Batik Fractal


Keindahan seni visual seperti batik memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Berulangkali saya berusaha ternyata saya juga tidak mampu melakukannya. Sebab batik merupakan rekaman interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Tapi, desain Batik Fractal yang kami lihat memang benar adanya. Indah. Setiap komposisi bentuk, warna, dan repetisinya menyajikan makna dan rasa yang kita bisa sebut juga sebagai cantik.

Itulah alasan saya menemui Muhammad Lukman, biasa dipanggil Mas Lucky. Orangnya berperawakan tinggi, agak kurus, dan berkacamata. Beliau termasuk di antara (kira-kira) 90% lulusan program studi arsitektur yang tidak lagi mendesain arsitektur. Instead of mendesain arsitektur, beliau lebih suka mendesain batik.

Mas Lucky ini mendirikan Pixel Project (CV Pixel Indonesia) bersama-sama dengan Mas Yun Hariadi dan Mbak Nancy Margried. Beliau kenal dengan Mas Yun –yang menyelesaikan program sarjananya di Matematika– karena sama-sama tertarik dan berkutat dalam bidang matematika di ITB, khususnya fractal . Fractal  adalah konsep matematika yang berfokus pada pengulangan, dimensi, literasi, dan pecahan. Kombinasi batik dengan matematika fractal membantu penciptaan desain batik fractal.

Mas Lucky ini kenal dengan Mbak Nancy pada saat beliau mengadakan pameran arsitektur dengan rekan-rekannya. Mbak Nancy ini berkarir di bidang Public Relation (PR). Memang bukan lulusan ITB, tetapi Unpad (Univ. Padjadjaran). Tak disangka-sangka oleh Mas Lucky dan Mas Yun, Mbak Nancy menemukan hal berbeda. Yaitu bahwa ternyata matematika, sains dan teknologi dapat disinergikan menjadi sebuah karya batik yang bervariasi.

Tentang batik+matematika, apa yang bisa dilakukan? Alias, seni digabung dengan sains, seperti apa hasilnya? Ada tiga pendekatan yang biasa dilakukan mereka.

  1. Fractal sebagai Batik. Fractal hasil simulasi komputer didesain ulang sebagai inspirasi atas konstruksi desain batik
  2. Hibrida Fractal Batk. Menggabungkan pola komputasional dengan tradisi budaya membatik yang dikenal luas
  3. Batik Inovasi Fractal. Motif batik tradisional didesain ulang dengan menggunakan teknologi komputasi fractal.

Tidak hanya karya, tetapi juga bisnis. Jadi, Pixel Project ini adalah bisnis. Produknya ada dua. Batik Fractal yaitu brand fesyen batik yang digenerasikan dari fractal. Produk kedua adalah JBatik, sebuah software desain batik.

Teknologi Meningkatkan Produktivitas Seniman

Di era modern saat ini, teknologi digital bukan mematikan para pekerja seni. Justru mendorong produktivitas dan meningkatkan kualitas karyanya. Perangkat lunak (software) JBatik malah membantu desainer memproduksi puluhan bahkan ratusan desain hasil coba-coba (eksplorasi) dalam waktu yang relatif singkat. Tidak hanya membantu proses desain, perangkat lunak ini juga membantu menyimpan dan mendokumentasikan hasil desain. Sehingga pengembangan desain dapat terus dilakukan waktu demi waktu.

Jadi software JBatik ini memampukan para desainer batik untuk mengeksplorasi desainnya lebih lanjut. Keragaman desain ini dapat dilihat dari grafis, warna, ukuran, sudut, dan perulangannya. Lebih banyak desain bisa dihasilkan dan lebih banyak karya indah yang bisa dioptimalkan. Lebih efisien pula dalam penggunaan waktu dan sumber daya coba-coba.

Dengan menggunakan software JBatik, maka para pengrajin batik terhindar dari software desain berharga mahal. Di samping itu lisensi JBatik sudah termasuk dengan paket pelatihan dan jaringan komunitas sesama pengrajin yang menggunakan JBatik.

Ketika desain selesai dibuat, desain di-print di kertas setelah itu hasil printing batik ini dijiplak ke dalam kain dan tinggal dicanting jika pengrajin ingin menjadikannya sebagai batik tulis. Namun jika pengerajin ingin membuat batik cap, hasil printing ini tinggal dibuatkan capnya sementara jika pengrajin hanya ingin membuat batik print, desain batik tadi bisa langsung dicetak ke dalam kain seperti halnya mencetak desain ke dalam kertas.

Once software takes over repetitive chores, humans will have more time and resources to work creatively.

Walaupun sama-sama dalam desain, piranti lunak JBatik memiliki filosofi generative design, yaitu menggambar dengan menggunakan seperangkat perintah sederhana. Keuntungan menggunakan generative design software adalah desainer mampu membuat beragam bentukan desain dari 1 motif saja dengan hanya mengubah parameternya. Hal ini berbeda dengan piranti lunak desain lain yang mengharuskan penggunanya menggambar kembali untuk membuat desain baru.

Research

Pada tahun 2007 Mas Lucky dan Mas Yun melakukan riset mengenai batik sebagai warisan budaya Indonesia. Inilah yang mengawali Pixel Project. Salah satu temuan yang menarik saat itu adalah bahwa:

  • Menurut daerah asalnya, batik Yogya dan batik Solo memiliki dimensi fractal  yang sama dengan batik Madura dan batik Garut, tetapi batik Madura dan batik Garut sendiri memiliki dimensi fractal  yang berbeda.
  • Kehadiran fractal  dalam batik mengindikasi keberadaan kompleksitas dalam kesenian tradisional batik ini. Kompleksitas ini lahir karena adanya usaha untuk mengikuti pakem tradisional (pemaknaan simbol, keharmonisan, ke-simetris-an) serta keterbatasan media (lilin dan canting) itu sendiri. Manusia memahami alam lingkungan dan menerjemahkannya dengan melukis pada kain dengan teknik batik.
  • Bisa disimpulkan bahwasanya setiap motif batik itu membawa ceritanya masing-masing yang dapat mengawali dan mengisi pembicaraan pengguna motif batik tersebut.

Batik memang begitu. Dari dulu sudah dikenal sebagai warisan budaya Indonesia yang memiliki memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi tekstil modern baik dengan menggunakan teknik produksi tradisional maupun masuk ke produksi massal. Menuju produksi massal, bisa lewat desain batik via perangkat lunak. Modernisasi desain batik akan menarik minat generasi muda untuk turut menggunakannya.

Batik Fractal Community

Di Batik Fractal Community, Pixel Project mempergunakan pewarna alam seperti dedaunan, kulit kayu dan bahan-bahan dari tanaman. Karena Batik Fractal Community berada di tengah-tengah Kampung Dago Pojok, maka menggunakan bahan-bahan alami adalah hal yang paling natural agar limbah kami tidak mencemari lingkungan padat penduduk di sekitar kami. Selain itu pewarna alam selalu memberikan sentuhan eksotik untuk batik unik yang kami produksi.

Sebagaimana dilansir dalam laman resminya di https://pikselindonesia.com , bahwa Piksel Indonesia turut serta dalam melestarikan batik dengan memadukannya sesuai perkembangan teknologi.

Coba datang, deh. Kamu akan terkejut dengan apa saja yang ada di Jalan Gudang Selatan Nomor 22, Kota Bandung. Memang si Batik Fractal  berlokasi di sana. Tetapi ada banyak kejutan lainnya di bangunan Gudang tentara tersebut.

Garis Waktu Batik Fractal

2007 Riset: Batik Fractal, From Traditional Art to Modern Complexity, Generative Art Polimi, 2007

2008 Indonesian ICT Award 2008 kategori E-Tourism and E-culture

2008 Unesco 2008 Award of excellence.

2008 Turut mendirikan BCCF (Bandung Creative City Forum)

2008, Piksel Indonesia bekerja sama dengan Kementrian Negara Ristek dan Teknologi menyebarkan teknologi di tengah masyarakat pengrajin Indonesia melalui berbagai pelatihan software jBatik.

2008 “Tourism and Hospitality Category – Winner” Ministry of Communications and Information, November 15th 2008. Asia Pacific ICT Awards. 

2008-2009 Berpartisipasi di Helar Festival

2009 Unesco meresmikan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

2009 Riset: Batik Garut dalam Tinjauan Geometri Fractal, Japan Foundation, 2009

2009 Riset: JBatik : Menelusuri Perkembangan Motif Kawung Melalui Kuantifikasi dan Algoritma, Adiwastra, 2009

2010 Riset: Batik Fractal : A Case Study in Creative Collaboration from Various Disciplines in Bandung, ArtePolis3, 2010

2010 International Young Creative Entrepreneur. Interactive Category winner. British Council Oct 24th.

2011 Riset: Sculpture Make Over, ICCI, 2011

2011 menjadi anggota Mekar sejak 2011 dan mendapat dana investasi melalui program Mekar Network.

2011-2012 Bekerja sama dengan Intel dalam program global Intel Visual Life

2012 Riset: Batik Fractal : Marriage of Art and Science, Dies Emas ITB, 2012

2013 Berpartisipasi dalam Fashionary BDG

2013 Menempatkan workshop Koperasi Batik Fractal di Kampung Kreatif Dago Pojok

2013 Penyedia konten, trainer, serta konsultan dalam program kampus terapan yang diiinisiasi oleh BPIPI (Badan Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia)

2013 Menyebarluaskan penggunaan software berbasis JBatik pada bidang perancangan bangunan dalam program penelitian RAPID di program studi Teknik Arsitektur ITB.

2013 Membuat motif batik untuk interior IDX (Indonesia Stock Exchange)

2014 Riset: Batik Fractal Community : Creative Engangement through Technology, Artepolis5, 2014

2014 Riset: Parametric Architecture jArsi, Artepolis5, 2014

2017 Mendesain cutting sticker untuk diaplikasikan pada peluncuran Daihatsu Ayla

Referensi:

Respek Terhadap Partner Bisnis


Respek berarti menaruh hormat. Dalam dunia usaha, respek sangat diperlukan. Sebab jika hanya berorientasi pada keuntungan uang semata, usaha tidak akan berjalan panjang. Jangan ambil uangnya doang, hormati juga orangnya. Ada beberapa pihak yang sangat perlu mendapat respek dari pelaku usaha. Yaitu pelanggan/pembeli, prinsipal/distributor (dalam perkara mendistribusikan), maupun supplier (penyedia bahan baku pabrik).

Respek Terhadap Pelanggan

Saya tempatkan sebagai yang pertama. Tidak melulu mengenai untung dan rugi. Melainkan tentang hubungan jangka panjang. Percuma hari ini untung, apabila hubungan jual beli kemudian terputus. Hubungan baik dengan pelanggan adalah bagian dari layanan (service) kepada pelanggan. Layanan semacam ini menjadi penyelamat apabila ada brand lain yang lebih kompetitif daripada brand yang kita kelola dari segi manfaat fungsional (functional benefit) maupun harga (price).

Respek terhadap pelanggan salah satunya berupa kepedulian maksimal kita terhadap produk yang kita buat. Ada banyak tools yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas produk. Misalnya TQM (Total Quality Management). Namun tidak ada yang lebih rumit dari para manusia itu sendiri. Sehingga kualitas harus diangkat menjadi sebuah budaya perusahaan. Mengenai hal ini, Bapak Azhari Sastranegara memiliki argumennya sendiri:

Filosofinya, 1 produk cacat dalam sejuta produk dari sisi produsen adalah tingkat kegagalan 1 ppm, tapi dari sisi sang pemakai yang hanya membeli satu produk tingkat cacatnya adalah 100 persen.

Poin terakhir itulah yang membuat betapa pentingnya kualitas produk. Bahwa produk yang kualitasnya buruk, dapat berdampak fatal bagi pengguna. Dalam kasus manufaktur mobil, dampak fatal tersebut berupa kematian pengguna.

TOYOTA WAY adalah budaya perusahaan manufaktur tingkat dunia. Banyak yang bisa kita pelajari dan tiru dari budaya ini. Prinsip pertamanya berbunyi, pondasikan keputusan manajemen pada pertimbangan filosofis jangka panjang, bila perlu mengorbankan kepentingan finansial jangka pendek. Maksudnya adalah hubungan jangka panjang lebih utama daripada laba sesaat.

Baru-baru ini ada kasus recall mobil-mobil Honda. Manufaktur mobil tingkat dunia tidak ingin mengorbankan corporate brand-nya yang mungkin rusak karena air bag yang kualitasnya kurang baik. Sebab keamanan perjalanan adalah nomor satu. Untuk apa segala tetek-bengek kecepatan, kenyamanan, dan lain sebagainya bila keamanan menjadi prioritas nomor sekian?

Terkait hail ini, tiba-tiba teringat quote dari Pak Ignasius Jonan.

Lebih baik tidak pergi (berkendara), daripada tidak pernah kembali.

Kembali mengingatkan kita, bahwa keamanan adalah segalanya.

Dari ketiga kata yang dimilikinya, manajemen kualitas secara menyeluruh, definisi TQM adalah: “sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali (right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous improvement) dan memotivasi karyawan “ (Kid Sadgrove, 1995)

Service and Complaint Handling

Respek kedua terhadap pelanggan, yaitu berupa complaint handling.

Jadi menurut pengalaman penulis, kekecewaan pelanggan selain datang karena barang yang kualitasnya tidak sesuai dengan harapan, tetapi juga pelayanan buruk dari perusahaan itu sendiri. Itulah mengapa yang kita letakkan sebagai hal pertama yang harus mendapat respek adalah kualitas produk.

Berikut 6 langkah ideal dalam menangani komplain dari pelanggan.

  1. mendengarkan
  2. klarifikasi
  3. menjelaskan
  4. meminta maaf
  5. persetujuan
  6. tindakan

Respek Terhadap Partner Distributor/Partner Prinsipal

Kerja sama dalam mengelola wilayah guna mendapatkan angka penjualan. Baik dalam peran sebagai distributor, atau peran sebagai principal. Sering kita mendengar bahwa keterbatasan wilayah yang dikelola oleh distributor, serta keunikan produk yang dimiliki oleh principal, menjadi awal dari sebab-musabab principal “menginjak-injak” distributor.

Padahal distributor, melalui hubungannya dengan para pembeli, ada kalanya mampu menemukan insight-insight menarik dari para konsumen yang tentu saja akan berdampak positif bagi principal apabila aspirasi tersebut disampaikan secara tepat.

Peran inilah yang seharusnya dijalankan dengan baik oleh TSS maupun ASM. Yakni menjadi lidah penyambung teman-teman distributor kepada brand management di kantor pusat. Ini adalah peran yang sedikit berat. Meningat posisi TSM dan ASM merupakan ‘teman’ sekaligus ‘atasan’ bagi teman-teman dari perusahaan distributor. Di satu sisi harus mampu menekan distributor, namun di sisi lain berperan sebagai rekan kerja dalam mengelola wilayah penjualan.

Respek Terhadap Supplier

Tentu supaya supplier selalu mengusahakan yang terbaik untuk kebutuhan kita.

Bisa pula kita lakukan competitor intelligence melalui pihak ketiga, yaitu supplier. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengorek informasi dari supplier tentang bahan baku (raw material) apa saja yang dibeli oleh para kompetitor.

Saya kira, hal demikian tidak berarti tidak respek terhadap supplier.

Mari bahas beberapa etika-etika dalam berbisnis yang berlaku universal, namun tetap relevan dalam bersikap hormat/respek terhadap para partner kita.

Etika Bisnis

Jujur ketika berkomunikasi atau bersikap.

Kejujuran merupakan salah satu poin penting untuk menyukseskan usaha sekaligus membangun kepercayaan klien. Kita wajib bersikap jujur dalam segala hal, mulai dari sekadar memberikan informasi hingga ketika menganalisa kekurang perusahaan yang dipimpin. Tidak jujur bisa diartikan sebagai melakukan manipulasi terhadap informasi.

Saya kira, kita perlu sangat berhati-hati namun tetap mengambil celah dalam berkomunikasi. Sebagai penjual, tentu kita akan memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin, namun tetap tidak mengada-ada. Andaikan ada kekurangan sekalipun (pasti ada, sih) harus pula kita sampaikan secara baik sehingga tidak tercitra negatif.

Integritas

Integritas sendiri diartikan sebagai konsistensi dan sinkronisasi antara pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Bisa juga kita lihat dari sisi pemenuhan janji serta komitmen yang dibuat. Janji tidak boleh sembarang dibuat, namun pasca pengucapannya harus diikuti oleh komitmen untuk dapat memenuhi janji tersebut sebaik-baiknya.

Loyal kepada Pelanggan

Saat brand yang kita besut mulai dipercaya oleh pelanggan, sejak itulah brand kita wajib menjawab kepercayaan tersebut dengan respek yang tiada henti melalui standardisasi. Kualitas produk, layanan dan sebagainya harus punya standard dan tidak boleh turun sama sekali.

Kepedulian/Empati

Baik berangkat dari kebutuhan (needs), kegelisahan (anxiety), atau tidak dari keduanya, brand harus menunjukkan kepedulian dan perasaan simpatik, terlebih lagi empati.

Penghargaan

Brand juga harus bersikap profesional dengan tidak membedakan perlakuan kepada pelanggan berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, maupun kewarganegaraan.

Lima Kesalahan Pebisnis Kafe yang Harus Anda Ketahui Sebelum Membuka Kafe Baru


Kafe dengan desain interior yang menarik, mentarget anak muda, menyediakan makanan ringan, hingga beragam jenis kopi (espresso, americano, latte, cappucino, dll) sudah sangat biasa.

Bahkan kompetisinya pun terasa semakin ketat. Tempat tinggal saya di Tubagus Ismail, yang sekitar belasan tahun lalu masih termasuk daerah sepi, semakin ke sini semakin ramai dan komersil. Tidak terkecuali oleh kafe. Tipikal bisnis yang satu ini semakin merangsek ke “pedalaman”. Meski menjauhi kampus, namun tingkat keramaiannya tidak kalah dengan kafe yang bermukim di sekitar kampus.

Menurut asal Bahasa (Prancis)-nya, cafe (akar kata kafe) secara harafiah berarti minuman kopi. Sekarang ini kafe tidak lagi sekedar minuman kopi, melainkan sudah menjadi “wahana kuliner” yang menyediakan beragam kopi serta sekaligus makanan ringan. Tidak pula sekedar menjajakan makanan dan minuman, namun jual experience sekaligus event.

Kafe itu bisnis yang semakin menjamur seiring dengan membludaknya jumlah kelas menengah di Indonesia. Sebab, segmen ini punya kebiasaan “seen and to be seen” alias ingin melihat dan dilihat oleh orang lain. Pasti cool rasanya kalo terlihat punya komunitas, atau kelihatan sedang sibuk meeting membahas proyek bersama partner, dan seterusnya.

Kalau terlihat sendirian, entah masih disangka menunggu teman-teman datang, atau memang jomblo tulen yang hampir lumutan.

Bagaimana membuat bisnis kafe jadi luar biasa? Ada beberapa kesalahan yang kerap kurang diperhitungkan secara strategis oleh para pemilik kafe sehingga bisnis kafe-nya belum berumur panjang tetapi sudah harus ditutup.

Kesalahan pertama. Berharap traffic datang dengan sendirinya.

Baiknya, memang sudah ramai. Cara mengukur keramaian: menghitung berapa banyak sepeda motor dan kendaraan roda empat yang melalui jalan tersebut.

Traffic juga bisa kita perhitungkan secara strategis. Contoh: buka warung bakso bersebelahan dengan usaha cuci mobil. Warung bakso jadi punya captive market (pasar yang sudah jelas akan berbelanja di mana) ‘kan. Atau jual makanan ringan yang tepat untuk segmen usia SMP atau SMA. Dan outletnya dibuka persis di samping bimbingan belajar (bimbel).

Kesalahan kedua. Tidak membangun komunitas.

Bisa dikonsepkan sejak awal, bisa pula dibangun sambil jalan. Misalnya, kafe berbasis suporter klub bola dikesankan oleh sebagian orang adalah kafe yang menutup diri terhadap suporter lain. Tidak begitu juga. Karena dengan membangun kafe berbasis suporter, misalnya seperti Kafe Persib di Jalan Sulanjana Bandung, justru terbangun ketahanan usahanya karena pelanggan sekaligus evangelist-nya tersebut selalu mengunjungi dan berbelanja di sana.

Evangelist itu semacam pelanggan yang lebih dari pelanggan biasa. Alias pelanggan luar biasa. Karena selain berbelanja, dia juga ikut mempromosikan. Baik via word of mouth (WOM) atau social media miliknya.

Kesalahan ketiga. Tidak mengadakan event.

Bentuknya bisa apa saja. Mulai dari nonton bareng sepakbola (terutama liga eropa di akhir pekan), show dari band lokal, stand up comedy, dan lain sebagainya. Kalau nobar sepakbola, tolong buat jadwal yang jelas ya. Kapan mulai boleh datang –soalnya bisa jadi bentrok jadwal dengan pertandingan sebelumnya — sampai dengan kapan pertandingan dimulai (kick-off). Saya pernah abai sama informasi dari suatu kafe, sehingga harus berkeliling dahulu bersama teman, karena saya salah menangkap informasi waktu kick-off tersebut.

Event tidak selalu untuk menarik crowd sehingga omzet naik drastis ya. Namun omzet juga bisa direkayasa melalui kerjasama dengan sponsor yang bersedia untuk menyumbang. Yang diincar oleh para sponsor ini adalah event sebagai sebuah medium untuk berkomunikasi dengan segmen yang sudah sesuai dengan target mereka.

Kesalahan keempat. Ambience kafe yang kurang tepat.

Ambience is the character and feeling of a place. 

Desain kafe tidak hanya untuk mendapatkan penampilan yang ‘tepat’. Tetapi juga merancang pengalaman (experience) dari pengunjung. Betul-betul harus didesain sedemikian rupa sehingga tidak terasa sebagai minum air kopi saja. Melainkan benar-benar ada pengalaman yang diperoleh pelanggan.

Pelanggan yang puas dengan service yang diberikan, in shaa Allah akan kembali berbelanja di kita. Tidak mungkin kita selalu mengharap kedatangan pembeli baru, ‘kan?

Apakah kafe harus selalu indoor? Tidak juga. Yang penting tidak ada masalah dengan kafe yang memiliki area terbuka (outdoor) yang penting ada solusi untuk menghindarkan pengunjung manakala hujan turun.

Kesalahan kelima. Perwujudan efisiensi rantai suplai.

Ayolah, anda tidak hanya berharap kafe adalah satu-satunya bisnis anda, ‘kan? Kafe, sebagai sebuah bisnis hilir, sesungguhnya mempunya potensi lebih. Yaitu sebagai showroom dari produk atau layanan anda yang lain. Misalnya keluarga anda memiliki usaha katering yang sudah turun-temurun diwariskan dari nenek moyang. Sayang dong bila salah satu produk andalan dari katering tersebut tidak ditampilkan dan dipromosikan di kafe anda.

Sebagai sebuah hilir dari bisnis yang lain, ini adalah alternatif ‘curi start’ yang bisa dilakukan. Eksklusifitas dari brand (fesyen/kuliner, dll) milik anda semakin terjaga bila hanya didistribusikan di channel tertentu (baca: kafe milik anda) saja.

Visual merchandising-nya harus oke punya. Display-nya harus atraktif dan mengundang pembeli untuk berbelanja. Kata-kata yang ditampilkan harus mudah dipahami, harga tertera dengan jelas (menjadi jelas pula benefit yang ditawarkan), .

Simpulan. Sebagaimana bisnis-bisnis pada umumnya, masing-masing memiliki karakteristik risiko yang unik. Penanganan terhadap risiko bisnis kafe, sudah kita eksplorasi dengan jelas di atas.

Nah, bila kita tidak mampu mengelola risiko tersebut hingga benar-benar “jebol”, kapan kafe harus ditutup?

Ketika (1) pemilik kafe tidak lagi mendapatkan laba, kecuali kafe tersebut memang sarana berkumpul dengan sahabat-sahabat dekatnya (2) labanya tidak seberapa dibandingkan dengan tenaga, waktu, pikiran, dan uang yang keluar (3) sebelum kafe tersebut mengalami rugi yang lebih besar lagi.

Related Post:

Bisnis Apa yang Bagus Untuk Saya?


Saya bukan business trainer.

Tapi saya cukup tahu seperti apa mereka yang datang ke seminar-seminar bisnis. Ada beberapa macam orang. Salah satunya adalah yang baru mau memulai, tapi masih bingung bisnis apa.

Dia suka bertanya, kira-kira sesuai judul di atas, bisnis apa yang bagus untuk saya? Atau, pertanyaannya mungkin lebih tepat seperti ini.

Bisnis apa yang (sebenarnya) benar-benar cocok untuk saya?

Saya sendiri hidup dari beberapa sumber. Bisa dibilang belum fokus, tapi nyatanya saat ini memang harus seperti itu. Sembari menjalani semua sumber tersebut, saya selalu menganalisis. Baik bisnis yang berhasil (sehingga saya akan meneruskan dan membesarkannya), atau yang gagal.

Gagal itu bukan berarti tidak akan bisa berhasil. Bahkan setelah gagal tersebut, saya tahu caranya membuat berhasil. Tapi namanya manusia kan kita punya kesukaan dan mood.

Kalau kita suka, kita teruskan. Kalau kita selalu mood di bisnis itu, kita lanjutkan. Masalahnya adalah membuat kegagalan menjadi keberhasilan di tengah-tengah mood yang buruk dan ketidaksukaan terhadap produk/jasa-nya adalah sesuatu yang pasti sulit dan prosesnya pasti tidak enak.

Nah, ini kesimpulan saya dan beberapa poin yang bisa saya bagi.

B2C dan B2B.

Pertama, bisnis bisa kita kelompokkan ke dua kategori besar. Yaitu business to business (B2B) dan business to consumer (B2C). Untuk pemula, perbedaan yang harus betul-betul dipahami adalah:

B2B perlu network yang luas. Dari sisi pribadi, kamu harus jago menjajakan. Alias salesman handal, pantang menyerah, selalu berkenalan dengan orang baru, dan existing customer kamu selalu menambah pembelian ke kamu.

Di tipe B2B ini, dapatkan dulu aja proyeknya. Kalau berhasil dapat, baru pikirkan mau dimodali dari mana. Apa pakai investor atau pinjaman.

Dapat proyek sudah, dapat modal untuk mengerjakan sudah, selanjutnya adalah bekerja sebaik-baiknya. Do your own homework.

B2C perlu modal yang besar. Modal ini bisa diterjemahkan jadi barang jualan, atau alat-alat produksi.

Sebenarnya bukan besarnya modal yang penting. Kecil atau besar itu relatif. Yang utama adalah initial investment. Jadi pembelian di depan (makanya disebut initial) yang harus berdampak pada penjualan. Baik langsung maupun tidak langsung.

Buka toko, itu langsung menghasilkan penjualan. Penambahan stok barang, itu tidak langsung menghasilkan penjualan. Tapi kalau barang ready kan, closing akan lebih cepat. Inventory yang menumpuk, itu masalah lain yang harus diatasi.

Jangan langsung dari bank, sebagai pemula. Di samping harus ada jaminan tanah/properti/kendaraan, modal bank relatif mahal.

Marjin yang dikembalikan relatif besar, padahal kita harus menjaga jangan sampai bisnis kehabisan uang kontan. Apalagi faktor free cash flow. Duit yang betul-betul bersih, tidak ada hak orang lain di sana, dan bisa kita gunakan untuk menambah modal.

Mulailah dari modal-modal relatif murah, misalnya dari keluarga atau teman-teman. Mereka bisa memberikan pinjaman bahkan tanpa bunga sama sekali.

Tapi pinjaman, tetap pinjaman lho ya. Harus dikembalikan. Saya pribadi, selalu lebih baik mencicil pinjaman, daripada memaksa diri untuk mengembalikan semuanya di akhir periode pinjaman.

Jangan khawatir dengan modal besar. Yang harus dipusingkan adalah bagaimana supaya bisa terjadi penjualan setiap hari.

Misalnya, adalah punya traffic yang tinggi. Kalau mau sewa toko, kontrak di jalan yang ramai. Kepadatan pengguna jalan juga ada kelasnya, lho. Apakah padat oleh mobil? Atau sama motor? Atau justru pejalan kaki? Masing-masing beda tingkat kedalaman dompetnya.

Di jualan online juga sama, traffic tinggi adalah awal baik untuk penjualan. Traffic bisa secara organik, atau pakai iklan juga bisa. Punya website atau tidak itu satu masalah. Tetap bisa jualan. Tapi kalau sudah punya website, mendatangkan traffic adalah masalah lain yang harus diselesaikan.

Traffic sudah tinggi? Konversi adalah masalah berikutnya.

Setiap masalah yang sudah selesai, akan diikuti dengan masalah berikutnya.

Ya namanya bisnis. Sama banget dengan hidup. Selalu ada masalah, dan datangnya silih berganti. Bagaimana kita saja menangani masalah-masalah tersebut, tanpa stress, dan tetap bersyukur.

Pertanyaan lain.

Apa bisnis yang pasti untung dan tidak akan pernah rugi ya?

#jawab -nya adalah tidak ada.

Semua bisnis sangat mungkin rugi. Minimal barang tertahan dan tidak laku (kasus B2C). Atau pembeli proyek lagi sepi (kasus B2B).

Yang harus diusahakan adalah akumulasi laba yang lebih besar daripada akumulasi rugi dalam periode tertentu. Katakanlah selama setahun.

Sebagai pelajaran, Garuda Indonesia pernah rugi berbulan-bulan. (rute dengan negara yang pertumbuhannya minus, sementara operasional pesawat tidak pernah turun). Tapi kembali untung manakala memasuki musim mudik lebaran.

Jadi, Bisnis Apa yang Cocok untuk Saya?

Untuk pemula, bisnis yang sesuai dengan kamu. Sesuai dengan passion kamu, atau sudah kamu ketahui persis proses bisnis-nya.

Kalau kamu sudah naik kelas menjadi professional businessman, boleh deh kamu main di bisnis-bisnis lain yang kamunya tidak terlalu passion.

Namanya sudah profesional, ya udah ngerti aja caranya menghasilkan duit. Padahal tidak terlalu passion soal produk/jasanya.

Sebab ada banyak faktor yang menentukan kesuksesan bisnis. Tidak cuma soal produk/jasa yang terbaik.

Tetapi misalnya, supply chain yang efisien dan tidak bisa ditiru oleh pemain lain. Sebagai pemula, abaikan dulu kompetitor. Yang penting bagaimana bisa tumbuh dulu. Misalnya, kita yakin bahwa pasarnya pasti bertumbuh, maka kita terjun ke bisnis itu.

Produk/jasa yang terbaik belum tentu laku di pasaran. Masih ada upaya marketing (terutama penajaman positioning), dan distribusi/penjualan.

Sebagai penutup, saya hanya bisa mengingatkan.

Ada 10.0001 alasan untuk berdiri sendiri dan memulai bisnis. Tapi ada juga 10.0001 alasan untuk tidak mandiri dan lebih memilih fokus bekerja sebagai anggota tim-nya orang lain.

R.E.S.I.G.N.


#UdahResignAja pernah dikampanyekan oleh beberapa penggiat internet marketing. Para pelaku di industri yang belum lama lahir ini mulai “menghasut” pekerja formal dan informal yang sudah mapan dengan posisi dan pekerjaan yang digeluti.

Salah beberapa konten “provokasi”-nya adalah bahwa bisnis menjanjikan kebebasan financial (financial freedom), maupun fleksibilitas waktu (time flexibility). Lalu mereka terus mengangkat dan mengungkit kelebihan bisnis/berdagang sendiri ini.

Treatment mereka berbeda terhadap peran-peran kuli di perusahaan (baca: karyawan), mereka mengulang dan mengulang betapa buruknya 7P (pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan). Pergi pagi pulang petang seperti kebanyakan orang berarti pergi saat macet dan pulang ketika macet.

Kalau untuk sekali jalan saja bisa menempuh 1 jam perjalanan, dengan jam masuk kantor pukul 7 dan selesai pukul 4 sore, berarti harus pergi pukul 6 pagi dan baru tiba di rumah pukul 5 sore.

Satu jam perjalanan bila lancar tidak pernah jadi masalah. Bagaimana bila satu jam hanya berisi kemacetan belaka? Kemacetan bisa membuat psikis tidak nyaman.

Itu yang masih beruntung. Selain itu, masih banyak yang benar-benar mengalami pergi sebelum matahari terbit dan baru pulang setelah mentari tenggelam. Sepanjang hari kerja, tidak menikmati sinar matahari dalam perjalanan.

Misal rekan saya yang tinggal di Bekasi dan harus menuju Semanggi. Dia berangkat pukul 05.00 pagi. Kalau pekerjaan sedang tidak lancar, dia baru pulang setelah Maghrib. Rerata waktu tiba di rumah adalah 19.30. Dengan catatan pulang on time.

Being entrepreneur or employee, bisa jadi bukan pilihan sama sekali bagi beberapa kalangan. Ada yang terpaksa jadi wirausahawan, ada juga yang tidak punya pilihan lalu harus menjadi karyawan.

Tapi bagi mereka yang sudah menjadi karyawan, namun merasa ada pilihan untuk menjadi pengusaha/pebisnis, pindah kuadran bisa menjadi pilihan yang mudah atau sulit. Demi fleksibilitas waktu dan kebebasan finansial itu tadi.

Dan untuk beberapa orang, ini adalah kasus yang sangat-sangat berat untuk dipilih. Anda harus memikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan resign dari pekerjaan dan memulai karir sebagai enterpreneur.

Jadi, mari kita lihat kasus ini secara objektif. Apa yang disampaikan oleh para internet marketer juga tidak sepenuhnya salah. Khususnya mengenai pendapatan dan bagaimana waktu dihabiskan untuk bekerja.

Pendapatan/omzet pebisnis lewat internet –sebagaimana pebisnis pada umumnya– punya potensi untuk naik, naik, dan naik terus. Berbeda dengan karyawan yang gajinya mentok kalau posisi sudah mentok. Palingan kenaikan gaji baru terjadi setahun sekali untuk mengikuti inflasi. Bonus tidak selalu ada; karena kinerja perusahaan bisa di atas atau di bawah rata-rata pertumbuhan pasar.

Waktu? Kalau sistem bisnis sudah berjalan lancar, sang pebisnis malah lebih banyak ongkang-ongkang kaki sahaja –sembari mencari peluang bisnis yang lain.

Di samping menunjukkan kelemahan sebuah pilihan –menjadi sekrup-sekrup kapitalis–, mereka juga menunjukkan keunggulan dari pilihan yang lain. Yakni dengan menjadi internet marketer.

Ada banyak potensi pendulang uang dari internet. Mulai dari berperan sebagai agensi media sosial, Google Ad Sense (dapat uang dari iklan di blog), affiliate marketing (terutama produk-produk digital), reseller/dropshipper dari produk-produk fisik, dan lain sebagainya. Selengkapnya sudah pernah diulas di sini.

Apalagi berbagai infrastruktur pendukung internet kian berkilau: implementasi teknologi 4G LTE, fiber optic semakin banyak dipakai, peningkatan penggunaan smartphone, e-commerce semacam bukalapak.com dan tokopedia.com, internet of things (smart city, smart home, dll).

Believe me or not, penetrasi internet di negara kita akan semakin meluas.

Para internet service provider (ISP) juga bertambah banyak. Misalnya Indihome, First Media, Biznet, dll. Yang diuntungkan adalah konsumen akhir. Harga akan semakin turun dengan layanan yang semakin berkualitas.

Namun demikian menggiurkannya kesempatan menjadi entrepreneur berbasis internet, hendaknya anda tidak mudah terpengaruh begitu saja. Apalagi baru dengar kemarin, lantas sudah mau mengajukan resign dari kantor hari ini juga.

Anda tetap harus mempertimbangkan masak-masak. Apa saja aspek yang layak diberikan perhatian lebih? Berikut ini kita coba ulas lebih mendalam. Jangan resign sebelum anda membaca dan menyiapkan beberapa hal berikut ini:

(1) Alasan mau resign. Apakah anda termasuk salah satu dari alasan berikut ini? Memang tidak pernah cocok bekerja dengan scope/fungsi/job desc yang sempit. Alias selalu ingin mengerjakan banyak fungsi dalam perusahaan.

Setiap enterpreneur punya keunggulan masing-masing. Sebaiknya dikenali dulu, apakah kuat di business development, atau kompeten di penjualan, dst. Tidak ada enterpreneur yang kuat di semua fungsi bisnis. Yang dia lakukan hanyalah, fokus di kemampuan dia, lalu menyerahkan fungsi lain kepada yang lebih kompeten.

Atau alasan seperti berikut ini: berpikir lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil –apalagi kalau kolamnya milik sendiri– daripada menjadi ikan kecil di kolam besar.

Anda harus punya alasan terbaik sebelum resign sebagai karyawan kemudian beralih menjadi pemilik perusahaan. Boleh saja alasan finansial, namun lebih baik bila anda menemukan dan punya alasan-alasan yang lebih fundamental –atau yang datang dari lubuk hati terdalam.

Mengapa harus alasan yang benar-benar datang dari hati sendiri? Kuncinya bukan saat anda sukses, melainkan saat anda terpuruk. Ketika anda merasa sedang jatuh sejatuh-jatuhnya, apa anda akan berubah haluan (mengganti bisnis atau kembali jadi karyawan) begitu saja?

Hanya fondasi kuat saja yang akan membuat anda bertahan dalam profesi/posisi yang benar-benar anda inginkan, bahkan ketika sedang tertimpa berbagai kemalangan.

Prinsip-prinsip apa yang kita yakini dan jalani dalam hidup, sehingga ketika kita terpuruk sekalipun, kita tetap bertahan dalam profesi pebisnis kita.

(2) Suka menjual. Kalau sekedar suka menawarkan produk/jasa kepada orang yang membutuhkan, cukup bergabung dengan bagian penjualan (sales). Jika memang suka mencapai dan bahkan melebihi target, berarti anda cocok dengan berkolaborasi dengan fungsi penjualan.

Tapi bila anda suka menjual, sekaligus ingin “menguasai” seluruh operasional usaha, maka menjadi enterpreneur adalah langkah yang paling tepat. Salah satu sifat yang harus dimiliki entrepreneur, menurut saya, adalah sikap greedy terhadap omzet dan profit.

Harus suka duit. Alias selalu ingin bisnis yang tumbuh. Yaitu menumbuhkan (to grow) kapasitas/kemampuan sistem bisnis dalam menghasilkan omzet. Kapasitas menghasilkan 10 juta rupiah, tentu berbeda dengan kapasitas menghasilkan 1 milyar rupiah. Untuk itu, si pemilik bisnis harus terus ikut mengembangkan kapasitas pribadinya.

Kenapa bisnis harus tumbuh terus? Being entrepreneur itu penuh dengan eksposur risiko. Dari eksternal, semisal pelanggan atau kompetitor. Dari internal, misal karyawan yang tiap tahun gaji harus naik (minimal mengikuti inflasi). Untuk mengasuransikan berbagai risiko tersebut, maka bisnis harus terus tumbuh omzetnya.

(3) Tidak melulu menjadi operator. Harus berkembang menjadi leader –dimulai dengan merekrut karyawan untuk menggantikan operasional harian. Mulai berubah dari sekedar pelaksana harian menjadi pemikir dan eksekutor aspek strategis: yang terkait dengan pertumbuhan usaha, dan berdampak jangka panjang.

Mulai menanamkan kepercayaan kepada orang lain. Berkomunikasi dan memberi contoh (role modeling) kepada karyawan. Hindari pemikiran, “Tidak ada saya, tidak akan berjalan ini usaha”. Terjebak dalam pemikiran tersebut akan membuat UKM selamanya tetap UKM.

Usaha yang dikerjakan seorang diri itu ibarat menjadi penjual nasi goreng. Semua serba dikerjakan sendiri. Pencarian lokasi usaha, investasi, belanja bahan baku, operasional harian, pencatatan keuangan, dst. Usaha susah berkembang kalau begini.

(4) Start action. Melakukan 1 langkah kecil ke arah yang tepat, adalah lebih baik daripada langkah besar yang terlampau lambat dieksekusi. Sebab bisnis tidak harus selalu punya rencana jangka panjang yang ditulis. Ada lebih baik, tetapi harus fleksibel dan tidak menghambat eksekusi.

Maka dari itu, anda tidak harus langsung resign. Justru kembangkan usaha sebelum anda mengundurkan diri. Atau sebelum anda dipecat. Atau sebelum anda pensiun. Atau sebelum bencana finansial –semisal utang kartu kredit yang terlampau banyak– mengguncang rumah tangga.

Rumah tangga yang keuangannya terguncang sangat berbahaya sekali. Mungkin anda sudah punya istri dan anak-anak yang harus diberi makan serta SPP yang harus dibayar. Atau kredit rumah dan kendaraan yang harus dicicil setiap bulan. Jangan sampai ini terjadi.

Sisi lain, pemahaman dan kemampuan akan standard kualitas produk/jasa belum dikuasai, sehingga harus bertahap membangun penguasaan atas kompetensi tersebut.

Ingat, bedanya bisnis 10 juta dengan bisnis 1 milyar terletak pada kemampuan mengelola bisnis tersebut. Kompetensi tidak datang dari langit. Tapi detilnya harus dipelajari secara rutin dan ekskalatif.

Namun demikian, fokus pastinya lebih baik. Daripada nyambi keduanya, lebih baik pilih salah satu dan kemudian fokuskan. Daripada target-target pekerjaan di kantor tidak tercapai, sementara permasalahan bisnis sendiri juga tidak kunjung tuntas terselesaikan. Daripada tetep bekerja dan mencuri-curi waktu kerja di perusahaan untuk aktivitas bisnis pribadi, lebih baik sekalian saja jadi full-time entrepreneur.

Maksud saya, pastikan tidak selamanya terjebak dalam dua dunia. Bila memang ada bisnis keluarga, lebih baik suami yang bekerja dan istri yang mengelola bisnis keluarga tersebut. Atau sebaliknya. Saya pribadi penganut “satu di antara sepasang suami-istri cukup satu saja jadi pekerja”, dengan yang lain sebagai pengelola bisnis.

Pamit Baik-Baik.

Etika tetap utama. Sikap kita menentukan bagaimana dunia akan bereaksi terhadap kita. Bila ingin resign, kemukakan baik-baik. Jangan sampai hubungan rusak. Kita tidak pernah tahu bagaimana rezeki –terutama yang melalui rekan lama– akan mampir ke kita.

Pergi tampak muka, pulang tampak punggung. Datang baik-baik, pamit dengan baik-baik. Lamar baik-baik sesuai mekanisme dan prosedur yang ditetapkan perusahaan, dan pamit pergi juga dengan cara yang baik.

Berapa fee untuk freelancer?


Pekerjaan freelance itu dilakukan oleh individu, bukan institusi. Namanya juga pekerja lepas ya. Selain individu, bisa juga mengajak sekelompok orang untuk menjadi freelancer pada suatu pekerjaan.

Intinya adalah sebuah pekerjaan dilakukan oleh pihak eksternal yang bukan merupakan institusi. Ikatan kerjasamanya pun bukan ikatan antara dua organisasi berbadan hukum. Sehingga perlakuan pajak di antara keduanya pun berbeda.

freelance bisa dari rumah

freelance bisa dari rumah

For some reason, orang-orang ini tidak diperlukan untuk memiliki visi, misi, dan nilai-nilai organisasi yang sama dengan people in organization. Alasan lain terkait pekerjaan lepas ini misalnya, pekerjaan ini tidak selalu ada. Sehingga tidak diperlukan orang khusus untuk mengisi posisi tertentu dengan job description yang spesifik pula.

Atau misalnya, sudah menjadi strategi perusahaan dalam menekan biaya gaji. Jadi untuk pekerjaan tertentu, mereka punya kebiasaan untuk meng-outsource pada pada freelancer. Padahal pekerjaan tersebut selalu ada di setiap waktu. Dengan demikian biaya gaji dan biaya lain-lain jadi tidak banyak.

Namun yang sering menjadi pertanyaan adalah, berapa fee yang layak saya (selaku pemberi pekerjaan) bayarkan? Atau sebaliknya, berapa fee yang pantas saya (selaku freelancer) ajukan? Urusan finansial ini kadang-kadang sering menjadi rumit.

Mungkin sebagian di antara pembaca blog ini pernah merasakan kegalauan serupa.

Freelancer pasang di harga tinggi, takut merusak relationship yang ada. Kalau belum kenal mungkin tidak masalah. Tapi kalau sudah langganan, pelanggan pasti bilang, “lha dulu ‘kan sekian aja, kok sekarang dinaikkan lagi?”.

Kalau sudah begini, freelancer tidak enak untuk tidak membantu.

Freelancer pasang di harga rendah? Takutnya lingkup pekerjaan berbeda dari bayangan. Sehingga potensi kerugian terbayang di depan mata. Kecuali sudah pernah melakukan yang sama persis. Kalau baru belajar kerja freelance, pasang harga rendah bisa ditujukan untuk membangun portfolio.

Pasang harga (lebih) rendah daripada sebagian besar freelancer lain berarti entry strategy dalam membangun hubungan bisnis dengan (calon) klien yang bersangkutan. Kalau sekali ini sudah berhasil, mudah-mudahan hubungan bisnisnya bisa berlanjut di waktu lain.

Kita coba telusuri dan analisis satu demi satu pilihan-pilihan yang tersedia. Yaitu bisa (1) berdasar waktu yang diperlukan, atau (2) berdasar target pekerjaan yang dibutuhkan oleh pemberi pekerjaan, dan atau kombinasi keduanya.

  • Dihitung berdasar waktu yang diperlukan

Basisnya adalah pengalaman. Jam terbang pastinya menentukan kualitas. Makin berpengalaman ya makin berkualitas dong. Makin berpengalaman maka freelancer dapat memasang harga yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Tapi ya itu hak dia kalau dia tidak mau.

Pengalaman pekerjaan freelancer juga dipengaruhi oleh jenis klien dalam portfolio yang dia punya. Pernah memegang klien-klien yang rumit, berarti dia bisa menyelesaikan persoalan yang kompleks.

Kalau portfolio-nya adalah klien-klien yang tidak menghendaki spesifikasi yang susah, nilai rupiah per waktunya jadi berbeda.

Faktor penentu lain adalah berapa lama karya tersebut bisa diselesaikan oleh sang freelancer. Makin berpengalaman maka makin singkat waktu yang diperlukan kala menyelesaikan serangkaian proses pekerjaan.

Jadi memang lama pekerjaan ini sangat ditentukan oleh pengalaman pekerjaan si freelancer.

  • Dihitung bersadar target pekerjaan yang harus diselesaikan.

Kalau yang ini sedikit tidak memandang deadline. Kira-kira, si klien akan bilang seperti ini, “pekerjaannya seperti ini, spesifikasi seperti ini yang harus anda penuhi, fee yang saya tawarkan adalah sekian”.

Pastinya tetap ada kapan pekerjaan harus sudah selesai. Meski demikian, hal tersebut agak diabaikan. Semata karena klien memprioritaskan kualitas pekerjaan yang dia inginkan.

Di sisi lain, ini bisa blunder bagi freelancer. Sebab ketika kualitas pekerjaan sesuai spesifikasi tidak kunjung tercapai, maka dia akan menghabiskan banyak waktu dengan klien tersebut untuk memperbaiki pekerjaan.

Atau kemungkinan lain, pembayaran pekerjaan menjadi telat. Biasanya karena klien emosi jiwa sedikit. Karena hasil kerja belum sesuai harapan tapi sudah minta pembayaran.

  • Kombinasi keduanya.

Target spesifikasi jelas. Deadline jelas. Mungkin freelancer akan sedikit keberatan dalam hal ini. namanya juga freelance, ‘kan? Dia harus membagi-bagi waktu untuk beberapa pekerjaan freelance yang dia ambil.

Karena freelance tidak setia dengan sebuah institusi pemberi kerja. Kalau setia itu sama dengan menjadi karyawan di sana. Kalau demikian, sekalian saja minta asuransi, COP, reimbursement, dll, hehe 😀

For some freelancer, mengalihkan konsentrasi dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tidak lah semudah membalik telapak tangan. Kecepatan adaptasi tiap reelancer berbeda-beda. Ada unsur mood yang harus beralih, ada ingatan/dokumentasi terdahulu yang harus dipulihkan sesaat sebelum mulai bekerja lagi.

Sebagai penutup, mari ingat kembali bahwa freelancer itu bukan karyawan tetap. Jadi mestinya dia tidak menerima hak-hak para karyawan tetap. Semisal asuransi, reimbursement, dan lain-lain yang menjadi ketentuan di institusi tersebut. Ada proses rekrutmen, seleksi, training, dan sebagainya yang membedakan karyawan tetap dengan para freelancer. Freelance is project-based work. Freelancer hanya dibayar atas apa-apa yang dia kerjakan. Perhitungan bisa berdasar (1) lama pekerjaan, atau (2) target pekerjaan, atau (3) kombinasi keduanya.

Masjidpreneurship


Di buku Marketing to Middle Class Muslim (GPU, 2014), kami telah menyebutkan bahwa Masjid memiliki potensi sebagai pusat ekonomi dan kewirausahaan (halaman 207). Mengapa masjid memiliki potensi tersebut? Sebab pada dasarnya masjid sebagai sebuah tempat ibadah yang menyelenggarakan shalat wajib sebanyak 5 kali dalam sehari, telah memiliki dua modal besar untuk dikelola lebih lanjut dalam semangat kewirausahaan (entrepreneurship).

Related Posts: 
Komunitas: Driver Pasar Muslim 
The Years of Social Connection 

Yakni crowd (keramaian) dari jamaah yang beribadah di masjid tersebut dan communities (komunitas-komunitas) yang banyak beraktivitas di lingkungan atau kompleks masjid. Patut kita ingat bahwa komunitas-komunitas yang terbentuk di lingkungan masjid tentu saja adalah komunitas yang memiliki kesamaan kepentingan (common priorities), yaitu untuk beribadah dan mencari kebaikan di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Berikut adalah beberapa ide hasil diskusi internal kami mengenai potensi-potensi lanjutan yang dapat dieksplorasi dan dimonetisasi lebih lanjut oleh para pengurus (takmir) masjid dalam rangka mewujudkan Masjid yang lebih entrepreneurial.

Kemandirian Ekonomi
Masjid sudah memiliki “modal” awal finansial, yaitu dari berbagai dana zakat, infaq, shadaqoh, wakaf (ZISWAF) yang terhimpun dari jamaah masjid. Dana ZISWAF ini dapat membiayai seluruh kegiatan yang diselenggarakan di lingkungan masjid. Ini belum termasuk potensi pembiayaan dari pendapatan pengelolaan bisnis yang dikelola secara professional di kompleks masjid. Misalkan masjid yang mengembangkan ritel consumer goods atau ritel fesyen hijab untuk memenuhi kebutuhan jamaah. Atau masjid yang mengembangkan usaha bisnis berbasis layanan travel haji dan umrah.

Organisasi yang dibentuk haruslah bukan murni business enterprise yang melulu mencari laba (profit-oriented), tapi social enterprise di mana setiap keuntungan yang diperoleh harus sebesar-besarnya dikontribusikan untuk kemanfaatan umat (social welfare). Format social enterprise ini menurut kami sudah dijalankan secara baik sekali oleh LAZ (lembaga amil zakat) modern seperti Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Menariknya, keseluruhan aktivitas kedua LAZ tersebut sudah dilakukan dengan sangat professional layaknya business enterprise dengan manajemen yang tertata rapi.

Edukasi Berbasis Event
Di samping untuk ibadah dan dakwah, kini masjid juga digunakan untuk mengkaji ilmu, berkesenian, menjalankan kegiatan sosial, serta bergaya hidup muslim modern. Artinya masjid kekinian merupakan channel untuk menyalurkan konten-konten keislaman. Format yang rutin digunakan adalah event; seperti misalnya seminar, training atau workshop sehari, pengajian rutin, pernikahan, dan lain sebagainya. Format event juga merupakan sarana offline dalam mempertemukan para anggota komunitas yang kini getol bergaul di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path, dan sebagainya. Kami membayangkan bahwa semakin banyak dan beragam kegiatan yang diselenggarakan di kompleks masjid akan semakin meningkatkan jumlah jamaah yang berkunjung untuk beribadah di sana.

Sebagaimana yang kita pelajari dari marketing hijab yang dilakukan secara horizontal, maka pendekatan yang dilakukan terhadap komunitas juga harus peer to peer. Artinya, pendekatan yang dilakukan harus secara personal dan sosial kepada sekitar anggota komunitas, semisal keluarga, kolega, dan teman-teman. Namanya saja horizontal, pendekatan-pendekatan ini haruslah menyebarkan kesadaran keislaman dengan pendekatan yang teduh, simpatik, inklusif, dan tidak menggurui.

Lebih Modern dan Inklusif
Untuk mewujudkan kedua hal di atas, kuncinya adalah pengelolaan masjid secara lebih professional, modern, menggunakan teknologi, serta bersikap inklusif terhadap semua kalangan. Dengan mengambil sikap lebih modern dan lebih inklusif, masjid kemudian dapat berperan lebih dari sekedar tempat ibadah. Maksudnya adalah masjid melebur dan menyatu dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Kita bisa mengambil beberapa contoh positif dari beberapa masjid yang telah melakukan transformasi tersebut, berikut ini.

Pesantren dan Masjid Daarut Tauhid (DT) di Geger Kalong Bandung adalah contoh komunitas masjid dengan spirit kewirausahaan yang luar biasa. Sejak dirintis oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di tahun 1990, kompleks masjid DT menjadi sebuah kampung wirausaha muslim yang tumbuh pesat. Komunitas masjid ini mengembangkan unit-unit usaha seperti koperasi, jasa travel umroh, makanan/minuman, bahkan media, untuk menangkap pasar para jamaah dan santri yang sangat lukratif. Walaupun DT tidak seramai dulu, namun geliat kewirausahaan dan aktivitas perekonomiannya masih terasa dan menjadi role model kewirausaahan masjid yang selalu solid.

Contoh lain adalah Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Masjid ini dikelola dengan sangat professional, terutama dalam aspek bisnis dan keuangan. Yang menarik adalah, uang yang dihasilkan oleh sedekah Jum’at tiap minggunya tak hanya disalurkan untuk pembangunan dan perawatan masjid secara berkala’ melainkan juga dikelola untuk berbisnis. Bisnis inilah yang kemudian terus memberikan penghasilan bagi kemakmuran masjid, bahkan juga bagi masyarakat sekitar masjid. Dari pendapatan bisnis tersebut, kemudian disusun dan dialokasikan ke program-program sosial-kemasyarakatan bagi masyarakat sekitar Jogokariyan.

Jadi kuncinya adalah bagaimana masjid mencoba mencari dan mensolusikan masalah-masalah yang dialami oleh masyarakat secara umum, dan para jamaah masjid secara khusus. Sebab itu pengurus masjid kekinian juga harus mulai berpikir lebih kreatif dan inovatif. Nah, mestinya masjid-masjid di seluruh pelosok tanah air, besar maupun kecil, juga bisa mengambil model pengelolaan seperti halnya yang dijalankan oleh kedua masjid yang kami sebutkan di atas.

Mengapa Harus Menteri Marketer?


Beberapa waktu lalu presiden terpilih Jokowi mengeluarkan pernyataan menarik, yaitu bahwa menteri haruslah jago marketing. Jokowi mengungkapkan bahwa menteri-menterinya (khususnya untuk jabatan-jabatan strategis tertentu) haruslah mampu memasarkan produk-produk Indonesia di pasar global. Di industri kreatif misalnya, kita punya potensi produk yang luar biasa mulai dari kerajinan, seni tari, musik, video, games, animasi hingga film.

Menteri-menteri jago marketing ini pas jika ditempatkan di pos-pos strategis seperti Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Industri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Maritim, dan lain-lain. Pernyataan Jokowi di atas menjadi relevan kalau kita melihat peta politik-ekonomi di tingkat regional maupun global dan momentum menggeliatnya pasar domestik oleh tumbuh pesatnya kelas menengah kita.

Kenapa menteri-menteri di posisi strategis tersebut harus memiliki karakter marketer? Kami memiliki tiga challenges yang bakal dihadapi oleh bangsa ini dalam jangka pendek maupun panjang.

Competition Challenge
Challenge pertama yang telah ada di hadapan kita tahun depan adalah dimasukinya era pasar bebas Asean (Masyarakat Ekonomi ASEAN, MEA). Di bukanya pasar bebas ASEAN sekaligus menandai terbukanya kompetisi antar pemain di kawasan ini. Dalam konteks persaingan ini kondisinya meresahkan karena daya saing pemain-pemain lokal kita masih kalah dibanding pemain di negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan sebagainya. Ketika daya saing belum kuat, maka skenario yang bakal terjadi adalah di era MEA nanti kita “dimanfaatkan” bukan “memanfaatkan.”

Dengan challenge semacam itu, maka tugas menteri untuk membangun daya saing pemain di sektor-sektor strategis seperti sektor industri, perdagangan, BUMN, ekonomi kreatif, dan UKM, menjadi demikian krusial. Mereka mengemban amanat untuk mendongkrak daya saing pemain lokal melalui peningkatan kemampuan modal, teknologi, manajemen, dan SDM agar kompetitif di pasar regional/global. Mereka harus mengenyahkan mental birokrat dan menggantinya dengan mindset marketer/entrepreneur.

Singapura adalah contoh kasus menarik bagaimana para menterinya memiliki mindset marketer/entrepreneur. Dengan menteri-menteri berwawasan marketer/entrepreneur ini, mereka menyulap negara kota ini menjadi regional hub bagi perdagangan, pariwisata, pendidikan, hiburan, bahkan sport.

Market Challenge
Challenge kedua adalah potensi pasar Indonesia yang sangat besar, yang seharusnya bisa menjadi daya tawar ampuh untuk mengembangkan sumber daya dan daya saing pemain lokal agar mampu berbicara di kancah global. Pasar domestik yang besar itu seharusnya bisa dipakai sebagai wahana berlatih dan mengasah diri para pemain lokal agar mereka memiliki kapasitas setara dengan perusahaan global.

Kami sering menggambarkan Indonesia saat ini sebagai “gadis molek” yang dilirik oleh investor dan perusahaan manapun di seluruh dunia. Jumlah penduduk yang besar, pendapatan perkapita yang telah mendekati US$5.000, dan basis konsumen kelas menengah yang siknifikan, menjadikan Indonesia sebagai pasar yang atraktif bagi perusahaan-perusahaan global dari manapun di seluruh dunia. Tak heran jika Indonesia mendapatkan rating istimewa dari lembaga-lempbaga pemeringkat bergengsi seperti S&P, Moody’s atau Fitch.

Untuk menjadikan potensi pasar domestik yang sangat besar ini dibutuhkan menteri-menteri yang memiliki mindset marketer/entrepreneur. Seorang menteri marketer/entrepreneur akan mampu merumuskan formula yang pas untuk di satu sisi menarik invastasi asing ke Indonesia, tapi di sisi lain semaksimal mungkin memanfaatkan kehadiran investasi asing tersebut untuk sebesar-besarnya keuntungan rankyat Indonesia. Menteri yang marketer/entrepreneur akan cerdas memanfaatkan kekuatan pasar Indonesia sebagai medium untuk menempa daya saing pemain lokal di pasar domestik dan kemudian siap tinggal landas memasuki pasar global.

Brand Challenge
Challenge terakhir adalah berkaitan upaya bangsa ini membangun brand lokal yang kokoh baik di kalangan perusahaan besar, menengah, maupun kecil. Dalam berbagai kesempatan seminar, kami sering mengatakan bahwa negeri ini sudah dalam kondisi kritis dalam hal kedaulatan brand, kenapa? Karena kita melihat kenyataan pahit di mana brand asing sudah demikian mendarah daging menguasai negeri ini.

Di hampir semua industri, mulai dari telekomunikasi, perbankan, otomotif, makanan/minuman, farmasi, kosmetik, toiletris, ritel, elektronik rumah tangga, gadget, pertambangan, alat berat, periklanan, riset pasar, bahkan e-commerce, negeri ini sudah “ditawan” oleh brand asing. Dengan pahit kami katakan dalam hal brand negeri ini masih belum merdeka. Kita memiliki kemerdekaan brand hanya jika merek lokal kita berjaya di negerinya sendiri, menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Nah, dalam konteks urgensi inilah kehadiran menteri marketer/entrepreneur begitu penting. Menteri Perindustrian, Perdagangan, Ekonomi Kreatif, Maritim, hingga Menteri Koperasi dan UKM haruslah bahu-membahu membangun awareness mengenai kondisi “darurat brand”, kemudian mengambil langkah-langkah strategis untuk membangun brand-brand lokal yang tak hanya mampu menjadi di tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga berjaya di pasar internasional.

Semoga menteri marketer akan membawa kebaikan bagi negeri ini.

Sedekah Mindset


Di koran Kompas edisi Jumat lalu, 14 Februari 2014, pada halaman 7, Dawam Raharjo menuliskan tentang peran Dompet Dhuafa selaku  institusi sosial yang turut serta dalam pembangunan. Khususnya melalui berbagai program pendidikan dan kesehatan yang mereka jalankan. Akumulasi donasi ini berperan besar dalam pembangunan infrastruktur (sekolah, rumah sakit, puskesmas, posyandu, dsb) hingga dapat membiayai berbagai jenis biaya operasional (beasiswa, gaji karyawan Dompet Dhuafa, dsb).

Konsep sedekah sebanyak-banyaknya juga kian didengungkan oleh para pebisnis. Khususnya dari kelompok UKM (usaha kecil menengah). Kelompok pengusaha ini meyakini bahwa makin banyak memberi, akan berdampak positif pada omzet dan cash inflow perusahaan. Keyakinan ini yang mereka sebarluaskan. Baik lewat media seperti buku populer, website dan akun social media, hingga offline movement yang langsung turun menjemput dan mendistribusikan sedekah. Contoh: Sedekah Rombongan yang dipopulerkan oleh mas @Saptuari.

Sedekah yang banyak, lalu bangun network seluas-luasnya, kemudian berharap omzet turun dari langit. Laba yang diterima, dipakai untuk pengembangan usaha. Sedekah mindset-nya tidak salah, tetapi tidak bisa hanya satu cara tersebut dipakai untuk membesarkan bisnis. Karena membesarkan bisnis itu ada strateginya. Klub sepakbola saja ada strategi bisnisnya. 🙂

Para pemimpin wilayah terkini, khususnya mereka yang sedang beken dan belakangan banyak disebut di media adalah para pemimpin yang men-sedekah-kan dirinya untuk masyarakat. Ambil contoh Kang Emil di Bandung, Bu Risma di Surabaya, Pak Jokowi di Solo, dan beberapa contoh lainnya. Mereka adalah pejabat kota yang ikhlas bekerja untuk kotanya dan rakyatnya. Tidak tampak unsur pencitraan (untuk personal branding), atau keinginan untuk melakukan korupsi. Mindset-nya sudah bersedekah, alias sudah “memberi”.

Di samping tokoh-tokoh politik dengan sedekah mindset, juga lahir beragam komunitas dengan sedekah mindset. Mulai dari akademi  berbagi, Komunitas Memberi, TEDx, dan lain sebagainya.

Tentang Komunitas Memberi. Ini adalah komunitasnya UKM (usaha kecil menengah), dan komunitasnya para profesional. Kelompok UKM-nya tergabung sebagai penerima manfaat, sedangkan kelompok profesionalnya mengerucut menjadi “pemberi” manfaat. Bisa tebak sendiri ya mengapa namanya “Komunitas Memberi”. 🙂

Bagian tak terpisahkan dari Bisnis
Saya kira Google adalah perusahaan ber-“sedekah mindset” terbesar di dunia. Betapa tidak, hampir semua kebutuhan internet kita sudah diberikan secara gratis oleh Google. Pembayarnya sudah ada. Jadi model bisnisnya memang sangat menguntungkan kita sebagai pengguna – karena diberi secara cuma-cuma —tetapi perusahaan tersebut tetap bisa untung (profitable), bahkan tumbuh berkembang ke seluruh dunia.

Model bisnisnya seperti kita menonton saluran televisi di Indonesia. Kita tinggal menyaksikan layar kaca saja. Jadi pihak pengiklan yang membayar ke saluran televisi. Sebagian besar model bisnis Google memang seperti itu. Misal, gratis menggunakan mesin pencari. Tapi bagi yang ingin tampil di deretan atas mesin pencari (sebagai iklan), silakan membayar. Atau, gratis menggunakan Google Drive, tetapi hanya sampai kapasitas tertentu. Untuk kapasitas berlebih harus membeli.

Di negeri sendiri, ada direktur utama perusahaan negara (baca: BUMN),yang menggelorakan great spirit IHSAN di kantornya. IHSAN adalah kata dalam bahasa arab. Artinya kurang lebih “to be the best”. Beliau adalah Pak Arief Yahya, Dirut TELKOM. Sebagaimana tercantum dalam buku terbaru beliau, Great Spirit Grand Strategy: “Saat kita tidak mengharapkan semuanya, justru kita akan mendapatkan semuanya.”

Creating Shared Value
Tidak cukup hanya dengan sedekah mindset saja. Tapi kebaikan dan manfaat yang lebih besar bisa kita petik, manakala kita menyatukannya dengan bisnis. Inilah yang digagas oleh Michael Porter, seorang begawan strategi bisnis yang sudah mendunia. Menurut beliau, persoalan pada lembaga non-profit semacam LSM (lembaga swadaya masyarakat) atau konsep CSR (Corporate Social Responsibility) yang dieksekusi oleh perusahaan-perusahaan adalah  lemah pada tingkat scalability. Alias sulit untuk dibuat menjadi besar (atau sangat besar) karena terkendala kurangnya resources.

Proyek-proyek LSM sulit ditingkatkan penerima manfaatnya, karena dananya hanya berasal dari donasi dan kebaikan hati orang lain. Kegiatan-kegiatan CSR juga berat untuk dibuat dalam ukuran yang lebih besar, semata karena mengandalkan sekian persen dari laba perusahaan di tahun finansial yang lalu. Jadi ide yang paling mendasar dari Professor Michael Porter ternyata relatif sederhana –meski harus menggunakan perspektif yang tepat. Yaitu, bagaimana menyusun business model (suatu pendekatan dalam memandang apa saja yang kita lakukan dalam bisnis) yang tepat untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terjadi –dan tetap mendapatkan untung.

Penutup
Sedekah mindset kini menjadi suatu social proof. Artinya adalah semakin banyak orang yang melakukan, maka semakin terasa hal tersebut terasa benar/baik untuk mereka yang belum melakukan. Social proof adalah bukti dari lingkungan sosial bahwa ikut terlibat di dalam aksi-aksi sosial yang semakin mewabah, merupakan hal yang baik.

Utan Kayu, 16 Februari 2014

Paradoks Kelas Menengah


volume penjualan kendaraan bermotor naik berlipat-lipat karena keberadaan kelas menengah

Kemarin pas lagi ngobrol ma temen, dia nanya “Kelas menengah itu definisinya apa sih?”

Saya jawab saya, “Ya kelas yg di tengah. Bukan di atas, bukan pula di bawah. Tapi bisa berbeda tergantung definisi yang digunakan”

Kemudian saya lanjutkan, “Jadi secara ekonomi, mereka ini kelompok masyarakat yang tidak terlalu kaya, tidak pula terlalu miskin. Ini satu definisi ya. Yang lain melibatkan aspek sosial dalam definisinya. Jadi kelas menengah yang tidak saja menempati kelas ekonomi menengah, tetapi juga secara struktur sosial  kemasyarakatan tidak menempati kasta terendah tapi juga bukan termasuk kalangan birokrat atau pun anggota dewan”

“Bahkan  kabarnya,  minimnya kelas menengah menjadi sebab runtuhnya eksistensi Yunani zaman dahulu. Karena strata sosial ekonomi hanya terbagi dua, yaitu kalangan keluarga kerajaan serta kelompok petani miskin. Yang berkuasa secara politik juga memiliki kuasa atas ekonomi, sementara kelompok penyedia barang dan jasa relatif tidak bertambah. Sehingga rantai supply-demand tidak berputar signifikan maka dalam jangka panjang aktivitas ekonomi praktis menjadi stagnan”

“Kalau di kantor saya, aspek kelas menengah tidak sekedar sosial ekonomi saja. Melainkan juga koneksi sosial, tingkat pengetahuan serta sumber daya modal yang dimiliki. Makanya kelas menengah jadi menarik dibahas, karena apa yang terlihat belum tentu mencerminkan yang sebenarnya. Karena koneksi sosial serta pengetahuannya turut membentuk perilakunya”

“Misal, rumahnya bagus, punya kendaraan, penampilan oke, perabot rumah tangga dan perangkat elektronik oke punya. Tapi ternyata hampir semua dibeli dengan cara kredit.

Atau contoh lain, engga punya aset tradisional seperti tanah. Tetapi ternyata asetnya berupa saham atau obligasi.

Satu lagi adalah, lebih percaya kolega dan peers-nya ketimbang media tradisional. Keputusan belanja dibuat berdasar apa kata teman, atau apa kata keluarga. Biasa bertanya atau observasi di media sosial.”

cek juga artikel terkait berikut: