Kopi Itu Digunting, Bukan Digiling*


Gaya hidup urban itu manifestasinya macam-macam kan ya. Dua di antara yang banyak itu adalah kafe dan kopi. Dua “k” ini belum bisa dipisahkan. Kafe ya umumnya jualan kopi, dan kopi premium yang lagi ngetrend itu umumnya dijual di kafe. Buat yang buka kafe di bandung saja, mencari positioning yang berbeda dan tepat itu susah setengah mati. Karena hampir semua kafe brewing-nya ya pakai mesin kopi yang harganya mulai dari puluhan juta itu.

lihat juga: lima kesalahan pebisnis kafe

“Waktu dulu masih belajar minum kopi, saya pikir espresso itu keren ya. Mau order yang itu aja ah, karena dari namanya aja sudah cool banget. Giliran pesanan datang, rasa tercekat menghampiri tenggorokan. Volumenya minim banget, dengan rasa yang luar biasa asam/pahit (tergantung jenis biji kopinya), dan tanpa rasa manis sama sekali.”

Ada yang bilang, ampas-ampas kopi dari mesin kopi itu masih bisa dipakai sebenarnya. Masih bisa menghasilkan ekstrak kopi (espresso). Kualitasnya jelas berbeda dibanding yang tetesan pertama (meminjam tagline kecap manis ABC), tentu saja. Tapi ya semestinya masih bisa dipakai. Katanya sih gitu. Sudah lama saya mendengarnya. Saya sampai lupa kata siapa 😀

Saya masih belum bisa menjalani gaya hidup urban yang satu itu. Waktu dulu masih di Jakarta, kan tidak terhindarkan ya. Namanya juga konsultan, lebih sering meeting di kafe atau di restoran. Baik yang stand alone, maupun yang ada di dalam mall. Bahkan pas eksekusi proyek dengan klien pun, yang disuguhi juga luar biasa lho. Menu-menu yang belum tentu sudah dirasakan oleh para karyawan di institusi klien itu sendiri.

Lihat juga: storytelling ala filosofi kopi

Namun, saya malah hampir tidak bisa lepas dari kopi-kopi yang instant. Ada dua kategori ya, ada yang sachetan, ada juga yang siap minum. Istilah kerennya RTD (ready to drink).

Kopi Instant RTD

Yang kedua ini, pangsa pasarnya dikuasai oleh Nescafe. Ada yang kemasan kotak, ada juga format kaleng bundar. Saya biasanya pilih yang Nescafe Coffee Cream daripada varian-varian yang lain. Dan lebih pilih yang kotak daripada yang kaleng. Sepertinya yang kaleng itu lebih keren saja daripada yang kotak. Saya suka varian yang cofee cream ini karena kombinasinya mantap. Kopinya enggak dominan, manisnya juga enggak kemanisan. Apalagi kalau diminum dingin. Makin mantap rasanya.

Sesekali, saya juga minum Kopiko 78 degrees. Brand extension dari permen Kopiko ini, rasanya oke juga lho. Kopinya lebih terasa. Secara umum, harganya lebih tinggi daripada Nescafe Coffee Cream. Wajar, yang satu volume 250mL, satunya 200 mL. Value dari si Kopiko 78 degrees ini tidak selalu lebih rendah daripada kompetitornya yang dari Nescafe. Karena kembali lagi ke tokonya menjual kedua barang tersebut di harga berapa. Bisa jadi lho, si Kopiko malah “more value” daripada si Nescafe.

Kopi Instant Sachet

Ini masih menyangkut gaya hidup urban juga sih. Tuntutan otak yang fresh dan kreatif dalam menghadapi pekerjaan meminta asupan minuman kopi yang bisa dibikin sendiri di dapur. Baik dapur rumah atau dapur kantor.

Saya pernah setia sama merek Torabika Cappucino. Yang tagline-nya Cappucino ala Café. Merek ini kemasannya lebih mengkilat lho daripada kemasan yang sebelumnya. Mudah-mudahan berefek ke penjualan ya. Apalagi ditopang sama TVC yang dibintangi oleh Vincent dan Desta. Merek yang ini sih tidak akan saya benar-benar tinggalkan (halah, kayak mantan aja ditinggal). Hanya saja, granul-granulnya ada yang terlalu kecil sehingga seperti terbang kala dituang ke gelas. Dan, seperti terlalu foamy (berbusa) bagi saya.

Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar memuaskan sih ya. Loyalitas saya terhadap suatu merek tidak gila-gilaan. Okelah sempat setia beberapa kali pembelian terhadap sebuah merek. Ujung-ujungnya muncul rasa bosan. Kemungkinan karena kapasitas merek tersebut dalam memberikan experience ya memang hanya bisa sampai segitu saja. Namanya juga produk FMCG (fast moving consumer goods) ya. Apalagi selalu muncul merek-merek baru yang menagih untuk dicoba.

Terakhir ini, saya sedang mencoba Tora Café. Sebelumnya lagi suka beli Chocolatos dari Garuda Food. Kalau minuman coklat, saya bakal kembali ke merek ini, instead of Milo atau Ovaltine. Sebelum Chocolatos, seringnya Good Day yang Chococcino. Yang terakhir ini, saya jadi tidak loyal karena begitu dituang air panas/dingin sampai lebih encer sedikit, rasa dan manisnya hampir hilang sama sekali.

Creating New Experience

Saya tadi berpendapat bahwa karena kapasitasnya memberikan experience memang hanya mampu segitu saja. Jadinya kita mencari sendiri experience tersebut. Terutama, kalau saya, dengan cara membuat menu-menu minuman yang baru. Misal mau yang dingin nih, pakai air biasa, atau air panas, terus pakai es batu, bagaimana hasil akhirnya. Atau kalau diaduk langsung dengan es batu, akan bagaimana sensasi dinginnya. Atau kalau mau diblender, bagaimana. Atau kalau mau ditambahkan susu cair, bagaimana. Dan seterusnya. Intinya mendapat experience dari proses pencarian menu itu sendiri. Proses ini dirasa lebih penting daripad hasil akhir “Rasa” nya itu sendiri. Tapi bagaimana rasanya tidak bisa diabaikan begitu saja donk. Tetap harus enak.

*) Judul prokatif di atas adalah sindiran untuk saya sendiri. Quote tersebut aslinya berbunyi, “kopi itu digiling, bukan digunting”. Sebagai sindiran untuk kaum yang meminum kopi sachet. Karena bagi mereka, sejatinya minum kopi berawal dari biji kopi yang digiling, dipanggang (roasted), dan diekstraksi.

3 thoughts on “Kopi Itu Digunting, Bukan Digiling*

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s