Parenting Indonesia


Parenting Indonesia. Setelah menjadi orang tua, pandangan saya terhadap dunia menjadi berbeda. Saya jadi belajar bagaimana menjadi anak yang lebih baik lagi bagi orang tua saya. Silaturahim ke orang tua (sendiri dan mertua) jadi lebih rutin dibanding sebelum memiliki anak-anak. Apabila sulit untuk bertemu karena persoalan jarak, hendaknya rutin menelepon lebih dulu. Bukan menunggu ditelepon. Mumpung orang tua masih ada.

Dalam tulisan ini, saya membagi parenting menjadi 3 cara pandang utama: (a) menjadi orang tua adalah proses pembelajaran seumur hidup (b) anak-anak bukanlah beban ekonomi keluarga (c) anak-anak adalah investasi kita untuk akhirat kelak

Related Post(s):
– Jodoh
– Menikah
– Menikah (2) 

Belajar Seumur Hidup  

Saya mulai belajar menjadi orang tua yang baik. Bukan cuek, egois, dan individualis seperti sebelumnya. Saya juga belajar bekerja sama lebih baik lagi dengan istri. Sebab orang tua tidak cukup satu. Dua akan saling melengkapi. Di samping itu, konon kehadiran anak-anak akan mengurungkan niat sepasang suami-istri untuk berpisah/bercerai. Saya mengakui ke-“konon”-an ini. Sebab partnership antara bapak dan ibu sangat diperlukan dalam parenting. Anak-anak yang dibesarkan oleh single parent mengalami pertumbuhan psikis yang kurang maksimal.

Setelah menjadi orang tua, saya semakin yakin bahwa kita tidak boleh ‘jalan sendiri-sendiri’. Dalam Islam, sampai kapan pun orang tua akan selalu memiliki hak atas anak-anaknya. Sebab itu, anak-anak berkewajiban selalu mentaati dan menyayangi kedua orang tuanya. Jangan sampai terjadi kasus seperti anak menitipkan orang tuanya di panti jompo terjadi di negeri kita ini. Kami berempat berencana untuk tinggal di kota yang sama dengan orang tua; suatu saat nanti. Agar kami bisa mentaati dan menyayangi dengan lebih baik lagi.

Satu asumsi yang tidak terbantahkan dalam dunia parenting Indonesia adalah bahwa anak-anak tidak bisa memilih siapa dan seperti apa orang-orang yang menjadi orang tuanya. Anak-anak juga tidak bisa memilih hidup di keluarga dengan keadaan sosial, ekonomi, dan tingkat pendidikan seperti yang dia inginkan. Meski demikian, orang tua tidak boleh menyerah dan kalah sebelum berperang. Keadaan sosial, ekonomi, dan tingkat pendidikan keluarga harus terus ditingkatkan. Selain itu, para orang tua juga harus belajar seumur hidup untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

Dalam Islam, pernikahan sejak awal sudah harus mempertimbangkan adanya keturunan. Jadi parenting Indonesia sudah dipikirkan sejak menikah. Sebab menikah adalah jalan sah untuk mendapatkan keturunan. Jangan memberlakukan DINKs (double income no kids), yaitu menikah, sama-sama bekerja, tetapi tidak berharap hadirnya keturunan. Demikian terjadi karena keturunan dipandang sebagai beban dan ini menentang fitrah. Sebab fitrah manusia adalah memiliki keturunan, dan hal tersebut jangan dihindari sama sekali.

Bukan Beban Ekonomi 

Keturunan adalah pemicu semangat bagi para ayah/abi/bapak untuk bekerja lebih giat lagi. Justru keturunan yang baru adalah kontribusi kita terhadap perekonomian makro. Dengan demikian, kita malah memperkuat ekonomi masyarakat kita melalui penambahan ‘target pasar’ yang baru. Dari sini, perputaran ekonomi akan mengalirkan rezeki kembali kepada kita yang kita teruskan sebagai nafkah kepada para keturunan. Teringat kembali akan ekonomi Jepang yang stagnan karena (1) para pemuda/i banyak yang belum menikah, atau (2) menikah tetapi menganggap anak sebagai beban ekonomi.

Sesungguhnya para orang tua tidak perlu khawatir mengenai apa yang akan mereka berikan kepada para anak-anak. Karena anak-anak itu lahir ke dunia sudah dengan rezekinya masing-masing. Orang tua adalah penyalur rezeki anak-anak. Terkait pikiran bahwa orang tua bekerja keras mencari nafkah untuk anak-anak, berikut adalah verbatim menarik dari salah seorang rekan saya,

“Yang saya rasakan adalah saya bekerja demi kebahagiaan mereka. Padahal nyatanya, merekalah yang membahagiakan saya di sela-sela kelelahan saya pasca bekerja.” 

Investasi Akhirat

“Jika manusia meninggal maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; (1) shodaqoh jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, (3) anak shalih yang selalu mendoakan kedua ortunya.” (H.R. Muslim).

Jadi mendidik anak-anak dengan ilmu agama dan membiasakan perilaku beribadah adalah investasi akhirat bagi para orang tua. Saya kembali mengingatkan diri saya sendiri. Pemberian nama yang baik sebagai doa untuk anak-anak, merupakan langkah awal pendidikan tersebut. Ini setelah menjadikan adzan sebagai suara pertama yang mereka dengar di dunia. Sehingga yang diharapkan oleh orang tua hanyalah anak-anak shalih/shalihah yang rajin beribadah dan menutup setiap ibadahnya dengan “doa untuk kedua orang tua”.

Akan tetapi, tidak wajar jika seorang Muslim membiarkan begitu saja anggota keluarganya menjadi mangsa api neraka. Baik orang tua kepada anak, maupun sebaliknya, wajib saling mengingatkan agar selalu beriman dan berislam dengan sebaik-baiknya.

parenting indonesia

orang tua lengkap menjadi prasyarat tumbuh kembang anak secara positif

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s