Tentang ikhwanalim

muslim, consultant, writer. feel free to mail me: ihwanul.alim@gmail.com

Resensi Dua Novel


Saya membaca dua novel berikut ini untuk menambah referensi maupun perspektif baru terhadap keterampilan menulis saya. Analog dengan coding di industri digital, ini adalah upaya untuk menambah library saya. Di samping juga untuk memperkaya cara berekspresi via tulisan.

Instead of setia terhadap karya-karya penulis seperti Tere Liye, Dewi Lestari, Adhitya Mulya, alangkah baiknya untuk menambah perspektif baru dari penulis dari dua buku yang saya bahas berikut ini.

cinta-tak-pernah-tepat-waktu-back

Yang pertama adalah Cinta Tidak Pernah Tepat Waktu dari Puthut EA. Siapa yang menulis, menjadi pertimbangan bagi saya dalam memilih novel. Puthut EA ini editor senior, termasuk pendiri dan pemilik kira-kira untuk media digital kekinian dengan brand Mojok (www.mojok.co).

kambing-dan-hujan-new

Yang kedua adalah Kambing dan Hujan yang dikarang oleh Makhfud Ikhwan. Dasar ceritanya adalah perbedaan-perbedaan dalam praktik beragama antara Nadhlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah. Makhfud mengilustrasikannya dengan baik sekali via keberadaan dua masjid di sebuah kampung; satu Masjid Utara, satunya adalah Masjid Selatan. Penulis mengekspresikan plot cerita lewat sejarah pemikiran-pemikiran, maupun upaya-upaya dari tokoh-tokoh –bisa disebut persaingan antar masjid-di antara kedua masjid tersebut. Cerita ini menarik sekali karena disentuh dengan pendekatan seorang pemuda dan seorang pemudi yang baru saja wisuda dan ingin menikah. Si pemuda biasa berjamaah di masjid utara, sedangkan si perempuan biasa berinteraksi dengan masjid selatan.

Sebagaimana disampaikan di kaver belakang, karya Puthut EA berkisah tentang pergolakan pemikiran, goncangan batin, pencarian cinta, dan upaya untuk menyembuhkan diri dari penyakit yang diderita sang tokoh utama.

Sebagai lelaki, saya gemes melihat si tokoh utama ini. Galau terus, susah move on, gak mencari solusi atas ke-jomblo-annya. Saya dulu mengalami hal yang sama #eeaaaa tapi bagaimanapun juga life must go on hidup harus berjalan terus dengan atau tanpa dia. Namun ke-gemes-an itu justru mendorong untuk menyelesaikan novel ini. Apakah sang tokoh utama kiranya akan mencapai plot yang dikehendaki oleh semua pembaca? Yaitu, sukses mengatasi semua problematika hati dan pikiran tersebut sehingga berhasil merangkai cinta dan mengakhirinya di pelaminan bersama seorang wanita?

Di ujung akhirnya agak gantung. Karena penulis tidak menceritakannya sampai ke sana. Tapi, teknis kepenulisannya secara tersirat berhasil menyatakan kepada pembaca bahwa si tokoh utama berhasil move on setelah gagal untuk kesekian kalinya—telat menyatakan cinta hanya beberapa minggu kepada kasir sebuah kafe—yang kebetulan duduk bersebelahan dalam sebuah kereta dan ternyata wanita yang bersangkutan baru saja menikah.

Bagaimana dengan karya Makhfud Ikhwan? Saya mengagumi karya ini karena direkayasa sedemikian rupa. Dalam istilah saya, fiksi ini ditulis dengan pendekatan non-fiksi. Tentu ini sok tahu-nya saya. Tapi maksud saya begini: pengumpulan fakta dan data dulu—kisah cinta tertolak antara insan NU dengan insan Muhammadiyah pastinya sangat menarik. Diikuti dengan penyusunan plot demi plot cerita. Penetapan nama dan pembentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Analog dengan pengembangan aplikasi digital, setiap perpindahan server dan environment yang baru, penulis selalu melakukan penyesuaian ulang, apakah setiap kata, kalimat, dan paragraph koheren menyusun cerita yang menarik.

Kambing dan Hujan itu, pemberian judul yang menarik. Tapi analoginya kurang masuk bagi saya. Kambing memang menghindari hujan, namun hujan tidak menghindari kambing, ‘kan? Padahal kedua ayah yang diceritakan memang saling menghindari satu sama lain.

Omong-omong, karya Makhfud Ikhwan ini menjuarai sayembara novel dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di tahun 2014.

Haruskah pekerjaan freelance diteruskan?


Sekarang ini, di waktu reguler saya bekerja di kantor. You know, lha. Pagi sampai sore. Senin sampai Jumat. So, I can do the father-ing activities pretty much.

HARUSKAH PEKERJAAN FREELANCE DITERUSKAN_

Sebelum di kantor sini, saya sempat bekerja freelance. Cukup lama, kalau saya bandingkan dengan teman-teman yang lain di kantor sini. Ada yang beberapa bulan. Paling lama setahun. Karena saya bekerja freelance sampai 25 bulan.

Sebenarnya, sampai sekarang juga saya masih mengerjakan beberapa pekerjaan freelance. Kalau teman-teman yang tadi saya ceritakan, mostly mereka web developer. Sementara saya seorang penulis konten. Ada juga buku yang saya tulis.

FYI, beberapa orang menjadikan profesi “freelance” sebagai alibi. Beneran jadi alibi? Maybe yes, maybe no. Mungkin mereka sedang mencari kerja kantoran, tapi belum dapat. Jadinya yes, alibi. Soalnya belum dapat kerjaan freelance yang baru, jadi iseng-iseng buka toko online lha, buka layanan desain grafis, social media administrator, content writer, dst.

Kecuali memang, freelance adalah makanan mereka sehari-hari. Berarti freelance-ing bukan alasan. The very big NO. Studi kasusnya memang ada nih. Teman saya sendiri. Setelah sekitar 10 tahun freelance sebagai web developer, akhirnya direkrut bekerja sebagai karyawan tetap. Tapi perusahaanya di eropa timur sana. Dia kerja remote dari Bandung. Mulai kerja jam 11 pagi mengikuti waktu bekerja employer-nya di sana.

Freelance is BAU

Kenyataan yang cukup sering dilupakan orang adalah, freelance-ing is really business as usual (BAU). When you think and talk about BAU, it is not necessary as sales and operation only. But also marketing (branding and promotion), finance management, network development, product/service research and development, etc.

For example: 

  • Branding: establish personal blog/social media, search new audience, and put content frequently 
  • Promotion: do some discount, cashback, etc to attract a new buyer or retain customer 
  • Product/service research: searching/creating “the next big things”
  • Network development: routinely attend the communities meeting, actively participate in creating communities event, etc 

So, the BAU’s problem of freelance-ing (if you really want to be serious in it) is it really takes so much of your personal resource.

Kita ambil contoh freelance writer deh, ya:

  • Branding: bikin dan mengisi profesional blog. Tulisan yang sama bisa juga dirilis di facebook fan page. Bikin Instagram, tiap link konten baru diposting di sana. Menulis buku sendiri supaya dipajang di toko buku, dll
  • Promotion: bikin penawaran harga diskon untuk calon pemberi kerja yang baru, kalau perlu kasih contoh gratis, dll
  • Product research: cari topik baru yang lagi tren: misalnya, parenting, islam, komedi satir para jomblo, kuliner, wisata, dll
  • Network development: cari referensi brand yang suka bikin product review, ikutan komunitas blogger, dst

So, If you just wanna operate with limit resource, then it may not getting any bigger.

Mau besar? Harus bangun tim, menetapkan business process, berbagi fungsi, harus sedia uang kontan dulu di depan (dari pinjaman atau investor), bikin dan mengejar target, dst.

Tentang Harga

Perspektif lain adalah soal harga.

Harga mulai bisa menyenangkan, kalau kinerja kamu sudah bagus. Syarat performance dan service yang setidaknya good, bisa dilihat dari portfolio dan jam terbang. Itulah persoalan dengan situs-situs semacam freelancer, upwork, dll. Pasar freelance seperti itu terlalu banyak dimasuki oleh para pemain baru.

You know, pemain baru selalu masuk dengan harga rendah supaya bisa dapat pekerjaan. Sementara, kualitas pekerjaannya sendiri masih di tahap belajar. Jadinya, pemberi kerja juga belum mau membayar tinggi. Mengapa demikian? Pemberi kerja juga berpikir, daripada saya bayar lebih mahal, lebih baik saya kerjakan sendiri saja. Kalau cost-nya masih terjangkau, tidak apa saya outsource. Klop sudah, penyedia jasanya ya begitu, jadinya yang meminta jasa juga begitu.

Itulah yang menjadi dasar lahirnya pertanyaan sekaligus judul di atas. Dalam perspektif freelancer, untuk apa saya ngoyo mengerjakan proyek kalau angkanya cuma segitu (karena mengikuti harga pasar yang banyak diterjuni oleh pemain baru berharga murah)? Pun saya memberikan lebih baik, belum tentu pemberi kerja mau menaikkan tawarannya.

Ini adalah pikiran dari pekarya (meminjam istilah Pandji) yang percaya diri dengan kualitas karyanya.

Beberapa teman di komunitas blogger, yang mostly perempuan itu, cukup sering menyebutkan diri mereka sebagai freelance. Saya menduga-duga, freelance-ing satu ini adalah aktivitas lain mereka selain peran utama sebagai Ibu Rumah Tangga. Saya tidak sedang mendiskreditkan IRT ya. I mean, mungkin belum mengambil waktu se-massive pekerjaan kantor yang 40 jam seminggu. Actually, pekerjaan rumah tangga itu lebih menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Cukup stressful, pula.

Sebagai istri dan Ibu Rumah Tangga, saya rasa mereka masih ada Suami yang menjadi tulang punggung ekonomi dan keluarga. Jadi aktivitas mencari dana adalah aktivitas sekunder yang bervariasinya pendapatan (antara banyak dan banyak sekali, hehe) belum mendatangkan masalah. Sebab, ada suami yang memiliki pekerjaan (dan gaji) tetap.

Beda banget kalau suami dan/atau istri, sama-sama hidup dari menyediakan jasa yang sifatnya freelance. Pastinya bukan hal yang mudah hidup dengan ketidakpastian pekerjaan (dan penghasilan). Bagaimana dengan saya sendiri?

Saya lebih memilih punya pekerjaan tetap dan menolak proyek kalau harganya tidak memuaskan bagi saya. Saya punya metodologi dalam bekerja, serta standard tertentu yang harus saya capai. Atas keduanya, saya tidak ingin memberi sembarang price tag.

Dari teman-teman pembaca, mungkin ada pendapat? Ditunggu komentarnya di bawah ya 🙂

Sales Supervisor


Kriteria penting untuk menjadi area sales manajer adalah mampu mengelola tim. Mampu berhubungan baik dengan anggota tim dan mampu memotivasi kinerja mereka. Sesekali harus menyediakan waktu untuk melakukan visit kepada customer. Di samping untuk mendengar langsung masukan dari pelanggan, serta untuk mengevaluasi kinerja anggota tim yang melayani pelanggan tersebut. Anggota tim belum tentu semuanya adalah sales yang turun ke lapangan. Salah satu anggota tim adalah Sales Administrator atau Sales Admin.

supervisor

Sales administrator. Day-to-day bekerja di kantor mengelola berbagai dokumen penjualan. Mengkoordinasikan sales manager, sales supervisor, dan tim sales lainnya dalam perihal laporan-laporan yang dibutuhkan. Alias menagih tim sales untuk membuat laporan. Bahkan mungkin membuat laporan penjualan untuk area yang dipimpin oleh sang Sales Manager. Di samping itu adalah menghimpun dan merangkum database pelanggan. Selain itu, bisa jadi menerima order/pesanan dari pelanggan via telepon.

Orang yg menghandle area di perusahaan adalah area sales manager. Jadi wilayah penjualan yang dipertanggung-jawabkan olehnya, dibagi-bagi lagi menjadi territory yang lebih kecil. Wilayah penjualan ‘kan tidak hanya soal menjual sebanyak-banyaknya. Tetapi juga bagaimana menjaga dan mempertahankan pelanggan. Masing-masing territory dipegang oleh Territory Sales Supervisor (TSS).

Kalau sedang melamar kerja, lalu ditawari posisi Sales Supervisor, coba dianalisis terlebih dahulu jabatan Sales Supervisor yang ditawarkan. Apakah di perusahaan pemilik produk (brand owner)? Atau dari perusahaan distributor?

Job desk sales supervisor

Bila bekerja di perusahaan brand owner.

  • Sebagai bagian dari perusahaan yang berhadapan langsung dengan distributor pelaksana
  • Sales supervisor melaksanakan sistem penjualan yang sudah dikembangkan oleh perusahaan
  • Sales supervisor sebagai perwakilan perusahaan, sehingga wajib menjaga citra perusahaan
  • Boleh berteman baik dengan orang dari distributor, tetapi tidak perlu curhat yang dapat menurunkan kredibilitas diri atau citra pribadi

Tugas Sales Supervisor

Apabila distribusi dilakukan oleh tim sendiri. Bukan oleh distributor yang ditunjuk.

  • Pemimpin tim kerja (tim nya ada driver, salesman taking order, merchandiser, sales admin, dll) sehingga harus membentuk tim kerja yang solid
  • Memotivasi, melatih, mengembangkan salesman serta mengevaluasi kinerja salesman
  • Memecahkan masalah tim
  • Mengontrol perubahan

Keterampilan TSS

  • keterampilan administratif
    • keterampilan mengelola dokumen
    • keterampilan mengkoordinasi laporan-laporan yang dibutuhkan
    • keterampilan mengelola berbagai hal yang berhubungan dengan administrasi penjualan
  • keterampilan human relation
    • komunikasi
    • konseling
    • pendelegasian
    • kepemimpinan
    • penyelesaian konflik
  • keterampilan teknis
    • pengetahuan produk sendiri, produk kompetitor, serta produk substitusi
    • keterampilan menjual dan negosiasi
    • pengetahuan pelanggan dan wilayah
    • pengetahuan pasar/industri

Tugas Penting Salesman

Menurut salah seorang pakar pemasaran, Kotler, seorang salesman juga memiliki beberapa tugas-tugas penting yang meliputi:

1. Prospecting (Mencari prospek).
2. Targeting (Menentukan alokasi waktu mereka diantara prospek dan para pelanggan).
3. Communicating (Menyampaikan berbagai informasi seputar produk yang telah dihasilkan oleh perusahaan).
4. Selling (Melakukan pendekatan, presentasi, menjawab pertanyaan/keberatan , dan menutup penjualannya).
5. Servicing (Memberikan layanan bagi pelanggan, mengatasi keluhan, memberikan bantuan teknis, mengatur keuangan, dan untuk mempercepat pengirimannya).
6. Information gathering (Melakukan riset terhadap pasar (meliputi pelanggan dan kompetitor) dan menentukan tindakan seperti apa yang paling tepat untuk permasalahan tersebut).
7. Allocating (Memutuskan pelanggan mana yang nantinya akan mendapatkan produk yang langka selama masa kehabisan barang).

Melakukan riset terhadap pelanggan dan melakukan competitor benchmarking. Mengetahui taktik-taktik yang dilakukan oleh kompetitor.

Maka dari sinilah peran sales yang sangat penting bagi perusahaan agar perusahaan mampu menghasilkan pendapatan yang kemudian akan dikelola lagi agar bisa menghasilkan produk.

Namun dengan perkembangan bisnis yang sudah semakin pesat dan semakin membludaknya produk-produk baru di pasaran, maka persaingan yang semakin ketatpun menjadi tidak mungkin bisa terhindarkan. Seorang salesman akan semakin dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan harus memiliki inovasi agar bisa menjadi the smart salesman, dalam menghadapi kuatnya persaingan tersebut.

Smart Salesman 

Berikut ini merupakan beberapa tips dalam membuat strategi penjualan yang harus Anda coba agar dapat menjadi seorang the smart salesman:

  1. Melatih diri untuk menggali ide-ide baru.

Ide-ide baru seputar mendapatkan pembeli baru, mempertahankan pelanggan lama, menagih pelanggan, mengeluarkan lebih banyak barang dari gudang, dan lain sebagainya.

Ide-ide baru bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja. Dari sharing dengan sesama teman-teman salesman, atau pengamatan langsung pada saat berada di lapangan.

 

2. Menganalisis untuk mengeksekusi ide-ide tersebut.

Setelah mendapatkan ide baru, maka buatlah analisis untuk langkah-langkah seperti apa yang harus dilakukan untuk menjalankan ide-ide tersebut. Membuat analisis akan sangat membantu Anda untuk mereview kembali tentang apa saja kelebihan dan kekurangan dari ide-ide tersebut serta untuk menentukan bagaimana jalan keluar terbaiknya.

Dasar analisis ini adalah insight yang diperoleh dari pelanggan/pasar. Serta taktik penjualan yang dilakukan oleh kompetitor.

Anda bisa mengajukan pertanyaan tentang “ bagaimana Anda dalam melihat cara tersebut agar menjadi lebih efekti?, bagaimana orang lain yang dapat melihat jika cara tersebut bisa menjadi lebih efektif? Bagaimana para konsumen agar dapat dengan mudah untuk mengetahui strategi seperti apa yang ingin dijalankan? Bagaimana para kompetitor mampu menghadapi cara tersebut?”,  yang dapat membantu Anda untuk lebih mempermudah dalam memetakan langkah-langkah seperti apa yang harus bisa diambil.  Jangan pernah merasa ragu untuk membuat perubahan.

3. Memiliki mental yang cukup kuat.

Melakukan sebuah perubahan dan menjalankan hal-hal yang baru memang bukan sebuah perkara yang mudah untuk dilakukan. Dibutuhkan adanya mental dan komitmen yang cukup kuat dalam menjalankan hal-hal yang baru dapat memberikan tantangan tersendiri.

Seorang salesman harus tahan banting karena pasti sering ditolak oleh pelanggan.

Termasuk ketika memiliki ide baru. Belum tentu diterima oleh lingkungan. Sehingga dibutuhkan mental dan komitmen yang kuat dalam mengeksekusi ide baru tersebut.

4. Menjadi seorang pembelajar yang baik.

Belajar dari semua orang. Dari pelanggan, dari teman salesman, dari Sales Manager, dan seterusnya.

Kalau berhasil belajar dari teman-teman kantor –selain salesman–, mungkin bisa mendirikan usaha sendiri.

Untuk bisa menjadi seorang salesman yang lebih kreatif, maka Anda harus mulai untuk banyak belajar, baik secara langsung dari lapangan atau dari berbagai sumber terpercaya. Tetap terus untuk mengembangkan pengetahuan dan dari wawasan untuk meningkatkan kualitas Anda.

Dengan adanya kreatifitas dan inovasi dalam membuat strategi terbaru maka akan semakin membuat Anda dapat tampil semakin lebih berbeda, dimana ‘perbedaan’ seperti inilah yang nantinya akan mampu menarik para konsumen, sehingga semakin lebih memudahkan bagi Anda untuk mencapai target penjualan.

Jangan takut gagal mencapai target. Bisa jadi memang perusahaan mematok pertumbuhan yang berlebihan.

Referensi:

Membersamai Anak-Anak


Lewat tulisan ini saya ingin berargumen bahwa anak-anak itu jangan diproteksi. Intinya, ada batas dalam memproteksi anak-anak. Daripada diproteksi habis-habisan, mungkin lebih baik kita membersamai anak-anak.

WhatsApp Image 2018-02-18 at 21.05.42

Kendali atas TV dan Smartphone

Kita mulai dengan yang punya pengaruh kuat di rumah-rumah: Televisi. Sebenarnya, kita punya kekuatan kok untuk mengendalikan TV. Namun yang sering saya lihat, banyak keluarga yang menyerah dengan TV. Merasa harus punya TV seperti tetangga. Tidak bisa tidak menyaksikan tayangan TV. Bahkan meskipun ada kesibukan di rumah dan tidak bisa menonton, TV tetap dinyalakan.

TV itu menyajikan beragam konten. Berita, sinetron, film, acara anak-anak, music, dan lain sebagainya. Engagement yang kuat dari TV itu menjaga anak-anak kita tetap duduk manis di hadapannya. Harus diakui, kami sebagai orang tua ini kalah dari TV yang mampu menyajikan beragam konten itu. Mungkin itu yang bikin saya ragu mempunyai TV ya. Tapi, saya tanyakan ke istri juga, sebenarnya pendapatnya dia tidak jauh berbeda dengan saya.

Kalau dibandingkannya dengan internet, TV jelas kalah. Internet justru membuka ruang yang lebih besar. Baik untuk entertainment (hiburan), maupun pendidikan, serta lain sebagainya. Internet juga punya sisi buruk seperti pornografi, game online, dan sebagainya. Internet bahkan lebih kuat daripada TV.

Namun bagi saya, internet jelas lebih bisa dikendalikan. Sudah ada aplikasi-aplikasi di tier-nya komputer atau browser yang bisa bantu kita menyaring (filtering) konten-konten tidak bermanfaat. Belum lagi aksesibilitas anak-anak yang bisa dibatasi sama kita selaku orang tua. Anak-anak menonton via smartphone, maka smartphone itu yang kita batasi. So far, via YouTube Anak Dua di rumah hanya menonton serial RoboCar Poli dan Cloud Bread.

Semua security itu tentu saja dapat di hack oleh anak-anak. Sooner or later. Because children will grow then they will find it. Karena itu semua hanya alat bantu. Karena manusia yang menciptakannya, maka yang manusia pula bisa mengatasinya. Segala security –dalam bentuk apapun– sifatnya hanya sementara.

(Baru berapa hari yang lalu, ada rekan yang cerita bahwa di kuliah tentang security, salah satu tugasnya adalah menemukan nomor handphone salah satu orang selebriti tertentu. PR ini bisa mudah bisa susah. Tergantung caranya. Nah, ternyata keahlian-keahlian di bidang security didasari dari kemampuan mengulik suatu celah keamanan tertentu.)

Bicara proteksi sekaligus mendidik anak-anak, saya kira kita bisa belajar dari sekolah berasrama.

Sekolah Berasrama

Sekolah-sekolah berasrama adalah produk-produk pendidikan yang mulai tren sejak tahun 1990-an. SMA saya sendiri bahkan didirikan persis di tahun 1990 tersebut. Saya dan orang tua, masing-masing punya alasan untuk bersekolah di sana. Saya, baru masuk 12 tahun sejak pendiriannya, memang melihat nama besar (pada tahun itu) sekolah tersebut. Sedangkan orang tua saya memandang sekolah berasrama –yang anti rokok, narkoba, dan minuman keras—sebagai institusi yang edukatif sekaligus protektif terhadap anak-anak; Dan menurut beliau itulah yang seharusnya diterima oleh saya.

Misalkan kita memproteksi anak-anak dengan menyekolahkan mereka di sekolah asrama. Di asrama, biasanya ada “proteksi” berupa media-media yang diperkenankan masuk di sekolah. Penayangan TV ada jamnya. Ada koran dinding dari surat kabar tertentu. Memang sih, tidak dilarang menerima informasi dari luar sama sekali; tetapi ya tidak bisa juga mendapat informasi sebebas-bebasnya.

Sekarang era internet, mosok gak ada akses ke internet? Tidak bisa dihalangi sama sekali, memang. Tapi kenyataannya proteksi itu tetap ada. Misalnya lewat pembatasan penggunaan handphone dan laptop.

Kita tambahkan syarat dan ketentuannya. Misalnya itu adalah sekolah berasrama berbasis agama dengan intensitas pengajaran seputar ibadah, fikih, muamalah, dan sebagainya hingga 10 jam seminggu. Di sini kita bisa menyebut bahwa kita memberikan lingkungan yang edukatif terhadap anak-anak. Sekaligus protektif sebagaimana berbagai fitur sekolah berasrama yang “mencegah dan mengatasi kenakalan remaja”.

Pasca kelulusannya, bisa jadi si anak akan “gagap” untuk sementara waktu. Gagap, alias kaget melihat lingkungan sekitarnya ternyata belum se-ideal di sekolah dahulu. Penerapan pengetahuan agama semisal hijab sebagai pakaian, atau hubungan antara lelaki dan perempuan yang bisa jadi tidak berjarak, dan lain sebagainya. Buruk-buruknya, si anak bisa terjerumus ke “kebebasan” tersebut. Saya sendiri menyaksikan langsung beberapa teman yang “berubah” tersebut. Contoh ini sekedar cuplikan kasus ekstrim ya. Statistiknya tentu tidak demikian.

Intinya begini, bagaimanapun kita memproteksi anak-anak, cepat atau lambat mereka akan terkena eksposurnya juga. Jadi daripada memproteksi berlebihan, lebih baik mereka terekspos dengan sepengetahuan kita. Sehingga kita bisa mengarahkan, minimal berdiskusi tentang interpretasi maupun perspektif mereka terhadap hal tersebut. 

That’s why I thought we should not just protect them, but we should accompany them to explain how the world outside you (children) is. The world may be bad, hard, competitive, egoistic, self-minded, etc. Those may be perceived by your children from their sight, school or from mainstream media. Or from the world that exposes to them. But, there are always many good things outside there. You just only need provide time and patience in showing that goodness to them. For example in praying.

Teaching children to be focus and patience with his praying really takes a lot of time. Mines are three years old now. They show more positive attitude towards “in the mosque” behaviours rather than a year ago. But still, they are not focused yet to start and finish their praying. Why? Since many disturbances for them. Wide area of mosque to be explored by running around, other children that persuade them to play together, etc. Un-exposing these to children is not good, I guess. But, what we should do is just accompany them and explain the circumstances itself together with the goodness and badness. That’s why I always do briefing to children before entering the mosque. 

We think positive that however, this is a good progress, compared to other older kids that still going around the praying area. They looks to disturb the “jamaah” while praying.

So far, I guess we as parents could influence our children when they already trust us. How to get their trust?

Being father means being trusted by children.

Bagaimana caranya supaya bisa trusted? Ada formula lama dari David Meister yang bisa diaplikasikan ke berbagai bidang. Termasuk parenting. Komponennya ada 4. Credibility, reliability, intimacy, dan self-orientation.

Kredibel artinya punya kemampuan di bidangnya. Tentu tidak semua bidang dikuasai oleh father. Tapi sebagai pembesar anak-anak, sudah sepatutnya kita turut “menguasai” lingkungan di sekitar kehidupan mereka. Lingkungan dalam rumah dan tetangga, mengenal teman dan guru di sekolah, hingga orang tua dari teman-teman mereka.

Sedangkan reliable berarti having children as our “primary customer”. Ibarat di perusahaan, tentu ada kategori customer yang sangat kita junjung tinggi kan. Logika yang sama kita gunakan dalam “melayani” anak-anak. Kita harus menjadi father yang bisa diandalkan (reliable) oleh anak-anak. Because children will realise out weakness/limit, sooner or later. Indeed, we’re not perfect at all.

Intimacy. Menjadi ayah bukan berarti menjadi orang galak. Tegas berlebihan bisa jadi galak. Tapi bukan di situ yang harus dicapai dalam fathering. Anak-anak butuh ketegasan, bukan butuh orang galak.

Kita perlu menghindari peran orang galak di rumah. Yang dibutuhkan anak-anak adalah orang tua yang bersikap dekat, hangat, dan akrab dengan mereka. Oke, mereka butuh ketegasan, butuh diajarkan menjadi tegas, tapi itu not all the time, sih.

Jangan sampai kepulangan kita ke rumah dari kantor, hanya memunculkan pikiran “satpam” atau polisi” dalam benak mereka.

Konsep terakhir, self-orientation, dalam model yang dikembangkan oleh David Meister, adalah sebuah pembagi. Sehingga, trust semakin besar kala self-orientation bisa ditekan sekecil-kecilnya. Anak-anak perlu dan harus menyadari bahwasanya dalam kehidupan kita bersama dengan mereka, kita tidak sepenuhnya hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi kita memang sangat memprioritaskan mereka.

Mungkin saja terjadi, kita berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, karena mereka memang prioritas kita, namun mereka tidak menyadarinya. Nah, menjadi tugas kita mengkomunikasikan ke mereka, atau membuat mereka paham dan meyakini, bahwasanya kita memang berusaha memberikan yang terbaik kepada mereka. Konsep yang sama, sebenarnya berlaku di hubungan kita dengan pelanggan, ‘kan?

So? Accompanies, not protection.

Saya gak selalu bisa memberikan quality time kepada keluarga kecil saya. Namun saya yakin, seiring saya bisa menyediakan quantity time, maka quality time akan hadir dengan sendirinya. Sama seperti pelanggan kita ‘kan, susah bagi mereka untuk terus belanja lagi, lagi, dan lagi ke kita, kalau kita saja tidak menyediakan waktu yang banyak untuk bertemu dan berinteraksi dengan mereka.

Sama seperti menonton TV, kan ada tuh keterangan BO (Bimbingan Orang Tua). Maka anak-anak harus ditemani. Diberikan interpretasi tambahan dari kita. Dijawab pertanyaanya. Sebenarnya, menyelami pertanyaan anak-anak juga penting. Because we know they will grow into somebody. They will be somebody that we don’t know now. Could we direct their grow in goodness? Jadi mendalami pertanyaan anak-anak adalah bagian dari metode pengukuran oleh kita atas tumbuh kembangnya mereka.

Sama seperti kita menyelami pelanggan, ‘kan? Dengan mengenal lebih jauh dan lebih mendalam, maka kita akan mampu mengiringi mereka meningkatkan transaksinya bersama kita.

Tulisan ini diinspirasi kala pertama kali ke toko buku bersama anak-anak, excited banget si mereka. Karena ada banyak hal baru yang mereka lihat dan temukan. Namun, mereka masih kesulitan dalam menginterpretasikan segala yang mereka lihat. Mereka punya pertanyaan yang butuh dijawab, butuh ditemani di tempat yang sama sekali asing bagi mereka. Melihat hal yang berbeda dari yang ada di rumah dan di sekolah, dan lain sebagainya.

Saya selalu tertarik dengan buku. Tapi kali ini saya harus menekan ego saya. Instead of tenggelam dalam pilihan berbelanja di sana, saya memilih untuk menemani anak-anak, menyelami keingintahuan mereka, menjawab pertanyaannya untuk kemudian memberikan arahan-arahan kepada mereka. Saya harus berperan sebagai ayah yang benar dulu di sini.

Being father means being somebody that always be missed. We may do not have all the time to raise our family. We should work outside then bring resources to home. At that time, the children grow. But we should not lose our focus on them. When they aware that they always be loved, they will listen and grow as our expectation.

Bandung, 29 mei 2018.

Perbedaan Marketing Perbankan dengan FMCG


Dalam 7 hari terakhir ternyata ada yang mampir ke blog ini karena mencari tahu tentang “perbedaan marketing perbankan dan FMCG”. Fast Moving Consumer Goods. Kita coba ulas sedikit ya 🙂

62bstrategi2bmarketing2busaha

Marketing Perbankan

Di perbankan, pelanggan (nasabah) dibagi menjadi nasabah perorangan/ritel dan nasabah bisnis (UMKM, Commercial, dan Corporate). Nasabah ritel sendiri ada yang masuk kategori biasa, ada juga yang masuk kelompok “Luar Biasa”. Yang luar biasa tabungannya ini, punya sebutan macam-macam tergantung bank itu sendiri. Ada yang kasih nama Affluent, ada juga High-End Worth, atau lainnya. Intinya yang minimal saldo tabungannya di kisaran ratusan juta atau miliar. Jangan heran juga kalau bank bikin kategori nasabah dengan kekayaan di atas angka tersebut.

Nah, untuk nasabah perorangan kategori biasa, dilayani dengan berbagai produk di kantor cabang. Which is, hampir setiap produk tersebut ada product owner / product manager-nya di kantor pusat. Kalau di kantor cabang utama (KCU) / kantor cabang pembantu (KCP) / kantor wilayah (kanwil) biasanya hanya sebagai penyaluran/penjualan produk tabungan (tabungan biasa, kartu debit, tabungan anak, dll), pinjaman (kredit tanpa agunan, KPR, KKB), atau lainnya (internet banking, dll).

Untuk nasabah UMKM, Commercial, dan Corporate, tentu saja ada produk-produk lain yang ditawarkan. Tugas product owner/manager nya adalah:

  • melakukan riset needs and wants-nya si nasabah,
  • mengembangkan fitur-fitur sesuai kebutuhan/keinginan nasabah,
  • membuat dan melaksanakan program untuk menambah nasabah baru, atau menambah penggunaan oleh nasabah lama.

Tupoksinya relatif sama dengan product owner di nasabah ritel. Pengelompokan produknya juga sama: simpanan, pinjaman, atau lainnya yang tidak termasuk keduanya (ada yang menyebut dengan istilah FBI, Fee-Based Income). Dalam pendekatan penjualannya, hanya satu perbedaanya dengan nasabah ritel (terutama kepada nasabah korporat), yaitu bisa dilakukan kustomisasi khusus. Misalnya bunga yang lebih rendah, rentang pinjaman lebih panjang, kartu debit khusus karyawan korporat tersebut, dlsb.

Di mana produk-produk UMKM, Commercial, dan Corporate tersebut dijual? Tentu saja di kantor cabang – kantor cabang. Which is, kita tahu sendiri di Indonesia, pusat bisnis adalah di Jakarta. Sehingga produk korporat mostly “berkantor” di kantor pusat. Dengan salesman-nya harus mendatangi calon nasabah satu demi satu. Kalau commercial atau UMKM bisa “nebeng” di kantor cabang. Misalnya, produk pinjaman perbankan untuk industri shipping maka dijualnya di kantor cabang yang beroperasi di kota-kota pelabuhan: Makassar, Surabaya, Balikpapan, dlsb.

Kalau UMKM kan jelas ada di setiap kota kan ya. PR-nya bank adalah mendesain sistem distribusi produk tersebut yang paling efisien:

  • apakah harus ada kantor cabang khusus UMKM, atau
  • bisa “nebeng” buka kantor juga di KCU, atau
  • cukup menempatkan salesman khusus produk tersebut di KCU, atau
  • ternyata produk tersebut harus dititip ke general salesman yang jualannya palugada, dst.

Marketing FMCG

Tupoksi Product manager / product owner / brand manager di FMCG relatif sama dengan di perbankan. Mungkin tambahannya adalah harus pintar-pintar melakukan kerja sama. Tujuan kerja samanya ada dua. Secara umum adalah menurunkan biaya promosi atau supaya konsumen akhir (end consumer) tidak bosan. Misalnya lewat product bundling, atau co-branding product, atau co-promotion product.

Selain itu adalah bekerja sama dengan agensi periklanan (TVC, Radio, koran, online, event organiser, dlsb) dan perusahaan riset komunikasi (paling besar di Indonesia itu AC Nielsen).

Jadi di kantor pusat FMCG, selain yang sudah disebut di bagian perbankan di atas, adalah juga mengurusi komunikasi, promosi, dan branding merek-merek yang dikelola. Tentu saja berurusan dengan uang: membuat rencana kerja berikut anggarannya, dan mengevaluasi pelaksanaan di lapangan. Dinamika kompetitor dan consumer behavior (terdiri dari media behavior dan buying habit) turut mempengaruhi dan menentukan bagaimana seharusnya anggaran dihabiskan. Omzet ideal yang ditarget adalah 20 kali lipat dari biaya komunikasi yang dikeluarkan. Insight lain yang saya dapat di tahun 2015 adalah bahwa tingkat keberhasilan produk baru untuk bertahan di pasar hanya 16%.

Lalu, siapa yang menjual? Ada bagian penjualan tersendiri di FMCG. Untuk diketahui, target market di FMCG bukanlah konsumen akhir. Melainkan toko-toko di mana end consumer tersebut berbelanja. Berikut distributornya. Oleh sebab itu, perusahaan harus berkomunikasi langsung dengan end consumer. Baik lewat ATL, BTL, Online, bahkan via packaging!. Sehingga ada demand dari consumer untuk berbelanja produk/merek tersebut di channel langganan: minimarket, toko kelontong, supermarket, hypermarket, dlsb.

Jadi bagian penjualan ini menjual kepada perusahaan distributor. Tidak boleh menjadi distributor langsung. Minimal dengan badan hukum PT yang berbeda (meskipun mungkin dari grup usaha yang sama). Brand owner biasa memberi diskon kepada distributor. Distributor pun ada diskon tersendiri kepada channel.

Penjualan di minimarket franchise seperti si biru atau si merah, mungkin saja dilakukan langsung oleh si PT FMCG ini. Usaha ritel si merah dan biru punya warehouse (semacam gudang raksasa) sendiri. Jadi tinggal deal dan kirim barang ke gudang mereka.

Sementara demikian dulu. Mudah-mudahan bermanfaat, ya. Pertanyan bisa ke ihwanul.alim@gmail.com

Surabaya, 2 Juni 2018.

Antara Selera, Latihan dan Uang


Ada suatu masa dalam hidup saya di mana saya berada dalam persimpangan pilihan, yaitu mau hidup dengan cara apa? Cara yang membahagiakan karena uang banyak, atau happy karena apa yang dikerjakan?

Pilihan pertama

Yang pertama itu cari uang sebanyak-banyaknya lalu membelanjakan uangnya supaya kita happy. Bahkan bisa saja uangnya tidak didapat dengan cara yang tidak menyenangkan, kemudian uangnya bisa dibelikan apa saja yang menyenangkan.

Misalnya, kita tahu bahwa bekerja di bank, atau di industri minyak dan gas (migas) itu duitnya banyak. Jadilah kita memilih bekerja di sana. Meskipun kita tidak suka, tapi duit yang banyak itu bisa dibelikan beberapa mobil, beberapa rumah, pergi jalan-jalan ke dalam dan luar negeri, atau hal-hal lain yang bikin happy.

Pilihan kedua

Kalau cara kedua adalah mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness) via passion. Istilah passion ini mulai hype as the way to pursuit happiness, saya kira dalam satu dekade terakhir. Cara kedua ini juga terbagi dua lagi. Pertama, passion dulu baru berkarya; alias memang memiliki kesukaan tertentu, lalu memilih produktif menghasilkan karya yang fenomenal luar biasa. Atau rutin merilis hasil-hasil berkarya.

Aliran kedua bagian b –yang memang fokus tulisan ini–, adalah alirannya mereka yang tidak percaya bahwa passion itu memang ada. Cara mereka adalah mencoba dan mengeksplorasi berbagai bidang, kemudian memilih satu di mana mereka benar-benar jago/kompeten. Percobaan dan eksplorasi tidak berhenti di permukaan saja ya. Betul-betul didalami, tekuni dan dilatih terus-menerus.

Aliran 2b ini, salah satu kitabnya adalah buku “So Good, They Can’t Ignore You” dari Carl Newport. Sesuai judulnya, pesannya adalah “jadilah seniman terbaik dari karya kita, hingga orang tidak bisa mengabaikan keberadaan kita”. Quote barusan dari saya, belum tentu ada di bukunya. Tapi kamu sudah paham maksudnya, ‘kan? 🙂

Bahkan di era serba digitalisasi sekarang ini, di mana keterlibatan manusia semakin digantikan oleh robot (pekerjaan Customer Service pun mulai digantikan oleh ChatBot), ternyata pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya human touch malah semakin diperlukan. When human touch is needed, there is we should be so good. Pekerjaan seperti penulis, desainer, programmer, dsb malah semakin relevan karena seleranya.

Bahwasanya pekerjaan-pekerjaan tersebut menuntut suatu standard, selera, idealisme, –atau apapun istilahnya– dalam berkarya. Contohnya begini. Misalnya saya yang membaca lalu menganalisis karya tulisan orang lain.

  • Jika ada bagusnya, apa yang bisa ditiru lalu dari yang bagus tersebut?
  • Jika ada kelemahan, bagaimana saya akan memperbaiki kelemahan tersebut?
  • Saya membayangkan bagaimana bila saya menulis ide yang sudah ditulis tersebut. Bagaimana supaya lebih bagus?

Jadi, selera ini seharusnya menjadi keunggulan. Pembeda yang bisa ditawarkan kepada orang/pihak/institusi lain.

Kemudian soal latihan. Ambil contoh pesepakbola profesional. Mereka terus berlatih bahkan dalam hal-hal yang sangat sederhana seperti berlari dan menendang bola.

Saya bilang sih, pesepakbola itu dibayar untuk berlatih. Bukan untuk bermain. Dalam satu tim profesional berisi 33 orang, hanya 11 orang yang beruntung. Apalagi kalau menjadi pemain reguler, tentu dia karena memiliki keterampilan (skill) yang sangat baik dan dia juga beruntung.

Tadi malam, Real Madrid menjuarai UEFA Liga Champions ketiga kalinya berturut-turut setelah mengalahkan Liverpool 3-1. Sudah tiga kali dan berturut-turut, lho. Artinya ‘kan mereka tim Real Madrid sudah jago banget. Apa lantas mereka tidak perlu berlatih lagi?

Mereka jelas lebih jago daripada kita untuk urusan berlari dan menendang bola. Tapi mereka tetap berlatih hal-hal mendasar tersebut, ‘kan?

Contoh kedua dari link Core Skills for Technical Writers Often Overlooked ini, penulis yang merupakan seorang technical writer, mengeluhkan betapa generasi muda technical communicator melupakan hal-hal yang mendasari profesionalisme di bidang technical communication: good resume dan professional email(ing). Jadi, back to basic skill, lha.

Kedua contoh tersebut menekankan pentingnya terus-menerus berlatih. Baik diajari langsung oleh pengajar profesional, maupun via self-training.

Di sisi saya, saya harus konsisten menulis as part of my self training. Saya harus terus mempertajam selera dan standard, rutin mempelajari selera pasar, dan lain sebagainya. Misalnya, saya melihat keunggulan saya di feature journalism. Sebab saya ingin menyajikan data dan fakta dalam sebuah cerita yang memang menarik. Setiap artikel memiliki konteks masing-masing, namun saya menghendaki sebuah cerita yang abadi; cerita yang kapanpun dibaca masih selalu terasa maknanya.

Kesimpulan sementaranya adalah, selera harus dipertahankan bahkan harus terus ditingkatkan. Latihan ya harus terus-menerus dilakukan. Minimal berupa self-training. Bagi saya, itu adalah setiap setelah sholat subuh. Tentu tidak semua dirilis di blog ini. Atasan saya di kantor lama pun demikian; punya ritme khusus dalam menulis: setiap pagi setelah bangun tidur.

Akhirnya, saya berlatih untuk jujur terhadap apa yang saya rasakan. Kata Pandji, kejujuran macam ini akan berdampak terhadap karya-karya kita. Kejujuran dan orisinalitas kita pasti berimpak pada eksistensi, diferensiasi dan positioning kita di “pasar”.

Pilihan ketiga.

Dari sini muncul pilihan ketiga: menghabiskan waktu (bekerja) sesuai passion, tetapi mencari uang yang banyak dengan cara lain. Belakangan, akhirnya saya cenderung ke nomor tiga, instead of pilihan kedua.

Katanya sih, kalau sudah passion maka duit akan mengikuti. Iya sih, masuk akal. Kalau kita passion –> mestinya kita lebih produktif –> terus-menerus meningkatkan selera dalam berkarya –> personal brand terbentuk –> orang/institusi lain mulai memberi order/proyek ke kita –> duit mendanai passion kita. Dan siklus pun berulang.

Namun, ada mekanisme pasar yang berperan. Bagaimana pun passion dan kualitas karya nya, tentu ada faktor supply-demand yang ikut mempengaruhi tingkat harga di pasar. Duit bisa jadi datang terus, tapi bisa jadi harga semakin turun. Ini yang harus kita antisipasi.

Kalau kita sudah happy, tapi duit masih kurang banyak, kita harus kreatif mencari duit dengan cara lain juga. Misalnya berdagang (online), menyewakan alat atau aset, cari side job, dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan ada lain waktu untuk membahas hal tersebut.

 

Bisnis di Atas Bisnis Sepak Bola


Parma kembali ke Serie A, setelah promotion berturut-turut dalam tiga musim. Serie D -> Serie C, lalu ke Serie B, lalu ke Serie A. Klub ini pernah dipaksa degradasi ke Serie D karena dinyatakan bangkrut oleh pengadilan. Artinya, tidak punya uang yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya.

parma

AC Parma Golden Generation

Di tahun saya mulai menonton sepak bola, golden generation-nya klub ini menang besar 2-4 di kandang tim kuda zebra yang terkenal angker. Striker andalan mereka, yang masih menjadi pencetak gol terbanyak hingga kini, Hernan Crespo, membuat hattrick saat itu.

Main dengan pola 3-4-1-2, ada Juan Sebastian Veron sebagai playmaker di belakang dua striker. Saat itu, pengatur permainan (playmaker) mostly bermain di posisi itu. Ada juga Enrico Chiesa, pemain yang biasa menembak keras dari jarak jauh sebagai second striker. Ada kiper Gianluigi Buffon, yang di tahun ini gantung sepatu dari tim kuda zebra yang sudah disebut di atas. Ada Fabio Cannavaro yang tidak terlalu tinggi, tapi kokoh berhadapan dengan striker lawan dan selalu menempatkan diri lebih baik guna meng- intercept umpan pemain lawan sebelum sampai di kaki atau kepala striker yang dia jaga.

Parmalat dan City Group

Di era generasi emas tersebut, Parma disponsori penuh oleh Parmalat. Perusahaan berbasis peternakan sapi perah yang punya produk susu kemasan, keju, lalu belakangan masuk ke biskuit. Parmalat sangat dikenal karena produk susu UHT yang menjamin masa simpan lebih lama di dalam kulkas. Distributor dan toko tentu lebih senang menyimpan inventory yang awet seperti ini.

Founder dan Owner Parmalat, Carlisto Tanzi berinvestasi di persepsi orang lain terhadap dirinya: personal branding. Sama seperti para pemilik lain yang sebenarnya hanya bermain-main dengan klub sepak bolanya. Sebagaimana Silvio Berlusconi, pebisnis media sekaligus politisi yang pernah memiliki klub AC Milan. Kalau pada akhirnya “mainan” tersebut menyedot terlalu banyak duit daripada menghasilkannya, ya akhirnya dijual juga.

Singkat cerita, Carlisto Tanzi adalah “dewa” yang mengangkat harkat martabat Parma ke jenjang yang lebih tinggi: Serie A dan kompetisi antarklub di Eropa.

Dengan logo Parmalat terpampang di jersey Parma yang melanglang  buana ke berbagai kota di Eropa (via Winner, cup, UEFA cup atau Champions League), dan tentu saja lewat siaran sepakbola sampai ke Asia dan Amerika latin, model bisnis Parmalat mensponsori Parma sudah benar. Ekspansi ke eropa timur juga diikuti dengan rekrutan Hristo Stoichov yang mulai menua dan memudar di Barcelona. Ini sebenarnya mirip dengan yang dilakukan Manchester City dalam satu dekade terakhir.

Rute penerbangan Etihad Airways ke New York dan Melbourne diikuti dengan ekspansi City Group ke dua kota tersebut: akuisisi klub sepak bola New York City dan Melbourne City. Ekstensi brand “City” sebenarnya baru dilakukan pasca kedua klub tersebut sudah dimiliki. Jadi uang berlimpah yang digelontorkan via Josep Guardiola sebenarnya juga tidak ada salahnya. Toh, City mengekspansi semua channel yang mereka miliki kan.

Berkat channel yang mereka miliki, akhirnya ada pemain Liga Australia yang “merumput” di English Premier League. Yang bersangkutan dilepas oleh klub sepak bola Melbourne City.

Rentannya Keuangan Klub Sepak Bola

Parmalat di tahun kebangkrutannya sedang mempekerjakan 36.000 karyawan, merupakan perusahaan terbesar ke-8 di Italia, dan merepresentasikan hampir 1% dari GDP-nya Italia. Tapi punya utang sebesar 20 miliar USD yang tidak sanggup mereka bayar. Muncul pertanyaan, perusahaan sebesar itu, kenapa sampai tidak sanggup menyelesaikan utangnya? Simply karena utang-utang yang mereka ambil tidak berubah menjadi aset perusahaan. Melainkan diambil dan dimakan sendiri oleh keluarga Tanzi dan para pemimpin Parmalat saat itu.

Kebangkrutan Parmalat ini kemudian menjangkiti AC Parma yang . Tidak mampu merekrut dan mempertahankan pemain berkualitas diikuti dengan menurunnya performa klub di klasemen Serie A Liga Italia yang ujung-ujungnya adalah klub terdegradasi. Meskipun degradasi ke Serie B sendiri baru terjadi di akhir musim 2008/09.

Skandal Parmalat adalah ibarat skandal Enron, tapi terjadi di Eropa. Skandal Enron baru terjadi 2-3 tahun sebelum skandal Parmalat. Polanya sama: mengaku-aku punya pendapatan, tapi uangnya tidak pernah ada. Karena punya “pendapatan”, maka mengambil utang dalam jumlah besar. Pada akhirnya, utang inilah yang dilarikan ke aset-aset pribadi.

Keuangan klub sepak bola itu rentan (vulnerable) sekali. Sementara gaji pemain yang besarnya 50%-70% omzet perusahaan itu harus dibayar terus. Padahal, pendapatan klub bisa naik dan turun. Tergantung tahun depan bisa ikut Champions League atau tidak, atau bisa “mengamankan” berbagai sponsor (Nike/Adidas, atau sponsor lainnya), atau sumber-sumber merchandise lainnya.

Di bayangan saya, orang finance-nya klub sepak bola benar harus jago di atas kertas. Karena yang dia lakukan adalah melakukan valuasi aset, terutama terhadap pemain. Di atas meja perundingan, dia juga harus jago negosiasi banget.

Tadi malam Chelsea menang atas Manchester United (MU) di Final FA Cup. Kalau saya jadi manajemen MU, saya sudah tenang sebelum Final FA Cup tadi malam. Dapat piala FA Cup ya syukur alhamdulillah, enggak dapat ya tidak apa-apa. Masih ada tahun depan. Mengapa demikian? Sebab klub sudah aman; punya jaminan pemasukan dari Champions League musim depan. Berbeda dengan Chelsea yang anggaran belanja musim depan pasti melorot karena “hanya” bermain di Europe League.

 

Bandung, 20 Mei 2018

referensi:

https://www.theguardian.com/football/blog/2015/jun/23/parma-the-football-club-milked-for-all-their-worth

Memosisikan Anak sebagai Orang Dewasa


komuniksdi-dengan-anak-520x265

Semalam, Muzakki bertanya ke saya. Kami masih di masjid “biru”. Bertiga dengan adiknya. Muzakki bertanya, “kok Pak Alim berdoanya, Waqinaa adzaa ban-naar?”

Alhamdulillah, ibunya rutin mengajak dan membiasakan berdoa sebelum makan. Mungkin Zakki heran dan bertanya, kok di masjid doanya sama dengan doa sebelum makan.

Cek dan ricek ke si mbah, ternyata “Waqinaa adzaa ban-naar” artinya kira-kira “Dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Thanks to “Anak Dua“. Kami jadi belajar dari kalian yang lebih muda. Sudah seharusnya, sih. Belajar itu ke siapa saja. Kepada usia berapa saja. Alhamdulillah masih diberi legowo dan kerendahan hati untuk belajar dari siapa saja.

Itu pengantar deh. Berhubung ceritanya baru dapat tadi malam. Overall, tulisan kali ini sekedar catatan bagi kami saja. Kalau memang ada yang mendapat inspirasi dari sini, ya alhamdulillah. Mudah-mudahan bermanfaat, deh.

Berhubung di rangkaian acara pernikahan adik kami, ada yang nyeletuk, “Ngobrol ma anak dua itu kayak ngobrol sama orang dewasa”. Alhamdulillah, ini feedback positif bagi kami. At least, kami jadi tahu kami memberikan action yang tepat, sehingga Anak Dua turut membalas dengan reaction yang tepat pula.

Kalau kami bertanya ke diri kami sendiri, mengapa bisa begitu? Jawaban kami adalah, pada prinsipnya kami memandang dan menganggap anak-anak sebagai manusia dewasa. Terutama adalah, mereka berhak memutuskan sendiri dari pilihan-pilihan yang ada.

Pilihan-pilihannya bisa jadi berasal dari mereka kumpulkan sendiri. Atau mungkin juga dari yang kita sediakan. Bisa juga sih kita membatasi pilihan-pilihan buruk dari mereka dari apa yang mereka lihat atau dengar.

Di era informasi seperti sekarang ini, kontrol terhadap informasi itu berat banget. Kalau di era televisi, kita pemirsa akan terima-terima aja segala yang disodorkan. Namun sekarang, filtering-nya setengah mati. Butuh tiga hari untuk tahu apakah sebuah berita adalah hoax atau bukan. Bagi kami, YouTube masih mending. Anak-anak memang belum paham fitur search-nya. Namun, ke depannya history bisa kita awasi terus kan. Another problem kalau mereka sudah bisa menghapus history. Saat ini, at least saat ini kami sudah mulai dengan menghindari sinetron serta berita yang belum tentu terkait dengan keluar kecilkamu. Mungkin kapan-kapan saya bisa sharing perspektif saya tentang hal ini ya.

Jadi kita orang tua harus menganggap anak sebagai manusia dewasa yang punya pilihan. Jadi tanyakan misalnya, maunya apa? Menurut kamu lebih baik mana?

Orang dewasa ingin didengar. Apa pendapat mereka. Pun begitu pula dengan anak-anak yang kita anggap sebagai pribadi dewasa. Kalau kita “mengkerdilkan” anak-anak, termasuk dengan anggapan “namanya juga anak-anak”, maka sesungguhnya kita turut berkontribusi terhadap “perlambatan kedewasaan” mereka.

As we know, dalam islamic parenting tidak ada namanya remaja. Yaitu, usia biologis (yaitu fisik dewasa) yang lebih tua daripada usia psikologis (yaitu pemikiran anak-anak). Yang ada hanyalah aqil baligh. Dewasa secara fisik dan pemikiran.

Kami belajar dari anak itu seperti kami belajar dari orang dewasa. Kami positive thinking bahwa semua orang berusaha menjadi lebih baik; meski belum dan tidak akan sempurna. Anak-anak pun seperti itu. Mereka akan bertumbuh berkembang, memiliki kebisaan dan kemampuan tersendiri nantinya. Seiring sejalan dengan hal tersebut, kami berusaha mengenal mereka lebih mendalam.

Si W, ternyata pribadi yang tidak mau kalah, sulit mengalah, dan ingin menjadi nomor satu. Pribadinya memang introvert, sih. Dia menggali dari dalam dirinya sendiri kala ingin belajar/menjadi lebih baik. Dia ini kelihatannya excited soal menggambar/melukis. Inginnya sih, dia ada kesempatan ikut sanggar lukis yang gak terlalu jauh dari rumah.

Beda dengan Z, si kakaknya yang extrovert, senang dengan keramaian, selalu ingin diperhatikan orang lain, namun suka bertanya dan mengeluh kepada orang lain bila ada yang dia tidak bisa pelajari/kerjakan.

Tidak selamanya berguna yang namanya bersikap steril terhadap anak-anak. Semua serba dilarang juga tidak baik. Yang harus ada adalah pengawasan. Pun kala anak-anak memberikan feedback, kami harus menanggapi dengan masuk akal pula. Seiring tumbuh-kembangnya fisik dan pemikiran mereka, kami orang tua juga harus memberikan reasoning yang tepat pula.

Jadi orang tua itu berat. Tanggung jawabnya sedemikian besar. Tetapi pengajarannya relatif belum memadai. Alhamdulillah makin ramai topik tentang parenting dibahas, diajarkan, dan dilatih di mana-mana. Even di Gramedia, ada rak penjualan buku khusus untuk tema-tema parenting.

Kami yakin tidak ada manusia yang sempurna. Bagaimana orang tua kami menjalankan parenting juga tidak sempurna. Ada beberapa “kesalahan” yang mereka lakukan. Namun kembali ke diri kami apakah mau mengulangi kesalahan tersebut atau justru melakukan yang benar dan seharusnya.

PS: Anak-anak yang dititipkan oleh Allah kepada kami masih kecil-kecil. Kami bukan pelaku parenting yang sukses. Parenting yang sukses menurut kami baru bisa diukur pasca anak-anak tersebut sudah menikah dan menjadi orang tua pula. Catatan ini sekedar catatan pribadi saja. Bukan berbagi kebenaran. Mudah-mudahan memberikan manfaat bila memang cocok atau inspiratif bagi kamu yang membaca.

Connect The Dots Looking Backwards


Kalau saya kilas balik, ke profesi saya sekarang, copywriter, saya merasa ini seperti connecting the dots.

Kata almarhum steve jobs, kita itu tidak bisa selalu berhasil dalam merencanakan dan mengeksekusi rencana. Tapi kita bisa menarik kembali garis hubungan hubungan antara apa yang pernah terjadi, apa yang pernah kita lakukan, prestasi apa yang kita hasilkan di masa lalu dengan apa-apa yang ada saat ini.

bfa2a8debf5d21f88b75330cae57c7aa

Mengambil pola tersebut, saya menyimpulkan bahwa posisi copywriter sekarang ini, adalah “nyambung” dari apa yang saya lakukan dan hasilkan sejak beberapa tahun lalu.

Saya kuliah di kampus Teknik. Segala hal selalu kami pandang secara ilmiah. Basis fakta, logis (masuk akal), dan sistematis. Ketika berperan sebagai penulis, saya jadi demikian adanya lewat tulisan-tulisan saya: berusaha menyajikan fakta, menginterpretasikannya dengan masuk akal, dan sistematis dalam menampilkan hasil tulisan saya. Sistematis artinya ada hubungan antara tiap konten/informasi di dalamnya.

Pasca lulus, saya bekerja di kantor konsultan. Di sana, logika sama pentingnya dengan kreativitas. Di sini, kompetensi kreativitas saya yang lebih banyak dikembangkan. Saya belajar menyentuh sisi emosional dari audiens; khususnya sisi kegelisahan (anxiety) mereka. Wajar, memang klien yang stuck dengan daily operation membutuhkan rekomendasi yang menyegarkan tapi berangkat dari pendekatan yang ilmiah.

Di samping itu, kemampuan jurnalistik saya sendiri. Jurnalistik artinya, menangkap potensi sebuah berita, lalu mengkreasikannya sedemikian rupa sehingga benar-benar menjadi sebuah berita yang bisa dirilis sesuai mediumnya. Again: saya tidak kuliah jurnalistik.

Yang jurnalistik ini semi otodidak sih. Di era social media seperti sekarang, mereka yang sukses memanfaatkan social media berarti sudah otodidak belajar dan mengeksekusi aktivitas-aktivitas jurnalistik. Sukses artinya, memperbanyak 3F (friends, fans, followers) dan meningkatkan engagement dengan mereka. Beberapa kali saya memang menghandle social media, di samping social media saya pribadi.

Di kantor konsultan dulu, karena kantornya kecil, kami dibagi berdasar klien. Jadi untuk setiap klien, handling kami itu end-to-end. Mulai dari membuat proposal, mengerjakan materi seperti riset dan presentasi, sampai dengan membuat laporan akhir. Karena saya biasa membuat proposal, di kantor sekarang ini saya menjadi editor untuk setiap proposal tender yang kami buat.

Ada hal lain lagi. Terkait industri yang sedang berkembang dan saya ingin menjadi bagian di dalamnya. Jadi di Indonesia ini yang growing adalah industri IT. Saya ingin menunggangi gelombang (riding the wave) tersebut. Saya belum lama menemukan bahwa industri ini juga padat dengan dokumentasi. Mulai dari requirement specification, sampai user guide. Nah technical writing adalah aspek yang penting di industri ini.

Hal lain yang menarik adalah technical writing zaman now tidak lagi sama dengan technical writing yang tradisional. Penggeraknya adalah internet dan social media. Mesin pencari membantu kita menemukan informasi yang kita inginkan. Which is, kita sebagai penjual produk/jasa/proyek juga ingin ditemukan oleh calon pembeli. Kita harus berpikir keras, bagaimana findability kita meningkat di mata konsumen.

Di sisi lain, social media membantu kita mencari, menemukan, dan mempertahankan mereka yang kita sebut sebagai pelanggan/audiens. Kita tinggal eksplorasi saja, jenis konten seperti apa dari kita, yang membantu kita membangun hubungan dengan audiens. Tidak mudah memang, tapi harus dicoba dan diiterasi terus.

Jadi, apa aja yang saya kerjakan di kantor yang sekarang?

  1. Sebagai editor untuk proposal tender
  2. Sebagai editor untuk dokumen-dokumen lain
  3. Mengelola social media kantor
  4. Membantu tim HR dalam mengelola komunikasi dengan internal perusahaan (terutama karyawan)

Kalau disimpulkan, pekerjaan saya itu separuh copywriter ala advertising agency, dan separuh lagi adalah technical writer.

Berhubung perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan asal singapore, jadi official language-nya adalah English. Jadi semua dokumen tender dan non tender itu dalam Bahasa Inggris. Demikian pula ketika berkomunikasi resmi dengan para karyawan. Lucunya, saya dianggap sebagai yang paling jago grammar. Wkwkwk. Padahal saya tidaque jago sama sekali. Tidak apa. Yang penting saya harus belajar terus.

Berhubung pekerjaan sekarang ini sangat erat dengan crafting, antusiasme jadi penting banget. Karena antusiasme akan “menyetir” proses dan ikut menentukan kualitas hasil pekerjaan. Semangat untuk menemukan hal-hal baru dan melihatnya sebagai sesuatu yang menarik untuk dipelajari, itulah yang saya sebut dengan antusiasme.

Dan ini makin relevan di era digital seperti sekarang. Iya sih, beberapa aktivitas bisa diotomasi secara digital. Hingga beberapa pekerjaan “hilang” ditelan disrupsi digital. Seperti Customer Service (CS) yang mulai digantikan oleh chatbot. Namun, pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan sentuhan manusia (human touch) justru semakin relevan. Di sinilah pentingnya terus-menerus membangun dan mempertahankan antusiasme.

Panjang juga ya bicara tentang antusiasme. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk menuangkan gagasan tentangnya. Sementara sekian dahulu.

Posisi Kerja di Dealer Mobil


Ada beberapa hasil pencarian di google yang mengarahkan ke blog saya ini, namun belum terpuaskan jawabannya.

Keywords nya adalah:

  • bagian kerja di dealer
  • jabatan kerja di dealer
  • bagian-bagian kerja di dealer mobil
  • bagian-bagian kerja di dealer
  • posisi pekerjaan yang ada di dealer mobil
  • fungsi marketing support di dealer
  • posisi kerja di dealer motor

Saya coba mencari tahu jawabannya dan menuliskan secara rapi kepada teman-teman pembaca, ya 🙂

Image result for car dealer

Salesman

Pastinya adalah Salesman. Tentu fokus utama salesman adalah menutup penjualan (closing). Pasti ada target yang terukur. Misalnya, kurang lebih tahun 2008 saya mendengar bahwa salesman sepeda motor di Dealer Honda Jalan Merdeka Kota Bandung, setidaknya harus menjual satu unit sepeda motor per pekan. Itu adalah target minimal mereka.

Ada yang pernah menjadi salesman mobil BMW, kehilangan pekerjaannya kurang lebih setelah 6 bulan bekerja. Setahu saya, beliau setidaknya tiga bulan berturut-turut gagal mencapai target.

Sebuah dealer mobil di Jalan Pasteur Kota Bandung, boleh menjual hingga ke seluruh wilayah Jawa Barat demi memenuhi target penjualannya.

Posisi-posisi salesman ini ada gaji tetapnya. Tetapi tidak terlalu besar. Take home pay (THP)-nya lebih didominasi oleh bonus penjualan. Bonus bisa per tiga bulan; bisa juga per tahun. Tunjangan juga ada. Pastinya Tunjangan Hari Raya, THR.

Ada kalanya dealer membuat atau mengikuti pameran mobil. Sulit untuk mengejar penjualan di event seperti ini. Target paling realistis adalah mengumpulkan database calon pembeli sebanyak-banyaknya.

Saya pribadi, ketika menjaga toko milik keluarga, juga pernah dihampiri oleh salesman. Targetnya beliau sama: mendapat nama dan nomor telepon saya selaku calon pembeli mobil.

Nah, database calon pembeli ini adalah “asset” yang bisa dihubungi kembali manakalan salesman yang bersangkutan sedang kehabisan calon prospek.

Marketing Support

Karyawan yang termasuk di kedua bidang itu antara lain melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan sales riteltelemarketing, analisis pasarproduct marketingdigital marketing, serta customer relationship management (CRM).

Pelayanan seperti apa yang dimaksud? pelayanan ini berupa bantuan pada persiapan produk, proposal, presentasi, demo produk, riset produk, riset tender dan masih banyak lagi.

Dari banyaknya tugas mereka, yang paling umum dilakukan marketing support adalah membantu pada bagian advertising dan Customer ServiceIni karena bagian pengiklanan dan CS memerlukan banyak tenaga dengan skill mumpuni.
Analisis Pasar, meliputi:
  • Pembeli potensial. Baik perorangan, komunitas, maupun pembeli korporat
  • Aktivitas kompetitor: aktivitas pameran, produk yang sedang fokus dijual, dsb.
  • Produk yang sedang tren, berikut nilai penjualan
  • Produk yang akan tren, nantinya

Konsumen mobil dan sepeda motor itu cenderung memilih dan membeli model atau fitur baru. Terutama yang sesuai dengan isi kantongnya. Toyota Avanza menjadi mobil sejuta umat karena fiturnya (terutama kapasitas penumpang) dan harganya yang memang sesuai dengan isi kantong pembeli.

Sepeda motor Yamaha Nmax adalah trend baru yang menyajikan kenyamanan berkendara jarak jauh karena fitur desain ergonomi yang menghindari pengendara dari cepat lelah.

Finance

Tugasnya mencatat pemasukan dan pengeluaran dealer. Pemasukan berupa uang DP, cicilan pembayaran, dll. Pengeluaran berupa operasional harian dan bulanan dari dealer, gaji para pegawai, dan sebagainya.

Pembayaran atas keikutsertaan dealer dalam pameran mobil yang berlangsung di mall-mall tentu juga menjadi tanggung jawabnya.

Branch Manager

Sebutan lainnya kepala cabang. Target utamanya memimpin tim dealer meraih penjualan; khususnya memimpin para salesman dalam mencapai target penjualan.

Yang dilaporkan kepada kantor pusat: posisi pangsa pasar saat ini, ketercapaian target penjualan, database pelanggan, dan sebagainya.

Database pelanggan juga menjadi salah satu Key Performance Indicator (KPI) posisi kepala cabang. Macam-macam pelanggan:

  • Pelanggan tetap
  • Baru membeli sekali
  • Calon pembeli (salah satunya didapat dari pameran otomotif)
  • dll

Wilayah Penjualan

Dealer mobil itu, sepengamatan saya jarang yang lebih dari satu unit per kota. Sebab, wilayah penjualan yang dikelola biasanya memang seukuran kota tersebut. Bahkan, luasnya bisa sampai satu provinsi sendiri.

Kecuali kota-kota Jabodetabek ya. Kebutuhan dan daya beli mobilnya sudah tinggi sekali. Bisa ada 2-3 unit dealer per kota.

Namun, dealer berbeda dengan gudang ya. Tidak semua yang dikehendaki oleh konsumen sudah tersedia di dealer. Seringkali masih disimpan di gudang — tentu saja berbeda lokasi dengan dealer yang biasanya berada di pusat kota atau di jalur-jalur utama/protokol.

Bahkan beberapa produk tertentu harus indent (pesan) terlebih dahulu. Ini semua karena pabrik, gudang, dan dealer menghindari over supply yang mungkin menyebabkan menumpuknya stok kendaraan.

Salah satu tugas marketing support juga mengelola catatan penjualan dengan rapi:

  • Stok yang akan datang dari pabrik dan tanggal berapa akan datang
  • Stok yang berada di gudang
  • Stok yang ada di dealer
  • Daftar produk yang di-indent oleh pelanggan–terutama yang sudah dibayarkan down payment (DP)-nya.
  • dst.
Referensi: