Berapa fee untuk freelancer?


Pekerjaan freelance itu dilakukan oleh individu, bukan institusi. Namanya juga pekerja lepas ya. Selain individu, bisa juga mengajak sekelompok orang untuk menjadi freelancer pada suatu pekerjaan.

Intinya adalah sebuah pekerjaan dilakukan oleh pihak eksternal yang bukan merupakan institusi. Ikatan kerjasamanya pun bukan ikatan antara dua organisasi berbadan hukum. Sehingga perlakuan pajak di antara keduanya pun berbeda.

freelance bisa dari rumah

freelance bisa dari rumah

For some reason, orang-orang ini tidak diperlukan untuk memiliki visi, misi, dan nilai-nilai organisasi yang sama dengan people in organization. Alasan lain terkait pekerjaan lepas ini misalnya, pekerjaan ini tidak selalu ada. Sehingga tidak diperlukan orang khusus untuk mengisi posisi tertentu dengan job description yang spesifik pula.

Atau misalnya, sudah menjadi strategi perusahaan dalam menekan biaya gaji. Jadi untuk pekerjaan tertentu, mereka punya kebiasaan untuk meng-outsource pada pada freelancer. Padahal pekerjaan tersebut selalu ada di setiap waktu. Dengan demikian biaya gaji dan biaya lain-lain jadi tidak banyak.

Namun yang sering menjadi pertanyaan adalah, berapa fee yang layak saya (selaku pemberi pekerjaan) bayarkan? Atau sebaliknya, berapa fee yang pantas saya (selaku freelancer) ajukan? Urusan finansial ini kadang-kadang sering menjadi rumit.

Mungkin sebagian di antara pembaca blog ini pernah merasakan kegalauan serupa.

Freelancer pasang di harga tinggi, takut merusak relationship yang ada. Kalau belum kenal mungkin tidak masalah. Tapi kalau sudah langganan, pelanggan pasti bilang, “lha dulu ‘kan sekian aja, kok sekarang dinaikkan lagi?”.

Kalau sudah begini, freelancer tidak enak untuk tidak membantu.

Freelancer pasang di harga rendah? Takutnya lingkup pekerjaan berbeda dari bayangan. Sehingga potensi kerugian terbayang di depan mata. Kecuali sudah pernah melakukan yang sama persis. Kalau baru belajar kerja freelance, pasang harga rendah bisa ditujukan untuk membangun portfolio.

Pasang harga (lebih) rendah daripada sebagian besar freelancer lain berarti entry strategy dalam membangun hubungan bisnis dengan (calon) klien yang bersangkutan. Kalau sekali ini sudah berhasil, mudah-mudahan hubungan bisnisnya bisa berlanjut di waktu lain.

Kita coba telusuri dan analisis satu demi satu pilihan-pilihan yang tersedia. Yaitu bisa (1) berdasar waktu yang diperlukan, atau (2) berdasar target pekerjaan yang dibutuhkan oleh pemberi pekerjaan, dan atau kombinasi keduanya.

  • Dihitung berdasar waktu yang diperlukan

Basisnya adalah pengalaman. Jam terbang pastinya menentukan kualitas. Makin berpengalaman ya makin berkualitas dong. Makin berpengalaman maka freelancer dapat memasang harga yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Tapi ya itu hak dia kalau dia tidak mau.

Pengalaman pekerjaan freelancer juga dipengaruhi oleh jenis klien dalam portfolio yang dia punya. Pernah memegang klien-klien yang rumit, berarti dia bisa menyelesaikan persoalan yang kompleks.

Kalau portfolio-nya adalah klien-klien yang tidak menghendaki spesifikasi yang susah, nilai rupiah per waktunya jadi berbeda.

Faktor penentu lain adalah berapa lama karya tersebut bisa diselesaikan oleh sang freelancer. Makin berpengalaman maka makin singkat waktu yang diperlukan kala menyelesaikan serangkaian proses pekerjaan.

Jadi memang lama pekerjaan ini sangat ditentukan oleh pengalaman pekerjaan si freelancer.

  • Dihitung bersadar target pekerjaan yang harus diselesaikan.

Kalau yang ini sedikit tidak memandang deadline. Kira-kira, si klien akan bilang seperti ini, “pekerjaannya seperti ini, spesifikasi seperti ini yang harus anda penuhi, fee yang saya tawarkan adalah sekian”.

Pastinya tetap ada kapan pekerjaan harus sudah selesai. Meski demikian, hal tersebut agak diabaikan. Semata karena klien memprioritaskan kualitas pekerjaan yang dia inginkan.

Di sisi lain, ini bisa blunder bagi freelancer. Sebab ketika kualitas pekerjaan sesuai spesifikasi tidak kunjung tercapai, maka dia akan menghabiskan banyak waktu dengan klien tersebut untuk memperbaiki pekerjaan.

Atau kemungkinan lain, pembayaran pekerjaan menjadi telat. Biasanya karena klien emosi jiwa sedikit. Karena hasil kerja belum sesuai harapan tapi sudah minta pembayaran.

  • Kombinasi keduanya.

Target spesifikasi jelas. Deadline jelas. Mungkin freelancer akan sedikit keberatan dalam hal ini. namanya juga freelance, ‘kan? Dia harus membagi-bagi waktu untuk beberapa pekerjaan freelance yang dia ambil.

Karena freelance tidak setia dengan sebuah institusi pemberi kerja. Kalau setia itu sama dengan menjadi karyawan di sana. Kalau demikian, sekalian saja minta asuransi, COP, reimbursement, dll, hehe😀

For some freelancer, mengalihkan konsentrasi dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tidak lah semudah membalik telapak tangan. Kecepatan adaptasi tiap reelancer berbeda-beda. Ada unsur mood yang harus beralih, ada ingatan/dokumentasi terdahulu yang harus dipulihkan sesaat sebelum mulai bekerja lagi.

Sebagai penutup, mari ingat kembali bahwa freelancer itu bukan karyawan tetap. Jadi mestinya dia tidak menerima hak-hak para karyawan tetap. Semisal asuransi, reimbursement, dan lain-lain yang menjadi ketentuan di institusi tersebut. Ada proses rekrutmen, seleksi, training, dan sebagainya yang membedakan karyawan tetap dengan para freelancer. Freelance is project-based work. Freelancer hanya dibayar atas apa-apa yang dia kerjakan. Perhitungan bisa berdasar (1) lama pekerjaan, atau (2) target pekerjaan, atau (3) kombinasi keduanya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s