Paradoks Sehat – Sakit


IKASTARAN Challenge sudah berakhir sejak 1,5 minggu lalu. Dan baru tadi pagi saya olahraga kembali. Padahal bulan lalu, setiap hari saya selalu menyediakan waktu untuk lari. Minimal jalan atau bersepeda dalam jarak yang lumayan. Break 1,5 minggu tersebut melenakan juga ternyata: badan kurang seger, otak kurang enak dipake berpikir. Perasaan stress dan kurang produktif kemudian mengantarkan kita pada menu-menu mood booster yang belum tentu sehat: junk-food yang kolesterol tinggi atau snack-snack yang kandungan gulanya lebay.

Ujung-ujungnya merasa sakit dan harus keluar biaya atas sakit itu (analisis darah/urin, periksa dokter, obat, suplemen, dst). Padahal sakitnya bisa dicegah dengan gaya hidup sehat yang ternyata berbiaya jauh lebih rendah. Ada beberapa contoh di sekitar kita, yang tidak kita sadari tapi akan menentukan kualitas kesehatan kita di masa depan.

Jalan vs Berkendara 
Kalau mau jalan saja, yang sehat adalah jalan cepat selama 30 menit. Jangan salah, ini bukan jarak yang dekat, lho. Otak kita yang bias “merasa” sudah jalan jauh atau sudah berjalan cukup lama, padahal baru selemparan bola tenis saja. Pengalaman saya jalan kaki dari kantor ke rumah, ternyata tidak cukup lama (dan tidak jauh). Saya sampai dalam 15-20 menit, dan ternyata itu baru sekitar 2 km sahaja. Belum jauh.

Di sisi lain, kota-kota kita di Indonesia seperti “sudah dari sononya” tidak laik untuk pejalan kaki. Mulai dari trotoar yang belum ada (jalan sudah beraspal saja syukur alhamdulillah), atau trotoar yang tidak layak dipakai (ekspansi pedagang kaki lima, atau pesepeda motor yang tidak sabaran). Kita jadi terdorong untuk “malas jalan/sepeda/lari” dan lebih pilih pakai motor/mobil/kendaraan umum.

Terbiasa berkendara dan merasa mampu membayar semua ongkosnya berakibat kurang peka terhadap pengeluaran. Sebaliknya, karena secara umum mobilitas dan transportasi relatif tinggi, maka bila terjadi penurunan pengeluaran transport orang Indonesia cukup tinggi pula. Biaya transport menelan sekitar 30% pengeluaran bulanan untuk mereka yang tinggal dan bekerja di Jabodetabek. Hati-hati, sisa dananya jangan sampai berubah jadi junk food.

Junk vs Healthy Food
Sepertinya di mana-mana banyak makanan yang kurang kita perlukan. Enak sih enak, tetapi kurang seimbang. Hamburger, fried chicken, minuman bersoda, processed food, dan sebagainya. Menu-menu tersebut didominasi karbohidrat dan protein. Konsumsi daging, telur biasanya meningkat seiring dengan kenaikan kelas ekonomi dan sosial seseorang. Tetapi kurang akan sayur, buah, atau serat (fiber) dalam format lain. Belum lagi harganya yang jauh dari standard warung makan tradisional.

Padahal, you are what you eat. Kalau kamu makan sampah, maka tubuhmu akan menjadi “sampah”. Demikian sebaliknya. Yang utama adalah me-lengkap-i (karbohidrat, lemak, protein, serat) dan menyempurnakannya. Konon, makanan yang sehat adalah yang masih jauh dari proses olahan. Ibarat makan kentang, kentangnya hasil beli di pasar lalu diolah sendiri di rumah. Bukan yang siap goreng dan tersedia di supermarket terdekat di kota anda :p

Puasa juga tidak kalah baiknya. Selain memberi istirahat pada organ pencernaan, puasa memberikan kesempatan agar tubuh memecah lemak untuk dapat energi baru. Konon, gula dalam darah kita itu berusia 12 jam (selama tidak makan apapun lagi). Setelah itu, energi diperoleh dari lemak tubuh yang mengalami metabolisme. Di Indonesia, orang berpuasa sekitar 14 jam. Kan lumayan tuh fat loss effect-nya kalau puasa senin-kamis bisa rutin 2x seminggu.

Puasanya Om Deddy Corbuzier (baca: diet OCD) juga bagus, kok. Selama tidak pusing berkepanjangan dan tidak tersiksa akibat kelaparan. OCD itu puasanya antara 16-20 jam dalam sehari. Masukan kalori yang terbatas ke badan juga diikuti dengan berkurangnya keluaran dari dompet kamu. Pas lagi puasa, waktu yang paling bagus untuk berolahraga adalah jelang berbuka puasa. Sekitar 1-2 jam sebelum adzan magrib.

Dari dua kasus yang disajikan di atas bisa disimpulkan bahwa sehat-sakit itu paradoks. Sebab bila dipandang dari perspektif finansial, ternyata sehat itu murah (dan sakit justru mahal). Biaya tinggi mulai dari sebab sakitnya, hingga pengobatan atas sakit itu sendiri.

Paham apa itu sehat memang sulit. Sebab tidak bisa memahami sang sehat saja. Untuk tahu apa itu sehat, kita harus merasakan sakit dahulu. Seperti sebuah nasihat yang kekal abadi: manfaatkan sehatmu, sebelum datang sakitmu.

Related Posts:
– Middle Class: Going Healthy
Mindful Eating
Tips Berolahraga di Rumah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s