Being Professional


Professional itu bukan hasil. Dia jago, bisa mencapai hasil, maka itu professional. Memang iya, dan ini sudah betul. Namun demikian, saya ingin mengajak rekan-rekan semua melihat beberapa esensi-esensi yang mungkin lupa disadari oleh banyak orang.

Sikap Mental terhadap Pekerjaan

Para professional itu punya sikap mental luar biasa terhadap pekerjaannya. Jadi tingkat profesionalitas seseorang adalah tingkat attitude (sikap) dia terhadap pekerjaan yang ditekuninya.

Coba lihat pemain bola. Atau olahragawan lainnya, khususnya yang bertanding secara tim ya. Sepak bola atau basket, misalnya. Banyak orang hanya melihat bayaran tingginya saja. Punya mobil mahal yang eksklusif. Iya, ekslusif. Hanya beberapa orang di dunia yang punya. Karena pabrik mobilnya hanya membuat edisi terbatas. Atau rumah super mewah yang luasnya tidak karuan, desainnya luar biasa modern dan minimalis. Jadi bintang iklan di mana-mana. Produk pakaian dalam, jam, parfum, shampo, dan kategori-kategori lain yang tidak terhitung banyaknya. Ditonton jutaan orang di seluruh dunia, dan berbagai kenikmatan duniawi lainnya.

Padahal bila diteliti perjuangannya, ya lebih berat dibanding orang-orang kebanyakan. Yaitu mereka yang bangun di pagi hari, bersiap-siap kemudian pergi ke tempat kerja. Pulang sore, bercengkrama dengan keluarga, lalu tidur malam. Besoknya, kegiatan berulang.

Saya katakan demikian karena pesepakbola dibayar bukan untuk bermain (baca: bersenang-senang). Pesepakbola dibayar untuk berangkat latihan. Latihan perorangan: akselerasi, daya tahan, teknik bermain, dan lain sebagainya. Briefing tim: bagaimana tim akan bermain. Apa yang harus dilakukan oleh yang menguasai bola, apa yang harus dilakukan oleh rekan-rekan yang tidak menguasai bola? Semua latihan biasanya dilakukan di hari kerja.

Tentu professional punya waktu berlibur. Tetapi pesepakbola tidak istirahat di akhir pekan. Karena dua hari tersebut adalah untuk memuaskan para supporter di stadium. Bermain atau tidak, hari senin harus tetap latihan. Menang dengan selisih gol banyak sekalipun, hari senin tetap latihan. Kalah? Karena kompetisi berlangsung terus, maka hari senin harus masuk untuk berlatih (lagi).

Hari ini main sebagai starting eleven (sebelas pemain yang beruntung bermain sejak awal pertandingan) bahkan tetap bermain sampai pertandingan selesai, apa lantas dapat dispensasi alias pengurangan jarak lari yang harus ditempuh besok? Tentu tidak.

Besok hari tidak masuk starting eleven, tidak juga ada di bench (bangku pemain cadangan). Apa lantas porsi latihan dikurangi? Ya tidak juga. Semua porsi latihan harus dikonsumsi tanpa kecuali.

Tambah Jam Latihan

Ada esensi lain yang perlu kita sarikan dan ambil hikmahnya. Bahwasanya para professional itu terus mempertajam kemampuannya seiring waktu bergulir.

Di luar pekerjaan sehari-hari, para professional juga melatih diri lewat latihan tambahan. Gianfranco Zola, semasa masih di Napoli, menambah durasi latihan sebanyak 30 menit setiap hari dengan berlatih bersama Diego Maradona. Sehari setelah salah satu penghargaan Cristiano Ronaldo sebagai pemain terbaik dunia, Cristiano langsung kembali ke lapangan. Melakukan apa? Ya latihan!

Bahkan sampai soal istirahat dan tidur sekalipun, olahragawan harus profesional. Tidur harus on time, supaya durasi tidur terpenuhi. Banyak mengobrol atau bermain gadget sampai larut malam, akan membuat fisik lebih lemah dari yang diharapkan. Salah satu wujudnya, adalah kecepatan lari yang lebih pelan dari yang seharusnya. Target jarak yang tercapai dalam rentang waktu yang lebih panjang. Andres Iniesta dan Cristiano Ronaldo merupakan dua contoh yang sangat disiplin mengenai tidur yang on time.

Kuncinya Rajin dan Tekun

Ketabahan menjalani profesi itu sangat diperlukan. Bosan tidak boleh menghalangi kualitas pekerjaan. Apa-apa yang dikerjakan harus tetap berkelas.

Sebab itu passion diperlukan. Suka terhadap apa yang kita lakukan. Martin Seligman (Author of Authentic Happiness) memberikan salah satu kriteria adalah ketika perasaan kita begitu terlarut dalam aktivitas pekerjaan tersebut. Atau bila tiba-tiba kita merasa hari sudah sore manakala kita tenggelam begitu dalam di aktivitas tersebut. Nugie menyebut dalam lagunya, “lentera jiwa”. Lewat lirik lagunya, Nugie berpesan agar tidak mengabaikan jiwa. Justru jiwa yang notabene sudah memiliki “lentera” harus terus diupayakan supaya lentera tersebut menyala terus.

Martin Seligman juga menyebut bahwa kesenangan itu ada dua, yaitu yang berumur pendek dan berumur panjang. Kafein dalam kopi bisa memberikan kebahagiaan tetapi sangat singkat sekali. Ingin kebahagiaan jangka panjang? Menurut Seligman, itu adalah kala kita mampu mengeksploitasi dan memaksimalkan bakat dan kekuatan (strength) kita hingga maksimal.

Jadi? Cari, ketahui, dan dapatkan apa yang kita suka atau senangi. Kemudian, berikan kerajinan dan ketekunan yang tiada tara.

Profesional bukan antithesis dari amatir.

Profesional itu kata dasarnya profesi. Yang terakhir ini berakar dari sebuah kosakata latin, yaitu proficio. Artinya kira-kira ‘to advance’. Alias memiliki kompetensi di bidangnya lebih daripada orang-orang umum bisa lakukan. Karena dia berkompeten, maka dia bisa mengajukan sejumlah tagihan pembayaran atas kompetensinya tersebut.

Dengan kata lain, kita membayar seseorang profesional karena dia mampu. Bukan karena kita membayar dia, lantas kita mengharapkan kompetensi/totalitasnya dia semata. Sekali lagi, ini masalah kompetensi.

Amateur itu dari bahasa prancis, yaitu amo. Artinya, semacam ‘to love’. Seseorang yang melakukan sesuatu karena dia memang suka melakukannya. Karena kecintaannya, bukan karena kemampuannya.

Bisa saja seseorang itu amatir sekaligus profesional. Dia melakukan pekerjaannya tersebut karena dia suka, sekaligus karena dia memang bisa memberikan hasil pekerjaan yang terbaik. Tentu saja kalau dia suka, maka dia bisa memberikan hasil yang best of the best

Pengulangan Hal-Hal yang (Sangat) Mendasar

Kita harus belajar dari para pesepakbola profesional. Mereka itu sudah jago mengoper dan menendang bola. Apa yang dia lakukan saat latihan? Oper dan tendang bola lagi. Mereka sangat jago pada hal-hal yang sangat mendasar. Karena kuncinya adalah proses pengulangan itu sendiri.

Misalnya profesi penulis. Hal apa yang paling mendasar dari penulis? Ya menulis. Meski sudah sedemikian ahli sekalipun, penulis profesional bahkan tetap menulis untuk hal-hal yang sekiranya remeh. Penulis seperti Pandji bisa menulis panjang di blognya sendiri, saya yakin karena beliau tetap mempertahankan aktivitas menulis yang mungkin remeh atau dipandang sebelah mata (misal: menulis diary) oleh orang lain.

Beberapa blogger yang saya ketahui mendapat penghidupan dari untaian kata-kata yang ditulisnya, tidak melulu menulis hanya untuk memastikan asap dapur tetap mengepul. Tetapi juga menulis terpisah sebagai sebuah latihan rutin. Misalnya, mereka menulis di diary sendiri. Setidaknya, proses ini adalah bagian dari kontemplasi diri. Mengenal diri sendiri itu penting, lho.

Sukses dan Pengorbanan

Profesional dan sukses perlu pengorbanan yang tidak sedikit.

Lionel Messi masih sangat belia kala harus meninggalkan kampung halamannya menuju La Masia di Barcelona.

Cristiano Ronaldo diejek habis-habisan oleh teman-teman barunya kala pertama kali merantau. Karena logat Portugal-nya adalah logat kampung. Kuno, tradisional, dan tidak modern adalah cap-cap yang melekat pada dirinya.

Jangan takut untuk berkorban. Yang berkorban saja belum tentu sukses. Apalagi yang tidak berkorban. Ingat kembali bahwa hidup ini cuma sekali. Jangan sia-siakan hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita, hanya karena kita malas berkorban. Bagi saya, dan orang-orang yang bertanya kepada saya, selalu saya ingatkan bahwasanya:

Berkorban adalah salah satu wujud syukur kita kepada Tuhan YME.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s