Tentang ikhwanalim

muslim, consultant, writer. feel free to mail me: ihwanul.alim@gmail.com

Kesulitan Kerja Remote


Blogpost ini diinspirasi dari blogpost Pak BR tempo hari. Linknya di sini. Habis ngasi komen di sana, langsung kepikiran untuk bikin blogpost sejenis.

So, kesulitan kerja remote tersebut masih ada hubungannya dengan produktivitas. Kapan hari sempat saya ulas di sini juga. Produktifitas juga ada hubungannya dengan punya teman-teman yang sepemikiran dan punya kesamaan minat.

Scale-of-remote-working-2

Disiplin

Setuju banget dengan perihal disiplin ini, Pak. Sebagai pemberi kerja, maupun pekerja, saya gak sepenuhnya yakin 100% dengan konsep remote working ini.

Salah satu yang melatarbelakanginya adalah kenyataan bahwa budaya kita dikenal sebagai low-trust society. Simply put, kita belum bisa meletakkan trust kepada orang lain sebelum kontrak tertulis atau uang muka proyek, dan bentuk-bentuk sejenisnya. Bukan sekedar si pemberi kerja belum percaya kepada pekerja, tapi juga sebaliknya: si pekerja belum yakin si pemberi kerja akan komitmen terhadap janji-janjinya. Termasuk di antaranya adalah pembayaran yang on-time.

Sebagai pekerja tatkala melakukan kerja remote, saya sudah yakin gak bisa sepenuhnya tidak diawasi atau tidak dikontrol oleh atasan. Baik berupa keikutsertaan di meeting, laporan yang ontime, maupun deliverables pekerjaan yang tidak melebihi deadline. Belum lagi, tatkala jenuh kita orang Indonesia cenderung buka social media (facebook, instagram, twitter, dlsb).

Remote dari rumah jelas menurun produktifitasnya. Istilah kerja 8 jam, mungkin efektif 7 jam. Ambil minum lha, chat sebentar sama ortu lha, dst. Belum termasuk ketidakpercayaan generasi ortu terhadap kita, yang tatkala ketak-ketik di laptop, disangka malah main game. Yang demikian jelas duduk nyaman di kursi dan komputer di atas meja saja menurun produktifitasnya, apalagi yang duduk bekerja sekenanya di karpet.

Coworking Space

Di sinilah coworking space jadi bermanfaat. Sewa ruang kerja dengan harga Rp50-100ribu per hari dijamin lebih produktif. At least, karena sesama rekan juga bekerja, maka kecenderungan ngobrol dengan juga akan berkurang. Apalagi kalo bisa berkolaborasi sesama desainer-fotografer-penulis-developer, dlsb.

Riset dari https://www.visualcapitalist.com/visualizing-rise-co-working-spaces/ bilang bahwa:

  • 25% responden menyatakan coworking space menghasilkan kolaborasi spontan (apalagi kalo ada orang sales yang mau jualan, makin mantap)
  • 22% memberikan networking/personal growth.
  • 18% menyatakan soal lingkugnan kerja yang lebih produktif.

Tidak heran pertumbuhannya coworking space-nya juga ada. Di UK (United Kingdom) saja sekitar 10% growth-nya per tahun lalu.

Tulisan dari Mas Zulkaida Akbar di bawah akan menceritakan betapa tidak efisiennya si Indonesia. Sebab di antara sekian jam kerja yang seharusnya dipakai bekerja, juga ada untuk YouTube-an maupun Facebook-an. Tidak heran orang Indonesia, seperti saya, masih juga membuka laptop dan bekerja di akhir pekan. Looks hard work, but actually not that efficient. Kalau sudah hard work plus efficient, kita pasti bisa rock the world juga, mestinya.

Balik lagi ke kerjaan remote. Kalau saya memberikan pekerjaan kepada orang lain, sebisa mungkin saya memberikan kepada yang saya tahu betul track-recordnya.

Atau, rekomendasi orang yang saya percayai. Terkadang, yg terakhir ini pun gak selalu berhasil. Atau minimal, saya bisa bertemu dengannya. Jadi, bisa kita rencanakan atau evaluasi bersama lewat offline meeting.

Berikut saya kutipkan status facebook dari seorang rekan, Zulkaida Akbar. Masih seputar fokus dan produktivitas. Sekarang menjalani profesi peneliti (fisikawan) di sebuah kampus di Amerika Serikat. Yang bisa saya ceritakan tentang beliau adalah, beliau orangnya fokus. Kebetulan, sudah menggeluti fisika sejak jadi peserta Olimpiade Fisika. Kemudian dibimbing Prof Yohanes Surya, lalu berlomba fisika (lagi) hingga tingkat internasional. Sempat menjadi aktivis kampus, tapi kembali lagi ke core-nya dia sendiri, yaitu Fisika. Sudah master, sudah pula doktoral. Sekarang menjadi fisikawan.

Fokus

Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

Kawan-kawan di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

Kathrina memang berbeda dengan kawan-kawan sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me”Like” berita-berita republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Mudah diterka, karena  bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube-nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan-kawannya di group WA.

Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siangnya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

Beberapa saat kemudian, ketika kami sama-sama menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia “normal” juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
…………..

Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :”If I can work as hard as you, I will rock the world.” Si Indonesian kemudian menjawab :”If I can work as efficient as you, I  will also rock the world.”

Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia “klaim”, terdapat sekian jam untuk FaceBookan, Youtubean dan an an yang lainnya.

Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll. Semuanya betul2 dipersiapkan sejak dini.

Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized. Weekend bagi Prof. Saya adalah family time, saat email tidak disentuh dan saat berlatih irish trap dance bersama istri dan anaknya.

 

Why Join Community


Salah satu komunitas yang saya ikuti adalah komunitas blog SatuMingguSatuCerita Pernah nge-test ikut komunitas lain yang lebih offline. Namanya CSWC (CS Writer’s Club).  Setelah sekali datang, gak pengen datang lagi.

  • Pertama, karena akan pulang malam. At least jam 9 malam.
  • Kedua, karena rekan-rekan di sana pada menulis fiksi di tempat. Memang konsepnya gitu sih. Dikasi tema/topik, dan diberi waktu setengah jam. Otomatis, most of them menulis fiksi.
  • Ketiga, not entertaining enough. Sebab, kebanyakan pada tertunduk seakan berdoa ke layar smartphone membaca teks yang mereka tulis. Sementara, saya sukanya tampil mempresentasikan (alias public speaking) si teks yang saya tulis itu.

Ikut komunitas itu butuh waktu, energi, dan duit. Setidaknya, ada duit yang “tidak apa-apa” kalau dibelanjakan untuk komunitas tersebut. Misalnya, untuk kopi darat. Atau berbelanja sesuatu “buah karya” dari komunitas tersebut. Di 1M1C, kami pernah menulis antologi bersama-sama sih. Proyek kolaborasi gitu. Tentu hak komersil bukunya ada di penerbit ya. Para penulis bisa sebagai distributor. Tapi namanya reseller kan ya, tetap aja kami terima bukunya juga tidak gratis. Jadinya kami juga yang membeli.

Kalau ditanya berapa komunitas yang saya ikuti, rasanya cuma satu ini. Tidak sanggup waktu, energi dan uang untuk ikut banyak komunitas. Ini pun lebih banyak digital. Kalau yang lain, lebih pilih ikut grup WhatsApp aja. Monitor di situ. Jadi silent reader. Tidak hanya WAG, tetapi juga Grup Telegram, kadang-kadang ada. Karena grupnya sudah kelewat banyak, maka tidak semua juga berhasil dipantau. Hehehe. Padahal udah ada messaging app semacam LINE yak. Berhubung generasi saya kayaknya sedikit yang di situ, jadilah gak main yang dari korea itu. Hehehe.

Ikut Komunitas Digital

Ketika komunitasnya berupa digital saja, potensi pengembangannya jadi lebih besar. Tidak semata satu kota. Bahkan bisa sampai satu Indonesia. Nanti kopi darat (kopdar) saja yang khusus per kota.  Community-nya juga bisa lebih akrab via WhatsApp, facebook group, Telegram atau tagar-tagar Twitter/Instagram. Seingat saya, yang pernah kopdar di 1M1C baru Bandung dan Kendari saja.

Dengan ikut komunitas, jadi sadar di atas langit masih ada langit. Hehe. At least jadi tahu bahwa ternyata masih ada (dan masih banyak) yang lebih jago daripada gw. Dan gw harus bisa bertumbuh dan berkembang lagi. Gapapa ya, berniat dulu. Meskipun belum minat belajar atau mencoba, apalagi punya waktu dan kemampuan untuk melakukan. Hehe.

Jejaring

Network kayak begini di komunitas belum tentu worth it lho kalau cuma sebentar. Katakanlah setahun. Kata mentor saya dulu, berhubungan itu minimal 3 tahun kalau target kita ingin merasa akrab dengan orang lain (baca: teman kantor atau klien), misalnya. Yuk bahas sedikit.

Terlalu cepat pindah kantor, bisa berarti kita belum cukup akrab dengan orang-orang di dalamnya, lho. Kapan hari ngobrol sama teman. Insight-nya adalah dua tahun di suatu kantor itu adalah “cuma”. Alias “hanya”. Ekstrimnya, kalau kita minta tolong, akan terasa gak enak. Karena basically, kita belum akrab dan hangat sama yang bersangkutan.

Pindah kantor sampai 3 kali dalam 3 tahun juga enggak baik di mata orang-orang recruiter. Antara berkesan gak bisa membetahkan diri, atau malah mengesankan ini orang enggak bisa apa-apa. Agak subjektif sih, tapi emangnya udah menghasilkan prestasi apa kalau cuma setahun di sebuah company?

Demikian juga dengan klien. Belum tiga tahun, berarti belum akrab. Memang PR sih, bagaimana caranya supaya ada proyek terus selama tiga tahun pertama. Karena harus menambah kenalan terus dari proyek yang pertama. Apakah tim dari pelanggan yang bersangkutan, atau berkenalan dengan yang satu level posisi dari beliau, atau bahkan berkenalan dengan atasannya dia sendiri. Sambil berjalan mengenal nama demi nama, sembari memperkenalkan kompetensi diri/institusi yang kita mewakili.

Saya semakin yakin dengan parameter “tiga tahun” ini. Karena “teman yang sebenarnya teman” adalah yang non-formal seperti ini. Bukannya meremehkan pertemanan dari ruang kuliah (alias yang sejurusan), atau pertemanan di SMP-SMA, tetapi seringkali terasa terlalu kaku. Harus melalui birokrasi kantor lha, hanya di jam kantor, dan seterusnya. Karena dua hal tersebut, seringkali tidak bisa cepat dan gesit. Agile alias gesit, emang jadi kosakata yang makin penting belakangan ini. Kayak para pelaku freelance, kan. Pada high agility semua.

Pertemanan dari aktivitas kampus (di luar ruang kuliah) juga demikian. Aktivisme mahasiswa baru worth it ketika kita lebih dari setahun terjun di kemahasiswaan. Nah itu, angka “tiga tahun” berarti memang aktivis sejati, ‘kan. Sedari masuk kuliah sampai dengan (minimal) menjadi pengurus aktif di suatu himpunan/BEM/unit kegiatan mahasiswa (UKM). Lagi-lagi, kalau sudah berteman akrab yang demikian lha, maka kita bisa produktif dan cepat tatkala berkolaborasi kembali di kemudian hari.

From Sales Perspective

As a salesman, salah satu ukuran yang penting bagi saya adalah seberapa banyak orang baru yang saya kenal. Dari sebuah community, idealnya adalah ketemu dengan community yang lain lagi. Dengan kata lain, kalau saya duga sebuah acara/komunitas tidak mungkin mempertemukan saya dengan kenalan baru, saya pikir-pikir lagi untuk ikut atau bergabung dengan community tersebut. Bukan pilih-pilih berteman, lebih tepatnya udah umurnya untuk mulai lebih pintar mengelola waktu, konsentrasi dan network.

Closing: Kelebihan 1M1C

Balik lagi ke komunitas 1Minggu1Cerita. Komunitas blogger ini punya beberapa keunggulan, meskipun saya belum memaksimalkan keunggulan dan kelebihan tersebut. Di antaranya, adalah:

  • Tuntutan punya (minimal) sebuah cerita untuk diposting, mengubah kita menjadi blogger yang produktif. Meskipun kadang-kadang saya nge-post tulisan saya di di tempat lain, semisal dari modest.id
  • Tim admin rutin mengingatkan kita untuk menulis (lalu nge-post tulisan tsb) dalam pekan tersebut. Bila enam pekan berturut-turut enggak posting, maka bisa di-kick dari grup WA. Gak harus gabung WAG-nya, tetapi pertemanan bisa lebih intim ye kan, kalo join WAG-nya.
  • Ada polling tulisan favorite. Tapi saya gak selalu sempat ikut membaca lalu nge-vote, nih. Kalau masuk nominasi, at least kita jadi paham bahwa ada yang membaca post kita, hehehe. Rasanya happy banget tatkala ada postingan yang menang voting.
  • Tulisan harus disetor. Saya biasanya setor tulisan (lengkapnya adalah nama, nomor member, tanggal menulis/menyetor, serta link tulisan) di websitenya 1M1C. Tapi komunitas ini ada aplikasi mobile-nya sendiri. Jadi bisa posting dari sana juga. Sekarang kan era-nya apa-apa di-mobile-app-kan saja. Meskipun belum tentu si user punya memori yang cukup untuk ng-install-nya. Hehehe.
  • Ada challenge untuk menulis tema tertentu (yang sudah divoting oleh para member) sebanyak sekali dalam sebulan. Biasanya saya jarang ikutan menulis postingan bertema ini. Hahaha.

Sekian aja lha ya, postingan tentang community ini. Semoga bermanfaat.

Demand Executive


Image result for demand planning

Posisi Demand Executive ini ada di perusahaan Grab. Posisi ini bukan di kantor pusat. Artinya, tiap daerah/wilayah/kantor cabang mengelola “demand” nya masing-masing. Berarti bekerja sama untuk memasarkan aplikasi mobile Grab agar permintaan (demand) penggunannya semakin meningkat. Berarti juga mengumpulkan, mengelola, mengkategorisasikan, menganalisis lalu mengirim insight-nya ke kantor pusat. Kalau ada di wilayah, tentu saja juga ada di HQ.

Di industri IT (karena kasus Demand Executive di sebuah IT company), produk tidak hanya berfungsi sebagai product/service. Tetapi juga medium pemasaran itu sendiri. That’s why ilmu UX semakin berkembang. Karena produk tersebut harus bisa menjalankan peran self-marketing. Alias “menawarkan dirinya sendiri”.

Tidak hanya Demand Executive.

Tapi secara tim ada juga yang seperti “Demand Planning & Marketing Strategy”. Terutama di perusahaan manufaktur yang B2C (terutama FMCG atau pharmaceutical). Di tim ini, selain ada para staff atau operation atau executive-nya, tentu ada Manager/Lead, Assistant Manager/Lead.

Demand Planning.

Melakukan forecasting dari sisi pasar (alias pelanggan) dan sisi internal (product/service). Yang dianalisis dan diprediksi dari sisi pelanggan misalnya, tingkat pertumbuhan permintaan (demand) dari pasar, eksposur brand kepada pelanggan (ini datanya sudah ada dari tim marketing tetapi memerlukan analisis lebih lanjut), tingkat penjualan, inventory atau penagihan dari tim sales. Termasuk data-data yang diperoleh dari eksternal, semisal BPS (Biro Pusat Statistik) atau konsultan riset (AC Nielsen, contohnya).

Keterampilan yang paling utama adalah pemodelan forecasting. Punya keahlian statistik akan sangat mendukung di bidang pekerjaan ini. Tidak hanya itu saja. Kreatifitas dalam memberikan perspektif baru atau berbeda terhadap berbagai data dan analisis yang ada akan membuat kamu tampil beda di pekerjaan.

Analysis.

Hasil analisis seharusnya bisa dijadikan pancingan (lead) untuk memulai diskusi antara orang-orang Product Management dengan teman-teman dari Marketing and Sales. Salah satu analisis yang penting untuk terus ditekuni, direnungkan, dikembangkan terus-menerus adalah driver of demand.

Apa yang kira-kira menjadi pengendali/penentu naik atau turunnya demand tersebut?

Forecast

Forecast sebagai deliverables dari posisi/pekerjaan Demand Planner ini bisa sangat beragam.

  • Karena forecast bisa dikembangkan berdasar produk atau kategori produk tertentu.
  • Bisa pula di-cross-tab dengan time horizon yang diinginkan: 3 bulan (quarterly), 6 bulan (per semester), tahunan, maupun 3 tahunan, atau bahkan lebih dari itu.

Tentu saja pemodelan forecast tidak boleh begitu-begitu saja. Sekedar mengikuti apa yang dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Tetapi harus dikembangkan terus. Indikator-indikatornya semakin diperbanyak. Pemurnian metode juga perlu dilakukan supaya forecast-nya semakin mendekati realisasi yang dilakukan.

Bicara realisasi, menggunakan harga x kuantitas bisa jadi tidak merepresentasikan nilai penjualan yang sebenarnya. Nilai riil penjualan baru benar-benar nyata berdasar realisasi penagihan piutang. AFAIK, company Danone di Indonesia sudah menghitung penjualan berdasar realisasi penagihan piutang.

Forecast menyediakan insight (wawasan) yang bisa diberikan kepada teman-teman di tim Supply Planning. Kalau di perusahaan farmasi, lazim diberikan kepada tim Production Planning and Inventory Control (PPIC).

Omong-omong soal supply ke pasar, ada company yang tidak lagi berada pada level availability (ketersediaan). Alias, barang tersedia di rak ketika konsumen membutuhkan. Mereka sudah mengangkat strategi dan brand-nya sampai pada level visibility (bisa terlihat). Artinya, suplai produk di rak sudah lebih besar daripada demand itu sendiri. Ini supaya konsumen merasa secure (aman) bahwa kebutuhannya akan selalu terpenuhi.

Ilustrasinya begini, misal ada 10 orang konsumen yang membutuhkan 1 pcs produk, maka harus disediakan (be available) 10 pcs produk kan? Berbeda dengan visibility. Even hanya ada 10 pcs produk yang jelas akan dibeli, namun supaya terlihat bahwa produk tersebut tidak hanya brand-nya saja yang ada, tetapi juga produknya benar-benar nyata terlihat (be visible) dan tersedia banyak atau lebih dari cukup di mata konsumen. Satu company yang sudah melakukan ini di antaranya adalah Mayora dan Indofood.

Sebenarnya forecast ini tidak lagi menggunakan software statistik biasa (semisal SPSS). Software khusus untuk demand planning sudah tersedia di pasar dan siap digunakan.

Membuat forecast:

  • Mengumpulkan, menganalisis dan memvalidasi data-data yang telah diperoleh
  • Mengoperasikan perangkat lunak demand planning
  • Mengevaluasi hasil pemodelan forecas
  • Menyelesaikan error, positif palsu, atau negatif palsu yang terjadi sehingga dapat memperbaiki forecast
  • Mengagregasikan berbagai forecast, baik yang product-based, maupun time-based

In the longer period, keberadaan Demand Planning & Strategy akan mengembangkan budaya perusahaan knowledge sharing dan konsensus forecast yang semakin optimal. Mengapa? Simply karena dan tim dan organisasi ini menjembatani Sales and Marketing dengan Product Management.

Di perusahaan yang supply produknya sudah lebih besar daripada demand –tentu ini jarang sekali kasusnya– timnya bisa saja ditutup. Seperti misalnya rasio elektrifikasi yang sudah di atas 95% di Indonesia, alias jaringan PLN sudah hampir mencakup seluruh wilayah nusantara, maka bisa saja divisi tersebut ditutup dan SDM di dalamnya didistribusikan ke tim-tim yang lain.

Cara Membuat Marketing/Sales Plan Pada Produk/Bisnis yang Sudah Berjalan


Tahun baru 2019 akan dipenuhi persaingan yang lebih ketat. Marketing Plan dan Sales Plan berguna jadi panduan agar tujuan pemasaran dan penjualan tetap tercapai.

Perkembangan dunia bisnis seringkali tidak terduga. Kalau bisa beradaptasi dengan cepat sih tidak apa-apa, tetapi kalau tidak? Kehilangan omset dan pelanggan adalah resiko yang selalu mengintai.

Cara Pembuatan Marketing Plan atau Sales Plan di akhir tahun seperti saat ini (November-Desember 2018) dilakukan dengan menjalankan beberapa tahap berikut:

  • Evaluasi
  • Sales Pipeline
  • Retention Strategy yang baru
  • Cek kesehatan USP
  • Branding
  • Tulis Executive Summary

Evaluasi

Evaluasi program-program yang sudah pernah dilakukan. Mana yang berhasil, mana yang tidak. Lalu evaluasinya di mana. Sebenarnya, secara taktik tentu tiap-tiap program sudah dilakukan analisis, evaluasi dan rekomendasi. Dokumennya sudah ada. Dalam rangka pembuatan dan pengembangan marketing/sales plan, dokumen-dokumen yang sudah ada tersebut hanya perlu kita kompilasikan.

Lalu, evaluasinya bagaimana? Nah, evaluasi yang dimaksud di sini tentu saja dalam perspektif yang lebih luas. Misalnya, berhubung sekarang ini sudah memasuki akhir tahun, maka yang dievaluasi adalah setahun ke belakang. Bisa juga menggunakan perspektif tiga tahun. Evaluasi tiga tahun ke depan, atau membuat marketing/sales plan untuk tiga tahun ke depan.

Perlu ditekankan bahwa perspektif jangka menengah seperti 3-5 tahun ke depan ini memiliki kelebihan pada aspek objektifitas. Sehingga, overlapping program tidak terjadi. Tidak ada program yang saling tumpang tindih; ketika memiliki tujuan program yang sama, menyasar segmen pasar yang sama, tetapi dilakukan oleh dua entitas berbeda dari dalam company kita dengan mekanisme penganggaran yang berbeda pula.

Eksekusinya pun lebih efektif karena tujuannya terang dan jelas. Ibarat gelas bening, semua anggota tim bisa melihat tujuan marketing/sales dengan terang-benderang.

Sales Pipeline

Cek sales pipeline. Dalam evaluasi dan planningnya, coba jawab pertanyaan berikut ini:

  • Channel mana yang paling mendatangkan omzet?
  • Channel mana yang paling menguntungkan?
  • Channel mana yang paling viral atau mendatangkan awareness paling banyak?
  • Channel mana yang banyak pelanggan kita? (Ini untuk menjawab retention strategy).

Retention Strategy

Hukum Pareto berlaku. Akan ada 80% pembeli/pelanggan yang menunjang 20% penjualan kita. Begitu pula, ada 20% pelanggan yang terus-menerus membeli dari kita hingga total pembelian mereka mencapai 80%. Kita harus fokus dan memprioritaskan yang 20% database ini saja. Supaya, planning dan eksekusi kita worth it.

Mendapat perhatian calon pembeli tidak pernah mudah dan murah. Cenderung mahal dengan efektifitasnya yang rendah. Sulit sekali memecahkan telor (dari angka nol menjadi satu). Sebaliknya dengan program-program pemasaran yang mengkonversi pembeli (baru belanja pertama) menjadi pelanggan (sudah belanja beberapa kali). Relatif lebih mudah, meskipun lebih mahal sedikit daripada yang pertama.

Yang paling worth it (berharga) untuk dilakukan justru adalah mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Nah, tiap industri dan kategori produk memiliki keunikan retention strategy masing-masing. Bagaimana evaluasi terhadap retention strategy yang lalu, dan apa strategi retensi kamu yang baru?

Cek Kesehatan Unique Selling Proposition (USP).

Evaluasi program pemasaran pada dasarnya adalah evaluasi USP. Apakah merek atau usaha sudah menawarkan proposi penjualan yang unik/berbeda. Dalam positioning statement, bisa saja USP sudah sangat berbeda daripada USP milik kompetitor. Namun yang perlu diwaspadai adalah sebagus apa (how well) eksekusi USP tersebut pada medium-medium pemasaran (above the line, below the line, social media, dsb.) dan penjualan (misalnya lewat merchandising).

Di sinilah peran marketer yang harus selalu memantau (monitor) dinamika program, medium, dan USP dari berbagai merek-merek di pasar yang saling bersaing dan menyubstitusi satu sama lain.

Brand-ing

Kalau kontennya banget adalah USP, maka konteks yang menyertai konten tersebut selalu berbeda-beda. Evaluasi dan planning mutlak kita lakukan pada branding-nya. Terutama program dan medium branding.

Evaluasi program dan medium branding. Program mana yang memberikan impak signifikan. Medium apa yang baru-baru ini menjadi saluran (channel) baru bagi segmen target kita.

Ingat, branding adalah brand-ing. Yakni suatu upaya tanpa henti untuk membangun brand. Mulai dari membuat konsumen sadar (aware), sampai dengan setia (loyal) terhadap merek tersebut. Ultimate goal-nya adalah membuat pelanggan menjadi evangelist yang senantiasa menjadi pembela (dan tentu saja pengguna paling setia) dari suatu merek.

Seni dari brand-ing adalah seni menggunakan dan mengoptimalkan berbagai medium yang ada demi tercapainya suatu ekuitas merek. Sebagaimana makna ekuitas dalam akuntansi, demikian pula dengan ekuitas merek sebagai suatu “asset” intangible milik perusahaan.

Ambil contoh, baru beberapa pekan lalu ada event festival bertajuk Hijrahfest (IG @hijrahfest). Secara sekilas, saya melihat event ini luar biasa sukses. Terutama dalam menyasar segmen pasar yang hampir satu dekade ini terus-menerus “naik daun”, yaitu kelas menengah muslim (middle class muslim) yang hidup dan memadati perkotaan.

Mengambil studi kasus event tersebut, bisa nih kita melakukan evaluasi, apakah medium event hijrah festival tersebut (yang secara terangan-terangan telah menyatakan di profil akun Instagram-nya bahwa akan menyelenggarakan event sejenis di tahun depan), layak untuk menjadi saluran perkenalan (introduction) dan engagement.

Tentu saja event festival tidak kita pandang sebagai event semata. Tetapi efek viral dari pra-event maupun pasca-event-nya tidak boleh kita abaikan. Perlu perencanaan matang bagaimana mengelola dan memberdayakan pra dan pasca event itu sendiri. Apalagi ‘kan sekarang era social media yang setiap story-nya bisa kita gulirkan di stream-stream social media itu sendiri.

Executive Summary

Setelah berbagai tahapan di atas, baru masuk ke Executive Summary. Hendaknya memuat story yang meyakinkan. Why-nya harus ada. Mengapa/kenapa kita akan melakukan hal tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah supaya teman-teman dalam tim memahami dan memiliki alasan untuk bergerak mengeksekusi program-program pemasaran (marketing) dan penjualan (sales).

Di samping untuk internal tim marketing dan sales, Executive Summary juga bisa dipakai untuk meyakinkan stakeholder lain seperti manajemen, direksi, dan pemilik (company owner). Investor dan kreditur bisa kita kelompokkan juga ke dalam target audience dari Executive Summary ini. Barangkali ‘kan ada inisiatif-inisiatif baru perihal marketing dan sales yang membutuhkan suntikan dana baru.

Closing: Stay Flexible

Pada akhrinya, plan hanya tinggal plan. Itu adalah sebuah panduan. Basically, semuanya harus dieksekusi. Mengapa? Karena plan kan dibuat dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Kalau event seperti Bulan Ramadhan dan Lebaran tentu saja harus sudah ada dalam planning marketing/sales.

Bila ada resource berlebih (waktu, tim, anggaran) tentu boleh saja berbuat lebih dari yang sudah direncanakan dan dituliskan di marketing plan atau sales plan. Ini yang namanya stay flexible.

Bagaimana bila ada peluang penjualan atau celah pemasaran yang kita temukan di tengah perjalanan tahun atau tiga tahun? Tentu harus kita kejar. Resources bisa kita alokasikan ulang bila kita menemukan momentum-momentum yang bagus. Misalnya, kompetitor melakukan blunder yang menyebabkan mereka masuk ke dalam pusaran krisis kepercayaan oleh konsumen. Celah seperti ini bisa kita manfaatkan dan maksimalkan.

Demikian panduan di akhir tahun 2018 ini, semoga teman-teman sukses menggapai target pemasaran dan penjualan untuk tahun 2019 dan ke depannya lagi.

Reference and image source:

How To Increase Productivity


now presenting!

Tema produktivitas belakangan lagi naik daun. Apalagi sejak orang-orang (terutama para milennial, ya) suka ‘mendua’ ke sana dan ke sini. Punya kerjaan lepas-an (freelance), lha. Punya usaha akhir pekan macam Wedding Organiser (WO), lha. Jadi driver+guide untuk wisata, lha. Yang terakhir ini biasanya dapat kliennya pas lagi narik Grab Car atau Go-Car. Ada bisnis kuliner, lha. Mulai dari kopi susu dingin, makanan beku untuk ibu rumah tangga atau mahasiswa perantauan, sampai cafe kecil-kecilan yang menarik, keren, tetapi sulit berhasil.

Kita seringkali bias soal produktivitas ini. Ada yang merasa produktif, padahal capaiannya tidak banyak. Ada yang merasa produktif, padahal dia melakukannya kelewat lama. Melewati deadline. Soal produktivitas ini, saya kira ada dua hal yang harus kita perhatikan:

  • Deliverables. Spesifikkan apa yang harus kita berikan. Bahasa kerennya deliverables. Segala produk/layanan yang berwujud atau tidak berwujud yang harus kita berikan dan diterima oleh (not only) klien kita.
  • Deadline. Waktu yang jelas untuk pekerjaan tersebut. Di sini pentingnya deadline.

Yuk masuk ke inti artikel ini. Ada berapa kategori cara untuk bisa lebih produktif? Saya kira ada tiga:

  • Fokus
  • Rileks (relax)
  • Lain-lain yang tidak termasuk dua tersebut.

Fokus

Fokus. Pada apa yang dikerjakan saja. Di antaranya:

  • Stop multitasking. Maksudnya, one work at one time ya. Tidak dilarang menjadi aktivis, berteman dengan banyak orang, punya banyak pekerjaan/kegiatan (multi task). Tapi prinsipnya adalah hanya satu kegiatan dalam satu waktu.
  • Katakan tidak pada meeting/rapat yang tidak perlu. Meeting yang penting itu apa? Misalnya workshop. Something important must be discussed within workshop. Meeting keputusan. Something important must be decided within meeting. Kalau tidak termasuk keduanya, maka meeting tersebut tidak penting-penting amat. Bisa jadi boleh diputuskan sendiri sama si atasan. Atau bisa jadi ada mekanisme lain yang bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan waktu untuk meeting: kolaborasi via tools digital macam google docs, google sheet, dll. Meeting untuk memaksa komitmen dari peserta meeting, menurut saya itu sangat tidak penting.
  • Jangan buka dan balas email di sembarang waktu. Kalau saya, baru buka email setelah 2 jam pertama bekerja. Kalau masuk kantor jam 9, sebutlah buka email baru di jam 11.
  • Mendengarkan musik. Ini help banget increase mood supaya lebih produktif. Going to alpha phase. Pada titik tertentu, ini bisa menjadi gangguan yang menurunkan produktifitas. Mengikuti ketukan musik, atau worse: ikut bernyanyi.
  • Optimalkan jam paling produktif. Ada yang produktif pagi hari setelah sholat subuh, ada yang baru bisa aktif di atas jam 10 malam.
  • Menulis dan berpatokan pada to-do-list. Which is, hanya yang dalam to-do-list saja yang dikerjakan. Masih banyak yang ter-distracted sama yang enggak ada di to-do-list.
  • Skala prioritas. Utamakan dari yang penting dan mendesak. Itu kategori satu. Lalu ke kategori penting tapi tidak mendesak (kategori dua). Mendesak tapi kurang penting itu nomor tiga. Hindari yang tidak mendesak tapi juga enggak penting.
  • Outsource sebanyak mungkin. Ada situs-situs freelancer seperti freelance.co.id, sribulancer.com (satu grup dengan sribu.com kalau tidak salah).

Rileks

Rileks (relax) sejenak. Supaya tidak jenuh. Dan bisa berkonsentrasi lagi kemudian.

  • Istirahat cukup. Ada yang menggunakan teknik Pomodoro. Sekarang ada aplikasi digitalnya seperti Forest App. Saya memakai ini di browser saya. Ada juga yang bilang weekend jangan kerja. Exhausted duluan sebelum 3-4 tahun di sebuah perusahaan.
  • Berolahraga. Bisa setiap hari kalau kuat. Saran saya, berolahraga lha at least 2x dalam seminggu. Kata saya, olahraga itu paling efektif menurunkan stress negatif dari pekerjaan.
  • Apresiasi diri sendiri. Ada teman yang hobi minum es kopi susu yang lagi hits itu, demi menghargai dirinya yang sudah mencapai deliverables yang ditargetkan pada hari tersebut.
  • Dlsb.

Lain-lain (belum ada nama kategorinya):

  • Challenging Target. Menetapkan tujuan yang menarik/menantang (challenging) untuk diraih
  • Task Separation/Integration. Mengelompokkan/memisahkan task ke/dari sebuah grup task
  • Productive Place. Bekerja dari rumah; instead of menghabiskan waktu dan konsentrasi di jalan. Not necessary from home, actually. Tapi tempat-tempat yang bisa membuat kita paling produktif. Pada konteks tertentu, kafe masuk dalam kategori ini. Coworking space juga bisa dimasukkan dalam kategori tersebut. Overall, most productive place for several years ahead, adalah kantor.
  • Join Community. Selain tempat silaturahim ketemu dengan orang baru, komunitas juga tempat berbagi dan menemukan ilmu baru. Engagement dengan orang seprofesi, tidak usah dibahas lagi. Memang di situ tempatnya.
  • Etc

Semua yang sudah ditulis di atas itu semua bisa dilakukan secara analog (non digital). Di era mobile application seperti sekarang ini, alat bantu digital untuk meningkatkan produktivitas juga banyak banget tersedia di App Store-nya Apple, atau Google Play-nya Android.

Yang saya pakai ada dua: Trello sama Forest App.

Basically, saya menggunakan Trello untuk mengelompokkan status-status pekerjaan. kelemahan tools to-do-list itu hanyalah untuk kita seorang. Kalau untuk mengontrol status pekerjaan yang dikerjakan oleh orang lain, to-do-list kurang tepat. Kalau untuk pekerjaan yang deliverables-nya butuh waktu beberapa lama, to-do-list juga kurang tepat. Lebih pas dikasi “Doing/Ongoing” status. Nah, balik ke Trello, di sini kita bisa setting sendiri status “To Do”, “Doing” dan “Done”. Status-status pekerjaan (task) ini masih bisa ditambah lagi.

Karena dikembalikan lagi ke lingkup pekerjaan masing-masing. Misalnya di industri IT, “Done” after deployment is not necessarily done. Tapi masih ada aktivitas lanjutan yang terus dilakukan. Monitoring bugs, misalnya.

Trello ini bisa dipakai kerja bareng, alias kolaborasi. Kita bisa invite rekan kerja ke aplikasi tersebut. Jadi dia bisa lapor progress juga dan memperbaharui status pekerjaan. Trello gratis tidak bayar. Alias oke untuk dipakai para pekerja lepas (freelancer). Di browser, saya update pekerjaan ke https://trello.com yang saya sinkronisasi ke mobile app Trello di HP saya.

Forest App meningkatkan konsentrasi dan produktivitas kerja saya via waktu hitung mundur yang disediakan. Saya biasanya pakai yang 25 menit. Standar metode Podomoro. Habis itu istirahat 5-10 menit. Nah, lanjut lagi 25 menit. Begitu terus sampai beberapa seri. Dan dalam 25 menit itu, tidak boleh membuka-buka task atau halaman browser yang lain (semisal halaman Facebook/YouTube/Spotify).

Jadi tool ini bekerja dengan prinsip membatasi waktu kita pada suatu task. Kalau waktunya masih kurang, bisa ditambah per 25 menit.

Forest App saya pakai yang versi ekstensi Google Chrome. Sebab hampir seluruh pekerjaan memang dikerjakan di browser.

Saya juga pakai blog wordpress.com untuk drafting pekerjaan. Lagi-lagi saya memang bekerja di browser. Hasil riset bisa saya taruh di title, description dan comment card-nya trello.

Mudah-mudahan sharing kali ini bermanfaat, ya.

Referensi:

ITB dan Sebagian Diri yang Terakui


WhatsApp Image 2018-10-30 at 16.45.43

Kapan hari baru ketemu tiga orang ini. Semuanya dari kampus yang sama. Tapi kita lagi di “Timur”. Kita bahas soal si kampus di “Barat” ini bagaimana kalo di “Timur” tersebut.

Salah satu artikel lawas dari tempat lain yang turut membahas apa yang kami bicarakan: Persaingan ITB vs ITS.

Agak sedikit nyambung, seseorang yang pernah kuliah di “Barat” bernama Nur Novilina Afrianingsih, pernah menulis di facebook notes-nya, tertanggal 26 Januari 2016, dengan judul “ITB dan Sebagian Diri yang Terakui” sebagaimana jadi judul postingan ini.

Silakan menikmati.

============================================================================

Beberapa hari yang lalu temen baik gue, sahabat gue, si Dinul nge-chat gue “Eh boy gue kangen deh sama tulisan-tulisan cangak lu, jadi kemarin gue baca-baca lagi, parah kocak banget. Nulis lagi dong lu buruan” That’s words really heal me from every stress that I got in my life. Sekalipun kadang gue merasa dengan banyaknya permintaan menulis hal konyol gue punya side job jadi sulap badut. Sebenernya gue udah lama pengen nulis hal-hal konyol lagi tapi gue takut ga puas sama hasilnya jadi ketunda mulu sampai kemarin gue baca kata-kata bagus banget dari redaktur eksekutif majalah Tempo, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dituliskan” so, let try to show your imperfection!

Tulisan kali ini gue mau cerita tentang kehidupan baru gue sebagai mahasiswi magister salah satu institut teknologi terbaik di Indonesia yang berlokasi di Bandung sebut saja ITB (jenis kalimat tidak efektif). Gue kemarin-kemarin cukup syok dengan perbedaan kultur yang gue alami di sini, setelah lama mendekam di Kota Semarang dan belajar di UNDIP tercinta, banyak banget hal-hal yang bikin gue geleng-geleng kepala sendiri, menyadari bahwa banyak hal yang gue baru tahu dan gak habis pikir.

Sekedar preface aja, ITB adalah impian terbesar gue waktu gue SMA, gue bahkan beberapa kali masuk rumah sakit gara-gara belajar buat masuk ITB, ITB adalah ikrar bersama gue dan Dinul, sahabat gue. Dulu kita punya mimpi masuk ITB bareng terus S2 di Eropa bareng, gue Belanda, dia Jerman. Tapi Tuhan berkata lain, Ia punya rencana lain, kita berdua ga ada yang di ITB, gue S1 Teknik Lingkungan di UNDIP dan Dinul S1 Ilmu Gizi di UGM. Sepanjang perjalanan mencari ilmu itu, gue dan Dinul terus keep in touch. Kita sama-sama prepare buat S2 di Eropa. Dan lagi-lagi Allah menunjukkan jalan lain, justru disaat gue lupa tentang ITB, Allah mengirimkan gue untuk S2 di sana, dan Dinul saat ini menjadi relawan di Papua (disaat gue selalu pengen jadi Sekjen PBB, Presiden, Menteri, Rektor atau apapun yang berlimpah pengaruh dan kekuasaan, si Dinul selalu fokus mengambil sisi dunia yang terlupakan).

Anyway, tulisan ini bukan bermaksud membandingkan antara satu almamater dan almamater lain, tapi memang ada hal-hal yang nyata perbedaannya dan gue udah mencoba riset kecil-kecilan tentang hal ini, jadi ini serius samber duit bukan perasaan gue belaka, kalo kata @tahilalat ini FAK TAHI DUP! Setidaknya ada 3 hal yang gue rasa ITB punya perbedaan yang mencolok dengan UNDIP atau bahkan Perguruan Tinggi lain di Indonesia.

1. Iklim belajar yang gak manusiawi dan dosen berwatak predator penguasa rimba

Awal masuk dosen sudah mengingatkan “Di sini bukan tempat main-main, ITB bukan tempat kalian bisa masuk, terdaftar, titip absen, nongkrong haha hihi dan dapat ijazah”. Gue pikir ini sejenis gertakan sambalado tapi ternyata… JANGANKAN NONGKRONG SOB! NAPAS JUGA SUSAH! SERIUS INI!!

Kalo dulu jaman gue S1 ada tugas masih bisa SKS alias Sistem Kebut Semalam, bahkan yang disebut Tugas Besar bisa diselesaikan H-2 dengan bantuan teman-teman yang setia kawannya macem udah terikat janji tumpah darah. Di sini boro-boro H-2, tugas kecil, tugas upil, tugas mikroba atau apalah ya namanya, kalau mau agak dihargai kudu dikerjain seminggu sebelumnya.

Dosen biasanya dari 10-15 orang paling yang ganas 2-4 orang bener gak? Kalo di ITB dari 20 dosen, yang berhati lembut dan murah hati paling banyak 2, yang lain rata-rata titisan macan dan siluman uler putih. Tapi gue pikir mereka dedikasinya luar biasa banget. Segala cara dilakukan buat bikin anak-anaknya pinter.

Ada satu ibu dosen yang ngajar Statistik, gila lah ibu ini, luar biasa terkenal kegalakannya. Doi ngasih tugas yang bikin gue sampai ngehubungin temen gue anak statistika IPB buat minta bahan, bahkan temen sekelas gue ada yang NYEWA KONSULTAN STATISTIK PROFESIONAL SOB! Dan kalian tau apa kata-kata ibu dosen ini waktu tugas kita kumpulin??

“Tugas kalian ini jelek sekali, saya dari jaman SMP juga bisa bikin lebih baik!!!!”

Pulangkan sajaaa aku pada ibuku ataauuu ayahku huwwooo huwooo (Hati yang Terluka- Betharia Sonata)

Di ITB ada penyamarataan kurikulum gitu, jadi buat yang S1 nya dulu ga di ITB harus ikut beberapa mata kuliah S1, awalnya gue tersinggung tapi yah gue coba nikmati dan pada akhirnya gue emang gak layak tersinggung karena disitu banyak hal baru yang gue dapat. Mata kuliah persamaan itu pre-requisite namanya, gue harus ambil 5 MATA KULIAH LO BAYANGIN dan itu 0 SKS alias ga masuk transkrip lo, tapi gue ga ngerti kenapa semua orang memperlakukan itu seperti 100 SKS.

“Lin jangan lupa ya besok kita simulasi presentasi buat tugas presentasi pre-requisite mikrobiologi”

Gue mencoba mengorek kuping, sumpah tadi gue denger mau simulasi buat tugas mata kuliah NOL SKS????

Bahkan dulu besoknya seminar skripsi juga banyak yang ga pake simulasi-simulasian… gue berakhir ngupil di kelas sampai mimisan dan tergolek pingsan bercucuran darah.

Perihal kuis juga disini diperlakukan layaknya hidup mati. Ada satu mata kuliah yang dosennya selalu ngasih kuis di awal masuk dan kalian tau apa yang dilakukan anak-anak ITB buat menghadapi kuis ini?

Belajar kelompok di kampus sampai tengah malam!!!

Fix banget padahal dulu, jangankan kuis, UAS juga masih bisa bobo nyenyak di kosan

Dan kalian tau soal yang dikeluarkan ibunya di kuis itu letaknya kecil nyempil nyaris sejenis foot note. Disertai seringai, dosen ini memberikan wejangan

“Kuis ini bertujuan untuk membuat kalian sadar bahwa kalian tidak tau apa-apa, jadi jangan harapkan soalnya adalah sebutkan judul bab ini, sebutkan pengertian ini… itu mah anak TK juga bisa. Sana cari tempat lain kalau mau kuliah santai-santai”

Ibuuuukuuu sayaaaang…. Masih teruuus berjalaan (Ibu-Iwan Fals)

Itu masih belum ada apa-apanya. Pernah suatu hari gue kedapetan presentasi tentang Teknologi Membran yang gue suka pake banget, gue udah baca-baca materinya bahkan 3 minggu sebelumnya. Dan pas sesi tanya jawab dosennya nanya

“Kalau saya punya limbah dan mau pakai membran, jenis membran apa yang harus saya pakai”

Gue jawab “tergantung dari jenis limbahnya bu, dan outputnya akan dibuang atau di reuse”

Dia langsung murka “Anda ini tidak mengerti pertanyaan saya! kalau cuma asal ngomong silahkan di luar! Ini forum akademik”

Gue dilanda kepeningan yang bahkan se-ton paramex pun tak akan mampu mengobati. Gue pikir padahal gue gak jawab “La…Laa Laa aku sayang sekali Doraeemooon”

Pedih

Kampus buka 24 jam, Lab buka 24 jam, parkiran motor selalu penuh bahkan pukul 2 dini hari. Dan seisi semesta ITB adalah pemuda-pemudi yang berdiskusi ilmiah atau membaca setumpuk buku atau jurnal-jurnal.

Awal-awal di sini, karena diserang kepanikan tingkat akut, gue suka nangis kalau ketiduran. Gimana gak panik temen kos gue pulang kuliah misal jam 5 selalu langsung mengurung diri dan belajaaaar sampai jam 4 pagi!!! Terus tidur dan minta gue bangunin jam 6 pagi habis itu dia solat subuh dan ngampus lagi jam 7! Begitu terus tiap hari, ada pula yang jam 3 dini hari baru tidur dan minta gue bangunin jam 5. Semua tau kalau gue bangun pagi karena disini gue doang yang kayaknya tidur malem hari. Mungkin gue ada di sarang kelelawar… gue juga heran… DAN MEREKA TIDUR 2-3 JAM SEHARI LHO!!! Sedangkan gue T,T bahkan tidur di toilet dan angkot belum diitung aja udah menghabiskan waktu 6 jam!!

Iklim belajar yang ga manusiawi ini memang cukup memakan korban, ada Komite tersendiri yang menangani anak-anak depresi di ITB sini, dosen gue salah satu pengurusnya, dia cerita seringkali menangani mahasiswa-mahasiswa yang ketawa-ketawa sendiri kemudian nangis histeris dan menerawang dengan tatapan kosong. Dia pernah bilang “Hebat ya ITB ini, mencetak banyak orang pinter tapi juga banyak orang depresi”

Gue juga pernah ketemu, ada seorang laki-laki agak kemayu gitu dan seorang perempuan yang lagi mengerjakan Gamtek (Gambar Teknik) di kertas A3 di taman, tiba-tiba si laki setengah ewang ini nangis “Gueee gak kuaat cin, gue pasti gagal, gue udah berusaha tapi selalu kayak ginii hasilnya… gimana nilai gueee cin…” kaget dong tentunya gue. Berasa pengen gue peluk sambil bilang “SAMAAAA CIIIIINNNNN”

Dan Si cewek ini dengan dinginnya menjawab “ya udah ih jangan nangis malu-maluin, ayo buru diselesaiin dulu tugasnya. Mana lo yang ga bisa? udah mau deadline, lo mau kita dapet D lagi”

FAK, gue lanjutin baca buku Termodinamika, dan seketika gue merasa bimbang akan penciptaan manusia.

2. Kebebasan Berekspresi di Junjung Tinggi

Masuk kelas harus rapi, minimal pakai kaos berkerah, rambut untuk laki-laki gak boleh gondrong, bahkan di beberapa momen harus hitam putih, harus rok, bla-bla-bla. Di ITB semua itu gak berlaku. Lo bebas sebebas-bebasnya mau pake apa aja ke kampus. Gue lahir dari keluarga yang demokratis, urusan style bebaaaas banget, ibu gue menghargai selera berpakaian semua orang, bagi beliau yang terpenting bukan fisik seseorang tapi isi hati dan kepalanya. Makanya jaman S1 dulu gue terkenal sebagai anak yang nyentrik. Baju merah, celana hijau, kaos kaki ungu. Tapi di ITB ini gue pikir gue satu-satunya orang normal. Bayangin sob ada yang ke kampus pake KUTANG!!!! Gue syok banget! Agak malu-malu gue tanya ke anak S1

“Dek, itu baju yang itu yang putih transparan yang dipake anak cowok itu kutang kan?”

Dengan tatapan heran dia menjawab “Iya, emang kenapa sih ka?”

DIA HERAN GUE NANYA, GUE HERAN DIA GAK HERAN! Gue berakhir nelen cilok tanpa ngunyah beserta tusukannya

Bukan cuma kutang, kadang lo lihat ada yang pake celana training dipadu padankan kemeja, kadang lo liat ada yang pake celana tidur atasnya rompi, daaaan lo bisa temuin mbak-mbak rambutnya di cat HIJAU STABILO pake SEPATU BOOTS SEDENGKUL TAPI BAWAANNYA BUKU FUNDAMENTAL OF CHEMISTRY SEGEDE KARUNG! Kelar idup lo.

3. Tipikal Obrolan dan Humor yang Sulit Dipahami Manusia Pada Umumnya

Kalo lo lagi kumpul sama temen-temen lo apa aja sih yang diobrolin? Pasti gak jauh-jauh dari kegiatan sosial sehari-hari, macem cewek/cowok lu yang ngeselin, ortu lu yang punya rencana umroh atau Nikita Mirzani yang habis ketangkep polisi gara-gara prostitusi artis kan? Kalo disini itu semua gak akan kalian dengar.

Gue: “Kenalin aku Lina”

Si A: “A”

Gue: “Lo aslinya mana?”

Si A: “Bogor”

Gue “waaah sama doooong aku juga”

Si A: “OK”

FIX! Apa cuma gue di dunia ini yang kalo nemu orang bahkan sesama penggemar Teletubbies aja pasti seneng banget dan langsung bisa ngobrol ngalor ngidul dari A sampai Z.

Tapi akan berbeda ketika lo ngomongin ilmu pengetahuan

Si T: “Lin lo tau prinsip kerja konverter?”

Gue: “Hmmm pernah denger tapi lupa gue”

Si T: “Sumpah lo ga tau? Itu kan Teknik Lingkungan banget, gue lagi mau buat tugas tentang converter AC-DC itu, ada beberapa konversi energi yang menggunakan prinsip…….dengan rumus… seharusnya….”

Gue terpaksa sulam alis dan operasi plastik biar kerutan penahan emosi tidak nampak. As you know itu adalah perbincangan yang menemani makan siang. Dan itu bukan satu-satunya perbincangan absurd yang harus gue hadapi!

Disini gossip seputar Nikita Mirzani dan prostitusi artis (lagi-lagi) atau kabar burung operasi plastiknya Aurel Hermansyah kalah dibanding berita Stephen Hawking ilmuwan fisika ternama dunia yang menyatakan dirinya atheis atau peraih nobel baru dari Jepang. Dan seakan-akan mereka kesal diiringi harapan tahun-tahun berikutnya mereka yang dapat nobel tersebut (bahkan gue T.T terlalu pahit untuk dikatakan)

Dari segi perbincangan sudah absurd dari segi humor lebih parah lagi…

Tentunya dulu waktu gue S1 gue punya banyak temen-temen yang kosakata ancurnya itu melebihi tebelnya kamus oxford.

“Heh Silit Pitik (dubur anak ayam red., maafkan Hernawa teman saya) sini koe!”

“Opo sih Gondes (Gondrong Ndeso red.)?”

“Oalah dasar Pinggiran Keramik, raimu koyo ndas coro buntung!” (Dasar pinggiran keramik, mukamu seperti kepala kecoa buntung red., lagi-lagi maafkan Hernawa sebagai pakar kata-kata sampah)

Dan kita selalu berakhir menertawai kekonyolan-kekonyolan yang paling tidak bisa diterima akal sehat manusia. Tapi disini….

Segerombolan anak ketawa ketawa, gue coba mendekat mendengar keseruan apa yang mereka alami

A: “Iya sumpah Di, masa gue pakenya hukum Newton 2, gue pikir kan gradient gitu kan? Anjiiir salah banget gue, Gila aja lo 45 derajat!!” (shitmen1)

B: “Bahahhahahaha paraaah lo, gile ah, eh Wi, sini lu ngapain sih nyari-nyari yang panas mulu, emang lo taneman apa butuh sinar matahari buat fotosintesis” (shitmen2)

C: “bahahaha lu kata gue Autotrof!!!” (shitmen3)

Dan segerombolan anak itu tergelak-gelak, khusyuk bahagia sekali meninggalkan gue yang udah step stadium akhir di belakang mereka, kejang-kejang disertai panas 500 derajat celcius karena sedikit pun gue ga bisa menangkap titik humor Hukum Newton dan fotosintesis ini!!!

Pernah sekali temen gue pas S1 namanya Dian, ke Bandung dan dia sempat mendengar perbincangan anak-anak ITB, dia pulang sambil menitipkan pesan “Please Lin!! Lo harus tetep jadi manusia pliiiis”

Gue ga ngerti lagi

Kalaaaau beginii akupun jadi sibuuuk, berusahaaa mengejar-ngejar diaaa, matahari menyinaari semua perasaan cintaa tapi mengaaapaa hanya aku yang dimaraahiiii (OST Sinchan)

Gue pikir gue hampir nyerah, beruntung banyak orang yang selalu mensupport gue. Ibu bapak gue selalu menghibur gue setiap gue telpon buat cerita sambil nangis-nangis karena depresi berkepanjangan

“Alaaah selooo aja temen-temen sama dosenmu itu kebanyakan belajar karena ga pada encer otaknya, kalo anak mama zzeeeet baca sekilas langsung nangkep” (minta diledakin warga ITB)

Atau bapak gue “Papa juga raport dari 9 pelajaran yang item cuma 3 bisa kok Alhamdulillah beli rumah sama mobil” (minta dimutilasi rektor ITB)

Dan juga Allah mengirimkan sohib gue dari jaman maba, si Ul yang dari dulu sekontrakan sama gue, doi sekarang keterima kerja di Bandung dan berakhirlah kita satu kosan lagi (Satu kamar bahkan). Beruntunglah setidaknya dari jutaan manusia di sini ada satu anak yang ngerti apa yang gue anggap lucu dan apa yang tidak

Bagaimana pun juga ITB pernah menjadi tempat yang sangat gue impikan, dan Allah memberikannya sekarang, mungkin waktunya tidak persis seperti doa 5 tahun yang lalu, tapi gue yakin Dia lebih tau mana yang terbaik bagi hambaNya. Seringkali gue membawa hadir diri gue yang 5 tahun lalu sengaja melancong sendiri ke ITB untuk merasakan euforia anak muda yang haus akan ilmu, kadang kalo udah mellow gitu, gue suka sendirian nontonin latihan marching band maba-maba S1 atau jalan-jalan keliling ITB di sore hari. Dan gue sering senyum-senyum sambil menitikan air mata sendiri (semoga gue gak ditangkep Komite Penanggulangan Depresi ITB)

Dalam adat Jawa yang kental gue adalah anak dengan tempramen tinggi, bengis, ambisius, kompetitif, arogan, tidak sabaran, tidak lemah lembut, dan lain-lain yang membuat gue ‘merubah diri’ agar gue bisa diterima dalam hubungan sosial yang penuh kearifan lokal, yang serba pakewoh (serba ga enakan), halus, sensitif, lembut, tenang, nerimo, dll. Tapi di sini, ada sisi-sisi dalam diri gue yang seringkali berkonotasi negatif itu berjalan searah seperti menemukan tempatnya, membangun sebuah kekuatan besar yang mungkin terlihat angkuh namun ia adalah harapan bagi yang lemah.

Apa yang menjadikannya sebagai yang terbaik di Indonesia?

Apa yang menjadikannya masuk dalam jajaran terdepan di Asia Tenggara?

Apa yang menjadikannya bermanfaat besar untuk manusia dan kehidupan?

Itu semua tidak diisi dengan kemudahan, ada banyak air mata penderitaan di dalamnya. Ada banyak kedisiplinan dan hati yang tersakiti di dalamnya, tapi yang bertahan, ia yang mampu mengubah masa depan.

Semester 1 telah usai, gue menatap nanar list target gue LULUS IPK 3,9 di dinding. Melihat perjalanan 6 bulan kebelakang, gue rasa tembus di angka 3 juga udah mukjizat Ilahi. Namun ternyata lagi-lagi Allah penentu segalanya.

3,82 angka yang tertera di dalam sistem online akademik atas nama Nur Novilina Arifianingsih. Gue terperanjat tak percaya, Ibu gue yang intens menemani masa-masa sulit gue pun tak percaya.

“Lin coba dicek dulu sana, jangan-jangan ketuker sama temenmu” à ini antara gue mau ketawa atau mau nangis, antara saran atau penghinaan, tapi setelah itu ibu gue bilang gini “Dulu kamu nangis-nangis kejer ga lolos ITB karena ga mau kalah sama mama yang bisa masuk UGM dan UI, asal kamu tau aja, dulu S2 di UI IPK mama 2 koma, kamuuu ini 3,82 di ITB lho Lin, mama sudah kalah jauh dari kamu, sekarang fokus mama adalah ngeluarin nama kamu dari Top 3 list game Zuma supaya setidaknya ada satu bidang mama lebih baik dari kamu”

Ibu gue bukan tipe orang yang senang memuji, dan kalimat sejenis itu adalah penghargaan tertinggi dari dia selama gue hidup. Allah always bless me

Mungkin beberapa orang akan mencibir “Ya elah pamer nilai bgt sih” atau “Apalah arti IPK kalau ga bisa bermanfaat” semoga Allah membersihkan hati gue dari kesombongan terhadapNya. Tulisan ini lebih kepada mengingatkan gue bahwa bagaimanapun keadaannya, tetap percaya pada mimpi-mimpi kita, percaya pada kemampuan diri kita diiringi permohonan kepada Yang Maha Segalanya adalah yang paling penting. Kedepan pasti tantangannya akan lebih berat lagi, tapi gue ingin dengan mengingat pencapaian kecil ini semangat dan antusiasme gue tak akan pernah padam.

It’s always seems impossible until it’s done- Nelson Mandela

 

Perbedaan Kuliah di Indonesia dan di Belanda


oleh:  Monika Pury Oktora

cover-groningen-moms-journal

Kalau ditanya apa bedanya kuliah di Belanda dan Indonesia tentu akan BEDA. Akan banyak pula poin yang terurai dari tulisan saya ini mengenai perbedaan tersebut, tentunya itu subjektvitas saya pribadi. Perspektifnya akan sempit karena saya hanya mengambil merasakan kuliah di salah satu jurusan dan di salah satu univ di Belanda. Padahal banyaaak sekali jurusan/fakultas yang tersebar di kota-kota Belanda. Beda pengalaman, beda pribadi, beda komunitas, dan beda-beda lainnya akan menghasilkan respon yang berbeda.

Oleh karena itu, saya melemparkan pertanyaan singkat pada teman-teman saya di Belanda yang sedang/pernah menjalani perkuliahan di Belanda. Kemudian semuanya saya rangkum di sini.

  1. Tantangan Berbahasa

Pengalaman dan tantangan yang didapat tentunya lebih banyak ketika menjalani perkuliahan di Belanda, salah satunya dari segi bahasa. Untungnya di Belanda banyak kelas internasionalnya. Jadi kita gak perlu menguasai Bahasa Belanda dulu untuk bisa kuliah di sini, Bahasa Inggris pun sudah cukup. Tapi.. tetap saja kita harus punya effort lebih besar untuk ini. Misalnya untuk menyerap materi kuliah/mendengarkan dosen ketika di kelas atau membaca paper dan textbook. Kuliah di Indonesia ya tentu kita nyaman bias baca buku kuliah, slide dosen, modul-modul dengan Bahasa Indonesia (Walaupun ada juga sih textbook Bahasa Inggris, tapi kan tidak untuk semua mata kuliah). Di Belanda sini, ya harus siap menghadapi tantangan Bahasa internasional. Tidak semua orang juga diberikan kelebihan untuk jago berbahasa. Bisa nembus IELTS/TOEFL yang disyaratkan oleh univ juga perjuangannya udah lumayan, pas sampai di lapangannya lebih lagi perjuangannya. Terutama dalam menulis report/paper dalam Bahasa Inggris.. beuuh.. tidak segampang menulis puisi buat kecengan. Nulis dalam Bahasa Indonesia aja masih salah-salah apalagi dalam Bahasa Inggris? Oiya ditambah jika ada tugas presentasi. Pasti kerasa deg-degan, takut belepotan pas ngomong, bisa-bisa yang keluar dari mulut beda sama yang dipikirin di kepala.

  1. Etos kerja

Perbedaan budaya dan etos kerja. Di Belanda, orang-orangnya suka berdiskusi open mind. Etos kerja orang Belanda itu efisien dan efektif, ga suka bertele-tele, to the point dan padat berisi dalam menyampaikan sesuatu. Kalau suka mereka bilang suka kalo engga ya juga bilang dengan jelas, ga ada “ga enak-an” seperti orang Indonesia. Kita jangan tersinggung kalau mereka jujur apa adanya. Mereka juga fair kok, misalkan di satu bidang kita ada baru gontok-gontokan diskusi, pas jam istirahat biasa lagi kayak ga kejadian apa-apa. Etos kerja yang suka berdiskusi ini jadi membuat mahasiswa lebih bisa eksploratif dan lebih banyak membaca ketika studi.

  1. Budaya

Kita bertemu dan bekerja dengan berbagai macam mahasiswa dari negara yang beda-beda. Biasa ngomong lu-lu gue-gue, ketika di Belanda jadi harus lebih bisa membaurkan diri ke dalam pergaulan tersebut. Gimana kita bisa diterima dengan baik, tanpa ikut terseret oleh kultur dan kebiasaan tidak lazim yang berbeda dengan kita. Tapi tentunya kita juga jadi belajar lebih tepo seliro sama yang beda budaya. Sama sih di Indonesia juga sebenarnya ketika masuk ke univ tertentu ada yang dari Jawa, dari Sumatera, dari Kalimantan. Cuma karena masih sama-sama anak Ibu Pertiwi ya.. masih berasa di “rumah”lah. Tapi kalo dah ketemu orang dari kebangsaan beda-beda, bahasa beda, lifestyle beda.. Takutnya jadi gegar budaya, culture shock bahasa kerennya. Ga sedikit lho mahasiswa Indonesia yang culture shock, baik yang jadi ga betah karena homesick atau sebaliknya malah jadi overgaul melampaui tatakrama/etika/agama yang dulu sangat kental dipegang saat masih di Indonesia.

  1. Pemahaman konsep

Perbedaan lain yang mendasar. Kuliah di sini lebih mementingkan pemahaman konsep. Kuliah tidak hanya dibebankan sama ujian doang. Kalau di indonesia pernah pengalaman suatu kuliah, hasil akhirnya terlalu dititikberatkan sama ujian, padahal pemahaman konsepnya kurang. Jadilah ujian seperti sesuatu momok yang menakutkan. Gak penting lagi paham atau tidak konsepnya yang penting ujian bagus. Ujian di Belanda juga tetep momok sih.. tapi setidaknya outcome dari kuliah ga cuma dari ujian. Ada presentasi, ada assignment, dan tentunya si assignment itu dibuat untuk kita agar lebih paham konsepnya.

  1. Cara mengajar dosen

Masih nyambung dari poin nomor 4. Lebih kerasa di sini kalau tujuan si dosen ngajar lebih ditekankan agar mahasiswanya mengerti. Mereka gak pernah merendahkan studentnya walaupun studentnya nanya pertanyaan-pertanyaan dasar gitu. Prinsipnya kan: “There is no stupid question.” Bahkan kalo kita masih ga paham, dosen bersedia ngajarin di luar jam ngajarnya, tentunya dengan appointment terlebih dahulu.

  1. Fasilitas

Mungkin poin ini yang akan jadi jurang perbedaan yang cukup siginifkan antara kuliah di Indonesia dan di Belanda. Selama kuliah di Belanda, terasa lebih fokus dalam menjalani perkuliahan. Bahan bacaan lebih kaya, jurnal internasional dengan mudah bisa diakses, textbook banyak tersedia di perpus, atau bisa juga beli second atau baru secara online, dengan harga terjangkau. Ini baru soal bahan bacaan.. Kalau soal fasilitas berupa mesin, alat elektronik, perangkat lab, yaaa.. bersyukur banget bisa nemuin rupa-rupa kelengkapan seperti itu. Tentunya salut pas kuliah di Indonesia, dengan fasilitas yang mungkin seadanya, tapi tetep bisa mengerjakan penelitian atau tugas dengan hasil yang bagus.

  1. Egaliter

Ini yang mungkin kerasa berbeda ya dengan Indonesia. Di sini dosen dan mahasiswa ga berasa ada jarak. Manggil professor dengan nama depannya ya biasa, ga pake sir atau mister. Sering kan denger kalo di Indo tu orang ngorol sama professor senior: “Iya prof..” “Oke, prof..” dan prof-prof lain di belakang kalimat. Rasanya geli juga kadang. Di sini ga ada titel-titel gitu disangkutin dipercakapan atau di email. Semuanya sama. Tapi bukan berarti kita jadi kurang ajar juga. Mengacu pada etos kerja yang suka berdiskusi tadi, mahasiswa maupun dosen bebas berekspresi mengeluarkan pendapatnya di forum-forum diskusi. Gak ada tatapan merendahkan dari mereka kalau student mau bertanya, mendebat, atau mengekspresikan ketidaksetujuan.

  1. Mandiri

Jadi mahasiswa di Belanda harus proaktif dan mandiri. Ga ada tuh yang namanya diingetin sama dosen tentang kapan ujian, harus ngumpulin tugas, atau dikejar-kejar untuk nyelesain thesis. Semua informasi tentang perkuliahan biasanya sudah terintegrasi lewat portal kampus dan email. Jadi harus sering-sering cek email dan portal kampus untuk lihat apakah ada jadwal yang berubah, kapan tugas harus dikumpulkan, kapan meeting dengan departemen dll. Waktu kuliah di Indonesia, walaupun punya dosen cuek, tapi setidaknya masih punya temen yang care ngingetin kita kalau kita bolos kuliah, kalau kita lupa bikin tugas. Di Belanda? Ya lu-lu gue-gue dong, masa sudah besar masih harus diingetin. Oiya untuk pengerjaan tugas juga, dosen akan membebaskan kita mengeksplorasi bahan.. Dosen gak akan nuntun satu-satu dan ngontrol detail semua hasil kerja kita. Mereka percaya kita bisa ngerjainnya dan kita juga jadi lebih bertanggungjawab akan kerjaan kita.

  1. “You did a good job!”

Ini yang patut ditiru. Selama kuliah di Belanda, selalu ketemu dosen-dosen yang sangat menghargai hasil kerja studentnya. Ketika kita telah selesai mengerjakan tugas, melaksanakan presentasi, atau merampungkan paper, komen mereka pertama kali adalah “You did a good job!” yang terdengar tulus. Kemudian mereka baru memaparkan apa positif dan negatifnya dari pekerjaan yang sudah kita buat. Tapi intinya mereka sangat menghargai hasil jerih payah kita. Mereka ga minim akan pujian kok. Yang seperti ini bikin mahasiswa jadi termotivasi dan merasa dihargai.

  1. Resource bagi universitas

Khusus untuk mahasiswa S3 atau PhD, perbedaan yg paling terasa adalah di Belanda ini, PhD student itu dianggap sebagai sebagai resource kampus. Artinya mereka bukanlah sekedar “murid biasa”, tetapi statusnya dianggap sebagai pegawai, yang menghasilkan sesuatu untuk kampus, yang keberadaannya dibutuhkan oleh universitas dan profesor. Bahkan mahasiswa S2 juga sering dilibatkan sebagai resource kampus.. Seperti ikut menjadi bagian dalam research mahasiswa S3.

Nb: ketika saya menuliskan Belanda bukan berarti seluruh univ di Belanda seperti tersebut. Ini hanyalah rangkuman dari pengalaman teman-teman yang saya tanya ditambah pengalaman pribadi, dan cerita kanan-kiri.

Terima kasih kepada: Navilah Syamlan, Yosi Ayu, Resti Marlina, Doti Parameswari, Murwendah, Rully Cahyono, Yora Faramitha, Bustanul Ury, Niken Widyakusuma, Pretty Falena.

Tentang Penerjemah dan Editor Lepas


Tidak seperti yang disangka oleh kebanyakan orang, dunia penerjemahan sebenarnya sangat luas. Industri penerjemahan tidak hanya ada dalam industri penerbitan buku, melainkan juga di bidang lain seperti televisi, film layar lebar, dokumen hukum dan perusahaan, sebagai juru bahasa (interpreter), dan banyak lagi. Pekerjaan-pekerjaan semacam itu tentu tidak harus dilakukan sebagai karyawan tetap perusahaan. Banyak juga yang berstatus pekerja lepas (freelancer) di masing-masing bidang penerjemahan tadi.

www.ikhwanalim.wordpress.com

Profesi penerjemah di Indonesia sebenarnya juga sudah ada organisasinya sendiri. Namanya HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Didirikan pada 1974, organisasi ini sempat “mati suri” cukup lama sebelum kemudian pada tahun 2000 kembali dihidupkan. Siapa pun yang ingin berkecimpung penuh di dunia penerjemahan di Indonesia ada baiknya bergabung menjadi anggota HPI. Keuntungan bergabung dengan wadah para penerjemah ini adalah para anggota bisa memiliki jejaring berisi orang-orang profesional di bidangnya masing-masing, mendapatkan informasi tentang peluang kerja atau tarif standar terjemahan, kesempatan mengikuti acara-acara pelatihan yang terstruktur, dan banyak lagi.

Berhubung saya hanya berkutat di industri penerbitan buku, khususnya sebagai penerjemah dan editor lepas (freelance translator and editor), saya tidak akan membicarakan bidang lain di industri penerjemahan di dalam tulisan ini karena memang bukan kapasitas saya dan karena akan membuat tulisan ini terlalu panjang.

Pertama-tama, harus diketahui bahwa penerbit buku (baik besar maupun kecil) tidak bisa lepas dari para pekerja lepas dalam aktivitas kesehariannya. Mereka yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan keredaksian hingga siap naik cetak—misalnya editor, penerjemah, pemeriksa aksara (proofreader), penata letak (layouter)—sebagian besar justru berstatus pekerja lepas (freelancer).

Tentu saja penerbit punya karyawan sendiri. Di bagian redaksi, editor penerbit biasanya disebut editor in-house. Lalu kenapa penerbit masih membutuhkan tenaga lepas? Sebab tidak mungkin editor in-house menangani semua naskah sendiri. Berapa pun jumlah editor di penerbit, mereka akan selalu membutuhkan tenaga lepas. Lebih efisien begitu, memang.

Sebuah naskah membutuhkan waktu dan konsentrasi tersendiri dalam proses penggarapannya. Sementara itu, dalam sebulan, penerbit sudah pasti menerbitkan banyak sekali naskah. Seandainya hanya para editor in-house yang menggarap naskah-naskah itu, tidak mungkin target terbit terkejar. Di sinilah para pekerja lepas yang saya sebutkan di atas tadi berperan. Dari sini kita akan membicarakan dua jenis pekerjaan penting dalam lingkup keredaksian itu.

Sebelum menjalani karier sebagai penerjemah dan editor lepas, saya pernah bekerja di sebuah penerbit umum selama tujuh tahun lebih sebagai editor in-house. Dalam kurun waktu tersebut, sesekali saya juga menerjemahkan naskah buku untuk penerbit saya sendiri maupun penerbit lain. Perlu diketahui juga bahwa seorang editor juga idealnya mempunyai keterampilan menerjemahkan dan menulis, di samping keterampilan standar seperti bahasa Indonesia dan bahasa asing, wawasan tentang dunia buku, dan pengetahuan umum lain atau bidang tertentu lain secara luas dan mendalam.

Untuk menjadi penerjemah bagi penerbit, jalan yang ditempuh sama sekali tidak bisa dibilang gampang. Jalur standarnya adalah mengirim lamaran biasa disertai contoh hasil terjemahan. Contoh hasil terjemahan ini bisa diambil dari buku yang pernah kita terjemahkan, atau kalau kita belum punya karya terjemahan, bisa mengambil sumber teks dari artikel majalah atau buku-buku yang sudah berstatus public domain. Jika mengambil jalur terakhir ini, sering kali memang panggilan dari penerbit bisa sangat lama datangnya, atau malah tidak ada panggilan sama sekali, yang artinya penerbit menganggap kualitas kita belum mumpuni untuk standar mereka atau mungkin mereka sedang tidak membutuhkan tenaga penerjemah tambahan karena sudah cukup.

Tidak perlu berputus asa jika memang hal itu yang terjadi. Ada banyak yang bisa dilakukan untuk “menjual diri” atau “cari muka” di hadapan penerbit. Harap diketahui, para editor in-house adalah orang-orang yang “kepo”. Mereka gemar sekali browsing atau main di media sosial dan mengunjungi blog-blog pribadi. Maka ada baiknya orang yang ingin menjadi penerjemah atau editor lepas juga rajin menulis (agak) panjang, entah di blog atau di medsos. Editor in-house menilai kemampuan menulis dan wawasan kita dari situ juga.

Lagi pula, jumlah penerbit ada cukup banyak. Kalau mau, kita juga bisa mulai melamar ke penerbit kecil dulu. Sebab, penerbit besar punya kecenderungan untuk memakai jasa para penerjemah (atau editor) lepas yang sudah mereka kenal baik atau mereka anggap konsisten kualitasnya. Tidak jarang para penerjemah atau editor lepas itu dulunya adalah mantan editor in-house mereka sendiri.

Editor in-house dan editor lepas tidak bisa dibilang mempunyai tugas yang sama persis, walaupun sama-sama editor. Editor in-house punya tugas yang lebih banyak dan lebih kompleks daripada sekadar mengoreksi naskah. Editor in-house membuat konsep kover dan kemasan buku serta membuat cover checklist berisi blurb (atau sering disalahpahami sebagai sinopsis), judul, subjudul, endorsement, berburu naskah atau penulis, mendampingi penulis dalam acara-acara peluncuran buku, mengunjungi pameran buku di dalam dan luar negeri, dan banyak lagi.

Sementara itu, editor lepas hanya fokus pada satu tugas: mengoreksi naskah. Kecuali kalau dia diminta oleh penerbit untuk melakukan beberapa detail lain walaupun tidak sejauh desc-job editor in-house. Yang dimaksud dengan mengoreksi naskah di sini tidak semata mengoreksi salah ketik (typo), melainkan juga memastikan apakah ejaan sudah baku atau sesuai dengan gaya naskah dan apakah kalimat sudah mengalir mulus dan lancar. Jika yang dikoreksi adalah naskah terjemahan, editor harus memastikan hasil terjemahan sudah tepat dan “pas”. Singkatnya, tugas editor lepas itu lebih fokus.

Kebanyakan penerbit buku menawarkan tarif per karakter tanpa spasi untuk pekerjaan penyuntingan (editing) dan penerjemahan. Tarif penerjemahan jelas lebih tinggi daripada penyuntingan. Pasangan bahasa sumber dan target juga menentukan. Tarif terjemahan bahasa Indonesia-Inggris bisa jauh lebih tinggi dibandingkan terjemahan Inggris-Indonesia. Jika penyuntingan atau penerjemahan bahasa Inggris-Indonesia saja berkisar pada angka belasan rupiah per karakter, penerjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing bisa mencapai angka puluhan rupiah per karakter. Ini masih bisa bergantung pada negosiasi juga. Oya, bahasa asing selain Inggris punya tarif lebih tinggi disebabkan jumlah penerjemahnya lebih sedikit.

Angka tarifnya sendiri bisa didapatkan misalnya dari HPI atau hasil berdiskusi dengan rekan-rekan seprofesi. Jangan pernah ragu bernegosiasi dengan penerbit dalam hal menentukan tarif. Syaratnya cuma satu: kita yakin bahwa kualitas terjemahan kita memang baik dan konsisten pula hasilnya. Semakin bagus hasilnya, semakin ringan tugas editor in-house dan dia akan terus memberikan order terjemahan kepada kita secara rutin. Sebab, biasanya penerbit juga punya daftar penerjemah yang menjadi langganan mereka. Itulah sebabnya sangat sulit bagi pemain baru untuk menembus deretan penerjemah langganan penerbit. Tapi, hal itu juga tidak mustahil. Lagi pula, dunia penerjemahan masih sangat luas, seperti yang jelas di paragraf-paragraf awal tadi.

– Indradya S.P.

Penerjemah & editor lepas. Tinggal di Bandung.

Mengenal Freelance Marketing dan Seluk-Beluknya


freelance marketing 1

Meta deskripsi: Istilah freelance marketing bukan hal asing di dunia digital. Tapi tidak banyak yang benar-benar tahu, apa freelance marketing sebenarnya.

Beberapa dekade silam, istilah freelance marketing mungkin tidak terlalu bergaung di Indonesia. Tetapi sejak tingkat pengetahuan soal teknologi dan internet meningkat di masyarakat, istilah tersebut mulai muncul dan menjadi salah satu pilihan karir yang populer. Meskipun begitu, masih banyak yang belum benar-benar mengerti dan mengenal profesi freelance marketing.

Freelance sendiri merupakan istilah dari Bahasa Inggris untuk menyebut seorang pekerja lepas. Pekerja lepas merupakan seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan atau instansi tetapi tidak terikat. Artinya mereka memiliki kewajiban untuk menyelesaikan tugas yang diambil, tetapi memiliki hak penuh untuk memilih mengerjakan suatu pekerjaan atau tidak.

Istilah freelance pertama kali diperkenalkan oleh Sir Walter Scott melalui buku fiksinya yang berjudul “Ivanhoe.” Istilah tersebut digunakan untuk menyebut tentara bayaran pada abad pertengahan. Kata freelance sendiri berasal dari “free” (bebas) dan “lance” (tombak). Artinya pekerja lepas merupakan metaforan dari sebuah tombak yang bisa bekerja bebas tanpa majikan tertentu dan tidak bisa didapatkan secara gratis.

Meskipun dilihat dari sejarahnya penggunaan istilah ini merupakan paduan bahasa dan sejarah yang rumit, tetapi banyak yang sepakat menggunakan istilah freelance untuk menyebut pekerja lepas. Secara teknis, pekerja lepas bisa bekerja di bidang apapun yang mereka sukai. Tapi hanya ada beberapa bidang yang sering menggunakan pekerja lepas sebagai tenaga.

Yaitu, jurnalisme, penerbitan buku, segala pekerjaan yang berhubungan dengan tulisan, editor, programer komputer, desain grafis, konsultan, hingga penerjemah.Di era digital seperti saat ini, jangkauan pekerja lepas tentu saja semakin luas. Cukup dengan akses internet, mereka mampu mendapatkan berbagai macam pekerjaan freelance yang sesuai dengan keahlian tanpa harus meninggalkan rumah.

Dari sinilah fenomena freelance marketing muncul dan berkembang. Lalu, apakah freelance marketing itu?

Freelance marketing merupakan istilah untuk menyebut kegiatan para tenaga lepas dalam mencari klien atau perusahaan yang membutuhkan kemampuan mereka. Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dilakukan oleh para freelance marketer agar dapat mempromosikan sebuah merek atau perusahaan, yaitu:

  1. Membuat suatu promosi yang semenarik mungkin
  2. Menciptakan sebuah website atau bisnis yang dapat meningkatkan potensi klien
  3. Dan meyakinkan sebuah perusahaan untuk membeli produk yang dijual

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebuah badan usaha memerlukan strategi pemasaran dalam bentuk baru dan semenarik mungkin. Mengingat hal tersebut tidak seluruhnya bisa dilakukan oleh pemilik perusahaan, dari sinilah peluang untuk para freelance marketer bermula.

Jadi jika Anda seseorang yang kreatif dan sedang mencari peluang untuk memaksimalkan potensi tersebut dan mendapatkan penghasilan, menjadi pekerja lepas merupakan pilihan yang tepat. Secara umum, ada beberapa bidang yang bisa menjadi peluang bagi para pekerja lepas untuk menunjukkan potensi mereka. Yaitu melalui media sosial, bisnis properti, dan segala usaha yang berbasis digital.

Freelance Marketing di Media Sosial

freelance marketing 2

Beberapa dekade belakangan, media sosial telah berkembang menjadi salah satu platform untuk mempromosikan suatu merek atau perusahaan. Penggunaan media sosial dianggap efektif mengingat jumlah pengguna internet yang juga memiliki medsos semakin lama semakin meningkat.

Selain itu media sosial juga tidak memiliki batasan usia, selama memiliki akses internet, setiap orang bisa melihat media sosial dan segala konten di dalamnya dengan bebas. Potensi inilah yang membuat berpromosi melalui medsos dianggap efektif dan efisien. Biaya produksinya pun bisa dipangkas serendah mungkin untuk meningkatkan keuntungan.

Tidak heran jika saat ini, banyak sekali klien dan perusahaan yang memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan barang atau produk mereka. Meskipun kelihatannya efektif, tetapi membuat sebuah promosi di media sosial ternyata tidak bisa dilakukan secara asal-asalan.

Sama seperti ikan konvensional di televisi, dibutuhkan konsep yang mampu meningkatkan awareness terhadap produk yang dijual. Di sinilah peran freelance marketing social media dibutuhkan. Selain kreativitas, pekerja lepas di bidang ini dituntut agar dapat membuat iklan yang seunik mungkin sehingga bisa menarik perhatian para pengguna media sosial.

Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dikuasai oleh para pekerja lepas di media sosial, yaitu:

  1. Mampu mengelola berbagai akun media sosial
  2. Memahami setiap platform media sosial yang dikelola secara menyeluruh
  3. Membuat konten iklan semenarik mungkin sesuai konsep media sosial yang digunakan
  4. Mengikuti perkembangan zaman dan tren (hal-hal yang sedang viral di media sosial)

Menarik bukan? Mengingat betapa besarnya pengaruh media sosial di kehidupan masyarakat zaman now, tidak heran jika selain freelance marketing social media, ada berbagai profesi baru yang muncul dan populer seperti influencer, selebgram, dan selebtwitt. Orang-orang yang menyandang titel tersebut dianggap mampu meningkatkan awareness terhadap sebuah produk melalui akun media sosial mereka masing-masing.

Tapi jika ingin konten yang berkualitas dan berpotensi untuk viral, tidak ada salahnya untuk memanfaatkan kemampuan para freelance marketing social media. Agar potensi sebuah konten bisa maksimal, kombinasikan kreativitas para pekerja lepas ini dengan popularitas para selebritis media sosial.

Freelance Marketing Properti

freelance marketing 3 property

Salah satu bisnis yang sering memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk mereka adalah properti. Jika dulu iklan jual beli atau sewa rumah hanya bisa ditemukan di koran, saat ini promosi properti juga bisa kita temukan di berbagai platform media sosial.

Seperti yang kita tahu, perkembangan bisnis di bidang ini cukup pesat dan cepat. Apalagi nilai jual properti berbeda dengan barang mewah lainnya seperti mobil atau emas. Nilai jual tanah dan bangunan cenderung meningkat setiap tahun, seberapa buruk pun kondisi ekonomi suatu negara.

Tidak heran jika investasi di bidang ini dianggap sangat menguntungkan. Melihat potensi bisnis properti tersebut, bukan hal yang aneh jika banyak sekali orang yang tertarik untuk terjun di bidang ini. Banyak developer yang berlomba-lomba untuk membuat kawasan hunian dengan fasilitas lengkap, lokasi strategis, dan harga semenarik mungkin.

Sayangnya, meski memiliki kemampuan membuat hunian yang apik, tidak semua developer mampu memasarkan produknya dengan baik. Mereka membutuhkan bantuan para marketing properti untuk memasarkan hunian agar bisnisnya semakin berkembang.

Karena saat ini penggunaan media sosial untuk mempromosikan sebuah produk dianggap efektif, peluang untuk menjadi freelance marketing di bidang ini pun cukup besar. Jika tertarik terjun di bidang ini, setidaknya ada beberapa kualitas yang harus dimiliki. Di antaranya:

  1. Memiliki pengetahuan mumpuni tentang properti

Tidak hanya menguasai media sosial, seorang freelance marketing property juga dituntut untuk memahami berbagai sistem dalam bisnis properti seperti: status dan kondisi tanah, dokumen-dokumen terkait properti, proses kredit bank, nilai investasi, hingga potensi produk yang dijual.

  1. Mampu membuat website dan mengelola akun media sosial

Selain pengetahuan di bidang properti, seorang freelance marketing juga dituntut untuk dapat membuat sebuah website yang bisa memaksimalkan promosi produk properti. Pembuatannya pun tidak bisa dilakukan secara asal-asalan, karena website merupakan nilai jual yang dapat menarik kepercayaan konsumen.

Selain website, para freelance marketer juga dituntut dapat mengelola akun dan menggunakan berbagai platform media sosial. Sehingga pemasaran properti tidak hanya dilakukan melalui website tetapi juga media sosial agar cakupan konsumennya lebih luas dan beragam.

  1. Menguasai teknik negoisasi

Seperti halnya penjual kebanyakan, seorang freelance marketing property juga diharapkan mampu menguasai teknik negoisasi yang baik. Teknik tersebut termasuk penggunaan bahasa yang tepat, kemampuan untuk memikat calon konsumen, hingga pemberian penawaran yang tidak merugikan kedua belah pihak. Meskipun kelihatannya sulit, kemampuan tersebut biasanya akan kita miliki seiring bertambahnya pengalaman dalam bidang properti.

  1. Telaten dan tekun

Meskipun secara teknis tugas seorang freelance marketer property sama dengan agen penjualan lain. Tetapi profesi ini membutuhkan tingkat ketelatenan dan ketekunan yang lumayan tinggi. Karena selain menggunakan cara klasik, pemasaran yang dilakukan juga memanfaatkan teknologi masa kini. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan.

Membuat konten seunik mungkin sehingga dapat menarik konsumen di media sosial dan website bukanlah hal mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih agar penjualan yang dilakukan bisa mendapatkan hasil maksimal. Jadi, tertarik untuk terjun di bidang ini?

Honor Freelance Marketing

freelance marketing 4 honor

Sebagaimana yang telah Anda baca pada artikel lain di situs Freelancer ini, perhitungan honor atau fee freelance marketing ditentukan berdasarkan 3 hal, yaitu:

  1. Lama pekerjaan
  2. Target pekerjaan dan,
  3. Kombinasi keduanya

Berbeda dengan karyawan konvensional, pekerja lepas tidak terikat tanggung jawab terhadap suatu perusahaan dan tidak berhak menuntut fasilitas yang biasanya diberikan pada karyawan tetap, seperti asuransi, tunjangan, insentif, atau bahkan pesangon. Meskipun begitu, bukan berarti menjadi seorang freelance marketer tidak menguntungkan.

Ada banyak aspek lain yang membuat bekerja di bidang ini terasa lebih seru dan menjanjikan dibanding menjadi karyawan biasa. Mulai dari fleksibilitas waktu kerja, minimnya tuntutan dari atasan, hingga kreativitas yang tidak terbatas. Menarik bukan? Bahkan jika kita memiliki kualitas di atas rata-rata, bukan tidak mungkin, banyak klien yang bersedia menggunakan jasa freelance marketer meskipun fee-nya sedikit di atas rata-rata.

Inilah mengapa sebelum memutuskan untuk terjun di bidang ini, pastikan kita memiliki beberapa kualitas yang dapat menaikkan harga jual jasa di hadapan konsumen. Karena meskipun tidak mengikat atau terikat perusahaan manapun, menjadi freelancer bukanlah hal mudah.

Lingkup yang terbatas justru membuat profesi ini memiliki nilai kompetisi dan persaingan yang cukup tinggi. Jika tidak didukung oleh kemampuan dan kualitas yang mumpuni, para freelance marketing tidak akan bisa bertahan dan mendapatkan penghasilan yang menjanjikan dari profesi ini.

Selain kualitas, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan harga jual seorang pekerja lepas di hadapan klien. Di antaranya:

  1. Memiliki spesialisasi di bidang tertentu (Niche)

Sah-sah saja menjadi seorang pekerja lepas yang ahli dalam berbagai bidang. Tetapi untuk menjaga kualitas dan mendapatkan keuntungan lebih, kita membutuhkan keahlian khusus dalam satu atau dua bidang. Misalnya, kita tertarik pada segala hal yang berbau properti. Jika ingin ketertarikan tersebut mendatangkan keuntungan, fokuslah pada bidang properti.

Pelajari segala hal tentang sistem jual beli tanah dan bangunan, bagaimana membuat akta dan dokumen terkait, mengetahui proses kredit KPR di bank, hingga memiliki pengetahuan luas tentang status dan potensi suatu properti. Selain itu, kita juga harus memiliki kemampuan penjualan dan negoisasi yang baik.

Sehingga klien tidak segan untuk menaikkan fee atau komisi, karena hasil yang diberikan cukup maksimal. Hal ini juga berlaku jika Anda tertarik untuk terjun di bidang freelance marketing lainnya. Pilihlah bidang yang membuat Anda nyaman dan tertarik agar hasil yang didapatkan pun tidak kalah menarik.

  1. Mampu bersaing

Meskipun lingkupnya tidak seluas pekerjaan konvensional, bukan berarti menjadi freelance marketing tidak memiliki saingan. Untuk meningkatkan fee dan mendapatkan penghasilan lebih, seorang pekerja lepas juga harus memiliki kemampuan bersaing yang baik.

Tawarkan kualitas yang mampu membuat klien tertarik dan bersedia membayar dengan harga mahal. Seperti kemampuan mengelola media sosial, mengoperasikan aplikasi atau software tertentu, dan soft skill khusus yang tidak banyak dimiliki orang (misal: menulis, menggambar, atau mendesain).

  1. Fleksibel dalam menentukan harga

Dalam menentukan tarif, seorang freelance marketing harus memiliki kemampuan untuk mengukur keahlian mereka. Jangan sampai harga yang kita tawarkan atau ditentukan oleh klien di bawah standar dan tidak sesuai dengan kualitas yang diberikan. Jangan sampai pula, harga yang ditetapkan tergolong tinggi sehingga membuat konsumen ragu bahkan enggan untuk menggunakan jasa kita.

Fleksibilitas merupakan kunci untuk bertahan di industri freelance marketing. Sebagai panduan penentuan tarif, ada beberapa poin yang harus dipertimbangkan. Di antaranya:

  • Waktu pengerjaan (per jam, per hari, per minggu, atau per bulan)
  • Kuantitas proyek (per-slide, per kata, per karakter, atau per menit)
  • Tingkat kesulitan proyek, dan
  • Kualitas klien (perusahaan besar atau perorangan)

Untuk mendukung kualitas hasil pekerjaan dan stabilitas penghasilan, sebagai freelancer hendaknya kita lebih bijaksana dalam memilih proyek dan bidang yang akan dikerjakan. Jangan sampai hanya gara-gara tergiur dengan fee freelance marketing yang menggiurkan, kualitas pekerjaan kita menurun sehingga kehilangan klien potensial.

Freelance Digital Marketing

freelance marketing 5 digital

Pada dasarnya apapun bidang yang kita pilih saat terjun di dunia freelance marketing, selama hal tersebut berhubungan dengan teknologi dan internet, maka kita bisa disebut pelaku freelance digital marketing. Jika tertarik untuk berkutat di bidang ini, setidaknya ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Di antaranya:

  1. Membangun jaringan

Tidak seperti karyawan konvensional, seorang pekerja lepas harus membangun jaringannya sendiri agar mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang diinginkan. Mulailah dari menghubungi teman-teman atau kerabat lama untuk membangun jaringan, dan terbuka dengan berbagai kesempatan untuk terhubung dengan jaringan baru. Karena semakin luas jaringan yang dimiliki, kesempatan untuk menawarkan jasa sebagai freelance marketing pun semakin berkembang.

  1. Kumpulkan portofolio

Saat pertama kali terjun di bidang freelance marketing, kita harus sedikit “rakus.” Lakukan setiap pekerjaan yang ditawarkan tanpa pandang bulu untuk menambah pengalaman dan mengumpulkan portofolio. Karena di masa yang akan datang, pengalaman dan portofolio tersebut bisa menjadi poin penting yang akan menaikkan nilai jual di hadapan klien.

  1. Aktif di media sosial

Karena berhubungan dengan dunia digital, menjadi aktif atau bahkan menguasai berbagai media sosial merupakan sebuah keharusan. Selain dapat digunakan sebagai platform promosi, kemampuan mengelola media sosial juga bisa menjadi poin yang membuat klien tertarik untuk menggunakan jasa kita.

  1. Rajin menghadiri acara dan seminar terkait

Dari acara tersebut, biasanya kita bisa belajar banyak hal tentang dunia digital marketing, tips, bahkan trik untuk menggaet klien. Selain itu, kita juga dapat bertemu banyak orang baru yang disadari atau tidak, dapat membantu memperluas jaringan. Menarik bukan?

Jadi, tertarik untuk terjun di dunia freelance marketing? Semoga informasi di atas bermanfaat, dan jangan lupa untuk membaca artikel lain di situs Freelance ini.

Menulis Untuk Diri Sendiri


Yang baca tulisan ini mungkin seorang sarjana, mungkin juga sedang menempuh Pendidikan (alias masih mahasiswa/anak sekolah). Sudah biasa menulis, terutama di sekolah. Karena kita belasan tahun belajar (membaca dan menulis), sudah seharusnya menulis adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Logika umumnya begitu. Bahkan, banyak sekali anggapan bahwa semua orang bisa menulis.

Yang kedua adalah bahwa seakan-akan pembaca dari tulisan kita selalu orang-orang di luar kita. Hampir gak ada tuh yang namanya diri sendiri sebagai pembaca.

Saya, terus terang berada di pihak yang berseberangan dengan kedua pendapat tersebut.

Dan saya ada tiga alasan mengapa kita sesekali butuh untuk menjadikan diri kita sebagai pembaca dari tulisan kita sendiri.

menulis 1

Pertama, menulis itu menyembuhkan diri sendiri.

Kehidupan modern jaman now ini, banyak menyebabkan iri hati. Apalagi ada social media sebagai amplifier alias penguat message. Teman yang lanjut sekolah, lha. Kita belum ada waktu dan uang untuk meneruskan pendidikan. Teman yang jalan-jalan ke luar negeri, lha. Sama: belum ada waktu dan uangnya. Haha. Teman yang karirnya bagus, teman yang mengumumkan akad dan resepsi pernikahannya, teman yang keluarganya berbahagia dari kelahiran putra/putri pertama, kedua, dan seterusnya. Sementara kita masih single/jomblo/you name it. Semua itu bisa menyebabkan kegalauan. Memang sih, pilihannya kembali ke diri sendiri. Tergantung kamu mau memilih untuk galau atau tidak.

Salah satu cara menghindari kegalauan adalah dengan menulis. Mengapa menulis? Karena menulis itu menuangkan kegelisahan kita. Tapi kita tidak membuat diri sendiri malu, kok. Karena hanya kita seorang diri yang membaca. Menulisnya juga jangan di sembarang tempat. Kalau dulu -puluhan tahun yang lalu- ada namanya diary, sekarang diary-nya bisa digital. Bahkan di wordpress.com pun, bisa di-setting supaya tidak tayang.

Kedua, menulis itu untuk berekspresi.

Ada public area, ada private area. Orang-orang suka lupa membedakan keduanya. Apalagi di jaman socmed begini. Sering lupa juga dia berada di area yang mana. Atau, ada orang yang terlampau sering berada di public area. Sehingga lupa bahwa dia punya private area yang seharusnya menjadi tempat dia kembali ke dirinya sendiri. Saya menyebut orang-orang yang tidak punya hobi itu, sebagai tidak punya private area. Hahaha. Atau, terlampau asyik dengan dirinya sendiri sehingga lupa berbicara dengan para khalayak di public area.

Yang ingin saya sampaikan adalah menulislah untuk mengekspresikan perasaan (isi hati) maupun pikiran/pengetahuan (isi kepala) di area privat anda.

Social media itu ruang publik. Bisa menjadi sarana berekspresi. Kapan sebaiknya tidak berekspresi? Kalau yang kita ingin ekspresikan itu penuh dendam, memuat konten SARA, sesuatu yang membuat diri kita malu, dst.

Misalnya kamu seorang singlelillah atau jomblo fii sabilillah, mungkin kamu belum punya orang yang tepat untuk mendengarkan perasaan atau ekspresi kamu sendiri. Maka menulislah untuk mengekspresikan perasaan yang hanya akan didengarkan oleh dirimu sendiri.

Ketiga, menulis itu untuk merapikan pengetahuan.

Menulis itu cara lain, sih. Cara paling utama merapikan isi kepala itu adalah dengan tidur cukup dan tepat waktu. Cukup artinya, minimal enam (6) jam. Tepat waktu artinya, tidak tidur terlalu larut sehingga bisa bangun sebelum adzan subuh. Itu cara pertama mengorganisasikan dan menyusun ulang isi kepala kita. Di samping itu, tidur tepat waktu dan tepat jumlah adalah cara menetralisir racun-racun dalam tubuh. Memang, organ hati kita bekerja maksimal di malam hari.

Tidak harus kamu adalah siswa/mahasiswa yang belajar di sekolah/kampus sehingga kamu berkewajiban merapikan pemahaman kamu, mumpung ujian masih lama. Sehingga tidak SKS (sistem kebut semalam). Tidak harus juga kamu adalah karyawan di kantor yang learning by doing atau sedang dalam OJT (On Job Training) sehingga kamu harus mengelola ilmu/pengetahuan dengan baik.

Tapi simply karena segala aktivitas harian kita itu ada ilmu, ada renungan yang bisa kita ambil, maka menulislah. Terutama dalam bentuk diary, ya. Ketika kita sudah menulis, lalu flashback ke tulisan-tulisan sebelumnya kita jadi tahu kita pernah melakukan apa. Banyak orang tidak reflektif dalam hidupnya. Lupa dia pernah mengerjakan apa. Tidak tahu apa yang dia capai. Sehingga, dia lupa merencanakan apa-apa yang mau dia raih. You understand what I mean, didn’t you?

Bisa saya katakan, menuliskan ulang informasi atau pengetahuan yang kita dapat, itu sangat bermanfaat untuk karir kita ke depan. Bisa juga kita menuliskan angan-angan/rencana/mimpi-mimpi yang kita targetkan untuk bisa terwujud dalam beberapa waktu ke depan. Apakah kita pekarya atau pekerja, menulis tentang ilmu pekerjaan sendiri, pasti akan ada manfaatnya dalam pekerjaan/profesi yang kita geluti.