Mau Tinggal dan Bekerja di Mana?


Saya lahir dan besar di Balikpapan, sebuah kota di Kalimantan. Sampai kira-kira SMP saya masih bertempat tinggal di sana. Sebagai seorang anak Bugis, saya harus merantau. Bukan karena tuntutan dari orang tua atau yang lainnya, melainkan memang datang dari dalam diri saya sendiri.

Sebagai anak Balikpapan yang jarang ke kota-kota lain di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, orientasi saya hanyalah Pulau Jawa. Konon, Jawa adalah Koentji.

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Ini quote yang manusiawi banget ternyata. Bahkan sudah terlihat di prime customer kami, Zakki dan Wakif. Zakki selalu mau apa yang dimakan Wakif, demikian pula sebaliknya. Kalau lagi menonton nursery rhymes di masing-masing tablet, yang satu sesekali mengintip tontonan ke ‘tetangga sebelah’. Ya padahal sama-sama nursery rhymes juga. Wakif sukanya Ba Ba Black Sheep Have You Any Wool? Zakki senangnya One Littler Finger. Tentang ZaWa, hanya selingan saja ya.

Balik lagi ke “the grass is always greener on the other side”. Ceritanya Jawa sebagai pusat peradaban (pendidikan, ekonomi, dsb) selalu mengundang terjadinya urbanisasi. Termasuk pada saya. Saya lihat ‘rumput’ di Pulau Jawa selalu lebih hijau daripada di Kalimantan. Saya pikir, saya harus coba tinggal di Jawa untuk memastikan kebenaran quote tersebut. Lebay, memang. Hehehe.

Saya ini pernah tinggal di beberapa kota di Pulau Jawa. Literally, benar-benar tinggal ya. Bukan sekedar travelling menginap beberapa malam, apalagi hanya sekedar numpang lewat.

Magelang. Saya tahu persis ‘atmosfer’-nya karena dulu saya SMA di kabupaten ini. Kota dan kabupaten ini nyaman banget untuk para pensiunan. Namun bukan berarti tidak bisa tinggal dan bekerja di kota ini. Akses internet yang semakin memadai, memberikan kita kesempatan. Saya sebut kesempatan karena tidak semua orang melihat atau mengambilnya. Sebagai contoh adalah Agus Magelangan, dedengkot mojok.co bisa termasyhur demikian meski tinggal di Magelang.

Jadi dengan internet, sesungguhnya kita bisa tinggal dan bekerja di mana saja. Tergantung kota mana yang kita suka. Atau karena dengan internet, kita bisa menyesuaikan diri dengan keluarga soal tempat tinggal. Memang tidak semua pekerjaan bisa dikerjakan freelance atau part time, namun internet bisa menjadi sumber penghasilan, kok.

Setelah saya berkeluarga, mindset saya tentang home kemudian bergeser. Tadinya home adalah tempat kita tidur dan beraktivitas. Sekarang home is where my wife and children are

Bandung. Iya, kulinernya enak-enak banget. Orang-orang Bandung memang kreatif. Orang-orang bandung juga suka berkumpul. Banyak komunitas ada di kota ini. Belajar agama juga ada komunitas-komunitas kecil. Halaqoh, namanya. Belajar dari pengajian umum juga ok. Ada ustadz-ustadz seperti Aa’ Gym, atau Aam Amiruddin. Kotanya juga relatif tidak panas. Tidak bisa disebut dingin lagi. Kecuali mungkin sekitar 15 tahun lalu. Sebab Bandung adalah kota yang dirancang untuk kapasitas 2 juta-an penduduk. Sekarang sudah padat sekali kotanya. Kepadatan ini juga yang jadi sumber masalah, soalnya.

Jakarta. Kecuali karirmu bagus, rasanya sudah terlambat untuk memasuki Jakarta. Kalau mau hidup anak dan istri ‘sehat’, mungkin saran yang masuk akal adalah LDM (long distance marriage) atau PJKA (pulang jumat kembali ahad). Yang pertama berarti ketemu anak dan istri hanya pada saat weekend. Yang kedua tidak lebih baik daripada yang pertama. Maaf ya sarannya mungkin tidak betul-betul nyaman.

Sebab tinggal di sekitar Jakarta, yaitu Bodetabek, tidak semudah dulu. Kecuali kita memang beraktivitas di sekitar tempat tinggal. Kalau kita kerja di pusat kota, terutama segitiga emas, ada banyak penderitaan yang harus dilalui. Soal kemacetan, misalnya. Tinggal di Bekasi, naik mobil ke Jalan MH Thamrin? Berangkat dari rumah jam 5 pagi. Teman di Depok kantornya di MH Thamrin, pergi jam 5.30 bersama istrinya yang bekerja di jalan Percetakan Negara.

Waktu saya masih jomblo Rawamangun dulu, saya cari kost yang relatif dekat dari kantor. Dekat banget hingga saya hanya perlu jalan kaki ke kantor. Alhamdulillah tidak harus memakai kendaraan sendiri kalau ke klien. Ada mobil kantor yang sudah ada sopirnya. Tinggal duduk nyaman dan memikirkan pekerjaan. Bukan memikirkan macet.

Surabaya. Pusat dari gerakan ekonomi Gerbangkertasusila. Gresik Jombang Mojokerto Surabaya Sidoarjo Lamongan. Meski tinggalnya di Surabaya, namun sesungguhnya garapan ekonominya cukup luas. Karena koneksi antar kotanya cukup baik (relatif datar dan menggunakan tol). Berbeda dengan Bandung yang seakan jauh kalau mau ke mana-mana: Cianjur, Sukabumi, Ciamis, Garut, dll. Terasa jauh karena jalan raya mengikuti konturnya yang perbukitan.

Surabaya kota yang panas? Heellloooouuuuuuwwwwww. Rasanya cuma ada sedikit kota di Indonesia yang tidak panas. Mau di manapun, panas seharusnya bukan lagi isu. Itu tadi, karena hanya sedikit yang dingin: Bandung, Malang, dan Enrekang. Yang terakhir ini saya belum pernah ke sana.

Balikpapan. Kotanya bersih. Penduduknya tidak terlalu padat. Balikpapan adalah hutan yang dibuat menjadi kota. Bukan kota yang dipaksa untuk memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 20%-30%. Rekan saya (mereka suami istri) bahkan ingin saja tinggal di Balikpapan. Pendapat ini mereka lontarkan tatkala si suami bekerja di Samarinda. Istrinya sudah menetap di Bekasi, ketika itu. Kata mereka, Balikpapan bahkan lebih enak daripada Samarinda. Sayangnya, periuk nasi mereka ya di Samarinda itu. Sebab untuk banyak perusahaan farmasi maupun consumer goods, sebagian besar basisnya memang di Samarinda. Kini si teman sudah ‘dikembalikan’ ke Jakarta.

Ini pengalaman empiris saya yang belum saya riset benar-benar. Semenjak gelombang PHK dan menurunnya perekonomian karena turunnya harga minyak dan batu bara, warga di sini saya perhatikan mulai aware (sadar) untuk membuka dan memiliki penghasilan dari sumber yang lain. Utamanya dari berdagang. Ada yang membuka toko online, ada juga yang membuka kuliner.

Rekan-rekan UKM ada juga beberapa yang menutup usaha kulinernya. Padahal baru sekitar 6 bulan sejak dibuka. Masih dalam proses belajar, sih. Jadi sebelum benar-benar kehabisan uang kontan, lebih baik ditutup saja usaha kulinernya. Kira-kira demikian pikir mereka. Tidak heran karena variasi menunya masih belum beragam. Sehingga sang usaha sulit untuk bertahan hidup. Tapi perjuangan sesungguhnya belum usai.

Ada lagi alternatif lain untuk tinggal dan bekerja.

Pilihlah kota-kota yang memiliki basis perusahaan yang kuat — dan bekerjalah di sana. Misalnya, tinggal di Bontang dan bekerja di Pupuk Kaltim atau PT Badak. Atau tinggal di Gresik dan bekerja di kantor pusat Semen Gresik (sekarang namanya Semen Indonesia). FYI, perusahaan sebesar PT. Semen Indonesia pun hanya memiliki representative office di Jakarta. CMIIW. Jadi banyak fungsi masih di-handle oleh orang-orang di Gresik. Bahkan untuk distribusi semen di Jabodetabek bisa diserahkan kepada distributor mereka. Ya memang tipe bisnisnya memungkinkan mereka melakukan itu, sih. Kalau kota-kota di Kalimantan kan biasanya mengandalkan kelapa sawit atau energi (minyak bumi atau batu bara).

Karena kampung halaman selalu seru.

Belum lama ini saya bergabung dengan WhatsApp Group teman-teman sekolah dulu. Iya, Balikpapan rasanya sempit sekali waktu itu karena kami TK, SD, dan SMP selalu dengan teman-teman yang itu-itu saja. Terungkaplah berbagai peristiwa lawas yang terjadi manakala saya sudah merantau ke Jawa. Mungkin mereka bukan teman SMA saya, bagaimana pun, mereka pernah dan selalu menjadi bagian dari hidup saya. Meski kami tidak lagi sekanak-kanak dahulu, banyak juga yang sudah berkeluarga, namun seru-serunya masih sama.

Pulang ke rumah juga sama. Saya ini bahkan seringkali belum pernah pergi ke tempat-tempat yang menjadi kunjungan wisata banyak orang manakala mereka pergi ke Balikpapan. Misalnya, Penangkaran Buaya di Teritip. Sesungguhnya, kotanya juga berkembang. Pesat, bahkan. Namun dalam persepsi, seakan kampung halaman memang dan masih seperti itu. Memang masih kampung halaman yang selalu seru.

Related Post:

2 thoughts on “Mau Tinggal dan Bekerja di Mana?

  1. Ini mah sudah berkelana di mana-mana….
    Dan ya, Bandung semakin padat. Agak kurang nyaman. Tapi kalau membuat Bahagia orang-orang yang datang. Mengapa tidak….
    Salam dari warga Bandung

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s