Healthy Life Style


Dalam beberapa pekan terakhir, resolusi tahun baru bertebaran di mana-mana. Salah satu resolusi yang banyak dikumandangkan oleh rekan, kolega, maupun keluarga kami (yang notabene kelas menengah) adalah di bidang kesehatan. Misalnya, target menurunkan berat badan sekian kilogram. Atau target menerapkan pola makan bergizi dan seimbang. Tujuan yang ingin mereka raih adalah “stay fit and healthy”. Ada juga yang ingin menghindari stress, agar terhindar dari sebagian penyakit. Ada juga yang beresolusi ingin lebih mengintensifkan olahraga.

Apa yang dialami dan dirasakan oleh orang-orang di sekitar kami tersebut adalah “health consciousness”. Yaitu, kesadaran konsumen kelas menengah untuk mulai memilih produk atau layanan yang dipersepsikan akan membantu mereka menjalani gaya hidup yang sehat. Adanya kesadaran kesehatan ini merupakan bukti telah terjadinya perubahan nilai-nilai yang dianut oleh kelas menengah. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi jenis produk atau layanan serta pola pembelian dan konsumsi dari kelas menengah, khususnya yang dapat memberikan efek-efek kesehatan.

Health is Productive Asset

Kelas menengah adalah segmen yang berorientasi pada produktivitas. Sehingga mereka mulai berhitung apa saja input (masukan) yang diperlukan untuk mencapai output (keluaran) produktivitas. Salah satunya jenis aset yang masuk dalam perhitungan mereka adalah kesehatan itu sendiri. Kelas menengah menyadari bahwa kesehatan adalah modal/aset untuk bekerja dan meningkatkan produktivitas. Sebab itu, kesehatan mulai menjadi perhatian dan mendapat prioritas penting dalam hidup kelas menengah.

Healthy Lifestyle is Cool 

Kita tidak bisa menafikan bahwa “cool” itu memang datang dari barat. Sehingga segala yang dari barat kemudian diadaptasi di sini lewat gaya hidup. Adaptasi ini melalui penciptaan “cool factor” pada berbagai tren baru yang hadir di tengah-tengah kita. Misalnya berbagai tren soal pola makan yang kini merebak di berbagai media. Tren food combining (FC), tren mindful eating, diet tanpa karbohidrat, dan lain sebagainya. Ini belum termasuk berbagai kampanye mengenai menu-menu sehat yang bisa disiapkan sendiri di rumah, yang tanpa ribet dan tetap simpel di tengah berbagai kesibukan yang menjebak keseharian.

Dalam konteks membangun brand, tren dan kampanye tersebut dirasa “cool”. Seperti kata kawan kami Mas Handoko Hendroyono (@Handoko_H) penulis buku Brand Gardener, “yang sedang cool sekarang adalah membangun brand sebagai sebuah movement”. Misalnya gerakan mengkampanyekan berjalan 10 ribu langkah sehari sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Atau kampanye hidup sehat melalui pengurangan konsumsi junk food. Jadi brand movement yang turut mengatasi masalah-masalah kesehatan di masyarakat akan berimpak positif pada brand produk atau layanan kesehatan itu sendiri.

Smart Endorser

Meski sebagai tren, kampanye gaya hidup sehat tetap memerlukan endorser. Kira-kira, tipikal endorser seperti apakah yang cocok? Untuk mentarget segmen kelas menengah yang knowledgeable, diperlukan endorser yang memberi kesan smart dan trustable (dapat dipercaya). Endorser berperan selaku inspirator kepada masyarakat dalam menerapkan gaya hidup sehat. Dengan penggunaan brand endorser yang tepat, maka asosiasi ‘smart’ dan ‘trustable’ dapat diperoleh dari kelas menengah. Di samping itu, dapat pula dibangun asosiasi brand sebagai ‘ahli’ dalam kategori produk atau layanan kesehatan tertentu.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena kelas menengah adalah segmen konsumen yang content-oriented. Kelas menengah yang haus informasi, mulai menuntut brand untuk dapat memberikan informasi kredibel, lengkap nan terpercaya. Tidak hanya itu, brand juga harus bisa search-able di lanskap yang serba digital ini. Kelas menengah yang berorientasi pada konten mulai melirik, membaca, dan berlangganan artikel dari situs-situs kesehatan seperti klikdokter.com, blogdokter.com, doctormums.com, tanyadok.com, dan lain sebagainya.

Good Appearance is a Must 

Penampilan di mata orang lain menjadi prioritas yang semakin utama. Yang tadinya kurang penting, sekarang menjadi penting. Misalnya, ibu-ibu kelas menengah yang makin tua justru semakin ingin langsing. Atau para pria kelas menengah yang semakin bermasalah dengan perut buncit. Intinya kelas menengah mulai memiliki kebutuhan akan penampilan yang lebih baik.  Misalnya: seimbang tinggi dan berat, kadar lemak yang rendah, gula darah dan kolesterol yang terkendali, dsb.

More Healthy, More Profit

Sebagai segmen konsumen yang ingin hidup lebih sehat, dan mempertahankan kualitas kesehatan mereka, kelas menengah tidak segan-segan membeli dan menggunakan produk atau layanan kesehatan yang dapat membantu mewujudkan aspirasi tersebut. Misalnya lewat produk pemanis rendah kalori yang diperuntukkan kepada penderita (atau keturunan penderita) Diabetes. Contoh lain, produk nutrisi pengganti diabetes yang diiringi dengan edukasi pola makan yang sehat. Semakin tinggi kualitas kesehatan yang diinginkan, maka semakin tinggi belanja kesehatan yang dilakukan.

Bicara prioritas, salah satu aspirasi kelas menengah terkini dalam bidang kesehatan adalah menjaga daya tahan tubuh. Berbagai produk multivitamin, vitamin C, dan berbagai jenis produk lainnya laris-manis dalam mempromosikan keunggulannya dalam menjaga daya tahan tubuh di tengah kesibukan yang semakin padat. Kami kira pencegahan sakit merupakan aktivitas yang semakin mendapat prioritas kelas menengah. Sebab itu tidak jarang mereka melakukan tindakan-tindakan preventif yang lain semisal: pemeriksaan laboratorium (sebelum sakit), berolahraga rutin supaya badan lebih bugar, pola makan bergizi dan seimbang untuk mengendalikan kadar gula dan kolesterol, dsb.

“Fake” Healthy Lifestyle

Temuan terakhir kami adalah “fake” healthy lifestyle. Yaitu, fenomena gaya hidup “palsu” alias bukan yang sesungguhnya dalam rangka mendapatkan kesan bagus dan pencitraan dari teman atau orang-orang di lingkungannya. Contohnya adalah demam lomba lari marathon yang saat ini menjangkiti masyarakat urban kita. Mereka getol ikut lomba marathon bersama teman-teman bukanlah melulu karena pertimbangan gaya hidup sehat, tapi juga agar bisa eksis dan narsis di lingkungan teman-teman mereka. High social connection yang telah mendarah daging jadi sebab kelas menengah ingin pamer aktivitas dan event yang sedang diikuti supaya dianggap “keren”. Jadi beramai-ramai ikut lomba marathon itu adalah fake healthy lifestyle karena motif utamanya bukanlah melulu sehat tapi agar keren di mata teman dan lingkungannya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s