Gen Y and Employer Branding


Dari dulu, nama yang dipakai itu Human Resources (HR). Belakangan ini ada yang menamakannya Human Capital. Yang terakhir ini lebih ke mindset. Artinya, manusia di dalam organisasi bisnis adalah aset. Yang dimaksud aset adalah manusia-manusia tersebut dapat ditingkatkan produktivitasnya. Dia bisa diajarkan, dilatih, dan dikembangkan lebih lanjut. Sehingga bisa mencapai target yang lebih besar daripada sebelumnya. Contoh. Kalau dia adalah seorang salesman, maka nilai penjualan yang ditargetkan di periode berikutnya bisa lebih tinggi.

Image result for employer branding

Tapi secara finansial perusahaan, tetap saja employment and people development dihitung sebagai cost. Gaji dan biaya training adalah biaya. Bukan sebagai asset.

MSDM (Manajemen Sumber Daya Manusia) itu menggunakan model-model psikologi guna mengoptimalkan produktivitas karyawan. Jadi kalau kamu mahasiswa jurusan manajemen yang mengambil mata kuliah pilihan, atau konsentrasi, atau skripsi terkait MSDM, maka kamu akan banyak mempelajari model-model tersebut. Misalnya konsep reward and punishment. Atau DISC model. Introvert-extrovert. Dan pemodelan-pemodelan lainnya.

Tidak hanya mempelajari model, tetapi juga mempraktikkan metodologi pengukuran psikologi. Yang akan diterapkan pada objek riset kamu. Untuk pendidikan sarjana, rasanya belum akan sampai pada pengembangan metode baru guna pengukuran psikologi. Lebih ke latihan melakukan riset.

Basis dari optimasi kinerja manusia dalam organisasi adalah kompetensi. Makanya biasa dilakukan competency mapping. Secara ideal, untuk menentukan knowledge, skill, and attitude (KSA) yang ideal. Sedangkan secara aktual untuk mengetahui status terkini dari KSA-nya manusia yang dimaksud. Di antara ideal dan aktual, ada competency gap yang harus dikecilkan melalui training and people development.

Gen-Y

Tentang Gen-Y sendiri, risetnya sudah banyak sekali. Bahkan sampai membanding-bandingkan dengan generasi sebelumnya. Wajar saja, di tahun-tahun sekarang ini masih banyak banget industri dan perusahaan yang mempekerjakan dua generasi berbeda karakter tersebut. Dan hanya beberapa tahun lagi, Gen-Y akan mendominasi dunia kerja. Isu paling kencang yang dibicarakan adalah, “Bagaimana mengoptimalkan Gen-Y di dunia kerja?” akan semakin terus intensif dibicarakan sekarang dan ke depannya.

Infografis di bawah ini membandingkan Gen-X dan Gen-Y di dunia kerja.

Image result for gen y

Employment pattern: remote work, freelance, atau duration-based work. Yang terakhir maksudnya 8 jam kerja berada di kantor (belum termasuk waktu istirahat). Bebas masuk jam 8, 9, atau 10 pagi. Tidak semua pekerjaan bisa seperti itu, memang. Namun pola-pola employment tersebut mulai banyak diterapkan di industri digital (startup, web developer, digital agency). Industri-industri yang lain mulai turut meniru industri digital tersebut.

Tidak hanya back-end developer, tapi juga designer, writer, videographer. Kerjaan seperti social media administrator bahkan tidak mengenal waktu kerja. Sehingga dibebaskan untuk urusan tempat bekerja. Bahkan pola employment-nya bisa kontrak berbasis waktu. Pekerja kontrak begini memang merugikan dirinya sendiri dari sisi jaminan hari tua (JHT). Namun begitulah adanya Gen-Y.

Makanya, kalau mau bekerja di perusahaan, bagi Gen-Y penting banget brand-nya si Employer. Iya, employer juga harus membangun brand, donk.

Employer Branding

Potential employee, especially Gen-Y, may not work for companies with bad reputations. Jadi para kandidat melakukan riset lebih dahulu di social media, mengenai company tersebut. Risetnya bisa di facebook, instagram, linkedin. Ini belum termasuk situs lapangan kerja semisal glassdoor.com, qerja.com, jobplanet.com, dan sebaganya. Generasi dulu agak sulit melakukannya karena metodenya terbatas. Seperti bertanya langsung kepada karyawan terkait. Social media membuat segalanya lebih mudah.

So, Employer Branding is more important today than ever before. Itu tadi karena Gen-Y juga mempertimbangkan brand si employer. Apa aja yang mereka perhatikan kala memilih tempat bekerja?

Yang dipertimbangkan oleh gen-y adalah engagement bersama karyawan lain dari ekstrakurikuler kantor –ada riset yang menyatakan dua besar hobi Gen-Y adalah terkait sport and music. Selain itu adalah personal improvement dari kantor.

Jadi, sekarang ini perusahaan-perusahaan berkompetisi dalam membangun asosiasi bahwa tempat kerja mereka adalah yang terbaik. Bahwa dengan bergabung bersama mereka, maka si karyawan akan berkembang dan bisa naik karirnya.

Bahkan perusahaan seperti Alfamart dan Indomaret juga “merekayasa” tagar-tagar yang mereka kembangkan di Instagram. Sebagai cara menunjukkan bahwa they’are the best place to work. Misalnya via tagar #indomaretcantik #indomarethits #indomaretkekinian #indomaretkeren.

Fenomena Gen-Y dan employer branding ini terjadi di semua lapisan ekonomi, lho. Teman saya yang membuka konveksi saja mengakui. Bahwa penjahit mungkin saja memilih tempat bekerja yang ada seragamnya. Instead of yang tanpa seragam. Padahal, gajinya sama, lho.

Istilahnya, generasi sekarang mencari tempat kerja yang, “Enak menjawabnya kalau ditanya orang bekerja di mana”. Bahkan menjawab kerja di tenant mall lebih bergengsi daripada bekerja sebagai ART.

Balik lagi ke topik utama tulisan ini. Lebih baik mana: SDM, finance atau marketing? Tidak ada yang lebih baik. Semuanya adalah baik.

Segala pertimbangan kembali ke kamu sebagai mahasiswa. Jangan menghindari yang sulit saja. Atau memilih skripsi yang mudah saja. Tapi pilih yang kamu suka. Itu aja.

Bagaimana kalau sudah pilih, dan ternyata salah? Gapapa. Masih banyak waktu untuk memperbaiki. Terjun bekerja aja di bidang yang kamu suka tersebut.

Artikel terkait mengenai pemilihan MSDM, keuangan, atau marketing:

alasan memilih manajemen keuangan

mengapa memilih keuangan

mengapa memilih marketing

alasan memilih prodi manajemen

Source of images: 

http://www.hrinasia.com/employer-branding/10-best-practices-of-employer-branding/

https://blogs.qut.edu.au/business-insights/my-advice-on-bridging-the-gen-x-on-gen-y-gap-wear-sunscreen/

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s