Masjidpreneurship


Di buku Marketing to Middle Class Muslim (GPU, 2014), kami telah menyebutkan bahwa Masjid memiliki potensi sebagai pusat ekonomi dan kewirausahaan (halaman 207). Mengapa masjid memiliki potensi tersebut? Sebab pada dasarnya masjid sebagai sebuah tempat ibadah yang menyelenggarakan shalat wajib sebanyak 5 kali dalam sehari, telah memiliki dua modal besar untuk dikelola lebih lanjut dalam semangat kewirausahaan (entrepreneurship).

Related Posts: 
Komunitas: Driver Pasar Muslim 
The Years of Social Connection 

Yakni crowd (keramaian) dari jamaah yang beribadah di masjid tersebut dan communities (komunitas-komunitas) yang banyak beraktivitas di lingkungan atau kompleks masjid. Patut kita ingat bahwa komunitas-komunitas yang terbentuk di lingkungan masjid tentu saja adalah komunitas yang memiliki kesamaan kepentingan (common priorities), yaitu untuk beribadah dan mencari kebaikan di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Berikut adalah beberapa ide hasil diskusi internal kami mengenai potensi-potensi lanjutan yang dapat dieksplorasi dan dimonetisasi lebih lanjut oleh para pengurus (takmir) masjid dalam rangka mewujudkan Masjid yang lebih entrepreneurial.

Kemandirian Ekonomi
Masjid sudah memiliki “modal” awal finansial, yaitu dari berbagai dana zakat, infaq, shadaqoh, wakaf (ZISWAF) yang terhimpun dari jamaah masjid. Dana ZISWAF ini dapat membiayai seluruh kegiatan yang diselenggarakan di lingkungan masjid. Ini belum termasuk potensi pembiayaan dari pendapatan pengelolaan bisnis yang dikelola secara professional di kompleks masjid. Misalkan masjid yang mengembangkan ritel consumer goods atau ritel fesyen hijab untuk memenuhi kebutuhan jamaah. Atau masjid yang mengembangkan usaha bisnis berbasis layanan travel haji dan umrah.

Organisasi yang dibentuk haruslah bukan murni business enterprise yang melulu mencari laba (profit-oriented), tapi social enterprise di mana setiap keuntungan yang diperoleh harus sebesar-besarnya dikontribusikan untuk kemanfaatan umat (social welfare). Format social enterprise ini menurut kami sudah dijalankan secara baik sekali oleh LAZ (lembaga amil zakat) modern seperti Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Menariknya, keseluruhan aktivitas kedua LAZ tersebut sudah dilakukan dengan sangat professional layaknya business enterprise dengan manajemen yang tertata rapi.

Edukasi Berbasis Event
Di samping untuk ibadah dan dakwah, kini masjid juga digunakan untuk mengkaji ilmu, berkesenian, menjalankan kegiatan sosial, serta bergaya hidup muslim modern. Artinya masjid kekinian merupakan channel untuk menyalurkan konten-konten keislaman. Format yang rutin digunakan adalah event; seperti misalnya seminar, training atau workshop sehari, pengajian rutin, pernikahan, dan lain sebagainya. Format event juga merupakan sarana offline dalam mempertemukan para anggota komunitas yang kini getol bergaul di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path, dan sebagainya. Kami membayangkan bahwa semakin banyak dan beragam kegiatan yang diselenggarakan di kompleks masjid akan semakin meningkatkan jumlah jamaah yang berkunjung untuk beribadah di sana.

Sebagaimana yang kita pelajari dari marketing hijab yang dilakukan secara horizontal, maka pendekatan yang dilakukan terhadap komunitas juga harus peer to peer. Artinya, pendekatan yang dilakukan harus secara personal dan sosial kepada sekitar anggota komunitas, semisal keluarga, kolega, dan teman-teman. Namanya saja horizontal, pendekatan-pendekatan ini haruslah menyebarkan kesadaran keislaman dengan pendekatan yang teduh, simpatik, inklusif, dan tidak menggurui.

Lebih Modern dan Inklusif
Untuk mewujudkan kedua hal di atas, kuncinya adalah pengelolaan masjid secara lebih professional, modern, menggunakan teknologi, serta bersikap inklusif terhadap semua kalangan. Dengan mengambil sikap lebih modern dan lebih inklusif, masjid kemudian dapat berperan lebih dari sekedar tempat ibadah. Maksudnya adalah masjid melebur dan menyatu dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Kita bisa mengambil beberapa contoh positif dari beberapa masjid yang telah melakukan transformasi tersebut, berikut ini.

Pesantren dan Masjid Daarut Tauhid (DT) di Geger Kalong Bandung adalah contoh komunitas masjid dengan spirit kewirausahaan yang luar biasa. Sejak dirintis oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di tahun 1990, kompleks masjid DT menjadi sebuah kampung wirausaha muslim yang tumbuh pesat. Komunitas masjid ini mengembangkan unit-unit usaha seperti koperasi, jasa travel umroh, makanan/minuman, bahkan media, untuk menangkap pasar para jamaah dan santri yang sangat lukratif. Walaupun DT tidak seramai dulu, namun geliat kewirausahaan dan aktivitas perekonomiannya masih terasa dan menjadi role model kewirausaahan masjid yang selalu solid.

Contoh lain adalah Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Masjid ini dikelola dengan sangat professional, terutama dalam aspek bisnis dan keuangan. Yang menarik adalah, uang yang dihasilkan oleh sedekah Jum’at tiap minggunya tak hanya disalurkan untuk pembangunan dan perawatan masjid secara berkala’ melainkan juga dikelola untuk berbisnis. Bisnis inilah yang kemudian terus memberikan penghasilan bagi kemakmuran masjid, bahkan juga bagi masyarakat sekitar masjid. Dari pendapatan bisnis tersebut, kemudian disusun dan dialokasikan ke program-program sosial-kemasyarakatan bagi masyarakat sekitar Jogokariyan.

Jadi kuncinya adalah bagaimana masjid mencoba mencari dan mensolusikan masalah-masalah yang dialami oleh masyarakat secara umum, dan para jamaah masjid secara khusus. Sebab itu pengurus masjid kekinian juga harus mulai berpikir lebih kreatif dan inovatif. Nah, mestinya masjid-masjid di seluruh pelosok tanah air, besar maupun kecil, juga bisa mengambil model pengelolaan seperti halnya yang dijalankan oleh kedua masjid yang kami sebutkan di atas.

One thought on “Masjidpreneurship

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s