Menebak Perasaan Pemain Sepak Bola


Entah bagaimana, saya selalu senang membahas tentang industri sepakbola. Sebagai sebuah entitas bisnis, klub bola banyak berbeda dengan bisnis kebanyakan. Katakanlah dengan industri berbasis manufaktur. Industri ini berbasis aset berupa mesin-mesin manufaktur. Dengan aset intangible seperti brand dari produk dan hak cipta atas suatu produk, maka jadilah manusia-manusia di dalamnya ibarat hanya operator semata. Ganti orang tidak berimpak negatif pada perusahaan karena standard rekrutmen dan quality control-nya sudah sedemikian jelas.

Berbeda dengan klub sepakbola. Semuanya berbasis Human Resources (HR). Mulai dari pelatih kepala, tim pelatih, para pemain (inti, cadangan, dan hierarki di bawah keduanya), sampai dengan perilaku pemilik klub akan berimbas pada kinerja klub. Baik penampilan tim di lapangan maupun kinerja finansialnya. Sebagai people in organization, pastinya kinerja pemain dan tim di lapangan tentu dipengaruhi oleh mental dan perasaan mereka sebagai “karyawan”.

emotional-clipart-teacher-1

Pesepakbola juga “orang kantoran”, kok.

Tapi kantornya di tempat latihan. Pastinya, tidak hanya latihan-latihan dasar saja yang mereka lakukan. Berlari, menendang bola, dan seterusnya. Tetapi juga latih tanding antar tim. Tidak melulu melatih otot-ototnya saja ya. Melainkan juga pemahaman terhadap skema bermain klub dan pelatih. Yang terakhir ini juga harus dilatih di lapangan bersama dengan teman-teman pesepakbola profesional lainnya. Bukan hanya fisiknya yang lelah, tetapi otaknya juga capek.

Sebagaimana pekerjaan “kantor” lainnya, pasti ada bosannya. Ada jadwal masuk yang harus ditaati. Ada menu-menu latihan rutin yang harus diikuti. Juga menu-menu diet yang tidak boleh dilanggar. Belum termasuk aktivitas bareng yang harus dilalui: kumpul bareng sebelum berangkat ke kota tujuan -naik pesawat maupun perjalanan darat dengan bus. Tinggal bareng di hotel tempat menginap–gak boleh menginap di rumah saudara 😀

Intermeso sedikit, ada makna tentang profesional yang saya pernah terima. Makna ini agak nyeleneh tapi masuk akal banget. Bahwasanya seorang profesional itu adalah seorang yang sangat mahir dalam hal-hal paling sederhana di bidangnya. Dan masih terus berlatih hal-hal sederhana tersebut. Kalau dia pemain bola, maka dia jago banget dengan berlari dan menendang bola. Meski demikian, tetap saja dia punya pelatih dan tetap latihan lari lalu latihan menyepak bola.

Misalnya, saya seorang penulis, maka hal-hal dasar seperti EYD dan penggunaan tanda baca sudah seharusnya saya mahir. Di samping itu, sudah sewajarnya pula bisa saya memiliki seorang pelatih yang membantu saya membuat tulisan yang lebih baik.

Apalagi hari begini, off the ball movement itu yang paling penting. Ketika bola berada di tim lawan, apa yang harus dilakukan oleh seorang pemain (dan rekan-rekan setim) lakukan. Pressing seperti apa, bagaimana supaya formasi yang dibangun tidak berantakan, dst. Begitu pula tatkala bola berada di seorang rekan kita. Ke mana saya harus bergerak, ke mana rekan lain harus membuka ruang, dll.

Seperti kata Paul Pogba dalam suatu wawancara kala dia mengikuti tur dan jumpa fans ke Cina yang diselenggarakan oleh Nike, “Sepakbola Inggris itu melelahkan banget karena intensitas menerima, mengoper bola, lalu lari bergerak tanpa bola itu tinggi sekali.”

Rasanya Pindah Klub.

Tidak ada bedanya dengan pindah perusahaan. Ada teman-teman baru di pusat pelatihan. Ada rahasia-rahasia perusahaan lama yang tidak boleh terlalu diungkap dan diumbar-umbar. Ada target-target perusahaan (baca: klub) yang harus dicapai. Harus fokus dengan kemenangan tim di setiap pertandingan dan kejuaraan yang diikuti. Saya yakin para profesional lapangan hijau tersebut, meskipun punya kehidupan yang kelihatan asyik: mobil mahal, rumah bagus, pekerjaan sesuai passion, gaji per pekan ribuan poundsterling. Tetap akan stress kalau target klub tidak tercapai: klub degradasi, gagal menang beruntung, tidak jadi juara kompetisi di akhir musim atau gagal menjadi juara turnamen.

Namanya perusahaan tempat sekarang bekerja, itulah yang paling harus dibela ya. Misalnya waktu beberapa pekan lalu Nemanja Matic (Manchester United) kemarin kembali ke Stamford Bridge, dia tidak lebay soal basa-basi dan haha-hihi dengan pemain Chelsea. Berusaha fokus dan konsentrasi penuh terhadap pertandingan yang sudah di depan mata. Kemenangan klub saat inilah yang harus diwujudkan. Bukan memprioritaskan reuni bersama teman-teman lama. Dan aksi-reaksi seperti ini yang kerap terjadi kala seorang mantan pemain kembali ke stadion lamanya.

More demand than supply at certain qualities

Seorang Jose Mourinho, di tahun pertamanya di Manchester, tinggal di hotel yang disediakan klub. Pastinya bukan hotel bintang tiga lha, ya. Sewaktu David Moyes pindah ke MU, dia juga membawa beberapa partner kerjanya dari Everton. Pelatih (dan pemain-pemain tertentu) punya kualitas luar biasa dan diidam-idamkan pula oleh banyak klub. Jelas, jumlah mereka sedikit.

Karena hanya sedikit, jangan heran kalau klub-klub berlomba-lomba merekrut dan mempertahankan mereka. Gaji ribuan poundsterling per pekan, mobil mahal, rumah mewah, dan berbagai fasilitas lainnya diberikan untuk mempertahankan mereka tetap senang, think positive, bermain maksimal, dan membawa klub menjadi juara.

Dalam negosiasi di setiap kontrak baru, pelatih dan pemain dengan kualitas tingkat tinggi ini seringkali mendapat keuntungan maksimal. Mereka seringkali sudah “menang banyak” bahkan sebelum negosiasi dilakukan dan kontrak ditandatangani. Chelsea tentu boleh memecat Mourinho, dan benar-benar mereka lakukan pada akhir tahun 2015 lalu, namun ada klausul yang menyatakan bahwa sampai dengan Mourinho mendapat pekerjaan baru, Chelsea harus tetap menggaji dia –dengan mahal.

Pesepakbola dan Media Sosial.

Pebola masa kini tidak ada bedanya dengan artis. Mereka menjadi pusat perhatian, apa yang mereka lakukan mungkin diikuti, apa yang mereka pakai bisa saja dibeli, dan seterusnya. Di media sosial, ada posting mereka tentang perayaan kemenangan, positive thinking setelah kalah di pertandingan, kerja keras di lapangan dan gym di markas latihan klub, dan lain sebagainya.

Pemain-pemain yang benar-benar punya nama seperti Cristiano Ronaldo dan Paul Pogba menjadikan socmed-nya sebagai channel untuk berpromosi, misalnya tentang sepatu atau jersey baru mereka.

Dejan Lovren mengalami ancaman pembunuhan keluarganya yang menurutnya, “menjijikkan”. Meskipun tampil buruk dan diganti di menit ke-31, ketika Liverpool kalah 4–1 dari Tottenham, dia merasa itu sudah berlebihan. Ok, dicaci ketika bermain buruk itu biasa. Tapi kalau sudah menyangkut keluarganya, apalagi sampai ada ancaman pembunuhan, itu sudah menjijikkan, menurutnya.

Bagaimanapun, pesepakbola itu manusia. Yang kinerjanya seringkali dipengaruhi emosinya. Kalau positif, maka dia akan bermain maksimal. Sebaliknya ketika pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negatif, apalagi dari orang-orang atau follower di social media yang tidak dia kenal. Maka ikut buruk pula permainannya di lapangan.

Apalagi bila dia adalah seorang kapten. Atau motor permainan. Seorang yang punya pengaruh, didengarkan dan diperhatikan oleh rekan-rekan setimnya. Bila mentalnya sedang buruk, bisa buruk pula permainan timnya.

Pesepakbola tidak lagi bisa sekedar berlatih dan bermain. Pesepakbola saat ini juga berperan sebagai public figure, offline atau online, mereka akan dijadikan panutan. Meskipun sebagian di antara follower akan mencibir, memaki, bahkan mengancam pembunuhan atas mereka.

Reference:

https://www.theguardian.com/football/2017/nov/12/why-do-so-many-footballers-opt-to-sit-in-the-virtual-stocks-on-social-media

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s