informasi yang mukjizat


Informasi yg mukjizat

al quran

Dalam sejarah perjalanan dunia, tingkat literasi belum pernah secanggih sekarang. Kita semua tahu, bahwa faktor enabler-nya adalah internet. Memang sih, masih ada buta huruf di mana-mana. Namun bagaimanapun juga, melek huruf saat ini bisa jadi adalah yang tertinggi sepanjang masa. Dan dengan melek huruf yang demikian tinggi, semua menjadi prosumer, produsen sekaligus consumer dari konten yang dibuat.

Om Alvin Toffler dalam Future Shock, membagi fase perjalanan masyarakat dunia menjadi tiga tahap. Pertama, masyarakat agraris. Kedua, masyarakat industri. Ketiga, masyarakat pasca industri. Yang terakhir ini, dijabarkan lebih jelas dalam The Third Wave. Intinya adalah masyarakat kini telah beralih menjadi masyarakat informasi. Semua bisa memproduksi dan mengkonsumsi informasi.

Salah satu wujud produksi dan konsumsi informasi tersebut, ke dalam berbagai bentuk media sosial yang ada saat ini. Facebook, WhatsApp, Instagram, dll. Dan kita semua sudah tahu, media hanyalah alat. Yang utama adalah konten. Ibarat pisau, media (termasuk media sosial) bisa berguna untuk hal positif maupun negatif. Contoh:

  • Konten inspiratif bisa dibuat. Gerakan sosial seperti www.kitabisa.com mungkin dilakukan hanya bermodal byte-byte digital.
  • Konten yang memecah-belah persatuan juga bisa dibuat. Semisal hoax, yang semakin hari semakin mudah dan cepat dibuat. Karakteristik media digital saat ini adalah informasinya mengalir demikian cepat hingga tidak mungkin dibendung dan diisolasi. Yang terbaik bisa dilakukan hanyalah membuat counter campaign guna mengimbangi hoax tadi. Studi kasusnya yang dilakukan oleh Masjid Salman beberapa waktu lalu.

Bebas Hoax?

Sedikit atau banyak penambahan atau pengurangan, terutama apabila melencengkan maknanya dari makna asli yang dimaksud, bisa kita katakan termasuk hoax.

Hoax menjadi sedemikian sulitnya untuk difilter. Informasi dan percakapan digital mengalir secara cepat. Karakter cepat ini cenderung meminimalkan produsen dan konsumen informasi digital dalam menganalisis kebenaran dari informasi tersebut.

Dalam keadaan tersebut, apa masih ada konten yang bebas hoax? Apakah masih ada orang-orang yang berusaha memfiliter informasi yang beredar, mengecek kebenaran data dan fakta pendukung informasi tersebut? Di era digital ini bahkan, media massa konvensional yang turut terbit versi websitenya, bahkan terjebak dalam pusaran click bait. Yakni view sebanyak-banyaknya kian menjadi target kerja yang semakin umum saja.

Dalam pada itu, mari sedikit mengulas tentang Al Quran. Telah dinyatakan dan diketahui bersama, bahwasanya kita suci Umat Islam ini merupakan mukjizat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam. Mengapa beliau diberikan mukjizat berupa kitab? Which is, tulisan dan buku adalah medium-medium yang (biasanya) tidak lepas dari perubahan dan penyuntingan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab?

Sangat berbeda dengan mukjizat nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Musa dengan tongkatnya yang membelah Laut Merah. Atau Nabi Nuh dengan bahtera-nya.

Surah Al Hijr, ayat 9. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, demikian juga para ahli tafsir lainnya, mutaqaddimin dan mutaakhkhirin, menyatakan bahwa ayat Surah Al Hijr ayat 9 ini merupakan jaminan dari Allah ta’ala bahwa Dia akan menjaga Al-Qur’an Al-Karim dari perubahan dan penggantian, dari penambahan maupun pengurangan, hingga hari kiamat.

Which is, hal ini terjadi pada kitab-kita samawi selain Alquran. Kita pun sudah tahu bahwa kitab-kitab tersebut telah mengalami banyak sekali penggantian dan pemalsuan. Keistimewaan Alquran ini adalah Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya, tidak sedikit pun mengalami penambahan atau pengurangan. Apabila terjadi penyimpangan terhadap Al-Qur’an, maka akan selalu muncul di setiap generasi, manusia-manusia yang meluruskan kesalahan dan kekeliruan tersebut. Tidak heran, Al-Qur’an di generasi sahabat-sahabat Rasulullah adalah sama dengan yang ada di generasi kita saat ini. Dan Al-Qur’an akan selalu relevan. Karena Al-Qur’an adalah one part of dienul Islam.

Multi Platform

Konten yang selalu standard tersebut, alias di mana-mana tidak ada perbedaan yang berarti, menjadikan konten ini bisa berada dalam format atau wujud apapun. Cetak, digital, dan lainnya. Diakses via web, via aplikasi mobile, dst.

Mengaji Al-Qur’an dengan versi cetak di kantor, maupun versi cetak di rumah, tidak akan ada bedanya. Ayat penutup yang terakhir dibaca di kantor, sangat bisa disambung dengan ayat pertama yang akan dibaca di rumah. Sudah tiada hambatan, dan tanpa perlu penyesuaian kembali.

Mengaji di masjid pasca shalat wajib di masjid, dilanjutkan dengan mengaji dengan Al Quran milik sendiri di rumah, tidak akan ada hambatan berarti. Ibarat menyambung dua besi, sambungannya sudah seamless. Alias mulus seakan-akan tadinya tidak berasal dari dua besi yang berbeda.

Kitab ; Bukan Sembarang Buku

Bagi saya, ada bacaan-bacaan yang sekali baca langsung selesai. Sekali tuntas, maka tamatlah riwayatnya sebagai sebuah tulisan. Contohnya novel, komik maupun karya fiksi lainnya. Jadi malas beli novel. Mending pinjam aja. Karena sekali sudah selesai dibaca, jarang ditengok kembali.

Ada juga buku lain yang sering kali saya tengok kembali, terutama untuk menengok teori atau hipotesis yang diusulkan sang penulis. Katakanlah buku-buku tentang branding yang ditulis oleh David Aaker.

Namun demikian, ada satu kategori lagi, di mana saya mendedikasikan waktu atau hidup saya untuk mempelajarinya. Sebutlah kategori tersebut sebagai kitab. Ini adalah tipe tulisan/bacaan/buku yang terus-menerus saya tengok. Dia adalah referensi dari segala referensi. Yaitu Al Qur’an. Misal sedang membaca sebuah ayat yang bikin kepo. Lalu cari dan baca referensi secondary yang terkait dengan ayat Al-Qur’an tersebut. Al-Qur’an ini menjadi kitab, alias referensi pertama dan utama, tatkala sedang mempelajari suatu ilmu atau permasalahan.

Bahkan menurut pengalaman, rasanya tidak pernah puas. Awalnya mengaji biasa. Lama-lama membaca terjemahan juga. Kemudian, merasa butuh membaca terjemahan per kata. Saat ini, keinginan yang belum dilakukan, adalah ikut kelas mengaji yang diajarkan oleh ahli di bidang tahsin dan tajwid.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s