Resensi Dua Novel


Dua novel berikut ini untuk menambah referensi maupun perspektif baru anda. Kalau (terpaksa) dianalogikan dengan coding di industri digital, ini adalah upaya untuk menambah library kamu. Di samping juga untuk memperkaya cara berekspresi via tulisan.

Instead of setia terhadap karya-karya penulis seperti Tere Liye, Dewi Lestari, Adhitya Mulya, alangkah baiknya untuk menambah perspektif baru dari penulis dari dua buku yang saya bahas berikut ini.

cinta-tak-pernah-tepat-waktu-back

Yang pertama adalah Cinta Tidak Pernah Tepat Waktu dari Puthut EA. Siapa yang menulis, menjadi pertimbangan bagi saya dalam memilih novel. Puthut EA ini editor senior, termasuk pendiri dan pemilik kira-kira untuk media digital kekinian dengan brand Mojok (www.mojok.co).

kambing-dan-hujan-new

Yang kedua adalah Kambing dan Hujan yang dikarang oleh Makhfud Ikhwan. Dasar ceritanya adalah perbedaan-perbedaan dalam praktik beragama antara Nadhlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah. Makhfud mengilustrasikannya dengan baik sekali via keberadaan dua masjid di sebuah kampung; satu Masjid Utara, satunya adalah Masjid Selatan. Penulis mengekspresikan plot cerita lewat sejarah pemikiran-pemikiran, maupun upaya-upaya dari tokoh-tokoh –bisa disebut persaingan antar masjid-di antara kedua masjid tersebut. Cerita ini menarik sekali karena disentuh dengan pendekatan seorang pemuda dan seorang pemudi yang baru saja wisuda dan ingin menikah. Si pemuda biasa berjamaah di masjid utara, sedangkan si perempuan biasa berinteraksi dengan masjid selatan.

Sebagaimana disampaikan di kaver belakang, karya Puthut EA berkisah tentang pergolakan pemikiran, goncangan batin, pencarian cinta, dan upaya untuk menyembuhkan diri dari penyakit yang diderita sang tokoh utama.

Sebagai lelaki, saya gemes melihat si tokoh utama ini. Galau terus, susah move on, gak mencari solusi atas ke-jomblo-annya. Saya dulu mengalami hal yang sama #eeaaaa tapi bagaimanapun juga life must go on hidup harus berjalan terus dengan atau tanpa dia. Namun ke-gemes-an itu justru mendorong untuk menyelesaikan novel ini. Apakah sang tokoh utama kiranya akan mencapai plot yang dikehendaki oleh semua pembaca? Yaitu, sukses mengatasi semua problematika hati dan pikiran tersebut sehingga berhasil merangkai cinta dan mengakhirinya di pelaminan bersama seorang wanita?

Di ujung akhirnya agak gantung. Karena penulis tidak menceritakannya sampai ke sana. Tapi, teknis kepenulisannya secara tersirat berhasil menyatakan kepada pembaca bahwa si tokoh utama berhasil move on setelah gagal untuk kesekian kalinya—telat menyatakan cinta hanya beberapa minggu kepada kasir sebuah kafe—yang kebetulan duduk bersebelahan dalam sebuah kereta dan ternyata wanita yang bersangkutan baru saja menikah.

Info menarique tentang kategori pekerjaan “Pembunuh Bayaran”:

  • Buku A = Buku yang dianggap penting oleh tiap pembunuh bayaran. Tanpa dibayar. Sebagai pernyataan sikap politik maupun ideologinya.
  • Buku B = Buku proyek pribadi si pembunuh bayaran, semisal novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dll.
  • Buku C = Buku yang dianggap cukup penting, dengan imbalan yang memadai.
  • Buku D = Proyek senang-senang: menovelkan film, membantu menuliskan pengalaman para teman, yang biasanya berawal dari rasa senang dan ingin mencoba hal-hal yang baru.
  • Buku E: Buku yang dibuat oleh seseorang untuk tujuan-tujuan tertentu. Biasanya yang membuat adalah para pejabat, konglomerat, atau artis.

Bagaimana dengan karya Makhfud Ikhwan? Saya mengagumi karya ini karena direkayasa sedemikian rupa. Dalam istilah saya, fiksi ini ditulis dengan pendekatan non-fiksi. Tentu ini sok tahu-nya saya. Tapi maksud saya begini: pengumpulan fakta dan data dulu—kisah cinta tertolak antara insan NU dengan insan Muhammadiyah pastinya sangat menarik. Diikuti dengan penyusunan plot demi plot cerita. Penetapan nama dan pembentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Analog dengan pengembangan aplikasi digital, setiap perpindahan server dan environment yang baru, penulis selalu melakukan penyesuaian ulang, apakah setiap kata, kalimat, dan paragraph koheren menyusun cerita yang menarik.

Kambing dan Hujan itu, pemberian judul yang menarik. Tapi analoginya kurang masuk bagi saya. Kambing memang menghindari hujan, namun hujan tidak menghindari kambing, ‘kan? Padahal kedua ayah yang diceritakan memang saling menghindari satu sama lain.

Omong-omong, karya Makhfud Ikhwan ini menjuarai sayembara novel dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di tahun 2014.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s