My Mindful Eating


Tiba-tiba saya jadi ingat frase “You are what you eat”. Kalo makannya banyak, ya tampilan badannya jadi “banyak” juga. Kalo makannya terkendali, apalagi sering puasa 2 kali seminggu, tentu badannya juga “terkendali”. Maksudnya, ga gendut-gendut amat gitu lho. Hehe😀

Related Post: 
Filosofi Makan Saya

Frase ini dulu pernah saya (dan teman-teman di himpunan) jadikan judul public seminar. Kami mengundang beberapa pembicara untuk turut berdiskusi dalam seminar sehari tersebut. Saya masih ingat, buah pisang yang paling banyak dibahas–dan memang dijadikan “primadona”. Sebab pisang itu kandungan zat kalium-nya tinggi. Kalium (atau bisa disebut Potasium) dapat menenangkan pikiran yang suntuk alias stress.

Kandungan gula-nya juga tinggi, biasa dimakan oleh mereka yang baru berolahraga berat (misal, angkat beban). Tentu gulanya adalah gula buah–biasanya didominasi fruktosa kalau di buah-buahan. Sebagai buah juga, kandungan seratnya tinggi. Tahu serat kan ya, kerjanya “mengisi volume” perut sehingga terasa kenyang.

Terus, kaitannya sama judul di atas apa? Nah, mindful eating itu maksudnya sadar dengan apa yang kita makan. Bila perlu, kita betul-betul merencanakan apa yang ingin kita makan: meal planning. Ya itu tadi, You Are What You Eat. Di sini saya coba sharing sedikit mengenai pola makan saya.

Sadar dengan apa yang kamu makan. Misalnya, kalo banyak makan jeroan, siap-siap kolesterol jadi tinggi.  Siap-siap badan jadi engga enak kalo banyak makan kambing guling di resepsi nikah teman pekan lalu. Sabtu kemarin saya merasakan ini sedikit :p Kalo kurang serat (dari buah atau sayur), siap-siap sulit buang air besar dan berbagai problem ikutan lainnya. “Sampah” yang masih tertinggal di perut dan belum dibuang, bisa buat perut merasa ga enak, sampai efeknya ke aroma badan yang kurang sedap :)

Kendalikan kesehatanmu lewat dompetmu. Porsi pengeluaran untuk makanan dan minuman adalah alokasi yang terakhir saya atur. Ini ada kaitannya sama financial planning. Maksudnya, karena yang terakhir maka biasanya hanya ada “dana sisa”. Yang selalu saya ingat adalah kita engga akan mati koq kalo melewatkan 1-2 kali waktu makan. Lewat sampai 2 kali waktu makan pun, anggap saja puasa. Ini teori yang saya buat sendiri: puasa itu adalah kita merasakan 2 kali: lapar-engga lapar-lapar-engga lapar.  Ini juga ada teorinya, lho. Kalo kita bisa mengatur pikiran kita, maka tubuh kita juga engga segitunya “minta makan”, koq🙂

Kurangi nasi, ganti dengan yang lain. Sebagai orang Indonesia, yang biasanya merasa belum makan kalau belum makan nasi, memulai kebiasaan ini agak canggung juga. Ada rasa takut bakal kelaparan karena belum makan nasi😀 Agak lebay memang, tapi kenyataannya begitu. Nah, sebabnya nasi itu bahan makanan yang kalorinya tinggi (per gram bahan dibandingkan dengan bahan makanan lain). Jadi, sekalipun makan nasinya cuma sedikit, kalori yang masuk ternyata tinggi juga.

Saya sendiri mulai ganti dengan oat, atau anggap makanan karbohidrat lain sebagai pengganti nasi. Oat biasanya dimakan pas sarapan. Jadi misal makan mie instan, atau spaghetti ya berarti jangan makan nasi lagi. Kalo lagi ke nikahan, malah menghindar dari nasi tapi perbanyak lauk (protein tinggi). Sesekali agak kolesterol dikit, gapapa. Rugi klo udah nyumbang mihil tapi gak makan enak. Hehe😀

Mulai biasakan berpikir: habis makan ini, saya jadi gmana yah? Misal, pas mau beli gorengan: habis makan ini, saya jadi gmana yah? Terus langsung tuh muncul pikiran-pikiran, cem: nanti jadi gatal tenggorokan ma batuk-batuk. Lagian klo makan (gorengan)nya banyak, nanti malah kebanyakan masuk lemak. Jadinya: udah deh, beli gorengannya 2-3 biji aja. Misalnya begitu, lho.

Sebagai penutup, saya mau pamer sedikit nih. Dengan tinggi 170 cm, berat saya masih 70 kg. Gak kurus memang, tapi yg jelas engga gendut-gendut banget. Kalo di range-nya Body Mass Index, saya itu hitungannya masih normal. Hehehe😀

Related Posts:
Cara Mengelola Stress 
Cara Mengatasi Stress
Tips Berolahraga di Rumah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s