Beberapa Tips Marketing Lewat Instagram Yang Dapat Anda Terapkan Di Bisnis Anda


Kenapa harus Instagram?

Pelanggan yang sesuai dengan format konten gambar, tidak boleh dipaksakan berkomunikasi dalam bahasa tulisan (teks). Itu salah satu alasan memakai Instagram.

Marketer yang sudah terbiasa membuat dan mendistribusikan konten dalam bentuk tulisan, tidak boleh demikian egois untuk hanya menuruti keinginannya semata. Harus kreatif menggunakan medium yang cocok dengan perilaku pelanggan.

Idealnya, marketer itu peduli pada pelanggannya. Sehingga akan berupaya maksimal untuk membangun komunikasi dan engagement dengan pelanggan. Yaitu dalam semua bahasa dan medium yang dikehendaki oleh target market.

Saat ini, Instagram sudah memiliki pengguna aktif bulanan sebesar 400 juta pengguna (users) di seluruh dunia. Ini adalah potensi besar yang jadi alasan utama mengapa kita harus memakai instagram.

Tapi, bagaimana memaksimalkan Instagram?

Seperti misalnya, tipe apa gambar apa yang paling tepat untuk pelanggan kita? Beda segmen yang ditarget, tentu berbeda tipe. Jualan tas untuk perempuan yang sudah berkeluarga, sudah pasti berbeda dengan jualan produk-produk kuliner.

Kita harus coba dan eksplorasi terus, hingga kita menemukan winning campaign-nya.

Dalam eksplorasi, kita bisa lakukan 2-5 percobaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Tinggal kita lihat dan bandingkan hasilnya, pada indikator-indikator yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Ini yang dinamakan split testing.

Ada dua kelompok besar, mengenai kesimpulan yang bisa kita buat. Apakah ada –yang pertama–jenis campaign yang harus kita stop dan hindari, atau justru–kedua adalah–winning campaign yang bisa kita ulang dan optimalkan lebih lanjut.

Kenali Perilaku (Behavior) Pengguna Instagram

Minat (interest) pengguna Instagram bisa kita eksplorasi dari beragam hashtag yang ada. Jadi ketika kita mengamati kualitas suatu gambar, perhatikan juga apa saja hashtag yang dipakai. Sebab di sisi lain, hashtag tersebut juga yang akan digunakan oleh pengguna lain untuk mencari gambar-gambar yang sesuai minat mereka.

Instagram dengan gambarnya itu bisa dianalogikan dengan mesin pencari Google yang mencari berdasar relevansi teks. Jadi ketika pengguna Instagram ingin menemukan gambar sesuai minat, mereka akan mengetik sesuai hashtag yang mereka tahu pasti akan menggambarkan kebutuhan mereka.

Sebagai contoh. Andaikan saya adalah seorang yang tinggal di Jogja, atau sedang berkunjung ke Jogja. Kemudian saya ingin wisata kuliner di Jogja. Maka saya akan mencari gambar-gambar dengan hashtag #kulinerjogja. Atau misalnya seseorang yang dalam kunjungan kerja ke Semarang akan memakai #kulinersemarang.

Hal ini sangat berkait dengan produk atau layanan yang berada di atau ditawarkan di Instagram. Beda produk/layanan, beda pula perilaku user. Tipe kuliner, terutama yang dimakan di tempat, secara sengaja diidentikkan atau diasosiasikan dengan kota tertentu.

Segmen berbeda, semisal penyuka, pembeli, dan kolektor tas wanita, tidak akan menggunakan hastag semisal #tasjogja. Sebab, produk jenis ini tidak identik dengan wilayah tertentu serta dapat dikirim antarkota tanpa mengalami kerusakan atau basi.

Selain melihat hashtag berdasar jenisnya, kita juga perlu mengetahui seberapa banyak image yang dirilis (published) terkait dengan hastag tersebut. Sebaiknya tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Terlalu banyak berarti foto/gambar anda akan bersaing ketat dengan yang lain. Terlalu sedikit bisa dimaknai bahwa hashtag tersebut kurang diketahui orang sehingga masih sedikit yang mem-posting gambar dengan hashtag tersebut.

Penting pula untuk tidak sekedar ikut arus. Ciptakan sendiri brand positioning sehingga timbul perbedaan dengan kompetitor. Gunakan hastag yang sama sekali berbeda dengan para pemain yang sudah berada di Instagram lebih dulu.

Seiring dengan pertumbuhan Instagram user, kesempatan kita untuk menciptakan awareness akan terus tumbuh pula. Dengan kata lain, makin banyak yang akan mengetahui mengenai brand yang kita garap. Namun demikian, best way to use Instagram adalah dengan menjadikan medium ini sebagai plaftorm untuk menciptakan engagement dengan pelanggan.

Coba kita simak hasil riset berikut. Bahwasanya Instagram memiliki tingkat engagement tiap pengikut (per-follower engagement rate) yang 58 kali lebih baik daripada facebook dan 120 kali lebih baik daripada twitter. Datanya berasal dari sini.

Platform paling oke untuk melakukan kontes mengenai brand

Ini mirip dengan twitter dan blog sebagai platform untuk membuat kontes dengan hashtag tertentu. Hanya, keduanya dalam bentuk teks saja ‘kan? Instagram sebagai image-based apps sedang ‘di atas angin’ karena memang image (yang lebih cepat ditangkap dan dicerna oleh indera penglihatan) lebih unggul dibanding text yang harus dibaca. Apalagi produk dan services juga lebih mudah dideskripsikan lewat gambar/foto.

Model user-generated content (UGC) seperti di kontes yang sudah dijelaskan di atas, engagement rate-nya lebih baik daripada sekedar meminta like dari para user. Kelebihan lain dari kontes menggunakan medium Instagram adalah sebagai berikut:

  • Ketika user yang bersangkutan meng-upload image, tentu para follower mereka juga terekspos akan hashtag yang kita tetapkan
  • Ada koneksi emosional (dari yang merasa biasa saja, sampai dengan yang merasa excited banget) antara user dengan brand kita dalam campaign ini
  • Rangkaian konten tercipta dengan sendirinya dan dapat dikonsumsi dengan mudah oleh mereka yang men-search hashtag yang sedang dikampanyekan
  • Bila hastag kita mengandung brand name kita, kampanye ini telah memaksimalkan potensi dari pelanggan selaku produsen dan konsumen gambar/foto yang terkait dengan brand kita.

Medium untuk mentarget anak muda

Mayoritas anak muda Indonesia (usia 18-35 tahun) yang secara aktif menggunakan Instagram, banyak mem-follow akun-akun retailers. Sebanyak 56.2% mengakui dirinya mem-follow brand-brand retailers.

Jenis retailer yang paling banyak diikuti adalah ritel fashion/apparel/clothes sebanyak 67.5%.

205168

Oleh lembaga riset yang sama, JakPat, menemukan bahwa mendekati 7 dari 10 pengguna mobile internet di Indonesia usia 18-35 tahun menggunakan Instagram secara rutin setiap pekan.

Setinggi 73.8% responden yang berusia 20-25 tahun mengaku menggunakan Instagram. Reach ini jauh lebih baik daripada kategori usia 30-35 tahun yang hanya sebesar 55.8%. Dapat kita simpulkan bahwa medium Instagram sangat oke dalam mentarget segmen berusia muda.

Daripada meng-upload image di akun milik sendiri, users lebih suka melihat-lihat akun-akun yang terkait dengan belanja online. Itu yang utama –sebesar 53.0%. Kedua-utama adalah lelucon yang banyak disampaikan oleh akun-akun yang berfokus dengan materi yang memancing tawa tersebut (51.6%). Coba deh, follow dan pelajari akun-akun seperti @bikinnyengir atau @dagelan.

Screen shot 2016-05-15 at AM 11.05.15

Peringkat ketiga dari aktivitas-aktivitas Instagram user di Indonesia adalah adalah posting image seputar travelling (48.4%). Tentu saja hal ini terkait dengan kelahiran dan keberadaan kelas menengah yang telah berperan selaku konsumen dan endorser di industri travelling kita yang terus tumbuh setiap tahunnya.

Lebih lengkap bisa dilihat di riset eMarketer di sini.

204304

Akuisisi Instagram oleh Facebook

Saya kira, akuisisi perusahaan Instagram oleh perusahaan Facebook, merupakan satu langkah strategis Facebook dalam memperbaiki algoritma image di facebook. Facebook sangat-sangat mengutamakan pengalaman pengguna (user experience) dalam bermain facebook.

Facebook tidak akan membombardir pengguna dengan berbagai iklan sekaligus. Melainkan satu demi satu, selama selang detik-detik tertentu.

Sehingga, penting bagi facebook untuk dapat menemukan gambar yang memang relevan dengan tiap-tiap user. Tidak heran kan mereka menempuh jalan tersebut lewat akuisisi Instagram. Logika yang sama berlaku untuk pembelian WhatsApp oleh Facebook.

Sebab jual beli perusahaan tidak selalu seperti membeli lalu menjual aset. Perusahaan tidak selalu bisa dibandingkan dengan rumah atau tanah yang harganya cenderung naik. Perusahaan punya karakteristik khusus. Yakni, perusahaan adalah tempat di mana paten-paten bertebaran.

Jadi dengan membeli perusahaannya, maka paten-paten di dalamnya juga akan ikut dimiliki oleh perusahaan pembelinya. Dan itulah yang telah dilakukan oleh perusahaan Facebook.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s