Menulis Untuk Diri Sendiri


Yang baca tulisan ini mungkin seorang sarjana, mungkin juga sedang menempuh Pendidikan (alias masih mahasiswa/anak sekolah). Sudah biasa menulis, terutama di sekolah. Karena kita belasan tahun belajar (membaca dan menulis), sudah seharusnya menulis adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Logika umumnya begitu. Bahkan, banyak sekali anggapan bahwa semua orang bisa menulis.

Yang kedua adalah bahwa seakan-akan pembaca dari tulisan kita selalu orang-orang di luar kita. Hampir gak ada tuh yang namanya diri sendiri sebagai pembaca.

Saya, terus terang berada di pihak yang berseberangan dengan kedua pendapat tersebut.

Dan saya ada tiga alasan mengapa kita sesekali butuh untuk menjadikan diri kita sebagai pembaca dari tulisan kita sendiri.

menulis 1

Pertama, menulis itu menyembuhkan diri sendiri.

Kehidupan modern jaman now ini, banyak menyebabkan iri hati. Apalagi ada social media sebagai amplifier alias penguat message. Teman yang lanjut sekolah, lha. Kita belum ada waktu dan uang untuk meneruskan pendidikan. Teman yang jalan-jalan ke luar negeri, lha. Sama: belum ada waktu dan uangnya. Haha. Teman yang karirnya bagus, teman yang mengumumkan akad dan resepsi pernikahannya, teman yang keluarganya berbahagia dari kelahiran putra/putri pertama, kedua, dan seterusnya. Sementara kita masih single/jomblo/you name it. Semua itu bisa menyebabkan kegalauan. Memang sih, pilihannya kembali ke diri sendiri. Tergantung kamu mau memilih untuk galau atau tidak.

Salah satu cara menghindari kegalauan adalah dengan menulis. Mengapa menulis? Karena menulis itu menuangkan kegelisahan kita. Tapi kita tidak membuat diri sendiri malu, kok. Karena hanya kita seorang diri yang membaca. Menulisnya juga jangan di sembarang tempat. Kalau dulu -puluhan tahun yang lalu- ada namanya diary, sekarang diary-nya bisa digital. Bahkan di wordpress.com pun, bisa di-setting supaya tidak tayang.

Kedua, menulis itu untuk berekspresi.

Ada public area, ada private area. Orang-orang suka lupa membedakan keduanya. Apalagi di jaman socmed begini. Sering lupa juga dia berada di area yang mana. Atau, ada orang yang terlampau sering berada di public area. Sehingga lupa bahwa dia punya private area yang seharusnya menjadi tempat dia kembali ke dirinya sendiri. Saya menyebut orang-orang yang tidak punya hobi itu, sebagai tidak punya private area. Hahaha. Atau, terlampau asyik dengan dirinya sendiri sehingga lupa berbicara dengan para khalayak di public area.

Yang ingin saya sampaikan adalah menulislah untuk mengekspresikan perasaan (isi hati) maupun pikiran/pengetahuan (isi kepala) di area privat anda.

Social media itu ruang publik. Bisa menjadi sarana berekspresi. Kapan sebaiknya tidak berekspresi? Kalau yang kita ingin ekspresikan itu penuh dendam, memuat konten SARA, sesuatu yang membuat diri kita malu, dst.

Misalnya kamu seorang singlelillah atau jomblo fii sabilillah, mungkin kamu belum punya orang yang tepat untuk mendengarkan perasaan atau ekspresi kamu sendiri. Maka menulislah untuk mengekspresikan perasaan yang hanya akan didengarkan oleh dirimu sendiri.

Ketiga, menulis itu untuk merapikan pengetahuan.

Menulis itu cara lain, sih. Cara paling utama merapikan isi kepala itu adalah dengan tidur cukup dan tepat waktu. Cukup artinya, minimal enam (6) jam. Tepat waktu artinya, tidak tidur terlalu larut sehingga bisa bangun sebelum adzan subuh. Itu cara pertama mengorganisasikan dan menyusun ulang isi kepala kita. Di samping itu, tidur tepat waktu dan tepat jumlah adalah cara menetralisir racun-racun dalam tubuh. Memang, organ hati kita bekerja maksimal di malam hari.

Tidak harus kamu adalah siswa/mahasiswa yang belajar di sekolah/kampus sehingga kamu berkewajiban merapikan pemahaman kamu, mumpung ujian masih lama. Sehingga tidak SKS (sistem kebut semalam). Tidak harus juga kamu adalah karyawan di kantor yang learning by doing atau sedang dalam OJT (On Job Training) sehingga kamu harus mengelola ilmu/pengetahuan dengan baik.

Tapi simply karena segala aktivitas harian kita itu ada ilmu, ada renungan yang bisa kita ambil, maka menulislah. Terutama dalam bentuk diary, ya. Ketika kita sudah menulis, lalu flashback ke tulisan-tulisan sebelumnya kita jadi tahu kita pernah melakukan apa. Banyak orang tidak reflektif dalam hidupnya. Lupa dia pernah mengerjakan apa. Tidak tahu apa yang dia capai. Sehingga, dia lupa merencanakan apa-apa yang mau dia raih. You understand what I mean, didn’t you?

Bisa saya katakan, menuliskan ulang informasi atau pengetahuan yang kita dapat, itu sangat bermanfaat untuk karir kita ke depan. Bisa juga kita menuliskan angan-angan/rencana/mimpi-mimpi yang kita targetkan untuk bisa terwujud dalam beberapa waktu ke depan. Apakah kita pekarya atau pekerja, menulis tentang ilmu pekerjaan sendiri, pasti akan ada manfaatnya dalam pekerjaan/profesi yang kita geluti.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s