Risk Management di Industri Sepak Bola


Setiap bisnis pasti ada risikonya. Tinggal kita berselera aja enggak dengan risiko tersebut: Risk appetite. Berikut adalah beberapa risiko yang saya observasi benar adanya di klub sepak bola. Nomor 1-3 sangat mempengaruhi kestabilan pendapatan perusahaan.

egg-quote

Risiko pertama, terlalu mengandalkan seorang pemain untuk mengangkat permainan tim

Sepak bola bukan permainan individu. Satu orang pemain tidak akan menjadi sebuah tim. Tetapi seorang pemain (yang hebat) dapat membuat tim menjadi berbeda. Misalnya Lionel Messi, Cristiano Ronaldo. Sesungguhnya ini adalah risiko.

Manajemen Risiko pertama: Jangan bergantung pada satu bintang. Lebih tepatnya, milikilah beberapa pemain berkualitas meski kualitasnya tidak sehebat yang sudah disebut di atas.

Bangun mental dan kekompakan tim. Tim yang kompak dengan mental kokoh bisa mengalahkan tim manapun.

Contoh: Manchester City merekrut pemain yang bisa bermain hingga 4-5 tahun mendatang. Di tahun 2017 ini, Leroy Sane, Gabriel Jesus, dan Raheem Sterling masih berusia di awal 20-an. Mereka masih bisa dikontrak sekali lagi, bahkan dengan durasi kontrak yang sama.

Saran: Jangan berekspektasi bahwa pemain rekrutan anyar akan langsung bersinar di tahun pertama. Pun dia langsung bersinar, berarti dia bisa lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.

Intinya sih, ya jangan bergantung sama seorang yang hebat saja.

Risiko kedua, pola permainan diantisipasi oleh tim lawan.

Di akhir tahun 90-an, hampir semua tim di Lega Calcio menggunakan skema 3-4-1-2. Sangat mengandalkan the creative number 10. Selain formasi tersebut, sisanya memakai 4-4-2. Sementara beberapa tahun terakhir di English Premier League (EPL) para manajer selalu mengubah taktik dari musim ke musim. Kasus terakhir terjadi di Chelsea. Mereka sukses dengan 3-4-3. Terbukti juara di musim lalu. Bahkan sempat menang 13 kali berturut-turut. Ini adalah rekor tersendiri.

Akibatnya semua manajer di EPL mencoba mencari tahu dan bereksperimen menemukan antithesis dari 3-4-3.

Manajemen Risiko kedua:

  • Versatility. Keserba-bisaan menjadi tuntutan sepak bola jaman now. Lionel Messi bisa menjadi the false nine. Dalam beberapa musim sebelum musim sekarang, dia sering pula diposisikan di kanan depan. Posisi right winger. Kalau di timnas Argentina, dia biasanya kebagian jadi “penghubung” dari tengah ke striker seperti (Sergio) Aguero. Klub perlu menabung pemain-pemain yang punya kemampuan mengisi beberapa posisi sekaligus.
  • Cristiano Ronaldo mengawali karir sebagai pemain sayap. Lama-lama menjadi winger yang bisa menusuk dan menembak. Di Real Madrid, mengisi posisi penyerang kiri. Di Portugal sebagai striker kiri pada formasi 4-4-2.
  • Pelatih Kepala (head coach) juga tidak boleh kaku dengan formasi dan taktik yang dia usung. Dia harus fleksibel. Terutama menyesuaikan dengan profil permainan lawan. Titik lemah lawan harus dieksploitasi, kekuatan terbaik lawan harus diatasi.

Risiko ketiga: Kinerja yang tidak konsisten

Manajemen risiko ketiga:

  • Kinerja pemain dipengaruhi kondisi psikisnya. Ada klub yang mulai mempekerjakan psikolog. Menjaga mental para pemain tetap stabil. Banyak dokter tim juga menjadi tempat ‘curahan hati’ pertama bagi para pemain. Dokter tim bersentuhan langsung dengan berbagai keluhan dan cedera pemain.
  • Pencegahan cedera pemain. Istirahat yang cukup. Aktivitas di klub itu melelahkan otot. Belum termasuk perjalanan panjang semisal naik bus atau pesawat selama berjam-jam.
  • Pemain juga harus sadar dan bersikap disiplin. Ini bagian dari profesionalisme pemain. Pengawasan dari klub tetap ada. Klub harus bertindak tegas apabila ada pemain yang melanggar peraturan klub.
  • Rotasi pemain. Dalam realitanya, mengelola pesepakbola mirip dengan manajemen artis. Semua ingin tampil di “panggung”. Tinggal bagaimana membagi-bagi panggung yang ada. Apabila semakin jarang menjadi starter, bisa membuat pemain bintang berpindah klub.

Risiko keempat: terkait pemain. biaya rekrut yang tinggi dan harga jual yang menurun.

Manajemen risiko keempat:

  • Kembangkan pemain di akademi sendiri. Michael Emenalo (sekarang di Monaco) di Chelsea punya “mata” yang brilian dan bisa menilai potensi pemain untuk dikembangkan sesuai kebutuhan tim. Bagusnya, Chelsea bisa mendapat keuntungan berlipat tatkala pemain tersebut “terpaksa” dijual ke klub lain.
  • Bangun jejaring scout ke seluruh dunia. Kembangkan akses menuju “aset baku” yang lebih banyak dan beragam. Seperti di dunia korporasi, di sepakbola juga terjadi War of Talent. Manchester City lebih mengerikan. Hampir memiliki setidaknya sebuah klub di setiap benua: New York City, Melbourne City, Yokohama Marinos, Girona, dan Atletico Torque. Sehingga jejaring scout-nya bisa lebih dioptimalkan.
  • Beli pemain yang bisa meningkatkan popularitas klub. Pribadi yang sudah terkenal akan turut mengungkit brand-nya klub.
  • Pemain adalah aset. Nilainya bisa naik. Dan aset itu bisa dijual ke klub lain. Tidak apa beli mahal, selama bisa dijual lebih mahal lagi.
  • Jangan salah beli. Mengontrak pemain yang sulit dilepas lebih mahal akan membebani keuangan klub.

Risiko kelima: Tim yang terlalu tua.

Rata-rata usia pemain dalam sebuah tim sekarang menjadi indikator yang selalu diperhatikan.

Manajemen risiko keelima:

  • Urus juga pemain yang perlu “dikeluarkan”. Chelsea membatasi perpanjangan kontrak hanya selama setahun untuk pemain berusia lebih dari 30 tahun.
  • Jual pemain yang “menua” dan performanya sudah menurun.
  • Alihkan ban kapten dari sang kapten yang sudah “berumur”.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s