Perbedaan Kuliah di Indonesia dan di Belanda


oleh:  Monika Pury Oktora

cover-groningen-moms-journal

Kalau ditanya apa bedanya kuliah di Belanda dan Indonesia tentu akan BEDA. Akan banyak pula poin yang terurai dari tulisan saya ini mengenai perbedaan tersebut, tentunya itu subjektvitas saya pribadi. Perspektifnya akan sempit karena saya hanya mengambil merasakan kuliah di salah satu jurusan dan di salah satu univ di Belanda. Padahal banyaaak sekali jurusan/fakultas yang tersebar di kota-kota Belanda. Beda pengalaman, beda pribadi, beda komunitas, dan beda-beda lainnya akan menghasilkan respon yang berbeda.

Oleh karena itu, saya melemparkan pertanyaan singkat pada teman-teman saya di Belanda yang sedang/pernah menjalani perkuliahan di Belanda. Kemudian semuanya saya rangkum di sini.

  1. Tantangan Berbahasa

Pengalaman dan tantangan yang didapat tentunya lebih banyak ketika menjalani perkuliahan di Belanda, salah satunya dari segi bahasa. Untungnya di Belanda banyak kelas internasionalnya. Jadi kita gak perlu menguasai Bahasa Belanda dulu untuk bisa kuliah di sini, Bahasa Inggris pun sudah cukup. Tapi.. tetap saja kita harus punya effort lebih besar untuk ini. Misalnya untuk menyerap materi kuliah/mendengarkan dosen ketika di kelas atau membaca paper dan textbook. Kuliah di Indonesia ya tentu kita nyaman bias baca buku kuliah, slide dosen, modul-modul dengan Bahasa Indonesia (Walaupun ada juga sih textbook Bahasa Inggris, tapi kan tidak untuk semua mata kuliah). Di Belanda sini, ya harus siap menghadapi tantangan Bahasa internasional. Tidak semua orang juga diberikan kelebihan untuk jago berbahasa. Bisa nembus IELTS/TOEFL yang disyaratkan oleh univ juga perjuangannya udah lumayan, pas sampai di lapangannya lebih lagi perjuangannya. Terutama dalam menulis report/paper dalam Bahasa Inggris.. beuuh.. tidak segampang menulis puisi buat kecengan. Nulis dalam Bahasa Indonesia aja masih salah-salah apalagi dalam Bahasa Inggris? Oiya ditambah jika ada tugas presentasi. Pasti kerasa deg-degan, takut belepotan pas ngomong, bisa-bisa yang keluar dari mulut beda sama yang dipikirin di kepala.

  1. Etos kerja

Perbedaan budaya dan etos kerja. Di Belanda, orang-orangnya suka berdiskusi open mind. Etos kerja orang Belanda itu efisien dan efektif, ga suka bertele-tele, to the point dan padat berisi dalam menyampaikan sesuatu. Kalau suka mereka bilang suka kalo engga ya juga bilang dengan jelas, ga ada “ga enak-an” seperti orang Indonesia. Kita jangan tersinggung kalau mereka jujur apa adanya. Mereka juga fair kok, misalkan di satu bidang kita ada baru gontok-gontokan diskusi, pas jam istirahat biasa lagi kayak ga kejadian apa-apa. Etos kerja yang suka berdiskusi ini jadi membuat mahasiswa lebih bisa eksploratif dan lebih banyak membaca ketika studi.

  1. Budaya

Kita bertemu dan bekerja dengan berbagai macam mahasiswa dari negara yang beda-beda. Biasa ngomong lu-lu gue-gue, ketika di Belanda jadi harus lebih bisa membaurkan diri ke dalam pergaulan tersebut. Gimana kita bisa diterima dengan baik, tanpa ikut terseret oleh kultur dan kebiasaan tidak lazim yang berbeda dengan kita. Tapi tentunya kita juga jadi belajar lebih tepo seliro sama yang beda budaya. Sama sih di Indonesia juga sebenarnya ketika masuk ke univ tertentu ada yang dari Jawa, dari Sumatera, dari Kalimantan. Cuma karena masih sama-sama anak Ibu Pertiwi ya.. masih berasa di “rumah”lah. Tapi kalo dah ketemu orang dari kebangsaan beda-beda, bahasa beda, lifestyle beda.. Takutnya jadi gegar budaya, culture shock bahasa kerennya. Ga sedikit lho mahasiswa Indonesia yang culture shock, baik yang jadi ga betah karena homesick atau sebaliknya malah jadi overgaul melampaui tatakrama/etika/agama yang dulu sangat kental dipegang saat masih di Indonesia.

  1. Pemahaman konsep

Perbedaan lain yang mendasar. Kuliah di sini lebih mementingkan pemahaman konsep. Kuliah tidak hanya dibebankan sama ujian doang. Kalau di indonesia pernah pengalaman suatu kuliah, hasil akhirnya terlalu dititikberatkan sama ujian, padahal pemahaman konsepnya kurang. Jadilah ujian seperti sesuatu momok yang menakutkan. Gak penting lagi paham atau tidak konsepnya yang penting ujian bagus. Ujian di Belanda juga tetep momok sih.. tapi setidaknya outcome dari kuliah ga cuma dari ujian. Ada presentasi, ada assignment, dan tentunya si assignment itu dibuat untuk kita agar lebih paham konsepnya.

  1. Cara mengajar dosen

Masih nyambung dari poin nomor 4. Lebih kerasa di sini kalau tujuan si dosen ngajar lebih ditekankan agar mahasiswanya mengerti. Mereka gak pernah merendahkan studentnya walaupun studentnya nanya pertanyaan-pertanyaan dasar gitu. Prinsipnya kan: “There is no stupid question.” Bahkan kalo kita masih ga paham, dosen bersedia ngajarin di luar jam ngajarnya, tentunya dengan appointment terlebih dahulu.

  1. Fasilitas

Mungkin poin ini yang akan jadi jurang perbedaan yang cukup siginifkan antara kuliah di Indonesia dan di Belanda. Selama kuliah di Belanda, terasa lebih fokus dalam menjalani perkuliahan. Bahan bacaan lebih kaya, jurnal internasional dengan mudah bisa diakses, textbook banyak tersedia di perpus, atau bisa juga beli second atau baru secara online, dengan harga terjangkau. Ini baru soal bahan bacaan.. Kalau soal fasilitas berupa mesin, alat elektronik, perangkat lab, yaaa.. bersyukur banget bisa nemuin rupa-rupa kelengkapan seperti itu. Tentunya salut pas kuliah di Indonesia, dengan fasilitas yang mungkin seadanya, tapi tetep bisa mengerjakan penelitian atau tugas dengan hasil yang bagus.

  1. Egaliter

Ini yang mungkin kerasa berbeda ya dengan Indonesia. Di sini dosen dan mahasiswa ga berasa ada jarak. Manggil professor dengan nama depannya ya biasa, ga pake sir atau mister. Sering kan denger kalo di Indo tu orang ngorol sama professor senior: “Iya prof..” “Oke, prof..” dan prof-prof lain di belakang kalimat. Rasanya geli juga kadang. Di sini ga ada titel-titel gitu disangkutin dipercakapan atau di email. Semuanya sama. Tapi bukan berarti kita jadi kurang ajar juga. Mengacu pada etos kerja yang suka berdiskusi tadi, mahasiswa maupun dosen bebas berekspresi mengeluarkan pendapatnya di forum-forum diskusi. Gak ada tatapan merendahkan dari mereka kalau student mau bertanya, mendebat, atau mengekspresikan ketidaksetujuan.

  1. Mandiri

Jadi mahasiswa di Belanda harus proaktif dan mandiri. Ga ada tuh yang namanya diingetin sama dosen tentang kapan ujian, harus ngumpulin tugas, atau dikejar-kejar untuk nyelesain thesis. Semua informasi tentang perkuliahan biasanya sudah terintegrasi lewat portal kampus dan email. Jadi harus sering-sering cek email dan portal kampus untuk lihat apakah ada jadwal yang berubah, kapan tugas harus dikumpulkan, kapan meeting dengan departemen dll. Waktu kuliah di Indonesia, walaupun punya dosen cuek, tapi setidaknya masih punya temen yang care ngingetin kita kalau kita bolos kuliah, kalau kita lupa bikin tugas. Di Belanda? Ya lu-lu gue-gue dong, masa sudah besar masih harus diingetin. Oiya untuk pengerjaan tugas juga, dosen akan membebaskan kita mengeksplorasi bahan.. Dosen gak akan nuntun satu-satu dan ngontrol detail semua hasil kerja kita. Mereka percaya kita bisa ngerjainnya dan kita juga jadi lebih bertanggungjawab akan kerjaan kita.

  1. “You did a good job!”

Ini yang patut ditiru. Selama kuliah di Belanda, selalu ketemu dosen-dosen yang sangat menghargai hasil kerja studentnya. Ketika kita telah selesai mengerjakan tugas, melaksanakan presentasi, atau merampungkan paper, komen mereka pertama kali adalah “You did a good job!” yang terdengar tulus. Kemudian mereka baru memaparkan apa positif dan negatifnya dari pekerjaan yang sudah kita buat. Tapi intinya mereka sangat menghargai hasil jerih payah kita. Mereka ga minim akan pujian kok. Yang seperti ini bikin mahasiswa jadi termotivasi dan merasa dihargai.

  1. Resource bagi universitas

Khusus untuk mahasiswa S3 atau PhD, perbedaan yg paling terasa adalah di Belanda ini, PhD student itu dianggap sebagai sebagai resource kampus. Artinya mereka bukanlah sekedar “murid biasa”, tetapi statusnya dianggap sebagai pegawai, yang menghasilkan sesuatu untuk kampus, yang keberadaannya dibutuhkan oleh universitas dan profesor. Bahkan mahasiswa S2 juga sering dilibatkan sebagai resource kampus.. Seperti ikut menjadi bagian dalam research mahasiswa S3.

Nb: ketika saya menuliskan Belanda bukan berarti seluruh univ di Belanda seperti tersebut. Ini hanyalah rangkuman dari pengalaman teman-teman yang saya tanya ditambah pengalaman pribadi, dan cerita kanan-kiri.

Terima kasih kepada: Navilah Syamlan, Yosi Ayu, Resti Marlina, Doti Parameswari, Murwendah, Rully Cahyono, Yora Faramitha, Bustanul Ury, Niken Widyakusuma, Pretty Falena.

One thought on “Perbedaan Kuliah di Indonesia dan di Belanda

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s