Menulis Untuk Diri Sendiri


Yang baca tulisan ini mungkin seorang sarjana, mungkin juga sedang menempuh Pendidikan (alias masih mahasiswa/anak sekolah). Sudah biasa menulis, terutama di sekolah. Karena kita belasan tahun belajar (membaca dan menulis), sudah seharusnya menulis adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Logika umumnya begitu. Bahkan, banyak sekali anggapan bahwa semua orang bisa menulis.

Yang kedua adalah bahwa seakan-akan pembaca dari tulisan kita selalu orang-orang di luar kita. Hampir gak ada tuh yang namanya diri sendiri sebagai pembaca.

Saya, terus terang berada di pihak yang berseberangan dengan kedua pendapat tersebut.

Dan saya ada tiga alasan mengapa kita sesekali butuh untuk menjadikan diri kita sebagai pembaca dari tulisan kita sendiri.

menulis 1

Pertama, menulis itu menyembuhkan diri sendiri.

Kehidupan modern jaman now ini, banyak menyebabkan iri hati. Apalagi ada social media sebagai amplifier alias penguat message. Teman yang lanjut sekolah, lha. Kita belum ada waktu dan uang untuk meneruskan pendidikan. Teman yang jalan-jalan ke luar negeri, lha. Sama: belum ada waktu dan uangnya. Haha. Teman yang karirnya bagus, teman yang mengumumkan akad dan resepsi pernikahannya, teman yang keluarganya berbahagia dari kelahiran putra/putri pertama, kedua, dan seterusnya. Sementara kita masih single/jomblo/you name it. Semua itu bisa menyebabkan kegalauan. Memang sih, pilihannya kembali ke diri sendiri. Tergantung kamu mau memilih untuk galau atau tidak.

Salah satu cara menghindari kegalauan adalah dengan menulis. Mengapa menulis? Karena menulis itu menuangkan kegelisahan kita. Tapi kita tidak membuat diri sendiri malu, kok. Karena hanya kita seorang diri yang membaca. Menulisnya juga jangan di sembarang tempat. Kalau dulu -puluhan tahun yang lalu- ada namanya diary, sekarang diary-nya bisa digital. Bahkan di wordpress.com pun, bisa di-setting supaya tidak tayang.

Kedua, menulis itu untuk berekspresi.

Ada public area, ada private area. Orang-orang suka lupa membedakan keduanya. Apalagi di jaman socmed begini. Sering lupa juga dia berada di area yang mana. Atau, ada orang yang terlampau sering berada di public area. Sehingga lupa bahwa dia punya private area yang seharusnya menjadi tempat dia kembali ke dirinya sendiri. Saya menyebut orang-orang yang tidak punya hobi itu, sebagai tidak punya private area. Hahaha. Atau, terlampau asyik dengan dirinya sendiri sehingga lupa berbicara dengan para khalayak di public area.

Yang ingin saya sampaikan adalah menulislah untuk mengekspresikan perasaan (isi hati) maupun pikiran/pengetahuan (isi kepala) di area privat anda.

Social media itu ruang publik. Bisa menjadi sarana berekspresi. Kapan sebaiknya tidak berekspresi? Kalau yang kita ingin ekspresikan itu penuh dendam, memuat konten SARA, sesuatu yang membuat diri kita malu, dst.

Misalnya kamu seorang singlelillah atau jomblo fii sabilillah, mungkin kamu belum punya orang yang tepat untuk mendengarkan perasaan atau ekspresi kamu sendiri. Maka menulislah untuk mengekspresikan perasaan yang hanya akan didengarkan oleh dirimu sendiri.

Ketiga, menulis itu untuk merapikan pengetahuan.

Menulis itu cara lain, sih. Cara paling utama merapikan isi kepala itu adalah dengan tidur cukup dan tepat waktu. Cukup artinya, minimal enam (6) jam. Tepat waktu artinya, tidak tidur terlalu larut sehingga bisa bangun sebelum adzan subuh. Itu cara pertama mengorganisasikan dan menyusun ulang isi kepala kita. Di samping itu, tidur tepat waktu dan tepat jumlah adalah cara menetralisir racun-racun dalam tubuh. Memang, organ hati kita bekerja maksimal di malam hari.

Tidak harus kamu adalah siswa/mahasiswa yang belajar di sekolah/kampus sehingga kamu berkewajiban merapikan pemahaman kamu, mumpung ujian masih lama. Sehingga tidak SKS (sistem kebut semalam). Tidak harus juga kamu adalah karyawan di kantor yang learning by doing atau sedang dalam OJT (On Job Training) sehingga kamu harus mengelola ilmu/pengetahuan dengan baik.

Tapi simply karena segala aktivitas harian kita itu ada ilmu, ada renungan yang bisa kita ambil, maka menulislah. Terutama dalam bentuk diary, ya. Ketika kita sudah menulis, lalu flashback ke tulisan-tulisan sebelumnya kita jadi tahu kita pernah melakukan apa. Banyak orang tidak reflektif dalam hidupnya. Lupa dia pernah mengerjakan apa. Tidak tahu apa yang dia capai. Sehingga, dia lupa merencanakan apa-apa yang mau dia raih. You understand what I mean, didn’t you?

Bisa saya katakan, menuliskan ulang informasi atau pengetahuan yang kita dapat, itu sangat bermanfaat untuk karir kita ke depan. Bisa juga kita menuliskan angan-angan/rencana/mimpi-mimpi yang kita targetkan untuk bisa terwujud dalam beberapa waktu ke depan. Apakah kita pekarya atau pekerja, menulis tentang ilmu pekerjaan sendiri, pasti akan ada manfaatnya dalam pekerjaan/profesi yang kita geluti.

Resensi Dua Novel


Dua novel berikut ini untuk menambah referensi maupun perspektif baru anda. Kalau (terpaksa) dianalogikan dengan coding di industri digital, ini adalah upaya untuk menambah library kamu. Di samping juga untuk memperkaya cara berekspresi via tulisan.

Instead of setia terhadap karya-karya penulis seperti Tere Liye, Dewi Lestari, Adhitya Mulya, alangkah baiknya untuk menambah perspektif baru dari penulis dari dua buku yang saya bahas berikut ini.

cinta-tak-pernah-tepat-waktu-back

Yang pertama adalah Cinta Tidak Pernah Tepat Waktu dari Puthut EA. Siapa yang menulis, menjadi pertimbangan bagi saya dalam memilih novel. Puthut EA ini editor senior, termasuk pendiri dan pemilik kira-kira untuk media digital kekinian dengan brand Mojok (www.mojok.co).

kambing-dan-hujan-new

Yang kedua adalah Kambing dan Hujan yang dikarang oleh Makhfud Ikhwan. Dasar ceritanya adalah perbedaan-perbedaan dalam praktik beragama antara Nadhlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah. Makhfud mengilustrasikannya dengan baik sekali via keberadaan dua masjid di sebuah kampung; satu Masjid Utara, satunya adalah Masjid Selatan. Penulis mengekspresikan plot cerita lewat sejarah pemikiran-pemikiran, maupun upaya-upaya dari tokoh-tokoh –bisa disebut persaingan antar masjid-di antara kedua masjid tersebut. Cerita ini menarik sekali karena disentuh dengan pendekatan seorang pemuda dan seorang pemudi yang baru saja wisuda dan ingin menikah. Si pemuda biasa berjamaah di masjid utara, sedangkan si perempuan biasa berinteraksi dengan masjid selatan.

Sebagaimana disampaikan di kaver belakang, karya Puthut EA berkisah tentang pergolakan pemikiran, goncangan batin, pencarian cinta, dan upaya untuk menyembuhkan diri dari penyakit yang diderita sang tokoh utama.

Sebagai lelaki, saya gemes melihat si tokoh utama ini. Galau terus, susah move on, gak mencari solusi atas ke-jomblo-annya. Saya dulu mengalami hal yang sama #eeaaaa tapi bagaimanapun juga life must go on hidup harus berjalan terus dengan atau tanpa dia. Namun ke-gemes-an itu justru mendorong untuk menyelesaikan novel ini. Apakah sang tokoh utama kiranya akan mencapai plot yang dikehendaki oleh semua pembaca? Yaitu, sukses mengatasi semua problematika hati dan pikiran tersebut sehingga berhasil merangkai cinta dan mengakhirinya di pelaminan bersama seorang wanita?

Di ujung akhirnya agak gantung. Karena penulis tidak menceritakannya sampai ke sana. Tapi, teknis kepenulisannya secara tersirat berhasil menyatakan kepada pembaca bahwa si tokoh utama berhasil move on setelah gagal untuk kesekian kalinya—telat menyatakan cinta hanya beberapa minggu kepada kasir sebuah kafe—yang kebetulan duduk bersebelahan dalam sebuah kereta dan ternyata wanita yang bersangkutan baru saja menikah.

Info menarique tentang kategori pekerjaan “Pembunuh Bayaran”:

  • Buku A = Buku yang dianggap penting oleh tiap pembunuh bayaran. Tanpa dibayar. Sebagai pernyataan sikap politik maupun ideologinya.
  • Buku B = Buku proyek pribadi si pembunuh bayaran, semisal novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dll.
  • Buku C = Buku yang dianggap cukup penting, dengan imbalan yang memadai.
  • Buku D = Proyek senang-senang: menovelkan film, membantu menuliskan pengalaman para teman, yang biasanya berawal dari rasa senang dan ingin mencoba hal-hal yang baru.
  • Buku E: Buku yang dibuat oleh seseorang untuk tujuan-tujuan tertentu. Biasanya yang membuat adalah para pejabat, konglomerat, atau artis.

Bagaimana dengan karya Makhfud Ikhwan? Saya mengagumi karya ini karena direkayasa sedemikian rupa. Dalam istilah saya, fiksi ini ditulis dengan pendekatan non-fiksi. Tentu ini sok tahu-nya saya. Tapi maksud saya begini: pengumpulan fakta dan data dulu—kisah cinta tertolak antara insan NU dengan insan Muhammadiyah pastinya sangat menarik. Diikuti dengan penyusunan plot demi plot cerita. Penetapan nama dan pembentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Analog dengan pengembangan aplikasi digital, setiap perpindahan server dan environment yang baru, penulis selalu melakukan penyesuaian ulang, apakah setiap kata, kalimat, dan paragraph koheren menyusun cerita yang menarik.

Kambing dan Hujan itu, pemberian judul yang menarik. Tapi analoginya kurang masuk bagi saya. Kambing memang menghindari hujan, namun hujan tidak menghindari kambing, ‘kan? Padahal kedua ayah yang diceritakan memang saling menghindari satu sama lain.

Omong-omong, karya Makhfud Ikhwan ini menjuarai sayembara novel dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di tahun 2014.

Langkah-Langkah Mengembangkan Konten yang Search Engine Friendly Namun Memuaskan Para Pembaca


Tuntutan pada pembuat content marketing semakin berat. Konten tidak hanya harus berhasil menembus halaman pertama SERP (search engine result page) saja, namun juga harus memuaskan para pembaca.

Bagaimana melakukannya? Update kali ini coba membahas bagaimana merealisasikan dua target tersebut. Yakni konten muncul di halaman pertama serta pembaca mendapat manfaat dari konten tersebut.

Ada dua aspek. SEO dan copywriting.

SEO itu adalah seni membuat konten tampil di halaman pertama hasil pencarian.

Kita sudah tahu bahwa SEO bertujuan meningkatkan relevansi artikel di mata mesin pencari sehingga bisa menempati peringkat teratas dari search result.

Sedangkan copywriting adalah seni menuliskan konten sehingga konten tersebut memuaskan, mencerahkan, atau menghibur pembacanya.

Jadi, SEO Copywriting berarti seni menuliskan konten sehingga tidak hanya memberikan pengalaman membaca yang terbaik, tetapi juga konten tersebut sukses muncul di urutan teratas hasil pencarian.

Yaitu memformulasikan kata demi kata, hingga kalimat demi kalimat, sehingga berhasil mempersuasi pembacanya untuk melakukan aksi-aksi tertentu (membeli, berlangganan melalui email, dsb) namun tetap akrab dengan mesin pencari.

Berkawan akrab dengan mesin pencari, adalah sebuah awal menuju rangking yang lebih tinggi dibandingkan dengan konten dari kompetitor yang mentargetkan hasil pencarian sejenis.

Nah, bagaimana caranya? Dalam artikel ini kita akan membahas secara lengkap dan detil beberapa tips-tips utama dalam membuat artikel blog yang ramah terhadap SEO – Search Engine Optimization (SEO) sekaligus pembaca.

(1) Tidak terlampau banyak keyword (kata kunci) langsung; melainkan buatlah tulisan yang manusiawi -bukan untuk menipu mesin– tetapi untuk pembaca.

Kreatif memanfaatkan bentuk lain dari keyword, seperti sinonim, definisi, variasi kosakata, dan lain sebagainya dari keyword yang kita targetkan.

Penempatan kata kunci bisa dengan kata kunci tersebut, atau gunakan kosakata/frase berbeda yang tetap merepresentasikan maksud yang sama. Sebenarnya, makin beragam kosakata yang digunakan, akan semakin disukai oleh Google.

Ingat kembali bahwa pengguna internet yang datang ke Google itu belum persis tahu apa solusi untuk kebutuhan atau masalah dia. Jadi dia akan mencari tahu. Mulai dari produk/layanan apa yang tepat, produk/layanan dengan harga terjangkau, dan lain sebagainya.

Harus kita ketahui bahwa keyword merupakan bentuk upaya kita untuk melakukan targeting (sebagai bagian dari STP) terhadap (calon) pelanggan. Sehingga keberadaan keyword dengan sendirinya akan meng-efisien-kan aktivitas dan proses pemasaran.

Mengenai keyword, instead of berperang di keyword yang hanya sedikit kata (short tail keyword), yang semakin lama persaingannya semakin ketat. Makanya sudah waktunya berpaling ke long tail keyword.

Contoh. Daripada hanya “service AC”, lebih baik “jasa service AC di Jogja”, misalnya. Atau “jasa service AC murah di Jogja”, dst. Jadi gunakan paling sedikit 4 kata. Konsekuensinya adalah kita harus lebih banyak mentarget long tail keyword. Tapi tidak apa. Yang penting kan berumur panjang.

Keyword-nya harus konsisten dan masuk dalam berbagai elemen dalam artikel ya. Misalnya di judul artikel, di slug, hingga di dalam artikel itu sendiri. Berapa jumlahnya? Sebanyak keyword density yang disarankan saja.

Keyword density. Mesin Google punya word counter. Jumlah keyword dibandingkan terhadap jumlah kata dalam konten tersebut. Targetnya sekitar 2%-3%. Terlalu banyak akan membuat Google menganggap konten tersebut adalah “sampah”.

(2) Menurut sebuah sumber –saya sampai lupa sumbernya, tetapi saya memang berulangkali menemukan this figure— rerata panjang artikel dari artikel-artikel yang menempati halaman pertama adalah sebanyak kurang lebih 2,000 kata.

Maksudnya adalah kita perlu menjunjung tinggi kualitas tulisan serta memperbanyak volume tulisan (jumlah kata) lewat analisis/pembahasan mendalam tentang gagasan yang kita tuangkan ke dalam artikel tersebut.

Fokuskan tulisan sebagai sebuah jawaban utuh atas pertanyaan yang merupakan rasa keingintahuan calon pembaca yang kita target.

Dalam proses membuat tulisan yang mendalam, riset harus dilakukan secara intensif. Situs seperti http://www.quora.com dapat menjadi referensi untuk mencari tahu pertanyaan relevan terkait dengan topik yang kita kemukakan.

Rahasia lain untuk mendapat konten berkualitas adalah dengan melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan seorang expert mengenai bidang yang digelutinya.

Jangan lupakan juga tulisan sebagai media untuk menghibur, menyampaikan informasi, atau mencerahkan pembaca kita.

Sebelumnya, saya pernah menuliskan di sini bahwa paling tidak, artikel blog yang bagus itu adalah 500 kata. Tujuh ratus kata sudah oke. Volume 700 kata itu ibarat menulis di majalah sepanjang satu halaman.

Intinya, lebih banyak kata akan lebih baik di mata mesin pencari Google. Bukan kata/kalimat yang berulang dan sengaja diulang-ulang lho ya. Melainkan narasi utuh yang gagasannya saling melengkapi satu sama lain.

Do you want to survive? Tulislah lebih panjang hingga minimal 1500 kata. Supaya relevansi di mata mesin pencari akan lebih baik. Sehingga tulisan kita tidak mudah tergeser dari tulisan-tulisan bervolume sedikit yang lebih baru dirilis.

Mengapa? Sebab menulis 300 kata itu relatif tidak sulit. Demikian pula dengan 500, 700, hingga 1000 kata. Dan sudah banyak sekali yang melakukannya. Bersamaan dengan anda menerbitkan sebuah postingan, ada puluhan bahkan bisa ratusan orang melakukan hal yang sama. Cobalah untuk riset lebih mendalam sehingga bisa menulis lebih panjang.

Jadi, lebih baik menerbitkan satu artikel dalam satu pekan tapi dengan proses dan kualitas yang terbaik. 

Blog seperti www.waitandwhy.com tidak banyak menerbitkan artikel baru, namun setiap artikelnya ditulis sepanjang 1500-2000 kata. Panjang artikel inilah yang menyebabkan blog ini kuat sekali di search engine result page (SERP).

Prioritaskan kualitas tulisan daripada kuantitas jumlah tulisan yang ingin di-publish. Dengan kata lain, tidak perlu memaksa diri setiap hari membuat postingan dengan mengorbankan kualitas.

Ini biasanya yang jadi penyakit blogger pemula. Kurang konsisten. Di satu waktu mem-publish demikian banyak posting. Selanjutnya belum ada postingan baru selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

(3) Headline semakin penting. Bahkan lebih penting dibanding dengan era sebelum internet. Mengapa? Sebab ketertarikan pembaca dimulai dari headline yang menarik, bombastis, atau sangat menjual janji kepada pembacanya.

Bagaimana caranya? Sertakan angka dalam judul, atau gunakan kata sifat yang bombastis. Bisa juga “janji” yang memberi solusi atas kebutuhan/permasalahan/pertanyaan calon pembaca.

Namun hindari headline yang hanya memancing klik saja. Biasa disebut click bait. Jadi artikel dengan judul menarik, namun membuat pembaca merasa tertipu dengan konten di dalamnya yang jelas-jelas berbeda dengan judul headline.

Alangkah indahnya bila kita jujur mengenai konten yang kita sampaikan. Yaitu melalui headline yang benar-benar merepresentasikan konten yang di bawahnya.

(4) Terkait tipografi. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Sebab tiadanya jarak di antara paragrafnya. Maka dari itu berilah ruang yang cukup setelah 3-4 baris kalimat.

Tipografi juga bagaimana kita memakai bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita.

Kesimpulan.

Jadi si mesin pencari benar-benar melihat karya kita sebagai sebuah tulisan yang baik, bukan tulisan ala kadar yang hanya ingin nongkrong di halaman pertama SERP.

Google juga mempertimbangkan seberapa sering suatu website dikunjungi. Makin sering dikunjungi, makin mengangkat relevansi website tersebut terhadap keyword yang diketikkan oleh pengguna internet.

Buatlah blog atau website anda bukan yang sekedar dikunjungi kemudian terlupa. Melainkan pengunjung betah berlama-lama di sana. Pancing agar pengunjung melakukan klik demi klik di blog anda untuk menelusuri postingan yang lain.

Bagi Google, relevansi adalah segalanya. Makin relevan, makin tinggi letaknya dalam hasil pencarian. Bila di dalam artikel tersebut ada beberapa link, kemudian CTR-nya tinggi, ini juga menjadi faktor yang akan dipertimbangkan oleh Google dalam menempatkan artikel tersebut ke dalam SERP.

CTR=Click-Through-Rate, yakni seberapa sering klik dilakukan oleh pengunjung website dalam artikel tersebut.

Semoga tulisan ini padat manfaat, serta memberi manfaat.

11 Kesalahan Blogger Pemula


Anda yang membaca postingan ini pastinya beruntung sekali. Saya dulu meraba-raba bagaimana meningkatkan kemampuan saya dalam blogging. Saat itu referensinya belum banyak. Nah, harapan saya adalah postingan ini bermanfaat untuk kamu para blogger pemula.

 

  1. Kurang fokus pada tujuan blogging itu sendiri. Blogger pemula memposting segala yang ingin ditulis. Padahal konten perlu konsistensi topik. Apa jadinya kalau tidak konsisten? Brand dari blog jadi tidak terbangun. Kenapa saya harus baca blog anda untuk topik tersebut, dan bukannya membaca blog yang lain? So, blogger pemula harus punya tujuan nge-blog supaya brand blognya terbangun.
  2. Bingung mentarget audiens. Audiens kan ada beragam ya. Expert banget ada, sampai level pemula juga ada. Tidak bisa semuanya dilayani. Jika tidak demikian, nantinya ada expertmemandang rendah blog Anda karena masih ada konten untuk pemula. Sebaliknya, level pemula belum waktunya untuk diberikan konten yang “berat”.
  3. Lupa –atau malah terlalu sering– mengekspresikan diri. Penghadiran diri Anda dalam tulisan jelas penting. Setidaknya itulah ciri bahwa tulisan tersebut adalah Anda. Namun demikian, terlalu sering mengekspresikan diri berarti narsisme tingkat tinggi. Begini saran terbaik dari saya: Tulislah seakan Kamu sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
  4. Abai terhadap SEO — Search Engine Optimization. Entah terlalu fokus dengan konten, sehingga lupa si SEO. Atau terlalu SEO sehingga konten malah kurang menarik. Alias tidak memberi nilai manfaat ke pembaca — yang menemukan banyak teks tanpa hubungan satu sama lain.
  5. Tidak mengorganisasikan konten. Ini bukan konten tidak boleh mengalir ya — justru itu harus. Melainkan harus jelas yang mana pembuka — atau latar belakang mengapa konten tersebut ditulis, isi, hingga penutup — atau berisi tentang bagaimana mengaplikasikan poin-poin yang disarankan dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Main tulis saja, tapi melupakan editing. Salah ketik (typo) itu akan menunjukkan ke-amatir-an Anda. Blogger pemula harus belajar menjadi profesional sejak awal, dong. Kesalahan-kesalahan tersebut juga mengganggu pembaca — karena mereka malah akan fokus pada kesalahan Anda. Ingat kembali proses penulisan: researchdraftpublishedit.
  7. Sering ingin sempurna (perfect). Akibatnya jarang merilis (publish) tulisan. Terlalu banyak riset. Jadi bingung menuangkan ide-ide ke dalam suatu tulisan utuh. Atau sudah mulai menulis draft. Sarannya adalah tidak usah sempurna. Ada quote yang menarik bahwa, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah ditulis”. Namun, untuk menyempurnakan, silakan rilis tulisan tersebut. Dan lihat bagaimana para pembaca anda memberikan komentar. Seiring waktu, Anda bisa memperbaikinya. Atau bahkan menghasilkan ide tulisan utuh yang baru.
  8. Inkonsistensi. Ada dua yang harus konsisten: (1) konsisten menerbitkan konten, dan (2) konsisten pada kualitas konten. Untuk yang kedua, kata lainnya adalah standard kualitas. Proses kontrol harus dijalankan sebelum tulisan terbit. Di sinilah pentingnya proses editing sebagai sebuah bentuk kontrol kualitas tulisan.
  9. Tidak promosi konten. Di era internet –sekaligus social media–promotion is a must. Bahkan promosi telah menjadi proses ke-5 yang harus dilakukan setelah research-draft-publish-edit.
  10. Belum menghimpun leads. Asumsi dasarnya adalah tidak semua orang cocok dengan konten kita. Dengan kata lain, konten kita pasti ada target pasarnya. Nah untuk target pasar kita, kita bisa mengoptimalkan hubungan antara konten kita dengan target pasar tersebut. Caranya adalah melalui berlangganan konten dari kita. Para pelanggan inilah yang kita sebut sebagai leads. Jadi dia harus submit email sehingga dapat menjadi pelanggan tetap kita. Plugin SumoMe yang membantu saya dalam menghimpun leads.
  11. Belum paham tipografi. Konten di blog tidak bisa hanya teks saja. Full text hanya membuat kita sakit mata. Sehingga pengunjung jadi malas membaca. Harus ada pembagian paragraf. Di mesin WordPress, sekali enter saja sudah cukup memberikan jarak antar paragraf yang baik. Jumlah baris maksimal dalam paragraf adalah lima baris. Dan lain sebagainya.

Demikian 11 pelajaran yang harus kita kuasai sehingga kita dapat beranjak dari sekedar blogger pemula menjadi blogger yang lebih profesional.

6 cara konsisten nge-blog


Di bawah ini ada 6 cara supaya sukses konsisten nge-blog. Cara (1), (2) dan (3) udah jadi saran yang banyak banget. Dan itu tetap “koentji” utama supaya bisa konsisten nge-blog. Saya coba tambahkan 3 cara yang lain ya di cara (4), (5), dan (6).

(1) Nge-blog terkait hobi. Karena hobi, maka langsung/tidak langsung akan melakukan pencarian bahan (riset) terkait tema tersebut. Hasil riset merupakan sumber bahan yang kuat dalam nge-blog.

(2) Topik gado-gado. Biasanya berasal dari pengalaman pribadi blogger. Kelebihannya adalah bahan yang luas untuk dijadikan artikel. Tapi kelemahannya adalah jadi kurang konsisten pada suatu topik tertentu.

(3) Tekad yang kuat. Pastinya harus ada niat dan tekad yang kuat untuk terus-menerus menulis dan mem-posting tulisan. Minimal niat semacam “biar gak kelamaan gak update”. Atau “kan udah bikin target satu minggu satu tulisan”, dst.

Nge-blog dalam suatu waktu itu ibarat lari –dalam suatu waktu tertentu–, menurut saya. Harus dimulai, dan harus sampai finish. Dalam bahasa saya, finish itu adalah mencapai jumlah kata tertentu. Contohnya ya 500-an kata tadi.

Kalau sedang ada ide, tapi tidak di depan komputer? Lebih baik ditulis dulu di smartphone kesayangan kamu –cie, yang ditengokin tiap saat selama 24 jam penuh, dari bangun pagi sampai tidur lagi, hehe–. Bisa di aplikasi notes biasa, atau yang siap synchronize kapan saja ketika ketemu internet –semisal Evernote atau Google Keep.

Minimal poin-poinnya dulu. Pengembangan lebih lanjut sebagai draft bisa pas sudah bertemu dengan wordpress.

(4) Kumpulan postingan. Bahas semua postingan kamu sebelumnya dalam sebuah artikel. Contohnya bisa dilihat di postingan saya yang (short) story of my life. Atau di new year resolution marketing. Keduanya coba merangkum beberapa postingan terkait dalam satu judul artikel.

(5) Pengembangan kata kunci. Cari inspirasi dari keyword apa yang pernah dicari oleh pengguna internet, sehingga dia kemudian menemukan blog anda. Nah tentu ada keyword yang ternyata sering muncul di suatu pekan, atau bulan tertentu.

Saya lihat postingan tentang nikah atau S2 ini banyak yang menyimak. Jadi saya dapat ide postingan lain yang masih terkait dengan postingan tersebut. Hasilnya adalah Kuliah S2 sambil Kerja dan Cara Menabung untuk S2.

Gunakan keyword tersebut untuk mengembangkan tulisan serta mengejar panjang tulisan. IMHO (Ini Mah Hanya Opini), artikel blog bisa kuat menyampaikan gagasannya jika disampaikan dalam minimal 500-an kata.

Di sisi lain, suatu tulisan bisa jadi pilar sebuah blog, konon ketika panjang tulisannya mencapai minimal 1000-an kata. Ini masih tantangan bagi saya dalam memenuhi target volume kata tersebut.

Untuk mengejar target, seringkali saya kaitkan dengan hal-hal lain. Seperti misal dalam postingan Sedikit tentang Sales dan Gap Komunikasi Pemasaran.

(6) Content planning. Nge-blog yang konsisten itu berarti nge-blog yang serius. Mungkin kontennya tidak serius, banyak fun, lucu dan penuh canda. Tapi ternyata blogger tersebut melakukan perencanaan konten.

Inilah nge-blog yang serius. Jadi di samping serius menulis, punya rencana penulisan juga. Setelah membuat rencana penulisan, yang harus dicicil berikutnya adalah draft tulisan. Kebetulan wordpress sangat membantu sekali dengan tombol “save draft”.

Jadi begitu ada ide, bisa dituliskan dulu sebagian. Minimal sebagai draft, syukur bila memang ada waktu dan bisa langsung klik tombol “publish”.

Nge-blog yang pakai content planning itu udah mirip organisasi media beneran. Mereka pasti tetap berusaha aktual ya. Ada peristiwa apa yang baru terjadi, dan berusaha diliput lengkap, detil, berikut analisisnya.

Akan tetapi, supaya bisa survive perusahaan media harus punya content plan. Semua media massa (majalah, koran, TV, dll) punya rencana materi dalam beberapa edisi ke depan. Minimal ada content plan (dan draft) sebagai pegangan dulu. Rilis materi bisa mengikuti wants (keinginan) audience saat itu.

Sudah ada 6 cara supaya bisa konsisten nge-blog. Mungkin dari kamu ada tambahan yang lain? Silakan komentar di bawah ya 🙂

20 gaya posting blog


ada artikel menarik di http://romisatriawahono.net ,, tentang postingan blog. Ternyata, ada 20 macam postingan blog. Bukan berdasar tema atau topik bidang apa yang ditulis. Tapi berdasar :

  1. jumlah postingan per pekan
  2. popularitas, dan
  3. tingkat kesulitan 😀

Berikut adalah 20 gaya posting tersebut :

  1. Insight Blogging: Membagi ide orisinil, pemikiran yang mendalam, trend dan komentar tentang suatu topik. Termasuk gaya ngeblog yang paling sulit dilakukan. Boleh memposting lebih dari lima kali sepekan dan tingkat popularitasnya juga tinggi (4). Meskipun harus dipahami bahwa tingkat kesulitannya adalah sangat tinggi (sulit).
  2. Ambition Blogging: Tujuan posting untuk mencapai suatu ambisi dan cita-cita yang diinginkan. Biasanya posting ditujukan untuk para pembuat keputusan. Karena tingkat kesulitan menulisnya relatif rendah dan demikian juga dengan popularitasnya, maka sebaiknya tidak memposting lebih dari satu artikel per pekan.
  3. PiggyBack Blogging: Posting tentang suatu topik yang sedang populer  dan ramai ditampilkan di  media massa. Bentuknya bisa opini, kajian analisa, dsb. Dengan tingkat kesulitan sedang dan popularitas yang lumayan (3), maka berburu posting seperti ini mungkin pilihan yang menarik bagi blogger yang tulisannya sedikit dikomentari orang :)
  4. Life Blogging: Disebut juga dengan reality blogging. Posting tentang cerita nyata yang terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Relatif mudah dilakukan, meskipun popularitasnya sedang (2). Jumlah postingan dengan gaya ini boleh lebih dari lima kali sepekan.
  5. Brand Blogging: Posting tentang atribut positif dari suatu brand, personal atau produk (inside look). Bisa juga berupa asosiasi individu dengan suatu brand baik sifatnya official atau unofficial. Harus hati-hati disikapi, meskipun tampak menggoda, dan boleh dilakukan lebih dari lima kali sepekan, tapi popularitasnya relatif rendah (2) :(
  6. Detractor Blogging: Posting tentang rasa tidak suka, komplen terhadap suatu layanan, produk atau brand. Biasanya karena blogger mendapatkan pengalaman buruk ketika menggunakan layanan, produk dan brand tersebut. Meskipun tingkat popularitas lumayan tinggi (3), tapi harap diingat untuk tidak melakukan posting dengan gaya ini sepekan lebih dari satu kali. Saya sendiri hanya pernah melakukan empat kali posting dalam kehidupan blogging saya. Terlalu vulgar melakukan detractor blogging akan membuat kita berhadapan dengan pasal 27 UU ITE :)
  7. Annoucement Blogging: Posting berupa suatu berita, pengumuman atau isu besar yang tidak diketahui umum sebelumnya. Efek maksimum akan diperoleh apabila kita menjadi penyebar berita yang pertama tentang isu tersebut. Meskipun termasuk posting yang sangat sulit khususnya mendapatkan timingnya, tapi termasuk yang kadang harus kita kejar karena tingkat popularitasnya yang aduhai banget (5) :)
  8. Link Blogging: Posting berupa koleksi link situs, blog atau konten lain yang dibutuhkan oleh pembaca. Apabila kita berhasil menyajikan link yang sangat dibutuhkan oleh pembaca kita, maka url posting kita ini akan dibookmark dan disimpan oleh pembaca kita. Kesulitannya lumayan, tapi popularitasnya relatif tinggi :)
  9. Video Blogging: Posting berupa video orisinil yang dibuat sendiri. Bisa juga dengan meletakkan video di YouTube, dibuatkan linknya di posting blog kita dan kita beri komentar dan analisa yang menarik. Popularitas tergantung dari kualitas video dan komentar yang kita sampaikan.
  10. Photo Blogging: Posting yang utamanya berisi hasil jepretan foto. Foto biasanya berbentuk seri yang kita ambil langsung dari kamera kita. Bisa diberi tambahan komentar di posting ataupun hanya foto saja. Tingkat kesulitan lebih rendah daripada Video Blogging, tapi popularitasnya relatif sama. Cocok untuk menambal kebosanan pembaca kita yang sudah terbiasa membaca artikel yang berbentuk text di blog kita.
  11. Review Blogging: Opini dan review yang jujur dari kita mengenai suatu produk atau layanan. Bisa karena adanya permintaan, bayaran, atau inisiatif kita pribadi. Posting yang relatif mudah dilakukan, tapi popularitasnya lumayan. Termasuk posting yang harus sering kita kejar :)
  12. Evangelist Blogging: Tujuan untuk menginspirasi orang lain supaya percaya terhadap sesuatu yang kita percayai. Sesuatu itu bisa berupa masalah sosial, organisasi, produk atau individu yang kita percayai. Akan lebih dahsyat lagi apabila inspirasi dan ajakan dilandasi kajian yang semi ilmiah :)
  13. List Blogging: Posting berupa rangking 10 besar (top ten) atau semacamnya tentang suatu hal. Posting biasanya akan di bookmark dan disebarluaskan oleh pembaca blog kita. Dengan kesulitan sedang dan maksimal posting boleh lebih dari lima kali per pekan, termasuk yang mungkin harus sering kita buat. Apalagi kalau melihat tingkat popularitasnya yang tinggi (5). Bisa dimulai dengan merangking sesuatu yang sederhana dan parameter penilaian yang mudah.
  14. Survey Blogging: Posting berupa survey yang kita harapkan dijawab oleh pembaca blog kita. Survey bisa menggunakan plugin polling atau kita minta pembaca langsung menjawab di kolom komentar blog kita. Popularitasnya tinggi (4) dan mungkin relatif mudah kita lakukan bila kita menggunakan plugin polling. Bisa dimulai dengan membuat survey sederhana tentang aktifitas kita, buku yang kita baca, rumah yang ideal atau sesuatu yang sedang trend di masyarakat.
  15. Repost Blogging: Mengambil tulisan atau posting dari blog atau situs lain dan memposting di blog kita. Biasanya dengan diberi komentar tambahan atau hanya copas habis-habisan. Termasuk yang selalu saya hindari dalam ngeblog dan memang sebaiknya tidak kita lakukan karena akan menurunkan brand blog kita.
  16. Guest Blogging: Menulis artikel yang dipublish pada blog atau situs lain yang bukan milik kita. Biasanya karena kita bergabung ke sebuah komunitas atau kita tidak punya sarana untuk ngeblog.
  17. Interview Blogging: Posting berupa hasil interview terhadap seseorang. Dipublish dalam bentuk text (transkrip), audio,  atau video. Relatif sulit, tapi biasanya popularitasnya cukup tinggi. Boleh dilakukan lebih dari lima kali sepekan.
  18. Event Blogging: Posting berupa kesan, opini dan pemikiran tentang suatu event (seminar, conference, konser, etc) yang kita ikuti ataupun tidak. Popularitasnya tinggi bila banyak pembaca kita yang berhubungan dengan event yang kita postingkan
  19. Live Blogging: Posting apa yang saat ini  sedang terjadi secara realtime. Biasanya blogger menggunakan peralatan mobile dan pembaca mengikuti melalui RSS (sindikasi). Beberapa blogger sekarang menggunakan facebook dan twitter untuk live blogging. Termasuk yang popularitasnya tinggi, tapi harus hati-hati dalam editing artikel karena tingkat kesalahan menulis pada live blogging cukup tinggi (terbatasnya waktu).
  20. Classified Blogging: Adanya kebutuhan terhadap suatu produk atau layanan. Posting berupa pembukaan lowongan atau pernyataan pencarian suatu produk atau layanan yang kita inginkan untuk dibeli atau dijual. Mudah sekali dilakukan dan sebaiknya tidak sering kita lakukan :)

Berikut ini linknya ,, ini ditulis ma abang kelas SMA yang belum pernah ketemu,, huehehe,, karena berbeda 12 angkatan.. Jauh ya? Beliau memang juga sudah sangat ahli di bidangnya, kira-kira begitu. Setelah lulus SMA, langsung kuliah S1-S2-S3 di Universitas Saitama, Jepang. Kini pulang kampung membangun industri software di negara kita.

Apa Itu Profesional Blogger


Akan datang saat di mana media massa tidak lagi dikonsumsi sebagai sumber berita yang paling dominan. Saat di mana surat kabar mengalami penurunan jumlah cetak produksi per harinya. Saat di mana berita televisi mengalami penurunan jumlah penontonnya. Saat di mana berita radio dan sumber berita yang lain mengalami penurunan jumlah konsumennya.

Karena sumber berita dan media itu semakin banyak, dan siapa saja bisa mengakses informasi (khususnya yang melalui internet). Media massa tidak akan hilang sama sekali, tetapi berita di media massa menjadi konten conversation di social media. Dan berita baru di social media bisa saja ikut di-publish oleh media massa karena popularitasnya. Di-retweet, di-share, hingga re-blog oleh banyak pengguna social media.

Akan datang saat di mana profesi wartawan tidak lagi dihargai seperti sekarang. Saat di mana profesi wartawan menemukan titik lemahnya. Titik lemah profesi wartawan yang tanpa kompetensi jelas di satu bidang tertentu, yang menulis berita tanpa dilatarbelakangi satu disiplin ilmu tertentu. Menuliskan berita secara umum saja, tidak mendetail hingga tataran filosofis.

Di era internet seperti sekarang, kecepatan pemberitaan semakin dituntut. Persoalan hadir manakala kecepatan pemberitaan berakibat pada kesalahan pemberitaan. Sebabnya adalah minimnya verifikasi terhadap informasi yang dituangkan sebagai berita. Wartawan sebagai pencari dan penulis berita terdesak waktu sehingga gagal menghasilkan berita yang benar, detil, dan mendalam.

Jurnalisme 2.0 adalah ketika aktivitas-aktivitas jurnalis dapat dilakukan dalam bentuk 2.0, atau melalui internet. Antarmuka (interface) web yang kini memungkinkan pengguna internet merilis konten jurnalisme dalam bentuk video, gambar atau tulisan. Anggota masyarakat yang semakin pintar tentu ingin menuangkan gagasan-gagasannya dalam ketiga bentuk konten di atas, ke dunia maya. Dan ini melahirkan para profesional dengan jenis aktivitas yang baru: aktivitas jurnalisme 2.0

Passion terhadap profesi yang ditekuni adalah satu dari sekian banyak alasan yang paling banyak dikemukakan oleh mereka, ketika kita menanyakan hal ini. Rasa cinta terhadap pekerjaan yang ditekuni mendorong mereka untuk berbagi. Forum/event rutin mungkin tidak selalu ada. Sebab itu mereka memaksimalkan media yang ada. Bisa lewat blog seperti wordpress atau blogspot. Atau situs microblogging seperti twitter, atau bisa hanya lewat notes facebook.

Yang hadir sekarang adalah para profesional di bidang masing-masing yang mengeksplorasi bidang pengetahuan yang dikuasainya untuk :

  • Menganalisis permasalahan yang ditemui di sekitarnya,
  • Memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi, ataupun hanya sekedar
  • Memberikan komentar sesuai dengan latar belakang pengetahuannya.

Knowledge Worker. Saat ini adalah era dimana pekerja pengetahuan sangat diandalkan di bidangnya masing-masing. Mereka menjadi pencari berita dan penulis berita itu sendiri. Khususnya di bidang yang mereka tekuni. Media yang mereka gunakan adalah blog internet. Blog mereka dikunjungi banyak orang yang ingin mengetahui secara mendalam tentang bidang yang mereka kuasai. Mereka disebut Professional Blogger.

Personal Branding. Di samping memberi dan berbagi mengenai passion sekaligus karir/profesi, mereka juga membangun personal branding di ranah maya. Sebagaimana kita tahu, penetrasi internet yang semakin tinggi menjadikan dunia maya sebagai “dunia nyata” juga sebagaimana yang dunia yang sudah ada. Maya dan nyata semakin tidak ada bedanya dan eksistensi pribadi di dua dunia tersebut semakin penting. Lewat eksistensi di dunia maya, maka personal brand juga ikut terangkat.

Berikut adalah dua contoh fenomenal yang mungkin menginspirasi kita semua. Romi Satria Wahono adalah profesional di bidang komputer dan informatika. Situs pribadinya, http://www.romisatriawahono.net, berisi wawasannya tentang berbagai hal di dunia komputer dan informatika : internet business, knowledge management, opensource, dll. Triharyo “Hengky” Susilo adalah profesional di bidang rancang pabrik industri kimia. Kebetulan beliau juga CEO PT. Rekayasa Industri. Tulisan-tulisannya dapat dibaca di http://www.triharyo.com

romi-hengky

Mau jadi professional blogger? 🙂