Sisi Lain Roman Abramovich


Saya yakin, entrepreneur macam Roman Abramovich ini engga sekedar pengen punya klub sepakbola. Owner of Gazprom di Rusia memandang berbagai aspek sebelum melakukan pembelian. Bagaimanapun, pembelian Chelsea (140 juta poundsterling tahun 2003) ini harus berimpak positif secara finansial. Dan mengembalikan semua investasi yang sudah dikeluarkan (terutama untuk belanja pemain) adalah semua yang kini dia berusaha lakukan.

FYI, berbagai manajemen klub sepakbola di dunia memilih satu di antara tiga model bisnis yang lazim dipakai oleh klub sepakbola:

1) Model “Talent Development“. Pengembangan pemain muda, yang kemudian dapat dijual lebih mahal ke klub lain. Marjin besar ini kemudian diputar kembali ke dalam sistem yang mereka miliki. Klub seperti ini biasanya punya sekolah sepakbola dengan brand yang dikenal di seluruh dunia. Model ini diadopsi oleh: Southampton, Ajax Amsterdam, Feyenoord, Boca Juniors, Sao Paolo, dan lainnya. Sumber daya keuangan yang sangat terbatas adalah latar belakang dari semua inisiatif di atas.

2) Dengan contoh Real Madrid-nya Florentino Perez (2000-2006, dan 2009-sekarang), model “Superstar Acquisition” ini menghabiskan banyak uang untuk mengontrak pemain yang sedang dalam performa maksimal (Cristiano Ronaldo 2009, Gareth Bale 2013) yang bisa memberikan jaminan juara. Tidak heran Madrid dijuluki los galacticos: tim dengan pemain dari galaksi lain. Model ini sesuai dengan thesis “blockbuster strategy“-nya Anita Elberse (profesor HBS). Yaitu investasi besar-besaran ke sedikit pemain yang sudah engage di hati penggila bola di seluruh dunia. Makanya mereka rekrut James Rodriguez yang main keren di World Cup 2014 lalu. Pembelian pemain ini diyakini akan meningkatkan penjualan jersey atas nama tersebut di negara asal: Kolombia. Sekaligus me-leverage brand Real Madrid di sana.

Terbukti, model operasional ini berhasil mempertahankan Real Madrid sebagai klub yang selalu nomor satu (sejak musim 2003/04) untuk urusan omzet. Dengan tolok ukur paling utama digunakan dalam mengukur finansial sebuah klub sepakbola adalah rasio gaji (pemain) terhadap omzet. FYI, di bisnis klub sepakbola, pengeluaran terbesar ada pada biaya transfer (ke klub lama si pemain) dan gaji. Paradoks yang bisa kita petik dari kasus Real Madrid adalah pengeluaran jor-joran untuk pemain beken ternyata justru memberikan marjin yang paling besar dibandingkan dengan dua model finansial yang lain.

Berikut data-datanya. Real Madrid konsisten berada di kisaran 43-48 persen. Pada musim 2013/14, Real Madrid di angka 45%. Sebagai perbandingan pada musim yang sama, Barcelona sebesar 51%, Manchester United 50%, Manchester City 59%. Maksimum rasio yang direkomendasikan oleh European Club Association adalah 70%. Sudah banyak kasus klub yang bangkrut karena pengeluaran gaji pemain yang terlalu besar tapi tidak diimbangi pemasukan: Deportivo La Coruna, Leeds United, dan Anzi Makhachkala.

3) Model “Portfolio” yang merupakan kombinasi keduanya, kini mulai diterapkan oleh Barcelona, Manchester City, dan Chelsea di klub masing-masing. Model ini sebenarnya dikembangkan dan diimplementasikan di Manchester United (MU) oleh Sir Alex Ferguson. Pria Skotlandia mengkombinasikan talent-talent binaan akademi (best practice-nya adalah Class of 92) dengan pemain-pemain mahal MU: Ruud Van Nistelrooy, Robin van Persie, Rio Ferdinand.

Masing-masing model finansial ini menentukan bagaimana sebuah klub akan merekrut, mengembangkan, dan mengelola talenta-talenta (pemain) yang mereka miliki.

Nah, kembali ke klub milik Roman Abramovich. Chelsea mengadaptasi model ketiga, yaitu “Portfolio“. Chelsea berbeda dalam hal (1) jejaring global pencari bakat dan (2) kebijakan peminjaman pemain ke klub lain. Pemain-pemain asal Belgia berikut ini menjadi contoh bagus bagaimana jejaring pencari bakat dan kebijakan pinjaman memberikan keuntungan signifikan bagi Chelsea.

(1) Thibaut Courtois (dipinjamkan ke Atletico Madrid; kini jadi kiper utama menggeser Petr Cech). Semua transaksi tersebut dalam kurun waktu tiga tahun hanya me-“rugi”-kan Chelsea kurang dari 3 juta poundsterling.
(2) Kevin de Bruyne (dipinjamkan Werder Bremen lalu dijual ke Wolfsburg), menguntungkan Chelsea sebesar 9.7 juta poundsterling dalam 2 tahun kepemilikan.
(3) Romelu Lukaku (dipinjamkan ke West Brom dan Everton; dijual ke Everton), Chelsea untung 12 juta poundsterling pasca 3 tahun kepemilikan.
(4) Thorgan Hazard (adiknya Eden; dipinjamkan ke Borussia Monchengalbach; dijual ke klub yang sama dengan laba 5 juta poundsterling setelah 2,5 tahun kepemilikan).

Laba total dari keempat pemain di atas adalah 23.7 juta poundsterling. Dan dengan akumulasi laba hasil dari pola pembelian dan penjualan yang sama, tentunya Chelsea akan dapat mengimbangi pembelian pemain “siap-pakai” semacam Cesc Fabregas (33 juta pounds), Diego Costa (32 juta pounds), Filipe Luis (15.8 juta pounds), dan lain-lainnya. FYI, omzet sebuah klub sepakbola dalam setahun berasal dari beragam sumber: hak siar, sponsorship, penjualan pemain, penjualan tiket penonton, dan lain sebagainya. Tidak heran klub selalu mengejar gelar juara (dan memecat pelatih yang gagal mengantongi gelar). Sebab hak siar, sponsorship, penjualan tiket, akan semakin membesar apabila klub yang bersangkutan sering juara. Sering juara juga akan berimpak pada meningkatnya nilai intrinsik dari brand klub itu sendiri. Tentang brand value kita coba bahas kali lain ya.

Padatnya pemain berkualitas di Chelsea tidak memberi kesempatan pemain muda potensial mendapat waktu dan pengalaman bermain. Peminjaman pemain ke klub lain oleh Chelsea adalah sarana meningkatkan kualitas dan pengalaman pemain yang bersangkutan. Keempat pemain di atas hanya bermain selama 295 menit (rerata per pemain 75.75 menit) untuk Chelsea. Tidak hanya kualitas dan pengalamannya yang meningkat, tetapi juga nilai jual di pasar transfer pemain yang juga semakin meninggi.

Pola pencarian omzet seperti ini yang menjadi sisi lain dari Roman Abramovich. Ini merupakan lanjutan dari berbagai inisiatif-inisiatif yang sudah dilakukan sebelumnya: belanja pemain-pemain mahal, lalu merekrut (sekaligus memecat) pelatih yang diharapkan membawa pulang gelar juara ke Stamford Bridge. Even Roberto Di Matteo dan Rafael Benitez tidak dipertahankan pasca menjuarai Liga Champions dan Liga Eropa.

Related Posts:
Strategi Bisnis Klub Sepakbola 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s