Antara Selera, Latihan dan Uang


Ada suatu masa dalam hidup saya di mana saya berada dalam persimpangan pilihan, yaitu mau hidup dengan cara apa? Cara yang membahagiakan karena uang banyak, atau happy karena apa yang dikerjakan?

Pilihan pertama

Yang pertama itu cari uang sebanyak-banyaknya lalu membelanjakan uangnya supaya kita happy. Bahkan bisa saja uangnya tidak didapat dengan cara yang tidak menyenangkan, kemudian uangnya bisa dibelikan apa saja yang menyenangkan.

Misalnya, kita tahu bahwa bekerja di bank, atau di industri minyak dan gas (migas) itu duitnya banyak. Jadilah kita memilih bekerja di sana. Meskipun kita tidak suka, tapi duit yang banyak itu bisa dibelikan beberapa mobil, beberapa rumah, pergi jalan-jalan ke dalam dan luar negeri, atau hal-hal lain yang bikin happy.

Pilihan kedua

Kalau cara kedua adalah mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness) via passion. Istilah passion ini mulai hype as the way to pursuit happiness, saya kira dalam satu dekade terakhir. Cara kedua ini juga terbagi dua lagi. Pertama, passion dulu baru berkarya; alias memang memiliki kesukaan tertentu, lalu memilih produktif menghasilkan karya yang fenomenal luar biasa. Atau rutin merilis hasil-hasil berkarya.

Aliran kedua bagian b –yang memang fokus tulisan ini–, adalah alirannya mereka yang tidak percaya bahwa passion itu memang ada. Cara mereka adalah mencoba dan mengeksplorasi berbagai bidang, kemudian memilih satu di mana mereka benar-benar jago/kompeten. Percobaan dan eksplorasi tidak berhenti di permukaan saja ya. Betul-betul didalami, tekuni dan dilatih terus-menerus.

Aliran 2b ini, salah satu kitabnya adalah buku “So Good, They Can’t Ignore You” dari Carl Newport. Sesuai judulnya, pesannya adalah “jadilah seniman terbaik dari karya kita, hingga orang tidak bisa mengabaikan keberadaan kita”. Quote barusan dari saya, belum tentu ada di bukunya. Tapi kamu sudah paham maksudnya, ‘kan? 🙂

Bahkan di era serba digitalisasi sekarang ini, di mana keterlibatan manusia semakin digantikan oleh robot (pekerjaan Customer Service pun mulai digantikan oleh ChatBot), ternyata pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya human touch malah semakin diperlukan. When human touch is needed, there is we should be so good. Pekerjaan seperti penulis, desainer, programmer, dsb malah semakin relevan karena seleranya.

Bahwasanya pekerjaan-pekerjaan tersebut menuntut suatu standard, selera, idealisme, –atau apapun istilahnya– dalam berkarya. Contohnya begini. Misalnya saya yang membaca lalu menganalisis karya tulisan orang lain.

  • Jika ada bagusnya, apa yang bisa ditiru lalu dari yang bagus tersebut?
  • Jika ada kelemahan, bagaimana saya akan memperbaiki kelemahan tersebut?
  • Saya membayangkan bagaimana bila saya menulis ide yang sudah ditulis tersebut. Bagaimana supaya lebih bagus?

Jadi, selera ini seharusnya menjadi keunggulan. Pembeda yang bisa ditawarkan kepada orang/pihak/institusi lain.

Kemudian soal latihan. Ambil contoh pesepakbola profesional. Mereka terus berlatih bahkan dalam hal-hal yang sangat sederhana seperti berlari dan menendang bola.

Saya bilang sih, pesepakbola itu dibayar untuk berlatih. Bukan untuk bermain. Dalam satu tim profesional berisi 33 orang, hanya 11 orang yang beruntung. Apalagi kalau menjadi pemain reguler, tentu dia karena memiliki keterampilan (skill) yang sangat baik dan dia juga beruntung.

Tadi malam, Real Madrid menjuarai UEFA Liga Champions ketiga kalinya berturut-turut setelah mengalahkan Liverpool 3-1. Sudah tiga kali dan berturut-turut, lho. Artinya ‘kan mereka tim Real Madrid sudah jago banget. Apa lantas mereka tidak perlu berlatih lagi?

Mereka jelas lebih jago daripada kita untuk urusan berlari dan menendang bola. Tapi mereka tetap berlatih hal-hal mendasar tersebut, ‘kan?

Contoh kedua dari link Core Skills for Technical Writers Often Overlooked ini, penulis yang merupakan seorang technical writer, mengeluhkan betapa generasi muda technical communicator melupakan hal-hal yang mendasari profesionalisme di bidang technical communication: good resume dan professional email(ing). Jadi, back to basic skill, lha.

Kedua contoh tersebut menekankan pentingnya terus-menerus berlatih. Baik diajari langsung oleh pengajar profesional, maupun via self-training.

Di sisi saya, saya harus konsisten menulis as part of my self training. Saya harus terus mempertajam selera dan standard, rutin mempelajari selera pasar, dan lain sebagainya. Misalnya, saya melihat keunggulan saya di feature journalism. Sebab saya ingin menyajikan data dan fakta dalam sebuah cerita yang memang menarik. Setiap artikel memiliki konteks masing-masing, namun saya menghendaki sebuah cerita yang abadi; cerita yang kapanpun dibaca masih selalu terasa maknanya.

Kesimpulan sementaranya adalah, selera harus dipertahankan bahkan harus terus ditingkatkan. Latihan ya harus terus-menerus dilakukan. Minimal berupa self-training. Bagi saya, itu adalah setiap setelah sholat subuh. Tentu tidak semua dirilis di blog ini. Atasan saya di kantor lama pun demikian; punya ritme khusus dalam menulis: setiap pagi setelah bangun tidur.

Akhirnya, saya berlatih untuk jujur terhadap apa yang saya rasakan. Kata Pandji, kejujuran macam ini akan berdampak terhadap karya-karya kita. Kejujuran dan orisinalitas kita pasti berimpak pada eksistensi, diferensiasi dan positioning kita di “pasar”.

Pilihan ketiga.

Dari sini muncul pilihan ketiga: menghabiskan waktu (bekerja) sesuai passion, tetapi mencari uang yang banyak dengan cara lain. Belakangan, akhirnya saya cenderung ke nomor tiga, instead of pilihan kedua.

Katanya sih, kalau sudah passion maka duit akan mengikuti. Iya sih, masuk akal. Kalau kita passion –> mestinya kita lebih produktif –> terus-menerus meningkatkan selera dalam berkarya –> personal brand terbentuk –> orang/institusi lain mulai memberi order/proyek ke kita –> duit mendanai passion kita. Dan siklus pun berulang.

Namun, ada mekanisme pasar yang berperan. Bagaimana pun passion dan kualitas karya nya, tentu ada faktor supply-demand yang ikut mempengaruhi tingkat harga di pasar. Duit bisa jadi datang terus, tapi bisa jadi harga semakin turun. Ini yang harus kita antisipasi.

Kalau kita sudah happy, tapi duit masih kurang banyak, kita harus kreatif mencari duit dengan cara lain juga. Misalnya berdagang (online), menyewakan alat atau aset, cari side job, dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan ada lain waktu untuk membahas hal tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s