Akik


Heboh batu akik menjamur di seluruh negeri. Batu mulia ini menjadi bahan pembicaraan yang tidak kenal waktu dan tidak lihat tempat. Minat pasarnya besar dan ladang bisnisnya oke punya. Batu bacan, batu Garut, batu Sungai Dareh, batu Kalimaya, atau batu Giok Aceh adalah segelintir “selebriti” yang semakin sering dibicarakan, bahkan dikejar-kejar ke seluruh penjuru nusantara.  Harganya merentang dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Konon, ada juga yang dihargai hingga miliaran rupiah. Betapa fenomena akik ini sungguh luar biasa!!!

Menggeliatnya bisnis batu akik menarik ditinjau dari sudut pandang kelas menengah. Sebagaimana rutin kami bahas, ada tiga ciri kelas menengah. Pertama memiliki daya beli tinggi (high buying power). Kedua, berpengetahuan dan berwawasan luas (more knowledgeable) mengingat sumber-sumber informasi terbuka luas terutama internet. Ketiga, lebih terhubung satu sama lain (more socially connected) melalui media online seperti blog, twitter, atau facebook.

Fake Investment

Jadi setelah kebutuhan primer terpenuhi, maka segmen sosial ekonomi ini mulai mengalihkan pendapatan berlebih (discretionary income) untuk fungsi lain. Salah satunya adalah fungsi investasi. Pikir kelas menengah, “beli sekarang saja, toh nanti harga akan naik lagi”. Jadi pendapatan berlebihnya digunakan untuk menciptakan kekayaan yang lebih tinggi lagi di kemudian hari.

Meski dipersepsi sebagai barang investasi, tetapi batu akik seperti belum memenuhi beberapa persyaratan barang investasi. Misalnya, bahwa barang investasi harus tersebar di seluruh dunia. Jadi bisa diperjualbelikan di negara mana saja. Sementara heboh fenomena “akik” ini baru terasa di dalam negeri saja. Selain itu penting pula keberadaan pasar global yang menjadi kiblat harga bagi pemain di seluruh dunia. Semisal pasar global untuk emas yang ada di New York dan menjadi acuan pemain emas di dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Sehingga yang harus kita waspadai adalah “investment bubble’-nya. Yaitu harga yang terlalu tinggi tapi tidak mencerminkan realita supply-demand yang sebenarnya. Jangan sampai fenomena pecahnya ‘gelembung investasi’ seperti yang dialami bunga anthurium atau ikan louhan terulang kembali. Sekarang, harga keduanya sudah sangat murah. Banyak yang ‘gulung tikar’ karenanya.

Hobi

Kebutuhan kelas menengah mulai rumit; tidak lagi sekedar sandang-pangan-papan. Tapi juga aktualisasi diri; salah satunya lewat hobi. Tak mengherankan jika aktivitas hobi seperti hobi otomotif, hobi fotografi, hobi berlari, dll kian mendapat tempat di hati kelas menengah. Hobi-hobi tersebut “dibiayai” dari pendapatan berlebih setelah kebutuhan primer sudah terpenuhi. Termasuk di antaranya hobi memilah, memilih, dan mengkoleksi batu akik.

Segmen kelas menengah yang knowledgeable punya selera yang bagus mengenai batu akik. Makin menarik batu akik tersebut, makin tinggi harganya. Mulai dari motifnya, bentuk potongannya, tingkat kehalusannya, tidak tembus cahaya, dan sebagainya. Semua komposisi tersebut menentukan kualitas dan harga batu mulia yang satu ini. Tidak heran hobi ini kemudian berkembang menjadi ladang bisnis dengan kelas menengah sebagai target segmennya.

Word of Mouth (WOM)

Dari hobi, terbentulah komunitas. Common interest-nya lagi-lagi ya batu akik. Meski ada yang sekedar meramikan tren ini, tentu juga ada para hard core. Selain rutin bertemu secara offline, mereka juga berkumpul online di google+, facebook, instagram, dan beragam social media lainnya. Kalau sudah begini, maka WOM tinggal menunggu waktu.

Bila WOM sudah terbentuk, transaksi akan terjadi melalui beragam channel penjualan. Jangan disangka hanya dijual di dunia nyata saja. di internet juga ada. Tengok saja situs semacam akiks.com, hargabatuakik.net, batuakikkeraton.co.id , dan banyak lainnya. Semuanya berlomba-lomba menjadi yang terlengkap untuk urusan katalog batu akik. Belum termasuk toko online semisal olx.co.id atau tokopedia.com . Beragam batu akik juga diperjualbelikan di sana.

Kelas menengah penggemar batu akik hadir di hampir semua medium tersebut dan “do conversation” di dalamnya. Mulai dari social media, kemudian masuk website, lalu jadi bahan pembicaraan ketika bertemu dengan rekan penyuka batu akik. Dan terjadi juga arah sebaliknya. Dari “goreng-menggoreng” konten ini, harga batu akik melompat mencapai puncak langit. Bahkan ada yang mencapai Rp18 Miliar, sebagaimana berita dari salah satu media online. Wow, luar biasa!!!

Sekali lagi, fenomena heboh batu akik adalah fenomena kelas menengah. Fenomenanya heboh luar biasa karena jumlah kelas menengah begitu besar mendominasi penduduk kita. Apalagi dengan banyak akun social media yang dimiliki oleh kelas menengah, maka kehebohan tersebut akan semakin massif saja.

Sebagai penutup, kami senantiasa berdoa supaya fenomena batu akik ini bukan fenomena sesaat saja. Bahkan sebisa mungkin menjadi tren dunia. Karena sumber daya batu akik tersebut memang berasal dari negeri kita sendiri. supaya fenomenan yang jangka panjang bisa terus memberikan keberlangsungan ekonomi bagi para pelakunya. Serta menjadi “trademark” Indonesia di mata dunia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s