tidak merekomendasikan kepada calon-calon klien yang lain.

Hati-Hati Soal Pembayaran

Skenarionya ada beberapa macam. Bayar DP dulu, sisanya belakangan. Sisa ini bisa 1 atau 2 kali pembayaran – yang kedua di tengah, yang terakhir setelah pekerjaan selesai. Jarang sekali klien yang membayar tuntas di depan.

Dari sisi waktu pembayaran, pekerjaa freelance harus berhati-hati. Sebab pembayaran bisa menunggak. Apalagi kalau banyak revisi yang harus dilakukan. Klien cenderung ingin pekerjaan selesai dahulu, baru dilakukan pembayaran.

Kalau sudah begini, para freelancer harus siaga. bukan siap antar jaga ya. Siap dengan dana cadangan untuk menopang jalannya usaha dan hidup keluarga. Tadi sudah dijelaskan tentang risk management apa saja yang harus dilakukan ya.

Atau siap dengan klien-klien lain yang memang biasa membayar dengan lancar. Ini termasuk risk management juga.

Bisnis jasa (service business) yang digeluti pekerja freelance memang nature-nya demikian. Kerja dulu, produksi dulu, baru dibayar. Hampir semua bisnis service memang seperti itu.

Namun demikian, kamu sebagai freelance dapat saja memiliki suatu produk yang sudah jadi dan diproduksi massal—cenderung tidak customized. Sehingga pembayaran mungkin dilakukan secara cepat oleh pembeli pra atau pasca penyerahan produk.

Berapa fee untuk freelancer?


Pekerjaan freelance itu dilakukan oleh individu, bukan institusi. Namanya juga pekerja lepas ya. Selain individu, bisa juga mengajak sekelompok orang untuk menjadi freelancer pada suatu pekerjaan.

Intinya adalah sebuah pekerjaan dilakukan oleh pihak eksternal yang bukan merupakan institusi. Ikatan kerjasamanya pun bukan ikatan antara dua organisasi berbadan hukum. Sehingga perlakuan pajak di antara keduanya pun berbeda.

freelance bisa dari rumah

freelance bisa dari rumah

For some reason, orang-orang ini tidak diperlukan untuk memiliki visi, misi, dan nilai-nilai organisasi yang sama dengan people in organization. Alasan lain terkait pekerjaan lepas ini misalnya, pekerjaan ini tidak selalu ada. Sehingga tidak diperlukan orang khusus untuk mengisi posisi tertentu dengan job description yang spesifik pula.

Atau misalnya, sudah menjadi strategi perusahaan dalam menekan biaya gaji. Jadi untuk pekerjaan tertentu, mereka punya kebiasaan untuk meng-outsource pada pada freelancer. Padahal pekerjaan tersebut selalu ada di setiap waktu. Dengan demikian biaya gaji dan biaya lain-lain jadi tidak banyak.

Namun yang sering menjadi pertanyaan adalah, berapa fee yang layak saya (selaku pemberi pekerjaan) bayarkan? Atau sebaliknya, berapa fee yang pantas saya (selaku freelancer) ajukan? Urusan finansial ini kadang-kadang sering menjadi rumit.

Mungkin sebagian di antara pembaca blog ini pernah merasakan kegalauan serupa.

Freelancer pasang di harga tinggi, takut merusak relationship yang ada. Kalau belum kenal mungkin tidak masalah. Tapi kalau sudah langganan, pelanggan pasti bilang, “lha dulu ‘kan sekian aja, kok sekarang dinaikkan lagi?”.

Kalau sudah begini, freelancer tidak enak untuk tidak membantu.

Freelancer pasang di harga rendah? Takutnya lingkup pekerjaan berbeda dari bayangan. Sehingga potensi kerugian terbayang di depan mata. Kecuali sudah pernah melakukan yang sama persis. Kalau baru belajar kerja freelance, pasang harga rendah bisa ditujukan untuk membangun portfolio.

Pasang harga (lebih) rendah daripada sebagian besar freelancer lain berarti entry strategy dalam membangun hubungan bisnis dengan (calon) klien yang bersangkutan. Kalau sekali ini sudah berhasil, mudah-mudahan hubungan bisnisnya bisa berlanjut di waktu lain.

Kita coba telusuri dan analisis satu demi satu pilihan-pilihan yang tersedia. Yaitu bisa (1) berdasar waktu yang diperlukan, atau (2) berdasar target pekerjaan yang dibutuhkan oleh pemberi pekerjaan, dan atau kombinasi keduanya.

  • Dihitung berdasar waktu yang diperlukan

Basisnya adalah pengalaman. Jam terbang pastinya menentukan kualitas. Makin berpengalaman ya makin berkualitas dong. Makin berpengalaman maka freelancer dapat memasang harga yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Tapi ya itu hak dia kalau dia tidak mau.

Pengalaman pekerjaan freelancer juga dipengaruhi oleh jenis klien dalam portfolio yang dia punya. Pernah memegang klien-klien yang rumit, berarti dia bisa menyelesaikan persoalan yang kompleks.

Kalau portfolio-nya adalah klien-klien yang tidak menghendaki spesifikasi yang susah, nilai rupiah per waktunya jadi berbeda.

Faktor penentu lain adalah berapa lama karya tersebut bisa diselesaikan oleh sang freelancer. Makin berpengalaman maka makin singkat waktu yang diperlukan kala menyelesaikan serangkaian proses pekerjaan.

Jadi memang lama pekerjaan ini sangat ditentukan oleh pengalaman pekerjaan si freelancer.

  • Dihitung bersadar target pekerjaan yang harus diselesaikan.

Kalau yang ini sedikit tidak memandang deadline. Kira-kira, si klien akan bilang seperti ini, “pekerjaannya seperti ini, spesifikasi seperti ini yang harus anda penuhi, fee yang saya tawarkan adalah sekian”.

Pastinya tetap ada kapan pekerjaan harus sudah selesai. Meski demikian, hal tersebut agak diabaikan. Semata karena klien memprioritaskan kualitas pekerjaan yang dia inginkan.

Di sisi lain, ini bisa blunder bagi freelancer. Sebab ketika kualitas pekerjaan sesuai spesifikasi tidak kunjung tercapai, maka dia akan menghabiskan banyak waktu dengan klien tersebut untuk memperbaiki pekerjaan.

Atau kemungkinan lain, pembayaran pekerjaan menjadi telat. Biasanya karena klien emosi jiwa sedikit. Karena hasil kerja belum sesuai harapan tapi sudah minta pembayaran.

  • Kombinasi keduanya.

Target spesifikasi jelas. Deadline jelas. Mungkin freelancer akan sedikit keberatan dalam hal ini. namanya juga freelance, ‘kan? Dia harus membagi-bagi waktu untuk beberapa pekerjaan freelance yang dia ambil.

Karena freelance tidak setia dengan sebuah institusi pemberi kerja. Kalau setia itu sama dengan menjadi karyawan di sana. Kalau demikian, sekalian saja minta asuransi, COP, reimbursement, dll, hehe 😀

For some freelancer, mengalihkan konsentrasi dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tidak lah semudah membalik telapak tangan. Kecepatan adaptasi tiap reelancer berbeda-beda. Ada unsur mood yang harus beralih, ada ingatan/dokumentasi terdahulu yang harus dipulihkan sesaat sebelum mulai bekerja lagi.

Sebagai penutup, mari ingat kembali bahwa freelancer itu bukan karyawan tetap. Jadi mestinya dia tidak menerima hak-hak para karyawan tetap. Semisal asuransi, reimbursement, dan lain-lain yang menjadi ketentuan di institusi tersebut. Ada proses rekrutmen, seleksi, training, dan sebagainya yang membedakan karyawan tetap dengan para freelancer. Freelance is project-based work. Freelancer hanya dibayar atas apa-apa yang dia kerjakan. Perhitungan bisa berdasar (1) lama pekerjaan, atau (2) target pekerjaan, atau (3) kombinasi keduanya.