Desember, Bulan Evaluasi


Sekarang sudah memasuki bulan terakhir dari setiap tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di bulan-bulan ini kita membuat evaluasi atas semua aktivitas.

Idealnya, dari evaluasi yang sudah berbentuk dokumen itu, jadi bahan untuk menyusun perencanaan yang baru. Rencana juga harus ada dokumennya. Supaya selalu bisa ditinjau.

Namanya rencana ya harus ada goal yang mau dicapai. Idealnya, goal di periode berikut itu lebih tinggi/berat daripada tahun ini atau periode sebelumnya.

goal-quotes-82

Yang sudah biasa kita dengar adalah SMART: (S)pecific (M)easurable (A)ttainable (R)ealistic (T)imely.

Om Annas Ahmad (@annasahmad) kemarin baru menulis 4 kesalahan dalam menyusun goal. Keempatnya adalah (1) too big, (2) too many, (3)not specific, (4) not written.

Not specific itu sudah menyalahi aturan SMART sejak huruf pertama. Sedangkan tidak menyusun dokumen rencana berarti menyalahi aturan not written.

Back to topic. Jadi Desember itu bulan evaluasi ya. Apa yang dievaluasi? Ya plan-nya dong, ya. Apa yang pernah dikerjakan (baca: aktivitas), dan hasilnya seperti apa. Apakah goal-nya tercapai atau tidak. Catatannya adalah bagaimana memperbaiki aktivitas tersebut, atau bahkan bagaimana meningkatkan hasilnya.

Bisa repot mengevaluasi sesuatu yang belum pernah direncanakan dan/atau ditargetkan.

Evaluasi itu ibarat menerima rapor waktu sekolah dulu. Atau ibarat menghitung Indeks Prestasi (IP) sendiri setelah rangkaian kuliah, quiz, praktikum, dan ujian selesai.

Hasil evaluasi itu kadang menohok, kadang membahagiakan. Apalagi kalau kita membandingkan dengan orang lain. Padahal, tidak selalu tepat. Karena kondisi awal tiap orang kan beda-beda. Kerja keras antar orang juga tidak selalu bisa dibandingkan.

Hasil evaluasi itu menohok (manakala target tidak tercapai) karena kita pasang goal terlalu tinggi. Mungkin karena bikin goal-nya pas di seminar motivasi ya. Jadi lagi terpengaruh adrenalin. Akibat omongannya si motivator yang (terlalu) berapi-api. Hehe😀

Jangan lihat hasil evaluasi aja, kali ya. Kita juga perlu melihat prosesnya. Apakah dari prosesnya itu kita merasakan fun and challenging. Ibarat perjalanan menggapai puncak gunung, lihat kanan kiri juga donk.

Biar bisa sumringah melihat pemandangan kiri-kanan yang banyak pohon cemara itu. Seperti lagu kanak-kanak itu masih terngiang-ngiang dan berputar otomatis di dalam kepala saya.

Goal itu harus bikin tetap semangat lho. Makanya ada namanya quick win. Yaitu goal yang enggak terlalu besar. Bisa dicapai dalam waktu pendek. Sebutlah 3 bulan. Kalau tercapai kan jadi tambah semangat.

Makanya ada program 100 hari, ‘kan. Karena program yang berhasil dalam jangka pendek ini akan memberi semangat untuk meraih goal yang jangka panjangnya. Katakanlah untuk 3-5 tahun ke depan.

Di pemerintahan tingkat nasional belakangan (sudah sejak beberapa periode kepemimpinan presiden, sebenarnya) gencar menyuarakan program 100 hari ini. Sebagai penyemangat para pasukan (baca: kabinet) baru untuk bekerja cepat dan meraih hasil dalam 100 hari.

Income sebagai sebuah goal. Kalau income 10 juta rupiah adalah goal, maka lingkungan harus mendukung. Goal-nya 10 juta rupiah, tapi teman-temannya masih yang 5 juta rupiah, maka sulit mencapainya.

Teman-teman itu faktor eksternal ya. Masih ada faktor internal juga. Yaitu sumber daya yang kita punya. Kalau waktu engga usah dibahas ya. Semua orang kan jatahnya sama-sama 24 jam. Komputer untuk bekerja, kendaraan pribadi untuk mobilitas sana-sini, dan sebagainya yang turut berkontribusi dalam keberhasilan kita mencapai goal.

Padahal sekarang kan era internet ya. Setidaknya satu kesulitan kita untuk berbisnis sudah teratasi. Apalagi internet membuka beberapa jenis peluang bisnis yang baru.

Pendidikan sebagai sebuah goal. Misalnya nih, kita mau S2. Tapi kok ya belum dimulai-mulai juga. Ada aja hambatannya. Mulai dari masih ketagihan kerja, takut kalau kuliah lagi malah gak beres-beres, dan seterusnya. Kalau sudah begini, biasanya galau terus kapan memulai S2.

Kegalauan berikutnya adalah sumber dananya tidak kunjung ada. Kepakai untuk kredit inilah, atau digunakan untuk bayar itulah, dst. Ya mungkin yang bersangkutan hanya belum tahu persiapan dana pendidikan S2 saja.

Kita harus bertanggung jawab terhadap goal yang di-setting sendiri 

Kemarin diskusi sama Mbak Mega, founder and owner-nya CommTech, sebuah lembaga pelatihan. “Kalau di komunitas Tangan Di Atas (TDA), kita tidak boleh menyalahkan pihak eksternal. Jadi harus membenahi internal kita”, kira-kira begitu pesannya.

Nah bicara soal sumber daya yang jelas-jelas semua orang memiliki dalam jumlah sama: waktu. Mereka yang berhasil, memberlakukan skala prioritas. Sebenarnya semua orang pakai skala prioritas, cuma ada yang 3 saja, tapi ada juga yang sampai 100 prioritas, hehe😀

Saya coba rekomendasikan dua buku ya. Yang juga direkomendasikan oleh banyak orang. Belum sempat saya sentuh sebenarnya. Karena saya belum beli dan belum pinjam, hehe. yaitu “Eat that Frog”-nya Brian Tracy, sama “4 Hours Workweek”-nya Timothy Ferris.

Eat that Frog. Yaitu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan “berat” di pagi. Terutama pekerjaan yang berat sekaligus sering ditunda. Bagaimana jika frog ini masih di piring sarapan kita sementara hari sudah menjelang siang? Maka pekerjaan-pekerjaan berikutnya sudah pasti tertunda..

Konsep ini memang cocok untuk manusia pagi. Jadi mereka yang konsentrasi maksimal di pagi hari. Jadi belum tentu cocok untuk manusia malam seperti kamu. Iya, kamu. Kamu yang suka baru dapat ide untuk kerjaan pas jelang tengah malam :p

4 Hours Workweek. Dosen tamu di Princeton University ini mengajukan konsep DEAL (Definition, Elimination, Automation, Liberation).

Dua poin paling menarik untuk kita terapkan ke dalam hidup kita adalah (1) bagaimana mengatur ulang waktu kita dengan mengalihdayakan sebagian aktivitas kita kepada pihak lain, alias Elimination.

Dan (2) membuat bisnis kita berjalan secara otomatis sehingga kita tidak perlu selalu terlibat di dalamnya (konsep Automation).

Share article ini ya jika kamu merasakan manfaatnya..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s