Gen Z: Analog Dunia Digital dan Internet


Salah satu referensi yang menjelaskan tentang generasi X, Y, dan Z adalah Don Tapscott dengan buku Grown Up Digital-nya.

Digital.

Sejak lahir sudah berinteraksi dengan dunia digital. Zakki Wakif sudah biasa menggunakan jari-jemarinya untuk tap, tap, and tap di layar tablet orang tuanya. Kala menyaksikan visualisasi digital tersebut, telinganya juga turut bekerja menyimak musik dan vokal yang mengalun dari device tersebut. Lirik yang didengar bukan bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah tempat tinggal. Sebab nursery rhymes berbahasa Inggris, saya yakin sedikit demi sedikit itulah bahasa yang akan dikuasai oleh generasi Z.

Saya kira bukan salah generasi Z kalau mereka disebut generasi instant oleh generasi-generasi sebelumnya. Digital itu ya memang instant. Dahulu foto baru bisa dinikmati kalau sudah dicuci dan dicetak (thanks to teknologi cuci cetak!). Sekarang sudah bisa dinikmati langsung dari device-nya. Berkirim surat via email sangat-sangat cepat dibanding dengan berkirim surat via pak pos.

Dalam bayangan saya, bisa jadi generasi Z terkaget-kaget begitu diajak menanam padi. Mereka tahu bahwa nasi yang mereka makan itu berasal dari padi. Tapi padi tidak tumbuh secara instan. Bukan sekarang ditanam lantas 2 jam lagi bisa dimakan. Padi harus dicermati pupuknya, pengairannya, dsb. Puncak kekagetan mereka nanti, manakala setelah menunggu 3-4 bulan, adalah bahwa panen belum tentu berhasil. Cuaca menjadi faktor yang tidak bisa di-trouble shoot-kan. Panen bisa gagal karena terlalu banyak hujan atau kemarau terlalu panjang.

Menarik bila memperhatikan kategorisasi oleh Marc Prensky menjadi dua, yaitu digital native dan digital immigrant.

Generasi X dan Y komplain ketika Gen Z mengabaikan lingkungan sosialnya. Terlampau acuh pada gadget masing-masing. Kita –saya masih termasuk Gen Y yang belum sepenuhnya digital — menyebut mereka cuek. Padahal — secara objektif — kita adalah para pendatang di dunia digital ini. Kita masih memisahkan mana yang digital dan tidak digital. Justru Gen Z, yang sejak lahir sudah paham men-tap di touch screen, adalah penduduk asli dunia digital (dan internet).

Global.

Bahasa yang paling banyak digunakan di seluruh dunia tersebut, menjadi jembatan bagi generasi Z untuk bergaul ke seluruh dunia. Sebagian besar materi di web dan aplikasi masih berbahasa dari negeri yang memproklamirkan “the empire that sun never sets” (kerajaan yang mataharinya tidak pernah tenggelam)Untuk travelling, bertempat tinggal, bekerja atau kuliah di luar negeri. Referensi generasi ini tidak lagi nasional, apalagi lokal. Melainkan tingkat dunia/global dijadikan rujukan oleh mereka.

Sebab global itulah, generasi Z ini concern terhadap isu-isu kemanusiaan maupun lingkungan. Kebakaran hutan, penggunaan plastik yang berlebihan adalah contoh-contoh isu lingkungan yang mereka pedulikan. Bisa dinyatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungannya relatif lebih tinggi dibanding generasi-generasi sebelumnya.

Sharing.

Generasi Z tanpa sadar belajar konsep freemium (free + premium) dari internet. Untuk penggunaan yang masih sedikit, mari kita membagikannya dan menggunakannya secara gratis. Kalau penggunaan mulai meningkat, barulah kita mulai membayar. Contoh: berbagai fitur dari google digunakan karena sifatnya yang gratis. Bila perlu lebih kapasitas email yang lebih besar misalnya, baru membeli dari Google. Dari sini generasi Z mulai belajar untuk berbagi (sharing). Teman-teman di komunitas nebengers mulai memfasilitasi generasi yang free ride, atau share bentol (bensin dan biaya tol), atau bergantian menyetir, dst.

Sharing itu sebentuk kolaborasi, sebenarnya. Ini sifat lain Gen Z. Lebih mudah bekerja sama bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Segala sesuatu dikerjakan bareng-bareng. Lebih asyik (fun), katanya yang penting tujuannya tercapai. Ya namanya kolaboratif kan memang begitu. Saling menambahkan, saling memperkuat. Ibarat program atau aplikasi yang menuntut perbaikan terus-menerus, maka inovasi lebih mudah dikerjakan bila berkolaborasi.

Sisi lain dari sharing dan kolaborasi ini adalah bahwa peers (rekan/teman) memiliki influence yang lebih tinggi dibanding sebelumnya. Gen Z tidak salah; itu adalah bentukan dari lingkungan digital yang serba terkoneksi lewat internet. Tetap perlu kita kendalikan. Harus diingatkan bahwa ada orang-orang yang lebih tua (termasuk orang tua mereka sendiri) yang perlu dihormati dengan cara-cara yang agak lama, kuno, atau tradisional.

Di sisi lain generasi kita perlu memaklumi, memahami, dan bila perlu mengikuti pola komunikasi yang mereka lakukan. Saat ini, eyang putri (yangti)-nya ZaWA sudah menggunakan WhatsApp. Saya tidak akan kaget suatu waktu nanti bila ZaWa mengirim chat kepada Yangti-nya yang berada di kamar sebelah. Bahwa sudah dinner sudah tersedia di meja makan dan let’s have a dine. Mengapa? Saat ini hal semacam itu sudah lumrah terjadi di Jakarta, kok 🙂

Update

Gaul itu cool (keren). Banyak tahu (dari membaca atau mendengar), atau banyak teman itu gaul banget. Jadi banyak tahu, dan di mata orang-orang lain jadi terlihat keren banget.

Namun semakin ke sini menjadi pribadi yang update itu semakin susah. Kita dan generasi-generasi berikutnya, termasuk generasi Z, harus memilih ceruk (niche) kita masing-masing. Supaya tetap relevan. Tidak bisa kita memilih untuk tahu, bisa, dan fokus di semua niche. Hasilnya, update itu merentang luas — dan semakin sulit untuk mendapat predikat tersebut. Dari sekedar update aja, sampai update banget. Muncul juga istilah kudet (kurang apdet).

Perkembangan informasi ini memang cepat sekali. Semua orang menjadi jurnalis dan bisa menyampaikan berita secara cepat. Namun, tidak semua orang bisa fokus di banyak media. Apalagi di banyak social media. Makanya ada yang aktif banget nge-tweet, ada juga yang password facebook-nya saja dia lupa. Sampai last login-nya saja sudah bertahun-tahun yang lalu.

Bagi generasi Z, terlalu lama kalau mau meriset dahulu. Padahal informasi harus disampaikan secepatnya (menurut mereka). Akibatnya, berbalas komentar lebih cepat dibanding membaca dan menganalisis data.

Akhirnya mereka yang update bisa menjadi key opinion leader (KOL). Bisa karena duluan tahu, atau memang expert di niche tersebut alias kepakarannya tidak diragukan lagi. Sehingga para KOL ini memiliki friend/follower yang luar biasa banyak. Bisa menimbulkan kecemburuan juga. Gen Z mengamati bahwa punya follower banyak itu keren (dan sebenarnya membuat ketagihan!). Berambisi memiliki follower banyak tentu tidak salah, namun menjadi salah apabila follower yang sedikit menjadi sumber datangnya rasa frustrasi.

Beberapa yang perlu kita perhatikan, awasi, kendalikan, dan beri arahan yang tepat terkait dengan Gen Z:

  • Kolaborasi itu bagus dan penting. Semakin relevan untuk masa depan kita. Partisipasi atau kontribusi seseorang harus kita hargai juga. Dalam bentuk daftar pustaka, catatan kaki, dan sebagainya. Dengan kata lain, hindari plagiarisme.
  • Ingatkan pula bahwa adakalanya pengukuran kinerja dilakukan secara individual. Apakah itu ujian di bangku sekolah/kuliah, maupun penilaian kinerja di kantor.
  • Gen Z sangat memperhatikan desain dan bagaimana suatu produk digunakan. User Interface/User Experience (UI/UX). Generasi kita mungkin yang terbaik dalam membuat sesuatu. Namun, gen Z sangat paham bagaimana mengoptimalkan suatu produk demi kemaslahatan umat di dunia.
  • Ada hak orang lain kala berinteraksi/mem-follow/berteman di social media. Ada ruang publik di sana. Bukan social media semau guwe. Disarankan tidak sembarang curhat. Lebih baik materi curhat tersebut dikonversi ke konten yang lebih baik dan memberi manfaat untuk semua.
  • Penegasan dari yang sudah tertulis: tidak perlu frustrasi bila follower kamu masih sedikit. Jumlah follower tidak perlu dianggap sebagai ‘segala-galanya’.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s