Software Developer Ibarat Tim Sepakbola


Bagi yang awam, atau baru memperhatikan, sekilas pekerjaan software developer memang sangat menarik. Bekerja di kantor, tidak di lapangan. Berhadapan dengan personal computer (PC), bukan dengan manusia. Duduk tenang dan kalem di ruangan yang sejuk -atau bahkan ber-AC. Harus diakui bahwa pendapat awam tersebut hampir sepenuhnya benar.

Namun sebagaimana bisnis pada umumnya, pasti ada risikonya. Tinggal kembali ke pelakunya saja apakah tahu dan bisa mengatasi risiko-risiko tersebut. Sepaket lha antara memilih jenis usaha, tipe omzet dan labanya, berikut dengan risiko-risikonya.

Nah, risiko yang perlu dikelola oleh owner dari perusahaan software developer –tipe perusahaan ini biasa juga disebut software house— adalah para manusia itu sendiri. Nah berikut ini adalah beberapa observasi dan renungan saya mengenai HR Management di software house.

software-developer-team

War of Digital Talent

Tentu orang yang sangat berbakat pasti dibutuhkan. Sudah pintar atau terampil, dan masih bisa di-upgrade lagi. Macam Neymar, Messi, Cristiano di dunia sepakbola, mereka ini hampir pasti mengangkat performa tim. Di samping, mereka juga turut mengajar yang para newbie(s) serta memperbaiki atmosfer per-coding-an di kantor.

Masalahnya, supply orang berbakat lebih sedikit daripada demand-nya. Buktinya, ada sebuah jurusan terkait komputer di Bandung, konon lulusan atau calon lulusannya bahkan sudah “habis” direkrut sebelum career fair berlangsung. Entah direkrut oleh tempat magangnya, atau dengan cara-cara lainnya. Lihat sendiri betapa meroketnya demand akan digital talent sekarang: start-up, software house, cloud computing, sampai untuk memenuhi kebutuhan in-house perusahaan non-IT sendiri.

Di sini, challenge-nya adalah bagaimana si software house dapat melakukan corporate branding, bahwasanya bekerja bersama mereka adalah yang terbaik. Dibandingkan bila bergabung dengan kompetitor yang lain. Mulai dari lokasi kerja yang strategis, interior kantor yang menyenangkan dan bikin betah, sampai dengan hal-hal detail –yang bahkan sudah menjadi kewajiban– seperti ketersediaan makan siang atau (minimal) snack.

Hunting to College

Digital talent tidak harus lulusan dari ilmu komputer atau teknik informatika ya. Pokoknya otaknya aja udah digital banget. Saya lihat, minimalnya dua kriteria atas hal ini:

  • Selalu membayangkan dan mengupayakan solusi-solusi digital (dan bisa diautomasi) terhadap masalah-masalah manusia,
  • Curious terhadap desain dan user experience (suka mereka-reka, “Ini kenapa begini, sih? Kenapa gak begitu aja. Kurasa kalau begitu akan lebih bagus. dst”).

Nah, “berburu” langsung ke kampus bisa lewat sharing session, kompetisi coding, selain tentunya jalur yang paling utama, yaitu Career/Job Fair. Sharing session itu menjual “perusahaan” sekaligus technical expertise (atau teknologi) yang dikuasai di perusahaan tersebut.

Prioritising Team Work

Namun demikian software development adalah sebuah pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama. Harus riset bareng dan dikerjakan bersama.

Messi, Neymar, atau Cristiano pun harus latihan bersama setiap hari, belajar skema dan taktik permainan dari head coach, sampai dengan sparring dengan tim lain ‘kan. Jadi mencari dan mendapatkan best talent bukan segalanya. Tapi the developer team yang baik, bisa diawali dari sana. Selanjutnya adalah membangun komunikasi dan kerja sama yang baik sesama anggota tim.

Tim sudah terbentuk, budaya coding bareng sudah tercipta. Namun challenges tidak kunjung berhenti. Untuk alasan yang mungkin itu-itu saja, atau mungkin alasan-alasan lain yang bisa diterima, tim mengalami dinamisasinya sendiri-sendiri. Ada programmer yang cabut, ada pula newbie yang baru bergabung, bertambah programmer baru tapi experienced, dan seterusnya.

Dalam sebuah versi teori software engineering, effort untuk coding hanya 10%. Pendapat ini memang ekstrim sekali, tetapi menggambarkan bahwa sesungguhnya coding itu bukan yang paling utama. Terutama untuk software korporasi. Paling besar ada di requirement, analysis, design, dan project management. Dari rangkaian proses ini, dapat dibayangkan betapa pentingnya unsur komunikasi dan kerja tim, kan? 🙂

Knowledge Management

Biasakan membuat dokumentasi. Supaya bisa dipelajari oleh diri sendiri dan orang lain –terutama oleh anak baru di perusahaan.

Dokumentasi ini banyak banget lho barangnya. End-to-end mulai dari proposal sampai dengan Technical Document atau User Guide. Hampir percuma deh kalau coding saja tapi tidak menulis dokumen-dokumen teknis yang terkait atau yang mendampingi.

Terkait KM ini, saya ada pengalaman buruk dalam peran sebagai reseller sebuah produk Internet of Things (IoT). Produk ini sifatnya B2B. Tidak bisa sama persis antara satu customer dengan customer yang lain. Harus mengalami kustomisasi dahulu sebelum delivery ke pelanggan. Ada beberapa persoalan. Pertama, User Guide yang ternyata masih membingungkan pengguna. Sehingga mereka harus berkali-kali bertanya kepada Service Desk. Kedua, tidak ada dokumen yang bisa diakses oleh reseller. Yang bersangkutan harus mencari dan mempelajari sendiri. Sehingga, product knowledge si reseller ini berbeda dengan yang seharusnya atau yang dikehendaki oleh Product Manager.

Sama banget dengan klub sepak bola ‘kan. Misal, Cristiano meninggalkan Real Madrid, atau Messi hengkang dari Barcelona –dan ini pasti akan terjadi suatu hari nanti. Tentunya klub sudah siap dengan keadaan ini. Antisipasi sudah dilakukan sejak lama. Mereka mempertahankan budaya dan kebiasaan yang sudah terbentuk –tanpa perlu penjelasan berulang-ulang mengapa kebiasaan tersebut dilakukan rutin–, melatih dan menulis ulang modul-modul training, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s