Beberapa Posisi Pekerjaan di Software House


Kemudahan berbagi informasi seputar job vacancy di kampus saya, semakin terasa sejak kami para alumni membuat group Facebook khusus mengenai job vacancy. Kalau dapat informasi job vacancy dari mana pun sumbernya, saya posting di group tersebut. Seiring dengan berkembangnya industri software house maupun start up, serta kebutuhan akan in-house developer/designer, bertumbuh pula posisi-posisi terkait di dunia IT.

Back-End (BE) developer dan Front-End (FE) developer

Saya kurang memahami batasannya secara jelas. Berdasar kasat mata atau tidak, front-end jelas lebih kasat mata. Alias “luaran”. Back-end semacam “dalaman”. Tapi, bisa saja yang dilakukan oleh back-end mempengaruhi tampilan “luaran”-nya. Tugas paling utama dari BE adalah menulis kode-kode untuk sebuah aplikasi berbasis web.

Karena berkaitan dengan web, maka web developer perlu mengetahui HTML, CSS, javascript, database SQL, dan mengerti cara kerja HTTP. beberapa bahasa pemrogramman juga punya sertifikasinya. Ada kalanya, BE perlu mengetahui beberapa CMSes seperti WordPress, Sitefinity, Sitecore, dan lain sebagainya.

Meskipun tugasnya bukan programming “dalaman”, front-end developer wajib mengerti hal-hal dasar seperti HTML, CSS, layout, dll.

Quality Assurance

Atau tester. Bagian ini bertugas untk memastikan bahwa product/software yang dibuat adalah sesuai spec. jika orang QA bilang productnya belum layak untuk di release, ya berarti belum direlease. Di software house, orang QA biasanya dulunya adalah programmer juga. Jadi ngerti tentang bug suatu product. Karena membutuhkan pengalaman programming, fresh graduate kurang diprioritaskan memasuki QA.

Technical Writer

Tugasnya menulis dokumentasi dari software/product yang dibuat. Bisa juga menulis dokumen proposal, laporan kepada buyer/customer, laporan hasil testing, software requirement specificiation, technical design specification, dan lain sebagainya. Posisinya khusus ada bila project-nya sudah besar banget. Kalau lingkupnya masih terbatas, programmer sendiri yang menulis dokumentasinya. Posisi ini tentu saja harus mahir menggunakan word processor. Paham heading dan emphasising. Mengerti teknis-teknis pekerjaan di dunia IT.

Copy Writer.

Sudah dijelaskan di sini.

System Analyst (SA)/ Business Analyst (BA).

Menulis proposal berdasar requirement tender. BA menterjemahkan requirement dari klien menjadi dokumen yang lebih mudah dimengerti oleh para desainer/programmer. BA membuat sendiri dokumen requirement sekaligus proposalnya. Bila perlu BA akan mewawancarai user/client atau mengadakan suatu FGD (Focus Group Discussion).

Dokumen requirement-nya bisa berupa DFD (Data Flow Diagram) atau ERD (Entity Relationship Diagram). Dokumen-dokumen inilah yang menjadi pegangan programmer kala membuat program.

Biasanya bukan posisi entry level. Biasanya berasal dari programmer. mempunyai communication/presentation skill yang baik, mempunyai skill teknis yang baik, berpengalaman cukup, dan punya kemampuan analisis yang baik.

BA di sini, berbeda dengan BA di firma konsultan yang biasanya merupakan entry level.

Technical Sales

Ketika menjual sebuah produk teknologi, bagian sales perlu mempunyai orang yang mengerti produk yang dijual secara teknis dan mendalam. Untuk itulah diperlukan seorang technical sales. Jadi tugas utama dia adalah presentasi dan meyakinkan klien untuk menggunakan produk teknologi tersebut.

Bukanlah bagian technical sales dalam menemukan dan membuat janji dengan calon klien yang baru sama sekali. Untuk keperluan ini, perusahaan perlu meng-hire khusus untuk menjalankan fungsi menemukan calon klien baru. Bila perlu, mengikuti suatu event pameran guna mengumpulkan database prospective client.

Biasanya bukan entry level. Technical sales biasanya orang yang mengerti product yang dijual perusahaannya dengan baik, mengerti limitnya, mengerti error-errornya.

System Engineer (SE).

Dari tadi bicara tentang software terus. Bagaimana dengan penyediaan hardware yang tepat untuk klien? Nah itulah tugas SE. Mungkin pula ditambahkan dengan kewajiban pengelolaan infrastruktur di kantor software house sendiri.

Software Engineer

Sebenarnya nama ini terlalu umum. Sesuai namanya, orang ini bertugas untuk melakukan pemrogramman untuk mendevelop software, bug-fix, dan kadang ngetest juga. Jadi seorang software engineer bisa jadi adalah seorang back-end developer, iOS/Android engineer, atau desktop apps engineer.

Tergantung bahasa pemrogramman yang dipakai (C, C++, .net, PHP, java, dll) programmer perlu menguasai bahasa pemrogramman tempat dia bekerja. terkadang di sebuah project besar, programmer juga perlu tahu OS (operating system) karena OS tersebut adalah platform yang dipakai oleh softwarenya. Contoh mobile app OS adalah iOS, Android.

UI/UX Designer

Bertugas untuk memilih font, mengatur layout, mengatur warna, dll. Lebih ke artistik dari sebuah website. Serta menguji design yang sudah jadi kepada calon pemakai. Tentu saja testing (pengujian) harus direncanakan apa-apa saja yang akan diuji, lalu dilaporkan hasilnya secara tertulis.

Project Manager

Tugas utama project manager adalah mendeliver project agar tidak telattidak overbudget, dan memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan sesuai spec. Posisi ini adalah bukan entry level. Biasanya memerlukan pengalaman yang cukup karena project manager adalah kombinasi technical & managerial. Skill komunikasinya harus bagus, kemampuan berbahasa inggris adalah keharusan di multinational company.

Scrum Master

Setahu saya ini bukanlah suatu posisi. Melainkan peran. Tren SDLC (software development life cycle) saat ini menuntut pengelolaan proyek dalam siklus yang lebih cepat dan lebih efisien dari sebelumnya. Metodologi umumnya disebut agile development. Namun yang belakangan sedang tren dan banyak diadopsi adalah Scrum methodology. Siklus yang digunakan biasanya 2 pekan sekali. Ini disebut sprint.

Kalau perusahaannya sudah well established, posisi-posisi di atas bisa jadi ada semua. Bisa juga tidak. Tergantung fokus perusahaan ada di bidang apa.

  • Ada perusahaan yang fokus di mobile apps. Tren jangka panjangnya bergerak ke mobile apps semua kan. Segala hal nanti akan ada mobile apps-nya. Makanya kategori perusahaan ini fokus di sini. Engineer yang mereka miliki, kebanyakan adalah iOS Developer atau Android Developer. Salah satunya adalah GITS di Bandung.
  • Ada juga perusahaan yang fokus di produk. Bisa jadi bentuknya adalah desktop apps, desktop web (yang otomatis responsive dengan mobile web-nya), berikut dengan mobile apps-nya. Yang ada di kategori ini biasanya adalah start up. Mereka membutuhkan investasi yang sangat besar untuk pengembangan perusahaan. Misalnya Traveloka, Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan lain sebagainya.
  • Kalau start up, omzetnya bisa jadi belum jelas. Yang omzetnya jelas-jelas ada semisal tender software ke institusi pemerintah atau perusahaan-perusahaan swasta. Yang model begini, tidak harus ada Business Analyst (BA). Karena requirement-nya sudah jelas dalam tender. Posisi System Analyst (SA) sudah cukup untuk membuat proposal teknisnya. Proposal harga dibuat bersama dengan para Developer.
  • Atau penunjukan langsung dari kedua institusi tersebut. Yang begini ini, memerlukan posisi BA karena harus mengadakan interview atau FGD, lalu menulis dokumen requirement-nya berikut dengan proposalnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s