Hidup Minimal Dapat Maksimal


Di artikel yang mengulas tentang disiplin, saya menyinggung beberapa hal tentang hidup minimalis yang menjadikan hidup jadi maksimal. Somehow, apa yang saya pikirkan dan rasakan, ternyata dikompilasi dan diteorikan oleh beberapa blogger di luar sana. Misalnya ada Joshua and Ryan , becomingminimalist.com , dan Courtney Carver

all you need is less

Tiga referensi ini jadi masukan bagi saya tentang konsep hidup minimalis itu sendiri. Tak lupa, saya subscribe dulu via email. Begitu mereka rilis konten baru, langsung masuk ke inbox saya.

Yang kebetulan terjadi hari ini dan agak lucu adalah, seorang teman SMA yang tinggal di Jogja dan dia bertanya, “Berapa mobil yang kamu punya?” Sontak saya heran dengan pertanyaan ini. Mungkin dia mau jalan-jalan ke Surabaya ya, hingga bertanya demikian. Saya jawab, “Untuk apa? Enggak ada. Kami kalau jalan-jalan pakai Go-Car. Dulu pakai Grab Car (sampai aplikasinya error dan tidak kami pakai lagi). Sebelumnya pakai Uber. Tapi error-nya bikin kami uninstall.”

Back to topic. So far, bagi saya, hidup minimalis itu mencakup lima hal, setidaknya sampai saat ini:

  • Bertempat tinggal
  • Berkendara,
  • Bercengkrama dengan anak-anak
  • Berpakaian,
  • Bersosial media, dan
  • Membeli buku

1. Living in tiny house

Cita-cita saya, punya kamar tidak terlalu luas. Isi kamar tidur hanya tempat tidur saja. Sisanya, saya kira bisa di luar kamar. Lemari pakaian, toilet bercermin, meja belajar/kerja. Supaya anak-anak juga tidak unsocialized di kamarnya masing-masing.

Kata saya sih, kebutuhan kita sama rumah itu gak besar-besar amat. Kita aja yang sering kehabisan space untuk menaruh barang-barang. Lagipula, rumah yang terlalu besar itu bisa bikin anak-anak “hilang”.

Misalkan dapur saja ya. Menurut saya, dapur itu adalah tempat di mana kompor, wastafel, rak piring, dan kulkas berkumpul menjadi satu kesatuan. Jadi sebenarnya ruangan ukuran 2×2 meter saja cukup untuk dapur. Dan letaknya harus dekat dengan ruang terbuka, untuk memudahkan keluarnya aroma dan panas.

Pastinya, rumah jangan lupa sama cahaya dan perputaran udara. Rumah kan bukan bangunan yang full 100% memproteksi kita. Namun rumah, adalah bangunan yang merekayasa alam (terutama cuaca) demi kenyamanan penghuninya tanpa melupakan faktor-faktor cuaca tersebut.

Contohnya begini:

  • Rumah untuk menghindarkan kita dari kehujanan, tapi bukan berarti tanah di mana rumah berdiri malah tidak bisa menghisap air hujan tersebut, ‘kan? Resapan air gagal terbentuk ketika semua bagian tanah dibeton.
  • Rumah melindungi dari teriknya sinar matahari, bukan berarti kita tidak mengeringkan pakaian dengan bantuan sinar matahari, ‘kan? Ruang terbuka sangat penting. Baik di samping, di belakang, atau di lantai dua.

Lumayan juga ya gagasan-gagasan saya tentang rumah. Another time maybe I should write about home and house. 

2. Use car sharing services

Penyakit kota besar adalah kemacetan. Saat ini, macet manusia masih bisa kita akomodasi. Padahal nantinya 60% penduduk dunia akan bertempat tinggal di daerah urban. Alias perkotaan. Macet kendaraan yang agak susah kita hindari. Sebab itu bila jalan-jalan dengan anak-anak, saya dan istri lebih suka memakai grab car, atau go-car. Aplikasi Uber yang dulu error, sudah kami cabut instalasinya dari tablet. Lagipula, Uber tidak ada kepastian harga. Bisa sangat mahal ketika sampai di tujuan.

3. Get any time with kids

Ini lebih pada tujuan daripada upaya. Saya diajarkan bahwasanya, anak-anak butuh kuantitas waktu (quantity time) kita, sayang sekali kita baru bisa menyediakan sedikit waktu yang kita upayakan berkualitas (quality time).

Kami coba hindarkan mereka dari “magnet-magnet” yang lain. Semisal TV. Sehingga mereka tidak distracted dari kami maupun dunia luar. Hanya karena fokus pada TV. Kami juga tidak ingin punya gadget berlebihan. Mudah-mudahan hanya bertambah satu device saja lagi setelah sudah ada satu smartphone, satu tablet, dan satu laptop.

4. Dress with less

Punya lemari pakaian, cukup satu saja. Recycle isinya. Tiap beli baju baru, sumbangkan satu yang lama. Sebagai pria dewasa yang tugasnya mencari nafkah, saya malah mengurangi t-shirt. Minimal tidak bertambah. Karena t-shirt hanya bisa berfungsi di rumah dan sekitarnya. Keluar rumah, terasa sopan hanya bila mengenakan yang berkerah. Baik kaos ataupun kemeja. Pergi ke masjid, saya mengusahakan untuk tidak memakai t-shirt. Minimal kaos berkerah.

Daripada membuang uang untuk motif maupun warna yang sekedar berbeda dari yang sudah saya punya, saya pikir lebih baik untuk sesuatu pakaian yang benar-benar memberi manfaat. Alhamdulillah, tiga potong di antaranya adalah kaos yang tidak menyerap keringat dan bisa saya gunakan untuk berolahraga. Kaos ini bisa juga dipakai sehari-hari di rumah.

Ada tiga warna yang saya suka: putih, coklat, hitam, atau abu-abu. Berarti ada 4. Kata saya ya, keempat warna tersebut bisa ditabrakkan dengan warna apa saja. Baik itu warna yang terang maupun yang gelap. Ini menghemat jenis atau warna pakaian yang hanya cocok dengan warna-warna tertentu saja.

5. Don’t need to have opinion on everything.

Sejak Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 lalu, di lingkaran saya seakan orang-orang terbelah jadi dua. Pro atau kontra terhadap Presiden Jokowi, pro atau kontra terhadap Calon Gubernur Ahok, dst. Seakan, setiap warga media sosial diminta untuk menyatakan keberpihakannya. Terutama via status facebook. Hukuman sosialnya adalah, loe gak gaul/perhatian/gak tahu apa-apa, kalau loe gak bikin status atau berkomentar di status orang lain terkait isu yang sedang hangat tersebut.

Ini semua membuat kita jadi pusing dan tidak produktif. Alih-alih fokus pada kerja dan karya, kita malah meributkan hal-hal yang tidak terlalu penting. Social media membuat kita maju satu langkah. Namun penggunaan yang tidak positif malah membuat kita mundur dua langkah. Beberapa rekan bahkan berantem, atau unfollow, bahkan un-friend hanya karena perdebatan sengit di media sosial. Padahal mereka ya sudah lama enggak ngopi-ngopi bareng.

Lalu, harus bagaimana? Cukup sudah. Saran saya, kita hanya tidak harus punya opini terhadap segala hal, terutama yang sedang diributkan.

6. Buying “built to last” book

Novel terasa mahal. Sekali sudah dibaca dan tahu ceritanya, enggak mau baca lagi. Daripada mengulang baca, saya pikir lebih baik saya baca novel lain yang lebih baru. Dan saya tidak mau beli. Lebih baik pinjam. Lalu, anggaran untuk beli buku pada lari ke mana? Ke koleksi serius macam buku-buku bisnis dan manajemen.

Namun lama-lama, saya juga tidak membeli buku lagi. Bahkan hampir gak pernah lagi membaca buku. Karena bacaan saya sudah berpindah. Dari buku ke artikel. Banyak artikel yang saya “bintang”-i di internet, dengan gelar adalah “must read article“. Meskipun tidak semuanya sanggup saya tuntaskan.

Benar adanya, ya. Less is More. Semakin sedikit yang kita punya, maka semakin berarti apa yang kita miliki.

Apa saja yang berarti itu? Konsep less is more, alias hidup minimalis, membuat saya lebih sedikit merasa stress, lebih merasakan kualitas dan manfaat kala membeli sesuatu, serta semakin meminimalisir utang-utang konsumtif saya.

4 thoughts on “Hidup Minimal Dapat Maksimal

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s