Seribu Kata Tentang Surabaya


Mari bicara tentang Surabaya dalam beberapa segmen: (1) lalu lintas, (2) menu makanan, (3) pergaulan, dan (4) masjid.

Lalu Lintas

Rasa-rasanya masih sayang mobil-mobil di sini lebih “galak” daripada di Jabodetabek atau Bandung. Paling “galak” adalah mereka yang tinggal di sidoarjo kota (pusat) tapi beraktivitas rutin di pusat Surabaya. Mereka sadar perjalanan mereka jauh dan menuntut waktu yang lama. Sebab itu tidak ingin Tua di Jalan.

Panduan yang jelas di lampu merah.

Yang paling membingungkan di kota-kota Indonesia biasanya adalah, apakah boleh belok kiri langsung atau tidak? Nah, kalau di Surabaya, ada papan petunjuk apakah di lampu merah tersebut boleh langsung atau tidak. Keterangannya jelas sekali “belok kiri langsung” atau “belok kiri mengikuti lampu”.

Dulu saya berasumsi bahwa belok kiri langsung itu mutlak akan mengurangi kemacetan. Tapi sepertinya asumsinya tidak hanya demikian. Bisa saja demi memberi ruang di jalan raya depan bagi orang untuk menyeberang. Apakah pembaca yang budiman di sini ada yang tahu?

Menu Makanan

Nasi goreng merah.

Pertama kali saya temukan di Balikpapan. Enak, sih. Yang menariknya adalah, saya tidak terlalu mencarinya sejak merantau ke Pulau Jawa. Dan akhirnya semakin terbiasa setiap kali membeli nasi goreng rombong, yang saya terima adalah nasi goreng hitam. Alias nasi goreng kecap.

Nah, di Jawa Timur inilah saya baru menemukan kembali nasi goreng yang selama ini telah hilang (halah). Yaitu, nasi goreng berwarna merah karena dominasi sausnya.

Pecel.

Yang ini mestinya pecel beneran. Bukan pecel lele, pecel ayam ala-ala Jawa Barat yang sebenarnya adalah “penyetan” disebutnya di tanah Jawa Timur. Bermodal kol, timun, kemangi, pedagang Jabar malah menyebutnya “Pecel”. Sedangkan pecel Jatim utamanya adalah sayuran, dengan bumbu saus kacang. Bisa pakai telor mata sapi, lele goreng, atau lauk yang lainnya. Yang paling utama dan membedakan terletak di bumbu kacangnya itu. Actually, pecel itu jagoannya Madiun, tampaknya. Pecel Madiun, tho?

Rawon dan Soto

Rawon itu enak. Tapi kehadirannya tidak semasif soto. Sama-sama lebih banyak kuah daripada nasi dan dagingnya. Ini memang usaha berbahan dasar air. Hehehehe.

Sudah tahu belum, sejarah per-soto-an nusantara? Kalau belum tahu, ceritanya begini. Di masa sulit kala perang masih berkecamuk di nusantara, bahan pangan adalah sangat terbatas sekali kalau tidak bisa dikatakan amat sangat terbatas sekali banget. 😀 Lantas, apa yang dilakukan para keluarga? Seekor ayam sesungguhnya hanya cukup untuk sekali makan bagi sebuah keluarga dengan ayah+ibu+2 anak. Namun, dengan kreativitas dan inovasi terciptalah resep soto ayam yang luar biasa menyelesaikan banyak permasalahan tersebut. Sebab, satu ekor ayam, daripada hanya habis dalam sekali waktu makan saja, malah bisa habis dalam 3 kali waktu makan. Caranya bagaimana? Ya buatlah Soto Ayam.

Apakah ada sejarah soto yang lain? Coba share di comment ya.

Pergaulan

Location.

Asalnya dari mana? Bukan pertanyaan yang biasa ditanyakan di Tanah Sunda. Asal-muasalnya adalah logat saya yang tentu saja bukan logat tanah Jawa. Sebab itu mereka bertanya demikian. Awalnya terasa kurang ajar. Pikiran-pikiran semisal, “belum dekat kok udah tanya”, atau “Saya kan cuma beli nasi goreng gerobak pinggir jalan; ada apa pakai ditanya ini segala”. Tentu saya tidak blak-blakan seperti itu. Sekedar lintasan pikiran saya sahaja.

Kemudian saya menjadi ingat akan perkenalan dalam bahasa Inggris yang diajarkan kepada kita kala masa SD dahulu. Where do you come from? Ditanyakan setelah bertanya what is your name?. Demikian pula tatkala memperkenalkan diri. Setelah nama, perkenalkan dari mana dirimu berasal. Hehehe. Ini yang agak sulit buat saya pada awalnya. Bahwasanya meladeni pertanyaan darimana asal merupakan sebuah upaya yang entah apa gunanya bagi sang penanya. Karena apa yang ingin mereka tahu? Suku saya kah? Tempat lahir saya kah? Atau, di manakah saya tinggal belasan tahun terakhir ini? Dan seterusnya.

Cangkrukan

Mungkin benarnya ditulis cangkru’an kali ya? Apapun itu cara menulisnya, tetapi budaya hang out ini ya memang ada di mana-mana di negeriku tercinta Indonesia. Risetnya MTV (Music Television) dulu hebat banget berarti, ya. Mereka menemukan bahwasanya orang-orang Indonesia itu suka nongkrong. Sebab itu mereka memberikan panggilan/julukan “Anak Nongkrong” kepada para pemirsa MTV-nya.

Oiya, di sini cangkru’an-nya lebih merakyat daripada Bandung. Warung kopi-nya ada WiFi, terus banyak banget yang buka 24 jam. Apalagi di daerah mahasiswa seperti di sekitar UNAIR, atau UPN.

Masjid

Di kota ini, pemegahan masjid-masjid sangat terasa sekali. Gayung donasi pembangunan masjid yang disuarakan oleh DKM Masjid memang bersambut oleh wakaf dari para jamaah. Apalagi ini menjelang Bulan Ramadhan. Masjid-masjid seakan berlomba bermegah-megahan antara satu dengan yang lainnya. Tambah dinding kaca lha, tambah AC, lha. Dan demikian tiada henti-hentinya.

Bahkan masjid yang biasa saya shalat jumat tidak tanggung-tanggung dalam menghendaki donasi. Pasca imam shalat jumat mengucapkan salam yang kedua kali, seorang pengurus DKM langsung menempati mimbar. Pasca pembukaan pengumuman barang 1-2 kalimat, langsung beliau ceritakan perkembangan pembangunan masjid tersebut. Bahwasanya ini sudah selesai, itu menjadi agenda pekerjaan renovasi berikutnya, saldo keuangan saat ini tinggal sekian, sementara agenda renovasi berikutnya memerlukan dana sekian, maka masih ada kekurangan sekian yang beliau harapkan dapat ditutup oleh donasi para jamaah.

Saya tidak antipati terhadap renovasi masjid menjadi megah, bagus, dan seterusnya. Namun saya kira, donasi harus berimbang pula peruntukannya. Tidak semata untuk infrastruktur, melainkan juga pengembangan mental dan ilmu para jamaah itu sendiri. Kalau fisik kan terlihat ya, dan terukur (baca: tersampaikan informasinya kepada para jamaah) pula kebutuhan dananya. Agak berbeda dengan yang sifatnya intangibles tersebut.

Simpulan 

Oke. Waktunya kesimpulan. Pertama, mari kembali ke judul. Apa kaitan judul tersebut dengan tulisan ini sendiri? Kaitannya adalah …. TIDAK ADA! :d Kedua, apa maksud judul tersebut? Tadinya ingin mengungkap Soerabaja dalam seriboe kata. Apa daya hanya sanggup 833 kata saja.

Ya begitulah ungkapan dari saya mengenai Kota Sura dan Buaya. Mudah-mudahan di lain waktu masih ada kesempatan untuk mengungkap isi hati ini kepadanya mengenai Surabaya.

5 thoughts on “Seribu Kata Tentang Surabaya

  1. Cangkrukan tu membudaya banget deh di jawa timur..di jember juga karena trotoae masih lebar-lebar dan jalan masih lengang suka dialihfungsikan jadi tempat jualan.naaahhh disanalah kita-kita cangkrukan tempoe doeloe..wkwkwk.jadi inget masa muda masa sma,salah satu hobi cangkrukan..kadang gtu mbahas ekskul ya pas cangkrukan ituh..hwehehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s