R.E.S.I.G.N.


#UdahResignAja pernah dikampanyekan oleh beberapa penggiat internet marketing. Para pelaku di industri yang belum lama lahir ini mulai “menghasut” pekerja formal dan informal yang sudah mapan dengan posisi dan pekerjaan yang digeluti.

Salah beberapa konten “provokasi”-nya adalah bahwa bisnis menjanjikan kebebasan financial (financial freedom), maupun fleksibilitas waktu (time flexibility). Lalu mereka terus mengangkat dan mengungkit kelebihan bisnis/berdagang sendiri ini.

Treatment mereka berbeda terhadap peran-peran kuli di perusahaan (baca: karyawan), mereka mengulang dan mengulang betapa buruknya 7P (pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan). Pergi pagi pulang petang seperti kebanyakan orang berarti pergi saat macet dan pulang ketika macet.

Kalau untuk sekali jalan saja bisa menempuh 1 jam perjalanan, dengan jam masuk kantor pukul 7 dan selesai pukul 4 sore, berarti harus pergi pukul 6 pagi dan baru tiba di rumah pukul 5 sore.

Satu jam perjalanan bila lancar tidak pernah jadi masalah. Bagaimana bila satu jam hanya berisi kemacetan belaka? Kemacetan bisa membuat psikis tidak nyaman.

Itu yang masih beruntung. Selain itu, masih banyak yang benar-benar mengalami pergi sebelum matahari terbit dan baru pulang setelah mentari tenggelam. Sepanjang hari kerja, tidak menikmati sinar matahari dalam perjalanan.

Misal rekan saya yang tinggal di Bekasi dan harus menuju Semanggi. Dia berangkat pukul 05.00 pagi. Kalau pekerjaan sedang tidak lancar, dia baru pulang setelah Maghrib. Rerata waktu tiba di rumah adalah 19.30. Dengan catatan pulang on time.

Being entrepreneur or employee, bisa jadi bukan pilihan sama sekali bagi beberapa kalangan. Ada yang terpaksa jadi wirausahawan, ada juga yang tidak punya pilihan lalu harus menjadi karyawan.

Tapi bagi mereka yang sudah menjadi karyawan, namun merasa ada pilihan untuk menjadi pengusaha/pebisnis, pindah kuadran bisa menjadi pilihan yang mudah atau sulit. Demi fleksibilitas waktu dan kebebasan finansial itu tadi.

Dan untuk beberapa orang, ini adalah kasus yang sangat-sangat berat untuk dipilih. Anda harus memikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan resign dari pekerjaan dan memulai karir sebagai enterpreneur.

Jadi, mari kita lihat kasus ini secara objektif. Apa yang disampaikan oleh para internet marketer juga tidak sepenuhnya salah. Khususnya mengenai pendapatan dan bagaimana waktu dihabiskan untuk bekerja.

Pendapatan/omzet pebisnis lewat internet –sebagaimana pebisnis pada umumnya– punya potensi untuk naik, naik, dan naik terus. Berbeda dengan karyawan yang gajinya mentok kalau posisi sudah mentok. Palingan kenaikan gaji baru terjadi setahun sekali untuk mengikuti inflasi. Bonus tidak selalu ada; karena kinerja perusahaan bisa di atas atau di bawah rata-rata pertumbuhan pasar.

Waktu? Kalau sistem bisnis sudah berjalan lancar, sang pebisnis malah lebih banyak ongkang-ongkang kaki sahaja –sembari mencari peluang bisnis yang lain.

Di samping menunjukkan kelemahan sebuah pilihan –menjadi sekrup-sekrup kapitalis–, mereka juga menunjukkan keunggulan dari pilihan yang lain. Yakni dengan menjadi internet marketer.

Ada banyak potensi pendulang uang dari internet. Mulai dari berperan sebagai agensi media sosial, Google Ad Sense (dapat uang dari iklan di blog), affiliate marketing (terutama produk-produk digital), reseller/dropshipper dari produk-produk fisik, dan lain sebagainya. Selengkapnya sudah pernah diulas di sini.

Apalagi berbagai infrastruktur pendukung internet kian berkilau: implementasi teknologi 4G LTE, fiber optic semakin banyak dipakai, peningkatan penggunaan smartphone, e-commerce semacam bukalapak.com dan tokopedia.com, internet of things (smart city, smart home, dll).

Believe me or not, penetrasi internet di negara kita akan semakin meluas.

Para internet service provider (ISP) juga bertambah banyak. Misalnya Indihome, First Media, Biznet, dll. Yang diuntungkan adalah konsumen akhir. Harga akan semakin turun dengan layanan yang semakin berkualitas.

Namun demikian menggiurkannya kesempatan menjadi entrepreneur berbasis internet, hendaknya anda tidak mudah terpengaruh begitu saja. Apalagi baru dengar kemarin, lantas sudah mau mengajukan resign dari kantor hari ini juga.

Anda tetap harus mempertimbangkan masak-masak. Apa saja aspek yang layak diberikan perhatian lebih? Berikut ini kita coba ulas lebih mendalam. Jangan resign sebelum anda membaca dan menyiapkan beberapa hal berikut ini:

(1) Alasan mau resign. Apakah anda termasuk salah satu dari alasan berikut ini? Memang tidak pernah cocok bekerja dengan scope/fungsi/job desc yang sempit. Alias selalu ingin mengerjakan banyak fungsi dalam perusahaan.

Setiap enterpreneur punya keunggulan masing-masing. Sebaiknya dikenali dulu, apakah kuat di business development, atau kompeten di penjualan, dst. Tidak ada enterpreneur yang kuat di semua fungsi bisnis. Yang dia lakukan hanyalah, fokus di kemampuan dia, lalu menyerahkan fungsi lain kepada yang lebih kompeten.

Atau alasan seperti berikut ini: berpikir lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil –apalagi kalau kolamnya milik sendiri– daripada menjadi ikan kecil di kolam besar.

Anda harus punya alasan terbaik sebelum resign sebagai karyawan kemudian beralih menjadi pemilik perusahaan. Boleh saja alasan finansial, namun lebih baik bila anda menemukan dan punya alasan-alasan yang lebih fundamental –atau yang datang dari lubuk hati terdalam.

Mengapa harus alasan yang benar-benar datang dari hati sendiri? Kuncinya bukan saat anda sukses, melainkan saat anda terpuruk. Ketika anda merasa sedang jatuh sejatuh-jatuhnya, apa anda akan berubah haluan (mengganti bisnis atau kembali jadi karyawan) begitu saja?

Hanya fondasi kuat saja yang akan membuat anda bertahan dalam profesi/posisi yang benar-benar anda inginkan, bahkan ketika sedang tertimpa berbagai kemalangan.

Prinsip-prinsip apa yang kita yakini dan jalani dalam hidup, sehingga ketika kita terpuruk sekalipun, kita tetap bertahan dalam profesi pebisnis kita.

(2) Suka menjual. Kalau sekedar suka menawarkan produk/jasa kepada orang yang membutuhkan, cukup bergabung dengan bagian penjualan (sales). Jika memang suka mencapai dan bahkan melebihi target, berarti anda cocok dengan berkolaborasi dengan fungsi penjualan.

Tapi bila anda suka menjual, sekaligus ingin “menguasai” seluruh operasional usaha, maka menjadi enterpreneur adalah langkah yang paling tepat. Salah satu sifat yang harus dimiliki entrepreneur, menurut saya, adalah sikap greedy terhadap omzet dan profit.

Harus suka duit. Alias selalu ingin bisnis yang tumbuh. Yaitu menumbuhkan (to grow) kapasitas/kemampuan sistem bisnis dalam menghasilkan omzet. Kapasitas menghasilkan 10 juta rupiah, tentu berbeda dengan kapasitas menghasilkan 1 milyar rupiah. Untuk itu, si pemilik bisnis harus terus ikut mengembangkan kapasitas pribadinya.

Kenapa bisnis harus tumbuh terus? Being entrepreneur itu penuh dengan eksposur risiko. Dari eksternal, semisal pelanggan atau kompetitor. Dari internal, misal karyawan yang tiap tahun gaji harus naik (minimal mengikuti inflasi). Untuk mengasuransikan berbagai risiko tersebut, maka bisnis harus terus tumbuh omzetnya.

(3) Tidak melulu menjadi operator. Harus berkembang menjadi leader –dimulai dengan merekrut karyawan untuk menggantikan operasional harian. Mulai berubah dari sekedar pelaksana harian menjadi pemikir dan eksekutor aspek strategis: yang terkait dengan pertumbuhan usaha, dan berdampak jangka panjang.

Mulai menanamkan kepercayaan kepada orang lain. Berkomunikasi dan memberi contoh (role modeling) kepada karyawan. Hindari pemikiran, “Tidak ada saya, tidak akan berjalan ini usaha”. Terjebak dalam pemikiran tersebut akan membuat UKM selamanya tetap UKM.

Usaha yang dikerjakan seorang diri itu ibarat menjadi penjual nasi goreng. Semua serba dikerjakan sendiri. Pencarian lokasi usaha, investasi, belanja bahan baku, operasional harian, pencatatan keuangan, dst. Usaha susah berkembang kalau begini.

(4) Start action. Melakukan 1 langkah kecil ke arah yang tepat, adalah lebih baik daripada langkah besar yang terlampau lambat dieksekusi. Sebab bisnis tidak harus selalu punya rencana jangka panjang yang ditulis. Ada lebih baik, tetapi harus fleksibel dan tidak menghambat eksekusi.

Maka dari itu, anda tidak harus langsung resign. Justru kembangkan usaha sebelum anda mengundurkan diri. Atau sebelum anda dipecat. Atau sebelum anda pensiun. Atau sebelum bencana finansial –semisal utang kartu kredit yang terlampau banyak– mengguncang rumah tangga.

Rumah tangga yang keuangannya terguncang sangat berbahaya sekali. Mungkin anda sudah punya istri dan anak-anak yang harus diberi makan serta SPP yang harus dibayar. Atau kredit rumah dan kendaraan yang harus dicicil setiap bulan. Jangan sampai ini terjadi.

Sisi lain, pemahaman dan kemampuan akan standard kualitas produk/jasa belum dikuasai, sehingga harus bertahap membangun penguasaan atas kompetensi tersebut.

Ingat, bedanya bisnis 10 juta dengan bisnis 1 milyar terletak pada kemampuan mengelola bisnis tersebut. Kompetensi tidak datang dari langit. Tapi detilnya harus dipelajari secara rutin dan ekskalatif.

Namun demikian, fokus pastinya lebih baik. Daripada nyambi keduanya, lebih baik pilih salah satu dan kemudian fokuskan. Daripada target-target pekerjaan di kantor tidak tercapai, sementara permasalahan bisnis sendiri juga tidak kunjung tuntas terselesaikan. Daripada tetep bekerja dan mencuri-curi waktu kerja di perusahaan untuk aktivitas bisnis pribadi, lebih baik sekalian saja jadi full-time entrepreneur.

Maksud saya, pastikan tidak selamanya terjebak dalam dua dunia. Bila memang ada bisnis keluarga, lebih baik suami yang bekerja dan istri yang mengelola bisnis keluarga tersebut. Atau sebaliknya. Saya pribadi penganut “satu di antara sepasang suami-istri cukup satu saja jadi pekerja”, dengan yang lain sebagai pengelola bisnis.

Pamit Baik-Baik.

Etika tetap utama. Sikap kita menentukan bagaimana dunia akan bereaksi terhadap kita. Bila ingin resign, kemukakan baik-baik. Jangan sampai hubungan rusak. Kita tidak pernah tahu bagaimana rezeki –terutama yang melalui rekan lama– akan mampir ke kita.

Pergi tampak muka, pulang tampak punggung. Datang baik-baik, pamit dengan baik-baik. Lamar baik-baik sesuai mekanisme dan prosedur yang ditetapkan perusahaan, dan pamit pergi juga dengan cara yang baik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s