Langkah-Langkah Mengembangkan Konten yang Search Engine Friendly Namun Memuaskan Para Pembaca


Tuntutan pada pembuat content marketing semakin berat. Konten tidak hanya harus berhasil menembus halaman pertama SERP (search engine result page) saja, namun juga harus memuaskan para pembaca.

Bagaimana melakukannya? Update kali ini coba membahas bagaimana merealisasikan dua target tersebut. Yakni konten muncul di halaman pertama serta pembaca mendapat manfaat dari konten tersebut.

Ada dua aspek. SEO dan copywriting.

SEO itu adalah seni membuat konten tampil di halaman pertama hasil pencarian.

Kita sudah tahu bahwa SEO bertujuan meningkatkan relevansi artikel di mata mesin pencari sehingga bisa menempati peringkat teratas dari search result.

Sedangkan copywriting adalah seni menuliskan konten sehingga konten tersebut memuaskan, mencerahkan, atau menghibur pembacanya.

Jadi, SEO Copywriting berarti seni menuliskan konten sehingga tidak hanya memberikan pengalaman membaca yang terbaik, tetapi juga konten tersebut sukses muncul di urutan teratas hasil pencarian.

Yaitu memformulasikan kata demi kata, hingga kalimat demi kalimat, sehingga berhasil mempersuasi pembacanya untuk melakukan aksi-aksi tertentu (membeli, berlangganan melalui email, dsb) namun tetap akrab dengan mesin pencari.

Berkawan akrab dengan mesin pencari, adalah sebuah awal menuju rangking yang lebih tinggi dibandingkan dengan konten dari kompetitor yang mentargetkan hasil pencarian sejenis.

Nah, bagaimana caranya? Dalam artikel ini kita akan membahas secara lengkap dan detil beberapa tips-tips utama dalam membuat artikel blog yang ramah terhadap SEO – Search Engine Optimization (SEO) sekaligus pembaca.

(1) Tidak terlampau banyak keyword (kata kunci) langsung; melainkan buatlah tulisan yang manusiawi -bukan untuk menipu mesin– tetapi untuk pembaca.

Kreatif memanfaatkan bentuk lain dari keyword, seperti sinonim, definisi, variasi kosakata, dan lain sebagainya dari keyword yang kita targetkan.

Penempatan kata kunci bisa dengan kata kunci tersebut, atau gunakan kosakata/frase berbeda yang tetap merepresentasikan maksud yang sama. Sebenarnya, makin beragam kosakata yang digunakan, akan semakin disukai oleh Google.

Ingat kembali bahwa pengguna internet yang datang ke Google itu belum persis tahu apa solusi untuk kebutuhan atau masalah dia. Jadi dia akan mencari tahu. Mulai dari produk/layanan apa yang tepat, produk/layanan dengan harga terjangkau, dan lain sebagainya.

Harus kita ketahui bahwa keyword merupakan bentuk upaya kita untuk melakukan targeting (sebagai bagian dari STP) terhadap (calon) pelanggan. Sehingga keberadaan keyword dengan sendirinya akan meng-efisien-kan aktivitas dan proses pemasaran.

Mengenai keyword, instead of berperang di keyword yang hanya sedikit kata (short tail keyword), yang semakin lama persaingannya semakin ketat. Makanya sudah waktunya berpaling ke long tail keyword.

Contoh. Daripada hanya “service AC”, lebih baik “jasa service AC di Jogja”, misalnya. Atau “jasa service AC murah di Jogja”, dst. Jadi gunakan paling sedikit 4 kata. Konsekuensinya adalah kita harus lebih banyak mentarget long tail keyword. Tapi tidak apa. Yang penting kan berumur panjang.

Keyword-nya harus konsisten dan masuk dalam berbagai elemen dalam artikel ya. Misalnya di judul artikel, di slug, hingga di dalam artikel itu sendiri. Berapa jumlahnya? Sebanyak keyword density yang disarankan saja.

Keyword density. Mesin Google punya word counter. Jumlah keyword dibandingkan terhadap jumlah kata dalam konten tersebut. Targetnya sekitar 2%-3%. Terlalu banyak akan membuat Google menganggap konten tersebut adalah “sampah”.

(2) Menurut sebuah sumber –saya sampai lupa sumbernya, tetapi saya memang berulangkali menemukan this figure— rerata panjang artikel dari artikel-artikel yang menempati halaman pertama adalah sebanyak kurang lebih 2,000 kata.

Maksudnya adalah kita perlu menjunjung tinggi kualitas tulisan serta memperbanyak volume tulisan (jumlah kata) lewat analisis/pembahasan mendalam tentang gagasan yang kita tuangkan ke dalam artikel tersebut.

Fokuskan tulisan sebagai sebuah jawaban utuh atas pertanyaan yang merupakan rasa keingintahuan calon pembaca yang kita target.

Dalam proses membuat tulisan yang mendalam, riset harus dilakukan secara intensif. Situs seperti http://www.quora.com dapat menjadi referensi untuk mencari tahu pertanyaan relevan terkait dengan topik yang kita kemukakan.

Rahasia lain untuk mendapat konten berkualitas adalah dengan melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan seorang expert mengenai bidang yang digelutinya.

Jangan lupakan juga tulisan sebagai media untuk menghibur, menyampaikan informasi, atau mencerahkan pembaca kita.

Sebelumnya, saya pernah menuliskan di sini bahwa paling tidak, artikel blog yang bagus itu adalah 500 kata. Tujuh ratus kata sudah oke. Volume 700 kata itu ibarat menulis di majalah sepanjang satu halaman.

Intinya, lebih banyak kata akan lebih baik di mata mesin pencari Google. Bukan kata/kalimat yang berulang dan sengaja diulang-ulang lho ya. Melainkan narasi utuh yang gagasannya saling melengkapi satu sama lain.

Do you want to survive? Tulislah lebih panjang hingga minimal 1500 kata. Supaya relevansi di mata mesin pencari akan lebih baik. Sehingga tulisan kita tidak mudah tergeser dari tulisan-tulisan bervolume sedikit yang lebih baru dirilis.

Mengapa? Sebab menulis 300 kata itu relatif tidak sulit. Demikian pula dengan 500, 700, hingga 1000 kata. Dan sudah banyak sekali yang melakukannya. Bersamaan dengan anda menerbitkan sebuah postingan, ada puluhan bahkan bisa ratusan orang melakukan hal yang sama. Cobalah untuk riset lebih mendalam sehingga bisa menulis lebih panjang.

Jadi, lebih baik menerbitkan satu artikel dalam satu pekan tapi dengan proses dan kualitas yang terbaik. 

Blog seperti www.waitandwhy.com tidak banyak menerbitkan artikel baru, namun setiap artikelnya ditulis sepanjang 1500-2000 kata. Panjang artikel inilah yang menyebabkan blog ini kuat sekali di search engine result page (SERP).

Prioritaskan kualitas tulisan daripada kuantitas jumlah tulisan yang ingin di-publish. Dengan kata lain, tidak perlu memaksa diri setiap hari membuat postingan dengan mengorbankan kualitas.

Ini biasanya yang jadi penyakit blogger pemula. Kurang konsisten. Di satu waktu mem-publish demikian banyak posting. Selanjutnya belum ada postingan baru selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

(3) Headline semakin penting. Bahkan lebih penting dibanding dengan era sebelum internet. Mengapa? Sebab ketertarikan pembaca dimulai dari headline yang menarik, bombastis, atau sangat menjual janji kepada pembacanya.

Bagaimana caranya? Sertakan angka dalam judul, atau gunakan kata sifat yang bombastis. Bisa juga “janji” yang memberi solusi atas kebutuhan/permasalahan/pertanyaan calon pembaca.

Namun hindari headline yang hanya memancing klik saja. Biasa disebut click bait. Jadi artikel dengan judul menarik, namun membuat pembaca merasa tertipu dengan konten di dalamnya yang jelas-jelas berbeda dengan judul headline.

Alangkah indahnya bila kita jujur mengenai konten yang kita sampaikan. Yaitu melalui headline yang benar-benar merepresentasikan konten yang di bawahnya.

(4) Terkait tipografi. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Sebab tiadanya jarak di antara paragrafnya. Maka dari itu berilah ruang yang cukup setelah 3-4 baris kalimat.

Tipografi juga bagaimana kita memakai bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita.

Kesimpulan.

Jadi si mesin pencari benar-benar melihat karya kita sebagai sebuah tulisan yang baik, bukan tulisan ala kadar yang hanya ingin nongkrong di halaman pertama SERP.

Google juga mempertimbangkan seberapa sering suatu website dikunjungi. Makin sering dikunjungi, makin mengangkat relevansi website tersebut terhadap keyword yang diketikkan oleh pengguna internet.

Buatlah blog atau website anda bukan yang sekedar dikunjungi kemudian terlupa. Melainkan pengunjung betah berlama-lama di sana. Pancing agar pengunjung melakukan klik demi klik di blog anda untuk menelusuri postingan yang lain.

Bagi Google, relevansi adalah segalanya. Makin relevan, makin tinggi letaknya dalam hasil pencarian. Bila di dalam artikel tersebut ada beberapa link, kemudian CTR-nya tinggi, ini juga menjadi faktor yang akan dipertimbangkan oleh Google dalam menempatkan artikel tersebut ke dalam SERP.

CTR=Click-Through-Rate, yakni seberapa sering klik dilakukan oleh pengunjung website dalam artikel tersebut.

Semoga tulisan ini padat manfaat, serta memberi manfaat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s