Siapa Suruh Datang Jakarta


Siapa Suruh Datang Jakarta?

Duh, tadinya bingung mau ngasi judul apa. Tadinya tidak mau pakai judul ini. Nanti menggambarkan usia saya. Haha. Padahal generasi saya semestinya enggak tahu lagu tersebut, lho. Memang kebetulan saya tahu saja bagian reff-nya. Lirik lengkap ada di sini. .

Sapa suru datang Jakarta
Sapa suru datang Jakarta
Sandiri suka, sandiri rasa
Eh doe sayang

(waktu saya pramuka siaga-penggalang dulu, ada remake lagu ini sering kita menyanyikan bareng-bareng. Lumayan juga candunya, bikin kita betah pramuka-an sampai kelas 3 SMP

Siapa suruh jadi Pramuka
Siapa suruh jadi Pramuka
Sendiri saja,sendiri saja
Aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang

Siang dan malam tidur di tenda
Siang dan malam tidur di tenda
Pakaian basah kering di badan
Aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang, aduh sayang).

Kali ini mau berbagi pendapat tentang Jakarta, ya. Kan sebelumnya Surabaya sudah. Balikpapan juga sudah. Bandung, kota yang saya diami bertahun-tahun (2005-2012) juga belum saya gores-pena-kan sih. Tapi itu bisa menyusul di postingan berikutnya ya. Hehe.

Jenuh dengan masa sekolah di Balikpapan dulu, saya inginnya ke luar kota saja. Pokoknya lanjut pendidikan di luar daerah. Bosan sama Balikpapan yang waktu itu belum semaju sekarang, dan punya teman-teman yang segitu-segitu aja. Iyalah, di sekolah dengan di rumah, teman-teman saya tidak jauh berbeda. Kalau bukan sama banget, saya malah gak punya teman yang tetangga sama sekali. Soalnya enggak ada teman-teman sekolah yang tinggal di lingkungan kami di Klandasan dan Pasar Baru itu.

Bahkan semasa saya sekolah, keluarga kami berpindah-pindah alamat rumah sampai tiga kali, lho. Padahal semuanya masih sama di Balikpapan. Jadilah pergaulan saya sempit banget. Hanya berteman dengan anak-anak di sekolah.

Singkat cerita, saya jadinya lanjut sekolah di Magelang. Pokoknya keluar dulu dari hutan belantara Kalimantan. Hehehe. Sekolah asrama gitu, deh. Mulai bertemu dengan anak-anak Jakarta yang gahul-gahul gitu. Hampir gak ada yang pendiam. Sekalipun gak banyak bicara, at least mereka asyik diajak ngobrol juga.

Mulai belajar memahami bedanya lelucon yang bikin ngakak dengan yang gak ada lucunya sama sekali.  Hahaha. Saya ini gak cerdas secara lisan, tanpa sengaja lebih banyak mengawali dengan melihat dulu. Cek ombak, kalo kata temen-temen saya sekarang. Baru menirukan. Ternyata masih susah juga.

Di Bandung, segelintir anak-anak Bandung pengen “dianggap” juga. Nah, budak-budak ieu, tidak bicara “abdi” sebagai pengganti saya/aku. Enggak juga pakai “(nama lawan bicara)” sebagai pengganti “kamu”. Jadi bahasanya “Gw”, “Elo” gitu deh. Ada temen kuliah dari Klaten dan Ngawi yang berusaha pakai dua kata pengganti tersebut. Jadinya terasa awkward, deh. Haha.

Yang jadi bahasa gaul sekarang ini adalah “aing” dan “maneh”. Ini kata ganti yang kasar dalam bahasa sunda. Sama lha dengan “gw” dan “elo”.

Sudah lama saya mencari padanan kata awkward dalam bahasa Indonesia. Baru beberapa hari lalu ketemu di serial “Kevin Can Wait”, bahwa awkward diterjemahkan sebagai “canggung”.

Mending balik lagi aja ke bahasa masing-masing yang paling nyaman. Dan gak perlu minder lho kalo enggak gw-elu. Saya dulu pakai “saya”, “kamu”. Tapi lama-lama latah juga mengikuti gaya anak-anak Jabodetabek. Ber-gw elu, gw elu. Kecuali di depan para orang tua, ya. Terutama orang tua teman dan mantan. Hehe.

Pertama kali ke Bandung itu sebenarnya pas kelas 6 SD. Saya kira kota besar seperti Bandung itu punya gedung-gedung bertingkat seperti Jakarta. Setahun sebelumnya keluarga kami memang pergi ke Jakarta. Subhanallah buanyak banget gedung pencakar langitnya. Dari situlah saya baru mengerti. Ternyata Bandung tidak/belum se-metropolis Jakarta, at that time.

Tujuh tahun kuliah di Bandung, (buset, lama amat yak, hehe) membuat mata saya terbuka bahwa kalau memang mengejar karir, ya harus ke Jakarta. Karir itu maksudnya meliputi posisi/jabatan terpandang di kantor perusahaan/institusi yang juga ternama, atau gaji yang besar, dan seterusnya ya. Kalau sekedar bekerja menyambung hidup diri sendiri-pasangan-(dan) anak bisa kok di kota-kota besar lain di Indonesia. Apalagi sekedar mencari pendapatan, tidak perlulah ke Jakarta. Lebih baik berdagang apalah gitu atau berjualan online dari desa. Yang jelas, kalau memang mencari kedudukan pekerjaan, katakanlah direktur di sebuah BUMN, ya harus ke Jakarta.

Pusat Pemerintahan Nasional.

Bagus juga sih kalau negara kita tidak lagi “meletakkan” ibukota pemerintahan di kota yang jelas banget ke-metropolis-annya seperti Jakarta. Katakanlah pindah ke Palangkaraya, seperti pernah dicita-citakan oleh Presiden RI pertama.

Belajar dari hubungan baik Samarinda dan Balikpapan, ce’ilah ya, tidak harus semuanya di Ibukota, kok. Kota dengan pusat pemerintahan, akan ramai dan padat penduduk dengan sendirinya. Kota seperti ini dengan sendirinya akan menjadi pasar yang besar. Baik untuk sekolah/kampus, rumah sakit, perumahan tempat tinggal, dan seterusnya.

Jadi di kota pusat pemerintahan, tidak harus ada Bandar udara, atau pelabuhan. Karena keduanya, saat ini adalah magnet juga bagi terjadinya urbanisasi. Enam puluh persen (60%) penduduk dunia merupakan penduduk perkotaan. Orang-orang dan barang akan datang dengan sendirinya. Jangan abaikan juga institusi pertahanan dan keamanan negara seperti Komando Daerah Militer (KODAM). Institusi militer ini menarik banyak tenaga kerja (tentara dan non tentara) serta membangun beberapa infrastruktur terkait (sekolah dasar dan menengah Kartika, rumah sakit tentara, dsb) yang lagi-lagi menjadi magnet urbanisasi.

Alhamdulillah Samarinda dan Balikpapan berbagi peran dengan baik, dalam kedua hal ini. Samarinda sebagai ibukota provinsi. Balikpapan sebagai gerbang Kalimantan timur dengan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, dan Pelabuhan Semayang. Kodam VI Tanjungpura juga adanya di Balikpapan. Bersama dengan oil and gas company, serta ratusan service company, seluruhnya menjadi magnet urbanisasi bagi Balikpapan.

Bayangkan apabila pusat pemerintahan, dengan tujuan/gerbang transportasi seperti bandara dan pelabuhan menjadi satu. Jadinya ya seperti Jabodetabek saat ini. Semuanya tumpah ruah, padat penduduk, ramai infrastruktur, kemacetan di mana-mana, dan seterus-terusnya.

Itulah sekelumit cerita dan pandangan saya tentang Jakarta. Mudah-mudahan jadi pertimbangan kamu untuk memilih tempat tinggal, tempat bekerja, tempat berkeluarga, tempat sekolah anak, dan seterusnya. Haha.

Cek juga postingan saya ini, mengenai perbandingan beberapa kota di Indonesia yang pernah saya diami.

2 thoughts on “Siapa Suruh Datang Jakarta

  1. Saya penasaran dengan infrastruktur Palangkaraya sekarang sudah semaju apa ya, Bang? Apakah lebih baik dari Balikpapan, Tarakan, atau Pontianak? Saya baru ketiga kota itu, kalau Palangkaraya belum pernah. :))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s