Review Indiepreneur (part 2)


Tulisan berwarna hitam memang dari buku beliau. Yang berwarna merah adalah tanggapan dari saya.

20150531195447-1

GR8 Promotion

  • Pandji tidak ingin menyebutnya core fans. Dia lebih suka istilah “komunitas penikmat karya”. The returning satisfied customer. Lebih murah menjaga pelanggan setia daripada menjaring pelanggan baru. Ini memang marketing banget. Menjaga pelanggan instead of menjaring pelanggan baru.  
  • Promosi dan distribusi bisa dilakukan tanpa mengurangi keintiman kita sebagai pembuat karya dengan para penikmatnya. Era digital memang memotong rantai distribusi.
  • Karya yang tanggal rilisnya tidak pasti, tidak pernah mendapatkan hasil yang fenomenal dibandingkan karya-karya yang punya tanggal rilis pasti. Informasi tentang karya kita pelan-pelan dibuka, jangan langsung telanjang. “Kalau yang nggak dirahasiakan aja gokil-gokil, gimana yang rahasia?” Yang rilisnya sudah pasti memang bikin penasaran. Terbuka tapi tidak telanjang. 
  • Orang zaman sekarang menggunakan internet bukan untuk browsing, melainkan untuk mengunjungi stream-nya sendiri. Adalah aliran informasi yang dia dapatkan melalui saluran-salurannya sendiri. Saya mengakui sendiri. Instead of memindahkan pertemanan di dunia nyata ke internet, orang lebih memilih untuk mem-follow interest dia di social media.
    • Relevance. Kecocokan konteks dengan orang lain.
    • Affinity. Kesukaan terhadap seseorang.
    • Goodwill. Iktikad baik yang terlihat dari tindakannya.
    • Trust.
  • From orality culture to literacy to visuality. Menariknya (atau lucunya?) bangsa Indonesia seperti melompat dari orality culture to visuality culture (Instagram, dll). 

GR8 Community

  • Pandji tidak mau punya fans. Kalau fans kecewa, bisa sangat menakutkan. Iya juga, sih. Setuju banget. Main aman aja. Tanpa melupakan bangun fans/komunitas. 
  • Fase kenalan (bertemu) – teman (berkomunikasi) – temain main (kopi darat) – sahabat (saling menghormati). Ini ilmu yang bagus. Sometimes tidak paham kenapa kurang nyambung dengan seseorang. Tapi memang bisa jadi begitulah adanya. 

GR8 Experience

  • Semua bisnis jaman sekarang adalah bisnis jasa. it’s not about what they sell. It’s about what we feel. it’s intangible now. Orang kaya seperti pengacara artis bisa saja punya selera kampungan. Setuju banget. Harus berempati dan menjaga perasaan pelanggan. 
  • Kenyamanan layanan, tempat, toilet, internet dan lokasinya membuat orang-orang pergi ke StarBucks. Di analisis terbarunya, Pak Yuswohady menyatakan connection adalah bentuk baru yang lebih advanced daripada sekedar experience. Menurut beliau, Filosofi Kopi itu provide more connection than Starbucks’s experience. 
  • You may not remember what someone said to you, but you’ll remember how they made you feel. Jadi bukan hanya tentang 4Ps, tapi juga mengenai service. Tegakkan SLA (service level agreement). Bikin SOP. 

GR8 Pricing

Kevin Kelly: Ownership akan bergeser pada access. Orang tidak akan lagi membayar “copy” suatu karya, melainkan membayar pada “access”-nya. Buat apa beli kalau bisa mendapat akses terhadap karya-karya ini kapan pun dan di mana pun.

  • Immediacy
  • Personalisation
  • Authentication
  • Findability
  • Embodiment
  • Interpretation
  • Attention

Detilnya ada di buku. Thanks to Pandji for make it clear. 

Teknik menetapkan harga produk di bidang musik. Berikut adalah faktor-faktor yang harus dihitung:

  • Ongkos produksi
  • Ongkos pelaku seni
  • Ongkos promosi, pemasaran, penjualan
  • Biaya pajak, distribusi, asuransi, dan lain-lain

Jacky Mussry

  • Value-based pricing memasang harga 40% lebih tinggi daripada cost-based pricing.
  • 70% konsumen mengaku agak paham, paham, dan sangat paham akan harga yang adil.
  • 87% konsumen mendiskusikan harga dengan rekannya terhadap produk yang akan dia beli.

Angka 40% itu yang oke untuk dijadikan patokan sama kita semua. Sebagai pekarya.

GR8 Distribution

  • Toko di Twitter. Atau di media sosial lainnya. Sekarang juga kita sudah bisa buka toko sendiri di Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak.
  • Setiap kali mendengar “sold out” yang terjadi sebenarnya adalah “loss sale” alias kehilangan penjualan. Sebab tidak ready stock, maka tidak terjadi penjualan. Seninya sales and distribution adalah menjaga buffer stock.
  • Ketidak percayaan pihak toko atau distributor terhadap karya yang dijual. Tidak percaya terhadap personal brand-nya. Belum tahu mengenai karyanya, dst. Sudah lama paham tentang ini. Ilmu dasar di sales and distribution. Makanya kantor pusat harus bangun branding untuk produknya bertahan di pasar ritel. 
  • Pandangan bahwa seniman hanyalah potensi penghasilan mulai usang, meski belum sepenuhnya. Ke depan, jasa-jasa yang membantu penulis menerbitkan buku akan semakin bermunculan. Jasa semacam ini tetap dibutuhkan meskipun penulis dapat menulis, menyunting, dan mencetak bukunya sendiri. Ini insight. Barangkali ada yang mau bergabung dengan saya membuat bisnis jasa seperti ini? 
  • Kunci penjualan ritel yang baik ada dua, kerapihan transaksi dan layanan personal. Rapih itu keharusan, karena marjin per unit kecil banget tapi kita berharap dari volume penjualan yang besar. Layanan personal tapi tetap standardised
  • Interaksi sosial antara penjual dengan pembeli, serta interaksi antara pembeli dengan pembeli.
  • Toko ritel butuh program untuk menjaga antusiasme konsumen.

Shopping is a social experience. 

  • Berbelanja bersama orang lain. Perasaan tidak sendirian di dalam toko akan meningkatkan kenyamanan.
  • Testimoni konsumen lain yang pernah membeli.

GR8 Collaboration

Contoh kolaborasi antara musisi dengan brand:

  • Jazy-Z mendapatkan appeal yang lebih luas, sedangkan Microsoft Bing mendapatkan imej muda dan keren.
  • Mayoritas rapper terasosiasi dengan champagne –> Jay-Z menjadi bintang iklan bir Budweiser-Select.

Teori personal branding paling sederhana: kalau orang di luar pangsa pasar sudah mengenal anda, berarti personal branding anda sudah kuat. Dengan demikian, awareness anda sudah kuat.

Ketika pengiklan mau bekerja sama dengan anda, tujuannya hanya dua: mendongkrak popularitas atau penjualan.

Saya tidak pernah melihat penggemar MUFC dari indonesia protes melihat logo perusahaan asuransi asal amerika serikat yang menempel di seragam idolanya. Seorang direktur di MUFC menyatakan, brand MU bahkan sudah lebih kuat daripada agama.

Kerja sama dengan brand membantu karya pandji jadi lebih megah, lebih luas jangkauannya, lebih ringan pembiayaanya, dan lebih menguntungkan saya serta tentunya pihak pengiklan.

Karakter diri yang jelas, sesuai dengan karakter brand, dan memiliki komunitas penikmat karya yang terukur karakteristik dan loyalitasnya.

Bentuk-bentuk kolaborasi dengan brand:

  • Sponsorship,
  • Branded content deals,
  • Live shows,
  • Up selling,
  • Broadcast,
  • Online live streaming,
  • Pemasangan logo (bentuk paling sederhana)

Tidak perlu dijelaskan lagi ya. Betapa pentingnya kolaborasi. Collaboration will make us focus, more productive and work faster. Yeah, I just re-desribe it. 

3 thoughts on “Review Indiepreneur (part 2)

  1. “Indonesia seperti melompat dari orality culture to visuality culture “. Setuju banget, kalau posting gambar di FB mnisalnya, lebih banyak like nya ketimbang postingan kata-kata …

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s