Connect The Dots Looking Backwards


Kalau saya kilas balik, ke profesi saya sekarang, copywriter, saya merasa ini seperti connecting the dots.

Kata almarhum steve jobs, kita itu tidak bisa selalu berhasil dalam merencanakan dan mengeksekusi rencana. Tapi kita bisa menarik kembali garis hubungan hubungan antara apa yang pernah terjadi, apa yang pernah kita lakukan, prestasi apa yang kita hasilkan di masa lalu dengan apa-apa yang ada saat ini.

bfa2a8debf5d21f88b75330cae57c7aa

Mengambil pola tersebut, saya menyimpulkan bahwa posisi copywriter sekarang ini, adalah “nyambung” dari apa yang saya lakukan dan hasilkan sejak beberapa tahun lalu.

Saya kuliah di kampus Teknik. Segala hal selalu kami pandang secara ilmiah. Basis fakta, logis (masuk akal), dan sistematis. Ketika berperan sebagai penulis, saya jadi demikian adanya lewat tulisan-tulisan saya: berusaha menyajikan fakta, menginterpretasikannya dengan masuk akal, dan sistematis dalam menampilkan hasil tulisan saya. Sistematis artinya ada hubungan antara tiap konten/informasi di dalamnya.

Pasca lulus, saya bekerja di kantor konsultan. Di sana, logika sama pentingnya dengan kreativitas. Di sini, kompetensi kreativitas saya yang lebih banyak dikembangkan. Saya belajar menyentuh sisi emosional dari audiens; khususnya sisi kegelisahan (anxiety) mereka. Wajar, memang klien yang stuck dengan daily operation membutuhkan rekomendasi yang menyegarkan tapi berangkat dari pendekatan yang ilmiah.

Di samping itu, kemampuan jurnalistik saya sendiri. Jurnalistik artinya, menangkap potensi sebuah berita, lalu mengkreasikannya sedemikian rupa sehingga benar-benar menjadi sebuah berita yang bisa dirilis sesuai mediumnya. Again: saya tidak kuliah jurnalistik.

Yang jurnalistik ini semi otodidak sih. Di era social media seperti sekarang, mereka yang sukses memanfaatkan social media berarti sudah otodidak belajar dan mengeksekusi aktivitas-aktivitas jurnalistik. Sukses artinya, memperbanyak 3F (friends, fans, followers) dan meningkatkan engagement dengan mereka. Beberapa kali saya memang menghandle social media, di samping social media saya pribadi.

Di kantor konsultan dulu, karena kantornya kecil, kami dibagi berdasar klien. Jadi untuk setiap klien, handling kami itu end-to-end. Mulai dari membuat proposal, mengerjakan materi seperti riset dan presentasi, sampai dengan membuat laporan akhir. Karena saya biasa membuat proposal, di kantor sekarang ini saya menjadi editor untuk setiap proposal tender yang kami buat.

Ada hal lain lagi. Terkait industri yang sedang berkembang dan saya ingin menjadi bagian di dalamnya. Jadi di Indonesia ini yang growing adalah industri IT. Saya ingin menunggangi gelombang (riding the wave) tersebut. Saya belum lama menemukan bahwa industri ini juga padat dengan dokumentasi. Mulai dari requirement specification, sampai user guide. Nah technical writing adalah aspek yang penting di industri ini.

Hal lain yang menarik adalah technical writing zaman now tidak lagi sama dengan technical writing yang tradisional. Penggeraknya adalah internet dan social media. Mesin pencari membantu kita menemukan informasi yang kita inginkan. Which is, kita sebagai penjual produk/jasa/proyek juga ingin ditemukan oleh calon pembeli. Kita harus berpikir keras, bagaimana findability kita meningkat di mata konsumen.

Di sisi lain, social media membantu kita mencari, menemukan, dan mempertahankan mereka yang kita sebut sebagai pelanggan/audiens. Kita tinggal eksplorasi saja, jenis konten seperti apa dari kita, yang membantu kita membangun hubungan dengan audiens. Tidak mudah memang, tapi harus dicoba dan diiterasi terus.

Jadi, apa aja yang saya kerjakan di kantor yang sekarang?

  1. Sebagai editor untuk proposal tender
  2. Sebagai editor untuk dokumen-dokumen lain
  3. Mengelola social media kantor
  4. Membantu tim HR dalam mengelola komunikasi dengan internal perusahaan (terutama karyawan)

Kalau disimpulkan, pekerjaan saya itu separuh copywriter ala advertising agency, dan separuh lagi adalah technical writer.

Berhubung perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan asal singapore, jadi official language-nya adalah English. Jadi semua dokumen tender dan non tender itu dalam Bahasa Inggris. Demikian pula ketika berkomunikasi resmi dengan para karyawan. Lucunya, saya dianggap sebagai yang paling jago grammar. Wkwkwk. Padahal saya tidaque jago sama sekali. Tidak apa. Yang penting saya harus belajar terus.

Berhubung pekerjaan sekarang ini sangat erat dengan crafting, antusiasme jadi penting banget. Karena antusiasme akan “menyetir” proses dan ikut menentukan kualitas hasil pekerjaan. Semangat untuk menemukan hal-hal baru dan melihatnya sebagai sesuatu yang menarik untuk dipelajari, itulah yang saya sebut dengan antusiasme.

Dan ini makin relevan di era digital seperti sekarang. Iya sih, beberapa aktivitas bisa diotomasi secara digital. Hingga beberapa pekerjaan “hilang” ditelan disrupsi digital. Seperti Customer Service (CS) yang mulai digantikan oleh chatbot. Namun, pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan sentuhan manusia (human touch) justru semakin relevan. Di sinilah pentingnya terus-menerus membangun dan mempertahankan antusiasme.

Panjang juga ya bicara tentang antusiasme. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk menuangkan gagasan tentangnya. Sementara sekian dahulu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s