5 Saran yang Tidak Bisa Diabaikan Freelancer Pemula


Di postingan sebelumnya saya sempat menyampaikan sedikit cerita tentang saya. Hehe. Sedikit narsis boleh dong ya😀

Sekarang saya ceritakan terkait babak baru yang saya jalani. Terkait ini, artikel pendahuluannya adalah menghitung fee untuk freelance.

Bagi kamu para mahasiswa yang sudah membuka usaha jasa freelance bersama teman, ada baiknya untuk tidak melanjutkan usaha tersebut pasca lulus. Maksudnya adalah, tidak ada salahnya untuk ikut bekerja permanen lebih dulu di salah satu usaha yang sudah mapan.

Karena pengalaman kerja permanen itulah yang membentuk dan memperkaya diri kita. Sambil kita bisa membayangkan dan menyimpulkan, seberapa mampu kita bekerja/berbisnis secara mandiri.

Mari belajar dari mereka yang baru bekerja 3-5 tahun lalu sudah merasa bisa bekerja mandiri (freelance) & mengelola klien sendiri. Kenyataannya adalah hanya bisa bertahan sebentar, lalu terpaksa melamar kerja, kemudian bekerja kembali.

Akibatnya jadi lebih sulit karena usia sudah bertambah, harus menyesuaikan diri kembali, dan seterusnya.

Freelance memang tidak mudah. Sebab itu sebelum memulai freelance, pastikan kamu tahu tekanan mental dan finansial yang akan dihadapi. Freelance sudah pasti tidak sama dengan bekerja sebagai karyawan di perusahaan yang sudah mapan dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.

Untuk bertahan dari tekanan finansial, kamu harus punya cadangan dana. Ingat lho, belum tentu langsung mendapat dan punya proyek ketika memulai freelance. Di samping itu, belum tentu di setiap bulan-bulan awal akan penuh dengan proyek.

Skenario yang mungkin terjadi adalah: ada bulan-bulan yang ramai proyek, dengan bulan-bulan lain yang sepi proyek. Dalam jangka pendek, cadangan dana akan menolong kamu untuk bertahan. Dalam jangka panjang, perencanaan dan eksekusi pekerjaan/proyek, serta manajemen pelanggan adalah kunci untuk bertahan hidup.

Risk Management 

Belajar sesuatu yang baru adalah salah satu cara mengelola risiko yang mungkin terjadi berkait pekerjaan freelance. Di luar sana sudah banyak freelancer–thanks to digital technology and internet–yang belajar menguasai keterampilan kamu saat ini.

Cepat atau lambat, kamu pasti telah, sedang, dan akan berkompetisi dengan mereka. Pelajaran keterampilan yang baru akan membantu kamu memperoleh proyek yang berbeda.

Misalnya, web programming, software desain, dan sebagainya. Semuanya bisa kamu pelajari di mana saja, melalui laptop dengan spesifikasi yang relatif sama.

Standard hasil pekerjaan para freelancer juga beragam. Ada yang luar biasa –sudah berpengalaman, berkompeten, dan tahu persis deliverables-nya yang diberikan–, ada juga yang baru belajar—merasa bisa dan percaya diri setelah baru mampu mengoperasikan software pendukung pekerjaan.

Jadi sebagai freelance jangan merasa sudah jago. Merasa sudah bisa mengerjakan operasional pekerjaan sendiri, serta merasa sudah mampu sendirian menangani klien. Freelance harus terus belajar.

Tidak hanya belajar kemampuan yang baru dan berbeda. Tetapi juga belajar berani berkolaborasi dengan orang lain, dan mau mempelajari sesuatu yang baru.

Terkait belajar materi baru, bisa dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Yaitu belajar yang disuka saja. Artinya karena suka –dan belum tentu ada kliennya—maka materi tersebut dipelajari. Freelancer tipe ini suka menumpuk materi pembelajaran di computer kesayangannya. Hati-hati, jangan-jangan kamu termasuk freelancer tipe ini. Hehe😀

Perilaku tersebut agak berisiko. Karena tidak siap dengan kebutuhan klien yang serba mendadak –dan cenderung baru—sehinggal gagal meraih kesempatan portfolio maupun laba yang baru.

Kategori kedua adalah freelancer yang belajar materi baru karena tuntutan pasar yang sedang booming –alias klien potensial yang mungkin datang—atau existing client yang menantang kamu dengan pekerjaan jenis baru yang belum pernah kamu kerjakan sebelumnya.

Tantangannya sudah jelas: belajar sesuatu yang belum kita sukai, alias tidak passion, dan mungkin berakibat pada menurunnya kualitas pekerjaan –karena tidak sesuai kata hati. Bagaimanapun juga, tantangan-tantangan ini harus diatasi sesegera mungkin.

Ingat yang dialami oleh Michaelangelo: dapat uang dari melukis, tetapi punya passion memahat patung. Beruntunglah mereka yang memiliki passion dan dapat memperoleh pendapatan darinya.

Belajar Operasional Bisnis

Karena ada dua aspek besar dalam pekerjaan freelance. Pertama, aspek operasional yang biasanya menuntut kreativitas tinggi supaya cipta karya-nya luar biasa. Kedua, aspek bisnis yang harus berjalan rapih dan sistematis.

Aspek pertama tidak perlu dijelaskan. Mungkin kamu lebih jago daripada saya. Hehe. Aspek kedua ini yang menuntut ketelitian terhadap detail. Mulai dari pembuatan proposal, presentasi rencana pekerjaan, closing penjualan, dan seterusnya.

Pokoknya segala yang terkait dengan cara-cara membuat pelanggan membayar kamu.

Juga ada administrasi semisal Surat Perintah Kerja (SPK) yang menjadi dokumen bahwa klien setuju mempekerjakan kamu. Bentuk lain dari SPK adalah Purchase Order (PO).

Ada pula dokumen penagihan (invoice) yang kamu kirimkan kepada klien setelah pekerjaan selesai. Klien biasanya tidak mengeluarkan sembarang uang begitu saja. Pengeluaran uang harus mengikuti invoice dari penerima pekerjaan.

Atau kwitansi setelah klien sudah membayar kamu. Kwitansi adalah dokumen bukti pembayaran klien kepada kamu.

Waktu dan Ruang Kerja

Pesan saya yang pertama, jangan bekerja di rumah. Minimal bekerja di dekat rumah. Kamu perlu keluar rumah, melihat jalan raya dan orang-orang setiap hari, serta kembali ke rumah untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga.

Penyatuan ruang kerja dan ruang berumah tangga/berkeluarga akan membuat kamu tidak fokus. Pekerjaan jadi tidak fokus, keluarga jadi berkurang perhatian. Rumah dan keluarga adalah tempat kita “charge” psikis dan mental supaya bisa produktif bekerja.

Tentu waktu bekerja freelance pasti fleksibel. Kadang-kadang agak sepi pekerjaan, kadang-kadang harus mengejar deadline hingga malam hari atau bahkan pagi hari.

Yang jelas, harus alokasikan waktu untuk keluarga. Jangan sampai pekerjaan freelance malah mengabaikan keluarga. Padahal ‘kan kita ini bekerja demi keluarga.

Ada waktu untuk keluarga, ada juga waktu untuk bekerja. Jenis waktu kedua inilah yang namanya billable hours. Alias, waktu yang jelas-jelas kita pakai untuk bekerja –termasuk melaksanakan proses riset—dan bisa kita tagih man hour fee-nya kepada klien.

Sebab itu ketika menyusun proposal, anda harus mencantumkan (1) proses bekerja apa saja yang anda lakukan, (2) berapa waktu yang diperlukan, serta (3) berapa rupiah yang anda tawarkan atas setiap proses dan waktu tersebut.

Bagi freelance desain grafis atau arsitek –bahkan mungkin juga freelance yang lain–, proses ini yang seringkali tidak disadari oleh klien yang buta proses desain. Mereka pikir yang mereka bayar adalah hasil kerjanya.

Padahal tidak demikian adanya. Yang dibayar oleh klien adalah proses bekerjanya. Sebab itu pengalaman kerja atau portfolio klien atau portfolio produk yang menentukan seberapa besar fee seorang freelance—bukan produk akhirnya.

Yang ditentukan berupa man hour fee, atau man days fee.

Berlebihan dalam Idealisme 

Punya idealism terhadap pekerjaan dan standard hasil kerja itu penting. Tetapi harus tetap halus ketika dikomunikasikan dengan klien. Jangan terlihat merasa pintar di hadapan klien.

Meskipun sudah punya portfolio segudang, tetap harus respek dan hormat kepada klien—sebab mereka yang membayar kita.

Mudah tersinggung juga tidak baik. Perasaan harus digunakan, tetapi tidak di setiap waktu. Jangan kemana-mana malah baper (bawa perasaan). Baru ditolak klien sudah tersinggung. Harus tetap bersemangat. Cemunguuddhh kaka..😀

Perasaan seperti mudah tersinggung ini yang kurang baik bagi pekerja freelance. Akibatnya mungkin dan bisa fatal: klien tidak merekomendasikan kepada calon-calon klien yang lain.

Hati-Hati Soal Pembayaran

Skenarionya ada beberapa macam. Bayar DP dulu, sisanya belakangan. Sisa ini bisa 1 atau 2 kali pembayaran – yang kedua di tengah, yang terakhir setelah pekerjaan selesai. Jarang sekali klien yang membayar tuntas di depan.

Dari sisi waktu pembayaran, pekerjaa freelance harus berhati-hati. Sebab pembayaran bisa menunggak. Apalagi kalau banyak revisi yang harus dilakukan. Klien cenderung ingin pekerjaan selesai dahulu, baru dilakukan pembayaran.

Kalau sudah begini, para freelancer harus siaga. bukan siap antar jaga ya. Siap dengan dana cadangan untuk menopang jalannya usaha dan hidup keluarga. Tadi sudah dijelaskan tentang risk management apa saja yang harus dilakukan ya.

Atau siap dengan klien-klien lain yang memang biasa membayar dengan lancar. Ini termasuk risk management juga.

Bisnis jasa (service business) yang digeluti pekerja freelance memang nature-nya demikian. Kerja dulu, produksi dulu, baru dibayar. Hampir semua bisnis service memang seperti itu.

Namun demikian, kamu sebagai freelance dapat saja memiliki suatu produk yang sudah jadi dan diproduksi massal—cenderung tidak customized. Sehingga pembayaran mungkin dilakukan secara cepat oleh pembeli pra atau pasca penyerahan produk.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s