Chelsea : Brand and Revenue


Pada tulisan sebelumnya, saya merangkum beberapa strategi klub sepak bola dalam membangun brand-nya (brand building).

Dan baru hari kemarin, Chelsea dipastikan menjadi juara English Premier League (EPL) 2016/2017. Sebagaimana saya katakan sebelumnya, predikat juara ini tentu akan mengangkat brand Chelsea menjadi lebih baik lagi.

Pastinya, hal ini akan mengundang sebuah pertanyaan yang selalu krusial bagi para pembesut brand. Pertanyaannya adalah, memangnya dengan brand dengan nilai demikian besar, lantas berapa banyak omzet yang berhasil didatangkan?

Brand komersil yang tidak mendatangkan omzet, berarti upaya branding-nya sia-sia saja.

Ada beberapa sebab saya simpulkan pernyataan barusan.

Sponsorship, sebagai salah satu komponen utama dalam omzet klub sepak bola, nature-nya adalah business-to-business (B2B). Ciri khasnya adalah “pembeli”-nya tidak banyak — tidak sebanyak B2C. Pembeli yang sedikit ini kemudian diperebutkan oleh para “penjual” yang tidak sedikit: Manchester United, Real Madrid, Barcelona, dst. Negosiasi dan keterampilan menjual menjadi skill paling utama untuk mendapatkan omzet besar.

Tidak hanya skill, tetapi modal juga menjadi faktor utama. Apa modalnya? Besaran eksposur brand terhadap penggila sepak bola di seluruh dunia. EPL adalah liga paling laris ditonton di seluruh penjuru dunia pada hari ini. Sponsor yang terletak di jersey pemain, akan menjadi merek yang paling diketahui dan diingat oleh sebanyak-banyaknya orang.

Chelsea 2015/16 dan 2016/17

Penampilan yang mengecewakan pada musim 2015/16 mendatangkan kerugian sebesar 70 juta poundsterling (sebelum pajak). Secara umum, klub sepak bola kehabisan uang kas adalah hal biasa. Back up-nya dari penjualan aset klub kepada investor baru, atau utang. Begitu pula dengan Chelsea. Roman Abramovich adalah pemilik yang tidak segan “meminjamkan” uangnya kepada klubnya bahkan tanpa termin waktu pengembalian yang jelas dan nilai bunga yang transparan pula. Sejak diakuisisi pada Juni 2003, secara total Chelsea telah rugi sebesar 753 juta poundsterling. Atau sekitar 58 juta poundsterling per musim. Pemecatan Jose Mourinho (berikut tim pelatihnya) di penghujung 2016 menyebabkan klub harus membayar kompensasi sebesar 8 juta poundsterling.

Dalam artikel Sisi Lain Roman Abramovich saya menuliskan model bisnis terbaru Chelsea: memelihara puluhan pemain muda, menggaji mereka, tetapi meminjamkan mereka ke klub lain yang bersedia menjadikan mereka sebagai starting eleven.

Contoh terbaru adalah Patrick Bamford, yang transfer fee-nya senilai 6 juta poundsterling pada Januari 2017 ke Middlesbrough. Padahal dulu Chelsea hanya membayar 1,5 juta poundsterling di tahun 2012. Alias meningkat paling sedikit 4x lipat dalam rentang waktu 5 tahun.

Berikut histori akumulasi omzet penjualan pemain muda seperti Patrick Bamford: 51 juta poundsterling pada 2014, turun menjadi 16 juta poundsterling pada 2015, serta 35 juta poundsterling di 2016.

Pendapatan dari broadcasting 143 juta poundsterling (43%). Showbiz dari penampilan Chelsea mendatangkan pendapatan sebesar 43% dari total pendapatan klub. Pendapatan komersil 117 juta poundsterling (35%) dan pendapatan dari penjualan tiket di Stamford Bridge sebesar 70 juta poundsterling (21%). Hanya satu cara menumbuhkan pendapatan yang terakhir: perluasan stadion dan penambahan kursi penonton.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s