Semanis Teh Manis Salman


Teh Manis Salman (TMS), ya. Bukan Teh Manis “Masjid Salman”. Bukan, sama sekali bukan. Salman itu nama masjid di seberang Institut Teknologi Bandung, iya. Tapi dia lebih dari sekedar masjid. Karena dia “tidak sekedar” maka banyak yang belum bisa move on darinya. Tiap ke Bandung, harus ke Salman. Belakangan, ada banyak yang tanya ke saya tentang TMS ini. Saya rangkum dalam FAQ berikut.

FAQ Teh Manis Salman

Q: Dari kapan ada teh manis salman?

A: Lupa persisnya, tapi saya sudah gak di sekolah seberangnya. Jadi kira-kira setelah saya “dikeluarkan”.

Q: Di mana letaknya?

A: Selasar hijau. Isshhh, kalau orang gak paham, tanya aja di mana penitipan sepatu.

Q: Enak mana sama teh manisnya kantin?

A: Teh manis kantin lebih manis dan lebih pekat. Sebaiknya dikasi es batu sedikit ya. Tapi manisnya bukan sambil ngelihatin teteh-teteh yang manis di meja kasir ya. Alhamdulillah bukan Aa’-Aa’ yang jaga. Bisa kecut teh-nya kalo dijaga batangan. Jadi, ya lebih enak teh manis selasar hijau, sih. Lagian memang gak disediakan es batu di situ. Gratis, pula.

Q: Berapa kalori yang dikandungnya?

A: Wah, mana saya tahu. Mungkin perlu dicek kandungan gizinya sama kakak-kakak Dipati Ukur.

Jadi #TehManisSalman itu adalah “feature” baru dari Masjid Salman.

Namun sesungguhnya, #TehManisSalman adalah counter campaign yang sedang ramai di linimasa.

Counter Campaign

Diawali pernyataan PBNU Said Aqil Siradj, yang menyatakan bahwa Masjid Salman adalah Masjid Radikal.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/05/25/oqibs1328-kiai-said-mengaku-pernah-dihujat-kafir-di-masjid-salman

Terkait pernyataan Ketua Umum PBNU tersebut, Pengurus Masjid Salman kemudian menemui sang Kyai Haji dalam rangka bersilaturahmi sekaligus tabayyun, yaitu konfirmasi mengenai maksud dari pernyataan beliau tersebut.

Tentang tabayyun ini harus diberi apresiasi lebih. Di era internet ini, user malas menunggu barang sehari atau beberapa hari guna melihat perkembangan isu. Kalau ada yang tabayyun, sudah oke banget sebenarnya. Selain malas menunggu, user juga malas melakukan riset lebih mendalam. Setidaknya, semua dilakukan via online saja. Bertemu langsung guna silaturahim sekaligus tabayyun ini yang harus kita garisbawahi bersama. Selain silaturahim yang memperpanjang usia, tabayyun-nya sendiri untuk mengkonfirmasi maksud yang sebenarnya.

Berikut info terkait tabayyun yang dilakukan oleh para pengurus Masjid Salman tersebut.

#tehmanissalman #saidaqilsiroj #bukansayayangpunyacerita #aktivissalmanitb

A post shared by Dzikry Dzikrulloh (@dzikrydzikrulloh12) on

Pernyataan KH Said Aqil Siradj sempat viral di dunia sebelah (baca: online). Mereka yang sering shalat di Salman, atau menjadi aktivis Salman, atau bahkan tinggal –dan bertugas– di Asrama Salman, sangat tidak setuju dengan konten yang viral tersebut.

Kampanye yang dicoba-viralkan adalah #mysalmanstory dan #tehmanissalman. Jadi ini adalah kampanye untuk meng-counter viralitas pernyataan sang KH. Dengan sendirinya, asosiasi radikal yang viral tertempel pada “Salman” perlahan-lahan mulai luntur.

Kedua hastag tersebut adalah experience yang digali dari pengalaman para “pelanggan”. Alias mereka yang sudah berkali-kali “belanja”. Jadi bukan yang belum pernah “beli”, atau baru 1-2 kali belanja, tapi yang sudah jadi langganan. Pelanggan biasanya (dan seharusnya) sudah trust (percaya) kepada sang “penjual”. Komponen dari trust adalah expectation. Bukan sembarang expectation. Melainkan standardized expectation.

Jadi, brand Salman sudah sangat familiar –makanya bisa kita sebut standardized–, bahkan hingga ke hati para jamaahnya. Bahwa brand Salman ya memang begitu. Sebagaimana dirasakan oleh panca indera: pilihan bentuk, warna, dan tekstur material arsiteknya, suasananya, jenis-jenis orang di dalamnya, dan lain sebagainya seperti yang dideskripsikan dalam status facebook para pecintanya.

Dalam proses dan aktivitas managing the brand, experience sharing ini termasuk fase merawat brand dan mempertahankan customer (alias jamaah). Dari existing customer, bisa pula menjadi jalan untuk mendapatkan jamaah baru. Alias yang belum pernah hadir sama sekali di Salman. Sebab, sesama pengguna masjid, pastinya merekomendasikan masjid yang bagus pengelolaannya; kepada keluarga dan kolega mereka.

Masjid Modern

Salman itu termasuk masjid yang dikelola secara modern. Prinsipnya sederhana, dengan membaiknya program dan fasilitas, maka crowd jamaah akan tercipta. Jamaah yang semakin bertambah menjadi pancingan bagi pengelola/pengurus untuk menambah fasilitas. Baik unit usaha maupun unit-unit pelayanan. Tidak perlu semuanya dikelola sendiri. Bisa saja di-outsource kepada pihak ketiga. Sediakan tempat saja, dan akan ada pihak swasta yang mengelola dan memberikan fasilitas tersebut. Kantin, bank, minimarket, print+fotokopi, pulsa, biro haji dan umrah, dll. 

Semakin all-in-one sebuah masjid, maka akan semakin menjamur pula jamaah yang berkunjung.

Crowd jamaah kemudian bisa diresegmentasi lagi dan dirumuskan program-program ekslusif untuk segmen tersebut. Pengajian untuk anak muda, ada. Untuk yang sudah senior juga ada. Pendidikan untuk anak balita ada. Dan seterusnya. Sampai Sekolah Pra Nikah juga ada.

Agak taktikal, tapi sedang menjadi tren yang diadopsi oleh banyak masjid-masjid besar. Yaitu AC (air conditioning) sebagai penyejuk udara di dalam ruang utama Masjid. Dan kedua adalah, jadwal shalat digital sebagai penunjuk masuknya waktu shalat.

Sebab, di tingkatan strategik ada arsitektur Masjid itu sendiri. Baik secara fungsi maupun estetika. Fungsi penerangan, sirkulasi udara, tata suara, dan sebagainya. Estetika meliputi bentuk, warna, tekstur, hingga story/experience yang akan dialami sendiri oleh para jamaah.

Berikut adalah ilustrasi arsitektur yang sangat menarik mengenai betapa “radikal”-nya desain arsitektural masjid salman ITB.

RADIKALISME MASJID SALMAN ITB
Oleh Dr. Eng. Bambang Setia Budi

Kalau ada yang bilang Masjid Salman itu RADIKAL. Lho, memang begitu kok, udah betul itu. Baguskan?

Dari bentuk dan ekspresi arsitektur masjidnya memang sangat RADIKAL, bukan hanya di Indonesia saja tetapi di Asia Tenggara. Yang paling RADIKAL perhatikan saja atapnya. Sejak dulu arsitektur masjid di Nusantara ini selama lebih dari 5 abad hampir selalu menggunakan atap tumpang/tiered roof (dua, tiga, lima, dst).

Atau di akhir abad ke-19 hingga tengah abad ke-20 sebagian mulai menggunakan atap kubah (dome), tetapi Arsitektur Masjid Salman malah tiba-tiba seperti petir di siang bolong menggunakan atap datar yang meruncing pada bagian sudutnya seperti membentuk sebuah mangkuk terbuka. Mana pernah ada preseden (contoh) bentuk atap masjid sebelumnya di seluruh Nusantara/Asia Tenggara itu seperti itu. Arsiteknya (Ir. Achmad Noe’man) dan arsitektur masjidnya memang RADIKAL.

Ruang utama tempat sholatnya juga RADIKAL. Coba saja masuk ke dalamnya, dari sejak pertama kali masjid di Nusantara ini ada, sampai sebelum tahun 1967 selalu ada kolom di tengah ruang sholat utama untuk menyangga atap. Ruang utama Masjid Salman, malah dihilangkan dengan alasan arsiteknya supaya tidak mengganggu/memutus shaf shalat, jadi biar tidak ditempati Syetan katanya. Jadi pilihannya bentang lebar dengan bentangan 25 meter bebas kolom (tiang).

Bayangkan untuk konstruksi atap beton bentangan 25 meter pada waktu itu di tahun 1967 itu bagaimana? Kalau pakai beton biasa bakal memerlukan ketinggian balok beton hingga 2 meteran kan (1/12 bentang). Coba periksa, untuk menahan bentangan itu hanya dengan ketinggian balok beton 80 cm lho!. Itu pakai beton pratekan (prestressed) pak Kyai! Mana ada masjid di Nusantara ini sudah ada yang menerapkan pemakaian struktur/konstruksi beton pratekan seperti itu di tahun 1967. Itu karya dari insinyur sipil dosen ITB (Prof. Sahari Besari) yang waktu itu baru pulang dari sekolah di Amrik. Jadi struktur/konstruksi beton dan insinyur sipilnya juga RADIKAL.

Satu lagi dari detil dan sisi seni grafisnya. Perhatikan semua detil-detilnya, baik sambungan antara kayu, bentuk dan tata letak lampu, pertemuan/pemisahan dinding-dinding beton dengan kolom-kolomnya, dan lain sebagainya. Belum lagi yang tanpa ornamennya, biasanya masjid sering dipenuhi dengan hiasan-hiasan seperti kaligrafi, geometric pattern, floral/sulur-sulur, arabesque, atau apapun yang abstrak. Tetapi masjid ini tanpa ornamen, tanpa kaligrafi, tanpa itu semuanya kecuali hanya garis-garis dan lukisan abstrak di dinding sebelah timur yang dulunya berwarna komposisi coklat pastel karya seniman kontemporer dan guru besar ITB Prof Achmad Sadali.

Beliau adalah pendobrak dan pemimpin gerakan penyadaran para khattat/kaligrafer dan seniman tahun 1970an yang mempopulerkan kaligrafi lukis atau lukisan kaligrafi yang membedakannya dengan “kaligrafi tradisional” yang telah dikenal sebelum ini. Nah jadi dari ketiga sisi ini saja (Arsitektur, Struktur, Seni), memang benar kok kalau masjid ini memang semuanya paling RADIKAL. So what? 😊😊😊

Salman ITB, 27.5.2017⁠⁠⁠⁠

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s