Kotaku Dulu Tak Begini


Sembari menikmati libur mudik, saya mencoba mengenang masa-masa silam. Bagaimana dahulu kota saya ini. Sebab sekarang ini rasanya beda banget. Kotaku ini sudah termasuk kota besar di Indonesia. Padat penduduk dengan beragam jenis mata pencaharian (di luar pertanian dan perkebunan). Tentu saja kota juga merupakan berkumpulnya ilmu pengetahuan dan orang-orang pintar.

Kotaku dulu tak begini.

15 tahun lalu kotaku ini cupu (culun punya) banget. Bahkan guru saya diledek oleh temannya di Jakarta. Beliau memang berasal dari ibukota. Kata temannya, guru bahasa Indonesia saya ini mandinya di sumur. Dalam bayangan si peledek, kotaku ini masih hutan semua. Masih kampung yang belum ada kamar mandi. Jadi mandi di sumur.

Soal hutannya memang benar, tapi tidak semua. Benar juga kalo disebut hutan, tapi tidak semua. Kotaku adalah hutan yang sebagiannya dibabat utk menjadi kota. Tapi bukan kota yg ditanami hutan artificial. Asli; benar-benar asli masih hutan.

Sebagaimana ditulis pak Hilman fajrian dalam blognya.

Oil, Gas, & Coal

Dulu, Balikpapan makmur jaya sekali dengan Oil & Gas-nya. Tidak ketinggalan service company yang melayani kedua jenis pemilik konsesi minyak dan gas tersebut. Sampai akhirnya harga minyak dunia & batubara dunia terjun bebas.

Mungkin agak sulit ya berharap harga minyak dunia akan naik kembali. Karena di Eropa, negara-negaranya mulai menginduksi pasar untuk mulai beralih ke kendaraan-kendaraan berbasis motor listrik (EV, electric vehicles). Salah satu induksinya berupa subsidi pembelian kendaraan. Meski faktor-faktor lain seperti ketersediaan stasiun pengisian listrik dan suplai bahan baku baterai masih menjadi hambatan utama saat ini.

Ekonomi di sini sudah beberapa tahun terakhir megap-megap. Harga komoditas minyak bumi n batubara jatuh.

Lagipula, produksi semakin menipis. Para pemilik konsesi mau cabut dan mengembalikan hak pengelolaan kepada Pertamina. Total hengkang di 2017 ini. Chevron, konon mulai 2018 besok. Dan banyak sekali perusahaan vendor (service company) kedua industri tersebut yang merumahkan karyawannya.

Keadaan ini buruk sih. Orang-orang mulai meninggalkan Balikpapan lalu kembali ke kota asalnya. Rumah yang mereka miliki mulai dijual (atau minimal tidak ditempati); pergi mencari pekerjaan di industri lain di kota lain. Dengan kata lain, ekonomi tidak sebagus dulu dan akan lebih lambat pertumbuhannya — karena berkurangnya jumlah penduduk kota Balikpapan.

Instead of mengutuki harga komoditas, yuk mencari solusi kreatif dalam rangka memperoleh sumber-sumber pendapatan yang baru.

Kalau kita berpikir kreatif dan solutif, maka ini berarti Balikpapan memerlukan engine of growth dari industri yang lain. Paling tidak untuk tetap dapat bertahan hidup.

Industri Ritel Mulai Menggeliat

Sebelum aktivitas ritel setinggi sekarang, sesungguhnya warung/kios/ruko kelontong pun mulai sadar dengan konsep swalayan. Swa-layan. Alias pembeli melayani dirinya sendiri: ambil barang sendiri, lalu dibawa ke kasir, dan dibayar di sana. Tipe ritel seperti ini menyiratkan dua hal: (1) penjual tidak khawatir dengan keamanan barang-barangnya di rak-rak penjualan (2) pembeli sudah merasa nyaman dengan cara belanja demikian dan never look back.

Sedikit demi sedikit, para peritel nasional mulai berekspansi ke kota ini. Alfamidi dan Indomaret adalah dua peritel nasional yang mulai menumbuhkan jejaringnya di sini.

Ini adalah tantangan bagi peritel lokal seperti Maxi Swalayan dan Yova Mart. Yang terakhir disebut, mengusung pengelolaan dan perlakuan yang berbeda di masing-masing cabang.

  • Harga terjangkau.
  • Produk yang lengkap
  • Hadiah langsung
  • Undian berhadiah, dsb.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, ritel memiliki kontribusi 15,24% terhadap total PDB dan menyerap tenaga kerja sebesar 22,4 juta atau 31,81% dari tenaga kerja non pertanian.

“Situasi Ritel di Indonesia saat ini telah dan akan terus bertransformasi sejak dikeluarkannya UU Perdagangan No.7/2014 tentang Perdagangan Ritel Modern (Toko Swalayan) yang terdiri dari Minimarket, Supermarket, Hypermarket, Wholeseller, Department Store / Speciality Store, serta Ritel Tradisional (Pasar Rakyat),”

Meski demikian, kebijakan dan kearifan lokal harus tetap diindahkan. Jarak terdekat antar minimarket terdekat adalah 2 km. Sedangkan jarak terdekat dengan pasar tradisional adalah 500 meter. Beberapa pelanggaran terhadap kebijakan dan kearifan lokal tersebut dapat dilihat pada berita ini.

Peran e-commerce belum sampai 2%.

Pariwisata

Menyerap tenaga kerja yang tinggi.

Modal Bandara SAMS (Sultan Aji Muhammad Sulaiman).

Komitmen Walikota Balikpapan. Sebagaimana dinyatakan oleh Menpar sendiri, “Komitmen Gubernur, Bupati, dan Walikota itu menentukan 50% kesuksesan daerah dalam membangun sektor pariwisata.”

Go-Jek dan Grab membantu peningkatan mobilitas. Tidak hanya bagi warga lokal Balikpapan, tetapi juga demi para backpackers yang berkunjung kesana kemari. Pendapat saya, angkutan kota (angkot, tetapi lebih sering disebut Taksi) sulit kehilangan penumpang. Karena harga di antara keduanya masih kompetitif.

Ada beberapa tujuan pariwisata yang bisa saya ceritakan berikut ini. Dengan jumlah review-nya saya ambil dari situs tripadvisor.co.id

Dandito. 415 review. Sebuah restoran kepiting. Bisa dine in atau take away. Waktu itu saya belikan untuk teman di Jakarta (saya terbang ke Jakarta). Bahkan saya sampai harus melakukan order di pagi hari, baru sorenya saya jemput orderan.

Konon, chef Dandito ini hasil bajak-membajak (hijack). Dia tadinya kerja di restoran sejenis yang tidak jauh dari situ. 

Pantai Kemala (Kemala Beach). 79 ulasan. Hampir semua orang tahu Pantai Manggar, tapi Kemala Beach ini belum seterkenal pantai yang tidak terlalu bersih itu — tidak tahu ya tingkat kebersihan sekarang seperti apa. Yang jelas, karena brand awareness yang rendah itu, pantai ini tidak terlalu ramai orang dan masih cukup bersih untuk dikunjungi. Cukup membayar parkir kendaraan saja.

Sebagai kota pantai, sudah seharusnya Balikpapan memasarkan dan menjual wisata pantainya. Ibarat kata penduduk lokal: ITU SUDAH! (Untuk tahu bagaimana mengucapkan frase ini, teman-teman blogger harus datang dan mendengar langsung dari orang Balikpapan 😀 )

Wisata Alam Bukit Bangkirai. 109 ulasan. Ini yang paling banyak review-nya. Mungkin karena ini yang paling “hutan kalimantan” banget, ya? Jaraknya 12 km dari pinggir jalan Balikpapan-Samarinda. Namun belum semuanya hot mix. Dinamakan Bukit Bangkirai, karena hutan ini adalah hutan dengan pohon-pohon khas Kalimantan. Salah satunya adalah Pohon (kayu) Bangkirai. Sejak ini paling unik dan khas Kalimantan, sudah waktunya dijadikan sebagai salah satu center of message dari komunikasi pemasarannya Balikpapan.

Penangkaran Buaya Teritip. 73 ulasan. Saya belum pernah ke sini. Tapi ini hampir tidak pernah ada di kota lain, lho. Ibarat Pulau Komodo yang mungkin hanya satu-satunya di Indonesia. Diferensiasi yang unik dari Penangkaran Buaya ini bisa dikomunikasikan lebih intensif oleh Dinas Pariwisata Kota Balikpapan.

One thought on “Kotaku Dulu Tak Begini

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s