Inflasi S2


Haruskah mengambil dan lulus di program S2? Mungkin tidak akan ada yang menjawab “TIDAK”, ya. Justru sebagian malah bilang iya, “HARUS”. Sebagian yang lain akan bilang, “BOLEH” kalau dana atau waktu memang ada.

Sebab, kenyataan di lapangan menunjukkan ada banyak lulusan S2 sekarang. Terutama S2 bergelar MBA (Master of Business Administration). Jumlahnya kini jauh lebih banyak dibanding dulu. Tidak heran terjadi inflasi besar-besaran untuk lulusan S2.

Inflasi artinya jadi penurunan ‘nilai’ yang ditawarkan oleh lulusan S2 sekarang. Bukan apa-apa, sebabnya adalah suplai s2 — yang jauh lebih banyak dibanding dahulu — kini sudah menyebabkan pergeseran di kurva ‘demand and supply‘-nya. Padahal yang ditawarkan oleh para lulusan S2 tersebut praktis tidak berubah banyak. Sementara tuntutan pasar tenaga kerja kian meningkat dan cenderung dinamis. Jadilah lulusan S2, gelar MBA, mengalami inflasi.

Sebagai contoh ya. Puluhan tahun lalu di McKinsey, gelar MBA (masih) relevan untuk mendaftar ke kantor konsultan tersebut. Belakangan ini, MBA nyaris tidak membuat perbedaan signifikan. Kebanyakan pelamar sekarang di big three of consultans adalah para MBA. Karena supply MBA sudah banyak sekali di pasar tenaga kerja.

Dan kejadian tersebut tidak hanya di AS, Eropa, dan negara maju lainnya. Bahkan gelar MBA di Indonesia sudah banyak yang memiliki. Dalam konteks branding, pertanyaan yang harus dijawab oleh penyelenggara pendidikan S2 manajemen adalah: apa perbedaan antara MBA dari kampus yang satu dengan kampus yang lain? Sedangkan untuk pemegang gelar MBA adalah: apa yang harus dilakukan supaya bisa tetap ‘tampil berbeda’?

Beberapa tahun terakhir, bergabung ke kantor konsultan manajemen kini tidak harus MBA. Bila memang punya, gelar ini akan memberi “kekuatan” lebih bagi kamu — karena tidak harus diajari dari nol. Tapi di kantor konsultan, MBA sekalipun bukan kewajiban — yang penting adalah bersedia belajar. Di berbagai industri secara umum, gelar S2 belum tentu memberi pertimbangan signifikan bagi rekruter di tempat kamu melamar pekerjaan.

Apalagi ada yang menjadikan S2 sebagai kesempatan untuk mengubah haluan dalam berkarir. Jadi alasan ini cukup berlaku bagi mereka yang merasa tidak suka/cocok dengan bidang S1-nya. Sehingga cukup lulus (atau lolos? :p ) saja dari almamater S1. Lalu memilih bidang lain untuk berkarya. Inkonsistensi pendidikan ini yang menurunkan value lulusan S2 kekinian.

Experience is the door
Di beberapa perusahaan memang tidak mengenal pembedaan antara lulusan S1 atau S2. Sebab semua dihitung berdasar pengalaman kerja. Lulusan S2 yang belum pernah bekerja dianggap sama dengan yang baru lulus S1. Mereka yang sudah punya experience, menjadi alasan untuk diterima bekerja pada bidang pekerjaan yang relatif sama. Experience adalah work activities yang dikerjakan berulang-ulang, setiap hari sehingga membentuk kompetensi yang dikehendaki di bidang pekerjaannya.

Sebab SDM tanpa pengalaman harus dibentuk mencapai produktifitas yang diinginkan oleh perusahaan. Dan bagi korporat, pembentukan SDM yang produktif adalah cost and investment tersendiri. Yang benefit-nya belum tentu datang dengan cepat. Bisa sampai 3 tahun, paling tidak.

Productivity is the key. Ijazah cuma jadi selembar kertas kalau tidak menaikkan produktivitas perusahaan. Lulusan S2 kalau tidak berkontribusi ke value chain-nya perusahaan juga jadi percuma S2-nya. Kasus ini tidak hanya untuk S2, lho. Termasuk juga S1. Gelar MBA saja sudah banyak, apalagi gelar S1 ya. Tidak heran mereka yang baru saja lulus S1 relatif bisa diterima bekerja di industri apa saja. Karena sekarang, gelar sarjana berarti semacam legalisasi bahwa penyandang gelar tersebut siap belajar dan siap dibentuk oleh perusahaan tempat dia bekerja.

Menurut saya, inflasi S2 telah terjadi di pasar tenaga kerja. Bagi diri kita sendiri, inflasi tersebut tidak terjadi. Terutama, ketika niat kita mengambil S2 adalah untuk belajar sepenuhnya. Jadi bukan karena mau naik jabatan, pindah haluan karir, dan sebagainya. Jadi memang niat kita full untuk belajar mengembangkan diri dan menyempurnakan pengetahuan kita di bidang S2 tersebut. Terlepas dari bidang karir dan pekerjaan kita yang terkait atau tidak terkait dengan jurusan S2 itu.

Saran
Langsung mengambil program S2 (pasca S1) juga oke saya kira. Jadi sekalian aja selesaikan sekolah baru fokus berkarya. Bila perlu sekalian S3 baru cari kerja. Ingatlah siapa-siapa dari rekan anda yang baru saja lulus S1 terus bekerja, lalu jadi galau: pas kuliah pengen kerja (supaya bisa pegang duit yang lumayan), pas sudah kerja pengen kuliah (lagi). Daripada mengambil S2 sambil bekerja. Saya lihat Kerja sambil S2 itu melelahkan dan tidak fokus. Baik yang kelas malam, maupun kelas akhir pekan. Pengecualian atas semua saran di atas adalah: resign, lalu mengambil S2 (sambil jalan-jalan) di luar negeri. Yang terakhir barusan adalah saran terbaik yang pernah ada.

Dengan segala faktor penyebab inflasi-nya S2 di atas, apakah lantas tidak perlu mengambil S2? Ya tidak juga. Tapi mengambil manfaat terbaik yang bisa diberikan, adalah inisiatif yang harus kita lakukan.

Related Post:
Kapan Sebaiknya Kuliah S2?
Memilih Program Studi S2

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s