Bisnis di Atas Bisnis Sepak Bola


Parma kembali ke Serie A, setelah promotion berturut-turut dalam tiga musim. Serie D -> Serie C, lalu ke Serie B, lalu ke Serie A. Klub ini pernah dipaksa degradasi ke Serie D karena dinyatakan bangkrut oleh pengadilan. Artinya, tidak punya uang yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya.

parma

AC Parma Golden Generation

Di tahun saya mulai menonton sepak bola, golden generation-nya klub ini menang besar 2-4 di kandang tim kuda zebra yang terkenal angker. Striker andalan mereka, yang masih menjadi pencetak gol terbanyak hingga kini, Hernan Crespo, membuat hattrick saat itu.

Main dengan pola 3-4-1-2, ada Juan Sebastian Veron sebagai playmaker di belakang dua striker. Saat itu, pengatur permainan (playmaker) mostly bermain di posisi itu. Ada juga Enrico Chiesa, pemain yang biasa menembak keras dari jarak jauh sebagai second striker. Ada kiper Gianluigi Buffon, yang di tahun ini gantung sepatu dari tim kuda zebra yang sudah disebut di atas. Ada Fabio Cannavaro yang tidak terlalu tinggi, tapi kokoh berhadapan dengan striker lawan dan selalu menempatkan diri lebih baik guna meng- intercept umpan pemain lawan sebelum sampai di kaki atau kepala striker yang dia jaga.

Parmalat dan City Group

Di era generasi emas tersebut, Parma disponsori penuh oleh Parmalat. Perusahaan berbasis peternakan sapi perah yang punya produk susu kemasan, keju, lalu belakangan masuk ke biskuit. Parmalat sangat dikenal karena produk susu UHT yang menjamin masa simpan lebih lama di dalam kulkas. Distributor dan toko tentu lebih senang menyimpan inventory yang awet seperti ini.

Founder dan Owner Parmalat, Carlisto Tanzi berinvestasi di persepsi orang lain terhadap dirinya: personal branding. Sama seperti para pemilik lain yang sebenarnya hanya bermain-main dengan klub sepak bolanya. Sebagaimana Silvio Berlusconi, pebisnis media sekaligus politisi yang pernah memiliki klub AC Milan. Kalau pada akhirnya “mainan” tersebut menyedot terlalu banyak duit daripada menghasilkannya, ya akhirnya dijual juga.

Singkat cerita, Carlisto Tanzi adalah “dewa” yang mengangkat harkat martabat Parma ke jenjang yang lebih tinggi: Serie A dan kompetisi antarklub di Eropa.

Dengan logo Parmalat terpampang di jersey Parma yang melanglang  buana ke berbagai kota di Eropa (via Winner, cup, UEFA cup atau Champions League), dan tentu saja lewat siaran sepakbola sampai ke Asia dan Amerika latin, model bisnis Parmalat mensponsori Parma sudah benar. Ekspansi ke eropa timur juga diikuti dengan rekrutan Hristo Stoichov yang mulai menua dan memudar di Barcelona. Ini sebenarnya mirip dengan yang dilakukan Manchester City dalam satu dekade terakhir.

Rute penerbangan Etihad Airways ke New York dan Melbourne diikuti dengan ekspansi City Group ke dua kota tersebut: akuisisi klub sepak bola New York City dan Melbourne City. Ekstensi brand “City” sebenarnya baru dilakukan pasca kedua klub tersebut sudah dimiliki. Jadi uang berlimpah yang digelontorkan via Josep Guardiola sebenarnya juga tidak ada salahnya. Toh, City mengekspansi semua channel yang mereka miliki kan.

Berkat channel yang mereka miliki, akhirnya ada pemain Liga Australia yang “merumput” di English Premier League. Yang bersangkutan dilepas oleh klub sepak bola Melbourne City.

Rentannya Keuangan Klub Sepak Bola

Parmalat di tahun kebangkrutannya sedang mempekerjakan 36.000 karyawan, merupakan perusahaan terbesar ke-8 di Italia, dan merepresentasikan hampir 1% dari GDP-nya Italia. Tapi punya utang sebesar 20 miliar USD yang tidak sanggup mereka bayar. Muncul pertanyaan, perusahaan sebesar itu, kenapa sampai tidak sanggup menyelesaikan utangnya? Simply karena utang-utang yang mereka ambil tidak berubah menjadi aset perusahaan. Melainkan diambil dan dimakan sendiri oleh keluarga Tanzi dan para pemimpin Parmalat saat itu.

Kebangkrutan Parmalat ini kemudian menjangkiti AC Parma yang . Tidak mampu merekrut dan mempertahankan pemain berkualitas diikuti dengan menurunnya performa klub di klasemen Serie A Liga Italia yang ujung-ujungnya adalah klub terdegradasi. Meskipun degradasi ke Serie B sendiri baru terjadi di akhir musim 2008/09.

Skandal Parmalat adalah ibarat skandal Enron, tapi terjadi di Eropa. Skandal Enron baru terjadi 2-3 tahun sebelum skandal Parmalat. Polanya sama: mengaku-aku punya pendapatan, tapi uangnya tidak pernah ada. Karena punya “pendapatan”, maka mengambil utang dalam jumlah besar. Pada akhirnya, utang inilah yang dilarikan ke aset-aset pribadi.

Keuangan klub sepak bola itu rentan (vulnerable) sekali. Sementara gaji pemain yang besarnya 50%-70% omzet perusahaan itu harus dibayar terus. Padahal, pendapatan klub bisa naik dan turun. Tergantung tahun depan bisa ikut Champions League atau tidak, atau bisa “mengamankan” berbagai sponsor (Nike/Adidas, atau sponsor lainnya), atau sumber-sumber merchandise lainnya.

Di bayangan saya, orang finance-nya klub sepak bola benar harus jago di atas kertas. Karena yang dia lakukan adalah melakukan valuasi aset, terutama terhadap pemain. Di atas meja perundingan, dia juga harus jago negosiasi banget.

Tadi malam Chelsea menang atas Manchester United (MU) di Final FA Cup. Kalau saya jadi manajemen MU, saya sudah tenang sebelum Final FA Cup tadi malam. Dapat piala FA Cup ya syukur alhamdulillah, enggak dapat ya tidak apa-apa. Masih ada tahun depan. Mengapa demikian? Sebab klub sudah aman; punya jaminan pemasukan dari Champions League musim depan. Berbeda dengan Chelsea yang anggaran belanja musim depan pasti melorot karena “hanya” bermain di Europe League.

 

Bandung, 20 Mei 2018

referensi:

https://www.theguardian.com/football/blog/2015/jun/23/parma-the-football-club-milked-for-all-their-worth

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s