Pergeseran Pariwisata


Secara kumulatif, pada periode Januari-September 2014 pertumbuhan sektor pariwisata adalah sebesar 8,3 persen. Jumlah ini lebih besar dari target pertumbuhan yang ditetapkan sebesar 7,9 persen. Pertumbuhan ini cukup mencengangkan kita semua. Data sepanjang tahun 2013 menunjukkan, sektor pariwisata meraih kunjungan 8.8 juta atau tumbuh 9.4 persen dengan perolehan laju devisa sekitar US$ 10 miliar. Angka pertumbuhan ini lebih besar daripada laju pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,7 persen. Harus diakui, kian hari industri pariwisata kian menjadi lokomotif perekonomian kita.

Ada beberapa pergeseran di industri pariwisata kita, yang menjadikan industri ini kian wah. Dengan pergeseran-pergeseran ini kami yakin industri ini akan semakin menjadi primadona untuk dipacu perkembangannya. Pergeseran pertama adalah mekarnya peluang dari para wisatawan global yang mulai “go to east” dimana negara kepulauan Indonesia menjadi pilihan yang menarik (terutama wisata bahari dan kepulauan semisal Raja Ampat). Di samping itu implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan dimulai pada awal tahun depan tentunya turut membuka peluang pasar pariwisata, khususnya inbound (wisatawan mancanegara ke dalam negeri kita).

Kedua, selera pasar juga bergerak ke pariwisata luar negeri. Perlu diingat, kini berwisata ke luar negeri sudah menjadi mass luxury. Artinya, bepergian ke luar negeri kini tak lagi merupakan barang mewah. Apalagi bepergian ke negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Para pemain seperti travel agent sudah melihat dan bergerak cepat untuk menangkap peluang besar dari adanya pergeseran perilaku konsumen ini. Tantangan terbesar bagi para travel agent tentu saja adalah mengemas paket-paket outound yang menarik minat wisatawan.

Ada lima besar produk wisata sebagai kontributor kunjungan wisman ke Indonesia sebagaimana terungkap dari hasil survei PES (passenger exit survey) 2013 oleh Pusdatin Kemenpar. Ke lima besar tersebut adalah: wisman yang melakukan wisata belanja dan kuliner (80%), wisata religi dan heritage (80%), wisata bahari (35%), wisata MICE: meeting, incentives, conference, and exhibition (25%), dan wisata olah raga (5%). Lima jenis wisata inilah yang seharusnya menjadi fokus pengembangan pariwisata inbound penghasil devisa. Wisata MICE misalnya, potensinya luar biasa besar, namun hingga detik ini perhatian dari pemerintah masih minim.

Ketiga, selera pasar konsumen pariwisata kini sebagian besar sudah diinduksi oleh informasi digital melalui internet berupa travel blog atau situs pembanding harga antar penyedia layanan pariwisata. Dukungan dari pengguna internet, khususnya pengguna media sosial sudah sangat massif dalam menggeliatkan industri pariwisata nasional. Tanpa diminta, mereka meramaikan jagat internet dengan konten digital seputar travelling baik pra, saat, dan pasca liburan.

Keempat, pergeseran selera yang datang dari kelas menengah Indonesia yang memosisikan liburan sebagai “basic needs”. Dengan daya beli yang semakin tinggi, kelas menengah merasa bahwa liburan telah menjadi suatu kebutuhan baru yang wajib dilaksanakan setiap tiga bulan, setengah tahun, atau paling tidak setahun sekali. Adanya travel review di platform blog atau media sosial, memudahkan middle class untuk mencari informasi yang diinginkan. Beberapa blog yang dimiliki blogger pecinta travelling kerap ramai dikunjungi oleh kelas menengah. Kebutuhan liburan yang meningkat ini juga didorong oleh biaya transportasi dan akomodasi terjangkau dengan munculnya budget airlines dan budget hotel.

Pergeseran terakhir adalah meluasnya cakupan wisata. Wisata kini tidak lagi sebatas hanya pergi ke gunung atau pantai. Wisata kini sudah mengalami sofistikasi dan menjelma menjadi beragam bentuk. Ada wisata yang berurusan dengan isi-mengisi perut alias wisata kuliner. Ada wisata yang terkait ibadah atau kita sering menyebutnya wisata religi. Ada wisata yang terkait dengan berobat: contonya health check-up di Singapura, habis itu jalan-jalan. Ada wisata nonton konser. Juga ada wisata olah raga seperti nonton Liverpool di Stadion Anfield.

Menyongsong pergeseran-pergeseran perilaku konsumen positif yang bakal mendorong kemajuan industri pariwisata di atas, kita harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang masih terbengkelai. Pengembangan Infrastruktur merupakan tantangan di depan mata. Sehebat apapun Raja Ampat, kalau bandara, pelabuhan, atau hotel-restaurannya compang-camping, maka kehebatan itu akan pupus tak ada artinya.

Integrasi dan kolabrasi seluruh stakeholder pariwisata juga menjadi agenda mendesak untuk segera direalisasikan. Maskapai penerbangan, travel agent, hotel-restoran, pelaku MICE, pengelola bandara-pelabuhan, dan lain-lain harus selaras-sejalan (dengan diorkestrasi oleh pemerintah) saling berkolaborasi untuk mewujudkan wisata Indonesa yang kompetitif di tingkat global. Dalam konteksnya ini rasanya ide Indonesia Incorporated (Indonesia Inc.) di sektor pariwisata menjadi relevan untuk diwujudkan.

Related Post:
Perilaku Travelling Kelas Menengah 

One thought on “Pergeseran Pariwisata

  1. Maka dari itulah, semua nya harus saling mendukung, bukan hanya pemerintah nya saja tapi juga rakyat juga harus membangun suasana pariwisata yang nyaman dan nikmat.🙂
    Mari pengusaha-pengusaha muda Indonesia, hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s